Tampilkan postingan dengan label wisata-kebun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata-kebun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2013



 

 Durian .... Durian ....
( bukan  Duran ... Duran .... )


Sebenarnya ini masih lanjutan dari tulisan " Sup Kikil Sapi plus Tahu Gejrot " yang ada disebelah bawah dari tulisan ini. Kok ? Iya, sebab durian yang akan dikisahkan disini adalah bagian dari kebun milik kedai sup kikil.

Ketika saya menjepret view yang ada disebelah belakang kedai, mendadak saya ' dikagetkan ' oleh ' penampakan ' buah durian yang bergelantungan dipohon yang ada dihalaman kedai yang luas itu. " Iya, memang duriannya juga kami jual kalau ada pengunjung yang berminat ... " ... wow, siapa yang mampu menolak durian? 

Seorang ibu membawa galah ( tongkat panjang ) dan menjatuhkan beberapa durian yang sudah siap makan. Waa ... ini nilai plus buat kedai sup kikil, sebab kalau pengunjung sekaligus bisa menikmati durian secara ' live ' disitu, maka makan durian sambil menikmati view yang cantik disebelahnya, tentulah menjadi selling point tersendiri .... !

Se umur umur saya memang belum pernah mencoba memetik durian dari pohonnya, juga saya kurang ahli untuk mengetahui apakah sebuah durian sudah layak makan atau belum, paling paling hanya mampu melihat dari baunya yang khas, yang saya anggap layak makan bila sudah menebarkan pesona baunya yang justru bagi orang asing terutama bule konon memusingkan hehe ... ( sama halnya kalau kita membaui jenis keju tertentu yang sengaja dijamurkan, rasanya perut langsung mual he he ... ) ...

Naaa ... yang penasaran keduanya, ya sup kikil sapi ya metik dan menikmati durian secara " live " , silahkan langsung saja ke Mojorejo ....  !!   
( th ) 


Keterangan foto ( all taken by : th )

01. Durian yang siap dilahap !
02. Bergelantungan .... 
03. " kembar dempet " hehe ... 

Minggu, 10 Februari 2013





Ayooo ... Petik Apelmu Sendiri .... !!


Diseputar kota Batu, Malang, ada beberapa lokasi dimana kita bisa memetik apel sendiri langsung dari pohonnya. Salah satunya di Agro Wisata Batu, dan Junggo, tidak jauh dari tujuan wisata air panas Cangar. Saya tertarik membawa pembaca blog ini ketempat yang masih agak alami yaitu Junggo.

Tidak ada petunjuk yang mewah semacam baliho atau papan iklan, kecuali secarik kain polos putih yang diberi tulisan dari pylox " Wisata Petik Apel ", sudah begitu saja. Lokasinya adalah searah dengan wisata air panas Cangar di Batu, kalau dari Batu mereka ada disebelah kanan jalan. Saya.parkir ditempat yang juga tidak khusus, bahkan agak sulit sebab langsung dipinggir jalan raya yang agak sempit jadi harus mepet dengan gundukan tanah disitu. 


" Mau petik apel bu?" , sapa ramah seorang cowok diantara lima temannya yang ada disitu. " Iya, bagaimana aturannya?", tanya saya . " Tiap orang dikenakan biaya 15/lima belas ribu dan boleh makan apel didalam kebun sepuasnya. Tapi kalau apelnya dibawa pulang nanti akan ditimbang beratnya ... ".

Saya ambil kamera dan langsung mengikutinya masuk kedalam kebun yang siang itu agak mendung. Saya lihat beberapa pengunjung lain juga mulai berjalan menyusuri pohon pohon apel yang ada dikebun dan beberapa diantaranya asyik makan apel sambil sesekali jeprat jepret. 

Ke 5 cowok tadi ternyata adalah para guide kebun apel  yang memberikan penjelasan kepada masing masing tamunya mengenai jenis jenis apel, cara pemeliharaannya, saat panen, khasiat dll nya.

Mereka ini semacam kelompok Karang Taruna yang bekerjasama dengan para pemilik kebun apel untuk mengelola wisata petik apel. Sebuah sinergi yang cerdas mengingat banyak diantara pemilik kebun yang tidak menguasai manajemen wisata petik apel dan para pemuda didesanya inilah yang secara ' modern ' mempromosikan wisata petik apel ini hingga kepembuatan websitenya dll.

