Tampilkan postingan dengan label peristiwa nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa nasional. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Agustus 2014







 .. " 17 Agustus 1945 - 2014 dari Bung Tomo hingga Leo Kristi " ..

siapa tidak mengenal foto fenomenal jepretan wartawan IPPHOS yang menggambarkan wajah seorang arek Suroboyo asli, yang lebih dikenal dengan nama bung Tomo ini?
 wajah yang penuh bara semangat nasionalisme patriotisme serta suara yang berkobar kobar membakar semangat pendengarnya yang kala itu masih dalam masa perjuangan ?

 pionir lulusan sekolah pandu dan mantan wartawan, redaksi serta pejuang , seniman dan mendapat kepercayaan Sukarno dalam berbagai bidang ini adalah seorang pemuda brilian
 yang diperlukan dan merupakan jawaban pada jamannya.

 dan pada tiap 17 Agustus, kita mengenangnya sebagai salah satu pahlawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang gigih tanpa pamrih.



 gigih tanpa pamrih.
alangkah mudah diucapkan, tapi dijaman kemerdekaan saat ini makin sulit ditemukan. 
kalau dulu berjuang demi tanah air adalah sebuah panggilan jiwa, 
maka saat ini telah berganti dengan panggilan 
" Wani Piro .... ? "

Indonesia memang sudah dan sedang berubah wajah. 
Indonesia memang sudah " mlungsungi " dari yang semula cantik alami menjadi cantik berkat bedah plastik dan makeup tebal yang konon " makin mbeluk makin laku " ..... ! 

boro boro berjuang tanpa pamrih, dalam berbagai pilkada, pilpres dll sejarah selalu terulang dan membuktikan bahwa semuanya itu bergerak dan berputar karena angpao ! 

belum lagi masalah korupsi, maka pidato pidato heroik ala bung Tomo atau Soekarno sudah berganti wajah dengan pidato pidato enerjik untuk
 berebut kekuasaan, pengaruh dan materi pada gilirannya.

menyedihkan?
 ya inilah kenyataannya yang dulu tak terbayangkan oleh bung Tomo dll yang berjuang bahkan mempertaruhkan tetes darahnya demi Indonesia tercinta .
 setelahnya yang ada adalah perjuangan demi kelanggengan kekuasaan dinasti masing2
 ( bapak, ibu, anak, menantu, cucu, cicit , adik, kakak, ipar dst dst kalau bisa semuanya kebagian kekuasaan dan materi, soal halal haramnya itu urusan KPK nantinya .... )


 maka, diantara yang masih ber nurani dan memiliki kecintaan tanpa pamrih, ada disegolongan seniman ( meski tidak semua ! ) melalui pesan pesannya yang   sarat kearifan serta mengajak pada sebuah kesadaran  Cinta Tanpa Pamrih Pada Indonesia.

 karya karya drama, teater, tulisan, lukis dan pahatan, musik dll seolah " mengisi kekosongan " panggung politik yang panas.
salah satunya adalah Leo Kristi yang identik dengan " penyanyi 17 an " ini !

 mas Leo ( begitu saya selalu memanggilnya ) ini memang tak mau manggung sembarangan sebab yang diusung juga bukan pesan serampangan. 
jangan pernah mengundang seorang LK kalau tidak siap memahami balad2nya yang berkedalaman hingga dasar samodra. vocal dan gitar tunggalnya sudah cukup menggetarkan sebuah stadion, apalagi kalau sudah mulai " mencak mencak " dan berteriak 
( bukan menyanyi ) dengan vocal ala bung Tomo, heroik ... !


 tapi setelah itu, mendadak ia melengking dalam nada nada yang ganjil dan aneh ditelinga, bahkan fals, dan kita mulai diajaknya mengembara dalam kelana seorang
 Leo Kristi yang tanpa batas! 

dan diantara keluhan serta ratapannya ia bicara tentang Indonesia yang 
penuh koreng dan luka membusuk.

