Tampilkan postingan dengan label wisata unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata unik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Mei 2014







.. " Lampion, Lampion " ..
 dalam kegelapan, lampu lampu yang terbuat dari rotan dan kertas itu terlihat begitu
 camtik dan eksotis sebab saat terhembus angin mereka 
bergoyang dengan anggun. 
pada perayaan hari hari tertentu seperti Imlek, lampu lampu hias ini seolah 
Wajib Harus Ada 
dan ketiadaan mereka itu seperti menghilangkan sukma dari
 perayaannya itu sendiri !

 yaaa ... lampion nama populernya, 
adalah lampu hias dari kertas atau terkadang kain yang sudah dikenal dimana mana sebagai hiasan dan lampu penerang pada tempat  dan perayaan tertentu. 
sangat disukai, karena lampion ini " bergoyang dan bergelantungan secara khas " dan kecantikannya beda dengan lampu lampu buatan pabrik yang mahal sekalipun,
 lampion tetap tak tergantikan !
indah dalam kegelapan, sehingga banyak dipakai oleh cafe cafe atau hotel hotel yang memiliki taman atau teras. 

di Malang ternyata ada beberapa pengrajin lampion yang bahkan sudah meng ekspor produknya. saya mengunjungi salah satunya, yang ada di Jalan Juanda, Malang. 



 membuat kerangka lampion, menge lem kertas atau kain pada kerangka lampion, memberi gambar atau lukisan atau tulisan pada lampion, adalah sebagian dari 
aktivitas rutin para pembuat lampion disini.

 disaat akan mengirim lampion lampion yang sudah jadi, kesibukan terlihat pada pengemasannya, terutama untuk lampion lampion berukuran 
" yang sebenarnya dan sesuai aslinya " . 
siang itu ada beberapa " harimau " yang akan terkirim ke Kalimantan dengan ukuran seperti aslinya, karena lampion lampion berbentuk harimau putih berloreng hitam ini harus
 terkemas dengan aman alias tidak ada kerusakan hingga tiba dialamat. 

" cukup sulit, sebab ada bagian bagian yang menonjol seperti ekor misalnya,
 harus diusahakan jangan sampai rusak ", kata seorang karyawannya. 

usaha yang dirintis sejak beberapa tahun ini memang mampu menyerap tenaga kerja para pemuda disitu, sebuah upaya kemandirian yang sangat positip! 
pemesanan dari manca juga ada. 
Perancis misalnya, meskipun saya sempat " geram " sebab si pemesan itu mendapat harga lokal yang sangat murah untuk ukuran mata uang mereka ( Euro ) .
 padahal dinegara mereka, 
lampion ini dijual cukup mahal, sekitar 150 ribu per buah
 (  mereka membelinya dari Malang dengan harga hanya sekitar 25 ribu per buah ) . 

saat saya menanyakan mengapa tidak disesuaikan dengan kurs Euro untuk pemesan manca, mereka menjawab " tidak apa apa, kami sudah senang ada orang manca yang tertarik produk kami " , sebuah keikhlasan atau kerugian, entahlah ... 
( saya hanya tidak rela kalau ada orang asing yang memanfaatkan keikhlasan bangsa kita,
 atau saya yang terlampau berlebihan ? ) .. 


 

lampion, lampion, teruslah bercahaya dalam kegelapan meskipun sinarmu tak terlampau benderang namun engkau pemberi harapan !
( th )  

( photos by : th, Lampion, Jl. Juanda, Malang ) 

01. aneka warna dan bentuk lampion
02. macan putih dalam kardus
03. mengelem kain pada kerangka lampion
04. bulat bulat lampion
05. bambu diatas kain kuning
06. lampion tinggi
07. sibuk, sibuk
08. salah satu bahan penting lampion

Minggu, 10 November 2013







.. " onthel di Museum Bentoel, 
3 Mercy ditolak " ..


pabrik rokok Bentoel dengan kota Malang adalah bak Mimi lan Mintuno. 
maka sangatlah sulit memisahkan keduanya karena Bentoel adalah bagian dari keping sejarah kota Malang dimasa lalu dan hingga saat ini meskipun sudah 
terjadi merger. 

maka bila kehadiran Museum Bentoel sejak sekian tahun yang lalu di area Pasar Besar Malang mencuatkan tanya, mengapa memilih lokasi ditempat yang semrawut dan hiruk pikuk, mari kita tengok sedikit latar belakangnya.



