Tampilkan postingan dengan label Wana Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wana Wisata. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2013






 .. " menyerah di 100 meter, Sumber Pitu  " ..


Sumber Pitu atau S7 ini terletak didesa Duwet Krajan, Tumpang, searah dengan lokasi menuju air terjun Coban Pelangi dikawasan TNBT, tetapi dari kota Malang lebih dekat. disebut Sumber Pitu/S7 karena disitu memang ada 7/tujuh sumber atau mata air
 plus satu lagi yang terbesar dan tertinggi.

 naaa ... ada beberapa jalan menuju ke S7 ini, ada yang terdekat dan terjauh. kemarin saya rupanya sedikit " tersesat " kearah yang terjauh, meskipun tidak salah tapi berjalan kakinya lumayan " gempor " dan dikawal oleh duo guide siswa SMP yang sedang liburan, mereka    menawarkan diri untuk menunjukkan tempat S7.  





 konon lokasi S7 dari tempat kami bertemu didesa duwetKrajan, hanya sekitar 3,5 km kearah bawah jalan raya yang cukup meliuk dan curam. untung udara cerah jadi tak ada kekhawatiran jalanan tanah ini bakal becek dan licin. setelah berjalan naik turun dengan jurang disebelah kanan kadang ganti kiri, disebuah penghentian atau persimpangan kami bertemu Mbah Karyo yang mengaku sebagai " penjaga " area. terjadi dialog begini:
( langsung saya terjemahkan ya dari bahasa Jawa ke Indonesia )

mbah Karyo @ : dari mana, mau kemana?
saya# : dari Malang mbah, mau ke sumber
@ : oo .. ini ( menunjuk uang 5 ribuan didekatnya ) bukan dari saya lo, ini dari tamu tamu, saya tak bermaksud minta lo. cuma saya mau kasi penjelasan saja bahwa disini ini ada dua jalan menuju S7. ke kanan ( tangannya menunjuk arah kanan ) itu yang terpendek dan tercepat.

tapi saya tidak menyarankannya ambil jalan itu, 
kalau terjadi sesuatu maka saya tidak mau terlibat libat. kalau yang lewat kiri ( tangannya menunjuk arah kiri ) saya menjamin aman aman saja tapi memang agak jauh dan memutar. kalau perlu saya antarkan tapi tolong ditunggu dulu saya mau pakai kaos kaki dan sepatu
 ( sepatunya mirip sepatu serdadu dan terlihat berat o la la  dan dengan usianya yang saya perkirakan 70 an saya khawatir terlalu berat buatnya dengan medan seperti itu. tapi saya bisa saja sangat keliru sebab mbah Karyo yang asli desa itu pastinya sudah sangat familiar dengan lingkungannya ).




 setelah berunding sebentar dengan dua guide saya, kami putuskan ambil jalan yang kiri meski sangat melelahkan karena berputar, melingkar dan naik turun kearah S7 dengan jarak sekitar 4km. padahal lewat kanan tadi, kita sudah bisa langsung turun ke S7 dengan melalui tangga bambu dengan jumlah sekitar 100 anak tangga.

ya sudah nggapapa sekalian pengenalan pada alam sekitar yang memang sangat luar biasa view nya dengan ketinggian diatas sungai yang " tak tampak permukaannya dan hanya terdengar gemuruhnya " saking dalamnya jurang yang ada. saya berharap bertemu binatang tertentu tetapi sia sia, yang saya temui hany seekor tupai di batang batang tanaman tomat dan berbagai jenis burung dipohon pohon. monyet, babi hutan atau ular juga tak nampak. mungkin habitatnya sudah banyak terampas manusia, jadi mereka menyingkir.

disepanjang jalan turun naik kearah Sumber Pitu/S7 ini banyak ditemui pipa pipa karet yang jumlahnya cukup banyak dengan bobot masing masing sekitar 300 an kg dan perlu sekitar 8/ delapan pria untuk mengangkatnya. saya heran, betapa sulitnya mereka harus mengangkatnya dengan medan naik turun dan licin serta sempit seperti ini untuk  nantinya pipa pipa ini dipasang sebagai saluran air dari Sumber 7 ke kota Tumpang atau bahkan mungkin sampai Malang.

dan setelah kaki lumayan pegel linu, akhirnya kami tiba di S7 yang siang itu dipenuhi para tukang bangunan yang sedang membuat kerangka beton untuk bendungan air dari S7. saya sangat menyayangkan pembangunan yang merusak perwajahan cantik dari S7 ini tetapi mengingat manfaatnya untuk orang banyak, sayapun mencoba memaklumi.

S7 sesuai namanya, adalah tujuh sumber air yang letaknya berderet dan disebelahnya ada satu air terjun yang jauh lebih tinggi dan besar serta deras airnya. sementara guide saya bermain air ( maklum anak anak hehe ... ) saya jeprat jepret sepuasnya . 

sebenarnya perut mulai ngga keruan bunyinya, tapi jangan berharap keajaiban sebab di lokasi ini tidak ada seekor kedai atau warungpun yang berjualan, padahal saya sudah kadung tidak membekal apa apa kecuali botol kecil air mineral.saya berikan botol mini itu pada kedua guide saya sebab saya lihat mereka juga haus setelah berjalan cukup jauh dan terik. 
tapi saya malu saat mereka menjawab " ndak usah bu, kami minum dari sumber .... " iya , saya lupa bahwa air disitu adalah langsung dari alam dan superjernih .. 

puas menikmati udara dan air bersih serta view yang begitu cantik serta jeprat jepret, sayapun berunding dengan dua guide itu untuk pulang dengan mengambil rute tangga yang saat berangkat tadi saya hindari karena senyatanya saya ini phobia ketinggian hehe ..
" ndakpapa bu, kita naik bareng bareng, pelan pelan ... " 
( oalaaa nakkkk, ini bukan soal pelannya tapi tingginya itu loooo ... ) . dari bawah saya lihat tangga keatas itu berkelok kelok.
 saya agak lega sebab ketinggian itu mungkin tidak akan terlalu " terasa " .






