Jumat, 30 Juli 2010

Never Ending Reunion.. !









Ha ha .. ini namanya bukan reuni tapi arisan, mengapa? Lha wong reuni kok hampir dua bulan sekali. Tapi begitulah, ketika kesadaran akan berharganya detik demi detik yang masih tersisa, maka tidak ada salahnya pertemanan dan pertemuan dipererat dan dipersering he he ... Anehnya, yang luar kota bahkan luar pulau, catat saja Kalimantan pun menyempatkan diri datang ( lagi ! ) ..

Nah .. Rabo tanggal 28 Juli 2010 yang lalu, sekitar 30 an orang berkumpul dirumah Huri, salah satu teman SMA kami kami. Rumahnya terletak sekitar 4 km dari pusat kota dan " mencil " alias jauh dari tetangga karena luasnya halaman. 

Ya sudah, kesepakatan untuk kumpul ( lagi ) disitu agaknya ditunjang oleh lokasi rumah yang cukup private, maka ( seperti biasa ) acara Tembang Kenangan mendominasi pertemuan. Maklum, kalau diajak game game yang melelahkan banyak yang mengeluh hehe ...

Hebatnya, teman yang dari Pandaan khusus membawakan KUPANG LONTONG buat yang hadir, plus sate kerangnya ! Yang di Malang menyiapkan menu menu khas Jawa dan juga China.

Penutup ada cocktail. Jangan tanya soal kue kue, melimpah ruah entah siapa saja yang sudah membawanya. Diurusan buah segar, juga tersedia klengkeng dan semangka. Aduh, seusia saya harus pinter pinter mengatur keseimbangan makanan kalau tidak ingin kena gula hehe .. jadi beberapa makanan cukup saya nikmati secara visual saja alias " dipelototin " tok !

Jepret sana jepret sini, sayapun sibuk mengintip momen momen unik. Nah .. ketika yang lain nyanyi nyanyi, e.. ternyata diruang tamu malah ada yang sibuk pijet pijetan ... lho .. ? Usut punya usut ternyata teman yang mijet ini punya profesi baru : ahli pijat reflexologi, wah .. sejak kapan pak haji ? 

Ada lagi yang " mojok " dan asyik bercurhat, rupanya reuni dimanfaatkan untuk saling curhat sampe sampe tidak sadar difoto hehe .. Terus ada yang saling CLBK/ Cinta Lama Bersemi Kembali dengan saling berbalas pantun e.. nyanyian, lupa bahwa cucu nunggu dirumah ni ye ... Saya kearah halaman untuk menjepret sekelompok " coa " alias cowok cowok tua hehe yang tampak asyik ber hahahihi mengenang cewek cewek SMA nya ha ha ...

Ketika acara akan berakhir pada sekitar jam 17.15, tiba tiba ada yang baru sadar bahwa saya seharian tidak kejepret alias bakal tidak ada dalam foto. Maka saya akhirnya menyerah untuk berfoto bersama pada menit menit reuni mau berakhir .. trims yang sudah ingat saya hehe..

Ajang reuni kali ini memang khusus dimanfaatkan untuk saling bermaafan menjelang Ramadhan sebab memasuki bulan suci ini sudah pasti kita berupaya keras untuk " membersihkan " diri dan hati sebelum menapaki masa pencucian dosa. Ya ALLAH, sungguh sebuah karunia bahwa kami kami masih Engkau beri kesempatan untuk saling bermaafan, karena sesungguhnya kami tiada pernah tahu KAPAN takdir menjemput kami kehadapanMU ....

Kata pisah diucapkan diakhir pertemuan, Insya Allah awal bulan Oktober nanti janji untuk bertemu lagi di acara Halal Bihalal... Semoga kita masih diberikan kesehatan dan kekuatan, amien ....

