Tampilkan postingan dengan label wisata kuliner dan alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata kuliner dan alam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Desember 2021

 

 
 
 .. " Kekayaan Kemakmuran Abundacio ? " ..
sekitar setengah tahun lebih yl 
saya ketempat ini untuk pertama kali . 
dan yang kedua kali adalah bulan yang lalu
 tetapi baru saat ini saya sempat 
memposting tersebab berbagai hal 
diantaranya termasuk " mbolang lokal dan nasional " hehehe ..
 
 

 
 
terletak di Jl. Raya Tegalweru, nDau , 
kabupaten Malang , lokasi kuliner yang satu
 ini memang punya catatan tersendiri .
 pemiliknya adalah eks N-1 yang meski 
saat itu belum sampai selesai menjabat 
dan harus digantikan wakilnya 
karena sesuatu hal .
 
 
 
kedua, panggilan akrabnya Abah Anton ,
ini juga menyediakan kebun durennya 
sebagai salah satu daya tarik restonya disitu ! ketiga , pengunjung dapat menikmati
 jajanan maupun menu menu tradisional disamping alamnya dan tentu saja
durennya ! 
pengalaman saya dua kali kesana , 
apalagi saat pandemi, membuat saya miris melihat antrian pengunjung untuk 
mengambil makanan yang prasmanan . 
setelah antri mengambilnya , 
parahnya masih harus sekali lagi 
mengantri didepan kasir dengan memegang makanan yang dipilihnya ! 
sebuah keadaan yang rentan penularan
 covid akibat berdesakan dan terbukanya makanan selama antrian . 
baru pada kunjungan yang kedua karena
 datang lebih pagi dan belum saatnya
 jam makan siang , saya berani menuju
 meja prasmanan dan tentu saja
 setelahnya adalah durennya untuk
 dibawa pulang ! 
maka ada saran bahwa saat pandemi 
seperti ini hendaknya manajemen tetap bersedia memperhatikan hal hal dibawah ini :
 
 
* pentingnya pemeriksaan suhu pengunjung
 atau lebih keren lagi lewat scanner pedulilindungi !
* hindari antrian dimeja prasmanan 
dengan cara layanan layaknya resto biasa alias pemasanan lewat pramusajidi meja meja !
* antrian di kasir juga dapat dihindari 
dengan pembayaran awal TANPA membawa makanan yang dipilih karena ada
 layanan meja dari pramusaji  
dan DIPISAHKAN antara 
kasir TUNAI dan NON TUNAI untuk menghindari panjangnya antrian 
yang rentan covid !
penjagaan yang longgar terhadap pengunjung tentu menyenangkan bagi mereka
 yang tidak setuju vaksin atau bagi mereka 
yang kebetulan sedang demam diatas 37/38*. ramainya cafe atau resto memang
 menyenangkan bagi manajemen sebab
 menjamin kelangsungan kesejahteraan karyawannya , tetapi jangan sampai 
menjadi kluster baru apalagi saat ini
 Omicron mulai mengintip !
 
adalah benar bahwa takdir itu ada , 
tetapi Allah juga mewajibkan manusia
 untuk BERUPAYA menjaga 
dirinya , raga dan jiwanya , agar selamat ,
 sehat dan barokah dunia wal akherat !
 

 naa ... yang penasaran dengan tempat ini 
atau mencari makna kata Abundacio ,
 maka judul tulisan agaknya sudah mewakili bahwa 
Kekayaan dan Kemakmuran adalah
 harapan ownernya dengan
 nama Abundacio , 
dan diatas semua ini tentu kita berharap
 bahwa kekayaan hati adalah
 lebih utama ...
yukkk ...!
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 
baru sempat diposting pada Desember 2021 )
keterangan foto : 
01 . gerbang luar Abundacio
02 . gerbang resto
03 . hasil antrian saya 
04 . taman ( 01 )
05 . taman ( 02 )
06 . tempat makan terluar
07 . harapan yang pupus ..
08 . parkiran yang luas
09 . salah satu pohon duren
10 . dapat satu pilihan !
11 . masih milih milih lagi .. !
12 . sudut lain
13 . mabuk duren ..