saya mulai memanjat keatas dan selamat hingga tangga berkelok yang terakhir. tersisa adalah sekitar 20 anak tangga terakhir yang alamakkkkk : 
Tegak Lurus 90* ( Sembilan Puluh Derajat ! ) ...... !! 

 saya berhenti sejenak dibawahnya. adrenalin saya terpompa dengan deras, saya harus putuskan : terus naik tegak lurus keatas, atau kembali kebawah. dua duanya sama tidak enaknya, 
sebab saya sudah kadung diketinggian sekitar 100 meter dari permukaan air terjun yang bergemuruh dibawah saya, aduhhh ... 20 anak tangga yang tegak lurus akan mengakhiri keringat dingin saya, ayooo teruskan !

 akhirnya dengan mengucap " bismillah " kaki saya injakkan tegak lurus, hingga anak tangga ke 4 dan secara tak sengaja saya menengok kebawah, ini kesalahan terbesar saya!!
" ayooo buu, sedikit lagi, bagusss ... " teriakan guide guide saya memberi semangat karena melihat saya berhenti ditangga ke 4. entah setan dari mana yang tiba tiba saja membuat saya seperti mual dan saya urungkan menginjak anak tangga ke 5 .... 

saya menyerah, dan memilih kembali menuruni anak tangga yang berkelok kelok tadi meski saat turun terasa lebih serem daripada saat naiknya tadi. apa boleh buat, 
saya tidak mau memaksakan diri meski tersisa tinggal beberapa anak tangga, tapi phobia ketinggian sudah menyergap lebih dulu sehingga saya khawatir saya akan kehilangan keseimbangan 100 meter diatas air ..
( saya pasti ditertawakan oleh anak anak desa disitu yang tiap saat bermain main ditangga itu )

akahirnya saya harus mengulang kembali perjalanan panjang seperti saat berangkatnya tadi, naik turun dan berkelok, tetapi saya ikhlas hehe ..

 sebuah pelajaran berharga saya peroleh bahwa ada saat dimana kita melawan rasa takut dengan menghadapi langsung apa yang menjadi sumber ketakutan itu ,
 tetapi juga ada ketika  lain dimana kita justru menghindarinya meski yang terakhir ini terdengarnya seperti " pecundang " dan saya ternyata salah satunya karena saya menghindari sumber ketakutan itu ! entah lain kali apakah saya akan mampu, hanya waktu yang akan menjawabnya .... 

" Sumber Pitu, beri aku sedikit waktu mengatasi ketakutan ketinggianku  ...... " ( th ) 

( keterangan foto, all taken by : th )

01. arah petunjuk S7
02. "tetangga dekat " S7
03. " laskar pelangi " di desa S7
04. sumber pitu
05. S7 dari sudut lain
06. pengunjung S7
07. mbah Karyo dan salah 1 guide
08. bendungan dalam pembangunan
09. " tetangga dekat " S7
10. pipa pipa saluran air S7
11. menjulang diatas gemuruh S7 ...

Jumat, 28 Desember 2012



Segara Anakan, Sempu, " tersesat " di pesonamu ..

Hari ini, Sabtu 29 Desember 2012 pagi, saya membaca koran tentang berita hilangnya atau tersesatnya pasutri Bandung di pulau Sempu, Malang Selatan, sejak tiga malam ini ( mudah mudahan saat saya mengetik ini mereka sudah diketemukan tim SAR dengan selamat ! ) . Sekedar pengingat bagi yang belum pernah menjejak kaki disana, Pulau Sempu terletak di seberang Sendang Biru, sekitar 80 km selatan kota Malang arah Sumber Manjing Wetan.

Saya juga bukan ahlinya alam bebas, tetapi pengalaman 3x ke Segara Anakan mungkin bisa sedikit menambah informasi bagi yang sama sekali belum pernah kesana. Yang pertama yakni saat mengantar anak anak saya yang saat itu masih SMA bersama teman temannya yang mau camping di Sempu. 

Kebetulan masih pakai jeep, jadi masih bisa untuk tanjakan dengan beban lumayan berat. Penumpang berjumlah 9/sembilan orang, cowok semua, didepan tiga orang. Saya sebagai pengemudi yang satu satunya wanita, dan disebelah saya adalah bapak guru kesenian mereka ( maaf pak, saya lupa namanya ). 



Cara menyetir saya agak tidak normal, karena muatan kepenuhan, jadi  miring miring karena kursi pengemudi terisi sebagian oleh penumpang hehe ... Didalam jeep ada tenda dan semua perlengkapan camping. Naik tanjakan pertama yakni di Pletes, sebetulnya penumpang mulai khawatir jeep " mlorot " karena beban berat. 

Tetapi untunglah berkat doa semuanya, jurang demi jurang terlampui dengan aman dan namanya saja anak anak remaja jadi mereka malah haha hihi tiap kali melewati tikungan tikungan tajam oalaaa ...

Sampai di Sendang Biru, disambung menyeberang ke pulau Sempu yang sebetulnya hanya sekitar 60an meter, langsung ke Teluk Semut. Disini memang medannya berlumpur, jadi disarankan memakai sepatu bergigi atau bot, sebab kalau sepatu cats akan ambles dan tertinggal malahan didalam lumpur ... ! 




Yang dituju di pulau ini adalah sebuah kawasan " laut terkurung " atau semacam danau atau laguna yang dikenal dengan Segara Anakan. Warna airnya yang hijau kebiruan, ditambah hutan yang mengelilinginya plus dinding dinding karang yng menjadi perisainya dari hempasan ombak Samodra Hindia adalah bagian dari kecantikannya yang luar biasa ditambah pasirnya yang berkilauan!

Mencapainya dari tempat pendaratan di Teluk Semut tadi adalah sekitar satu jam dengan berjalan kaki memasuki rimba Sempu. Ada jalan setapak yang menandai adanya jejak jejak sebelum kita, dan sebaiknya tidak melewati atau membuat jalan setapak sendiri meskipun jarak ke Segara Anakan tidak jauh lagi. 

Di pulau Sempu ini masih bisa diketemukan jenis jenis Macan Tutul dan Macan Kumbang plus satwa satwa lainnya yang kesemuanya berada dalam lindungan Balai Konservasi Sumberdaya Alam/ BKSDA Propinsi Jatim.

Juga kita bisa temukan hutan mangrove yang merupakan bagian dari hutan tropis disitu. Keunikan lain dari Segara Anakan adalah adanya karang berlobang cukup besar dimana air laut dari Samodra Hindia masuk kedalam Segara Anakan . Keluar masuknya air laut ini menjadi salah satu ikon pulau Sempu. 

Pasir berliannya yang kemilau juga merupakan daya tarik luar biasa. Bagi yang camping disini, dimohon tentu saja untuk ikut memelihara dan merawat kecantikannya dengan membersihkan sisa sisa camping secara layak, juga bagi pengunjung pengunjung yang tidak bermalam di Sempu.

Bila menginginkan mengelilingi pulau Sempu dengan berjalan kaki, akan memakan waktu sekitar 2x24 jam  . Sebenarnya kalau bertemu dengan nelayan " nekad " yang berani menantang adrenalin, perahu dari Sendang Biru bisa saja didaratkan di Long Beach, tetapi umumnya mereka berkilah bahwa ombak terlalu besar.

Ada juga Telaga Lele dipulau ini yang kaya air tawar, sehingga para satwa banyak yang meng klaimnya sebagai wilayah mereka terutama hewan hewan besar atau buas. Maka bila ingin kesana sebaiknya memakai jasa gui

Dari sedikit pengalaman ini, dimana dua yang lain tidak perlu saya kisahkan karena tidak menginap, saya dapat sedikit membagi tips bagi " pemula " yang ingin mencoba alam pulau Sempu :




01. Daftarkan nama, alamat dll ke polisi hutan atau petugas setempat sebelum
       memasuki pulau, untuk memudahkan pencarian disaat darurat, terutama 
       no HP meski mungkin sinyal lemah.
02. Bila ragu ragu mintalah jasa guide dari penduduk lokal.
03. Pastikan no HP pemilik perahu yang mengantar kita ke pulau Sempu.
04. Sepatu bot atau yang bergigi adalah lebih pas.
05. Dalam musim hujan siapkan : jaket, jas hujan, topi atau sarung tangan dan 
       kaos kaki meski hanya untuk berjaga jaga ataupun tidak menginap.
06. Air tawar yang cukup, korek api, garam, senter plus makanan kering spt
       cabin dll yang ringan namun cukup bisa mengganjal perut dan pisau atau
       sajam lainnya yang meski tidak besar tetapi cukup multiguna.
07. Ikuti saja jalan setapak yang sudah ada, jangan mencoba membuat jalur 
       sendiri dan apabila ada persimpangan yang membingungkan sebaiknya
       memeriksa tanda tanda yang lebih spesifik seperti patahnya ranting, jejak kaki dll 
       yang lebih menandai adanya pengunjung sebelumnya.

Apabila " terlanjur " tersesat, serta terpaksa bermalam di hutan yang masih penuh satwa baik jinak maupun buas, memang akan cukup sukit bagi pemula.Carilah tempat yang lebih terbuka agar pemandangan tidak terhalang dan membuat api unggun serta mencari tempat tinggi untuk tidur. Segera hubungi petugas hutan atau kerabat dan garam sebagai penolak ular akan sangat berguna.

Tentu tidak ada yang ingin tersesat. Maka dalam kehidupan yang serba mungkin ini dimana manusia tidak mampu melihat nasibnya kedepan, disarankan agar anda selalu dalam keadaan " siap untuk tersesat " dengan minimal membawa apa apa yang akan mampu menopang hidup kita beberapa hari dihutan sebelum kita diketemukan tim SAR . Sungguh sedia payung sebelum hujan adalah yang terbaik.

Semoga saudara saudara kita yang masih belum diketemukan segera akan bisa kembali ketengah keluarganya dan anda yang penasaran ingin mencoba Pulau Sempu dan Segara Anakan bergegaslah mumpung Pulau Sempu belum tertutup sepenuhnya untuk wisata , atau sudah? ( TH )

Keterangan foto : 

( semuanya diambil dari google , saya belum menemukan foto foto lama dari rombongan anak anak diatas ) :

01. Segara Anakan , laguna yang penuh pesona !
02. Segara Anakan dilihat dari sudut berbeda.
03. Karang berlobang tempat keluar masuknya air dari samodra  Hindia ke
       Segara Anakan.
04. Samodra Hindia yang ada dibalik karang Segara Anakan.   

TAMBAHAN, 30 Desember 2012 pagi :

Selamat !! Pasutri ybs telah diketemukan dalam keadaan selamat oleh tim SAR. Beruntung bahwa Reginald ternyata mantan anggota Perhimpunan Penempuh Rimba Dan Pendaki Gunung Wanadri Bandung dan istrinya ahli dibidang biologi, sebuah blessing in disguise bagi keduanya ! 

