Minggu, 30 Juni 2013



Tergulung tarian Samba .... !

Kemenangan tim samba sudah tentu mengundang excitement dan euphoria bagi pendukungnya yang bahkan bisa ber hari hari. 
Buat pendukung Spanyol seperti saya, tak ada kata lain cuma : take easy, masih ada waktu untuk berbenah dan bangkit lagi ! Lha mau bilang apa kalau memang hari ini " ditakdir " tidak juara, sebab yang terlihat sebagai peluang peluang emas di menit menit akhirpun ternyata meleset, apakah ini bukan faktor luck atau apa, entah .

Bermental juara berarti juga dapat menerima kekalahan dengan jiwa besar dan 
memberikan applaus untuk yang juara ! 
Tidak ada kata yang perlu di lontarkan sebagai ungkapan kekesalan karena yang terbaik sudah dilakukan, meskipun sempat surprise bahwa Spanyol sudah kebobolan di menit menit awal. Apakah Spanyol grogi dengan luapan supporter tuan rumah yang menguningkan stadion 
atau kehebatan catatan CV tim tuan rumah? 
Jawabannya bisa ya bisa tidak, tergantung. 

Maka, marilah sama sama mengucapkan selamat kepada tim Brasil yang 
bagaimanapun memang layak disebut juara ... 
Saatnya tuan rumah bersamba ria selama seminggu penuh dan bisalah dibayangkan betapa kekesalan para pendemo pemerintah Brasil yang konon lebih peduli pada event ini dibanding kesejahteraan rakyatnya, telah terbayar lunas dengan kemenangan ini !
Bagaimanapun, diatas bahasa teknis, potensi, atmosfer dll masih ada faktor X yang paling menentukan, bahasa takdir.
Selamat buat sang juara .... !! ( th )

( Gambar diambil dari google ).

Sabtu, 29 Juni 2013




Soto Jadoel, Ambengan di Patimura

Yang tinggal di Surabaya atau sering kesana pasti mengenal atau mungkin bahkan merupakan pelanggan dari soto Ambengan yang terkenal itu. Naa ... bagi fansnya yang ada dikota Malang saat ini tidak usah jauh jauh ke Surabaya, cukup ke Jalan Patimura  saja. 

Sekian hari yang lalu saya kangen soto yang satu ini setelah sekian lama tidak pernah singgah. Dan berhubung jamnya sedang " peak " alias lapar laparnya karena pagi tidak sempat kemasukan apa apa gara gara mengejar waktu, maka saya sengaja memesan yang " istimewa " supaya ayamnya lebih banyak hehe .. 

Saya mendapat semangkuk penuh ! Tapi ternyata disitu lebih banyak irisan jeroan dan kulitnya nya yang saya lupa untuk memesan supaya tanpa jeroan dan kulit. Kekecewaan kedua adalah bahwa saya temukan banyak bagian tulang yang dipotong kecil kecil dalam mangkuk saya yang sangat mengganggu kenyamanan makan sebab ber  kali kali harus menyingkirkannya dari mulut. 


 Ini adalah sesuatu yang tidak pernah saya temukan di Soto Ambengan Surabaya. Mudah mudahan ini juga hanya sebuah kebetulan yang sedang " menimpa " saya dan teman semeja saya serta tidak kepada yang lain karena akan sangat merugikan citra soto yang sudah tersohor ini. 

Sebuah upaya " standarisasi " dari semua cabang cabang yang ada nampaknya sangat perlu, sehingga baik pusat maupun cabang cabang semuanya mampu menyajikan Soto Ambengan yang sesuai standar. 

Naaa .... mempertahankan pelanggan memang lebih sulit daripada mendapatkannya, bagaimanapun saya berharap Soto Ambengan di Malang ini mampu bertahan ditengah ketatnya persaingan jagad kuliner di Malang akhir akhir ini.
Semoga ... ( th )

Keterangan foto ( all taken by : th )

01. Soto Ambengan Patimura, Malang.
02. Krupuk.
03. Spanduk Soto Ambengan dan daftar menu.
04. Papan nama.
05. Panci soto.

Kamis, 27 Juni 2013





Jelita Itu Hampir Terlupakan ... !
( Dapur Agro Wisata, Metro, Batu )

Hampir sulit dipercaya bahwa kecantikan alam yang terhampar didepan mata itu tidak mampu mengundang pengunjung untuk datang. Padahal tidak semua resto atau cafe memilikinya dan dengan pondok pondok lesehan yang asri serta serba terbuka dengan view cantik didepannya, rasanya sangatlah sayang bila ini di sia sia kan. 

Lalu ditempat yang sama juga ada galeri yang memajang benda benda seni seperti kerajinan gerabah atau logam, tetapi terlihat tidak pernah lagi tersentuh perhatian, sehingga galeri ini juga nampak mubazir .. 

Saat itu diladang sayur yang ada dihalaman belakang resto ini nampak sedang panen sawi-daging. Sambil menunggu pesanan makanan selesai, saya sempatkan membeli sawi langsung dari petaninya. Dan saya juga saksikan bagaimana asisten dari chef nya memetik sayuran langsung dari ladangnya sehingga yang terhidang diatas meja adalah sayuran yang benar benar fresh ... !

Nama resto ini Dapur Agro Wisata, terletak di Jalan Metro 105, Batu. Kita mengambil jalan yang sama seperti kalau akan kearah Selecta, dan pada belokan pertama kekiri, kita masuk ke gerbang yang bertuliskan Jalan Metro. Di nomor 105, kita akan temukan resto ini. Sangat mudah dicapainya, apalagi letaknya sangat mencolok, disebelah kiri jalan dan berada diantara dua gunung. Betul betul sebuah tempat hangout yang nyaman, santai dan cantik.

Ada bermacam ikan disana, mulai gurami, bawal, udang, cumi dll . Bisa dibakar atau digoreng , atau di asam manis dll. Yang suka tumis juga banyak pilihannya. Bahkan yang spesial disini adalah Udang Jomblo . Bagi yang hobi memancing, boleh mencoba keberuntungannya di kolam pancing yang ada disini. 

Satu lagi disini yang menarik disamping atmosfer desanya yang  tenteram , juga diperkental oleh dentingan kecapi Sunda yang lamat lamat diputar dari ruang kasir. Rasanya terus kepingin " klesetan " ( tiduran ) sambil mendengarkan suara alam, ada burung, ada air kricik kricik dll. Agaknya ini telah menjadi barang mewah disaat kemacetan ada di mana mana dan udara makin sumpeg. DWA dapat membacanya dan menawarkan oxygen yang lebih baik !

 

Juga saya lihat, untuk keperluan tertentu seperti kegiatan kantor, keluarga dll resto ini akan mampu menampung hingga sekitar 300 an tamu, baik yang diarea lesehan maupun yang duduk " normal " memakai kursi. Menurut salah satu pramusajinya, resto ini dikelola oleh manajemen yang sama dengan yang ada di Gurami Sadis atau Waroeng Wareg. " Cuma karena disini tempatnya tidak langsung ditepi jalan raya, jadinya sepi pengunjung ... " , saya tak membantah sebab memang tidak setiap orang " memiliki kesabaran " mencari tempat bersantap yang agak tersembunyi meskipun cantik.

Sungguh saya berharap janganlah resto ini keburu ditutup meskipun tak banyak pengunjung, tetapi barangkali hanya diperlukan lebih banyak upaya berpromosi terutama dengan meletakkan lebih banyak petunjuk arah ke resto mulai dari Malang bila perlu ! 

Juga melalui spanduk dan  baliho, sebab resto ini dapat " menjual " keindahan alam Batu kepada pengunjungnya yang terutama berasal dari luar Batu bahkan luar negeri . Apalagi bila pengunjung dapat membeli dan memetik sendiri sayuran dari ladang mereka, akan menjadi sesuatu yang berbeda dengan resto pada umumnya.