Guide saya mencarikan saya jenis apel yang konon paling enak meski tampilannya agak kurang menarik dan saya langsung mencicipinya disitu. Ada lima jenis apel disini, Anna, Manalagi, Green Apple, dan dua jenis lagi, saya lupa namanya. " Dulunya yang membawa bibit ini pertama kali kedaerah ini orang Belanda, terus menyebar keseluruh wilayah di Batu dan sekitarnya ... " , jelasnya meski tak disebut dengan jelas tahun dan tempatnya.

Mengetahui bahwa saya tidak banyak mencicipi apel langsung dikebunnya, maka saat pulang saya diberi satu kresek apel apel dari berbagai jenis yang tadi dipetiknya bersama saya. " Lho mas, ndak ditimbang?" , " Ngga usah bu, bonus he he ... " ... waaa, makasihhh .....




Dikebun tadi saya harus melewati semacam jalan setapak yang terus menanjak keatas kesebuah tanah tinggi atau bukit landai dan pemandangan dari situ kearah bawah sangatlah indah. Jarak satu pohon ke lainnya cukup berdekatan sehingga berjalan diantara pohon pohon apel ini membawa nostalgi tersendiri kemasa anak anak dimana pohon pohon begitu terasa tinggi diatas kepala ( lho kok jadi ingat lagunya Bee Gees " When I was small and Christmas trees were tall .... " dst he hehe ... )

Dengan 15.000,-/lima belas ribu rupiah, ternyata kegembiraan yang saya peroleh ' berpetualang ' diantara pohon pohon apel tidaklah sebanding, saya menemukan atmosfer yang menyenangkan yang mungkin ditempat lain harus membayarnya berlipat kali. 

Nah, bagi yang suka MOTS, Makan On The Spot, saya sarankan menemukan lokasi petik apel ini disebelah kanan jalan bila kita bepergian kearah Cangar dari kota Batu. 

Cukup melihat adanya spanduk dari kain putih yang sederhana bertuliskan "  Wisata Petik Apel " , dan ada sekumpulan cowok yang menjaganya, maka berarti kita sudah berada ditempat yang benar.

Ayooo ... kita petik sendiri apel nya !!!! ( th ) 

Keterangan foto ( all taken by : TH ) 

01. Red Apple
02. Kebon Apel
03. Guide Wisata Petik Apel
04. View dari kebon apel
05. Guide petik apel yang mendampingi saya   

Sabtu, 08 Mei 2010

" Wisata Agro Wonosari ", Tea -Tour




Kota Malang memang kaya dengan tempat tempat tujuan wisata. Mulai wisata bahari, wana-wisata, agro-wisata, wisata ritual, wisata budaya, dll. Kali ini saya ingin " mblusuk " ke kebun teh didaerah Lawang yang berjarak sekitar 23km dari Malang arah Surabaya. Nama desanya Wonosari, lewatnya dari jalan yang ada disebelah pasar Lawang.


Namanya saja agro-wisata, maka yang akan ditemui adalah kehijauan dan udara sejuk bersih, itu jaminannya. Nah .. setelah melewati tanjakan tanjakan yang terkadang cukup tajam, akhirnya sampai di kebun teh Wonosari. Kebetulan pas hari Jum'at sehingga banyak karyawan maupun petugas di kebun dan pabrik teh yang sedang istirahat menjelang shalat Jum'at, kecuali yang wanita.

Seluas mata memandang, pucuk pucuk daun teh lah yang terlihat bak karpet hijau yang menyejukkan mata dan hati. Kebetulan saya bertemu dengan beberapa wanita pemetik teh yang tampak bersemangat ketika saya ambil fotonya.


Perjalanan saya lanjutkan kearah pabrik teh yang berada ditengah kebun. Untuk melihat proses pelayuan daun teh sampai dengan pengemasannya, ternyata saya harus menunggu sampai jam 14.00 yang sayangnya saya harus sudah kembali ke Malang sebelum jam itu. Jadi cerita pabrik tehnya ditunda lain kali ya kalau kesana lagi hehe ..