 tatapan matanya yang garang dan tajam, barangkali mampu mengingatkan pada seorang bung Tomo. pejuang masa kini memang tak harus selalu menyandang bedil dan granat,
 tetapi bedil dan granatnya merobekkan telinga yang mendengarnya  lewat
lirik2 yang mensilet tajam. 

 jubah atau baju hitam dengan gitar yang juga hitam, panggung juga serba kelam, adalah kesukaan LK, karena hitam baginya adalah jawaban beribu tanya tentang 
semesta, Indonesia dan juga cinta. 


 adakah bung Tomo dan Leo Kristi masih terhubung darah? meski tidak langsung, seperti juga kita semuanya, mengapa berpusing mencari benang merah bila keduanya punya bahasa yang sama meski lewat jalur yang berbeda dijaman yang juga berjarak ? 

Dirgahayu Indonesia ku, meskipun masih banyak lukamu yang tercecer disana sini, 
semoga saja engkau akan lalui tahun demi tahun kemerdekaanmu dengan penuh kedewasaan  dan kekuatan menghadapi tantangan2
lokal, nasional dan global yang semakin berat dari saat ke saat.

setiap era memiliki tokoh2nya yang sesuai dengan tuntutan jamannya , bung Tomo dll memang sudah menjawab kebutuhan jamannya, dan kini, siapakah yang tepat untuk Indonesia ?
hanya waktu dan tentu saja ALLAH yang mampu  menjawabnya.
semoga Indonesia makin bercahaya.
( th )

( gambar2 dari google )

Minggu, 20 April 2014






.. " 21 April,
 wanita pingitan itu telah bergabung di NASA , 
sebuah potret wanita Jawa " ..

usianya masih sangat belia saat wafat, 25 tahun, hanya berselang 4 hari setelah melahirkan putra I dan terakhirnya, dan putri bupati Rembang bernama Kartini itu tidak sempat menyaksikan putranya tumbuh dewasa pun tidak pernah menyaksikan wanita wanita Jawa yang dulu diperjuangkannya telah melesat bahkan mungkin melampui bayangannya.

sempat mendapat didikan Belanda karena status orangtuanya, yakni di Europese Lagere School/ ELS, Kartini ternyata hanya sampai usia 12 tahun boleh menikmatinya.
 diusia itulah ia harus masuk pingitan. lahir 21 April 1879, sudah tentu ini menyedihkannya karena sangat banyak yang masih ingin diraihnya dalam hidup. 



 penguasaan bahasa Belandanya, membuat Kartini banyak melahap majalah, koran, novel, buku buku sastra yang berat dll yang semakin membuatnya sedih membayangkan betapa bebasnya wanita wanita barat berpikir, berpendapat, bersekolah dan berkarir.  

 kesedihan ini tidak terbatas pada diri pribadinya, namun lebih pada kaumnya, wanita wanita Jawa masa itu yang seolah hidupnya terpasung adat, tradisi bahkan agama. 
bagaimana mereka ini dapat maju atau setara pria apabila begitu banyak " jerat jerat " dilingkungannya sebagaimana adat istiadat, tradisi dll yang umumnya 
" mengkerdilkan " peran wanita ?


kartini remaja tumbuh dalam pergolakan batin yang tak menemu jalan keluar kecuali curahan hatinya lewat surat surat panjangnya kepada beberapa temannya di Eropa antara lain kepada Rosa dan suaminya, Mr. JH Abendanon yang menjabat sebagai 
Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda .

 pemikiran2 besarnya melesat melampui jamannya dan  terkungkung tembok tebal di sekeliling pendopo ayahandanya, Kartini resah dan gelisah.

 penantian panjangnya untuk mendapat ijin menjadi guru di Batavia nyaris tercapai,
 namun pada Nopember 1903 Kartini membatalkan niatnya karena patuh pada kehendak ayahandanya untuk menikah dengan bupati Rembang. 
sebuah kontradiksi mengingat ketidaksetujuannya dengan tradisi pernikahan secara " paksa " dan bukan atas pilihan sendiri.

 beruntunglah Kartini karena ternyata suaminya mendukung cita citanya untuk mendirikan sekolah bagi wanita wanita, yang kelak bernama Sekolah Kartini . 
beberapa tahun setelah wafatnya, Yayasan Kartini yang didirikan oleh Van Deventer membuka cabang cabang Sekolah Kartini diberbagai kota antara lain
 Semarang, Yogya, Madiun, Cirebon, Malang dll.


surat suratnya yang berisikan pemikiran pemikiran seorang Kartini muda yang pada jamannya telah sedemikian maju dan visioner, mendorong beberapa penulis terkenal untuk merangkumnya dalam berbagai buku tentang Kartini. 

nama nama JH Abendanon, Armijn Pane, Pramoedya Ananta Toer, Joost Cote dll adalah mereka mereka yang berupaya keras agar pemikiran pemikiran besar Kartini 
dapat dibaca dan dipahami oleh bangsanya
 terutama kaum wanitanya.

disana kita dapat meraba dan merasakan " penderitaan " Kartini menghadapi kungkungan adat dan tradisi namun disaat yang sama ia juga bersikap patuh terhadapnya dan bahkan
 pernikahan nampaknya telah mengubah pendapatnya tentang adat dan tradisi .

 perubahan pemikiran ini oleh Armijn Pane ditangkap dan di terjemahkan dalam bukunya tentang Kartini yang di baginya dalam 5/ lima bagian " perjalanan pemikiran seorang Kartini " .

saat ini, kita tidak lagi heran melihat wanita wanita Jawa dan Indonesia umumnya, telah sedemikian leluasa memilih isi dari buku kehidupannya.
 sekolah? apapun bisa ! berkarir ? tinggal plih ! menikah atau tidak? terserah. 
pasangan hidup? kalau cocok, why not ? dst dst. 

betapa wanita wanita Indonesia sangat beruntung saat ini, karena pintu terbuka lebar lebar untuk menjadi apapun yang diinginkannya, sesuatu yang dijaman Kartini masih menjadi sebuah mimpi dan angan angan yang hampir mustahil meraihnya !

21 April tidaklah cukup hanya sekedar berkebaya dan bersanggul ala Kartini bila tidak disertai dengan sebuah pemahaman bahwa Menjadi Apapun Yang Dipilih Tidaklah Serta Merta Menjadi Super Woman Yang Kehilangan Kodratnya Sebagai Wanita ! 


 menjadi astronout seperti Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono ( yang karena meledaknya Challenger terpaksa batal meng angkasa ) atau presiden wanita   atau pembalap mobil wanita atau atau atau dst dst, silahkan ... !

namun setinggi apapun bintang dilangit, tetaplah Wanita Jangan Kehilangan Kodratnya sebagai Isteri, Ibu, Kekasih, Tempat Suami dan Anak Anaknya Mendapatkan Kasih Sayang , 
Kehangatan dan Kepedulian Tanpa Akhir, itulah sebenar wanita betapapun diluar rumah ia adalah seorang yang perkasa ataupun berkuasa. 

Kartini pastilah bangga dengan semua pencapaian wanita wanita bangsanya saat ini namun sekaligus akan sangat berduka bila kebebasan ini membuat wanita wanita  bangsanya kehilangan kodrat kewanitaannya dan bahkan " menjadi lebih pria dari prianya sendiri " .
semoga tidak terjadi, dan Selamat Memaknai Hari Kartini dengan lebih benar. 
( th ) 



( gambar gambar dari google )

01. Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja
02. Masa kecil Kartini
03. Siti Soemandari Soeroto, Biografi Kartini
04. Lompatan Gila, pemikiran RA Kartini
05. Cinderamata dari Museum Jepara
06. Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono, charming, genius
07. Habis Gelap Terbitlah Terang

Sabtu, 09 November 2013





.. Siapa Pahlawan Itu ? ..

hari ini, 10 Nopember, di kalender tertera Hari Pahlawan, pas hari libur, hari minggu.
 entah apakah sekolah/ kantor2 tetap melaksanakan upacara atau bersyukur bahwa tak perlu ada upacara karena pas hari minggu? semoga hari ini tidak begitu saja lewat karena kita semuanya tanpa kecuali di Indonesia ini, tidak akan dapat menikmati kekinian ini TANPA adanya pelaku pelaku sejarah perjuangan bangsa menuju dan mempertahankan kemerdekaannya.


secara khusus, 10 Nopember 1945 memang memiliki catatan tersendiri  dengan gugurnya sekitar 16.000 pejuang Indonesia dalam sebuah pertempuran sengit di Surabaya yang berlangsung hampir tiga minggu lamanya dari prediksi Belanda saat itu yang mengira akan dapat diselesaikan hanya dalam waktu 3 hari. kematian Brig. Jend. Mallaby telah memicu kemarahan sekutu dan Surabaya menjadi lautan api karena 
para pejuang kita juga tidak rela kemerdekaan yang sudah diproklamirkan 17 Agustus 1945 terinjak injak martabatnya oleh penjajah.

 para pejuang kita saat itu umumnya masih sangat belia, terdiri dari pelajar, para santri, petani, dan warga biasa serta juga prajurit yang kesemuanya menyatukan semangat dibawah satu panji, Merah Putih. 

adalah bung Tomo sebagai motor penggerak semangat perjuangan ini, yang melalui sebuah pidatonya yang membakar dada para pejuang untuk maju melawan penindas, telah menjadi penyulut perjuangan yang sama diseluruh wilayah tanah air.
semboyan " Merdeka Ataoe Mati ! " hanya
 itu pilihannya.

salah satu lokasi pertempuran dahsyat di Surabaya ini adalah Jembatan Merah yang hingga kini masih dapat disaksikan bentuk aslinya. pertanyaannya  sekarang 
" masih adakah pahlawan saat ini diantara kita, siapakah mereka?"

jawabannya pasti " masih ada ", siapakah ? definisi pahlawan bisa sulit dan gampang, tergantung. mungkin dapat disederhanakan begini :
" pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk kepentingan sesamanya, apapun bidangnya, namun tidak disertai pamrih untuk mencari nama atau kekayaan atau popularitas, dan bahkan  dilakukan tanpa mengharap imbalan materiil apapun " .

sulit bukan? siapa dijaman ini yang mampu seperti itu apalagi ditengah tekanan ekonomi yang semakin mencekik dengan melambungnya harga harga kebutuhan sehari hari, apakah ada yang mau memberikan jasanya secara gratis tanpa pamrih lagi?

di tv kemarin, saya melihat seorang tukang becak dengan empat anak dan kondisi rumah tangga yang sangat pas pasan, menemukan tas tertinggal dibecaknya berisi 9/ sembilan juta rupiah ! dengan penuh keikhlasan diantarkannya tas tersebut kepada si pemiliknya tanpa kurang
 se rupiahpun. Mahluk Langka yang bernama Pak Becak ini, bagi saya juga seorang pahlawan, Pahlawan Kejujuran yang saat ini sudah tersisa hanya legenda !

maka apabila sebuah kata ini dimaknai, yakni " KEJUJURAN " maka ini sebenarnya adalah intisari dari sebuah Sikap Kepahlawanan, apapun bidang dan aktivitasnya. jujur kepada diri sendiri dan orang lain, sebuah kalimat mudah yang sangat sulit dilaksanakan apabila tidak disertai dengan Kemauan dan Keikhlasan.

pak becak yang jujur mengembalikan temuan 9 juta rupiah diatas bangku becaknya. 
sementara para koruptor yang bahkan sudah tertangkap, masih banyak yang ingin menyembunyikan hasil korupsinya dengan bermacam dalih dan modus.

