Tampilkan postingan dengan label cuplikan riwayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuplikan riwayat. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Februari 2013





Birthday Call ...


Jam 05.30 saya menilpun bungsu saya " Hi ... mom ! "  ... saya tidak jawab tapi langsung saya nyanyi " Happy Birthday To You, Happy Birthday To You, Happy Birhday, Happy Birthday, Happy Birthday Oliver  ...... ! "   .....suara tertawa diseberang, lalu " Oiiiii ... makacihh mom ....... gimana, aku di ' slameti ' apa ? " 

.... ha ha, dia masih selalu ingat bahwa kalau dirumah kami dulu selalu membuatkannya ' jenang abang ' betapapun sesudahnya akan dirayakan secara ' modern ' , ini tradisi turun temurun tetapi nampaknya hanya akan berhenti sampai di generasi saya .. 

lalu kami berhitung bersama tentang jumlah tahun yang dia sudah lalui .. oya rupanya dia belum menerima paket saya, sebab tak ada disinggung soal paket, tapi tak apa, hadiah yang terlambat datangnya kadang lebih manis sebab sudah ' diluar perkiraan ' alias surprise ... 

Omong omong soal ultah, iseng saya ingin berbagi tentang ' perkiraan karakter ' berdasarkan zodiak, ups ... banyak yang lalu protes, zodiak itu untuk apa? ndak untuk apa apa, sekedar tahu tidak apa apa, sebab pada jaman duluuuuu ketika teknologi belum seperti sekarang, manusia begitu dekatnya dengan alam dan pada setiap gejala alam mereka mencatatnya sebagai pesan alam kepada peradaban manusia.. 

contoh ; menjelang gempa manusia mengamati adanya perpindahan satwa tertentu dari satu area ke lainnya, begitu juga dengan bau udara atau pergerakan angin menjelang kejadian alam tertentu, letak bintang dst dst. mereka memiliki waktu yang tidak lagi ada saat ini, maka mereka sangat berpeluang membaca gejala alam. berbeda dengan jaman kini, yang waktu sudah tergerus dalam kesibukan bekerja dan sisa waktu habis didepan tv atau tidur.

maka dalam catatan catatan kuno yang tersimbolkan  dalam berbagai media, mulai batu, goa, daun, ukiran maupun patung patung dll telah banyak bertutur seputar kelahiran manusia dihubungkan dengan karakternya yang konon terpengaruh oleh perputaran dan posisi bintang saat dia dlahirkan, wallahu alam ... 

namun menarik untuk diketahui bahwa secara garis besar ternyata sebagian ' ada benarnya ' ... percaya tidak percaya, saat saya dulu ( disalah satu persinggahan karir ) bekerja sebagai Copy - Writer di sebuah biro iklan terkemuka di ibukota, dalam wawancara saya kaget ketika ditanya : " Zodiaknya ? " ..... Tergagap saya jawab : " Air ...e... Aquarius " .... si peng interview tersenyum, mengulurkan tangan : " Saya Libra .... " .....???? 

Baru kemudian setelah saya masuk tim mereka, saya tahu bahwa biro iklan adalah sekumpulan ' orang orang gila dengan ide ide yang tak pernah kering dan membutuhkan orang orang sejenis ' ha ha .... Libra, Aquarius , Capricorn, Gemini, ini tim saya . Benarkah tim ini kompak karena kecocokan zodiak?
Secara garis besar ini beberapa persamaan karakternya :

mandiri, idealis, ramah, suka bergaul, suka menjadi pusat perhatian atau menonjol, bersahabat,baik hati,  suka hal hal baru dan mempelajarinya walau tidak mendalam, cerdas bahkan cenderung jenius. suka menjadi yang ' beda ' , aneh dan eksentrik, suka keluar pakem dan sangat moody. dari periang, mendadak menjadi pemurung, dari hahaha mendadak menjadi hoaaaaa hoaaaaaa , dari senyuman mendadak menjadi kemarahan, dan dari merasa begitu yakin dan percaya mendadak menjadi seperti ' dikhianati ' dan kemurkaannya dapat membingungkan lingkungannya, demikian kira kira moody nya ....

sisi ' negatip ' lainnya adalah : keras kepala, tidak suka mendengar nasehat,tidak sabaran, dingin bahkan terkesan arogan, cerewet .  

Bekerja di bisnis kreatip itu menyenangkan, kami tidak diberikan aturan tentang baju kerja dll yang penting kata si boss datang ke tempat kerja membawa " kepala yang berisikan ide dan kreativitas tak terbatas " , mau pake jeans, sepatu cats atau nyeker, gondrong atau botak, dst dst. 

Maka dalam lift kelantai 9 tempat ngantor kami di Thamrin saat itu, semuanya tampak rapihhhh, hanya kantor kami yang orang orangnya seperti mau memanjat gunung dengan baju casual dan ransel he he ... 

Di ruangan saya, saya sendirian, 4 x 5 m ( ! ), berserakan kertas, bacaan, ketikan dll dilantai, apalagi kalau menjelang presentasi dihadapan klien ( saat itu tugas pertama saya adalah dengan Lufthansa dan traktor Kubota ), jangan harap ruangan rapih. Boss saya dengan santainya ikut duduk dilantai juga dan berkomentar ( dalam bhs Inggris, karena jujur saja kadang ungkapan bahasa asing itu lebih pas, tidak terdengar norak he he .. ) : 

" Kamu itu bagian dari keping puzzle kita disini, enjoy your holiday here ... " , what .. holiday? ... iyaa.... ini kuncinya, anggap saja bukan sedang dalam tekanan pekerjaan tapi sedang berlibur .... Tim kami memang mendapat julukan tim paling eksentrik, ! 

dibagian lain, ada keuangan, engineering, AE/account executive dll mereka berpenampilan beda. Ruang kerjanya rapih, sedang tim kami ' berantakan ' terlebih  kalau sedang brain-storming bisa mengagetkan yang lain, ada teriakan teriakan tapi diakhiri haha hihi ... " gila .... ! " kata yang lain. 

Demikian sedikit gambaran betapa perbedaan karakter bisa berpengaruh pada kreativitas dan hasil kerja, dan ketika sudah " klik " maka segala macam ' petentengan ' ( perdebatan ) tadi bermuara pada satu  tujuan besar yang sama : achievement !! ( saya mengetik ini menjadi kangen dengan semuanya, semoga terbaca oleh Fauzi, pak Peter, Hilal, Rudy dan aduh, saya lupa namanya, maaf, yang juga jago membuat sketsa .. ) ... 

Apakah ini karena saya air, yang lainnya ber elemen api, kayu, logam dan tanah? Sekali lagi wallahu alam, dan dihalaman ini sekaligus bisa dilihat bagaimana cara manusia meng ekspresikan zodiaknya .... 