ini kali ke II saya ke museum ini setelah sekian tahun lewat kesana tetapi belum ada sentuhan teknologinya alias semuanya masih serba manual. 
pada minggu yang lalu setelah peresmiannya beberapa hari sebelumnya, saya melihat banyak perubahan terutama dalam cara penataan dan penyajian informasinya yang sudah terkemas lebih " modern " .  

nama pabrik rokok Bentoel memang tidak hanya tersohor secara nasional, bahkan internasional. dan sekian tahun yang lalu kalau nonton bioskop yang saya tunggu adalah iklan rokoknya yang menampilkan suara Frank Sinatra dengan latar belakang panorama Indonesia dan rajawalinya yang keren! 

meski saya belum pernah merokok sebatangpun seumur umur hidup, tapi saya penggemar iklan ini dan saya bangga penyanyi selevel Sinatra menjadi ikon iklannya. 

museum ini sesungguhnya adalah bagian dari bangunan asli tempat awal usaha founder nya, bapak Ong, dibidang pertembakauan dan rokok ditahun 1936 . 

maka bila saat ini bangunan museum terasa " kurang pas " karena terletak di daerah padat, macet, sesak, kotor dst ini adalah sebuah perjalanan jaman dimana dahulunya daerah museum adalah termasuk yang " strategis " karena berada di jantung pusat bisnis, Pasar Besar Malang yang kala itu sudah tentu belum 
sepadat dan sekotor saat ini.

bangunan museum ini terbagi atas tiga, gedung pameran ( sejarah dan riwayat pabrik rokok Bentoel ), terus ada gedung galeri dan gedung peristirahatan. dimulai dengan 12 karyawan pada tahun 1936, usaha pak Ong secara perlahan tapi pasti melaju pesat hingga wafatnya ditahun 1967. setelahnya, usaha keluarga ini masih secara estafet dilanjutkan oleh generasi muda keluarga dan bahkan pada tahun 1990 Bentoel mencatatkan diri sebagai salah satu 
emiten di lantai bursa Surabaya dan Jakarta. 

( saya ingat, saat  saya masih bergabung di Bursa Efek Surabaya atau BES dan beberapa emiten seperti Bentoel, GG dll yang berdomisili di Jawa Timur, pada akhirnya mencatatkan dirinya di dua lantai bursa dengan pertimbangan bahwa sebagai " milik wong jawa timur "  sudah selayaknya mengutamakan 
BES disamping BEJ. 

dalam kunjungan kebeberapa emiten di jawa timur, seperti GG di Kediri dll tim BES kami bahkan menghimbau sebaiknya perusahaan perusahaan raksasa Jatim 
cukup tercatat di BES saja untuk mengimbangi pemain pemain raksasa 
 di Bursa Efek Jakarta , naaa ... sampai segitunya 
rasa " kedaerahan " sebagai wong Jawa Timur hehe )

maka melihat riwayat kerjakeras dan ketekunan para pelopor dan pendiri Bentoel di museum ini, memang terselip rasa " kehilangan " juga bahwa saat ini Bentoel sudah 
" lepas ", tetapi demikianlah perjalanan sebuah riwayat yang terkadang 
tak sesuai harapan. 

dimulai dengan sebuah usaha sederhana dimana merajang tembakaunya Bentoel masih secara manual hingga berakhir di sebuah  mesin computerized, adalah sebuah
 jejak panjang Bentoel selama sekian dekade. 

lalu juga ada sekitar 176 merek rokok yang 90% terdengar asing dan lucu karena ketidak tahuan saya bahwa sungguh pernah ada merek merek unik dalam sejarah Bentoel. 
ditemani dua staf museum yang super ramah, mbak Rosh Linda dan mas DylenAgustyant, siang itu saya merasa bersyukur bahwa ketiadaan pengunjung yang lain membuat saya sangat leluasa jeprat jepret dan memperoleh informasi banyak dan berharga dari keduanya. 

yang lebih menarik adalah bahwa pengunjung sama sekali tidak dipungut biaya masuk alias gratis, dan bagi yang ingin meng ekspresikan terima kasihnya pada para guide kita, dapatlah kita bawakan oleh oleh atau angpao, terserah anda!