Satu hal sesuai pengakuan Reginald bahwa diawalnya ybs merasa " arogan " dengan 
" kecilnya " pulau Sempu yang menurutnya mudah ditaklukkan. Tuhan Maha Mengetahui, maka kerendahan hati menghadapi besarnya alam semesta ciptaanNYA, adalah bekal paling berharga . Bak setitik debu bahkan lebih kecil dari itu, kita adalah manusia yang tanpa daya dihadapanNYA. Demikian dan sekali lagi selamat kepada pasutri yang paham how to survive di belantara rimba ini !
          

Minggu, 06 Juni 2010

Mencari Sisa Jejak Sang Raja, 06 Juni 2010


































Ketika I kali tawaran itu datang, saya sempat resah antara ya dan tidak. Ya, karena saya penyuka alam bebas dan traveling. Tidak, karena tawarannya adalah untuk " menjenguk " keberadaan sang raja rimba disebuah kawasan hutan Malang Selatan. Ini bukan Taman Safari yang bernyaman nyaman dalam mobil ber AC sambil melewati binatang binatang jinak sampai buas. 

Bahkan saya di wanti wanti : " Mbak, mending pakai sepatu bot ya dan tepat waktu supaya tidak kehilangan momen mereka sedang berjemur .... " ... Waduh, membayangkannya saja sudah mules, saya tidak menjawab karena saya sedang ber imajinasi kira kira bagaimana kalau tiba tiba saja saya memergokinya dialam bebas ..

Sempat tertunda 3X karena cuaca kurang bersahabat, akhirnya tanggal 06 Juni 2010 kemarin rombongan kecil kami berangkat kearah Malang Selatan, tepatnya desa Sumber Manjing Wetan yang notabene merupakan kampung halaman saya juga. Ternyata ada 2/dua tambahan anggota kami yang hebatnya masih anak anak, yakni Bram 12 tahun dan Sheila 13 tahun, putra/i dari mas Pras inisiator dari tur kami kali ini. Maka diam diam saya harus malu sebab anak anak ini dengan cerianya memasuki kawasan hutan liar he he ... Sebuah edukasi positip untuk memperkenalkan sejak dini anak anak kepada alam bebas !

Rombongan berdoa dan berfoto bersama sebelum memulai berjalan. Ada pak Jui sebagai guide kami, ada pak Bawon yang bertugas memanggul senapan ( Sungguh bukan untuk ber gagah2 tapi konon ber jaga jaga lo....? Meskipun dijelaskan bahwa itu cuma senapan untuk tupai ... ? )
terus ada mas Pras yang mengundang saya untuk tur ini, ada Bram dan  Sheila putra/inya, ada
pak Ed yang membawa perlengkapan, ada pak Totok yang sibuk juga dengan kameranya, dan terakhir saya sendiri. 

Jumlah kami 8 orang sesuai " syarat " yang diminta guide agar jumlahnya genap. Ya nurut saja sebab masalah masalah diluar nalar seperti ini sebaiknya tidak terlalu diributkan karena saya tokh memang awam.

Rombongan berpindah ke dua mobil khusus yang sudah disiapkan menuju kawasan hutan Pletes. Jalan menanjak dan berbatu batu kapur membuat guncangan guncangan yang lumayan keras . Akhirnya dari sebuah titik didesa perbatasan, kami semua mulai berjalan kaki kedalam hutan. Jalanan semakin menyempit dan terjal sampai akhirnya :

" Mohon tidak ada yang guyon guyon ( becanda ) dan sebisanya jangan menginjak ranting ranting ... " , aduh.. hampir sulit lha wong jalanan kita senantiasa dihadang semak belukar. Dua sajam yang dibawa , mulai beraksi membuka jalan bagi rombongan.

Jalanan yang semula setapak tiba tiba menjadi setengah tapak alias makin menyempit, licin dan jangan coba coba lengah karena disebelah kiri kami langsung menganga jurang sedalam ratusan meter.

Rombongan menjadi hening, semua fokus dengan tapak kaki masing masing. Sesekali saling DB ( Dorong Pantat , maaf .. ) karena jalanan yang sungguh diluar perkiraan saya ternyata sangat licin dan terjal. Naik dan terus naik, sampai sampai jantung serasa mau copot sebab selain sempit juga jurang disebelah kiri kami itu seolah mengganggu konsentrasi ..

Tiba tiba kami bersua dengan sekitar 5 wanita " perkasa " pencari kayu bakar, yang konon tiap harinya harus naik turun gunung hanya untuk mendapatkan seribu ( ! ) rupiah untuk seikat kayunya, dan tiap hari setidaknya mereka mampu mengumpulkan 5 ikat kayu. Kembali saya malu, bahwa untuk sebuah tur seperti ini saya banyak mengeluh padahal wanita wanita ini menjadikan rute tur saya ini sebagai lahan mencari nafkahnya .. Ya ALLAH, ampuni hambaMU ini ..
Salah satu dari mereka, mbok Tuma, saya ajak ikut dalam rombongan karena ybs terlihat sangat menguasai peta disini. Dan sebagai " guide tambahan " mbok Tuma ini sangat memotivasi saya sepanjang perjalanan untuk menaklukkan kesulitan2 dialam liar ( bayangkan, mbok Tuma berjalan tanpa alas kaki ! ) . 

Dengan bahasa Maduranya yang khas, mbok Tuma malah menjadi penghibur rombongan dengan ceritanya yang aneh aneh dan lucu meskipun diam diam saya membatin kok jumlah kami menjadi ganjil, apa tidak menyalahi petunjuk si guide tadi he he ...

Ada beberapa lokasi goa yang diperkirakan dihuni si raja rimba yang belakangan ini ditandai penduduk karena beberapa kali mereka turun ke desa memangsa ternak. Yang terdekat dengan kami saat itu langsung kami datangi setelah berjalan hampir 1,5 jam dalam terik matahari dan belukar serta terjalnya jurang. Goa ini relatip agak kecil, kami tidak bisa datang bersamaan tetapi harus satu persatu melihatnya kalau tidak ingin terperosok ke jurang.

Susah payah mengambil sudut pengambilan gambar yang baik, sia sia, sebab posisi tidak memungkinkan, inipun saya sudah bersandar pada ranting2 pohon yang menahan berat tubuh saya .. Ternyata lobang goa sudah ditutup bebatuan yang oleh penduduk dimaksudkan agar si raja rimba tidak bisa masuk lagi, atau ini " balas dendam " penduduk atas kematian ternak ternaknya?

Setelah itu pak Jui kembali memimpin rombongan ke goa yang lain yang ternyata lokasinya lebih diatas lagi. Sisa sisa tenaga dipakai untuk memanjat tebing lebih tinggi dengan lebar jalan setapakyang hanya sekitar 25 cm saja dan mengandalkan tanaman2 kecil sebagai pegangan. Keringat mengucur bukan karena panas matahari, tapi lebih karena nervous he he...

Rombongan sempat berhenti untuk istirahat disebuah tambang batu kapur yang sedang kosong kecuali ada satu pekerjanya yang ditunggui oleh istri dan anaknya yang masih balita serta anjing mereka. Lagi lagi saya mendapat pelajaran berharga betapa kebahagiaan itu tidak semata diukur oleh materi. Keluarga ini contohnya, begitu " ayem tentrem " meski penghasilan sang ayah tidaklah seberapa dibanding kerja kerasnya dan anaknya juga terlihat ceria bermain di alam bebas tanpa rasa kuatir ...Disana kami sempat foto foto sebelum melanjutkan langkah ke goa yang dituju.

Ketika akhirnya kami berjalan lagi dan sudah sekitar 30 menit arah vertical ( ! ) sambil membuka belukar, tiba tiba rombongan mencium bau yang lain ... orang Jawa menyebutnya bau " lengur " 
( antara amis dan bau kecut atau juga kotoran ) . Guide minta kami berhenti disitu dan sendirian dia menerobos belukar kearah goa. Tegang menunggu, akhirnya pak Jui muncul lagi dan mengatakan bahwa kami boleh naik tapi satu satu dan jangan berisik. Perut saya kembali mules, ini lah yang dicari atau ...?

Tak ada yang mencoba bertanya, sebab sudah keburu ingin tahu dan mematuhi pesan agar tidak banyak bicara dulu, iya iya pak Jui ... Dan sekitar 10 menit menerobos belukar serta ranting ranting , pak Jui yang berjalan paling depan memberikan pemandangan spektakuler :
G O A   M A C A N lengkap dengan bekas telapak sang raja rimba ...!! Saya terkesiap dan siap siap mundur .... Dan akhirnya para prialah yang terlebih dulu berjalan kearah mulut goa...

Anak anak dan mbok Tuma tidak diijinkan ikut ke goa, demi keamanan. Lo lha kok malah saya yang dipanggil pak Jui? " Lha mbak kan datang jauh jauh kesini katanya mau motrek ? ... ", aduh iya, malu, sampai lupa tujuan semula saking surprise dan takutnya ... Agak tergesa gesa saya prat pret disitu, padahal mas Pras, pakEd , pak Tok, mas Bawon serta pak Jui tampak santai meski tetap waspada sebab pak Jui meyakinkan kami bahwa tadi sempat terlihat sejenak ekornya ... ! Aduh amit amit batin saya .....

Terjadi perdebatan, ketika mas Pras berkeras ingin mengambil gambar gambar lebih masuk ke goa yang tinggi dan lebarnya 2x ruang kelas sekolah ini. Sebagian besar rombongan mencegah, saya mengingatkan agar tidak masuk sebab sangat jelas bekas tapak kaki sang raja mengarah kedalam goa .. Goa ini memiliki bilik bilik yang cukup unik, sehingga tidak akan pernah ada yang tahu sang raja saat itu berada dibilik yang mana, salah masuk bisa mengundang bencana...

Kami sepakat untuk segera turun demi alasan keamanan, dan dengan kaki lemas karena nervous saya bergegas turun dengan cara mbrosot/ setengah meluncurkan diri supaya lebih cepat. Jujur saya tidak mau tahu apakah didalam goa tadi sang raja masih ada atau sudah raib lewat jalan jalan tikusnya, tapi yang penting saya sudah merasakan " sentuhannya yang begitu dekat " melebihi yang saya harapkan dan itu sudah cukup, saya tidak mau takabur, sungguh saya tidak berkemampuan untuk memergokinya .... ini bukan Taman Safari...!!

Rupanya Tuhan masih ingin menghadiahi rombongan kami dengan bonus kecil. Saya terpekik 
( senang dan senep campur baur ) ketika dalam perjalanan kembali ke hutan perbatasan desa, rombongan menemukan jejak jejak sang raja disebuah tanah datar ditepi jurang yang berjarak sekitar 300 meter dari goa tadi... Tampaknya, Sang Raja sedang " berinspeksi " diwilayahnya .

Saya tidak buang waktu untuk prat pret begitu juga anggota rombongan lainnya. Saya bersyukur kehadapanNYA bahwa saya masih diperkenankan menikmati sisi lain dari private-life sang raja yang suasana dan ketegangannya tidak akan pernah saya temukan dimanapun. Mungkin rombongan ini sedikit mengganggu ketenangannya, tetapi kami tidak bermaksud lebih dari sekedar ingin merasakan atmosphere didekat sang raja ...

Mas Pras yang tampak masih sangat penasaran, akhirnya membuat kesepakatan lain dengan beberapa anggota rombongan untuk " mengundang " kehadiran sang raja melalui kegiatan
api unggun. Lho saya heran, maksudnya bagaimana ? Pak Jui yang lebih memahami kebiasaan2 sang raja menimpali : " Iya, si mbah ( maksudnya harimau ) itu senang dengan bekas api unggun yang ditinggalkan manusia, asalkan jangan pernah mengganggu apalagi mengambil anaknya yang kelihatan mendekat ke bekas api unggun ... ", ooooo.. gitu.... Apakah saya masih mau bergabung dalam program api unggun ini, entahlah ...

