Jumat, 11 September 2020



.. " PSBB Bukan Mainan Balita " .. 

dimasa pandemi yang seolah tanpa akhir ini ,
beberapa daerah seolah " kebingungan " menentukan
kebijakan . jika diberikan pembatasan skala besar
 yang berdarah darah ekonominya ,
 dan kalau dilonggarkan alias transisi menuju yang 
lebih " bebas " maka yang berdarah darah
 adalah Rumah Rumah sakit berikut nakesnya
 yang kewalahan bahkan hingga
 meninggal dunia secara mengerikan . 
 bagaimana tidak ngeri kalau nakes yang notabene
 adalah Tulang Punggung Para Pasien Covid19 itu
 justru banyak yang meninggal ? 
akan dikemanakan para pasien covid19 ini karena
 isolasi rumah nampaknya juga tidak mampu 
membendung penyebaran virus ? 
sejak awal penyebaran saya masih ingat saat itu 
Pebruari 2020 , sudah banyak para nakes yang
 melalui TV maupun sosmed menghimbau
 agar masyarakat MEMBANTU mereka
 dengan cara membatasi diri alias " anteng " 
dirumah yang kalau tidak terpaksa sekali 
tidak perlu keluar rumah .
  juga rajin cuci tangan , ber masker , berjaga jarak dll 
dll agar penyebaran bisa dibatasi .
 saat ini September 2020 , sekitar 105 lebih dokter 
meninggal belum lagi terhitung para 
tenaga tenaga lainnya di RS yang tidak kalah jasanya
 bahkan mulai Cleaning Service , Security , 
Tenaga Admin , Perawat , dll dll yang menunjang
 operasional RS .
 sembilan bulan sudah sejak datangnya covid19
 dibumi Indonesia , hasilnya adalah Zona Merah 
yang dimana mana makin merah ! 
dimana kesalahannya dan siapa yang bersalah ? 
saya tak hendak menyalahkan siapa siapa kalau
 ternyata saya sendiri kadang " kurang patuh protokol "
dengan misalnya masih sesekali 
ke supermarket dengan alasan cari ini itu yang
 tidak ada di tukang sayur atau mlijo , 
juga sesekali masih ke tempat2 terbuka meskipun
 sepi dan mencari waktu2 yang " tidak bermanusia " 
dengan alasan mencari bahan untuk blog ini ,
 atau juga sesekali masih menemui kerabat yang 
sepuh2 meski hanya beberapa menit bertemu
 dipagar dengan alasan hanya untuk 
menyampaikan buah tangan dll 
plus sesekali masih berurusan secara fisik
 dengan beberapa tetangga untuk berbagai 
keperluan administrasi seperti mengantarkan 
iuran sampah , uang arisan pkk dll meski
 hanya beberapa menit diluar pagar saja . 
lha bagaimana lagi selama saya masih manusia 
rasanya tidak mungkin juga mengisolasi diri 
secara total meskipun semua keperluan saat ini
 bisa diselesaikan secara online , 
tetap saja saya sesekali ingin menghirup udara
 luar rumah tetapi dengan cara teraman
 dan patuh protokol 100% !
naa .. bukankah dengan itu saya menjadi salah satu
 penyumbang pelanggar PSBB yang 
tidak taat untuk 100% " anteng " dirumah ?
 TETAPI sungguh ,
 kemanapun saya keluar rumah meski cuma mengantar
 iuran sampah ke bendahara RT yang
 berjarak kurang dari 100 meter , saya patuhi protokol
 secara ketat yaitu : 
 baju lengan panjang , celana panjang 
( maaf sejak pandemi saya sudah tinggalkan 
baju2 muslim/ gamis dan memilih celana panjang untuk pertimbangan praktis dan aman ) , hijab ,
 masker , faceshield , sarung tangan , membawa
 handsanitizer dalam tas , dan ( maaf lagi .. ) gerobag
 tidak pernah saya buka kaca2nya dan 
berjalan kaki se bisa2 saya hindari . 
waduh .. kalau ada yang protes :
" jalan kaki kan sehat sama dengan olahraga " , 
itu 100% betul ! tetapi sejak pandemi ,
 saya lebih berhati2 dengan udara terbuka  di kota ,
kecuali di area2 yg memang terbuka dan bersih
 seperti gunung , laut dll yang sepi .
 mandi ? rasanya saya sudah seperti ikan karena
 mandi kadang bisa 3-4 kali sehari meski 
hanya didalam rumah . bagaimana  mungkin ? 
pada jam2 sholat  saya berwudhu sekaligus saya mandi .
 terserah saja mau dibilang apa sebab sebagai
 yang sudah masuk golongan 16
 ( pssst ... jangan dibalik ! ) ,
sudah tentu bentengnya covid ada ditangan sendiri
 sebelum meminta orang lain untuk membentengi kita
  saya sering " uring2an " saat di supermarket 
atau di jalan2 melihat mereka 
yang No Reken pada protokol terutama generasi 
milenialnya yang seolah merasa 
" aku kan masih muda , mana perlu takut virus ? " 
 kadang karena mereka2 yang abai ini berada
 dijarak dekat dengan saya di supermarket dll ,
 saya sulit menahan diri untuk tidak menegur 
mengapa tidak bermasker . 
jawaban mereka macam macam yang saya yakin mereka
 ada pada usia sekolah bahkan lebih banyak
 usia kuliah al sbb :
 01 ) ketinggalan dirumah ,
 02 ) itu dimotor ,
 03 ) lupa , tadi ter buru2 , 
04 ) masih dicuci , 
05 ) hilang , 
06 ) belum beli lagi . 
07 ) ( diam , tidak memberikan jawaban apa apa .. )
 yang sedang naik motor , yang sedang jalan kaki ,
 yang sedang ngopi , yang sedang
 guyon guyon di depan rumah , yang sedang 
menyetir mobil , yang sedang makan di warung warung  
atau yang sedang berada di tempat tempat wisata
 maupun sekolah 2 atau kampus2 atau
 dimanapun yang sering saya lihat tidak bermasker 
bahkan juga generasi " before milenial " alias 
generasi2 angkatan saya ternyata juga
 masih banyak yang " ndableg " abai protokol! 
sanksi2 ringan seperti push up , menyapu ,
 masuk peti mati , masuk ambulans , denda duit dll
agaknya masih kurang mempan ..
 saya coba share di dua grup untuk minta masukan 
atau ide hukuman apa yang lebih " menakutkan " .
 saya mendapat beberapa masukan menarik ,
 ini misalnya :
01 . pelanggar protokol ditugaskan membantu
 cleaning service di RS yang menjadi rujukan 
pasien covid19 meski dengan ber APD
 tetapi diharapkan memberi efek jera melihat pasien2 covid 
yg sedang dirawat dengan  ventilator dll itu .
02 . membantu petugas pemakaman korban covid19
 meski dengan ber APD lengkap supaya
 memberi peringatan bahwa merekapun bisa
 menjadi salah satu dari yang dimakamkan disitu .
03 . ditahan sehari untuk merasakan
 tahanan polisi sehari semalam sambil membayangkan
 bahwa " isolasi " di RS itu akan sangat tidak
 nyaman jika sampai terpapar . 
04 . denda duit yang tidak 1/2 hati alias sungguh2 
dilaksanakan tanpa pandang bulu sebab selama
 masih " kasihan " maka selama itu pula aturan
 tidak dapat ditegakkan apalagi sering 
ditemukan mereka yang terkena denda duit umumnya
 milenial dan dengan alasan 
" belum berpenghasilan " mereka bisa lolos 
tetapi untuk duduk ngopi , beli rokok , beli pulsa ,
 beli barang2 toko online dll mampu . 
 maka ada sebuah PR besar bagi kita semua ,
 siapa yang harus lebih " disalahkan " ,
 si pelanggar atau si penegak aturan protokol pandemi ?
aturan yang ber ubah2 juga hendaknya jangan
 bersifat seketika2 , tetapi merupakan sebuah
 kesepakatan dari semua pihak !
bahkan pendapat mereka yang " bakal dikenai aturan "
 juga perlu didengar , misal dalam soal
 penetapan Ganjil Genap di DKI Jakarta , 
harusnya juga melibatkan kalangan masyarakat
 awam pengguna transpotasi umum 
maupun kendaraan pribadi melalui
 komunitas2 tertentu mereka sehingga tidak lalu 
muncul aturan tetapi kemudian dihapus kembali
 karena ada keberatan2 dari berbagai pihak
 yang tidak dilibatkan sebelumnya ..
benarkah sangat  berat untuk patuh protokol? 
semuanya adalah pilihan , 
bahkan pilihan untuk 
hidup dengan sehat atau 
hidup dengan sisa paru paru yang sudah
 tergerus virus atau .. 
dimakamkan dipemakaman khusus korban covid19 ..
( Titiek Hariati , Malang , 11.09.20 )
gambar2 diambil dari google

 

Tidak ada komentar: