Jumat, 22 Mei 2020






.. " Berdamai Dengan Corona ? " ..
siapakah yang pernah mengira bahwa kita akan
 berbulan bulan terjebak virus mematikan
 bahkan hingga lebaran ? saya yakin tidak ada .
 ketika Januari 2020 yang lalu membaca tentang Wuhan ,
 saya bahkan santai2 sambil membayangkan 
" Wuhan Indonesia jaraknya jauh " , 
tak mungkin sampai di Indonesia !
 Pebruari mulai terdengar negara negara Eropa dan 
Amerika mengeluh . itupun saya masih santai
 dan berpikir 
" paling sebelum masuk Indonesia itu virus
 sudah mampus " ! 
Maret saya mulai berubah pikiran 
" lho , kok masuk juga virus ini ke Indonesia " ? 
bahkan saat Jakarta mulai merangkak ke zona merah , 
saya pun ternyata masih sempat2nya berpikir 
" kalau Jakarta di tutup maka Malang bisalah aman " .
 April ternyata Malang mulai naik grafiknya .. 
Masya Allah .. 
sayapun mulai ikut cemas karena Malang ini 
merupakan kota " transit " dari berbagai tujuan wisata
 dan kota pendidikan dengan sekian puluh ribu 
pendatang dan juga  anak anak kos 
dari berbagai provinsi . 
 belum lagi industri2 besar banyak beroperasi di 
Malang . satu karyawan terpapar , 
bisa2 seluruh
 pabrik terkena ! memasuki Mei , betul betul Malang
 menjadi zona merah yang serius ! 
saya menjadi " paranoid " karena tidak pernah tahu
 siapa sehat siapa terpapar meski terlihat sehat .
 masker , sarung tangan , lengan panjang , kaos kaki ,
 hand sanitizer , jilbab yang berfungsi sekaligus
 sebagai perangkap masker sehingga saya 
lebih mirip ninja ,
 dan tissue basah dan kering selalu ada didekat saya
 terutama saat berkendaraan . 
apa saya masih kluyar kluyur ? sesekali ketika tidak
 ada pilihan sebab penjual sayur langganan saya tidak 
selalu bisa membawakan item tertentu . 
jangan tanya bagaimana cara saya berbelanja sayur 
tiap pagi di mlijo langganan saya . malam hari saya
 pesan lewat WA apa2 yang saya butuhkan ,
 kemudian pagi hari tukang sayur meletakkan pesanan
 saya dalam pagar rumah dan saya membayarnya
 dengan uang yang saya bungkus plastik .
( seharusnya transfer online lebih aman )
kembalian atau susuk nya tidak pernah saya minta , 
biasanya saya minta diganti dengan item tertentu 
misal tomat , kecambah dll  . saya membawa pesanan
 saya dengan memakai sarung tangan dan 
mencucinya bersih2 sebelum masuk kulkas .
 setelahnya sayapun mencuci tangan
 dengan  sabun cair dan handsanitizer . 
selama Ramadhan saya memasak pada sore hari .
 rumah selama terjebak virus ini telah saya bersihkan
 75% , sisa 25% itu bagian luar rumah .
 ruangan ruangan sudah selesai di bersihkan total 
dan di cat ulang , gudang2 telah di bongkar 
dan mengurangi serta membuang barang2 yang
 sudah tidak terpakai atau memberikannya
 kepada yang lebih membutuhkan .
kelambu dll sudah terpilin pilin di mesin cuci 
sehingga udara dalam rumah terasa lebih segar . 
jangan tanya tentang mandi .
 terkadang saya bisa 3 kali sehari meski tidak pergi .
 kalau terpaksa pergi maka bisa 4 kali sehari .
 jangan protes dulu , sebab bagi saya keluar rumah
 meski hanya berjarak 500 meter ke 
Superindo terdekat dari rumah , 
saya anggap sudah " terkontaminasi " ..!
 bagaimana tidak kalau disaat saya belanja  dengan 
cara supercepat ini kadang menemukan pembeli 
yang batuk2 atau bersin atau maskernya dipakai
 tetapi tidak ditutupkan wajah atau
 dalam antrian berdiri terlalu dekat sampai sayalah 
 yang harus mengalah menjauh dll . 
paranoid ? mungkin .
 apa boleh buat ,  dalam usia saya yang tidak
 lagi muda , saya harus bisa membentengi diri saya 
fisik mental agar saya tidak terpapar .
 saya bukan lagi remaja yang masih bisa 
" cengengesan " menganggap covid19 ini 
barang mainan , tetapi cara saya melindungi diri
 adalah benteng terakhir saya dari paparan
 covid19 apapun yang orang lain ingin katakan .. ! 
saya tidak ingin merepotkan siapapun ketika 
saya rapuh apalagi sakit dan untuk mencegah itu saya
 harus membangun benteng ! 
nutrisi saya jaga , vitamin saya lalap langsung dari
 buah atau sayur , istirahat cukup dan berfikir positif .
 derasnya kiriman2 WA yang hoax kadang sempat
 memancing emosi , tetapi beruntung bahwa
 saya masih memasang filter untuk tidak ter jebak jebak .  