Dikomplek ini juga ada wisma atau penginapan yang room-rate nya antara 160 ribu sampai 1,4 jt/ malam. Disediakan kolam renang, taman bermain anak anak, restaurant dll . Saat itu saya lihat banyak bus bus yang mengangkut rombongan siswa memenuhi halaman wisma dan para gurunya sibuk mengatur rombongannya. " Sering kok mbak seperti ini, acaranya di Malang tapi nginepnya disini.. ", kata seorang petugas. Cara cara berhemat seperti ini memang bermanfaat karena selain lebih murah para tamu wisma juga mendapat " bonus " pemandangan kebun dan udara yang bersih sejuk yang tidak ditemukan di tengah kota Malang ..


Dalam riwayatnya yang sudah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda, kebun ini ternyata masih menyisakan jejak jejak kecil mantan " boss " nya yakni beberapa coretan berbahasa Belanda yang dapat ditemui di beberapa lokasi sepanjang kebun teh arah pintu keluar. Yang pasti buat wisatawan Belanda, wisata kebun yang satu ini akan membangkitkan nostalgia jaman kolonial . 

Sungguh sebuah " peninggalan " yang patut dilestarikan karena ditengah pengabnya udara yang berasal dari knalpot knalpot kendaraan bermotor, kebun teh ini bagaikan sebuah oase dipadang pasir.


Nah .. bagi yang penasaran ingin tahu seberapa panjang perjalanan sebuah pucuk teh hingga bisa dinikmati dilidah kita sebagai minuman yang segar dan sehat, silahkan ke kebun teh Wonosari ini ... !!( th )

Keterangan foto dari atas kebawah : ( all taken by me )

01. Kebun Teh.
02. Gerbang masuk.
03. Pabrik Teh ditengah kebun teh.
04. Kebun Teh.
05. Jalan masuk kebun teh.
06. Seorang wanita pemetih teh menelusuri jalan dalam kebun.
07. Para wanita pemetik daun teh.
08. Seorang pemetik daun teh.
09. Salah satu tulisan peninggalan " jaman Londo ".


























Jumat, 07 Mei 2010

Paru Paru Kita : Kebon Raya Purwodadi Pasuruan
















Bicara tentang polusi, rasanya dunia semakin sesak dan pengab serta panas. Tiap detik kita dihantam oleh gas gas beracun dari kendaraan bermotor, industri, bahkan rumah tangga dll.
Mengungsi kemana agar paru paru kita bertahan lebih lama ? Salah satu tempat " mengungsi " yang semoga masih bisa dipertahankan dan tidak dijadikan mall adalah Kebon Raya. Kebon Raya
Purwodadi Pasuruan adalah tujuan kita, letaknya sekitar 25km dari kota Malang arah Surabaya.

Lega rasanya memasuki gerbangnya, asap asap kendaraan berganti dengan kicauan burung dan gemercik air sungai. Ini adalah sebuah kemewahan yang nyata. Mengitari Kebon Raya yang satu ini memang agak mMiringelelahkan kalau kita berjalan kaki karena luasnya. Kecuali memang diniatkan berolah raga membakar kalori. 

Jum'at menjelang saat sholat Jum'atan jam 09.30 saya sudah berada di sana, tetapi ternyata matahari sudah cukup terik dengan kelembaban yang lumayan tinggi. Huh .. ini ditengah Kebon Raya saja terasa " sumuk " ( gerah ) , lha bagaimana kalau berada ditengah kepadatan kota semacam Surabaya misalnya? Pemakaian AC di kendaraan itu saja menimbulkan dilema, dipasang itu berarti mempercepat bolongnya ozone, ngga dipasang berarti harus siap keringat berlelehan , atau baiknya membawa kipas sate saja ya ?

Akhirnya karena saya juga bertujuan untuk hunting jepretan, maka saya memutuskan keliling dengan kendaraan guna " mengejar matahari " yang masih cerah ( maklum, lighting andalannya masih alam he he ) . Ditengah kebon, malah ketemu tim prewed sepasang calon pengantin yang
sedang sibuk mengatur gaya dan busana serta make-up. Saya " menyusup " diantara tanaman dan pagar dan berhasil mengambil dua jepretan dari kesibukan crew prewed ini .