Dalam perjalanan pulang kami melewati sungai sungai tadah hujan yang tampak mulai mengering, juga hutan bambu favorit sang raja, dan sudah tentu jurang jurang. Kaki mulai terasa berat, badan pegel pegel, dan haus. Seluruh cadangan air minum nyaris habis dan pelan pelan perutpun mulai nge jazz.

Tiba tiba disebelah kiri kami, disisi tebing, Bram yang merupakan anggota rombongan termuda berteriak : " Ada ularrrr ... ! " .. spontan rombongan berhenti dan bergantian melongok kedalam sebuah lobang di tebing. Ternyata benar ! Tampak sebagian badannya yang berkilau dalam kegelapan lobang. Sesuai komitmen awal untuk tidak mengusik satwa apapun yang ditemui maka kami tinggalkan ular dalam lobang tadi . 

Beberapa lobang lain yang berpotensi dihuni ular didalamnya masih kami temui sesudahnya. Oya catatan kecil dengan Bram yang pemberani ini, beberapa kali kakinya terkena kram diperjalanan, untungnya masih tetap semangat untuk terus mengikuti hingga akhir tur.

Lagi lagi saya sempat bersyukur karena kami diberi kesempatan bertemu satwa satwa liar yang ada. Apalagi disepanjang perjalanan, kami sering melihat dan mendengar berbagai jenis ayam hutan dan burung burung yang langka. Sayangnya rusa yang diperkirakan masih ada tidak sempat ditemui. Rombongan sepakat untuk makan siang di warung " SEMPU " yang juga masih milik salah satu kerabat setelah sebelumnya berpisah dengan mbok Tuma dan keluarganya dibatas desa. Mobil berjalan sekitar 3km kearah warung yang dimaksud.

Pecel lele, gurami goreng, tempe penyet, sambel & lalapan, jangan/ kuah asem, cah kangkung dan es teh serta nasi panas dua bakul. Hm .. rombongan sudah " lupa daratan & lautan " , kami menyerbu hidangan sampai semuanya ludes sekaligus melenyapkan ketegangan... Makan siang diakhiri dengan foto bersama si empunya warung yang masih keponakan sendiri sebelum perjalanan dilanjutkan kerumah mas Pras untuk melihat budidaya bekicot. Bekicot bekicot ini secara berkala dikirim ke Surabaya untuk kripik dan lain lain.

Puas berkeliling serta " meeting kilat " soal rencana rencana proyek di lingkar Selatan Malang, saya akhirnya benar benar menuju arah Malang melewati jurang Pletes ( lagi ) . Lho kok ? Iya, tadi rombongan kami sebenarnya berjalan dibalik dari gunung dan jurang Pletes yang saya lewati dengan mobil ini. Dan sekarang saya jadi sadar bahwa apa yang sering kita saksikan dari balik kaca mobil itu sebenarnya tidak sedahsyat kenyataannya. Saya sungguh bersyukur pernah berkesempatan menikmatinya meski disertai ketegangan ...

( Oya sekedar catatan kecil, dalam rute pulang kearah Malang ini saya menghindari rute stadion Kanjuruhan yang pada sore dan malam yang sama sedang ada laga Pesta Bintang, AREMA vs Para Bintang Bola Indonesia 2010. Sekaligus pada malam yang sama akan ada penyerahan piala kejuaraan ISL 2010 dimana Arema Indonesia keluar sebagai juaranya.
Mestinya Laga Super Bintang ini penyelenggaraannya di GBK Jakarta, tetapi akhirnya dipindahkan ke Malang dan Menpora Malarangeng hadir di Malang untuk menyerahkan piala kepada sang juara ISL 2010 , Arema Indonesia . Ya sudah saya tokh tidak ingin terjebak yang kesekian kali ditengah ribuan supporter, jadi mending cepat pulang sebelum penontonnya bubar.. )

Terima kasih yang sangat khusus untuk : mas Pras, pak Jui, pak Bawon , pakEd dan pak Totok
atas bantuan dan kebaikan2nya, semoga tur tur semacam ini akan semakin mendekatkan serta merendahkan hati kita sekalian kepada sang Maha Pencipta. Dan kepada semua pihak sangatlah dhimbau kesadarannya bahwa alam bebas bukanlah tempat perburuan harta melainkan titipanNYA untuk kita rawat, pelihara dan lestarikan berikut isinya...amin.

O ya, sekaligus bagi yang masih memiliki binatang binatang khususnya satwa langka dirumahnya, mohon disadari bahwa mereka juga memiliki HAK untuk menjadi mahluk hidup yang bebas dan " berdaulat " diwilayahnya masing masing .. Sudahkah kita melakukannya?

Jejak jejak kaki yang ditinggalkan untuk kita oleh si raja rimba bukan tanpa makna. Pesan itu sangatlah jelas : " Jangan Biarkan Kami Punah " .....

( Catatan khusus dari Sumber Manjing Wetan, Malang, 06.06.10 )

( Photos by : TH )

Keterangan foto :

01. Lembah menuju lokasi goa yang ada dibatas desa terdekat.
02. Salah satu lokasi tambang kapur yang dilewati.
03. Foto bersama diawal perjalanan didepan rumah kerabat guide, yang tidak nampak disini
2/dua orang.
04. Memulai perjalanan dengan kondisi masih fit dan nyaman.
05. Pemandangan diperjalanan.
06. Sempat menemui bongkahan batu alam semacam marmer.
07. Jalanan mulai menyempit dengan sungai dan jurang terjal jauh dibawah kaki.
08. Salah satu goa yang dijumpai diperjalanan,
09. Senapan tupai untuk ber jaga jaga ..?
10. Sebuah keluarga yang menggantungkan hidup pada batu batu kapur.
11. Keluarga dengan satu balitanya ditengah kerasnya batu batu kapur kehidupan.
12. Salah satu goa yang ditengarai pernah dihuni macan Jawa tetapi ditutup batu batu oleh
penduduk, dan sulitnya medan untuk memfoto karena dibawah kaki sudah menganga
jurang sehingga tidak memungkinkan mengambil sudut yang lebih baik.
13. Goa tertutup yang sama dengan no. 12 ) diatas.
14. Inilah salah satu goa yang dicari !!
Dimulut goa tampak jelas bekas jejak kaki si kucing besar diatas pasir kapur putih.
15. Masih di goa yang sama dengan no 14 ) , saya berusaha memfoto jejak kaki lebih dekat
tapi karena keterbatasan peralatan dan " nyali " saya menjaga jarak sebab jejak kaki
mengarah KEDALAM goa !!
16. Mulut goa dari sang raja , didalamnya banyak bilik bilik yang ber kelok kelok, saya tidak
akan pernah mengambil resiko karena ini termasuk penghormatan pada alam dan saya
tidak berani takabur.
17. Hutan terbentang disejauh mata memandang.
18. Wanita wanita perkasa yang tiap hari naik turun gunung untuk Rp. 1.000,-/ seribu rupiah
per ikat kayu !!
19. Bram, anggota rombongan termuda yang sering terkena kram kaki tapi sangat bernyali.
20. Bebatuan kapur seperti ini sering dijumpai diperjalanan karena rombongan memang
naik di gunung kapur.
21. Sekitar 300 an meter dari goa yang dihuni sang raja, jejaknya terlihat jelas di tepi jurang
yang kami lewati. Ini dua dari 10 foto yang saya ambil dari jejak yang ada.
22. Masih jejak yang sama dengan nomor 21) diatas. Sang raja sedang inspeksi wilayah .. ?
23. Sheila, anggota rombongan termuda ke II, nampak menyusuri sungai kering di rute kami.
24. Salah satu sungai berbatu batu tajam yang ada di bawah jalan setapak kami, sekitar 50an
meter kebawah.
25. Istirahat sejenak seperti ini rasanya seperti di SPA saking menanjaknya medan.
( coba kalau ada spa ditengah hutan seperti ini ya .. )
26. Satu satunya gubug yang ditemui, hanya cukup untuk dua orang, yang lain " ngglempoh "
disemak semak.
27. Orangtua mbok Tuma yang ditemui dalam perjalanan pulang ke desa terdekat.
( mbok Tuma adalah yang terdepan mengenakan kerudung putih )
28. Beginilah wajah wajah lelah tapi cerah setelah menyikat habis pecel lele dll di warung
" SEMPU " yang kebetulan pemiliknya masih keponakan sendiri jadi porsinya di
lebih lebih kan he he ..
29. Kunjungan terakhir sebelum balik ke Malang adalah ke lokasi budidaya bekicot.

( 06 Juni 2010, TH )


Senin, 30 November 2009

" Liburan Pendek, dari Cangar ke Inggil " , muter muter Malang.



Liburan Idhul Adha yang lalu menyisakan catatan kecil karena saya sudah terlanjur janji untuk membawa pembaca blog ini 
" muter muter " di sekitar Malang. Tapi terus terang, Malang " terlalu banyak " dikelilingi tempat tempat yang enak untuk ber hangout, sehingga tidak mudah memilih mana yang lebih enak karena ini adalah masalah selera. Wisata Bahari, Wana Wisata, Wisata Kuliner, Wisata Budaya, dll semuanya ada disekitar Malang.

Cangar misalnya. Letaknya sangat dekat dari kota Batu, sekitar 15 km arah Mojokerto. Rombongan kecil saya, 4 orang, sengaja berangkat pagi pada Sabtu tanggal 28 Nopember kemarin. 

Santai dan perlahan kami merambat naik melewati bukit2 yang lumayan terjal dan meliuk liuk sebelum akhirnya sampai di Cangar, sebuah kawasan perbukitan yang menawarkan keayuan pesona alam . Yang khas di Cangar ini antara lain adanya Goa Jepang serta mata air panas alam yang konon ampuh untuk memporakporandakan segala macam penyakit kulit.

Kabut masih terlihat di mana mana dan dalam udara yang cukup dingin acara " kumkum " alias merendam badan diair panas menjadi nyaman. Tapi sungguh saya " tidak tega " diudara terbuka berendam, maka yang saya " umbar " hanyalah sepasang kaki saya untuk memperlancar peredaran darah. Suasana di sekitar kolam air panas dan sungainya ternyata sudah cukup ramai
padahal masih belum jam 8. Namanya saja liburan jadi pasti banyak yang pagi pagi sudah " keluyuran " seperti halnya saya hehe ..

Sayangnya kawasan yang dulu begitu hijau dan asri saat ini terganggu oleh berdirinya pabrik jamur ( ?) di perbukitan yang letaknya pas tepi jalan, sehingga pemandangan terhalang oleh bangunan2 pabrik yang " nyepetno mripat " ( membuat mata sakit ). Heran juga bahwa per ijinan pabrik semacam ini tidak disertai pertimbangan estetika oleh si pemberi ijin atau pemkotnya. Apa jadinya kedepan bila seluruh kawasan ini saatu saat nanti dipenuhi pabrik pabrik, mungkin Cangar hanya akan tersisa sebagai sampah limbah pabrik !! Berapa lama lagi?