obrolan2 di grup WA memang tidak selalu
 kearah positif tersebab kepala yang memiliki pendapat
 warna warni . untuk ini saya memilih " ditengah "
 alias netral supaya tidak terjebak 
" kiri atau kanan " yang merenggangkan pertemanan .
 sungguh hidup ditengah virus mematikan telah
 mengajarkan begitu banyak hal yang
 semula tidak terpikirkan .
 saat ini dunia memiliki kesamaan , kebersamaan 
serta berbagi dalam masalah yang sama .
 ras , budaya , bangsa , bahasa serta tradisi dan
 ideologi yang kadang diperdebatkan bahkan
 dipertaruhkan lewat perang seolah lenyap dalam
 satu bendera yang sama yaitu : 
" mari perangi covid19 dengan 
saling bahu membahu " !
 indahnya ... ! 
tetapi mengapa dunia perlu " disengsarakan "
 sebelum menjadi indah ? agaknya manusia 
lebih mirip bocah balita yang merengek marah karena 
keinginan pada mainan tertentu
 tidak diluluskan . dan ketika orangtuanya 
berupaya membelikannya mengalami kecelakaan 
ditengah perjalanan ke toko mainan dan tewas ,
 barulah si anak tersadar dengan 
penuh perasaan bersalah .....
 covid19 juga mendorong kita untuk menguras 
kreatifitas guna bertahan hidup sebagai survivor ,
 covid19 juga mendorong kita untuk 
lebih sering dan mampu berbagi dengan mereka yang 
 membutuhkan uluran tangan ,
 sekaligus covid19 juga menyadarkan kita untuk lebih mendekatkan diri kepadaNYA sebagai
 Sang Pengangkat Musibah ... 
 maka apabila pada akhirnya nanti kita masih harus
 lebih lama hidup damai berdampingan dengan
 covid19 ini tersebab belum ditemukannya penangkal 
yang tepat serta semakin membandelnya
 masyarakat untuk tidak patuh pada PSBB dan
 menyerahnya tenaga medis garda depan yang semakin 
 kewalahan dengan
 membludaknya pasien covid19, 
marilah kita tidak mencari kambing hitam
 yang sesungguhnya adalah kita kita sendiri yang 
tidak patuh pada ketentuan PSBB dan mencari
 berbagai cara melanggarnya serta alasan , 
kita harus bersedia menerima konsekwensinya ..
bantuan2 sosial yang konon belum merata diterima , 
juga menjadi salah satu alasan pelanggaran PSBB 
akibat " mbulet dan ruwetnya birokrasi " 
sementara rakyat tidak dapat menunggu terlalu lama 
dengan perut yang sudah berisi angin .. 
carutmarut semuanya ini ,
 memperparah penurunan dan penekanan serta
 pengusiran covid19 dari bumi Indonesia tercinta .. 
era baru agaknya telah datang , 
dengan kebiasaan2 baru yang kelak akan menjadi
 budaya bangsa antara lain Kebersihan Diri ,
 Rumah dan Lingkungan , 
serta Efisiensi Dalam Rumah Tangga , 
Pekerjaan dan Pemerintahan dll 
sehingga kita akan menjadi manusia2 yang
 lebih baik , efisien , pandai bersyukur dan
 bertaqwa .... aamiin ..
 ( Writing by Titiek Hariati , 23 . 05 . 20 )
 gambar2 diambil dari google




Tidak ada komentar: