Minggu, 10 Januari 2010

KOMUNIKASI & ETIKA BERKOMUNIKASI






Minggu, 10 Januari 2010, saya diminta untuk " menceramahi " sekitar 40 ibu ibu PKK di suatu komplek perumahan dosen di Malang. Saya lebih suka menyebutnya diskusi, sebab kalau ceramah kok sepertinya saya ini pakar, padahal saya juga masih harus banyak belajar. 

Biasanya dalam forum forum seperti ini, kalau saya berdiri atau duduk didepan para undangan, moderator akan lebih dulu membacakan CV saya. Kemarin, saya minta supaya CV saya disingkat saja wong sebetulnya tidak ada yang istimewa, tiwas orang jenuh hehe..


Konon kegiatan kegiatan semacam ibu ibu PKK ini karena adanya blockgrant yang memang harus dimanfaatkan sesuai proposal yang diajukan sebelumnya. Maka sayapun dibisiki begini :


" Bu, itu ada tamu dari kelurahan yang sengaja melihat langsung apa betul dana yang dikucurkan sesuai pemanfaatannya dengan proposal nya ", ooo.. begitu batin saya. Bagus juga pikir saya, ada pengawasan yang melekat namanya.


Topik yang diminta adalah soal Komunikasi dan Etika Berkomunikasi. Kebetulan seminggu ini di layar layar TV kita diberi suguhan berita Ruhut vs Gayus yang bisa dijadikan contoh betapa dalam sebuah aktivitas komunikasi, etika itu sangat perlu diperhatikan agar tidak terjadi konflik.


Pembicaraan/ diskusi merembet sampai dengan masalah Table Manner dalam jamuan resmi, cara cara bergaul dengan masyarakat difable atau mereka yang berkemampuan beda dst dst.


Saya diberondong berbagai pertanyaan menarik sebelum akhirnya setelah 90 menit acara berakhir dengan makan siang bersama. " Kapan kapan kami undang lagi ya bu mungkin dengan topik lain...", inggih monggo..


Ini saya buatkan daftar pendek dari pertanyaan ibu ibu yang saya anggap menarik :

01. Bagaimana menghadapi atasan yang jutek dan temperamen tetapi tidak menyadari sikapnya yang kurang disukai itu.


02. Bagaimana cara mengingatkan kebiasaan teman yang bila diundang makan prasmanan mempunyai kecenderungan mengisi piringnya hingga penuh.


03. Bagaimana sebagai orang Timur, bila daftar tamu yang ada 50 orang tetapi biasanya yang datang hanya sekitar 30 an, apakah tetap disediakan 50 atau 30 atau bagaimana?


Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang sepintas terlihat sederhana tetapi masih menyentuh titik yang sama, Etika. Sedemikian pentingnya Etika, karena aktivitas manusia sehari hari tidak mungkin terlepas dari etika ini. 

Mulai bangun pagi hari hingga tidur lagi dimalam hari, kita berinteraksi dengan dunia luar, kita berkomunikasi dengan banyak orang, kita menghadapi perbedaan pandangan dan selera, dan kita harus senantiasa siap mental untuk kurang/tidak disukai/disetujui/didukung dst. Masalahnya : sudah mampukah kita mengendalikan diri dan emosi menghadapi semuanya?


Ruhut dan Gayus jelas bukan contoh yang bisa diteladani dalam soal etika berkomunikasi. Kewajiban terhadap anak anak kita, generasi penerus kita, adalah menanamkan nilai nilai etika baik sebagai bangsa Timur maupun manusia, agar anak anak mempunyai kebanggaan kepada para orang tuanya yang tidak berperilaku seperti contoh anggota DPR tersebut diatas.


Bayangkan apabila sebagai orangtua kita rajin meng copy paste kata kata makian vulgar yang ada di kamus Bahasa Makian, apa yang dapat diteladani oleh anak anak?


Mewujudkan sebuah bentuk komunikasi yang baik dan mampu meningkatkan kwalitas hubungan sosial kita, adalah target keseharian. Ibu Ibu PKK yang dalam kesehariannya merupakan tiang tiang moral dalam keluarganya, menjadi sangat penting untuk menguasai etika pergaulan dan komunikasi didalam dan diluar rumah. 

Terlebih dalam pergaulan era global baik maya maupun langsung, pergaulan dan komunikasi yang sedemikian lintas budaya, bahasa, keyakinan serta geografis yang sungguh menuntut penguasaan dan kepekaan akan etika.


Contoh kecil : kebiasaan cipika cipiki ketika bertemu teman, pada lingkungan budaya tertentu mungkin tabu atau dianggap tidak sopan. Juga dalam memberikan sesuatu bingkisan atau hadiah, bila tidak memahami perbedaan tradisi dan  budaya suatu lingkungan masyarakat tertentu, justru niatan baik memberi ini dapat melahirkan bencana.


Akhirnya, kepada para Ibu Ibu diatas, terima kasih atas sambutannya yang hangat dan semoga hal kecil yang kami tebarkan ini dapat sedikit bermanfaat. Amien.


( Photos by : Alit )







Tidak ada komentar: