Tampilkan postingan dengan label wisata kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata kopi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Februari 2021

 
 

 
.. " AMSTIRSDAM ? " ..
saya pernah nulis tentang pasar digital di daerah
 Joyo Agung Malang . kali ini bukan tentang pasarnya ,
 tapi tentang tempat cangkruknya .
memang sejak pandemi sekian banyak tempat
 cangkruk disitu rupanya mengalami kesulitan 
sehingga hanya beberapa yang masih
 mencoba bertahan .
 satu siang , masih diera pandemi, 
saya butuh sesuatu dipasar itu yang kebetulan saya
 lewati pulang dari Batu 
( disitu ada jalan alternatif kearah Batu lewat
 desa Ginting ) . setelahnya , saya melihat dipojok
depan dari teras pasar digital ini ,
 ada sebuah warkop menarik yang tampak bersih .
 namanya AMSTIRSDAM. 
kebetulan sepi dan saya mengambil tempat duduk
 diteras luar . avogatto adalah salah satu  favorit
 saya , disitu hanya 15 ribu !
 tidak perlu diperdebatkan dan dibandingkan dengan
 Java Dancer dll yang harganya bisa 2 sampai
 3 kali lipat tetapi soal rasa saya pun heran ,
 tidak ada bedanya ! 
bedanya : porsinya " mengecil " alias separuh 
porsi JD hehehe .. tetapi juga tidak usah 
dipermasalahkan, itu wajar sebab 
" ono rego ono rupo " bahasa Jermannya . 
 sekaligus saya memesan donat pada baristanya
 yang sore itu nampak sibuk membuatkan
 kopi seorang pengunjung lain diteras sebelah .
 saat pandemi memang perlu kewaspadaan dan
 percayalah saya selalu membawa sendiri 
gelas kertas dan sendok plastik yang sekali 
bisa pakai dibuang .
 dan Avogatto pun saya pindahkan kedalamnya
 hehehe .. sekitar 30 menit menikmati sore hari 
diteras pasar , sayapun pulang  karena
 ada serombongan kecil mahasiswa yang baru datang .
( demi keamanan dari Social Distancing ! )
 ( sebetulnya saya sama sekali tidak asing
 dengan area ini karena dulu beberapa tahun 
saya pernah tinggal didekat Malang TV ,
Perumahan Graha Dewata yang sejuk segar
 sebagai weekend house ) .
tetapi kala itu belum seramai sekarang yang sudah
 dipadati cafe bahkan pasar digital ini ,
 tempat kos2an , guest house , ponpes dll , 
dulu masih 1/2 hutan ! 
maka sesekali saya memang kangen dengan
 atmosfernya dan kebetulan Amstirdam salah satu
tempat yang menyediakan ruang untuk 
mengurangi rasa kangen ini .
 AMSTIRDAM adalah singkatan 
" Ampel Gading , Sumbermanjing , Tirtoyudho , Dampit "
 yang merupakan penghasil kopi terbesar
 di Malang Selatan ! naa .. jangan silau dengan
 kopi kopi ala Amerika atau setarbak yang
 sebetulnya mereka miskin kopi dan impornya
 dari luar Amerika ! 
jadi dengan adanya semacam Amstirdam ini saya
 amat bangga bahwa anak anak muda ingin 
menampilkan kopi kopi lokal bahkan
 ditataran dunia ! 
tentu saya pribadi tidak asing dengan ke 4 daerah 
tersebut , sebab dimasa kecil saya sering 
berkunjung ke pakde budhe , eyang kakung putri 
dan segudang kerabat lain di Sumawe yang
 kebun kopinya tersebar diseantero desa
 dan saya ikut ikut menjemur kopi karena senang
 bermain diatasnya yang bisa menggelincirkan kaki
 seperti di wahana2 hehehe ..
jadi bisa dibilang saya ini " bau kopi " hehehe ..
 saat panen , kami sering mendapat kiriman 
kopi bubuk asli yang harum baunya dan membuat
 ayahanda almarhum kalau sore hari nampak 
nikmat menikmati kopinya plus pisang goreng
 buatan ibunda yang yummyy... ! 
( sayangnya saya tidak pernah tertarik untuk belajar 
budidaya kopi apalagi membuat bisnis perkopian ,
 sebuah contoh yang tidak positif bagi
 generasi saya yang semestinya adalah 
" pewaris2 " ilmu perkopian dari para pinsepuh )
 btw , saya salut dengan baristanya yang saya lihat
 sebagai " solo player " dari mulai 
meracik kopi , membersihkan meja2 , menyiapkan 
donat , sekaligus kasir ! 
 begini inlah  contoh efisiensi disaat pandemi, 
bahwa jika pekerjaan mampu diselesaikan oleh 
satu orang saja , tidaklah perlu 2-3 orang 
yang\mungkin hanya untuk prestise saja ..
saya tinggalkan Pasar Pintar dengan Amstirdamnya ini ,
 dan jaraknya yang hanya 10 menit dari rumah saya
 menjamin bahwa saya 
masih akan kembali lagi diwaktu lain
 yang lebih aman ..
( Writing & Photos : Titiek Hariati , Januari 2021 ) 
keterangan foto :
01 . teras depan Amstirdam
02 . tempat parkir yang hijau
03 . avogatto ala Pasar Pintar sebelum
 saya pindahkan kegelas saya pribadi hehehe ..
04 . donat yang saya potong2
05 . barista yang " solo player "
06 . deretan soto , bakso dll diteras pasar
07 . ampelgading , sumbermanjing ,
 tirtoyudho , dampit

 

Kamis, 13 Desember 2018





.. " Ngopi , Sebuah Budaya Baru ,
 Prestise atau Sekedar Ikut2an ? " ..
jaman now , siapa yang belum pernah merasakan
ngopi di cafe cafe ? tidak mengapa kalau belum pernah , 
sebab " cafe " hanya sebutan lain dari warung atau kedai .
 buat yang " tidak terima " cafenya disamakan dengan warung ,
ya silahkan saja sebab pada dasarnya keduanya adalah sama .
 saya pribadi hidup di 3 jaman dalam urusan perkopian .
 jaman pertama yaitu ketika kopi lebih populer di warung2 kecil
 di kampung kampung . kalau sore sekitar jam 3 - 4 , 
warung2 kopi mulai terlihat ramai dengan para 
" cangkrukers " yang menikmati sruputan kopi plus
 jajanan kampung semacam 
pisang goreng , ketela goreng dll yang umumnya
 serba digoreng .
  namanya saja warung kampung , cukup meja dengan
 " dingklik " atau bangku panjang yang muat 5-8 orang sekaligus .
  jaman kedua yaitu jaman pertengahan dimana kopi mulai
 populer diluar luar kampung yaitu di jajanan cepat saji 
seperti KFC , McD dll sebagai pilihan minuman
 disamping soft drink , ice cream dll.
jaman ke 3 yaitu jaman dimana kopi mulai 
" berdiri sendiri alias memisahkan diri " sebagai sebuah budaya baru
 yakni budaya bersosialisasi ataupun pertemuan2 bisnis 
di cafe cafe sambil nyruput kopi ! 
bahkan saat ini budaya cangkruk di warung2 kopi 
didesa desa mulai tergantikan dengan cangkruk ala kota2 besar
dimana cafe cafe dengan gaya kekinian sudah merambah
 hingga pelosok desa yang punya area tujuan wisata .
   sekitar 35 tahunan yang lalu , kalau saya kebetulan
 cangkruk ngopi dikawasan pedestrian di
 Kartnerstrasse ,  Wina , saya sering melamunkan bahwa apakah
 gaya ngopi yang sudah membudaya di masyarakat barat ini
 akan menular ditanah air ? di Malang jawabannya baru saya rasakan
  sekitar 7 - 9 tahunan yl 
 dimana saat itu tempat cangkruk ngopi masih terhitung jari al
di Jalan Kahuripan  ada Java Dancer sebagai yang senior .
 " kekhawatiran " saya menjadi kenyataan bahwa akhirnya
 Indonesia juga tertular virus ngopi dengan munculnya cafe cafe
yang menjamur pada 5 tahun terakhir .
 tetapi bisnis tetaplah bisnis bahwa tidak semuanya sukses 
dijagad perkopian ini . tercatat dalam blog ini saja ada sekitar  25 lebih cafe
 yang bangkrut , mlungsungi atau bahkan tidak terlihat lagi bekasnya .
 dan saya sebagai penikmat atau konsumen pada akhirnya juga berhak 
untuk  memilih menjadi pelanggan yang loyal di tempat2 yang
 memang memiliki " culture "
 baik dalam cara meramunya , rasanya , penyajiannya ,
 atmosfer tempatnya dan layanannya .
  akhirnya memang sulit dibantah bahwa 
 nyruput kopi memang butuh " faktor2 pendukung " tersebut diatas 
sebab ia sudah menjadi sebuah Kebutuhan / Need dijaman yang 
super sibuk dan super individuil ini dimana bertemu
kerabat , teman , rekan bisnis dll sudah beralih dari
 rumah2 pribadi ke cafe cafe !
ngopi di cafe sudah menjadi salah satu kebutuhan baru untuk 
sekedar melepas stres maupun urusan2 bisnis dan juga 
cangkruk rame dengan kerabat atau temen ..
naa ..  selamat cangkruk !
( Writing & Photos by : Titiek Hariati , Malang , Dec . 2018 ) 
keterangan foto : 
01 . daftar menu Exelso , MOG Malang
02 . light meals , Exelso , MOG Malang
03 . sejarah kopi , Exelso , MOG , Malang
04 . atmosfer , Exelso , MOG Malang
05 . pilihan kopi , Exelso , MOG Malang
06 . ( gambar terbawah ini diambil dari google )