Tampilkan postingan dengan label Waroeng Jadoel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waroeng Jadoel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013




Soto Jadoel, Ambengan di Patimura

Yang tinggal di Surabaya atau sering kesana pasti mengenal atau mungkin bahkan merupakan pelanggan dari soto Ambengan yang terkenal itu. Naa ... bagi fansnya yang ada dikota Malang saat ini tidak usah jauh jauh ke Surabaya, cukup ke Jalan Patimura  saja. 

Sekian hari yang lalu saya kangen soto yang satu ini setelah sekian lama tidak pernah singgah. Dan berhubung jamnya sedang " peak " alias lapar laparnya karena pagi tidak sempat kemasukan apa apa gara gara mengejar waktu, maka saya sengaja memesan yang " istimewa " supaya ayamnya lebih banyak hehe .. 

Saya mendapat semangkuk penuh ! Tapi ternyata disitu lebih banyak irisan jeroan dan kulitnya nya yang saya lupa untuk memesan supaya tanpa jeroan dan kulit. Kekecewaan kedua adalah bahwa saya temukan banyak bagian tulang yang dipotong kecil kecil dalam mangkuk saya yang sangat mengganggu kenyamanan makan sebab ber  kali kali harus menyingkirkannya dari mulut. 


 Ini adalah sesuatu yang tidak pernah saya temukan di Soto Ambengan Surabaya. Mudah mudahan ini juga hanya sebuah kebetulan yang sedang " menimpa " saya dan teman semeja saya serta tidak kepada yang lain karena akan sangat merugikan citra soto yang sudah tersohor ini. 

Sebuah upaya " standarisasi " dari semua cabang cabang yang ada nampaknya sangat perlu, sehingga baik pusat maupun cabang cabang semuanya mampu menyajikan Soto Ambengan yang sesuai standar. 

Naaa .... mempertahankan pelanggan memang lebih sulit daripada mendapatkannya, bagaimanapun saya berharap Soto Ambengan di Malang ini mampu bertahan ditengah ketatnya persaingan jagad kuliner di Malang akhir akhir ini.
Semoga ... ( th )

Keterangan foto ( all taken by : th )

01. Soto Ambengan Patimura, Malang.
02. Krupuk.
03. Spanduk Soto Ambengan dan daftar menu.
04. Papan nama.
05. Panci soto.

Minggu, 23 Juni 2013





Ponorogo, Antara Reog Dan Sate

Siapa yang tidak pernah mendengar Reog Ponorogo yang pernah diaku Malaysia sebagai budaya aslinya itu? Dengan bulu merak diatas mahkotanya plus manusia yang bisa duduk diatasnya, maka beban diatas kepala di warok bukanlah ringan. Dan itulah salah satu keunikan Reog Ponorogo. 

Tetapi kali ini kita akan bicara tentang kulinernya yaitu sate, Sate Ponorogo. Di Malang ada beberapa tempat, salah satunya di Jalan Kawi Atas no 28 , Malang. Terus terang saya agak 
" bingung " tentang ke khas an sate Ponorogo karena dari tiga tempat yang berbeda saya mendapat kesan tiga rasa dan tampilan yang juga berbeda padahal nama yang diusung sama, Sate Ponorogo. 



Yang pertama dulu adalah bahwa potongan daging ayamnya tidak kecil kecil tetapi besar atau lebar lebar dan panjang. Bumbunya juga ada kelapanya. Terus ditempat yang kedua, potongan dagingnya juga agak besar besar tetapi bumbunya agak kasar atau kacangnya tidak dihaluskan sepenuhnya.

Dan ditempat ketiga yaitu yang saya tulis disini kali ini, di Jalan Kawi Atas 28, Malang ini, pun berbeda lagi. Yaitu potongan daging ayamnya kecil kecil dan bumbu kacangnya di mesin sehingga mirip selai kacang rasanya. Naa ... entah yang mana yang lebih khas, saya juga lupa bertanya. 

Untuk yang terakhir ini saya membelinya dibungkus, sebab saat itu sudah mendung gelap, kuatir keburu hujan dan ingat jemuran diatas atap rumah hehe ... Tapi tokh tidak merubah rasa, meskipun jarak kerumah 9km plus macet2nya yang memakan waktu hampir 35 menit .

Soal rasanya? Jujur saja saya lebih suka kalau bumbu kacangnya itu lebih kasar sebab dengan di blender kok rasanya seperti makan selai kacang dan agak " neg " hehe .. tapi ini soal selera lo! Naaa .. yang suka sate, boleh sesekali ke Ponorogo mencoba nya atau cukup ke Jalan Kawi Atas 28, Malang  yang atmosfernya juga dibiarkan jadoel ! Yukkkk ...  ( th )

Keterangan foto ( all taken by : th ) :
01. Bungkussss ....
02. Sate Ponorogo
03. Papan Nama Jadoel 

Jumat, 21 Juni 2013



Yang Jadul, Yang Dicari

Berpetualang rasa dengan mencoba menu menu ' modern ',  
tidak selamanya menggembirakan, 
sebab kalau pas meleset dari selera, bisa justru mengecewakan 
dan bukannya menjadi kenyang tapi mules, 
mules di hati alias sebel hehe .. 
Maka , cara aman sebenarnya adalah ' back to nature ' alias kembali ke asal yaitu mencari warung warung jadul 
yang sudah bisa dipastikan 99,99% tidak akan  mengecewakan. Naa .. di Malang cukup banyak yang masih bertahan 
dan tidak tergerus arus kuliner modern. 

Salah satunya adalah Soto Ayam Lamongan " Lonceng " , 
di Jalan Oro Oro Dowo atau nama yang sekarang adalah 
Jalan Brigjen Slamet Riadi. 
Duluuuu, semasa saya masih kecillll, memang ada juga 
Soto Lonceng tetapi daging sapi bukan ayam. 
Dan nama Lonceng itu muncul karena lokasi warungnya yang bersebelahan dengan menara lonceng yang ada disitu, 
kalau tak salah itu didaerah Mergosono.

Tapi apalah arti sebuah nama kata Shakespeare, 
yang penting itu rasa sotonya yang tidak berubah 
dan memang yummyyy ... 
Naaa, bagi yang menyukai hal hal " klasik ", 
ini salah satunya yang layak dicoba ..! ( th )



Keterangan foto ( all taken by : th ) :
01. Soto Ayam Lamongan Lonceng.
02. Papan nama dan no HP untuk pesanan.

Selasa, 11 Juni 2013



Berjadul Ria Bersama Bang Elias

Ditengah arus kuliner modern yang saat ini sedang booming di Malang, ternyata masih banyak 
waroeng waroeng jadoel yang bertahan karena keyakinan 
bahwa " yang aslilah yang tetap dicari " ! 
Dan sayapun setuju bahwa setebal apapun bedak diwajah tetaplah tidak mampu menyembunyikan kerut wajah 
dan yang terbaik adalah tampil sealami mungkin hehe .. 

Maka sayapun meluncur ke Bang Elias di pertigaan 
antara Jalan Yulius Usman dan Arif Margono sebelah pos polisi, Malang.Sate Gulai Kambing! 

Naa.. warung yang satu ini masih saja mempertahankan wajah lamanya yang " itu itu saja " tetapi " ngangeni " hehe ..
Dan kalau sudah bicara kangen, waaa .. jarak tidak ada masalah ! 

Langsung saja pesanannya sudah sepaket, sate gulai kambing. Wow .. jangan diingatkan soal kolesterol atau stroke, yang penting tidak berlebihan dan saya imbangi dengan jeruk panas. 
Lho kata siapa itu merupakan penyeimbang? 
Itu logika saya sendiri, yaitu bahwa lemak lemak akan terguyur air panas dan jeruk itu musuhnya lemak juga haha, 
pasti para dokter tertawa membaca ini, ndakpapa wong saya memang awam ...

Ternyata pengunjung warung ini masih ramai seperti dulu, bahkan disebelah saya ada bule juga pesan sate gulai ( wow .. di negaranya tidak ada yang selezat Bang Elias yaaa ... ).


Tak ada komplen saya disegi rasa Bang Elias, bak pepatah 
" engkau masih seperti yang dulu " ( kebetulan saya juga ber tipe agak konservatif hehe .. ) dan itu memang 
yang saya suka dari Bang Elias meski saya tak sering kesana 
( bukan karena tak suka tapi karena mulai 
mikir mikir kesehatan hehe ... ) ..
Suka yang jadoel ? Cari saja Bang Elias ! ... ( th ) 



Keterangan foto ( all taken by :th )
01. Sate Gulai Kambing Bang Elias.
02. Bakar Sate.
03. Nama warung.
04. Sulit menolaknya ..
05. Bule juga suka lho!