Jumat, 13 November 2020

 

 
 .. " Bebek Kerto " Ngungsi "  ? " ..
 saya sebetulnya penyuka bebek goreng 
atau bakar atau kare . tetapi harus tahu diri ketika
lampu hijau menjadi kuning karena
 potensi kolesterol dll meski belum sampai kena 
semprit dokter hehehe ..
 maka ketika beberapa warung bebek favorit saya 
ada yang tutup , bangkrut ataupun berpindah tempat ,
 sayapun " merasa kehilangan " .. 
ada satu favorit saya yang tetap bertahan tetapi 
" nun jauh di sebelah Wendit " , 
jadi harus ada waktu khusus kesana .
 " alkisah " , satu siang saya harus mengambil bibit
 tanaman di Batu dan mengambil jalur
 Karang Ploso sebab jalur Sengkaling padat merayap.
 tiba di desa Tawangargo Karang Ploso ,
 dikiri jalan saya  menemu warung Bebek yang 
pernah saya cari2 : Bebek Kerto ! 
wow .. maka urusan di Batu tertunda sejenak , 
saya ingin " bernostalgi " dengan warung yang satu ini . 
bebek goreng adalah yang saya cari , 
meski disitu ditawarkan 1001 olahan bebek juga ayam ,
plus bermacam sayuran untuk pelengkapnya .
dan atmosfer warungnya yang berlokasi didekat
 kebun2 sayur membuat makan siang bertambah nikmat .
 dengan halaman parkir yang luas dan
 warung yang juga lapang ,
kontras dengan awal saya mengenal 
warung bebek ini sekian tahun silam di dekat
 rumah saya yang terkesan " sempit " .
 oya buat yang berdomisili di Malang Selatan , 
ada satu lagi Bebek Kerto di Kepanjen , di Jalibar
 ( jalan kembar ) . bagaimana pun saya 
senang bahwa ternyata
 sang bebek tidak ( jadi ) hilang hehehe ..
sungguh selera adalah hal yang memang tidak perlu
 diperdebatkan , karena ada puluhan
 warung bebek di Malang Raya , 
tetapi konsumen memang punya hak memilih ..
 yukkk ...
( Writing & Photos : Titiek Hariati , Malang , 13.11.20 ) 
keterangan foto :
01 . menu favorit saya
02 . panorama yang menemani makan siang
03 . logo khas
04 . sayur2 pelengkap
05 . view cantik dibelakang warung
06 . menikmati kesenyapan atmosfer
07 . satu2nya pengunjung dihari biasa










 

