Tampilkan postingan dengan label wisata kuliner DJADOEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata kuliner DJADOEL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2016







 .. " 43 tahun bertahan , Ayam Prambanan " ..

 mengapa di blog yang sama saya sampai dua kali menulis Ayam Prambanan di
 jalan Bromo 37A Malang ini ?
tidak ada keistimewaannya yang menonjol , 
tapi saya merasa perlu menulisnya lagi sebab warung yang dirintis Hajjah Hartini ditahun 1972 ini nyatanya mampu bertahan dalam persaingan ketat jagad kuliner di Malang Raya .
usianya yang hampir setengah abad inilah yang menarik yang diawali dengan sebuah RM sederhana . 
yang skeptis bisa saja berkomentar " ayam ya ayam , mau diapakan ya tetep ayam " , itu tak salah .
 tetapi dalam blog ini , saya menemukan cukup banyak nama nama didunia " per ayam an " yang nyatanya tidak mampu bertahan alias rontok sebelum berkembang . 
maka istilah " ayam ya ayam " ternyata dalam segi olahan dan kreativitas penyajian serta rasa akan 
turut menentukan nasib nya .
 dan ketika desember yang lalu  saya menjumpai
 segala sesuatunya di warung yang satu ini masih persis sama
 seperti sedia kala , kecuali harga yang tentunya mengikuti perkembangan, saya merasa salut !
 ada ratusan penjual ayam goreng di Malang Raya , 
 mungkin ayam goreng Prambanan ini bisa dicatat sebagai salah satu wisata kuliner Malang yang bisa
 " dipamerkan " untuk kerabat dari luar Malang karena disamping ayamnya juga ada Sup Buntut ,
 Sate Komoh , balado terong dll yang tak kalah sedepnya !
( th ) 


( photos by : th , Ayam Prambanan Sari , Jl . Bromo , Malang , December 2015 )

01 . pilih dulu sebelum duduk
02 . paha itu ..
03 . atau yang merah2 ini ? 
04 . pilih sesuai selera , jangan pernah memaksakan selera .. !










Kamis, 14 Mei 2015









.. " 4M di Warung 86 " ..

kali ini saya masih ' usreg ' di Malang Selatan, tepatnya di jalan Raya Diponegoro 47, Bululawang , Malang . untuk Batu , sementara saya tunda  dulu sebab sudah pasti wisata kulinernya 
jauh lebih' advance ' dibanding Malang Selatan yang memang masih 
merayap kearah level yang sama . 
jarak Malang - Batu yang relatif cukup pendek untuk mencapai pusat pusat wisata kulinernya  masih ditunjang oleh viewnya yang memang cantik sehingga untuk ' dijual ' memang pas.
 beda dengan Malang Selatan yang memiliki garis pantai yang dahsyat cantiknya, tetapi cukup jauh dari Malang , sehingga untuk sebuah tujuan wisata kuliner 
 haruslah  dibarengi dengan wisata bahari . 
kota Batu yang hanya sekitar 20km dari Malang bisa dicapai hanya sekitar 10 menit 
( lalin normal, kalau pas macet bisa tiga jam ! hehehe .. ) jadi orang bisa hanya sekedar " cari makan di Batu terus pulang " tanpa harus mampir2 ke tempat2 wisatanya.
Bululawang , Gondanglegi, Kepanjen , Turen , Sedayu , Sumbermanjing Wetan / Kulon , dll adalah 
" harta karun " yang masih terpendam untuk nantinya bisa meledak seperti Batu . 
ada berbagai wisata alam yang masih belum ter eksplore maksimal, mulai arung jeram, panjat tebing, area camping, wana wisata , wisata bahari , wisata edukasi, wisata budaya 
( batik , topeng dll ) , wisata kuliner dll.
bicara kuliner , umumnya warung warung yang ada di Malang Selatan ini masih melakukan renovasi dari perwajahan lamanya kearah yang lebih " modern " yang biasanya diwujudkan dalam 
bentuk perluasan warung , area parkir dan penambahan menu menu . 
tetapi untuk menjadi sebuah " budaya " seperti halnya " budaya cangkruk " ala cafe cafe disepanjang Malang - Batu , memang belum . 
di Bululawang , kali ini saya menemu " Warung 86 " yang juga masih standar meskipun warungnya sudah diperlebar . sebagian bernuansa lesehan dan separonya lagi mejakursi biasa dengan
 kapasitas sekitar 150 an orang bila penuh.
maka , disaat lapar , warung2 seperti ini paling pas, sebab disini berlaku 4M yaitu 
" Mapan/ mencari tempat duduk , Makan dan Mbayar  terus Mulih/ pulang " ....
pilihannya lumayan banyak, mulai Rawon, Soto, Nasi Empal, Nasi Campur, Sup Buntut , dan segala macam Penyet Penyet an mulai Lele, Tempe , dll.



 naaa .. kalau kebetulan kearah Malang Selatan, jangan dulu berharap menemu cafe cafe untuk cangkruk dengan nyaman, karena disini mereka jauh lebih siap membuat perut kita secepat 
kilat kenyang tanpa harus menunggu berlama lama seperti menunggu
 Fish Guacamole ataupun Pancario Beef . 
masakan masakan rumahan ala eyang atau ibu ibu kita di Malang Selatan ini masih " sak 
ketapruk " dan murah meriah, maka bersyukurlah bahwa belum semua daerah menjadi sangat
 " western cultured " sebab kalau tidak , 
kita bisa kelimpungan mencari Botok, Lodeh, Pepes dll disebuah perjalanan yang jauh dari rumah mudah2an kelak bila jalur lingkar selatan sudah selesai 100% tersambung hingga Bandung , kita masih akan bertemu dengan warung2 seperti Warung 86 ini karena 
bagaimanapun modern nya sebuah perkembangan jaman, tetep saja gelisah kalau lama tak 
ketemu dengan  nasi dan pecel hehehe ..
( th ) 


( photos by : th , Warung 86 , Bululawang, Malang , Januari 2015 )

01. atmosfer lesehan
02. nascam
03. nasgor
04. pilihan
05 . atmosfer sudut lain 












Kamis, 30 April 2015





.. " Kopral Jono di Lesehan Yogya " .. 

generasi masa kini kalau kebetulan lesehan di warung yang satu ini dan denger lagu 
" Kopral Jono " dijamin ingat sama para eyang dan buyut buyutnya .. ! 
bagaimana tidak, wong warung yang satu ini memang sengaja mengajak pengunjungnya kembali kejaman Payung Fantasi, Sepasang Mata Bola, Bengawan Solo dan sejamannya . 
maka kalau siang itu secara kebetulan saya melihat tamu tamunya 90% adalah " sweet memory " e .. " sweet 70s " ya itu wajar, sebab dikedai yang satu ini memang menawarkan aura tempo doeloe jaman jaman perjuangan , lho .. ? 
terletak di Jalan Lembah Dieng A8, Malang, tidaklah heran bila lingkungannya yang serba hijau menulari warung ini . saya merasa sangat kerasan karena banyaknya kehijauan didalamnya.     (mudah2an bukan kehijauan dari plastik lho, sebab dijaman seperti ini semakin 
banyak tiruan tiruan hehehe .. )
oya, jujur saja tulisan ini sebetulnya sudah sangat terlambat sebab saat kesana itu adalah akhir Januari 2015 dan baru sekarang saya menulisnya disini karena cukup lama 
memory-card yang mengandung foto2 warung ini " tersesat " ditumpukan buku buku.
 maka kalau ada sesuatu yang sudah kurang pas termakan waktu 3/ tiga bulan ini, harap dimaafkan  naa, saya teruskan lagi, sekarang soal menu menunya .
 sesuai benderanya yaitu " lesehan " maka menunya tidaklah jauh dari menu menu lesehan pada umumnya seperti ayam lalapan / penyet/ bakar , juga ada gurami, bandeng, udang dll . 
lalu masih ada macam2 penyetan , mulai tahu/ tempe/ terong / dll . pepes, botok, lodeh, gudeg dll 

juga ada , pokoknya segala macam yang khas Yogya ada disini !
warung ini sangat luas dan terdiri dari dua lantai yang diatur sedemikian rupa baik
 untuk 2 - 4 orang maupun 100 orang dalam ruang yang sama . 
maka buat yang punya hajat, baik ultah, syukuran, rapat, dll kedai ini sangat pas dengan halaman parkir yang luas . 
apalagi gemericik air dikolam ikan menambah suasana Adem Ayem seperti masyarakat Yogya pada umumnya yang cinta Adem Ayem ! 
kangen Yogyakarta ?
 kalau sementara belum sempat kesana,  cukup ke warung yang satu ini, siapa tahu bisa bertemu Kopral Jono di Jembatan Merah atau ditepian Sungai Serayu ?
( th )


( photos by : th, Warung Lesehan Yogya, Jl.Lembah Dieng, Malang, Januari 2015 )
01. lalapan dan sambel ..
02. ayem ..
03. ijo ijo
04. kepingan Yogya di Malang
05. atmosfer
06. sejuk ..
07. kolam pemisah  










Kamis, 12 Februari 2015





.. " Djadoel di Modernkan, Warung Dinoyo " ..

salah satu bagian dari teori marketing adalah membahas pentingnya Kemasan sebuah produk. 
saya ya tentu sangat setuju, sebagai contoh ;
siapa yang mau beli burger tanpa kemasan melainkan langsung dibungkus atau dimasukkan dalam kresek warna hitam yang meski masih sama sekali baru ? 
atau begini, siapa yang tertarik dengan sop buntut yang uempuuuukkk tetapi ditempatkan dalam sebuah pispot yang 1000% baru dibeli dari toko pecah belah? 
faktor psikologis sangat berperan untuk kedua contoh diatas. 
naaa ... maka kalau beberapa warung djadoel terlihat " mlungsungi " , barangkali faktor kemasan ini memang sudah mereka sadari peran pentingnya.


salah satunya adalah Warung Dinoyo, 
 yang sebetulnya adalah saya kenal sejak " decades " dimana sejak " dahulu kala " warung ini memang sudah termasyur dengan berbagai macam " masakan rumahan " nya
 yang khas dan yummyy...
 sebagian yang saya ingat adalah 
Rawon, Soto, Lodeh, Jangan Bening, Botok, Bali, Sambel Goreng, Sate Komoh, Ayam Goreng/ Bakar, dan berbagai jenis lauk pauk lainnya yang seabreg seperti Bakwan Jagung, Begedel, 
Dadar, Empal dll dll  .. wow seabreg !


ajaibnya, bahwa sejak warung ini mengalami bedah plastik diwajahnya, saya tiba tiba sering merasa kesulitan untuk parkir sebab dihalamannya yang sempit bertambah " sumpeg " dengan padatnya mobil2 disitu yang dulunya " hanya " dipadati motor . 
lho, apakah mereka merupakan pelanggan2 lama yang sekarang bermobil atau pelanggan2 baru yang gara gara wajah warung mengalami pisau bedah menjadi tertarik ? 
agaknya perlu di survey sebab siapa tahu nanti akan  ada yang  memilih judul skripsi 
" Pengaruh dan Peran Penting Kemasan Sebuah Produk Terhadap Tingkat Loyalitas Customer " hehehe ..
maka meski sebenarnya warung yang satu ini tidak berubah menu menu djadoelnya, tetapi saya merasakan perbedaan atmosfernya yang saat ini ( tentu saja ) terasa lebih nyaman ! 
saat masuk , saya disapa ramah oleh ibu yang saya kenal " decades " begini 
" waa, apa kabar bu, koq lama ngga kliatan ? " , saya menjawab dengan antusias juga 
" waaa, lama memang, tau2 warungnya cantik ya bu? selamat ya, saya jadi krasan dan bisa2 nanti  porsi saya nambah hehehe ... " . 


lha ini juga faktor lain yang ikut berperan dalam memelihara loyalitas pelanggan yaitu 
" kekuatan memori penjual pada masing2 pelanggan " sehingga meski cukup lama tidak bertemu mereka masih menyapa dengan hangat dan ramah !
naaa buat para pecinta " masakan rumahan " yang sedang jenuh dengan menu2 bule, boleh mencoba warung djadoel yang dipermodern ini didaerah Dinoyo atau tepatnya didepan dari Pasar Dinoyo yang saat ini sedang dalam finishing !
suka dengan rawon pak Ramelan ? 
disitu tempatnya ! 
( th )


( photos by : th, Warung Dinoyo, Malang, Pebruari 2015 )
01. atmosfer ( maaf buat yang terjepret difoto ini apabila keberatan, dapat menghubungi saya / menulis komen untuk dihapus, terima kasih ) 
02. sate komoh, kuah asem , kerik tempe ...
03. depan pasar dinoyo, malang
04. silahkan pilih ...
05. sebagian kecil laukpauk pilihan
06. rawon pak Ramelan
07. yang bening atau yang bersantan ?
08. pintu masuk
09. jangan lupa sambalnya ... !












 

Jumat, 09 Januari 2015





  



.. " Rujak Sawo dibawah Sumpah Palapa " ..

" saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa kalau seluruh nusantara bertakluk dibawah kekuasaan negara " ( 1331 - 1364 ) ,
 demikian antara lain isi Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Mahapatih Gajah Mada
 dijaman Majapahit. sumpah ini sangatlah terkenal sehingga nama buah Palapa ini diabadikan dalam berbagai proyek penting negara seperti misalnya Satelit Palapa dll. 
perjuangan dan pengabdian tanpa pamrih sang Mahapatih inilah yang disimbolkan dalam sebuah monumen yang terletak dihalaman samping dari komplek militer Kodam V Brawijaya di 
jalan Surapati atau didepan Balai Kota Malang. 
disebelah bawah dari patung profil Gajah Mada yang yang tampak tegar, tegas dan berwibawa itu lah bunyi sebagian Sumpah Palapa seperti diatas itu dituliskan.
tetapi saya memang tidak berniat memperpanjang penulisan Sumpah ini, karena menulis tentang Gajah Mada pastilah tidak sesederhana yang akan saya ' kisahkan ' disini yaitu tentang 
riwayat sebuah rujak e..  warung rujak. 


alkisah pada jaman dahulu kala , hiduplah seorang raja ( lhooo .. ini adalah gaya gaya penulisan jaman dulu yang sangat populer di buku buku sejarah anak SD ) , yang berjuluk Rujak Sawo .
 ok , saya harus mulai serius ya , begini ceritanya :
duluuuu, di Malang ada sebuah warung rujak terkenal yang ada di Jalan Sawo.
 ya sudah, orang kita memang terkenal tidak mau repot repot, jadi nama warungnya disamakan saja yaitu " Rujak Sawo " . saking terkenalnya, sampai sampai pada masa itu ada guyonan 
" lek gak eroh Rujak Sawo tandane duduk wong asli Malang " hehe .. 
dan dibelakang nama tersohor ini adalah Ibu Sis ( alm. ) yang menakodainya selama beberapa dekade. bak pepatah " buah jatuh tak jauh dari pohonnya " maka ketika ibu Sis wafat,
 keahliannya sudah diwarisi oleh putri tunggalnya
 ( maksudnya satu2nya anak perempuan dari 5 bersaudara ) . 


naaa ... putri inilah yang saat ini melanjutkan bendera Rujak Sawo  meskipun telah meninggalkan lokasi aslinya . lha hubungannya dengan Sumpah Palapa tadi  adalah karena lokasi 
warung Rujak Sawo ini satu kompleks dengan kerajaan e ... dengan monumen 
Mahapatih Gajah Mada . 
sebuah lokasi yang luar biasa, bukan saja karena sejarah dari area Alun Alun Bunder atau Tugu ini, tetapi juga view nya dan lokasinya yang  langsung berada di jantung kota Malang.
halaman samping dan persis di pojok dari komplek militer Kodam V Brawijaya ini amatlah strategis. kerindangan pohon pohon trembesi yang sudah sepuh sepuh diseputar Tugu 
plus Balai Kota  kemudian ada SMA Tugu dan Hotel Tugu, juga ada gedung DPRD dan keasrian taman bunga dikolam Tugu, semuanya terhidang gratis didepan mata sambil
 menyantap rujak cingur wow ... !



tapiii, ada tapinya, memang suasana sudah berbeda dengan puluhan tahun lewat dimana saat itu area ini betul betul asri dan nyaman dengan sangat minimnya kendaraan bermotor. 
saat ini memang suara brang breng brong cukup mengganggu. 
tapi apalah artinya dibanding dengan Rujak Cingur dan Es Dawet yang merupakan Duo Dahsyat melawan polusi telinga dan paru paru ini !
putri ibu Sis inilah yang sangat beruntung memperoleh lokasi cantik untuk nama besar kedainya, dan masuk kehalaman sebelah dalam dari gerbang kedainya yang berjuluk " Cafe Bhaswara " ini
 kita akan langsung disuguhi pemandangan menyejukkan. 
payung2 dan kehijauan, seolah menambah rasa lapar hehe .. 
kami mengobrol dalam bahasa Jawa " kromo inggil " yang maklum saja ini adalah Bahasa  Sisa Sisa Laskar Pajang hehe, dimana generasi yang sekarang sudah sangat alergi dengan
 yang beginian, dan sayapun merasa bersyukur masih ada teman berbincang
 dalam bahasa ibu yang sebenarnya sangat dikagumi orang2 asing ini 
( remaja masa kini lebih fasih dalam bahasa bule2, dan saya sungguh tidak menyalahkan siapa2 kecuali adalah ortunya ) ... ! 