foto foto yang dipamerkan di museum ini sangatlah menarik karena dengan segera kita dapat melacak jaman yang mereka wakili melalui bermacam peristiwa , model rambut, model baju, dekorasi, bangunan, kendaraan dll. 

koleksi koleksi pribadi bapak founder Bentoel juga dipamerkan antara lain dua sepeda antik nan cantik.konon beberapa mobil Mercy terbaru pun tidak mampu menggoyahkan kolektornya untuk menukar sepeda sepeda antik yang mewakili bahasa pada jamannya dan begitu sarat dengan riwayat . 

meski tampilan keduanya terlihat "  letih digerus jaman " namun mereka tetap ada disana untuk penanda dan motivasi bagi generasi mendatang!

mari kenali sejenak riwayat Bentoel karena ribuan atau bahkan puluh ribu " anak anak dan cucu serta cicit Bentoel " lahir dan besar disana dan saat ini mungkin 
telah banyak yang menjadi tokoh tokoh penting di 
berbagai bidang di masyarakat yang berasal dari ibu ibu atau bapak bapak yang mengabdikan dirinya puluhan tahun di Bentoel. 

naaa ... datang saja ya di area Pasar Besar Malang, rasanya tidak ada yang tidak tahu letak dari museum yang satu ini dan selamat menjelajahi jaman di 
ruangan ruangan pamerannya! 
( th )

keterangan foto, all taken by : th 

01. gedung utama tampak samping.
02. onthel bersejarah.
03. penanda.
04. 176 merek
05. patung pendiri Bentoel.
06. toko I milik Bentoel, 1936
07. iklan baliho dijaman itu
08. para guide museum yang ramah


Minggu, 30 Desember 2012





Macan Pondok Pesantren Al Kaffah,
Kepanjen ..

Judul diatas bukan kiasan. Suatu siang dibulan Desember 2012 , saya telah bertemu dengan Mulan yang cantik, berusia 4/ empat tahun yang badannya sudah setinggi sekitar leher saya. Jenisnya adalah Panthera Tigris Bengalensis alias harimau Bengala berwarna kuning berbelang hitam.

Menemukan  lokasi penangkaran Mulan tidaklah gampang sebab penduduk lokal di Kepanjen pun bahkan banyak yang tidak mengetahui bahwa Mulan adalah penghuni ponpes Al Kaffah dikotanya. Jangankan Mulan, ponpesnya saja banyak yang belum pernah mendengarnya. 

Tetapi ketika disebut nama pengasuh dan pemiliknya  yaitu Gus Soleh atau lengkapnya adalah Mohammad Soleh, beberapa orang lalu menunjukkan arah jalan meskipun saya masih harus kesasar sasar.



Nama Mulan memang sudah mendunia, apalagi sejak muncul di You Tube. Tetapi sejak atraksi Mulan mendapat ikatan kontrak dari sebuah media di Inggris selama setahun maka Mulan sudah " keluar " dari You Tube .  Gus Soleh mendapat " hadiah " Mulan ini dari pemerintah Inggris ketika Mulan masih berusia 2 bulan dan saat ini dalam usia 4 tahun berat badannya sudah mencapai 171kg !

Ponpes ini memang bagian dari sebuah program Boarding School yakni SMK Al Kaffah dilokasi yang sama yang ada dibawah Yayasan Al' Ainul Bahiroh dimana Gus Soleh merupakan ketuanya. SMK Al Kaffah ini merupakan perwujudan dari mimpi Gus Soleh dan beberapa rekannya yang lain untuk
membuat sebuah sistim pendidikan bermodel asrama ( boarding school ) yang berbasis ponpes.

Ini tidaklah berarti ingin membentuk sebuah kelompok eksklusif dengan pola pikir tertentu melainkan didasarkan pada sebuah  ajaran bahwa manusia itu harus selalu berimbang antara Duniawi ( pendidikan ) dan Ukhrawi ( budi pekerti ).

Beberapa kelebihan SMK ini antara lain adanya kerjasama dengan pihak industri yang diwujudkan dalam sebuah MoU antara pihak sekolah dengan
PT Sharp Electronic Indonesia dibulan September yl. Ini juga merupakan realisasi program Corporate Social Responsibility/CSR dari PT Sharp dibidang pendidikan.

Maka tidaklah heran bila lulusan SMK disini tidak dipusingkan dengan mencari pekerjaan sebab mereka langsung terserap oleh dunia industri terutama oleh PT Sharp Electronic Indonesia ( SEI ). Jadi SMK ini memang memiliki kelas industri dan program pelatihan industri yang memberikan pengetahuan serta teknik dasar industri elektronik. 

Kemitraan DUDI ini ( Dunia Usaha dan Dunia Industri ) yang langsung menyerap tenaga kerja lulusan SMK ini memang membanggakan sebab mereka merupakan tenaga tenaga yang terampil dibidangnya sebagai hasil dari gemblengan kedisiplinan selama bersekolah dulu. Bicara soal kedisiplinan, SMK ini mentrapkan aturan yang cukup ketat antara lain  soal keterlambatan masuk kelas. " Lima menit terlambat, tidak pandang bulu, baik murid maupun guru sama sama tidak diijinkan masuk kelas ... " , jelas Gus Soleh , wow .........
Kedisiplinan ini sejak awal sudah sedemikian rupa ditanamkan dan salah satu " mentor " nya adalah batalyon Zipur 5 Kepanjen yang  menggodok para siswa SMK ini selama seminggu untuk setiap angkatan, pada program orientasi. Dan diantara program ekskulnya yang terkenal, adalah Aeromodelling, yang tercatat sebagai satu satunya SMK yang memiliki program ini di Jatim.

Bertemu dengan Gus Soleh cukup menyenangkan sebab gambaran sebagai pengasuh ponpes yang biasanya " serius " dan " sangat religius " ternyata lebih santai dan  kekerabatan. 

Juga keinginan saya siang itu untuk bertemu Mulan ternyata keberuntungan sedang berpihak pada saya. Mulan yang konon biasanya harus dipanggil dari hutan disamping ponpes, ternyata siang itu sudah " cemepak " ( menyediakan dirinya ) di pintu pagar . Saya cukup kaget karena kawat pembatas itu tidaklah setebal yang sering terdapat di bonbin. Namun melihat bagaimana menurutnya Mulan kepada setiap instruksi Gus Soleh seperti " duduk " dll sayapun agak tenang .... ( lebih tepatnya, saya " tenang tenangkan " hehe ... )


Sayang sekali saya tidak bertemu pak Soleh yang namanya kebetulan sama dengan Gus Soleh. 

Pak Soleh yang satunya dan yang dimaksud disini adalah si  perawat Mulan sejak bayi.

" Tiap hari pak Soleh tidur bersama Mulan dipondok itu ... " kata Gus Soleh. 

Diam  diam  saya membayangkan 
" kecemburuan " istri pak Soleh yang masih pengantin baru itu sebab suaminya lebih memilih tidur bersama Mulan he he ...

Pak Soleh ini pula yang wajahnya sudah tersohor dan mendunia karena keakrabannya dengan harimau bernama Mulan ini masuk di internet. Adapun keakraban Gus Soleh dengan harimau sebetulnya sudah dimulai sejak di Bengkulu dimana saat remajanya banyak dihabiskan didekat rimba. Pergaulannya dengan satwa buas sudah mendarah daging  bahkan pernah Gus Soleh memelihara 5 harimau Sumatra sekaligus ... !

 " Di Indonesia pemegang ijin penangkaran harimau ini baru diberikan pada dua orang, saya dan seorang lainnya di Jakarta, seorang jendral. Syarat penangkaran adalah harus menyediakan lahan hutan alami untuk harimaunya dan tidak boleh dikurung " ... 

Bicara soal nilai kontrak yang diterimanya dari sebuah tv swasta Inggris, Gus Soleh tidak menyebutnya secara jelas tetapi konon dalam bilangan " M " . 
" Dulu saya tawar tawarkan secara gratis kepada beberapa stasiun tv lokal atau nasional, mereka menolak. Dan setelah saya mendapat kontrak dari Inggris ini mereka berdatangan dan berebut, tetapi saya tidak bisa memberikannya karena masih terikat kontrak ... ", jelas Gus Soleh.

Setelah Mulan saya jeprat jepret dalam berbagai pose, sayapun berpamitan karena mendung makin menebal. Sungguh saya bersyukur karena Mulan yang biasanya juga " kurang ramah " terhadap orang asing yang belum dikenalnya ternyata siang itu bahkan sama sekali tidak menatapkan matanya kepada saya alias lebih banyak menunduk, sehingga saya leluasa menjepretnya. 

Saya tinggalkan ponpes dan SMK Al Kaffah Kepanjen ini dengan bungkah harapan bahwa kedepan Al Kaffah akan menjadi trend-setter dalam kemitraannya dengan dunia industri yang mengentaskan begitu banyak tenaga2 terampil dibidang industri sekaligus mengurangi angka pengangguran ditanah air.

 Semoga !  TH )


Keterangan foto :   ( Photos by : TH ) :

01. Gus Soleh bersama Mulan.
02. Mulan.
03. Gus Soleh.
04. Mulan.
05. SMK Al Kaffah, Kepanjen.
06. Gus Soleh bersama Jamila, e.. Mulan.  

Selasa, 06 November 2012

Negeri Singa yang " Tidak Edan " ....


Berhubung penulis dari Malang, maka ketika menjejak kaki yang kesekian kalinya di negeri Singa, yang terlintas adalah kata Singo Edan meskipun tidak ada hubungan antara keduanya. Patung merlion yang separuh ikan dan separuh singa ini masih tegak berdiri di kawasan Marina Bay Sands dan menjadi ikon sejak berpuluh tahun dimana telah jutaan foto dan kamera mengabadikannya. 

Maka ketika seorang teman bertanya " mau belanja apa mbak di Singapura? ", saya ringan menjawab " tidak cari apa apa, cuma mau ke museum museum ". Jawaban ini sungguh tidak memuaskan, saya tahu, sebab museum umumnya bukan tujuan orang berwisata. Lha mengapa saya pilih? Saat itu, 7 ( tujuh ) museum di negeri mini ini sedang menggelar gawe besar " Singapore Arts Festival 2012 " , Puisi Puisi Yang Hilang ( Our Lost Poems ) dan ditangan saya ada setumpuk agenda padat dari ke 7 museum yang menggelar festival besar tahun 2012 ini. 

Maka tertebak sudah kearah mana tulisan ini dibuat yakni penjelajahan dari satu ke lain museum . Ini bukan perkara mudah untuk menyusunnya dalam satu tulisan menarik karena saya tidak akan bicara soal merk sepatu atau baju terkenal , juga  saya memang bukan ahlinya. 

Seminggu penuh setiap harinya saya punya bekal rutin ditangan, ada : peta, kamera, air mineral, dan sepotong sandwich yang selalu saya beli di kedai " 7.11 " yang tersebar diseantero stasiun MRT bawah tanah, alasannya : murah, bersih, enak, dan saya selalu pilih yang sama : tuna sandwich. 

Oya MRT itu angkotnya Singapur yang melayani transpotasi umum ( Mass Rapid Transit ) untuk warganya dengan kereta bawah tanah . Sistim pemetaannya sangatlah mudah dipahami bahkan untuk yang baru I kali memakainya, dikarenakan pengaturannya yang sedemikian rupa. Tiketnya? Terserah pada agenda anda, apakah kira2 kita berada disana untuk jangka pendek atau semi permanen  bahkan permanen. Sesuaikan saja lama tinggal kita dengan jenis tiketnya.

Misalnya untuk turis yang rata2 hanya tinggal selama 2-3 hari dapat membeli tiket turis berlangganan, dengan harga lebih murah dibanding yang membeli secara harian. Kita tidak harus menemukan loket karcisnya, karena sudah tersedia sejenis atm untuk membelinya dengan memasukkan uang kertas maupun logam dan bersiaplah menerima kembaliannya, mudah bukan?

Apakah anda lupa atau sengaja tidak menandai karcis di gerbang masuk MRT? Sebaiknya tidak coba coba karena negeri mini ini tersohor sebagai Fine City alias negeri denda yang konon menerapkan denda menendanya sangat ketat untuk berpuluh alasan. 

Sebut saja : kentut di lift, memberi makanan burung dijalanan, meludah dijalan, membuang sampah sembarangan, merokok sembarangan dll. Maka daripada puluhan dollar melayang untuk membayar denda lebih baik dipakai untuk oleh oleh yang dirumah hehe ..

Harga mamin sangatlah tergantung pada lokasi yang dipilih. Saya bahkan menemukan Smash Chicken alias ayam penyet yang penjualnya dari jawa tengah dengan harga terjangkau dan kedainya penuh sesak karena  sambalnya yang konon menggoyang lidah. Petualangan kuliner tidaklah harus mahal , banyak tempat tempat nyaman , murah dan enak serta tentu saja " halal " dimana orang harus cukup teliti agar tidak tercampur dengan yang  
" terlarang " .

Bagi yang benar benar ingin " menaklukkan " Singapur dari segala sisinya, baik kuliner, lokasi lokasi wisata baik night and day tour, pusat2 belanja, museum, petualangan2 alam dan artifisialnya, siap siaplah dengan agenda yang padat plus lembaran dollar Singapur yang tebal karena entrance fee yang tak terlalu murah. 

Seperti misal Universal Studio yang menjadi tujuan favorit para turis, pada hari biasa tiketnya adalah 74 SD/dewasa dan weekend 80 SD.Disarankan sebaiknya anda memilih paket tour dua hari untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata sekaligus, ini akan lebih hemat waktu dan biaya serta tenaga kecuali anda ingin tidak terikat jadwal.

O ya, mengunjungi 7 museum juga bukan hal mudah karena saya harus menghabiskan waktu seharian hanya untuk  dua museum. Bukan masalah jarak, melainkan " konten " festivalnya yang sarat pesan pesan universal. Semisal di Esplanade, saya masuk di museumnya  yang bicara soal bencana kelangkaan air dunia. Giris. Mengobrol dengan dua seniman disana, saya seolah dibawa ke sungai sungai di Vietnam dan Thailand tempat keduanya menggali inspirasi, dimana bencana mulai terasa mengancam manusia. 

Rasanya tidak ada lagi jarak bangsa, ras dan  keyakinan, karena ancaman ini bersifat global yang dapat terjadi dimana dan kapan saja tanpa memandang perbedaan yang ada. Saya tercenung.

" Cenungan cenungan " inilah yang membuat saya jadi ber lama lama ditiap museum.Di Art Museum dekat hotel saya di Bras Basah Road misalnya, saya melihat karya karya seniman Indonesia antara lain ada sketsa black-white dari Chairil Anwar dan RA Kartini yang ( maaf ) sedang merokok. Lho? Tapi seniman memang bebas ber ekspresi dan pesan yang hendak disampaikanpun harus dipahami agar tidak salah persepsi. 

Sementara itu dipojok lain saya melihat ada kendaraan Bajaj yang di beri mahkota wayang penuh ukiran terbuat dari logam dan karya ini diberinya judul " Bajaj Pasti Berlalu " ( generasi yang tidak mengenal album terkenal tahun 80 an " Badai Pasti Berlalu " Chrisye dan Berlian Hutauruk mungkin sulit memahaminya )

Malam hari ketika badan mulai terasa pegal tapi masih ada keinginan menengok Singapur sebelum dan setelah sunset, saya turun ke stasiun MRT terdekat mencari peta arah Marina Bay Sands sebagai pengganti GPS hehe .. 

MBS ini terkenal sebagai kawasan favorit warga lokal maupun turis yang ingin bersantai bersama keluarga . Lokasi ini termasuk tujuan wisata terbaru yang mampu mengubah wajah Singapura sepenuhnya menjadi lebih cantik jelita. Yang menjadi pusatnya adalah sebuah bangunan berbentuk 3 menara setinggi lebih dari 200 meter yang menyangga sebuah " kapal raksasa " dimana diatasnya terdapat hotel, pusat belanja dan lain lain.

Dari atas " kapal " inilah kita dapat saksikan Singapur hampir 360 derajat dan pengambilan foto sunset dari kamera saya menghasilkan gambar2 yang fantastis bukan karena kepiawaian saya melainkan secara alami sudah sangat luar biasa lighting yang disediakan alam. 



Puas menikmati dari atas, saya turun kelantai terbawah melihat atraksi favorit Water and Light Show atau Wonder Full yang full atraksi laser, searchlights, LEDs, video projectors dan layar air raksasa yang memantulkan efek luar biasa . Tontonan ini gratis , diudara terbuka dan tepat didepan teluk Marina dan gedung gedung pencakar langit . 

Dalam semalam ditampilkan dua kali show. Saya menelusup mencari tempat duduk paling strategis untuk memotret. Teknologi dan Art yang dipadu dalam sebuah karya memukau dengan latar belakang musik Wonderful World dari Louis Amstrong mampu membius penonton untuk sejenak terlempar kedunia lain, Wonderful World. Ah yaa, kalau saja dunia seindah yang digambarkan disitu, tidak ada peperangan dan bencana yang dibuat manusia ...