( Photos by : TH )

Keterangan foto dari atas kebawah :

01. Doa bersama dipimpin "ustadz" kita.
02. Lho yg ini pijet-an ...
03. Nyanyi bersama
04. Tembang Lawas
05. Di kebun
06. Makan siang

( yang njepret tidak ada dalam foto foto hehe ... )

Sabtu, 24 Juli 2010

Terima Kasih, Kado Terpahit








kepada redaksi kabarindonesia.com disampaikan terima kasih atas pemuatan artikel "KadoTerpahitUntuk Anak Anak Indonesia ". Semoga anak anak Indonesia mendapatkan hak hak penuh dalam menikmati masa kecilnya secara wajar demi terwujudnya generasi Indonesia yang sehat jasmani rokhani serta cerdas. Amin.

( Photo by : TH  )

Minggu, 18 Juli 2010

BARONGSAI dijalanan kota Malang




















Sejak 2007, agenda tahunan yang satu ini menjadi tontonan menarik bagi warga Malang, yakni kirab ritual dan budaya. Berkaitan dengan ultah klenteng ( rumah ibadah ) Eng An Kiong yang ke 185, klenteng yang berada dijalan Martadinata ini mengundang sekitar 27 klenteng lainnya yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Masing masing klenteng membawa KIU ( semacam tandu ) dan ada pula yang membawa altar sembayangan lengkap dengan perabotannya.

Maka tanggal 18 Juli pagi hari kemarin, dibeberapa ruas jalan kota Malang tampak bertabur warna merah dan kuning yang mendominasi jalanan. Kostum peserta kirab, tandu, bendera kebesaran masing masing klenteng, barongsai dan lain lain rata rata didominasi warna merah dan kuning. Barongsai dan sang naga tampak menyertai kirab dan dibeberapa titik utama dari rute yang dilalui, mereka berhenti untuk ber atraksi.

Tak kalah menarik adalah para pengangkat tandu tandu yang berisikan patung patung para dewa, yang konon roh patung " menuntut " para pengangkat tandu untuk mengikuti kemauan sang dewa . Para penandu tampak kewalahan mengangkat tandu dengan gerakan gerakan tidak menentu. Maju, mundur, berputar, berbalik, berlari, berhenti dan seterusnya. Hebatnya para penandu ini bukan anak anak muda melainkan didominasi manula yang bahkan sudah berusia diatas 60 th dan wanita !! Namun mereka terlihat bersemangat karena yakin hal ini membawa keberuntungan.

Tidak ada yang harus diperdebatkan disini, karena keyakinan memang sesuatu yang amat pribadi dan akan menjadi pertanggung jawaban masing masing dihadapanNYA. Maka melihat kirab ini lebih sebagai salah satu kekayaan budaya ditanah air, mungkin akan lebih bijak.

Sebelum era Gus Dur, agaknya aktivitas budaya seperti ini masih tabu. Maka haruslah diakui Indonesia dengan multi-ras dan etniknya, memang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.

Mari kita jaga bersama dari " penyerobotan " budaya Indonesia oleh pihak asing .... !!

( Photos by : TH )

Keterangan foto dari atas kebawah :

01. Genderang dari salah satu klenteng di Jatim.
02. Rombongan wayang dari sebuah klenteng .
03. Barongsai dari Belanda, ups .. maaf, maksudnya dari Jatim.
04. Seragam klenteng Jepara.
05. Penandu wanita yang tampak kelelahan karena beratnya tandu.
06. Naga hitam putih.
07. Seorang manula pembawa panji yang masih bersemangat.
08. Para penandu wanita yang terombang ambing " dewa " yang mereka tandu.
09. Barongsai Black White.
10. Happy Couple.
11. BAGONG ikut kirab.
12. Barisan pembawa tandu.
13. Wanita wanita penandu.
14. Remaja klenteng dengan Naga Kuning.