Hunting saya lanjutkan setelah beberapa jenis pohon serta akar akar pohon unik sudah saya jepreti dan sekarang menuju arah sungai yang ada disebelah belakang kebon raya ini. Waduh, kalau saja kota Malang tidak digunduli menjadi kota ruko, pasti hijau dan sejuknya seperti kebon raya ini, betapa cantiknya! Rasanya jadi ingin " leyeh leyeh " ( berbaring ) dirumput rumputnya,
apalagi suara serangga dan unggas seperti memanggil manggil untuk tidur dan mimpi ....

Jalanan yang lumayan terawat dan rindang menuju arah sungai akhirnya harus berakhir digerbang Wisata Gunung Baung yang memiliki air terjun terkenal. " Maaf bu, gerbang ini sekarang ditutup, untuk ke air terjunnya ibu harus keluar lagi kejalan raya lalu kekiri, nanti disana ada jalan menuju Gunung Baung dan air terjun itu. Kalau dulu sih memang bisa lewat sini, sekarang tidak lagi ... " , begitu penjelasan penjaga gerbang sewaktu saya ingin meneruskan perjalanan ke air terjunnya. Ya sudah, berarti harus dilanjutkan lain kali.

Saya menuju sungai terdekat yang memiliki jembatan gantung. Dari rapuhnya kayu kayu dijembatan gantung ini, saya perkirakan usianya sudah puluhan tahun bahkan bisa saja seabad lebih mengingat riwayat Kebon Raya nya yang juga sudah ada sejak jaman penjajahan dulu.
( maaf tidak sempat kekantor KR untuk mencari data riwayat KR )

Sungai ini konon " jatuh " dari air terjun yang di gunung Baung, arusnya lumayan deras meskipun terkadang bisa jauh lebih deras lagi pada musim atau saat tertentu. Itulah sebabnya dipasang papan peringatan agar pengunjung tidak mandi mandi disitu.

Ditengah KR ini juga ada camping-ground, lapangan sepakbola, kebon pisang, pusat konservasi flora, kompos, taman bougenville, dll. Juga ada taman kaktus yang dibuat seperti dipadang rumput atau sahara. Setelah tenggorokan terasa kering, saya memutuskan untuk ke kantin KR yang berlokasi didekat pintu masuk. Kantin ini lebih mirip pendopo dan dapat disewa untuk pertemuan dll. Menu yang ditawarkan di kantin ini beragam dan murah meriah, lumayan untuk bersantai sambil menikmati hijaunya pepohonan dan suara serangga atau unggas.

Ribuan jenis tanaman dan pohon yang ada di KR ini sudah tentu tidak sekedar ditanam, tetapi lebih dari itu adalah merupakan perwajahan miniatur kekayaan alam Indonesia di hutan hutan tropis kita yang jutaan HA luasnya. Pertanyaannya : mampukah kita merawat serta mengawalnya dari tangan tangan yang tidak bertanggung jawab agar kekayaan ini tidak semakin menipis dari menit ke menit dan supaya paru paru dunia tetap terjaga?

Sebuah perjalanan yang menyentakkan kita akan mahalnya arti dan nilai sebatang pohon bagi
kelanjutan kehidupan dan  peradaban umat manusia.

( Photos by : Titiek Hariati )

Keterangan foto dari atas kebawah :

01. Gerbang masuk Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Malang.
02. Salah satu jalan yang ada di KRP.
03. Kantin tempat pengunjung bersantai didalam KRP.
04. Papan Larangan.
05. Jembatan Gantung diatas sungai Baung didalam KRP.
06. Sungai Baung.
07. Bertemu dengan sebuah tim pre-wed di taman bougenville, KRP, tampak calon pengantin
berbaring ditanah sementara yang berkaos merah adalah lighting-crew dan camera-man
tampak memanjat jeruji besi tanaman bougenville diatas calon pengantinnya ( lihat kakinya yang menggantung ! ) .
08. Sepasang mudamudi yang sedang asyik ditengah KRP.
09. Penunjuk jalan didalam KRP.
10. Jalan didalam KRP kearah sungai Baung.
11. Taman kaktus.
12. Akar akar yang saling berkait.
13. Salah satu kolam dalam KRP.