Selasa, 27 Juli 2021







.. " Jamur Hitam India , Opo Maneh Iki ? " ..
belum reda isu masuknya variant2 baru yang
 antara lain juga dari India ,
 sudah ada susulan berita tentang masuknya 
dari India juga , yaitu penyakit tersebab 
Jamur Hitam yang konon disana sudah makan
 korban ribuan .
 padahal di Indonesia kita masih 
dihadapkan pada sikap sebagian masyarakat
 yang membandel tidak sudi bermasker ,
 divaksin dan prokes lainnya yang selama ini
 menjadi benteng pencegahan penyebaran covid19 . 
naa ... karena saya bukan pakar apa apa ,
 saya tak hendak mengupas Jamur Hitam ini sebab
 sayapun mendapat isunya dari berbagai sumber 
di internet sehingga saya tidak mau
 menjadi penerus isu yang masih belum jelas .
 apa sih yang tidak bisa masuk ke Indonesia , 
sebab selama kita masih ada kerjasama nasional dan 
internasional dibidang
 perdagangan , ekonomi , teknologi dll selama 
itu pula yang namanya kontak antar manusia yang
 langsung ( bukan lewat internet ) 
masih berpeluang untuk migrasinya virus .
 pesawat , kapal laut , kereta , kendaraan darat , dll 
juga menjadi gerbang keluar masuknya virus .
kalau yang didarat , laut dan udara manusia dibatasi
 mobilitasnya , tidak demikian dengan 
angkutan barang dari  berbagai komoditi yang
 menunjang hajat hidup orang banyak 
baik lewat darat , laut atau udara .
 naa .. celah2 kecil akan bocornya virus tetap 
sangat bisa terjadi apalagi masih banyak 
diantara kita yang " ndhablegnya super "
 karena tidak sudi bermasker , divaksin ,
 jaga jarak , kumpul2 dll !
sudah jutaan korban covid ditanah air dan sudah
 rautusan ribu yang meninggal karena covid ,
 ternyata tidak mampu membuat takut
 para " ndablegger " ini !
 apalagi kalangan milenialnya banyak yang merasa
 masih muda , kuat dan imun , mereka merasa
 " terbebani " dengan segala macam prokes . 
" alaa .. kalau sudah takdir biar bermasker dan
 divaksin ya tetap mati " begitu kilahnya ..
 ini masih diperparah dengan
 isu isu tentang vaksin jenis tertentu yang
 konon mengakibatkan kematian dll .
 jika demikian , para penantang takdir seharusnya
 berani untuk mencoba takdirnya dengan tidur terlentang 
direl KA dan melihat apakah ia masih 
akan diselamatkan takdir dari lindasan KA
 atau justru akan mati konyol ?
maka ketika makin banyak kalangan milenial yang
 meninggal tersebab covid , semoga saja 
" contoh2 soal kematian " pada generasi mereka ini
 membuat mereka lebih cerdas berfikir bahwa
 " itu juga bisa terjadi pada saya jika
 saya menantang virus " . 
sebut saja nama nama variant baru plus 
Jamur Hitam yang serem serem itu semakin ber
 deret deret masuk Indonesia lewat kecerobohan2
 petugas gerbang masuk maupun kendurnya aturan yang
 ada yang umumnya
 tidak bersifat mencegah tapi mengobati ! 
contoh paling sederhana adalah
 dilingkungan RT RW .
bagaimana tidak  kalau saat PPKM siapa saja dibiarkan 
bludas bludus masuk tanpa diperiksa apakah mereka berkepentingan atau tidak , warga setempat atau bukan , 
tidak diperiksa baik suhu badan  dan kartu vaksinnya ,
 dan para penjual mamin ataupun barang
 tetap bebas keluar masuk meskipun 
digerbangnya ada petugas/ satpam .
 sia sia disana sini dipasang portal, tetapi tidak ada
 pengawasan yang ketat . kerabat dan 
keluarga dekat yang datang dari luar kota bahkan
 menginap juga bebas bebas saja . 
SUNGKAN atau SEGAN adalah salah satu virus
 yang masih belum teratasi dikalangan masyarakat 
kita untuk memberikan teguran pada siapapun
 yang dianggap melanggar prokes ,
 apalagi kepada tetangga !
maka  " 5M " dikalangan " ndablegger " adalah :
 Melanggar keharusan bermasker , 
Melanggar keharusan cuci tangan , 
Melanggar keharusan tidak kumpul kumpul ,
 Melanggar keharusan divaksin , 
Melanggar keharusan diam dirumah selama PPKM
kalau sudah begini apa boleh buat : 
" selamat datang variant2 baru ,
 selamat datang jamur jamur warna warni dan
 selamat datang antrian ribuan tabung tabung oxygen
 yang melompong kosong serta
 selamat datang RS RS yang 
tutup karena sudah tak sanggup 
melayani membludaknya pasien pasien .. "
sebagus apapun pemerintah membuatkan aturan
 dan bantuan ini itu agar rakyatnya tetap
 hidup nyaman aman dalam keterbasan , 
akan sia sia jika para " ndhablegger " ini
 tidak di tindak lebih tegas 
karena mereka secara nyata menghalangi upaya2
 pembatasan pandemi yang sudah
pandemi masuk tahun ke dua, sampai kapan ... ? 
coba tanyalah kembali pada para " ndhablegger "
 sampai kapan 
mereka menaruh otaknya di tumit ?
( Titiek Hariati , Malang , 28 .07. 21 ) 
gambar2 diambil dari google . 

Tidak ada komentar: