Tampilkan postingan dengan label wisata alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata alam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Oktober 2021

 
 
  .. " Kedua Kali Bertemu Mindi " ..
( Nongkojajar 02 )
senyampang sudah di Nongkojajar 
kecamatan Purwadadi , saya kembali ingin 
menengok salah satu tempat cangkruk favorit
 saya disitu , Mindi Cafe .
 letaknya didesa Tutur . 
( didesa yang sama sebetulnya ada cafe lain 
 yang tak kalah kerennya yaitu 
Omah Tutur ,
 yang juga sudah pernah saya tulis di blog ini
 sekian bulan yang lalu . 
satu lagi yaitu Anak Gunung 
meski tidak sekelas Omah Tutur yang juga 
sudah pernah saya tulis diblog ini . 
sungguh belum banyak cafe cafe yang
 gede dan Nongkojajar memang tidak perlu
 berlomba seperti Batu yang mulai 
terasa sesak )
 
 kali ini saya hanya ingin ngopi dan nyamil ke
 Mindi Cafe karena atmosfernya yang 
bikin kangen .
 tropical garden adalah konsep nya karena memang
 Mindi Cafe ini didirikan dilingkungan 
kebun sayur dll . pada penulisan kedua saya
 tentang cafe yang satu ini , sebetulnya bukan tanpa
 alasan karena saya lihat ada 
beberapa bangunan tambahan dibanding saat
 saya kesini yang pertama kali dulu . 
 
 Tahu Walik dan Kopi pada jam 9 pagi agaknya 
memang pas dan juga pengunjung belum banyak . 
 sekedar info bahwa cafe ini buka 24 jam 
meskipun saya tidak yakin apakah disaat pandemi
 diijinkan beroperasi semalaman .
 memang saya tadi sempat melihat bahwa
 dibeberapa area hutan pinus di Nongkojajar ini
 ada warung2 sederhana yang selalu
 dipadati para milenial . 
 
 dibanding Batu , Nongkojajar masih tampak 
lengang dari warung2 atau cafe2 ,
 jadi pemandangan alamnya masih terbentang
 lapang untuk dinikmati . sekedar pengobat
 kangen pada Mindi Cafe sudah saya laksanakan ,
 perjalanan berlanjut hingga arah Pananjakan
 yang memang tidak perlu dilanjut hingga Bromo
 karena kawasan BTS memang 
masih ditutup .
 oya .. berkendara di daerah Nongkojajar memang
 asyik karena hampir 90% areanya
 merupakan lekukan lekukan " S " yang tajam
 dan butuh ke hati2an , tetapi bisa membayar
 dahaga adrenalin hehehe ..! 
 naa .. jangan selalu mengarah ke Batu untuk
 menikmati alam bebas , karena di Nongkojajar 
masih lebih cantik alamnya dan 
belum banyak tertutupi warung , cafe 
maupun rest area yang " nggedablah " 
dan tak berjarak
 ( Writing & Photos : Titiek Hariati , 
diposting pada 07 .10.21 ) 
keterangan foto : 
01 . Mindi Cafe , Nongkojajar , sekian hari yl
02 . gerbang masuk Omah Tutur ( 01 )
foto dari  tulisan yl pada blog ini
03 . gerbang masuk Omah Tutur ( 02 )
foto dari tulisan yl pada blog ini
04 . Mindi Cafe sekian hari yl 
05 . Tahu Walik
06 . gandengannya Tahu Walik
07 . cangkruk sejenak ..
08 . kebun sayur dibelakang saya duduk
09 . Nongkojajar yang masih hijau 

Rabu, 06 Oktober 2021

 
 
.. " Ken Dedes Yang Terlupakan " ..
 
pemandian atau kolam renang yang satu ini
 nyaris melegenda saking sudah jadulnya .
 terletak di Singosari , sekitar 10 km dari kota Malang ,
 merupakan tempat wisata yang mulai terlupakan
 dan tergerus tempat2 wisata baru yang 
lebih modern dan canggih . 
 Singosari memang terkenal dengan
 petilasan2 dari bekas kerajaan Singosari
 dimana salah satu tokoh populernya adalah Ken Arok.
  konon Ken Arok sampai nekad membunuh
 Tunggul Ametung yang adalah bossnya 
  karena Ken Arok terlanjur kepincut istri sang boss ,
 Ken Dedes  yang memang kuning langsat 
dengan pusar dan betis yang konon bercahaya itu .
 lho lho lho ..
 saya tak hendak berkisah Ken Angrok atau Arok
 yang hidupnya penuh tragedi , 
tetapi disatu siang saya tiba tiba saja ingin
 ke pemandian Ken Dedes di Singosari . 
sekian lama tidak kesana rasanya tempat ini masih 
" begitu2 saja " kecuali beberapa renovasi kecil
 disana sini . padahal hutan bambu 
dilatar belakangnya yang berlembah lembah
 serta kolam renangnya yang luas plus kolam
 ikannya dapat menjadi daya tarik 
andai saja tertata lebih apik dan modern 
mengapa harus modern ? 
 apa boleh buat kalau lembah2 itu mau 
mengesankan alami tetap saja harus diperhatikan
 unsur2 kebersihan , desain jalan setapak yang
 menarik serta warung warung yang tertata
 rapih dan higinis .
 dibeberapa bagian tampak dibiarkan terlantar
 dan saya naik hingga keatas hutan bambu ,
 tampak bahwa perawatan disini zero . 
kolam renang yang airnya sebetulnya cukup jernih
 karena langsung dari sumber yang mengalir deras , 
tampak kotor karena dedaunan dll dari pohon2
 disekitarnya tidak disaring atau 
diangkat dari kolam .
siang itu saya hanya melihat sekitar 4 pengunjung
 termasuk saya . kecantikan Ken Dedes 
rasanya harus dikembalikan dan dikembangkan
 agar " betisnya dan pusarnya " 
kembali bercahaya .... 
( Titiek Hariati , Malang , 06 . 10 .21 )
foto2 95% jepretan saya .

Kamis, 23 September 2021

 
 
 .. "  Jenuh ? So Pasti . And ... ? " 
dalam situasi normal sebelum pendemipun ,
 kita pasti sesekali merasa bosan atau jenuh
 bahkan kadang tanpa alasan yang jelas . 
dan pandemi melipat gandakan rasa itu karena
 keterbatasan aktivitas luar rumah dan aktivitas 
didalam rumah yang sama terbatasnya
 tersebab ada hal hal yang lewat gadget tidaklah cukup .
 maka beberapa aktivitas dilingkungan rumah
 mulai dicari cari diluar yang rutin ,
 bahkan hingga keinginan absurd untuk bersih2 total 
genteng dan tembok rumah yang memakan
 waktu dua minggu lebih ..
  mondar mandir cari cat , pasir , semen , dll dll
 bak mandor bangunan , sampai akhirnya merasa
 capek sendiri hehehe .. 
naa ... dan ketika capek ,
 ternyata muncul lagi " penyakit kambuhan " saya
 yaitu keinginan bertukar oxygen ! 
tentu semua tempat tempat wisata masih tertutup 
dan saya tak hendak mencontoh Rombongan N1
 yang memaksa pantai supaya dibuka
 laksana titah raja yang tak terbantah ! 
maka kali ini saya arahkan pencarian ke daerah
Lawang yang di internet ditulis
 " Sumber Air Krabyakan , 
Desa Sumber Ngepoh , Lawang " .
 sungguh keterlaluan bahwa seumur umur ternyata
 saya belum pernah kesana padahal 
hanya sekitar 20km dari Malang . 
jalanan sepi sebab nampaknya kendaraan lebih 
padat kearah Batu meski PPKM belum 
landai hingga level terbawah ,
 jadi saya seolah melawan arus !
 foto2 di internet menampakkan sumber sumber
 alami dan air terjun  yang belum terpoles 
dapat ditemukan cukup banyak didaerah
 Lawang dan sekitarnya . 
 jadi mudah2an tujuan bertukar oxygen saya
 bisa tidak salah . melewati jalan jalan desa
 yang semakin menyempit , akhirnya saya menemu
 Sumber Air Krabyakan .
 persawahan disitu masih luas dan menghijau dengan
 latar belakang gunung gunung atau perbukitan (?) .
 dari tempat parkir ke arah sumber sumber
 yang ada disitu , kita melalui jalan setapak .
 dengan karcis masuk yang (  hanya )5000,- 
  setelahnya kita bisa memilih
 disitu untuk " 4 M " , Mandi , Mancing ikan
 atau Mancal sepeda air atau ( hanya duduk duduk )
 Melamun & Menikmati alam , angin , air dan 
atmosfer yang sejuk segar karena
dikepung beberapa sumber alam disitu ! 
( tentu saja saat ini ditambah satu M lagi 
yaitu " Maskeran " !
 jangan berharap macam macam disini karena
 memang tempat ini belum terpoles ,
 tetapi saya suka dengan yang seperti ini 
sebelum nantinya tempat ini mungkin akan 
bergincu dan berbedak tebal ala badut ! 
keinginan berendam atau berenang ada
 tetapi dijaman digital ini saya menjadi 
" paranoid " dengan acara acara mandi diruang 
terbuka ,  maklum ..
 tidak ada yang harus saya obrolkan lagi disini , 
sebab bagi saya saat dialam terbuka 
sebaiknya
 memang lebih banyak diam , 
mendengarkan suara alam dan berdialog
 dengan hati ..
 mencari ketenangan dan ketenteraman jiwa
 sudah pasti tidak melalui hura hura pesta 
atau lantai dansa atau bersama ribuan sesama , 
karena ia ada dan selalu ada didasar mata air jiwa
 dan hanya perlu sedikit atmosfer
 yang tepat untuk memunculkannya ..
( Titiek Hariati , Krabyakan , September 2021 )
foto foto 90% oleh saya .

Minggu, 11 April 2021


 

.. " Ngukir Coffee Camp , Junrejo , Batu " ..

di Batu ada beberapa area untuk Arung Jeram . 
 salah satunya adalah Rafting Batu yang 
" stasiun terakhirnya " berdekatan dengan 
sebuah kedai kopi , Ngukir Coffee Camp yang ada
 di Junrejo , Jl. Alternatif Batu . 
 kali ini saya tidak ber arung jeram meskipun
 pengalaman sekian tahun silam membuat kangen
 untuk menjajalnya lagi . yang saya jajal kali ini
 adalah sebuah kedai yang ada didekat 
area arung jeram . 
tentu saja sambil ngopi disitu , 
saya bisa melihat kearah sungainya yang namun
siang itu tidak terlihat aktivitas " peselancarnya " .
 kedai sederhana ini mungkin lebih tepat sebagai
 tempat berganti oxygen sejenak.
 saya nikmati susu jahe dan camilan lumpia 
dan kentangnya sambil memandangi panorama
yang lumayan cantik disebelah nya .
 hanya ada dua pengunjung siang itu sehingga
 saya tak perlu kelewat khawatir adanya kerumunan .
 sekitar sejam berganti oxygen ,
sayapun langsung balik kearah Malang .
 andai saja tidak pada musim hujan dan pandemi ,
 pasti saya sudah ber ayun ayun di sungai
 sebelah bawah kedai ini hehehe ..
 ( Writing & Photos : Titiek Hariati , 12.04.21 )
keterangan foto : 
01 . panorama menjadi sebuah kemewahan
 ditengah padatnya polusi 
02 . gemericik sungai disebelah bawah
03 . Ngukir Coffee Camp
04 . cantik ...
05 . camilan teman kopi
06 . hanya ada dua ekor

 

 

Kamis, 08 April 2021

 

 

.. " Cafe Mindi , Tutur , Nongkojajar " ..

Disaat sebagian besar orang diakhir minggu pada
 ke Batu saya menghindari keruwetan dengan 
kearah berlawanan yaitu ke arah Surabaya
 tapi cukup sampai setelah  Lawang , berbelok kekanan
 kearah Nongkojajar . 
 Sepi , view cantik , dan kelak keloknya yang sesekali 
tajam membuat adrenalin terpacu , segar !
 Tak banyak warung atau cafe didaerah ini kecuali
 beberapa yang kecil kecil sekedar untuk istirahat ngopi
 sebelum melanjut perjalanan .
 Kontras dengan Batu arah Cangar atau Pujon misalnya 
 yang tidak membiarkan jengkal tanah sia2 dan
 semuanya dipadati warung , kedai ,resto, cafe dll . 
Ada beberapa resto atau cafe gede di Nongkojajar
 atau desa Tutur utamanya ,
 meski hanya terhitung 2-4 biji saja tetapi mereka 
digarap dengan konsep matang yang bagus . 
 Naa .. diblog yang sama saya sudah pernah tulis ada
 Warung Gunung dll di Nongkojajar .
Kali ini kita mampir ke Cafe Mindi di desa Tutur ,
 Nongkojajar yaa ..
 Dengan bambu sebagai bahan utama bangunannya ,
 cafe yang termasuk masih gres ini seolah menyatu 
dengan alam sekitarnya yang cantik . 
Terletak dilembah yang lumayan curam , 
maka suguhan mata sambil cangkruk memang menarik.
 Melihat sikon yang adem ayem serta 
terbuka segar dan pengunjung ke 4 adalah saya ,
 maka saya berani memesan bakso dan nasgor
 untuk meja saya . 
 Mungkin kalau kapan2 saya
 ke Nongkojajar lagi , sudah akan bermunculan
 kedai2 lain seperti Mindi ini yang 
semoga tidak akan sepadat Batu meskipun area ini
 masih terlihat melompong .
 
 Diam diam saya memang
 sempat khawatir bahwa Nongkojajar akan tertular
 keramaian Batu yang mengancam
 kelestarian alamnya .. 
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 08.04.21 )
 keterangan foto : 
01 . kopi dan panorama cantik di Mindi
02 . depan Mindi
03 . patung sapi simbol Nongkojajar sebagai penghasil susu , depan pasar
04 . nasgor ala Mindi
05 . bakso ala Mindi
06 . atmosfer ( 01 )
07 . atmosfer ( 02 )
08 . atmosfer ( 03 ) , 
maaf kejepret ya mbak ..
09 . gerbang Nongkojajar
10 . cantik ..


 
 
 
 


 

Rabu, 17 Maret 2021

 

 

 

.. " Goa Pinus Yang Ala Papua " ..

 tak perlu bingung dengan judul diatas
 meski saya sendiri sesaat bingung ketika 
 mendapati sebuah lokasi wisata alam
 yang dipoles ala Papua. 
 " syahdan " kata sahibul hikayat ( hehehe .. ) 
 didekat Paralayang , gunung Banyak , 
Batu , Malang ,  belok kekiri
 kita akan menemukan sebuah wisata 
alam Goa Pinus . sebetulnya ini bukan baru , 
 kebetulan saja saat saya dulu melayang
 dari gunung Banyak ,
 saya belum sempat singgah ke Goa Pinus ini .
 
 
ini adalah sebuah Wana Wisata 
dan sebuah gua . entah dengan 
pertimbangan apa , pengelolanya memilih 
tema Papua disitu . jadi ada Goa Papua ,
 juga ada rumah rumah adat Papua
dan Cafe Papua . tiket masuk 10 ribu tapi 
nanti masih akan ada lagi tiket 10 ribu 
disebelah dalam ketika kita ingin 
ber swafoto disebuah area yang 
bernuansa Papua . 
 saat saya tanyakan
 pada salah satu pengelola disitu alasan 
mereka memilih tema Papua ,
 dijawab " ya kami coba saja mencari 
suatu tema yang sesuai dengan keadaan
 hutan disini dan ketemunya kok Papua 
yang memang setahu kami
masih banyak kawasan hutannya 
dibanding perkotaannya " . 
oo gitu ... 
saya kesana saat pandemi , jadi cafenya
 tutup dan hanya menemu warung kopi 
kecil dan dua orang pengunjung lain .
dengan view yang memang berlembah dan 
cantik , rasanya area ini bisa untuk
 menukar oxygen kota yang disaat
 pandemi terasa lebih " berat ", 
ditukar dengan oxygen hutan pinus
 yang " segar semriwing " ..... 
 yukkkk ... 
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 
Januari 2021 ) 
keterangan foto :
01 . lorong cantik di " kampung Papua "
02 . jurang menganga dibawahnya ( 01 )
03 . bertukar oxygen ..
04 . saya dalam Black White
05 . jurang menganga mengundang
 yang bernyali untuk 
berswafoto diatasnya ( 02 )
06 . rmah rumah adat ala Papua
07 . gerbang cantik !
08 . silahkan berswafoto diatas
 jurang ini ! ( 03 )
 