Sabtu, 17 Juli 2010

Lokasi hangout antara Malang - Surabaya, Taman Dayu











Bicara Taman Dayu, terbayang sebuah komplek perumahan yang hijau dan asri didaerah Pandaan, sekitar 40 km dari Malang arah Surabaya, disebelah kiri jalan. Tapi kita tidak bicara soal perumahannya, melainkan tentang Taman Dayu sebagai salah satu alternatif tempat hangout bersama kerabat atau teman, terutama bagi yang sedang dalam perjalanan. Apa istimewanya?
Bukan saja karena banyaknya pilihan menu yang ada di tawarkan di sini, juga harganya yang terjangkau, tetapi juga kelengkapan fasilitas lainnya yang mungkin kita butuhkan.

Sebut saja warnet, fotocopy, studio foto, salon, tempat belanja, boutique, bahkan toko meubel dan lain lain yang sulit diperoleh disepanjang perjalanan antara Malang - Surabaya. Bisa dibilang semacam " One Stop Service Area " . Saat jam istirahat makan siang pada hari hari biasa, tempat ini dipenuhi oleh karyawan/ karyawati dari berbagai industri yang ada disekitarnya. Ini bisa dimaklumi karena area F & B di Taman Dayu ini memang menawarkan suasana yang pas istirahat makan siang ditengah terik matahari dengan  deretan pepohonannya yang menghijau.

Harga menupun menggoda, contoh : nasi goreng 6.000,-, sup buntut lengkap 12.000,-, soto ayam lengkap 7.000,- , rawon 7.000,- bakso lengkap 5.000,- dan banyak lagi. Nah .. sebuah pemberhentian pengisi perut yang nyaman sebelum memasuki kawasan lumpur lapindo yang panas dan gersang di Porong ... selamat mencoba !!

( Photos by : TH  )

Keterangan gambar dari atas kebawah :

01. Anak kecil di Taman Dayu.
02. Salah satu outlet.
03. Shanghai spot.
04. Gerbang Little Shanghai.
05. Mr. Blek, salah satu owner "warung kopi", blekopi, di festival Taman Dayu.
06. Kerak Telor di festival yang sama.
07. Gerbang festival Taman Dayu, agenda tahunan.
08. Rujak cingur Taman Dayu.

Kamis, 15 Juli 2010

Warung Hujan



                           
                           WARUNG HUJAN




Terletak di desa Mbawang, Tunggulwulung, kelurahan Lowokwaru, atau sekitar 7km dari pusat kota Malang arah RRI Malang, warung yang bernuansa " ndheso " dan asri ini bisa ditemukan.
 
Namanya " Warung Hujan " meskipun kita tidak akan basah kuyup didalamnya. Dibangun diatas lahan yang bersebelahan dengan sungai dan lembah, warung ini " memanfaatkan " alam sekitarnya sebagai bagian dari nilai jualnya. 

Disisi lain warung ini juga ingin mengakomodir kebutuhan teknologi pelanggannya dengan menyediakan fasilitas hotspot dan perangkat elektronik lainnya guna menunjang kemudahan sebuah agenda baik meeting, seminar kecil, training dan lain lain.

Ikan atau ayam bakar dan goreng serta berbagai menu lain tersedia disini, disamping aneka juice dan bermacam minuman lainnya dengan harga terjangkau. Ikan bawal bakar misalnya, ditawarkan Rp. 10.000,-/sepuluh ribu per porsi atau cah kangkung Rp. 7.000,-/ tujuh ribu per porsi.

Kenyamanan lain adalah tempat parkir yang tersedia dilapangan kecil sebelah kiri warung berikut keamanannya, jadi selama pelanggan menikmati mamin tidak usah dirisaukan dengan gangguan pada kendaraannya. 

Masih ada lagi, bagi pecinta alam, hanya berjarak 5 menit berjalan kaki kearah sungai disebelah bawah warung, kita sudah akan menemui sebuah jembatan gantung dengan pemandangan bawah jembatannya yang luar biasa !

Nah ... bagi yang ingin menikmati suasana  
" ndheso " ditengah keruwetan kota, warung yang satu ini adalah pilihan yang nyaman meskipun tidak perlu memakai jas hujan saat bersantap disitu !






Keterangan foto ( all taken by me ) :

01. Cendela warung.
02. Jembatan bambu kearah tempat lesehan warung.
03. Sungai dibelakang warung.
04. Salah satu menu.
05. Sawah dibelakang warung.

CATATAN :

hari ini, 20/03/13 sekian tahun setelah saya tulis ini,
warung hujan ini nampaknya sudah tidak ada/mungkin sedang dalam tahap renovasi/ dll yang saya tidak jelas, namun sebagai
kenangan atas lokasi dan viewnya yang menarik, tulisan ini tidak saya hapus. 


pada catatan lain di awal juni 2013, saya kembali menelusuri area eks Warung Hujan karena mengangkat tulisan Situs Karimun yang ada didekatnya. ternyata yang tersisa dari warung ini hanya pagar bambu, gembok pagar dan sepotong sisa jembatan bambu yang dulu ada ditengah kolam. diatas catatan ini saya jepretkan " puing " itu beserta segenap kenangan pada sebuah warung yang ber atmosfer alami ini. semoga warung hujan masih akan muncul lagi ditempat lain yang jauh dari kebisingan kota, semoga ! ( th )

keterangan foto : ( taken by th ) : sisa warung hujan terjepret pada juni 2013.

Rabu, 14 Juli 2010

Jembatan Gantung Membelah Kota












Berbicara tentang jembatan gantung, terbayang bagaimana badan kita " terombang ambing " menitinya dan bahkan kalau dibawahnya menganga sungai deras atau jurang maka perut serasa mules... tapi begitulah si pengundang adrenalin ini justru digandrungi karena ke khas an nya.
" Wisata " kali ini memang sengaja menelusuri beberapa jembatan gantung yang ada di kota Malang karena lokasinya sering tersembunyi dari perhatian khalayak dan bagi sebagian orang bahkan sama sekali tidak menarik. 

Plus didorong keinginan untuk jeprat jepret , maka saya sengaja mencari salah satu jembatan gantung yang membelah kota Malang, tepatnya didesa Mbawang, Tunggulwulung, kelurahan Lowokwaru, Malang. Kalau diukur dari pusat kota Malang sekitar 7 km arah Blimbing. Yang memakai kendaraan roda empat bisa mengambil jalan Soekarno-Hatta, trus belok kiri arah RRI Malang dan lurus sampai desa Mbawang.

Disebuah warung yang bernuansa "ndheso" yakni " Warung Hujan " ( silahkan ke link kuliner untuk melihat warung yang satu ini ) , kendaraan bisa diparkir disamping warung dan kita cukup berjalan kaki kearah bawah warung sekitar 5/lima menit sudah akan sampai di jembatan gantung yang dimaksud.

Sebuah jalan bersemen dengan lebar sekitar 1 meter tampak membelah area persawahan yang " ijo royo royo " dan tidak jauh dari situ kita akan menuruni jalanan sedikit curam sebelum tiba di jembatannya. Sebuah pemandangan luar biasa akan ditemui dibawah jembatan gantung ini.
Sekitar 30 meter dibawah jembatan terhampar sungai yang cukup deras airnya dengan lembah lembahnya yang relatif masih asri. Sungguh beruntung bahwa ternyata ditengah kota Malang masih ada kehijauan yang semakin langka ditemui dan sungai ini relatif belum tercemari.

Diujung jembatan yang lain, saya menemukan sebuah lorong mirip goa yang sudah terkunci dan diberi pintu besi, dan konon merupakan persembunyian penduduk dijaman Belanda. Dan karena jembatan gantung ini merupakan penghubung antara wilayah Tlogo Mas dan Tunggulwulung maka tidak heran bila setiap harinya dipenuhi murid murid sekolah yang berjalan menyeberanginya. Padahal kalau mengambil jalan darat atau jalan raya, jarak keduanya ditempuh cukup jauh dan lama yakni sekitar 20 menit dengan kendaraan pribadi atau 40 menit dengan angkutan umum.

