Minggu, 11 Oktober 2020

 

                 .. " Jangan Dinilai Harganya " ..

pandemi membuat banyak perubahan bahkan total .
selayak mata uang , pandemi membawa dua sisi
 yang tidak diduga sebelumnya bahkan oleh para pakar . 
 banyaknya PHK maupun kebangkrutan usaha kecil
 maupun besar , mendorong orang untuk
 berkreasi dan berinovasi jika tidak ingin terlibas 
kesulitan yang tanpa akhir !
  juga tahun ini nampaknya bukan tahun " permudikan "
 karena pembatasan disegala bidang . 
tentu saja termasuk diantaranya adalah
 anak anak saya sendiri yang sejak Januari 2020
 yang lalu saat kami berlibur bersama di 
Bandung, belum lagi bertemu . 
 tertolong teknologi , program mudik diganti lewat
 VC dll . dan masa masa " tidak bisa mudik " ini 
agaknya membuat mereka ingin membagi
 kerinduan pada " kampung halaman " 
dengan 
memberondong saya lewat berbagai kiriman .
 terhitung mulai Maret hingga yang terakhir
 adalah minggu yang lalu , saya seolah
 punya " rutinitas " membukakan pagar
 mas mas pengantar paket hehehe .. 
ada makanan , peralatan masak , laptop , suplemen dll .
 tentu semuanya datang secara surprise sebab
 anak anak memang menyukainya . 
yang terhitung " agak sering " adalah pizza , karena
 mereka tahu saya menyukainya sebagai
 teman nonton TV dan kedatangannya memang
 saat saat saya duduk manis didepan TV 
pada sekitar jam 20 an . 
 sekian tahun yang lalu sulit membayangkan 
bagaimana cara mengirim makanan dari jarak 
ratus bahkan ribuan kilometer . dan dijaman 
digital ini , jarak dan waktu seolah
 bukan lagi masalah . 
tentu perhatian anak anak ini sangatlah mengharukan
 saya sebagai ibu , dan saya selalu
 mengabadikannya lewat Instagram 
meskipun mereka selalu bilang 
" mama , nggak usah di IG kan " hehehe..
 cerita apa lagi yang layak saya IG kan jika bukan
 tentang mereka dan perjalanan2 saya sendiri 
yang terkena pembatalan karena pandemi ?
 jepretan2 saya dihalaman ini adalah sebuah
 " dokumentasi pribadi " yang saya ingin bagikan
 disini dengan mengusung 
sebuah pesan sederhana yaitu : 
 " Jangan menilai pemberian dari harganya , 
tetapi lihatlah kedalaman perhatiannya
 karena itu sungguh tidak dapat
 dinilai dengan uang " !
  terima kasih anak anakku ..
semoga Allah melimpahkan pahala dan
 kemudahan bagi segala urusan2
 dunia dan akherat kalian ..
 aamiin ..
( Writing & Photos : Titiek Hariati ,
 Malang , 11 . 10 .20 )
keterangan foto :
01 . kejutan siang hari : laptop .. !
 ( anak2 saya tahu laptop tua saya sudah
 berusia hampir 10 tahun hehehe .. )
02 . kue lebaran
03 . minggu yl , seperti biasa , 
Mangga ala Harvest
04 . panci granite  Debelin
05 . kejutan malam : PHD ..
06 . suplemen masa pandemi
07 . Debelin yang lain .. 
08 . kejutan malam diminggu yang berbeda
 
 

 




.. " Rawon Temas Saat Pandemi " ..  

benarkah saya berani " ngrawon " saat pandemi 

  yang seharusnya Take Away saja ?   

satu siang saya berniat ke Batu yang dari rumah hanya

 sekitar 10 menit saking sepinya jalanan terkena corona .  
 tujuannya umumnya mencari sayuran atau buah
 dan pulangnya akan " mbontot " sesuatu
 yang kemungkinan besar adalah gulainya warung Mesir
 tersebab saya yang nggak pinter masak gulai ! 
lewat didekat Batu , menoleh ke kanan ,
 saya kaget sebab ada banner banner bertulis 
" Rawon Temas " !
 lho .. dalam catatan saya , kedai atau resto itu atau
 apalah namanya itu sudah berganti nama / fungsi 
mulai dari De Java yang ala 
cafe cafe kekinian , 
terus berubah menjadi SMK , sekolah kejuruan ,
 terus berubah lagi jadi kedai steak ,
 dan diantara itu ada satu lagi yang saya sudah lupa .  
 perubahannya ke Rawon tentu saja menarik buat saya
 sebab dari catatan blog ini , cafe atau pun warung2
 yang " gagal " umumnya adalah yang 
" kelewat banyak memiliki menu " !
 ya menu barat ya timur ya tengah2 .. 
maka " keputusan " warung yang satu ini untuk hanya
 memilih satu menu saja , Rawon ,
 menurut saya cukup smart ! 
naa .. sepintas saya lihat 
( saat itu masih jam 11 lebih sedikit )
  di halaman parkirnya hanya ada satu mobil .
 maka  saya putuskan untuk putar haluan arah 
Malang dan masuk dihalamannya . 
dilantai bawah hanya ada satu meja terisi pasangan 
paruh baya dan dilantai atas kosong . 
" boleh keatas ? " , saya diijinkan 
( pdhal dimana mana umumnya kalau masih sepi ,
 tamu ditolak keatas, mungkin pramusajinya
 yang malas naik turun tangga hehehe .. ) .
 ini kali ke 3 saya kesini , saat dulu masih berjuluk 
De Java saya sempat dua kali menikmati panoramanya.
 lantai atas memang menawarkan
 panorama cantik dan duduk diterasnya adalah
 sebuah ketenangan atmosfer . 
membungkus rawon ? 
rasanya kali ini saya harus menikmatinya secara
 penuh alias Rawon plus Panorama dan 
Udara yang sejuk ! ( tetapi diam diam saya 
memakai sendok dan gelas pribadi yang 
ada dalam tas saya kecuali piring kertas yang 
saya bawa tidaklah mampu menahan
 kuahnya jadi piring tetap milik kedai ini .. ) .
 rawon panas plus jeruk panas , 
keduanya saya selesaikan  secara " kilat " dan
 saya berada disana tidak lebih dari 30 menit
 setelah saya dengar ada mobil lain masuk
 ke halaman parkirnya . 
dari skala 1-10 , Rawon Temas ini berada di
 angka 7 , atmosfer 7 , layanan 7 dan harga juga 7 . 
saat saya sudah masuk ke gerobak untuk
 melanjut perjalanan , dua mobil yang lain masuk !
 beruntung saya sudah pulang . 
percayalah kali ini saya optimis bahwa dengan 
mengusung hanya satu menu andalan , Rawon ,
 warung ini akan bertahan dan tidak lagi 
akan ber gonta ganti fungsi dan nama ! 
 daging rawonnya yang empuk , kuah melimpah dan
 bumbu rawon yang pekat mungkin akan
 menyaingi Nguling atau yang lain , 
semoga .. !
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 11 . 10. 20 )
keterangan foto : 
01 . yummyyy ..
02 . musik alam , kicauan burung
03 . panorama teras belakang
04 . sudut lantai bawah
05 . teras yang sejuk dan senyap
06 . atmosfer
07 . Herjuno dikejauhan
08 . papan luar ditepi jalan raya
09 . cuci tangan , masker ,
sarung tangan dan berjarak meski kedai sepi

Jumat, 09 Oktober 2020

 

 

.. " Mencari Susu Nongkojajar " ..

pandemi yang belum juga nampak ujung akhirnya yang membuat Indonesia dilarang masuk kelebih dari 60 negara , membuat perjalanan2 domestik" laris " meski dengan protokol ketat .maklum , para pejalan2 ini " gatal kakinya " kalaukelewat lama terjerat PSBB dirumah ber bulan2 . bagaimana dengan saya ? 3 perjalanan manca sudah batal dan mengublek sekitarMalang Raya adalah alternatif untuk sedikit bertukar atmosfer dan mencari bahan blog ini . 

 
kali ini saya memilih Nongkojajar yaitu sebuah
 desacantik yang searah dengan Bromo .
sekitar 40 km dari 
Malang dan dengan memilihhari biasa, maka
 perjalanan pulang pergi sangat senyap dan
 serasa " dalane embahe dewe "
 ( seperti jalan raya neneknya sendiri hehehe .. ) .
 cukup lama saya tidak ke Nongkojajar , terakhir 2016 !
sehingga saya harus ter heran2 dengan perubahan 
dan perkembangannya . disini ada beberapa industri
 besar seperti Pakan Ternak , Susu , dll .
bahkan hutan hutan pinusnya saat ini mulai terlihat
 menggeliat menjadi area area wisata yang 
ber lembah2 indah dan cafe cafe mulai bertaburan . 
 tetapi karena saya tidak berniat " cangkruk " , 
saya hanya ingin mengambil foto fotonya saja
hingga sampai di Koperasi Susu terbesar untuk
 menjajal Susu Telur Madu Jahe ( STMJ ) nya 
dan Susu Gula Aren untuk takeaway !
 udara sejuk Nongkojajar dikombinasi dengan 
susu hangat , rasanya lupa dengan pandemi hehehe .. 
diarah pulang , saya baru memperhatikan 
 papan papan ucapan selamat atas dibukanya 
 sebuah warung gede berjuluk " Omah Toetoer " ... !
( maklum , kadang nyetir fokusnya terbagi bagi )
penasaran , saya berhenti dan bertanya satpamnya
" pak , resto baru ya, sudah buka ? " ..
dijawab sudah dan dipersilahkan parkir di
halamannya yang luas .
 warung cantik ini tampak kosong melompong karena 
memang masih sekitar jam 11dan hari biasa
 dengan lokasi yang tidak seramai Batu pasti lah sepi ..
akhirnya saya mengublek warung yang masih gres
 dan dikepung panorama cantik ini !
saya lihat daftar menunya juga lumayan menarik . 
tetapi pandemi tidak mengijinkan saya untuk 
menu menu yang unik , karena disebelah 
depan saya ada stan bakso yang kuahnya nampak 
mengepul ngepul !" demi keamanan " ,
 dan supaya saya tidak hanya jeprat jepret saja ,
 saya membungkus bakso yang ternyata rasanya
 lumayan yummmyyy ... !! 
( harap dicatat : bakso kalo Take Away harus 
siap tidak berkuah, jadi pilihannya 
bakso bakar  dan pentol yang dimakan dengan 
kecap berlombok hehehe ,
 tetapi masih sangat panas alias baru selesai dimasak ! )
warung yang gres dan nyaman serta luas ini
 bisa jadi salah satu pemberhentian yang nyaman 
di Nongkojajar .  diantarkan seorang pramusajinya,
 saya  melihat lihat Pojok Oleh Oleh yang 
disitu yang berisi produk2 lokal mulai kopi , kripik2 ,
 bumbu2 masakan dll yang terkemas rapih .
membungkus beberapa sate bakso bakar dan pentol 
memang belum 100% kenyang , anggap saja pembuka
 selera makan hehehe ..
maka ketika dari sana saya  melewati beberapa warung ,
 kedai , cafe lainnya disepanjang perjalanan 
dari Nongkojajar arah pulang,
saya tertarik untuk mampir diwarung 
 " Anak Gunung " yang juga mengusung 
makanan dan minuman serta produk2 lokal
 untuk oleh oleh .
 di " Anak Gunung " siang itu saya hanya 
bertemu dengan sepasang suami isteri dari
 Surabaya .dan saya pilih ke lantai atasnya yang 
yang sepi dengan view yang lumayan cantik .
kali ini saya terpaksa memberanikan diri untuk 
makan ditempat dengan lalapan ayam kampung
 karena perut sudah memanggil dan 
dilantai atas hanya meja saya yang terisi . 
pramusaji yang mengenakan masker dan faceshield
juga membuat saya percaya  bahwa 
patuh protokol adalah vaksin !
saya kembali ke Malang setelah sekitar dua jam lebih
bertukar oxygen di desa Nongkojajar  .
perjalanan yang ber kelok2 dengan triple triple triple S
 yg banyak dan naik turun  ,
lumayan men charge adrenalin !
 semoga Nongkojajar bisa mensejajarkan diri dengan 
Batu dalam infra struktur kepariwisataannya,
meskipun ada kekhawatiran bahwa ini justru
 akan merusak keseimbangan lingkungan 
dan alamnya yang masih terlihat asri dan asli !
bagaimanapun ,semoga 
tidak kelewat menor seperti Batu .. !
  ( Writing and Photos : Titiek Hariati , 07 . 10 . 20 ) 
 catatan : munculnya sedikit masalah dengan New Blog Layout Management , membuat tulisan kali ini sedikit terlihat aneh layoutnya, mohon maklum hingga saya dapat menyesuaikannya kembali pada gaya layout yang biasanya , terima kasih .
keterangan foto : 
01 . jalanan arah Nongkojajar , senyap
02 . gerbang Nongkojajar
03 . view depan resto Omah Toetoer
04 . sepi .. resto gede nampak senyap ..
05 . susu jahe Nongkojajar
06 . salah satu kedai susu
07 . truk antri susu
08 . pasar Nongkojajar
09 . papan petunjuk arah G .Bromo
10 . sejuk..
11 . kopi lereng Bromo
12 . resto baru yang melompong ..
13 . ayam kampung yang gurih
14 . didepan " Anak Gunung " 
15 . kripik2 lokal
16 . sejukkk ... 


Senin, 14 September 2020






.. " Pujon , The Rising Sun .. " .. 

Pujon yang letaknya hanya beberapa menit dari Batu 
 nampaknya ingin " mengejar ketertinggalannya "
dari  Batu yang sudah sangat " sophisticated "
kepariwisataannya . 
kalau SDA , rasanya Pujon sangat tidak kalah
 dengan Batu bahkan pada beberapa area Batu lah yang
 " nunut " Pujon dalam mempromosikan
 tujuan wisatanya .
 tetapi perkembangan pesat Batu dalam beberapa tahun
 terakhir agaknya membuat Pujon harus 
" putar otak " agar tidak makin " kancrit " dari Batu .
 naaa .. dimusim pandemi yang membatasi 
ruang gerak berwisata ini memang akhirnya membuat
 saya sendiri tidak banyak " bergerak " seperti
 biasanya dan Pujon seolah menjadi alternatif
 untuk bertukar oxygen sejenak dan
 menghindari Batu yang meski pandemi tapi tetap
 dipadati wisatawan .
sengaja saya menentukan dua tujuan .
 pertama adalah mencari bibit pohon jeruk di sekitar 
Punten  yang jauh masuk kedalam
  perkebunan sayur , buah dan bunga
 ( menghindari mahalnya harga yang ada di penjual2 
tanaman sepanjang jalan raya arah 
Selecta dan Cangar  hehehe .. ) .
 lega dan lapang menikmati pemandangan yang serba
 hijau dan sedikitnya manusia yang pagi
 itu masih sepi . rasanya betah ber lama2 disitu
 meskipun bibit jeruk sudah saya peroleh
 sekaligus untuk melanjutkan perjalanan hehehe .. 

hampir dua jam saya bertukar oxygen
dan tetap dalam protokol ketat , akhirnya saya
 melanjutkan perjalanan kearah Pujon dengan 
tujuan yang Tidak Jelas alias sekedar ingin
 bertukar suasana asalkan BUKAN tempat wisata ,
 itu syaratnya !
 melewati kelokan2 tajam di Pujon , lumayan 
membangunkan adrenalin 
( terakhir saya  lewat kelokan2 ini saat ke Solo
 untuk melihat Festival Batik dan 
7 jam dibelakang kemudi cukup menguras adrenalin .. ) 
 
dan saat melewati sebuah area wisata
 berjuluk " Taman Kemesraan " saya merasa
 kurang tertarik bukan saja karena dihalaman
 parkirnya penuh kendaraan tetapi juga
 sepintas dari luar terlihat " sangat artifisial "
 meski mungkin saya salah duga hehehe ..
 saya lanjut kan perjalanan kearah yang 
Tidak Jelas tadi sambil mencari kemungkinan
 adanya obyek jepretan untuk bahan blog ini ..
tiba tiba dikiri jalan saya melihat " sesuatu "
 yang tidak saya duga ada ,
 yaitu sebuah lahan parkir luas dengan tulisan
 " Alas Pujon Coban Sadang " ...
 lhaaa .. opo iki bathin saya ?
 pagi itu hanya ada dua mobil terparkir disitu dan
 setengah ragu2 saya masuk dan bertanya pada
 petugas " buka to mas ? " ,
 iya silahkan jawabnya ramah .. 

tentu saya tertarik untuk masuk karena sepintas 
terlihat masih " alami " alias  belum banyak polesan
  dengan tiket masuk per orang 10 ribu dan
 parkir mobil juga 10 ribu , 
saya disapa ramah oleh salah satu manajernya ,
 pak Sony . " air terjun hanya 500 meter dari sini ,
 mari saya tunjukkan protokol musholanya " ,
 dan saya melihat pengaturan jarak 
dalam mushola yang sangat baik begitu juga
 saat masuk pertama tadi dimana tempat 
cuci tangan juga tersedia .
sepintas meski belum secara dekat saya melihatnya ,
 pengaturan dilokasi yang areanya berlembah 
dan ber air terjun ini masih cukup " minimalis "
 dan ini melegakan ! 
desain mushola dan juga cottage cottage serta sebuah
 bangunan ala rumah Hobbit , 
saya pikir " tidaklah berlebihan " dan masih bisa
 menyatu dengan alam sekitarnya  .
 
saya berjalan kearah air terjun Sadang yang
 menjadi ikon area ini disamping alasnya ,
 sedikit menanjak keatas tetapi jangan khawatir ,
 disitu disediakan beberapa bangku untuk 
melepas lelah bagi yang seusia saya hahaha ..
 memang Coban Sadang ini tidak sespektakuler
 Coban Rondo yang menggelegar airnya ,
 tetapi untuk pecinta " musik alam " rasanya 
gemericiknya adalah simponi indah !
 
( untuk masalah Musik Alam ini bahkan dalam
 obrolan saya dengan pak Sony , saya " wanti wanti " agar 
Jangan Merusak Atmosfer Alam disini 
dengan musik2 keras dari loudspeaker apalagi
 kalau itu dangdut yang memancing orang berjoget ! 
saya berpesan seperti nenek yang cerewet begini 
( padahal saya belum jadi nenek lho hihihi .. )
 " mas Sony , jangan merusak suasana alami ini
 dengan musik2 keras agar pengunjung yang jauh2
 datang ingin menikmati suara 
burung , gemercik air terjun , angin semilir dll
 tidak kecewa ! " ..
 semoga wanti wanti saya tidak dianggap 
Blowin' in The Wind seperti kata Bob Dylan hehehe .. ) 
 saya bukan anti musik dangdut , 
tetapi saya ingin sesuatunya itu Pada Tempatnya , 
sesederhana itu saja ..
saya pernah menerima hadiah teman di Australia
 sebuah  CD yang berisi musik2 suara alam ,
 ada suara air , burung , serangga malam dll yang
 saya pikir masih bisa dipertimbangkan 
kalaupun ingin ada " bunyi2an " .. 
sejenak saya ngopi dirumah hobbit untuk menikmati
 suasana disitu , saya memesan es kopi haselnut 
dan kopi gula aren yang terkemas dalam 
gelas Take Away , ide bagus untuk menghindari 
pencemaran dari peralatan mamin .
harga2 yang ada didaftar menunya juga reasonable
 dan satu2nya makanan yang disediakan 
adalah Cup Mie . cafe yang bersebelahan dengan
dua cottages tampak masih dalam tahap pembangunan
 yang kelak saya pikir akan mampu menampung
 sekitar 250 an pengunjung .
 oya sebelum meninggalkan lokasi ini saya sekali lagi
 mencereweti pak Sony dengan 4 masukan yaitu :
 
01 ) disediakannya cantolan sederhana di 
dalam toilet wanita yang biasanya membawa tas bertali .
 02 ) di mushola sebaiknya ada kaca untuk wanita2
 yang seusai sholat membetulkan hijabnya
 atau merapikan makeupnya . 
03 ) dirumah hobbit sebaiknya diberikan tempat 
atau payung untuk berteduh pada siang hari 
yang terik bagi pengunjungnya yang 
sedang " cangkruk " .
 04 ) kursi meja untuk yang cangkruk di hobit 
supaya dibuatkan setidaknya untuk dua kelompok
 sebab yg ada saat ini terlalu berat untuk digeser
 menjadi dua kelompok sehingga
 pengunjung kurang punya privasi ketika
 ada dua kelompok yang datang dan
 tidak saling mengenal .
meninggalkan Alas Pujon Coban Sadang dengan 
rasa sedikit " khawatir " bahwa satu saat 
lokasi  cantik ini akan kelewat 
" menor " dandanannya ! 
januari yang lalu saya sempat ke sebuah lembah 
cantik berjuluk Taman Asia Africa di
 Lembang Bandung yang spektakuler tetapi
memang bernuansa internasional karena ada 
kampung Jepang , Korea , India  dll
 sehingga seolah kita jalan jalan ke negara2 
tersebut mencicipi mamin , souvenir dan budayanya . 
atau di Lembah Indah dekat Gunung Kawi 
yang juga cantik , tetapi tentu saya berharap
 mereka2 ini tidak berlebihan mengemas alam
 yang sudah cantik itu . 
belasan tahun saya pernah merasakan atmosfer
 dikaki Alpen , sudah tentu saya tidak bisa berharap
 bahwa wisatawan di tanah air juga
 sangat bisa menghargai ketenangan dan privasi
 dimana " manusia menyesuaikan alam "
 dan bukan sebaliknya .
 mengapa saya berani berkata demikian ?
 banyak wisata2 alam yang cantik ditanah air 
yang akhirnya " rusak " oleh 
" dandanan yang berlebihan " baik itu
 menyangkut exterior , interior , ataupun atraksi2 
live music dangdut dll seperti yang saya
 sudah tulis diatas ..
 
Alas Pujon Coban Sadang harus bisa menjadi 
percontohan bagaimana sebuah eko wisata alam 
dibangun tanpa harus berlebihan ! 
juga saya sangat yakin bahwa  
" 4 sekawan " pendirinya ,
 Ghufron Marzuki , Krida Agung Nugroho , 
Agung Subroto dan Gogiek adalah 
para " penjaga alam " yang bijak dan membiarkan
 alam yang berbicara dan bukan manusia
 yang harus didengarkan bicaranya .. 
selamat dan sukses buat tim 
Alas Pujon Coban Sadang ! Stay naturally ...
( Writing & Photos : Titiek Hariati , Malang , 14 . 09. 20 )
keterangan foto ; 
01 . salah satu sudut desa Punten
02 . cottage cottage di Alas Pujon Coban Sadang
03 . gemah ripah loh jinawi di Punten
04 . ibu ibu petani Punten sedang sibuk
05 . ayem tentrem ( 01 )
06 . ayem tentrem ( 02 )
07 . ayem tentrem ( 03 )
08 . Taman Kemesraan yang bagi saya tidak menarik
09 . Coban Sadang
10 . Mushola mungil yang cantik
11 . rumah hobbit untuk cangkruk ngopi
12 . menikmati oxygen Alas Pujon
13 . bangku disebelah air terjun
14 . lembah yang cantik
15 . pohon dihalaman luar yang " mistis "
16 . lahan parkir yang lumayan luas meski 
bisa saja disaat ramai akan
 terasa sempit
17 . daftar menu dirumah hobbit
18 . jalan keluar yang menarik 
19 . unik ..
20 . gerbang masuk 
21 . papan petunjuk arah
22 . red bridge ..