Btw, selamat buat para Aquarius sejati yang sedang/ akan ber ultah ... !
( th )   

Foto2 diambil dari google.
  


Minggu, 24 Februari 2013





Bukan dongeng, it's real ...



masa masa " berlebih waktu " seperti yang saya alami saat ini setelah tahun tahun padat agenda, adalah sebuah anugerah. meskipun bagi sebagian lain ini dianggap " dongeng " karena saya selalu " meloncat " dari satu tempat ke yang lain bak dongeng. 

agaknya ada yang dilupakan bahwa dalam urat darah saya ada dorongan untuk menulis apa saja yang saya lihat dan alami, meski buat yang lain tidak istimewa atau spektakuler, misal : anak anak kecil sedang bermain dll yang tidak ada ceritanya apa apa dan  juga menjepret yang keduanya dapat disatukan.

tetapi dorongan lain adalah traveling yang  sejak muda dulu saya telah memulainya , jadi ketiganya juga dapat dikawinkan. " kok seperti ngga ada kerjaan? " , memang iya, saya sudah meninggalkan gunung kesibukan itu. dulu koperpun jarang sempat dibongkar sebab  diatas meja kerja selalu sudah siap  tiket dan destinasi lain padahal baru nyampe beberapa menit di kantor. 

ketika mencapai   titik jenuh sebuah rantai kesibukan yang penuh tekanan, maka saya pikir telah saatnya melepas semuanya. Salah satu alasan inilah  illustrasinya ; jam 21.00 masih mulai meeting, selesai hampir 22.00, kantor di Jl. Pemuda dan Kertajaya Indah, persiapan pulang ke Malang sekitar 100km.

sambil menyetir jeep kesayangan saya mendengarkan lagu2 dari SS melewati tol menuju Gempol dan di sekitar km 32 arah Gempol , mata saya mulai siat siut, saya ingin sebentar menepi untuk tidur beberapa menit. terlambat ..... dan brakkkkkk ..... jeep menabrak pembatas tol, saya masih dilindungiNYA, beruntung ada bemper, kecuali harus ganti rugi ke dinas PU apa apa yang tertabrak oleh saya.  

dan sesudah menyelesaikan urusan adiminstratif dengan pengelola tol saya masih harus selesaikan sisa yang 60km sebelum bisa tidur dirumah .... sebuah illustrasi keseharian yang menguras enerji dan pikiran selama ber tahun tahun .. maka, bila  saat ini saya " harus " menjalani sebuah periode kelebihan waktu, itu juga sudah melewati sebuah kesepakatan keluarga bahwa saya tidak diijinkan terlalu " stres " ... 

rajawali rajawali ( ku ) telah mengambil alih kesibukan saya, saya hanya tinggal menjaga sarang mereka sambil sesekali sayapun mengepak sayap melihat dunia diluar sarang ini .. tersisa masih satu mimpi yang mudah mudahan usia dan kesehatan cukup agar dapat mewujudkannya, yaitu menulis , menjepret, corat coret tentang belahan bumi yang lain . 

hidup sedemikian singkat ini masih membukakan  pintunya  lebar lebar untuk dilihat dan digali isinya yang tidak terbatas ! " dongeng " telah dimulai, namun saya juga tetap memiliki tanggung jawab kepada siapapun yang menyerap setiap huruf dari informasi maupun gambar dll yang saya hasilkan, sebab sebuah ketidak benaran dari huruf dan gambar itu dapat berakibat fatal bagi orang lain. 

sama halnya dengan profesi presenter atau announcer misalnya, setiap inci informasi atau komentar yang bahkan dalam situasi becandapun tetap harus memiliki sense of responsibility sehingga aman dari protes atau hujatan. tidaklah dapat seenaknya mereka melempar opini, komentar, gurauan atau apapun yang bernada SARA, menyinggung apalagi melecehkan orang lain meski mengatas namakan acara yang sifatnya joke. contoh Olga Saputra, yang seringkali kesandung gurauan yang kebablas dan bersiaplah bila sebagai presenter atau annoncer tiba tiba anda didatangi polisi untuk ditahan. mudahnya adalah bahwa kita semua sama sama manusia yang tidak ingin dipermalukan apalagi didengar atau diketahui khalayak, itu saja sensor kita.

namun profesi sebagai penulis memang belum sepenuhnya " disetarakan " dengan profesi " kantoran " meskipun saat ini sudah banyak penulis2 yang suksesnya melampui yang dibayangkan orang.

umumnya orang berpikir " penulis adalah orang orang yang kesepian, karena hampir selalu sendirian, penyuka kesendirian " , saya serahkan kepada pembaca mengenai pendapat ini. sebab kesepian itu tidaklah dapat diukur dari kesendirian, bahkan seorang kerabat yang berprofesi DJ, malah mengeluh " kok rasanya sepiii gitu ya ditengah hiruk pikuk orang yang menikmati musik saya dilantai bawah saya ... " .... naaa?

juga tawaran untuk kembali kedepan kelas dihadapan puluhan mahasiswa memang sempat menggoyahkan, karena saya memang sering  rindukan itu meski disaat koreksi ujian saya sering mengomel karena menumpuknya pekerjaan hehe ( saat itu saya memegang empat kelas berbeda dengan jumlah mahasiswa rata rata sekitar 60 per kelas ) ...

dunia yang satu ini sangat menantang dibalik kebandelan2 mereka yang  saya tahu itu tidak dimaksudkan negatip. saya ingat ketika saya membawa sekitar 200 mahasiswa untuk melihat langsung kegiatan industri dilapangan dengan dua pilihan industri yang berlawanan, hospitality - industry dan goods - industry, beberapa becanda " bu, laporannya boleh diantar sabtu malam?" ... macam macam ' godaan ' mahasiswa, dan yang terbaik adalah ' beri saja senyuman ' , netral, gratis, menyenangkan dan membuat suasana bersahabat...

kembali pada " dongeng ", maka sayapun mulai bersiap lagi untuk sebuah perjalanan luar planet ups ... kota, awal pebruari ini. kado ultah? bukan. bagi saya ultah tidak untuk dirayakan tetapi direnungi betapa apa yang sudah dikerjakan dan apa yang sedang dan akan dikerjakan yang semuanya semoga mampu menebarkan manfaat buat sesama. Tentu saja dengan catatan aktivitas dan rizki yang muncul daripadanya adalah halal. Dan ultah adalah titik introspeksi.

sebetulnya saya cenderung " berkesendirian " saat ultah seperti sekian tahun lalu, saya berangkat pagi pagi ke Denpasar , nyantai tidak mengebut, dan sampai dirumah kerabat di Denpasar hampir jam 09.00 malam . Dengan penuh kekagetan mas kandung saya memarahi kok setir sendiri tapi sambil gembira sebab adiknya muncul tiba tiba he he ..

oya masalah membeli tiket pesawat untuk awal pebruari itu juga perlu trik tertentu yang pasti sudah diketahui oleh semuanya. harus sering 2  bertanya atau browsing sebab harganya berubah tiap menit, contoh tiket saya untuk pebruari ini. pertama menanyakan batavia air, dijawab malang - jakarta pp 1,3 wow .... saya selama empat hari terus menerus men cek, dan baru pada hari ke lima saya mendapatkan harga sangat lumayan yaitu 700 ribu pp, sebuah perbedaan signifikan untuk tgl berangkat dan pulang yang sama !

( tapi belakangan inipun saya sesali yang meski murah, lha wong ternyata batavia itu " semprul " , sudah tahu mau bangkrut tinggal menunggu jam kok tiket masih dijual, apakah itu sebuah modus yang disengaja? sampai saat ini belum saya terima refundnya dan kantornya di pusat apalagi yang di malang sama2 tutup! )

ini juga bukan dongeng, it's real bahwa saya akan jalan lagi untuk menggali 
" dongeng " , dan saya menjadi tiba tiba kangen dengan mantan kolega saya ibu M asli Ambon yang bersuara jazzy dan kalo menantang duet selalu dipilihnya New York New York ( hi mom ! miss youuuu .... ) . 

beliau itu pernah berkomentar begini " Miss ... ( memanggil saya selalu Miss ) ... you have a colourful life, I get jelous of you! " . Lho, colourful gimana? " Saya mulai lahir sampai punya anak dan berkarir ini tetep aja di Surabaya, lha Miss saya lihat sudah kemana mana ... " ha ha ... ooo itu to colourful ....

saya jawab : " Mom.. ( lucunya saya panggil dia selalu Mom ) ... that's destiny, tetapi anda juga colourful lho, you have wonderful family, husband, daughter and all of them are so lovingly, it's not belongs to everyone, you are so lucky !" .... ( dia meng angguk angguk dan tidak berkomentar apa apa dengan wajah sumringah .. )

demikian " dongeng " kali ini, yang tidaklah mungkin dibuat oleh anda anda yang supersibuk di kantor dan membayangkan betapa " santainya " saya merangkai dongeng demi dongeng sementara orang di kantor puyeng memikirkan tekanan pesaing, pengembangan perusahaan, peningkatan image dst dst dengan bermacam presentasi .... 

anda anda pembaca blog ini adalah luar biasa hebat, jadi biar saja tukang dongeng ini mengisi hari hari santai anda dengan kisah kisah jalanan yang kebetulan saya lewati , amati, rekam dan tulis supaya jam jam santai anda colourful ! ( meminjam istilah ibu M tadi ).

tapi tolong dibedakan, antara dongeng dan " dongeng " ..... ( TH )

Keterangan foto :            

( taken by : th ) sebuah kolam di kebun binatang Wina, Austria, 1989,
                                 ada angsa hitam, the black swan.



Minggu, 13 Januari 2013








Crossfire, across the continent
(  kenangan kepada Om Jack Lesmana, 1979 )

Sudah kepalang tanggung saya bernostalgi dengan foto foto lama yang beberapa hari ini membanjiri lantai, karena tidak ada pilihan lain selain ' foto difoto' untuk menyelamatkan mereka, karena model albumnya memakai perekat dan foto rusak saat diangkat. Jadi untuk di scan juga sulit karena albumnya tebal tebal dan perekatnya sudah tak mungkin dipisahkan. Apa boleh buat, ' foto difoto ' satu satunya pilihan.

Maka dalam album khusus liputan jazz-live, saya temukan sekumpulan foto menarik dari era 79, saat Om Jack ( panggilan populer Jack Lesmana ) menjadi tuan rumah group Crossfire, Australia. Dalam live mereka di TIM bersama Om Jack, saya berkesempatan tidak saja meliput show nya tapi keseluruhan aktivitas luar panggung mereka selama di Jakarta.

Rumah Om Jack di Tebet saat itu, menjadi ' markas ' selama mereka di Jakarta, dan studio om Jack menjadi tempat latihan. Sebuah kolaborasi cantik dari Crossfire, Om Jack dan Indra Lesmana yang saat itu masih sekitar 10 tahun ( ! ) juga ada Benny Likumahua, dan  satu lagi yang maaf saya sungguh sudah lupa nama beliau yang juga sudah almarhum .... 

Sedikit tentang Crossfire, jazz-rock-fusion-band ini terbentuk secara formal 1975. Dalam sejarah panjang musik jazz dibenua kanguru ini, nama Crossfire  memang tidak begitu saja muncul, sebab jazz yang disebut sebagai An American Musical Genre Originated by African Americans ini musik jazz Australia tidak lah serta merta lahir di benuanya.

Melalui sentuhan musisi jazz Amerika lah maka Australia secara perlahan tapi pasti mulai ' membuka diri ' pada jenis musik yang satu ini terlebih setelah Sydney Conservatorium membuka ' jurusan '  jazz, maka Australia telah semakin masuk dalam 
' peta dunia jazz ' dimana grup grup jazz Australia juga mulai menjejak kakinya di panggung internasional, seperti Galapagos Duck dan Crossfire sendiri.

7/tujuh album yang sudah dihasilkan Crossfire sampai saat ini, satu diantaranya adalah album live mengiringi Michael Frank tahun 1980. Adapun formasi Crossfire yang terakhir adalah : Greg Lyon, bass and voice, terus ada Nick Kenny pada keyboards dan trumpet, selanjutnya Don Reid, reeds lalu juga ada John Proud pada drums dan Ian Bloxsom pada perkusi. 

Pada jamuan makan malam dikediaman dubes Australia saat itu, saya melihat mereka antusias mencoba gamelan , bahkan terdengar' slentingan' akan memadukan unsur gamelan pada musik mereka, namun saya tidak ikuti perkembangan itu. Tante Nien atau Nien Lesmana, istri Om Jack, beberapa hari cukup sibuk memasakkan crew Crossfire dengan masakan masakan Indonesia yang khas seperti sate dll. 

Saat itu Mira Lesmana dan Indra yang masih remaja, rajin mendampingi acara acara Crossfire diatas dan diluar panggung hingga kepulangannya ke Australia. Saya yang beberapa hari juga ikut sibuk dengan keluarga Tante Nien selain meliput juga membantu ini itu , saya melihat mereka sangat menikmati keramahan dan kehangatan tuan rumah. Dan dihari akhir di Indonesia mereka sangat gembira dengan souvenir batik yang diterimanya .

Penonton yang cukup banyak  memadati show mereka di TIM agaknya masih merindukan group ini datang kembali ke Indonesia. Malam itu diseling penampilan solo Indra Lesman yang memukau dengan komposisi yang diciptakannya sendiri ( ! ) dan si 
' anak ajaib' ini memang ' like father like son', buah jatuh memang tidak pernah jauh dari pohonnya ....  ( TH )

Keterangan foto ;

01. Mengantar Crossfire pulang, bersama keluarga tante Nien, Indra sebelah kanan saya. 02. Meliput dan membantu tante Nien menjamu Crossfire di Tebet.
03. Om Jack dan istri sibuk memeriksa paspor Crossfire.( TH )
04. Malam sebelum manggung, meeting dikediaman om Jack, disebelah saya Mira  
        Lesmana.
05.Latihan di  studio musik Om Jack, Tebet. ( TH )
06. Drummer Crossfire, menjajal studio musik Om Jack. ( TH )
07. Bersama Benny, Indra dan adik Mira.

Sabtu, 12 Januari 2013








13 Januari, Selamat Ulang Tahun ..
(  catatan kecil kepada Mas Ruh, Jl. Sriwijaya, Jakarta )

mas Ruh,

Mengumpulkan dan menyelamatkan ribuan foto lama adalah laksana menjumpai harta karun tak ternilai. Ada amplop dan album tebal yang didalamnya terdapat puluhan foto dari ' crew ' Swara Mahardhika, angkatan I. Seperti diseret mesin waktu, saya mengamati foto foto ini satu persatu. Begitu cepatnya waktu lewat, dan begitu banyak perubahan terjadi.


Ini sebagian foto foto itu. Saya bersyukur tak terhingga bahwa saya merupakan satu satunya wartawan yang mas Ruh ijinkan meliput persiapan SM pada gelar I nya mulai dari belakang hingga diatas stage. Lihat wajah wajah ini, banyak diantaranya yang sudah sangat berubah tapi juga ada yang tetap ' awet ' . Ada Marissa, Denny Malik, Ahmad Albar  dll dan juga mas Ruh yang terakhir ini lebih banyak didunia politik. 

Demikian kehidupan, selalu berubah. Saya masih ingat bagaimana mas Ruh bicara panjang lebar tentang patriotisme nasionalisme dikursi rotan Jl. Sriwijaya itu dan tekanan tekanan dari pemerintahan yang berkuasa saat itu serta jalur seni sebagai penyalur aspirasi dan berekspresi 

Lalu saat mas Ruh ' bersembunyi ' di Jakarta Utara menjelang pagelaran SM yang I untuk lebih berkonsentrasi , sekali lagi saya mendapat kesempatan untuk bicara tentang bermacam hal seputar SM. 

Saya sangat memahami kegundahan kegundahan itu, dan Indonesia masih memerlukan lebih banyak ' guruh '  agar semangat cinta tanah air dan bangsa ini tidak mudah luntur oleh bermacam virus globalisasi. 

Saya melihat pandangan mata mas Ruh yang begitu pedih saat berkisah detik detik akhir almarhum Founder Father bangsa ini, Soekarno. Maka wawancara wawancara itu sebenarnya lebih banyak bicara tentang keprihatinan atas berbagai peristiwa ditanah air ketimbang tentang SM, tetapi saya merasa justru menit menit itu begitu berharga karena saya berkesempatan mendengarkan ' curhat ' seorang anak dari Sang Putra Fajar. 

Mengantar saya hingga pagar rumah Sriwijaya, saya tinggalkan kediaman ibu Fatmawati 
( blok S ) dengan adukan emosi . Saya berjalan kaki saja kearah Jl. Kartanegara ( blok R ) yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari mas Ruh . Sore itu juga seluruh wawancara dan foto foto sudah selesai saya ketik dan siapkan untuk besok pagi bisa dinaik cetakkan disebuah majalah mode/ musik remaja yang saat itu masih berlokasi di Kebon Kacang. Mungkin mas Ruh masih ingat nama majalahnya yang hingga saat ini masih eksis.

Dan setelah edisi khusus tentang SM itu terbit, banyak ' protes ' ke majalah kami sebab wartawan cetak yang Anda ijinkan hanya kami dan berita jelang pagelaran I SM itu menjadi sesuatu yang eksklusif. 

Dibalik panggung saya bebas bertemu dengan pelatih tari, pemusik, penyanyi, penata panggung, lighting , sound dll.  Juga Ahmad Albar yang saat itu baru ' mudik ' dari Belanda, menjadi salah satu ikon pagelaran Anda dengan nomor Anak Jalanan nya.  Seniman dari berbagai bidang seni tumplek bleg dibelakang panggung membuat saya kewalahan mewawancarainya, sungguh momen yang sangat luar biasa yang Anda hadiahkan untuk saya !

Meski teknologi  saat itu belum secanggih sekarang, nyatanya pagelaran I dari SM menuai sukses dan mendapat predikat sebagai ' tontonan fenomenal ' sepanjang sejarah panggung budaya ditanah air. Saya melihat mas Ruh usai pagelaran menitikkan air mata haru, meskipun saya sangat tahu betapa banyak kesulitan2 menghadang dalam persiapannya.

mas Ruh, 
hari ini, 13 Januari 2013, 33 tahun ( baca : tiga puluh tiga tahun ) berlalu sejak gelar SM I yang fenomenal itu dan saya masih merasa semuanya baru saja ' kemarin '  terjadi. Saya tidak akan menyebut usia Anda yang hari ini begitu istimewa angkanya, ini doa saya :

" Semoga Kesuksesan dan Kebahagiaan Senantiasa Menyertai Hari Hari Anda dan Semoga ALLAH SWT  Mengabulkan Setiap Inci Dari Mimpi dan Cita Cita Anda, amien...... "


Sekali lagi, terima kasih atas waktu waktu yang berharga itu, dan sekali lagi, Selamat Ulang Tahun !
Salam,
th   


Keterangan foto :

01. Guruh Soekarno Putra, Jan. 1979, Sriwijaya 26, Jakarta. ( Photo by : TH )
02. Menyertai ' crew ' SM angkatan I menuju puncak Monas, Jan.79.( Photo by : GGA )
03. Berfoto sesaat sebelum naik puncak Monas, tim saya ber dress-code sama, coklat. 
      ( Photo by :TH )
04. Wawancara Atik Ganda, pelatih tari Jawa klasik ( Photo by: BL )
05. Nomor ' Anak Jalanan ', Achmad Albar cs. ( Photo by : TH )
06. Dinner sehari sebelum pentas SM di Museum Fatahillah, Jakarta ( Photo by : GGA )   


 

Selasa, 08 Januari 2013



Tate, longing you so much ..
(  sebuah terjemahan dan kenangan kepada ytt alm. ayah mertua )

Hari ini, fotomu yang lain dikirim oleh Bibianne . Tidaklah mudah saya menangis. Tetapi kali ini saya keliru. Masih saya ingat jelas,  hari hari kita dan anakmu di hutan sebelah rumah kayumu. Dengan penuh kesabaran engkau jelaskan kepadaku saat itu, tentang berbagai tanaman hutan dan bagaimana caramu memanggil rusa jantan dengan memberiku daun kecil yang terlipat dan menimbulkan siulan mirip rusa betina. 

Dan oooo .. lihat, tiba tiba tanduk besar itu muncul, aku ketakutan setengah mati dan engkau tertawa sambil berkata : " Titi, dia teman kita. Tiap hari dia kemari memakan jerami yang saya siapkan disitu ... " sambil engkau menunjuk tempat yang dimaksud.

Lalu engkau tunjukkan aku lembah hutan pinus itu, dan engkau ceritakan kepadaku tentang sejarah silam desamu dan keluarga besarmu. Menjelang siang engkau tunjukkan deretan kepala rusa koleksi buruanmu, dan juga foto foto saat kau panjat Alpen. Siang itu Mame ( mother ) masakkan aku sangat istimewa, steak rusa. 

Mame, Angela dan Tate ( father ) , Michael, seolah keduanya ditakdir sebagai pasangan abadi Michael Angelo. Ingatkah bahwa ditengah keluarga kalian aku betul betul merasa " terkecil " sesuai panggilanku
" kleine Titi " dan semua yang engkau pinjamkan kepadaku terasa sangat kebesaran, mantel, sepatu bot dll karena ukuranku sama dengan anak usia 10 tahun dan engkau tertawa tiap kali melihat aku " kedodoran " seperti boneka sawah dinegaraku ... 

Juga engkau selalu tertawa mendengar bahasa Jermanku yang menurutmu pengucapannya mendekati 
" sempurna " karena engkau tidak tahu bahwa bahasa Indonesia juga sama dalam pengucapan hurufnya.
Kapankah  engkau tidak tersenyum atau tertawa kepadaku dan hal itu mampu  melebur jarak bahwa kita berbeda bangsa, juga Mame yang selalu sibuk di dapur membuat roti, sup dll.

Kehidupanmu yang sangat tenteram dengan udara yang membuat paru paruku terasa begitu segar, membuat aku tiap kali merasa enggan kembali ke ibukota negaramu yang padat kendaraan.Tidak ada yang membebani pikiranku didekatmu, semuanya begitu tulus dan penuh kehangatan. Mame pernah berkata : " Titi, kalau satu saat kamu sudah jenuh di kota, kamu boleh tinggal disini ... " , sebuah rumah bermodel khas, country, yang 100% terbuat dari kayu dan menghadap langsung ke Alpen, adakah yang lebih indah dari ini?

Maka ketika berita itu datang bak halilintar, dan aku sudah berada puluhan ribu kilometer darimu, aku cuma bisa memandangi foto kalian dengan hati paling hancur, semestinya aku masih bisa melihat kalian untuk yang terakhir kali dan memberi ciuman terakhir serta meletakkan edelweiss di saku jas kesayanganmu dalam peti kayu yang indah itu .. Edelweiss, putih mungil cantik seperti katamu " Sesuatu yang tidak mudah diraih, akan membuatmu berlipat bahagia ketika memperolehnya, seperti edelweiss ini ... " , Tate memberikan setangkai kecil edelweiss dan aku menyimpannya hingga kering di album.

Perhatian berlebih ini bukan tanpa alasan, karena dalam keluarga besarmu yang berjumlah 12/dua belas anak, akulah satu satunya yang datang dari " planet lain " dan satu lagi Kim dari benua Australia.Namun KIM
tidak semini aku, cantik tinggi besar dan blond, aku kecil, coklat, kurus dan berambut hitam, dan saat saat kita semua berkumpul anehnya aku selalu menjadi mittelpunkt, pusat perhatian karena konon " planetku " dimata kalian sangat eksotis seperti : harimau Sumatra, Komodo, Gunung Berapi dll. 

Demikian agaknya kehidupan, kita saling mengagumi apa yang tidak kita miliki yang ada pada orang lain dan semakin indah bila itu saling melengkapi . O ya Mame  yang keju dan roti buatannya sangat enak, membuatku tiap kali kangen masakannya. Ini yang  selalu dikatakannya " Titi harus makan yang banyak, supaya badannya jadi besar  .... " , lucu  ya , aku yang saat itu dikisaran 46kg " dipaksa " untuk banyak makan sebab mereka khawatir dengan udara minus kadang hingga 12, aku tidak cukup kuat menahannya karena kurus ...

Catatan manis itu begitu saja terobek dan sirna ketika dinegeri sendiri aku merasakan duniaku terbalik.Terperah segenap enerji dan cadangan kekuatanku menghadapi bermacam tuduhan dan makian yang telah menghakimiku  tanpa " didampingi pembela " dan nyaris kuputuskan untuk meninggalkan tanah air ..

Tate, kalau saja engkau ada disini, mungkin aku bisa berbagi, karena engkau begitu telaten dan sabar dalam mendengarkan dan suaramu yang lembut itu begitu menyejukkan seperti kata Mame " Suaranya kadang sulit terdengar ..... " ha ha, maklum Mame  juga sudah mulai berkurang pendengarannya.

Disini, ijinkan aku sejenak mengganggu istirahatmu, bisakah kau tunjukkan padaku bagaimana aku bisa mengatasi semuanya ini? Kalau nanti malam engkau muncul dalam mimpiku, aku harap engkau membawa cerita indahmu tentang " negeri mu " yang baru, dan perjumpaanmu disana dengan  Mame dll yang kalian cintai..

Lihatlah cucu cucumu, kedua anakku mewarisi keberanian dan ketangguhanmu seperti halnya   ayah mereka, anakmu. Satu saat mereka juga akan mencoba taklukkan Alpen seperti harapanmu " Bawa anak anak kalian nanti kesini agar belajar mendaki Alpen ... " ....

Tate, istirahatlah dalam damai bersama Mame,
liebe,
titi

( Foto : Michael Prodinger when he was 25 yearsold, father in law )

Minggu, 10 Januari 2010

KOMUNIKASI & ETIKA BERKOMUNIKASI






Minggu, 10 Januari 2010, saya diminta untuk " menceramahi " sekitar 40 ibu ibu PKK di suatu komplek perumahan dosen di Malang. Saya lebih suka menyebutnya diskusi, sebab kalau ceramah kok sepertinya saya ini pakar, padahal saya juga masih harus banyak belajar. 

Biasanya dalam forum forum seperti ini, kalau saya berdiri atau duduk didepan para undangan, moderator akan lebih dulu membacakan CV saya. Kemarin, saya minta supaya CV saya disingkat saja wong sebetulnya tidak ada yang istimewa, tiwas orang jenuh hehe..


Konon kegiatan kegiatan semacam ibu ibu PKK ini karena adanya blockgrant yang memang harus dimanfaatkan sesuai proposal yang diajukan sebelumnya. Maka sayapun dibisiki begini :


" Bu, itu ada tamu dari kelurahan yang sengaja melihat langsung apa betul dana yang dikucurkan sesuai pemanfaatannya dengan proposal nya ", ooo.. begitu batin saya. Bagus juga pikir saya, ada pengawasan yang melekat namanya.


Topik yang diminta adalah soal Komunikasi dan Etika Berkomunikasi. Kebetulan seminggu ini di layar layar TV kita diberi suguhan berita Ruhut vs Gayus yang bisa dijadikan contoh betapa dalam sebuah aktivitas komunikasi, etika itu sangat perlu diperhatikan agar tidak terjadi konflik.


Pembicaraan/ diskusi merembet sampai dengan masalah Table Manner dalam jamuan resmi, cara cara bergaul dengan masyarakat difable atau mereka yang berkemampuan beda dst dst.


Saya diberondong berbagai pertanyaan menarik sebelum akhirnya setelah 90 menit acara berakhir dengan makan siang bersama. " Kapan kapan kami undang lagi ya bu mungkin dengan topik lain...", inggih monggo..


Ini saya buatkan daftar pendek dari pertanyaan ibu ibu yang saya anggap menarik :

01. Bagaimana menghadapi atasan yang jutek dan temperamen tetapi tidak menyadari sikapnya yang kurang disukai itu.


02. Bagaimana cara mengingatkan kebiasaan teman yang bila diundang makan prasmanan mempunyai kecenderungan mengisi piringnya hingga penuh.


03. Bagaimana sebagai orang Timur, bila daftar tamu yang ada 50 orang tetapi biasanya yang datang hanya sekitar 30 an, apakah tetap disediakan 50 atau 30 atau bagaimana?


Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang sepintas terlihat sederhana tetapi masih menyentuh titik yang sama, Etika. Sedemikian pentingnya Etika, karena aktivitas manusia sehari hari tidak mungkin terlepas dari etika ini. 

Mulai bangun pagi hari hingga tidur lagi dimalam hari, kita berinteraksi dengan dunia luar, kita berkomunikasi dengan banyak orang, kita menghadapi perbedaan pandangan dan selera, dan kita harus senantiasa siap mental untuk kurang/tidak disukai/disetujui/didukung dst. Masalahnya : sudah mampukah kita mengendalikan diri dan emosi menghadapi semuanya?


Ruhut dan Gayus jelas bukan contoh yang bisa diteladani dalam soal etika berkomunikasi. Kewajiban terhadap anak anak kita, generasi penerus kita, adalah menanamkan nilai nilai etika baik sebagai bangsa Timur maupun manusia, agar anak anak mempunyai kebanggaan kepada para orang tuanya yang tidak berperilaku seperti contoh anggota DPR tersebut diatas.


Bayangkan apabila sebagai orangtua kita rajin meng copy paste kata kata makian vulgar yang ada di kamus Bahasa Makian, apa yang dapat diteladani oleh anak anak?


Mewujudkan sebuah bentuk komunikasi yang baik dan mampu meningkatkan kwalitas hubungan sosial kita, adalah target keseharian. Ibu Ibu PKK yang dalam kesehariannya merupakan tiang tiang moral dalam keluarganya, menjadi sangat penting untuk menguasai etika pergaulan dan komunikasi didalam dan diluar rumah. 

Terlebih dalam pergaulan era global baik maya maupun langsung, pergaulan dan komunikasi yang sedemikian lintas budaya, bahasa, keyakinan serta geografis yang sungguh menuntut penguasaan dan kepekaan akan etika.


Contoh kecil : kebiasaan cipika cipiki ketika bertemu teman, pada lingkungan budaya tertentu mungkin tabu atau dianggap tidak sopan. Juga dalam memberikan sesuatu bingkisan atau hadiah, bila tidak memahami perbedaan tradisi dan  budaya suatu lingkungan masyarakat tertentu, justru niatan baik memberi ini dapat melahirkan bencana.


Akhirnya, kepada para Ibu Ibu diatas, terima kasih atas sambutannya yang hangat dan semoga hal kecil yang kami tebarkan ini dapat sedikit bermanfaat. Amien.


( Photos by : Alit )







Kamis, 15 Oktober 2009

Catatan Tercecer dari Bumi Cendrawasih





Terus terang ide dari catatan ini muncul secara tidak sengaja yakni ketika semalam saya mencari foto2 lama dari seorang teman, tiba tiba ada amplop terjatuh dari sebuah map. Seperti mendapat durian montong, ketika saya lihat ternyata berisi foto2 tahun 1997 ( ! ) semasa masih berkarir disebuah perusahaan telekomunikasi. Jaman itu belum ada internet sehingga foto2 semuanya masih berbentuk hardfile dan bersyukurlah saya bahwa ternyata masih bagus kwalitas gambarnya  dan  saat ini foto2 tersebut sudah teramankan dalam bentuk softfile.

Saya berusaha mengingat nama nama teman yang ada di foto. Ada dua orang yang saya sudah lupa, sungguh saya sudah berusaha keras tetapi ingatan tergerus waktu. Rombongan kami waktu itu berjumlah sekitar 15 orang dengan tujuan Maluku termasuk Ambon, dilanjutkan ke Papua, yan secara khusus juga  mengunjungi Timika. Perusahaan ditempat kami bekerja merupakan salah satu operator seluler terkemuka saat itu, dan perjalanan ini antara lain untuk membuka area jangkauan baru di Indonesia Timur khususnya Maluku.

Sebuah kerja yang tidak ringan, apalagi secara geografis Papua tidaklah seperti Jawa. Ber gunung2 dan ber lembah2 serta cuaca yang sangat mudah berubah dalam hitungan detik. 

Di Timika, rombongan kami menginap di Sheraton, satu2nya hotel bintang lima saat itu, berlokasi ditengah belantara lebat bumi Cendrawasih. Tidak ada tempat rekreasi lain, sehingga hotel merupakan satu2nya" taman bermain " setelah seharian bekerja. 

Diluar hotel kami langsung berhadapan dengan lebatnya belantara, sehingga untuk acara santai jogging pagi hari atau jalan santai malam hari mungkin bukan pilihan yang baik, setidaknya pada waktu itu. Seperti gurauan diantara kami saat itu begini " Kalian jalan jalan malam hari atau subuh diluar hotel nanti ngga bisa balik ke Jawa lho ... " ....

Kunjungan utama selain kepada tokoh2 masyarakat disana, adalah juga ke Freeport, tambang yang merupakan salah satu denyut nadi perekonomian masyarakat lokal. 

Terletak di sebuah kawasan indah dan alami, tambang ini seolah sebuah " kepala botak " ditenga rimbunnya belantara Papua. Kami harus melalui serentetan prosedur untuk keselamatan dan keamanan pengunjung yang sudah tentu jauh2 hari telah disepakati oleh kedua belah pihak . Diterima oleh Kahumas beserta beberapa top officernya yang hampir semuanya bule, kami diajak naik hingga Essberg dengan memakai kereta gantung.

Kacamata, helm, sepatu boat dan jaket adalah prosedur standar yang harus dikenakan oleh setiap pengunjung. Dan akhirnya kami dapat melihat hampir seluruh area tambang dari ketinggian yang ada. Tiba tiba saja tidak ada lagi keceriaan yang semula menyertai rombongan. Suasana berganti pilu dan prihatin.

Bagaimana tidak? Bukit2 yang semula cantik dan hijau, berubah menjadi gersang dan botak serta hampir rata. Seluruh hasil tambang yang bertahun tahun digali dari sini, melalui pipa pipa besar yang dibuat sedemikian rupa untuk kemudian tersalur langsung ke kapal2 menuju....benua Columbus!! Yang menikmati, sudah pasti bukan bangsa Indonesia. Yang mendapat keuntungan, sudah jelas bukan rakyat kita, kecuali mungkin beberapa gelintirpejabat kita .

Sedih dan miris. Saya kesana tahun 1997, dan itu sudah 12/dua belas tahun yang lalu ! Maka bila saat ini saya berkesempatan kembali ke bumi Papua dan Freeport, saya tidak akan tega melihatnya karena sudah pasti kerusakan lingkungannya sudah jauh lebih luas dan parah.

Salah siapa ketika bangsa kita tidak mampu mengawal kekayaan sumber daya alamnya?
Salah siapa ketika bangsa kita hanya menjadi penonton dari kepiawaian bangsa asing menyedot kekayaan alam kita?
Salah siapa yang memberikan ijin pihak luar beroperasi puluhan tahun dibumi pertiwi ini tanpa menguntungkan Indonesia?
Salah siapa yang mengobral kekayaan kita ini sedemikian murah tanpa martabat?

Semoga diantara rekan2 saya yang serombongan saat itu ada yang sempat membaca ini. Saya tidak tahu apakah kita masih diberikan kesempatan melihat lagi bumi Papua yang dari hari kehari semakin terkuras? Apa yang bisa kita katakan pada anak cucu kelak bila ternyata planet Cendrawasih yang indah ini akhirnya hanya menyisakan gurun tandus yang gersang?

Mungkin Anda memiliki jawabannya...... ? ( th )
  
Keterangan foto dari atas kebawah :

01. Memakai seragam pengaman dari Freeport termasuk sepatu, helm,kacamata, jaket dll.
02. Saya didepan patung asmat, hotel tempat menginap. Sheraton, Timika.
03. Esberg, gunung yang sudah gundul terperas kekayaannya oleh Amerika.
04. Bandingkan ukuran tubuh saya dengan ban dari truk Freeport ini he he...

Kamis, 10 September 2009

Terima Kasih untuk Bumiputera






Kepada Panitia HUT ke 97 Bumiputera, Jakarta, disampaikan terima kasih atas kepercayaan, dukungan dan perhatiannya, semoga Asuransi Bumiputera semakin sukses sebagai " Payung Tertua " di Indonesia !!

( Photo by : th )

Kamis, 05 Maret 2009



  


Terima Kasih, XL Award



Jakarta, 05 Maret 2009 


Mario's Place, Jl. Raya Cikini 2-4 ,Menteng,Jakarta, mulai jam 11.00 siang sudah terlihat sibuk. Tuan rumah XL tampak sudah wellprepared terutama mbak Febriari Nadira, Manager PR yang cantik itu terlihat sibuk menyapa rekan rekan dari media masa yang berdatangan dari berbagai media cetak dan elektronik. Sebagai tamu "yang baik" saya berusaha datang ontime, meskipun kemarin sempat khawatir bakal absen di Mario's Place karena sangat mendadaknya pemberitahuan yang datang per sms,telepon dan email dari Panitia XL Award 2009 tentang perlunya saya hadir sebagai salah satu nominator di acara penganugerahan ini.

Kemarin saya bahkan sempat ragu ragu karena Panitia dalam SMS nya sudah langsung mengundang sambil menanyakan nomor rekening bank saya."Lho kok tanya tanya rekening, apakah Anda benar benar dari PanitiaXL Award?". Dijawab :"Ya saya dari Panitia, tetapi kalau ragu ragu nanti saja setelah penganugerahan bisa menyusul nomor rekeningnya!".Saya bingung lha wong dinyatakan sebagai nominator kok sudah harus datang, sebab kalau masih calon saja dan ternyata tidak menang saya hitung hitung biaya Malang Jakarta pp adalah lumayan besar he he ...

Panitia pada akhirnya menjawab :" Bila sudah ditanyakan nomor rekening sebetulnya itu kan sudah merupakan sebuah sinyal to?". Saya belum yakin sebab terus terang pada jaman serba canggih termasuk modus modus kejahatan yang juga semakin cerdas ini menanyakan nomor rekening adalah salah satu "sinyal" dari adanya ketidakberesan berdasarkan kasus kasus yang banyak beredar dimasyarakat. Maklum.

Akhirnya atas desakan rekan rekan kerja dikantor saya serta seijin boss , saya berketetapan hati untuk datang ke Jakarta dan saya pikir kalaupun ternyata tidak menang setidaknya saya akan mendapat banyak teman baru di XL plus wartawan wartawan maupun para pakar yang duduk sebagai dewan juri baik foto maupun penulisan karena saya memang mengirim foto dan artikel dalam kompetisi foto dan artikel dari XL ini.

Mencari tiket dalam waktu 30 menit berakhir dengan sukses, penerbangan jam 17.20 dari Juanda. Saya ijin mendadak untuk pulang kantor jam 11.15, karena jam 13.00 sudah dijemput travel menuju Juanda ,Surabaya.Membawa tas kecil berisi 2/dua setel celana dan blus serta sepatu. Sampai di Juanda cuaca cukup cerah. tapi eee ........ternyata pesawat terlambat datang dari Makassar,sampai sekitar jam 18.30 baru takeoff dalam cuaca sangat jelek, hujan lebat dan petir menyambar nyambar. 

Sekitar 3 menit mengudara, pesawat mulai batuk batuk tidak keruan dan segala doa dipanjatkan. Ibu disebelah saya yang datang dari Makassar dengan pesawat yang sama tidak henti hentinya berdzikir dan sayapun melakukan hal yang sama jauh didalam hati.

Seorang teman yang saya temui di bandara dan duduk disamping kiri , yang mengaku paling tersiksa setiap kali naik pesawat , tampak pucat dan menunduk. Retno begitu namanya, seorang mantan karyawati Panin Bank yang segera akan memulai karirnya di BI, bercerita bahwa sebetulnya jalan darat baginya adalah yang ternyaman. 

15 menit mendekati Jakarta barulah pesawat terasa lebih stabil dan mendarat dengan mulus. Retno tidak tahu bahwa sayapun sudah mules perut sejak pesawat batuk batuk, cukup trauma dengan peristiwa tahun 1982 ketika saya pulang ketanah air untuk mudik lebaran ternyata diatas Singapur roda pesawat tidak mau keluar dan bahan bakar pesawat dihabiskan diudara dengan ber putar2 diatas bandara Singapur sebelum akhirnya pesawat mendarat darurat di Singapur dengan perut dalam situasi yang cukup mencekam ...

Di Cengkareng saya langsung mengambil bis Damri jurusan blok M karena penginapan yang disediakan Panitia sebagaimana tertera dalam undangannya di email ("Untuk nominator dari luar kota akan kami sediakan penginapan.Transpotasi ditanggung oleh masing masing nomiini") ternyata belum dapat dimanfaatkan sebagaimana keterangan per telepon yang saya peroleh. 

Tapi berhubung kerabat di Jakarta itu seabreg, saya akhirnya harus tega memilih salah satu saja, sebab kalau yang lain sampai tahu saya bisa diprotes. " Wah .. ambil hadiah ya, bagi bagi dong, besok traktir ya .... " begitu para sepupu pada ribut, maklum semua juga baca di media media bahwa hadiah XL ini dalam bentuk uang tunai dan pulsa yang lumayan.

Pagi tanggal 05 Maret, saya sudah meluncur ke tempat penganugerahan XL Award 2008 di Mario's Place yang ternyata malah masih kepagian karena jam karet tampaknya berlaku disini.
Saya habiskan waktu disebuah cafe dilantai bawah dengan memesan otak otak dan es kelapa 
( ditulis es kelapa, bukan es degan ). Ketika saya naik lagi dan memutuskan untuk menunggu saja disebelah luar ruangan,ternyata sudah ada petugas petugas dan Panitia yang kemudian mempersilahkan saya untuk masuk keruangan pertemuan setelah mengisi buku tamu.

Berkenalan dengan ibu Myra Junor selaku GM Corporate Communications XL,ibu Febriati Nadira PR Manager XL, serta VVIP dari pihak tuan rumah XL yaitu bapak Hasnul Suhaimi selaku Presiden Direktur PT Excelkomindo Pratama Ttk, juga bapak Budiono Darsono selaku Dewan Juri Lomba Penulisan yang merupakan pemimpin redaksi detikcom.Meja kami menjadi heboh dengan berbagai isu mulai dari Ponari Sweat , kenaikan tajam dari jumlah peserta lomba yang kali ini mencapai 300% dll.

Acara akhirnya dibuka dengan penampilan video dari aktivitas Panitia dan Dewan Juri Lomba Foto maupun Penulisan XL 2008 yang terlihat begitu padat dan sibuk untuk menyeleksi ratusan karya karya baik untuk Katagori Wartawan maupun Umum.

Bpk. Hasnul Suhaimi dan ibu Myra dari XL akhirnya mengumumkan nama nama pemenang untuk kedua katagori tersebut diatas sehingga total semuanya ada 20/dua puluh pemenang, yaitu 5/lima pemenang untuk masing masing katagori. Untuk katagori umum jumlah pesertanya jauh melampui katagori wartawan dan secara kebetulan para pemenang Penulisan Katagori Umum pada XL Award 2008 kali ini semuanya adalah para bloggers.

Saya sungguh tidak menduga bahwa akhirnya dinyatakan sebagai juara III/tiga penulisan katagori umum melihat jumlah pesertanya yang pada XL Award kali ini cukup membeludak. Judul tulisan saya juga sangat simpel "HP Tahu Tempe" yang saya angkat dari pengalaman pribadi dimana sesuai judulnya isinya menurut saya juga hal hal sederhana saja  yang ada dalam keseharian meskipun mungkin  ada  pesan moral disana.

Sertifikat, trophy, pulsa senilai 1.2 juta, plus uang tunai yang belakangan akhirnya saya belikan kamera yang lumayan canggih, semuanya semakin memotivasi saya untuk menjadi blogger yang lebih " serius ". Jujur, saya mengawali blog saya adalah dengan artikel lomba XL ini dan masih sangat pemula sehingga bentuk blog saya juga masih sangat sederhana. Sebelumnya, lomba2 penulisan yang saya ikuti adalah dalam bentuk manual dengan mengirimkan artikelnya via pos.

Ada yang lucu dalam penyerahan penghargaan ini, yaitu banyak yang mengira saya hadir untuk mewakili anak saya yang berhalangan datang ke Jakarta. " Lho ... yang menang ibu sendiri to, waa .. saya kira mewakili putranya ... " ... he he ... Memang umumnya para pemenangnya masih seusia anak anak saya, maklum, manula seperti saya ini biasanya sudah alergi computer he he ..

Setelah selesai penerimaan penghargaan, saya ngobrol ngobrol lagi dengan rekan rekan wartawan yang ada disitu. Wartawan wartawan telekomunikasi ini seperti tidak pernah kehabisan topik obrolan obrolan yang menarik. Saya bertemu antara lain dengan mbak Rizki Caturini dari harian business investment "KONTAN", terus juga mas Chandra Wirawan dari majalah e- Indonesia (  beliau ini salah satu juara penulisan Katagori Wartawan ) , mas Hesti Hening reporter harian "Berita Kota" serta mbak Riana Xaverius dari majalah "Telset" juga mas Andry fotografer majalah "TEMPO" menambah betah saya berlama lama di Mario's Place.

Tetapi karena bawaan " DNA " sebagai orang marketing dan PR maka  saya merasa juga "sedang berjualan" dan  kesempatan mempromosikan lembaga saya juga tidak saya sia siakan hehe...Nama lembaga saya:  Universitas Ma Chung dan saya disitu sebagai Marketing  dan PR Manager  dan melihat kerumunan wartawan adalah bak kucing melihat ikan asin he he .. Tapi agaknya nama Ma Chung masih asing bagi banyak pihak, kecuali satu dua orang yang pernah mendengar tapi belum "ngeh" betul karena mengira itu nun jauh di Tiongkok, padahal ada di Malang he he ...

Saya meninggalkan Mario's Place sudah agak sore dan langsung mencari tiket pulang Sial, ternyata saya terjebak liburan yang samasekali saya lupakan , Senin adalah hari libur nasional . Akhirnya terpaksa mengambil yang tersisa yaitu hari Minggu tanggal 08 Maret. Waduhhh, semoga boss atau Rektor saya tidak marah karena mestinya besok pagi, Jum'at tgl. 06, saya sudah harus  kembali ke kantor......( Jadi besok bisa saya manfaatkan untuk mengurus hadiah saya yang lain he he....)

Terima kasih kepada Panitia XL Award serta kolega kolega saya di Universitas Ma Chung Malang, yang memberi dorongan saya untuk berangkat ke Jakarta, mudah mudahan kita bertemu lagi di XL Award yang berikutnya.

Salam Ketan Duren.

Keterangan foto :
Penghargaan yang saya terima dari XL berupa trophy berbentuk pena ( photo by : TH )