Sedih membayangkan bagaimana nasib area hijau ini 5-10 tahun kedepan? Apakah masih sama hijaunya atau disekitar sungai dan sawah yang asri ini sudah akan menjadi hutan ruko seperti halnya Malang saat ini? Semoga saja tidak sehingga anak anak sekolah masih akan menyeberangi jembatan ini dengan keceriaan yang sama karena mereka bisa bermain disepanjang persawahan dan jembatan serta sungai yang sudah makin menyempit ini ......

Lain kali ikut saya lagi ya menelusuri jembatan gantung yang lain .... yukkk ......

( Photos by : TH )

Keterangan foto dari atas kebawah :

01. Area persawahan disekitar jembatan gantung.
02. Tangga menuju jembatan gantung.
03. Arema cilik dijalan menuju jembatan.
04. Goa bekas persembunyian gerilyawan kita dijaman Belanda.
05. Lembah sungai dikaki jembatan gantung.
06. Sungai dibawah jembatan.
07. Anak anak sekolah bermain di jembatan.
08. Jembatan gantung.
09. Jalan sempit yg memisahkan area sawah.

Kamis, 08 Juli 2010

Pecinta Anak Itu Telah Pergi, AT MAHMUD




Abdullah Totong Mahmud, populer dengan AT Mahmud, tanggal 06 Juli 2010 yang lalu telah wafat diusianya yang ke 80. Sebuah usia yang patut disyukuri karena tidak setiap kita mendapat karunia usia sebanyak almarhum. Apa yang istimewa dari sosok yang satu ini? 

Bicara AT Mahmud, yang terbayang adalah keceriaan anak anak Indonesia menyanyikan lagu lagu ciptaannya yang berbilang ratusan. Sedikitnya ada 600 lagu anak anak telah lahir dari sumur inspirasi seorang AT Mahmud yang tak pernah kering. Beberapa yang terkenal misalnya :
" Ambilkan Bulanku " , " Pelangi " , dan banyak lagi.

Bagi ATM ( singkatan namanya ) , anak anak adalah sumber inspirasi dan kekuatan yang luar biasa. Anak merupakan sebuah dunia penuh kemurnian yang karenanya harus dijaga agar masa kanak kanak tidak terkontaminasi oleh dunia orang dewasa. 

Saat ini banyak anak anak yang lebih senang menyanyikan lagu lagu percintaan remaja dan dewasa ketimbang lagu anak, ini karena pencipta lagu lagu anak semacam ATM sangatlah minim dinegeri ini. Sampaipun pada kontes atau kompetisi menyanyi anak anak, ternyata lagu lagu yang mereka nyanyikan adalah sarat dengan lirik lirik orang dewasa mulai jatuh cinta hingga urusan patah hati, memprihatinkan.

Maka mendengar lagu lagu ciptaan ATM yang sarat dengan gambaran khas dunia anak, hati kita menjadi sedikit lega bahwa ternyata masih ada yang mau peduli pada kebutuhan akan lagu lagu anak anak yang sesuai . Tapi kini ATM sudah pergi, mewariskan sekitar 600 lagu yang akan mengalirkan royalti bagi keluarganya. 

Harapan kita semua bahwa keluarganya akan tetap meneruskan spirit almarhum dalam mencintai anak anak melalui pelestarian lagu lagu ciptaan almarhum yang begitu pas dengan dunia kanak kanak.

AT Mahmud, terima kasih atas lagu lagumu yang luar biasa buat anak anak Indonesia, semoga masih akan banyak penerusmu yang mengikuti jejak langkahmu ...
Tolong, " Ambilkan Aku Bulan " .......................... ( TH )

( Foto dari google )