Tampilkan postingan dengan label 10/11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 10/11. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014





 .. " Kedai Kampung yang tidak kampungan " ..

sebelum saya mulai " bla bla " agaknya perlu kita samakan dulu makna kata " kampung " yang akhir2 ini makin di populerkan dijagad kuliner. 
duluuuu, kalau menyebut kata " kampung " yang terbayang adalah rumah yang berdesakan bahkan kumuh, atau sesuatu yang norak , mencolok atau " tidak metcing babar blas " 
alias bertubrukan, tidak berselera , singkatnya disebut " kampungan " .

 apakah memang segala sesuatu yang berasal dari daerah atau wilayah kampung itu identik dengan sesuatu yang norak/ kampungan ? agaknya perlu disurvey .

didunia fashion, bahkan disengaja ada sebuah era dimana trend berbusana norak/ kombinasinya saling bertubrukan/ tidak metcing sama sekali. 
tapi lucunya  tidak ada yang menyebutnya norak atau kampungan dan yang membuat trend adalah justru para desainer Adi Busana yang selama itu tabu dengan hal hal yang norak/ kampungan. mengapa mereka melakukannya?

mungkin jawabannya ada di planet kuliner yang belakangan ini seolah berlomba untuk menjadi lebih " kampungan atau ndheso " . pertama nama nama kedai dan menunya yang mengesankan sangat kampung atau ndheso. dan yang  kedua adalah interiornya yang dibuat ala atmosfer kampung, desa atau kembali ke jaman " sepur lempung " .


 maka nama nama kedai saat ini seolah berada di jaman lampau seperti misalnya :
lodeh mak Yah, sambel pedes mbok Ni, pawon ndheso dll.
menu menu improt agaknya berhadapan dengan menu menu lokal yang tradisionil dan asli Indonesia, sebuah fenomena menarik karena keduanya punya ciri khas yang sulit dikawinkan. 

 apa boleh buat, "perang kuliner" sudah terbuka lebar, Malang sudah sejajar dengan Bandung dll dan semua hal yang berbau kampung, ndheso, tradisionil, asli,  menjadi selling-point dalam menghadapi arus resep resep manca yang membanjir semacam pizza, burger, dll.


 salah satu kedai di Malang yang " ikut ngampung " adalah Kedai Kampung berlokasi di
 kawasan elit, Jalan Merbabu 29 Malang. 
tidak tanggung tanggung, yang ditawarkan mulai dari Kampung Kulon maksudnya Jawa Barat, terus juga Kampung Tengah yakni menu kampung Jawa Tengah, dan juga ada Kampung Etan dari menu menu kampung di Jawa Timur.

 maka kita bisa temukan Nasi Tulang Jambal, Tahu Gejrot Mang Pepen, terus dari Jawa Tengah ada Mie Goreng dan Nasi Goreng, lalu dari kampung kampung Jawa Timur antara lain ada Jangan Pepes Tongkol dan Sego Sambel Lele.


saya ingin merekomendasikan Tahu Gejrot nya yang diuleg sendiri bumbunya oleh owner dari Kedai Kampung ini, yang saya beri nilai 7.5 ( skala 1 - 10 ) !
 pedes, asem, manis pokok rasa bumbunya " nendang banget " jadi saya bisa2 tidak makan apa apa, cukup 2 - 3 porsi Tahu Gejrot saja bila perlu hehe .. 
didaftar minuman, ada misalnya dawet atau cappucino cincau, dll. 

naaa ... dengan atmosfer yang sama sekali tidak " kampungan " , kedai yang berada di pojok jalan ini menawarkan atmosfer yang hangat dan nyaman untuk hang out bersama teman/ kerabat dengan sederet pilihan menu menu khas Jawa yang sangat " pomah "  ala masakan ibu ibu kita jaman doeloe ( lha ibu ibu jaman sekarang lebih suka pizza atau steak, iya to ? )
 penasaran ? yukkk .... ( th )


( photos by : th, Kedai Kampung Malang, January 2014 )

01. atmosfer yang nyaman
02. jalan merbabu, pojok
03. nguleg bumbu tahu gejrot
04. pikulan yang cantik
05. tahu gejrot ... yummyyyy !
06. tampak dari luar
07. daftar menu
08. dapur

 

Selasa, 03 September 2013





 .. Mie Setan. Siapa takut? ..

( catatan tercecer lebaran 2013, 10/11 , bagian I )

jaman bergeser. nama nama yang dijaman purba ditabukan, saat ini justru diidolakan.
contoh : yang berbau bau mistis dan " melanggar " justru menjadi selling-point, misal rawon/ceker/ mie setan , depot heroine, dll dll yang serem serem. 

di Malang pun bermunculan trend ini dan saking banyaknya yang suka, sampai terjadi ada beberapa belas Mie Setan misalnya. 
dan kalau orang mencari letak Mie Setan yang asli,
 saya sulit menjawabnya sebab siapa yang paling dulu memakai nama ini memang tidak terdata. 

apalagi masyarakat kita belum " patent - minded" maka orangpun santai santai saja ketika menemukan kembaran nama 
dari usahanya, malah orang merasa diuntungkan bahwa  ada pihak lain yang " ikut mempopulerkan " nama usahanya hehe ..

lebaran 2013 yang lalu, rombongan mudikers saya meminta kepada saya untuk minimal satu kali dalam liburan mudik yl , mampir ke Mie Setan / MS tapi syaratnya harus ada saya 

( lebaran tahun yl mereka juga sudah ke MS hanya saya tidak ikut karena banyaknya tamu kerumah termasuk keluarga MS juga yang terbilang keponakan sendiri ) .

namanya saja masih suasanan lebaran, maka malam itu wajar kalau  semua meja kursi di MS Jl. Bromo, Malang, semuanya padat merayap.

sebenarnya saya tidak suka " koneksi2an " tapi berhubung para mudikers saya liburannya terbatas dan sudah tidak ada waktu lagi untuk mengulang ke MS besok/ lusanya karena padatnya agenda, terpaksa mengerahkan " bala bantuan " .

dan terpaksa berlakulah hukum keluarga yang mestinya dalam bisnis " diharamkan ". 
" waaa ... maaf te, lagi ramai, kita kedalam aja yaa .. ", tanpa basa basi tawaran 1000% diiyakan dan ramai2 keruang pribadi si setan e... si keponakan.



dua macam menu membelah selera rombongan kecil saya, yaitu " menu setan " alias yang berlombok 60 dan " menu malaikat " yang non-lombok. 
minumannya juga tak kalah serem, es gendruwo, es kuntilanak , es pocong dll.  
( ya sudah sak karep karepmu, pokok e enak , batin saya hehe ... )

tapi jangan salah, sebab " menu setan " itu sengaja dipesan untuk dicicipi ramai ramai alias menjawab  rasa penasaran seperti apa sih setan e .. lombok 60 itu meskipun cuma dicicipi sedikit sedikit oleh masing masing anggota rombongan saya.

ternyata memang sesuai namanya! 
meski mencicipi hanya seujung kuku, ternyata sudah cukup bikin lidah terbakar. maka sulit membayangkan bagaimana menikmati menu berlombok 50, 
sebab seenak apapun masakannya pasti yang terasa cuma pedes tok ! 

konon yang berhasil menghabiskan makanannya dengan lombok 50, mendapat bonus alias uang tunai . tapi saya sama sekali tidak tertarik berapapun jumlahnya , 
daripada masuk UGD karena murusssss ...hehe ..

di sini kita bisa memilih tingkat kepedasan mulai level 1 sd 5 @ 12 lombok, jadi level tertinggi itu berlombok 60 ! mie yang dipakai itu sejenis yang untuk spaghetti, terus juga ada siomay yang dimasak ala dimsum, masih ditambah dengan daging burger yang di potong potong. resepnya? tentu saja rahasia perusahaan hehe ...

MS di jalan Bromo ini memang memiliki atmosfer yang hangat dan padatnya pengunjung menunjukkan bahwa trend kuliner yang pedasnya menyengat memang sedang disukai. 
saya tidak tahu apakah selera saya yang sudah kuno atau apa, 
tapi saya merasa lebih suka mencari kuliner yang " aman aman saja diperut " , 
jadi saya pilih mie angel ( = malaikat ) yang tertera di menu-card.


ternyata tidak hanya kaum muda tetapi manula dan keluarganya juga ikut memadati MS malam itu, sebuah trend bisnis baru yang sangat menjanjikan ! 
oyaa .. jam bukanya adalah 16.00 hingga 24.00 tapi siap siaplah untuk mnegantri meja yang hampir tidak pernah ada kosongnya !

andai malam itu saya tidak memanfaatkan " koneksi " mungkin rombongan kecil saya akan pulang kecewa karena padatnya meja meja . 
maka dengan ucapan terimakasih, malam itu kami meninggalkan MS yang secara surprise ternyata kami semua ditraktir  si tuan rumah, 
lho .. rejeki tidak boleh ditolak bukan? " Dim, terima kasih atas semuanya yaaa , semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan rizki yang berlipat ganda, amin... " ... ( th )

                                   ( keterangan foto, all taken by : th )
01. setan merah ..
02. lombok 50 ..
03. malaikat ..
04. gendruwo ..
05. pocong ..
06. ruamg pribadi setan e.. keponakan ..
07. ngobrol sambil nunggu setan e .. mie ..
08. lantai antik yang cantik ..
09. " teler " , ada yang murus, ada yang langsung ke toilet hehe ..

( dan seperti biasanya, tukang potrek ngga pernah kepotrek )