Dalam blog ini sudah ada dua resto yang " menghilang dari peredaran " sejak saya menulisnya disini sekian tahun lewat, dan saya tidak ingin Dapur Wisata Agro menjadi yang ke 3 karena kecantikannya yang ter sia sia dan saya sudah kadung in love ... !  Apalagi soal rasa dan harga sangat berimbang, maka buat yang ingin menikmati santapan perut dan mata, bolehlah mencoba DWA ini ... ! ( th )



Keterangan foto ( all taken by : th ) 
Catatan khusus :
dalam " serial " DWA ini ada sekitar 15 foto hilang/ terhapus/tersesat entah dimana, jadi yang tersisa disini hanya makanan pembuka Tahu Petis. Juga saat memetik sawi daging dengan petani petani di ladang ikut hilang. Pengulangan jepretan tidak akan pernah dapat mengulang momentumnya yang mahal, saya mohon maaf atas ketidak lengkapannya. salam : th.

01. Dari pondok lesehan bisa terlihat view ini.
02. Salah satu sudut pondok DWA.
03. Pembuka : Tahu Petis.
04. Sambil bersantap, menikmati ladang sayur dan gunung didepan mata!
05. Dapur Wisata Agro, Jalan Metro 105, Batu.
06. Sayur, sayur, sayur ...langsung dipetik dan dibawa ke dapur.
07. Sawi daging ... !
08. Kolam ikan.
09. Galeri gerabah.





( saatnya tiba : Spanyol vs Itali )

Tidak banyak komentar untuk pertandingan tengah malam nanti. Apalagi saya awam bola dan hanya tahu bahwa kedua tim ini punya sejarah sebagai juara juara Eropa dan Dunia. 
Jadi apa yang harus dikomentari ketika para jawara berada satu panggung 
dan hanya keberuntungan sajalah yang akan membedakannya. 
Kalau para analis bola sudah pasti secara rinci dan detil memberikan prediksinya berdasar kwalitas masing2 pemain, pelatih, teknik bermain dll.
 Naa .. saya hanya menunggu jam 02.00 saja karena tidak paham itu semua, dan kalau dipaksa untuk jujur, ya saya mengakui bahwa hati saya cenderung untuk kemenangan Spanyol. 
Berapa? 1 - 0 atau 2 - 0 , mungkin sekitar itu. 
Saya bukan peramal, hanya penduga, bahwa keduanya pasti bermain " serius " 
( lho, lha kalau tidak, apa main main ? hehe .. ) 
sebab semuanya pasti ingin muncul di final nanti. 
Tetapi tidak mungkin pemenangnya ada dua, maka siapapun itu, 
hanya satu akhirnya yang akan muncul sebagai pemenang.
Espana, por favor realizar mis expectativas .. ! ( th )
( Foto foto diambil dari google )


 


Harus  Berbuat Dan Bilang Apa?

Sekitar 600 an foto melayang, entah terhapus atau tersesat dimana, karena seharian kemarin saya sudah berusaha ke lima tempat untuk menyelamatkannya, sia sia .. Mau apa? Marah, kesal, jengkel, sesal, atau apapun, semuanya percuma, tidak menolong .. 

Semuanya memang  dari kesalahan saya sendiri yang saking asyiknya jeprat jepret tahu2 " full " muncul . Awal bencana disitu. Saya dengan santai akan memindahkannya ke laptop. Dan entah dimana letak salahnya, rutinitas yang sudah berjalan tahunan ini kok mendadak kartu tak terbaca. Laptop yang lain ternyata sama  cueknya.

Maka kemarin delapan jam saya habiskan diluar rumah untuk mendapatkannya kembali, sia sia ..Mulai studio foto hingga pakar computer, sama : " Maaf, kelihatannya kok hilang .... " ... saya lemes, lemas. 

Demikian kira kira contoh soal kecil dalam kehidupan. " Sesuatu yang sangat ingin kita peroleh atau selamatkan atau pertahankan, dapat terlepas begitu saja. Sementara yang tidak diharapkan atau diselamatkan atau dipertahankan, masih ada didekat kita " ...

Maka, sungguh tidak ada manfaatnya untuk marah, kesal, dll dll karena segala sesuatu yang terjadi, sekecil atau sesederhana apapun itu, semuanya memiliki " pesan " dibaliknya. Mungkin pesan untuk saya kali ini adalah " Jangan Melupakan Tanggung Jawab Disetiap Apapun Yang Dikerjakan ", sekecil apapun .

 Saya telah melupakan tanggung jawab untuk memindahkan data ke tempat lain yang berakibat seluruh data itu lenyap karena kesalahan yang mungkin ada dalam proses pemindahannya yang sudah agak terlambat atau ada faktor X yang tidak saya ketahui.

Maka hari ini tadi, saya mencoba menebus beberapa kehilangan itu dengan mendatangi ulang beberapa tempat yang pernah ada dalam memory card. Kilometer menunjuk pada 125km saat pulang sore tadi, berarti muter muter itu cukup menghabiskan enerji karena macet macet dan disana sini harus mengulang lagi sudut sudut pengambilan yang cukup sulit karena perbedaan waktu dan cuaca. Itupun hanya bisa menebus 1/6 dari yang hilang. Apa boleh buat ...

Sesungguhnya " data " itu hanyalah sebuah simbol dari banyak hal lain dalam kehidupan yang dapat saja lenyap atau hilang sewaktu waktu karena berbagai sebab atau alasan, tetapi kalaupun terjadi maka yang terbaik adalah menyikapinya dengan kebesaran hati , keiklasan dan ini : " let it flow " ................ ( th )
( Photo by : th , June 2013 )

Rabu, 26 Juni 2013



( Taman Bunga Khatulistiwa )

Keping Cantik Pulau Dewata di Malang


Bagi yang ingin melihat Pura Luhur Dwijawarsa di daerah Buring Malang ini, dapat masuk melalui Jalan Lesanpuro gang 12, Kedung Kandang. Terus terang mencari gang ini membingungkan, sebab gang gang yang ada disitu berselang seling antara Lesanpuro dan Kyai Ageng Gribig, lho ... pusing. Mana yang benar ya? 

Naaa .. setelah masuk gang 12 tadi, terus saja kearah bawah dan lalu naik lagi kesemacam bukit kecil. Disebuah tanjakan, ada petunjuk jalan kearah kanan bertuliskan Pura Luhur Dwijawarsa. Masih sekitar 900 meter dari situ, barulah kita menemukan Pura yang dimaksud. 

Tapi harap hati hati bila kendaraan terutama roda empat berpapasan sesama roda 4 sebab jalannya sangat sempit, nyaris tak mungkin berpapasan. Saya pernah berpapasan, maka terpaksa salah satu mengalah mundur hingga ketempat yang agak lapang.

Pura ini adalah salah satu dari beberapa yang ada di Malang Raya, lainnya antara lain ada di Pantai Balekambang, kawasan Bromo, dan Pakisaji . Berdiri sejak tahun 1959, maka Pura yang satu ini memang menjadi salah satu pusat kegiatan ritual masyarakat Hindu yang ada di Malang Raya. 

Saya bertemu dengan mas Sutikno dan rekannya yang mendapat kepercayaan menjaga pura ini, dan salah satu bukti kerukunan beragama di tanah air adalah bahwa keduanya adalah Muslim dimana saat saya menemuinya keduanya sedang menjalankan ibadah shalat Ashar di sebuah rumah disamping pura.

Di area yang sangat tenang, sejuk dan jauh dari pemukiman penduduk inilah saya seolah berada di pulau Dewata dan sejenak " lupa " bahwa saya ada di Malang ! 

Menurut mas Tikno yang merawat pura ini, dalam kalender Hindu maka bulan Mei adalah bulan  dimana pura ini paling banyak pengunjungnya ( maaf saya lupa nama hari yang diperingati ).

Bak sebuah taman dengan beragam warna warni didalamnya, demikian gambaran kehidupan beragama ditanah air khususnya di Malang Raya yang beragam namun harmonis (th)
Keterangan foto ( all taken by : th ) :
01. Pura Luhur Dwijawarsa.
02. Sejarah berdirinya serta aturan diarea pura.
03. Salah satu sudut pura.
04. Sudut lain dari pura dilihat dari sebelah luar.



Selasa, 25 Juni 2013


The Lost Poems



Lepas saja,
agar aku bisa lihat wajah itu,
jangan sembunyi, 
berbalut sabar dan lembut,
yang  tidak engkau punya,
sesungguhnya,
aku cuma bisa saksikan,
seonggok gunung amarah 
yang membungkus kawah dendam,
 dan siap muntahkan 
lava kebencian,
mengapa?
( th , juni 2013 , gambar dari google )






 Bila Ego Meluap ..