Minggu, 14 Februari 2021





.. " De Kleine , Swiss Sebelah Mana ? " .. 
saya tidak tahu alasan sebenarnya mengapa
 banyak sekali ditanah air , tempat tempat wisata yang
 mengusung tema negeri2 asing sebagai
 konsep wisatanya .
 salah satunya yaitu De Kleine yang ada di 
Oro Oro Ombo Batu . sebetulnya tempat wisata yang
 satu ini sudah berdiri beberapa tahun ,
 tapi saya yang baru sempat kesana 
ustru disaat pandemi . lho ?
 tentu saja dengan pertimbangan matang yaitu 
datang pagi2 , hari biasa bukan hari libur
atau
 weekend , dengan prokes komplit ! mengapa ?
 karena blog ini harus berkelanjutan dan 
butuh informasi2 terutama seputar tempat2 wisata
 yang mampu bertahan disaat pukulan pandemi 
yang berat ini . dugaan tidak meleset ,
 pagi itu saya merupakan pengunjung ke 3 dan
 leluasa untuk memilih tempat cangkruk . 
karena baru buka tentu saja  kesibukan stafnya
 terlihat nyata , sebagian masih sibuk menyapu ,
 sibuk di dapur dan di kasir masih terlihat 
belum siap sama sekali . 
dari tepi jalan raya OOO ( Oro Oro Ombo ) ,
De Kleine ini masuk sekitar 1km tapi sayangnya
 jalannya masih belum diaspal rapih yang
 saya bayangkan dimusim hujan seperti sekarang
 sangat riskan kalau pas deras hujannya ,
 bisa2 selip ... 
sebuah lembah yang disulap menjadi tempat 
cangkruk ,
 dengan beberapa bangunan mirip 
piramid kaca untuk pengunjung yang 
ingin privasinya terjaga .
" dipiramid2 itu ada kamar mandinya sendiri bu ,
 juga tidak tercampur tamu lain dengan 
minimal order 300 ribu " begitu jelas seorang stafnya .
 ( untung saja saya tidak mungkin menghabiskan
 pesanan hingga 300 ribu  kecuali kalau 
membawa rombongan kecil hehehe .. ) .
maka sayapun memilih tempat diluar piramid yang
 menurut saya sudah cukup privasinya .
 ( tokh saya tidak butuh ber rahasia2 hehehe.. ) . 
didekat kasir ada beberapa foto2 dari presiden
 pertama Indonesia , Soekarno yang menurut 
kasirnya memang nuansanya di area itu dibuat 
sedemikian rupa , djadoel dan bersejarah dengan
 foto foto jaman perjuangan kemerdekaan . 
oya , berhubung sudah disitu dan saya lihat daftar 
menu ada nama nama nasgor yang unik maka
 sayapun memilih dua nasgor ikonik mereka 
plus ronde  ...
sambil jeprat jepret ,
 rupanya disitu ada ikon lain yaitu banyaknya
 kucing kucing yang mengelilingi meja saya hehehe .. 
dan kebetulan sebelum saya membuat tulisan ini , 
saya telah banyak berkeliling ke
 tempat2 wisata yang ber lembah2 sebagaimana
 trend yang ada saat ini .
 beberapa diantaranya memang luar biasa cantik
 seperti misal De Potrek di Cangar atau 5758 di
 Mojokerto di Cangar atau Rumah Susu 
di Panderman Hill dll  
sehingga bagi saya De Kleine ini termasuk yang
 " standar standar saja " meskipun untuk pencari 
ketenangan dan udara sejuk , memang tempatnya .
 sayangnya saya tak mendapat informasi tentang
 alasan memberi nama De Kleine .
 saya hanya menduga duga bahwa mungkin
 yang dimaksud adalah " Swiss Kecil " dimana 
dulunya Batu memang menjadi tempat istirahat
 para petinggi Belanda dijaman kolonial
 dan dibeberapa tempat mereka menjulukinya
 sebagai Swiss Kecil karena kemiripannya
 dengan negara negara dikaki Alpen 
meski minus salju hehehe .. 
kalau menurut saya ( kebetulan memang pernah
 ke Swiss  ) dibeberapa bagian yang
 berhutan pinus dan cemara memang lumayan
 mirip meskipun ketika melihat bangunan2nya
 tentu saja sama sekali tidak mirip . 
tetapi apapun , upaya pengelola De Kleine ini patut
 di hargai karena ingin kembali
 " menghidupkan sejarah " Batu
 sebagai tempat peristirahatan para petinggi kolonial
 yang saat ini dapat menjadi tambahan 
pengetahuan bagi generasi milenial yang 
mungkin saja kurang memahaminya ..
untuk rasa menunya , saya beri nilai 6.5 skala 0 - 10 ,
 untuk harga , layanan dan atmosfer nilai 7 .
 kalau tampilan nasgor2nya biarlah saya nilai 7 .
De Kleine adalah seumpama charger buat
 batterei yang sedang lowbat,
sebuah pergantian atmosfer disaat pandemi yang
 kita butuhkan karena udara disekitar
 lingkungan kita saat ini cukup menyesakkan .. 
( bagaimana tidak ketika beberapa warga 
dilingkungan saya ada yang terpapar covid hingga
meninggal , sehingga saya hampir selalu
merindukan udara segar ... ) 

( Writing & Photos : Titiek Hariati , Pebruari 2021 )
keterangan foto :
01 . kucing melompat 
02 . kehijauan De Kleine
03 . becak yang entah apa maknanya
04 . mangga bergelantungan
05 . piramid dengan minimal order
06 . staf / kasir yang ramah
07 . nasgor telur
08 . ronde dikesejukan udara
09 . saya ditemani kucing2
10 . nasgor udang
11. de Kleine atau si Kecil
12 . tempat parkir