Di sekitar kota Batu yang berjarak hanya 18km dari kota Malang , banyak ditemui tempat2 wisata alam maupun buatan atau kombinasi keduanya. 

Sebut misalnya Selecta yang terkenal dengan hotel bersejarah nya Bhima Sakti yang pernah dikunjungi Soekarno ditahun 50-60an yang sempat melahirkan beberapa pemikiran2 besarnya di tempat itu.


Terus ada juga air terjun Coban Talun, tempat wisata air panas lainnya yakni Songgoriti, air terjun Coban Rondo, Gunung Banyak yang terkenal sebagai tempat olahraga paralayang. Juga ada yang namanya daerah Payung, sebuah kawasan hangout diatas jurang jurang perbukitan . Disebut Payung karena banyak ditemukan cafe atau warung2 yang menjual jagung bakar, bakso dll yang semula beratapkan payung payung lebar tetapi saat ini sudah menjelma menjadi warung2 semi permanen.

Sepanjang jalan menuju Cangar maupun di kota Batu nya serta sekitarnya, masih banyak ditemukan bangunan bangunan kuno bekas Belanda. Umumnya masih terlihat kokoh meski kusam tetapi yang tetap terawat bahkan dimanfaatkan sebagai daya tarik tamu juga banyak antara lain Hotel Kartika Wijaya di Jl. Diponegoro, Batu, misalnya.

Wisata Nostalgia yang biasanya banyak diminati turis2 Belanda atau Jepang tidak pernah melewatkan tempat2 bersejarah semacam itu dimana pada jaman penjajahan dulu mereka bahkan menjadi pelaku sejarah baik sebagai serdadu, pegawai maupun masih balita. Salah satu nya misal Toko OEN yang ada di Jl. Basuki Rahmat, Malang.

Oya.. puas di Cangar, perut mulai menagih janji. Sengaja tidak mencarinya di dekat Cangar atau Batu karena voting memutuskan ke restoran Inggil di Malang saja. Tidak ada makanan spesial yang di kangeni, tetapi malah mau cari oleh oleh T Shirt khas Malang. Lho, mau makan apa cari kaos?
Dua duanya. Maka perut ditahan 45 menit meluncur ke Inggil di tengah kota Malang.

"Inggil" itu nama sebuah restoran di daerah belakang gedung Balai Kota Malang, tepatnya di Jl. Gajah Mada. " Saya bersumpah " ( ketularan sumpah2 yang banyak ditonton di TV dalam kasus Bibit Chandara hehe ... )  bahwa pemilihan Inggil untuk ditampilkan di blog ini sungguh karena saya memang suka saja dengan konsepnya, bukan karena saya pernah diamplopi oleh pemiliknya ( sumpah !! he he ... )

Dua wajah beda jaman menjadi pilihan restoran ini, tradisionil dan modern. Tradisionil dengan mengusung Malang Tempo Doeloe sebagai branding nya nya. 

Sedang modern, itu untuk melengkapi kebutuhan asesorisnya seperti TShirt, Tas, Batik, Kerajinan dll khas Malang yang di tempelkan dalam kemasan boutique disamping depan dari restorannya.


Bangunan jadul yang dijadikan restoran ala Tempo Doeloe ini konon bekas hotel, dan memasuki pintu depannya segera kita berhadapan dengan riwayat kota Malang termasuk saat2 Soekarno di Malang tahun 50 an meresmikan Tugu didepan Balai Kota Malang.

Masuk lebih kedalam lagi kita akan melihat deretan atau koleksi2 benda jadul mulai alat pengeriting rambut, sepeda , radio, telepon, gramaphone dll yang sudah berusia bahkan ada yang seabad lebih. Papan papan reklame jaman kompeni juga banyak ditemui, mulai minyak rambut, rokok, kecap dll. Topeng topeng khas Malang juga dipamerkan.

Sementara itu bagi yang ingin membawa oleh2 makanan khas Malang tersedia bermacam keripik, dodol dll dari bahan apel dan buah2an lain yang ada di Malang.

Belum puas? TShirt, sandal, tas, batik dll khas Malang dapat dilihat di boutique yang mengusung label "INTIP" ini. Jadi komplit, makan, oleh oleh dan belanja. Oya di sini kita bisa memilih menu macam2 ikan bakar, masakan2 tradisionil maupun yang " standar ". Cuma menurut saya yang penggila pedas2 ini, masakannya agak kelewat manis lo jeng !! ( Lain lidah lain rasa hehe ... ) .

Pada saat makan malam, kita mencoba menjelajahi kawasan jalan Soekarno Hatta mencari sesuatu yang mungkin juga unik. 

Muter muter, akhirnya memilih " Dapur Kota ". sebuah resto yang terbilang baru dan berpenampilan lumayan menarik dari luarnya lo!! Western, Chinese, Javanese food dll hampir lengkap disini. Harga? Standar. Maka buat yang membawa rombongan besar tempat ini lumayan bisa direkomendasikan. 

Layanannya juga lumayan. Aduh, lagi2 saya ber " sumpah " bahwa saya bukan agen Dapur Kota, jadi tenang saja bahwa menulis tentang mereka ini semata mata karena suka saja dan menambah informasi tentang wisata kuliner bagi pembaca blog dari luar Malang !

Mungkin foto2 dihalaman ini akan lebih 
" exciting " daripada membaca catatan saya yang tidak menarik ini hehe ... Selamat muter muter !!

 ( Photos taken by : th )






Keterangan foto :

01. Salah satu ikon tempat mandi air panas Cangar, kasihan kok dirantai ya !
02. Salah satu kebun pesemaian sayuran di Cangar.
03. RM Inggil, Malang.
04. Salah satu ikon Malang, T O P E N G, yang dipamerkan di RM Inggil.
05. Salah satu sudut RM Inggil yang antik.
06. Inggil Boutique girl yang ramah.