Pernahkah dalam sebuah situasi, kita, saya dan pembaca tercinta blog ini, merasa terlalu gengsi untuk memulai sesuatu terlebih dahulu ? Itu bisa apa saja, misal : meminta maaf, menyukai sesuatu atau seseorang, meminta sesuatu, memperbaiki hubungan pertemanan/persahabatan bahkan dalam berumah tangga dengan pasangan masing masing , membuka komunikasi yang beku, dll dll ? Saya mengakuinya, pernah dan berkali kali malahan.

Mengapa sulit dan berat? Setiap situasi memiliki dua sisi, positip negatip, tinggal bagaimana orang melihatnya, sebab ukuran berbeda dari orang keorang. Misal dalam sebuah perselisihan, bisa saja orang mengatakan ini akibat perbuatan si A, tetapi pihak lain mengatakan si B, jadi tergantung. 

Yang berselisih, A dan B, sama bersikukuh dialah yang paling benar. Maka mudah diterka, tidak akan ada perdamaian selama keduanya bertahan dan merasa paling benar.

Duduk dan bicara bersama? Mungkin sudah, tetapi tidak menghasilkan apa apa karena masing masing menginginkan permintaan maaf terlebih dahulu dari " lawannya " ! Bila si A merasa paling benar, harapannya si B yang akan mendatanginya minta maaf dan membuka dialog  perdamaian, begitu juga dengan harapan si B, persis sama. Dan saat berhadapan, tidak ada yang bersedia memulai, jadi : sia sia meski sudah berhadapan.

Maka " saling tunggu " ini memiliki bermacam kemungkinan. Pertama, tidak ada masalah karena dalam masa " saling tunggu " kedua belah pihak " duduk manis " tetapi masalah mengambang alias tidak selesai. 
Kemungkinan kedua, tidak duduk manis, tetapi saling melancarkan serangan alias psy-war dan masalahpun tidak selesai bahkan meruncing. 
Dan yang ketiga, terjadi kesepakatan untuk dialog dan mencari jalan keluar bersama.

Semua sepakat bahwa kemungkinan ketigalah yang terbaik dan menjadi pilihan. Namun dalam kenyataannya tidak mudah. Dialog, itu ber arti ada dua pihak yang saling bertemu, berembug, dan berupaya menemukan kata sepakat . Untuk itu diperlukan sebuah niatan atau keinginan yang tulus untuk menge-rem Ego masing masing dan mempersilahkan pihak lain lebih dulu berperan sebelum nanti giliran tiba pada kita. 

Memperkecil Aku kita dan memberi kesempatan Aku pihak lain untuk duduk dikursi sutradara dan kita yang menunggu arahannya. 

Kapan giliran kita duduk dikursinya? Tergantung. Mungkin perlu duduk disitu mungkin juga tidak. Apabila arahan sang sutradara sudah pas dan sesuai skenario, mengapa kita " ngotot " menggantikannya menjadi sutradara? Namun bila ternyata arahan melenceng jauh dari skenario maka ada saat dimana kita minta diberikan waktu untuk mengembalikan ke skenario awal. 

Tidak diperlukan kekerasan atau tekanan, tetapi pengertian dan pemahaman bahwa Aku yang meluber tidaklah menyelesaikan masalah dan bahwa " Aku ku dan Aku mu dapat berbagi " inilah kuncinya.

Siapkah kita memberikan kursi sutradara itu meski hanya  beberapa saat?.... ( th )

( Keterangan gambar :diambil dari google  )




DU
hast du noch etwas,
zum sagen
zum sprechen
zum fragen
oder,
ist das alles?
dann,
es ist einfach,
du kannst gehen .. 
( th ) 

Minggu, 23 Juni 2013


" Yang  Aiketcing "

Aduhh, yang jago jago bahasa Inggris pasti protes dengan cara saya menuliskan " aiketcing " .. Tetapi tolong dipahami bahwa tulisan ini bukan bagian dari kursus Inggris melainkan untuk ringan ringanan saja, misal disaat istirahat kantor atau santai dirumah, jadi tolong jangan kelewat serius hehe ..

Begini, blog ini saya tambah satu kolom lagi yaitu kolom 
" Yang Aiketcing " 
dan untuk perdananya ini saya coba ambilkan contohnya  yang saya jepret saat melewati nya atau saya ambilkan dari berbagai sumber di google dll.