Masih tersisa waktu hingga 24.00, ada beberapa atraksi menarik lain  di lokasi yang sama. Rain Oculus di Waterfront Prominade karya Ned Kahn. Paduan karya arsitektur gelas kaca dan atraksi air ini sangat indah terutama disaat air yang ber gulung2 meluncur kebawah kearah  restoran yang ada dilantai bawah. 

Dan terakhir, saya habiskan waktu didepan stage dari tampilan kelompok jazz terkemuka Singapura yang malam itu menggelar show nya yang atraktif. Nomor nomor jazz klasik sampai yang modern diolah dalam  aransemen yang dinamik sampai tidak terasa dua jam berlalu cepat.


Tidak ada kekhawatiran berjalan dimalam hari dinegeri Singa ini, saya lihat bahkan masih banyak yang menikmati sisa malam di taman taman bersama teman dan keluarga. Sungguh berbeda dengan kota kota besar ditanah air yang seolah memiliki " jam malam " dengan berdenyutnya jantung lebih keras ketika terpaksa harus mengambil transpotasi umum dimalam hari meski itu taxi sekalipun, apalagi di Jakarta yang  pada akhirnya  paling  aman adalah memilih dirumah saja hehe ..

Hari hari berikutnya disamping museum2 , saya juga menfaatkannya ke tempat2 yang kurang terkenal  karena saya ingin melihat sisi lain Singapura seperti Kampung Arab , masjid masjid besar dll. Bertemu dengan orang orang yang sebelumnya tidak kita kenal dan  menginspirasi  kita dalam cara bagaimana mereka menapaki kesuksesannya, adalah selalu menarik.

" Saya imigran Itali, 20 th disini dan saat ini dipercaya sebagai salah satu direktur di museum ini " atau " Saya memulai bisnis dari berjualan pkl hingga memiliki restaurant sendiri seperti yang anda lihat " atau " Saya insinyur teknologi laser dan asisten manajer di sini " dst dst.. seperti membaca sebuah buku kehidupan yang tanpa akhir.



Menelusuri pasar tradisional semacam Bugis Street juga asyik karena diperlukan kepiawaian menawar dan rasanya orang indonesia termasuk jawaranya. Jadi perkara oleh oleh barangkali disini salah satu habitatnya.

Sebut saja di Singapura ada sekitar 200 an tempat tempat menarik untuk dikunjungi, tentu saya tidak akan membahasnya semua. Pada tulisan berikutnya barangkali bisa kita rampungkan negeri mini ini dalam beberapa 
hari lagi.

Terus terang saya salut dengan cara negeri ini menjual daya tariknya, sebab negeri yang dibangun sebagian diatas pasir yang diimpor ataupun mungkin dicuri dari tanah air kita ini sebenarnya " tidak ada apa apanya " dibanding Indonesia yang maha luas dan kaya dengan SDA ini, tapi kok pinter ya menarik investor dan turis? 

Contoh sederhana adalah New River yang sebetulnya dibanding Indonesia dengan Bengawan Solo atau Kapuas bisa lebih dahsyat membuat atraksi, tapi ternyata Singapura piawai menyulap sebuah sungai kecil menjadi kawasan wisata yang menarik terutama kuliner dan night-lifenya. 

Maka ber jalan2 kenegara tetangga memang bukan sekedar buang buang waktu atau bersantai, tetapi banyak hal yang dapat dipelajari sebagai pembanding dan pe motivasi.


Kangen durian sejenis petruk atau bangkok yang gede gede? Ayo ke Bugis Street atau es Turki yang gemerincing di New River? Negeri mini ini memiliki segalanya meski secuil2 . Mampukah kita meniru kecerdikannya? Benar benar negeri Singa ini memang " waras " alias tidak edan ... ( TH )

Keterangan foto  ( taken by TH ) :

01. Water  and Light Show, Marina Bay Sands.
02. Demo membuat dan memasak mie.
03. Mass Rapid Transit ( MRT ) diambil dari : Fitriya/detik.com
04. Kedai Duren, Bugis Street.
05. Salah satu lapak PKL.
06. Patung patung dipusat belanja Orchad Road.