Jumat, 09 Agustus 2019






.. " Tangkilsari Yang Pedas " ..
buat yang mulai jenuh dengan cafe cafe di kota ,
 ada pilihan lain . sebuah warung berjuluk 
Warung Pedas Tangkilsari ,
berada di Desa Tajinan , Bululawang ,
 Kabupaten Malang , bisa menjadi alternatif .
 menempati lahan yang sangat luas ,
 warung yang satu ini sangat leluasa tempat parkir 
dan ruangan makannya . mungkin kalau
 untuk wedding , bisa menampung sekaligus
 1000 - 2000 orang . 
 dan sesuai namanya ,
 saya pun harus ber hati2 memilih menunya 
sebab diatas level pedas tertentu bisa2 saya harus
 bolak balik ke WC hehehe .. 
dikelilingi oleh area kebun dan persawahan , 
warung ini semoga saja bertahan seperti itu sebab
 pertumbuhan pariwisata sangatlah cepat
 di kabupaten Malang .
 khawatirnya , dimasa depan
 yang tak terlalu lama , sawah dan kebun2 itu sudah
 berubah wajah menjadi warung2 dll . 
 syukurlah ketika saya me milih2 menu prasmanan
 disitu, ternyata ada juga yang tidak pedas seperti
 misal Sambel Goreng Udang , botok , urap urap , dll .
 ada gulai kepala ikan , gulai ikan Pe , 
ayam pedas dll yang siap untuk dipilih dan dinikmati . 
 disediakan juga area lesehan bagi yang suka 
duduk dilantai , dan selebihnya ada ratusan kursi disitu . 
dengan tatanan prasmanan maka buat yang
Siap Laper warung ini sangat cocok dan 
bisa memilih nasi putih atau jagung atau 
kombinasi keduanya .
 sebagai sekedar gambaran harga menunya , 
kemarin saya dan seorang keponakan , kami memilih
 Udang Sambel Goreng dan Gulai Kepala Ikan ,
 Urap Urap , Mendhol dan Tempe
 serta dua gelas Jeruk Panas , nasi putih dan nasi jagung , 
 menghabiskan 80 ribu saja ,
 sebuah alternatif wisata kuliner yang boleh dijajal ! 
kalau tidak macet ( ! ) dibutuhkan hanya sekitar
 30 menit dari kota Malang ( alun alun maksudnya ) 
kearah Bululawang dan ada dua pilihan jalur
 yaitu lewat Gadang atau Sukun .
 penasaran ?
siap siap untuk " nggaber " yaaa ...
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 08. 08. 19 ) 
keterangan foto :
01 .  tampak depan
02 . sawah yang tersisa .. ( 01 )
03 . lahan parkir yang luas
04 . udang yang tidak pedas
05 . gulai kepala ikan yang pedas
06 . pengunjung sedang memilih menunya ( 01 )
07 . " apakah masih ada menu yang tertinggal ? " ( 02 )
08 . atmosfer & pramusaji yang sibuk
09 . berapa lama lagi sawah ini bertahan ?








 

Selasa, 12 September 2017






.. " De Bamboo , Cantik , Tersembunyi , Kesepian " ..
ketika saya menjejak kaki pertama kali disitu , 
De Bamboo Restaurant di nDau , Batu , sekian hari yang lalu , 
saya merasa " nelongso " ( kurang lebih artinya antara kecewa dan sedih ) .
 lho .. apa pasal , kok rencana mau makan siang berubah jadi 
nelangsa atau nelongso atau apa ya bahasa Indonesianya yang tepat ? 
alasan pertama adalah karena De Bamboo ini saya temukan secara
tidak sengaja ketika mata saya menangkap nun dikejauhan antara
 Malang - Batu , sebuah siluet cantik tapi " ingip ingip " antara
kelihatan dan tidak . 
kedua , ketika saya nekad masuk halaman parkirnya yang luas dimana
 siang itu kendaraan saya adalah satu satunya di halaman padahal 
saat itu adalah jam jam makan siang dan Sabtu pula
alias weekend yang mestinya banyak orang sedang bersantai . 
 ketiga , saat saya melangkah lebih kedalam , 
ternyata yang terlihat dari jauh " ingip ingip " tadi adalah sebuah
 kecantikan tersembunyi yang luar biasa ! 
sesuai namanya maka dominasi bambu disitu sangat terasa terutama 
sekali peran bambu sebagai " pembungkus " pilar pilar nya yang 
tinggi tinggi itu tampak sangat artistik ! 
atap dan furniture juga di area lesehannya , semuanya menyajikan 
bambu sebagai primadona yang sangat pas dengan alam sekitarnya . 
ini masih ditunjang dengan view cantik yang terbentang di
depannya yang seolah memanjakan mata kita . 
udara segar mengalir tanpa halangan karena ketinggian atap resto plus 
konsep ruangannya yang serba terbuka dan lapang , 
membuat orang betah berlama lama .  disebelah depan ada semacam kolam
 dan sebuah jembatan mungil yang manis disitu bisa membawa 
kita " keseberang " kolam untuk mendekat ke sawah yang ada disitu . 
secara sengaja mereka meletakkan dua buah sofa biru dan 
beberapa kursi cantik berwarna putih didekat persawahan .
( sebuah kontras yang setelah foto jadi beberapa hari kemudian banyak 
 mengundang pertanyaan 
" lho .. kok ada sofa ditengah sawah ?" .. 
( sebuah tipuan optis yang unik bagi pecinta fotografi  ) 
jadi apa yang membuat saya " nelongso " ditengah segala kelebihan fisik 
resto ini ? jawabannya antara lain : 
 01 ) tidak adanya penunjuk baik berupa papan nama , baliho dll 
ditepi jalan raya yang dapat membuat publik tahu bahwa disitu ada
 " sesuatu " yang spektakuler ! 
02 ) selling - point resto ini antara lain adalah 
kecantikan alam yang disuguhkan didepan nya .
tetapi karena disebelah depan 
( atau belakang ? ) resto adalah sebuah bangunan toko , 
maka berlian ini sungguh tidak layak untuk disembunyikan !!
3 ) kalau secara kebetulan " chef " nya adalah dari Jawa Barat dan 
konsep restonya adalah masakan tradisionil ( Sunda ? ) ,
 maka sangatlah disayangkan bila dalam daftar menunya kurang
menonjolkan unsur " Sunda " ini sebagai ciri khas dan kekuatan resto . 
Malang Raya beberapa tahun terakhir ini sudah dibanjiri 
aroma kuliner nusantara , mulai Aceh hingga NTT . 
jadi ciri khas daerah menjadi andalannya . 
 maka ketika saya datang hingga pulang , resto ini nyaris tidak ada
 pengunjung nya , saya sungguh " sedih " ! 
saya " mbathin " begini :
" apakah marketingnya yang kurang handal atau memang 
nggak marketing2an karena DB sangat PD dengan kecantikannya ?"  
tapi bisa saja mungkin saja saya salah , 
sebab siapa tahu sepulang saya dari sini justru tamu tamunya
 datang dan membludhak ? 
bermacam pertanyaan " sliweran " dibenak saya sampai akhirnya 
" maaf , apakah pesanannya sudah dapat kami catat ? " ... 
maka saya balik bertanya
 " yang khas disini apa ya kok bingung saya mbaca 
daftar menunya yang macam2 ini ?"
dijawab " gurami kare" .. ya sudah kalau begitu saya pesan itu !
 jadi pesannya gurami kare , cah kangkung dan penyet2an . 
dideretan minuman , konon tidak ada yang khas , 
jadi ya pesannya sesuai selera saja . tidak ada yang salah dengan rasa 
 masakannya , yang " salah " hanya satu yaitu " kurang pedas " ... lho ? 
pedas memang masalah selera , tapi ketika 
pedasnya " dibawah standar " maka masakan terasa agak hambar sebab 
lidah seperti kurang ada yang menggigit ! 
kalau De Bamboo khawatir dengan tamunya yang kurang suka / 
suka pedas maka sebaiknya disediakan 
sambal extra dimeja kastamer untuk mengakomodir
 semua selera yang ada dimeja pemesan ! 
" kekurangan kecil " ini semoga cukup diperhatikan DB .
saat pulang beberapa kali saya masih " tolah toleh " kearah belakang
 dan melihat DB yang seolah " kecepit " itu . sedih .  
maka diam diam saya berharap bahwa kelak DB akan bisa " membeli "
 toko yang menutupinya ditepi jalan raya itu supaya 
kecantikan DB tidak mubazir !
 soal harga , memang relatif sebab di DB ini atmosfer dan 
view alamnya tidak bisa dirupiahkan dan sayapun menjadi " paham " . 
bak anak perawan  rupawan tetapi terpingit dan
 kecantikannya akhirnya  " mubazir " karena berakhir 
sebagai perawan tua ... tapi semoga DB tidak !
( Titiek Hariati )
( writing & photos by : Titiek Hariati , Sept . 2017 )

01 . dominasi bambu
02 . jembatan menuju sawah
03 . pilar dan atap bambu
04 . sebagian sawah
05 . atmosfer ( 01 )
06 . atmosfer ( 02 )
07 . atmosfer ( 03 ) 
08 . gurami kare
09 . lesehan
10 . daftar minuman
11 . daftar makanan
12 . lesehan ( 02 )
13 . es kelapa muda @ lemon tea