Banyak hal hal aneh, ganjil, unik yang seringkali terlewatkan mata, tetapi hal hal yang tampaknya sepintas biasa , 
bisa menjadi luar biasa ketika diangkat ke permukaan. 
Kita coba ya ...


 

Saya temukan tulisan diatas, disebuah kedai mamin didekat kampus UIN Jalan Sunan Kalijogo. Tentu menarik sebab seolah " tidak butuh pengunjung " .. Naaa, ada yang mau komentar?
( foto : th, juni 2013 )

 
Lha kalau yang ini sih tidak aneh, tapi murah meriah dengan mangkok pangsit yang juga ikut dimakan. Masih dilingkungan yang sama, dekat kampus UIN, Jalan Sunan Kalijogo.
( foto oleh : th, juni 2013 )



Naaa .. kalau ini bukan tempat penyeberangan jalan ya, apalagi kalau berdua seperti ini pastilah yang mau menyeberang mikir mikir ....
( foto : google )

  

Kalau yang ini, silahkan menghubungi developernya di masing masing area, tipe berapa dan model apa, silahkan memilih sendiri ....
( Foto oleh : th , Selecta Juni 2013 )





Ponorogo, Antara Reog Dan Sate

Siapa yang tidak pernah mendengar Reog Ponorogo yang pernah diaku Malaysia sebagai budaya aslinya itu? Dengan bulu merak diatas mahkotanya plus manusia yang bisa duduk diatasnya, maka beban diatas kepala di warok bukanlah ringan. Dan itulah salah satu keunikan Reog Ponorogo. 

Tetapi kali ini kita akan bicara tentang kulinernya yaitu sate, Sate Ponorogo. Di Malang ada beberapa tempat, salah satunya di Jalan Kawi Atas no 28 , Malang. Terus terang saya agak 
" bingung " tentang ke khas an sate Ponorogo karena dari tiga tempat yang berbeda saya mendapat kesan tiga rasa dan tampilan yang juga berbeda padahal nama yang diusung sama, Sate Ponorogo. 



Yang pertama dulu adalah bahwa potongan daging ayamnya tidak kecil kecil tetapi besar atau lebar lebar dan panjang. Bumbunya juga ada kelapanya. Terus ditempat yang kedua, potongan dagingnya juga agak besar besar tetapi bumbunya agak kasar atau kacangnya tidak dihaluskan sepenuhnya.

Dan ditempat ketiga yaitu yang saya tulis disini kali ini, di Jalan Kawi Atas 28, Malang ini, pun berbeda lagi. Yaitu potongan daging ayamnya kecil kecil dan bumbu kacangnya di mesin sehingga mirip selai kacang rasanya. Naa ... entah yang mana yang lebih khas, saya juga lupa bertanya. 

Untuk yang terakhir ini saya membelinya dibungkus, sebab saat itu sudah mendung gelap, kuatir keburu hujan dan ingat jemuran diatas atap rumah hehe ... Tapi tokh tidak merubah rasa, meskipun jarak kerumah 9km plus macet2nya yang memakan waktu hampir 35 menit .

Soal rasanya? Jujur saja saya lebih suka kalau bumbu kacangnya itu lebih kasar sebab dengan di blender kok rasanya seperti makan selai kacang dan agak " neg " hehe .. tapi ini soal selera lo! Naaa .. yang suka sate, boleh sesekali ke Ponorogo mencoba nya atau cukup ke Jalan Kawi Atas 28, Malang  yang atmosfernya juga dibiarkan jadoel ! Yukkkk ...  ( th )

Keterangan foto ( all taken by : th ) :
01. Bungkussss ....
02. Sate Ponorogo
03. Papan Nama Jadoel 

Jumat, 21 Juni 2013



 

Oleh Oleh Khas Malang? Soak Ngalam ... !

Sebuah email masuk : " blognya sudah jadi wisata kuliner ya?" .. aduhh, sebetulnya ya endak gitu, tapi memang belakangan jalan jalannya itu kearah perut karena beberapa kali gagal mau melaut gara gara cuaca mendung terus. 

Tapi ya sudah kali ini saya ndak ke perut, tapi yang menutupi perut yaitu Kaos Malang atau dalam bahasa Jerman nya Soak Ngalam. 

Hebatnya Malang itu antara lain ada di bahasa lokalnya yang rasanya sudah perlu dibuatkan kamusnya. Kalau tidak ada kamus, dikhawatirkan membuat bingung mereka yang dari luar Malang sebab tidak semua kata kata langsung bisa dibalik mentah mentah. 



Contoh : teman di Bandung bertanya kok bisa " ebes " itu artinya ortu , sebab kalau dibalik juga ngga ketemu artinya  dan banyak lagi pertanyaannya yang membuat saya bingung sebab saya sendiri harus bertanya pada pakarnya yang entah itu siapa dimana hehe .. 

Naa mencari souvenir khas Malang rasanya menjadi paling pas kalau dikaitkan dengan bahasa lokal Malang yaitu bahasa " walikan " ini . Dan itu adalah Soak Ngalam atau TShirt khas Malang. Siapa mampu menolak oleh oleh TShirt? 

Salah satu tempat mencarinya adalah di deretan toko toko yang ada di Jalan Kawi Atas 24 , Malang. Disitu tersedia  bermacam pilihan Kata Kata yang buat mereka yang bukan asli Malang pasti butuh waktu mencerna artinya. 

Pengalaman pribadi membawa oleh oleh kaos Malang ini malah " pusing " gara gara ada yang merasa " dilupakan " karena tidak kebagian alias tidak saya masukkan dalam daftar .



" Waduh, kaos-e apik tapi aku gak kebagian rekk ... " maap, maap, lha saya kira karena sudah " sepuh " (  72 th ) beliaunya tidak lagi suka kaos dan saya oleh2i makanan khas Malang yang ternyata malah mengundang protes hehe .. Penasaran? Cepet saja ke Soak Ngalam ! .. ( th )

Keterangan foto ( all taken by : th )

01. Contoh contoh desain Kaos Malang.

02. Ada kaos, ada tas dll.
03. Papan nama Soak Ngalam, Jalan Kawi Atas 24, Malang.





Tokek, Tokek, Ya, Tidak, Ya, Tidak

Sudah rahasia umum bila bunyi tokek diikuti oleh hitungan dari 
" sebuah harapan akan suatu keberuntungan " 
yang entah itu asal mulanya dari jaman apa, 
mungkin sejak Majapahit hehe .. 

Tidak usah terlalu serius menanggapi tulisan ini 
sebab nanti yang muncul malah dugaan negatif bahwa 
tulisan ini mengajarkan tahayul, waa .. hebat bukan?

Saya masih ingat saat di blog yang sama saya mengunggah 
foto kucing hitam, ternyata malah dikomentari 
" black-cat, superstition " etc ,
begitu juga pada tulisan yang lain yakni 
" Yang Dilupakan, Yang Ingin Dikenang " ck ck ck ... 

Menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan sebuah tulisan pendek dan artikel ringan yang bersifat hiburan,
 adalah sebuah kelebihan dari sebagian orang yang merasa 
" jauh lebih tahu " dari si penulisnya sendiri, hebat yaa hehe ...

Maka kembali ke tokek ini, saya juga siap kok untuk di simpul2kan, silahkan saja, sebab " like and dislike " itu hak setiap individu 
dan setiap pilihan sikap senantiasa memiliki alasannya, meski secara pribadi tidak pernah saling bertemu atau mengenal . Dan sebagai penulis, 


 saya juga sadar bahwa pembaca tulisan saya 
terbagi atas beberapa kelompok. 
Kelompok terbesar itu terbagi dua, yakni yang mengenal saya secara pribadi dan cukup dekat ,
serta kelompok yang sama sekali tidak mengenal saya secara pribadi kecuali melalui blog ini atau media lainnya dan 
atau melalui rumours.

Oya kenapa saya tertarik menulis soal tokek? Dirumah dalam tiga tahun terakhir ini, yang entah darimana asalnya, ada beberapa ekor tokek yang menghuni beberapa sudut rumah. 

Lucunya, dalam minggu ini tiba2 saja ada beberapa ekor " baby tokek " yang menyebar didinding . 

Lucu, karena tubuh kecilnya seolah tidak seimbang dengan empat kakinya yang bertelapak lebar lebar. 
Warna mereka lebih gelap dari induk dan " ayahnya " . 

Naa .. tiap malam, " ortu " mereka seolah memanggil pulang anak2nya dengan suara khasnya yang sering dihubungkan orang dengan sesuatu " harapan " tertentu, misal yang lagi mencari pekerjaan akan berhitung seperti ini " dapat .. tidak .. dapat ... tidak dst " hingga si tokek berhenti.

Kalau pas " dapat " mereka akan senang, tapi bila sebaliknya maka mereka akan berharap si tokek berbunyi lagi dan mencoba lagi berhitung supaya " dapat " hehe ... 

Demikian  kedekatan alam dengan manusia dimasa lampau yang hingga kini masih sedikit tersisa dan sebagian masyarakat kita juga masih mempercayainya , sebagaimana ketika seseorang kejatuhan cecak dikepala atau bermimpi giginya tanggal..

Taklah perlu dipertentangkan, karena akan berpulang kepada individu masing masing. Jaman telah bergeser, 
dimana kita tak lagi ber akrab akrab dengan alam dan bahasanya, sehingga seringkali kita terkaget kaget 
ketika bencana alam tiba, 
karena konon alam tidak terlebih dahulu memberitahukannya . padahal bahasa alam itu sedemikian nyata dan banyak, 
namun hanya sedikit dari kita yang masih berkemampuan membacanya . 
Kehidupan modern telah merampas kepekaan manusia 
terhadap alam dan lingkungannya. 
Internet, TV, mall mall, shopping, dll telah " membutakan " 
banyak mata hati, orang tak lagi peduli kepada alam dan terperanjat ketika satu saat alam mendadak bicara dalam bahasanya yang dahsyat !

Tokek,cecak, semut, bahkan yang jauh lebih kecil dari itu, 
adalah bagian dari lingkaran semesta yang maha luas 
yang diberikan kepada manusia sebagai " patner hidup " 
agar ada keseimbangan sebagai 
sesama mahluk hidup ciptaanNYA.

Bencana timbul ketika keseimbangan terganggu 
dan sebagai mahluk termulia yang dikaruniai 
akal serta kecerdasan tinggi, ironisnya manusialah justru 
yang berada digaris terdepan sebagai 
perusak alam dan lingkungan. 

Maka, masih banggakah kita terhadap diri sendiri yang mengaku paling benar, lurus dan cerdas ini ? 
Jawaban ada di masing masing kita dan 
bukan pada suara tokek .. ( th )

Keterangan foto ( all taken by : th ) :

Baby Tokek dirumah, Juni 13


Yang Jadul, Yang Dicari

Berpetualang rasa dengan mencoba menu menu ' modern ',  
tidak selamanya menggembirakan, 
sebab kalau pas meleset dari selera, bisa justru mengecewakan 
dan bukannya menjadi kenyang tapi mules, 
mules di hati alias sebel hehe .. 
Maka , cara aman sebenarnya adalah ' back to nature ' alias kembali ke asal yaitu mencari warung warung jadul 
yang sudah bisa dipastikan 99,99% tidak akan  mengecewakan. Naa .. di Malang cukup banyak yang masih bertahan 
dan tidak tergerus arus kuliner modern. 

Salah satunya adalah Soto Ayam Lamongan " Lonceng " , 
di Jalan Oro Oro Dowo atau nama yang sekarang adalah 
Jalan Brigjen Slamet Riadi. 
Duluuuu, semasa saya masih kecillll, memang ada juga 
Soto Lonceng tetapi daging sapi bukan ayam. 
Dan nama Lonceng itu muncul karena lokasi warungnya yang bersebelahan dengan menara lonceng yang ada disitu, 
kalau tak salah itu didaerah Mergosono.

Tapi apalah arti sebuah nama kata Shakespeare, 
yang penting itu rasa sotonya yang tidak berubah 
dan memang yummyyy ... 
Naaa, bagi yang menyukai hal hal " klasik ", 
ini salah satunya yang layak dicoba ..! ( th )



Keterangan foto ( all taken by : th ) :
01. Soto Ayam Lamongan Lonceng.
02. Papan nama dan no HP untuk pesanan.