angin semilir dibawah payung2 ini plus perut yang sudah terisi es dawet dan rujak membuat saya siat-siut dan bersiap siap mencari bantal, lhooo ...?
tetapi saya memang harus menempuh sekitar 8km menuju bantal, maka saya tinggalkan ibu yang masih cantik tadi dengan sebuah nostalgi bahwa 
" sedemikian tidak terhentikannya Sang Waktu, padahal seolah olah baru kemarin saya  yang kala itu masih remaja, mengantri rujak ibu Sis di Jalan Sawo " .... 
buat yang bukan asli Malang, jejak jejak ibu Sis masih sangat kentara di kedai yang satu ini, 
ayooo bawa temen2 yang banyakk ...... !
( th ) 


( photos by : th, Rujak Sawo, Malang, Jan. 2015 )

01. spanduk luar di pojok Jalan Surapati, malang
02. rujak sawo .... wow ...
03. nyesss ...
04. es dawet yang abadi ..
05. Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada
06. balai kota tertutup kehijauan terlihat dari warung
07. sejuk .. 
08. Bhaswara Cafe
09. duo dahsyat
10 . penerus Ibu Sis, putri tunggalnya
11. hijau, hijau
12. balai kota Malang didepan warung

















Selasa, 29 April 2014





" Fruitarian
Jalan Semeru tempatnya! "

yang mengaku asli Malang pasti " aspal " bila tidak tahu yang satu ini,
 Rujak Manis Semeru yang lokasinya didepan stadion Gajayana atau tepatnya didepan lapangan tenis dan bola di jalan Semeru, Malang . 

kebetulan saya tiap kali kedatangan kerabat luar kota, selalu diminta ke Rujak Manis ini sebab konon " semasa sekolah " mereka itu sering " andhog " disitu, 
jadi ingin bernostalgi. naa .. tidak perlu heran sebab rujak yang satu ini sudah ada sejak jaman Ken Arok e ... sejak saya masih sekolah di Malang.

tak banyak perobahan terjadi kecuali atapnya yang sekarang sudah ditopang batang besi dan tendanya diperluas, selebihnya tetap seperti dulu. 

naa .. buat yang belum berpengalaman kesini, ada sedikit tips yaitu bahwa porsi Rujak Manis ini lumayan gede, bahkan cukup untuk 2- 3 orang yang berukuran semini saya hehe ..
 jadi sebaiknya jangan langsung memesan sesuai jumlah orangnya, 
tapi cobalah dulu satu porsi untuk mengukur kemampuan perut menampungnya !

dimana rahasia sukses rujak ini mampu bertahan puluhan tahun? 
mungkin saja pada bumbunya yang khas, atau buah2nya yang nyaris komplit, atau porsinya yang gede, atau harga per porsinya yang sebetulnya tidak murah hehe .. 

naa yang sedang ketamuan kerabat luar Malang dan pengen tau kuliner khas, mungkin salah 1 nya Rujak Manis ini meskipun bukan Malang saja 
yang punya Rujak Manis.
naa .. suka buah buahan yang pedas? 
yukk ke Jalan Semeru Malang ! 
( th )


( photos by : th, Rujak Manis Semeru, Malang, March 2014 )

01. porsi gede ..
02. hmm, yummyyy ...
03. pake krupuk tambah asekkk ..
04. buah lengkap ..






Kamis, 26 September 2013



.. " sekeping Wo Ai Ni di 
Lodeh Lumpur e .. Porong " ..


belajar bahasa Mandarin beberapa tahun di klenteng dan UB nyatanya kalau tidak ada teman yang setiap saat diajak ngobrol Mandarin ya bisa menguap hehe. 
paling yang nyantol hanya yang " penting2 " seperti Wo Ai Ni misalnya hehe .. 

saya ingat betapa duluuu kalau mengerjakan PR membuat sebuah cerita, sampai subuh saya melek untuk menuliskan huruf demi huruf yang begitu "  njlimet " namun artistik itu, 
plus membuka empat kamus Mandarin tebal tebal guna 
membandingkan satu dengan yang lain.

salah satu dosen Mandarin saya, beliau sudah sangat sepuh dan selalu kalau ke kampus UB memancal sepeda tuanya yang antik . kalau kami ngobrol dalam bahasa Mandarin saya sering dikritisi cara pengucapannya yang kurang tepat intonasinya 
( lhooo ... salah intonasi bisa salah arti dan bisa gawat, misalnya itu " silahkan " itu bisa salah menjadi " ciumlah saya " waaaa .. bisa bisa kita kena gampar hehe ... ).

saya suka rindu dengan gaya beliau yang klasik karena para guru yang sepuh seperti ini adalah sumber sumber ilmu yang sudah makin langka, beliau kaya dengan falsafah dibalik setiap goresan huruf Mandarin yang diajarkannya, saya sering ter mlongo mlongo ... kagum! 
( dan sampai hari ini sertifikat kelulusan  di UB jurusan Mandarin itu belum saya ambil wong wisudanya tidak datang hehe , semoga masih tersimpan disana dan tidak berjamur ! )

lalu jangan tanya para guru Mandarin di klenteng yang sepuh sepuh tapi disiplin, salah ucap kalau perlu diulang hingga puluhan kali sampai lidah betul betul pas. 
saya yang pengagum budaya budaya asing ini bersyukur bahwa saya pernah mendapat kesempatan belajar dari para senior senior ini sebab  beliau beliau tidak sekedar mengajarkan bahasa namun nilai nilai luhur dibaliknya itu juga terikut.



lho ... ini mau cerita kuliner apa soal belajar bahasa? naaa ... inilah yang namanya 
" pengembaraan pikiran " atau " the journey of mind " 
saat kita melihat sesuatu yang lalu mengingatkan pada sesuatu yang lain, 
yang indah , yang pahit , yang mengesankan, yang mengagumkan dst dst. 
apa itu? 
itu terjadi disebuah kedai djadoel di Jalan Kawi Atas Malang atau tepatnya di Depot Lodeh Lumpur e.. Lodeh Porong, Jalan Kawi Kios 11A, Malang.

mengapa kok saya bisa " ngladrah " ke bahasa Mandarin? 
disebuah lukisan yang terpasang disalah satu dindingnya, saya terpana, itu duluuuu pernah hampir saya boyong kerumah yang saat itu ada di deretan lukisan2 Cina yang di pajang di RM HTS, Lawang kalau tak salah ingat. 

saat itu ada puluhan lukisan bertemakan kehidupan di Cina yang begitu indah indah dan salah satunya adalah lukisan yang saya pasang di halaman ini. 
tiga gadis Cina ayu yang anggun dan kecantikan itu bukan semata karena lahiriah,
 namun sikapnya yang " terjaga " ( sayangnya tidak ada penjelasan siapa mereka ini sehingga saya tidak tahu latar belakang atau alasan si pelukis mengambil modelnya )

dengan seijin pemilik kedai Lodeh Porong , saya lalu jeprat jepret disitu karena pemilik kedai ini nampaknya penyuka seni. lukisan lain adalah suasana panen jagung, 
terus juga ada patung dikanan kiri jalan masuk yaitu serial Loro Blonyo. 

tiba tiba " bu, sudah siap mau pesan apa?" ... oalaaa sampai lupa ini mau makan apa mau jeprat jepret hehe, maaf ya mbakkk .. akhirnya karena sudah masuk dikedai Lodeh Porong
ya mestinya itu yang dipesan plus es cincau.
penasaran dengan lodeh ini sebab bedanya dengan lodeh Malang kira kira apa ya?




ternyata Lodeh Porong memang beda. warna kuahnya lebih cerah, kekuningan, dan tidak mengandung " tewel" atau nangka muda, tapi " manisah " dan kacang panjang. 
terus ada empal kecil kecil dan beberapa ekor udang mini , sangat mini, plus tempe dan sambal. harga per porsinya 18 ribu dan es cincau 5 ribu, jadi bisa diperkirakan standar harga disitu untuk menu menu lainnya seperti kare ayam, lodeh porong sambel tongkol pete dll.

rasa? lumayan. atmosfir? nyaman, kebetulan kemarin memang sepi.
tetapi bagi peng hobi kuliner djadoel dan " klasik " seperti lodeh, 
bolehlah dicoba kesini .. 
saya suka kedai ini sungguh dengan alasan yang tidak masuk akal, saya suka lukisan Cina dengan tiga perempuan itu, maka tolong jangan didebat bahwa tulisan ini tidak pas untuk golongan kuliner, mohon dimaapkan sebab 
masalah Wo Ai Ni memang tak pandang tempat, waktu dan sikon hehe ...
ayo ke Lapindo, e .. Lodeh Porong .... ! ( th )


keterangan foto, all taken by : th, sept. 2013 :

01. lukisan disalah satu dinding Lodeh Porong
02. Lodeh Porong dan Es Cincau
03. Loro Blonyo
04.atmosfir kedai Lodeh Porong
05. nama kedai
06. lukisan lain, Panen Jagung