kepada para guru, dokter, bidan, dll yang berada ditempat tempat terpencil, sulit dijangkau serta fasilitas serba terbatas namun penuh pengabdian, mereka mereka juga pahlawan karena rela berkorban untuk kepentingan sesamanya.

agaknya bangsa  kita telah sampai disebuah tikungan jalan yang terbelah dua, mungkin saatnya Indonesia harus memilih. akan kemanakah kita melangkah?

kita tidak memerlukan pahlawan pahlawan yang Gegap Gempita dan Bangga dengan Poplularitas dan Power nya, tetapi kita sangat merindukan Pahlawan Pahlawan Dalam Diam Tetapi Berkarya Nyata Untuk Bangsa, Negara dan Sesamanya betapapun kecil kontribusinya ! pak becak  yang jujur tadi memang bukan siapa siapa, tidak terkenal, bahkan terpinggirkan, namun saat permata yang dimilikinya bersinar karena sikap jujurnya, maka masihkah banyak diantara kita yang mencoba menjadi pahlawan pahlawan namun kesiangan?

semoga 10 Nopember memberi banyak makna dan renungan bahwa sesungguhnya seorang pahlawan itu Tidak Pernah Berharap Tanda Jasa namun dia justru memberikan jasanya pada sesama Tanpa Pamrih. semoga itu adalah Anda ....! ( th )

 ( keterangan foto : keduanya diambil dari google, Bung Tomo dan Pak Guru Naik Onthel, cuplikan adegan film " Laskar Pelangi " )

Minggu, 27 Oktober 2013







.. " Orek Orek an Seorang Yamin " ..


saat Kongres Pemuda ke II di Batavia  27, 28 Oktober 1928 hampir berakhir dan pidato pidato penutupan mulai diluncurkan antara lain saat itu 
oleh Mr. Sunario, alkisah Moehammad Yamin 
" jawil jawil " rekannya Soegondo sambil memberikan secarik kertas yang lalu diberikan paraf oleh Soegondo.

dari tangan Soegondo, kertas " orek orek an " itu diteruskan kepada yang lain dan masing masing membubuhkan parafnya juga disana. 
diakhir sesi Kongres, kertas tersebut dibacakan oleh Soegondo dihadapan seluruh peserta Kongres dan dilanjutkan dengan 
penjelasan panjang lebar tentang " orek orekan bersejarah " tadi oleh penulisnya Moehammad Yamin.

spirit penyelenggaraan Kongres I tahun 1926 dan Kongres ke II tahun 1928, nampaknya telah terwakili secara utuh dalam tiga baris alinea yang terkandung dalam " orek orek an tadi "  yang intinya ( dalam versi asli ) adalah sebagai berikut :

Pertama,
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah  Indonesia. 

Kedoewa,
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, 
bangsa Indonesia.

Ketiga,
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

( versi ini dalam perkembangannya, menjadi versi teks Sumpah Pemuda seperti yang saat ini kita kenal ) 

adalah Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatranen, Jong Celebes, Jong Batak dan lain lain yang saat itu mengimpikan sebuah Kesatuan dan Persatuan agar tidak terkotak kotak dalam kesukuan namun lebur sebagai sebuah  kebersamaan yakni Pemuda Indonesia.

dan disebuah rumah pemondokan pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong di Kramat Raya 106 Batavia, sejarah mencatat diawalinya semangat kebersamaan ini yang dikristalisasikan dalam ikrar bersama sebagaimana yang ditulis diatas, pada penutupan Kongres Pemuda ke II, 28 Oktober 1928.

ikrar yang tampaknya " hanya " berwujud beberapa baris kalimat, 
tidaklah lahir melalui sulap menyulap. 
ia surut jauh kebelakang sebelum 1928, dimana kesadaran sebagai 
satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa 
belum sedemikian mengental dikarenakan situasi penjajahan yang tidak menginginkan tumbuhnya kesadaran nasionalisme patriotisme terutama dikalangan pemudanya.

maka, bila jerih payah para perintis spirit kebersamaan menuju Kesatuan dan Persatuan sebagai sebuah bangsa besar, Indonesia, ini ternyata semakin dilunturkan oleh seringnya tindak anarkis, tawuran, konflik SARA dll ditanah air yang semakin memprihatinkan,
 rasanya jerih payah itu kita buang sia sia.

bukan sekedar pembacaan ikrar Sumpah Pemuda dalam upacara upacara yang terpenting, tetapi Semangat itu harusnya kita tumbuhkan pada diri masing masing meski Tanpa Upacara dan tidak hanya tumbuh ditanggal 28 Oktober melainkan menjadi spirit keseharian baik dilingkungan tempat tinggal, tempat bekerja, tempat menimba ilmu dll dll.

kalau kita gagal memelihara spirit ini, mungkin perlu diadakan 
Kongres Pemuda Tawuran Indonesia, begitukah ? ... ( th )

( sumber, Wikipedia, foto Kongres Pemuda Ke II )
 

Jumat, 04 Oktober 2013



  
.. " Nyala itu telah dimulai, 
di pelosok pelosok terpencil " .. 
( catatan Hari Guru Sedunia, 05 Oktober )


Tahun 1994 UNESCO menetapkan 05 Oktober sebagai Hari Guru Sedunia. 
Sebuah monumen untuk membangkitkan kesadaran , pengertian dan penghargaan dunia akan arti dan peran penting guru dalam kelangsungan pendidikan dan 
pengembangan serta pembentukan generasi.
 Pun tidak ada yang bisa menyangkal betapa Guru memegang peran sedemikian vital 
dalam pengembangan intelektual seorang anak sejak 
disekolah dasar hingga menengah dan atas.

Namun jaman memang telah bergeser. 
Potret guru ideal dijaman dulu telah berbeda jauh dengan potret guru masa kini.
Duluuuu, guru tampil lebih bersahaja, bahkan tidak semuanya memiliki sepeda pancal, kebanyakan naik angkutan umum ( bemo atau delman atau becak ) atau berjalan kaki.

Bahkan saya mengalami " Jaman Melayu " ketika panggilan kepada bapak ibu guru adalah 
" Encik " dan " Engku ". Itu terjadi di SD Sriwedari, Jalan Ijen 32 Malang, atau saat ini ditempati rumah pribadi disebelah perpustakaan.

Encik dan Engku itu pulang pergi bersepeda pancal dan saya paling ingat dengan ibu guru Bahasa Indonesia yang  sering meminta tolong saya untuk menuliskan bahan pelajarannya di papan tulis karena penglihatan beliau yang mulai kabur. 



Kepala Sekolah kami, Encik Maria, figur yang sangat disiplin dan keras tegas, kami yang masih kecil kecil sering dibuat " takut " dengan pemeriksaan kuku tiap hari, 
dimana penggaris besar dan panjang menjadi senjata beliau ... uhhhh ... mengerikan hehe ...



 Maka setiap kita pasti mempunyai kenangan tersendiri kepada para guru yang mengesankan.
Tetapi, saat ini, saya agak " kehilangan " gambaran guru seperti dimasa lalu.
Deretan mobil mobil mewah dihalaman parkir sekolah adalah merupakan kewajaran bagi bapak ibu guru saat ini. Tas dan sepatu ber merek, juga asesori. 
Saya ingat, betapa sepatu salah satu bapak guru saya dulu terlihat jahitannya, 
sesuatu yang mustahil dijaman ini.

Maka patutlah disyukuri bahwa kondisi para guru saat ini berbanding terbalik, kesejahteraan guru telah jauh membaik namun bagaimana dengan " layanan " guru kepada anak didik dan
lembaganya sebagai pilar pembangun karakter anak anak bangsa? 

Berbagai kasus yang menimpa para pendidik kita ditanah air akhir akhir ini memang agak memprihatinkan, misal : 
guru melakukan pungli, korupsi, KDRT terhadap siswanya, bahkan pelecehan seksual, dll dll seolah memburamkan gambaran ideal seorang guru.

Ditengah keprihatinan inilah, gerakan " Indonesia Mengajar " / IM yang diketuai Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, sejak Mei 2010  IM seolah memberi  
" obat pelipur lara " bagi carut marut dunia pendidikan ditanah air. 

Semakin langkanya guru yang bersedia mengajar ditempat tempat terpencil, terisolasi dan terbelakang, telah dijawab oleh IM dengan membuka peluang bagi ( utamanya ) freshgrad S-1 untuk selama setahun secara sukarela berada ditempat tempat yang tersebut tadi.

mengapa? karena pendidikan adalah HAK setiap anak bangsa dan kwalitas pendidikan seharusnya tidak ada bedanya antara sekolah favorit di kota kota dengan 
yang tidak favorit ditempat tempat terpencil.

 Diluar dugaan, IM menerima 1.383 relawan pendaftar I yang siap " tempur " di manapun mereka akan dikirim ... !

Ini adalah pembalikan Wajah Anak Muda Indonesia yang Luar Biasa ! 
Mereka adalah anak anak muda yang justru berasal dari lingkungan mapan, nyaman dan 
" tak bermasalah ". Namun mengapa mereka bersedia " bersakit sakit " selama setahun berada jauh dari kenyamanan dan bergelut dengan bermacam kesulitan?

Ada yang harus menempuh desa terpencil itu dengan perahu kecil selama 5-6 jam, 
juga tidak adanya fasilitas listrik, air bersih dll yang memadai. 
Saat saya melihat Relawan dan Guru Guru Muda Penuh Dedikasi ini dilayar kaca, dengan warna kulit yang kusam dan gosong terkena matahari, angin dan debu yang setiap saat mereka hadapi di desa desa pegunungan atau pantai pantai,
saya hanya bisa merasakan sesak didada oleh keharuan.

Salah satu dari mereka berkata :" Ini adalah pengalaman mahal yang tidak akan pernah saya peroleh dimanapun dan membuka kesadaran saya akan arti penting sebuah 
pengabdian kepada nusa dan bangsa ... " ....

Adik adik atau anak anak muda dalam IM ini mungkin memang tidak akan semuanya kelak menjadi guru setelah tugasnya berakhir. Namun setidaknya mereka telah pernah 
berkontribusi secara langsung dan nyata dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan anak anak bangsa yang terisolir kampung halamannya. 

Dari guru guru relawan muda IM inilah, anak anak yang ada di pelosok pelosok yang sulit dijangkau menjadi " melek huruf ", " melek teknologi ", serta 
" melek kesadaran sebagai anak anak bangsa pewaris dan pengawal Indonesia dimasa depan " dst dst.Sebuah tetes air pengurang dahaga di kalangan anak anak terpencil !

Tawa cerah yang tulus, ada diantara relawan relawan guru guru muda IM ini dengan para anak didiknya yang tak bersandal dan tak berseragam serta tak makan pagi kesekolah ..
Inilah wajah wajah lain dari generasi muda kita, 
yang rela meninggalkan HP,iPad,laptop dll nya selama setahun demi sebuah pengabdian tulus ...

Spirit para relawan muda inilah yang semoga masih dimiliki oleh para guru guru ( ASLI ) kita dimanapun berada, yang tak terlampau berhitung dengan honor maupun kepentingan kepentingan pribadi lainnya dengan  kesadaran bahwa masa depan bangsa sungguh sangat ditentukan oleh kecerdasan anak anak bangsanya ! 

Pun kita yakin dan tahu, masih banyak para guru ( asli ) saat ini yang juga penuh dedikasi ditempat tempat yang tidak terjangkau listrik dan teknologi, 
kepada mereka lah terutama harapan ini tergantungkan agar kepentingan pendidikan masih diutamakan dibandingkan 
kepentingan pribadi dan gaya hidup guru yang berlawanan dengan idealisme guru.

" SELAMAT HARI GURU, TERIMA KASIH ATAS JERIH PAYAH YANG PERNAH
DIBERIKAN KEPADA KAMI " ( th )

keterangan gambar :

01. relawan IM bersama anak didiknya, diambil dari situs IM.
02. relawan IM yang lainnya disebuah desa terpencil, diambil dari situs IM.
03. Indonesia Mengajar, diambil dari situs IM.
04. Dewan Guru, diambil dari situs SMP PGRI 1 Buayan, Kebumen.
( sumber al dari : wikipedia )






Jumat, 17 Juli 2009

Jum'at Berdarah ( Lagi ) di Jakarta




Mengerikan. Hari ini, 17 Juli 2009, hari Jum'at, Jakarta berdarah lagi. Dilokasi yang juga sama dengan target aksi berdarah sekian tahun yang lalu, drama keji terulang. Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot nampaknya menjadi sasaran "favorit" karena ditengarai menjadi salah satu pusat bisnis dan diplomatik di Jakarta.


Betapa gambar yang tertayang di layar kaca seolah mewakili sisi kelam manusia, namun siapakah para perancang skenario biadab ini? Serpihan tubuh manusia di restaurant, juga serpihan daging manusia disepotong T Shirt yang berdarah, serta para korban yang pasti sedang merasakan kesakitan luar biasa, nampak silih berganti di layar kaca.

Sampai saat saya menulis ini, konon 9 tewas dan sekitar 60 luka2. Alasan apapun yang ada dibalik aksi teror ini sungguh tidak dapat ditolerir! Terlebih para korban tidak bersentuhan secara kekerabatan atau pertemanan serta tidak memiliki alasan untuk dicederai secara keji oleh para pelaku teror. Jadi : mahluk sejenis apa sebenarnya otak dan pelaku teror ini?

Belum lagi masalah citra bangsa. Indonesia sedang berada pada titik nol. Kepercayaan internasional sedang pada titik nadir. Bukan saja dunia pariwisata, olahraga, investasi maupun politik, tapi hampir disemua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita, peristiwa ini jelas2 sangat merugikan Indonesia finansiil dan terlebih moril. Hampir bisa dipastikan bahwa agenda pembatalan berbagai kerjasama, kunjungan, investasi, kontrak dll akan memadati tanah air.

Maka saatnya telah sangat tiba, untuk kita lebih peduli lingkungan. Peduli siapa tetangga kita. Peduli siapa orang baru dilingkungan kita. Peduli undangan RT RW. Peduli aktifitas kampung atau desa atau perumahan. Undangan RT RW yang mungkin biasanya terwakili pembantu atau sopir, hendaknya akan menjadi agenda utama kita sebagai warga masyarakat yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Sebab kita juga tidak ingin dikejutkan oleh tayangan TV yang memperlihatkan wajah tetangga atau tamunya  sebagai otak teroris.

Kasus tertangkapnya komplotan Ashari di Batu, Malang, sekian tahun yang lalu adalah contoh betapa kekurangpedulian masyarakat terhadap orang orang baru dilingkungannya dapat membawa bencana.

Segenap doa dan dukungan moril kita panjatkan bagi para korban dan keluarganya. Semoga arwah arwah mereka dilapangkan disisiNYA serta bagi yang masih dirawat di RS segera mendapat kesembuhan baik fisik maupun mental.Amien.

Semoga keadilanNYA akan mempercepat tertangkapnya para pelaku maupun perencananya.

( Sumber gambar : http://74.53.24.87/news/uploads/6/indo.marriott-bomb-wreckage090723g600.jpg)