Minggu, 21 Juli 2013




 Leonowens SP, menari bersama salju

Lama tidak saling berkabar, hingga muncul Snow Can Dance dengan cover masquarade.Berbicara tentang  tokoh yang satu ini, sulit untuk memulai menulisnya tersebab begitu banyaknya sisi sisi yang dimilikinya. 

Sastrawan itu pasti, tapi sisi lainnya juga cukup panjang daftarnya.
Budayawan, rokhaniawan, olahragawan sekaligus petualang plus lain lain. 
Pecinta alam bebas penantang adrenalin ini juga suka ditantang catur, 
penyuka tai-chi dan yoga plus beladiri lainnya. 

Lulusan PT di LN yang terkenal, Leon memang sudah mendunia dengan penghargaan internasional yang pernah diraihnya antara lain dari Belanda dan Amerika 
( Recordsetter and Universalrecord Database, NY ). 

Karya karyanya sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing, dan sebuah koran China menulis Leon sebagai penyair yang berpengaruh di Asia pada abad ini.
Indonesia juga menganugerahi nya dengan " Anugerah Sastra Indonesia 2009 " . 

Penulis solikukoi, puisi, prosa liris dan aforisme serta esai ini  telah memiliki sekitar 55 judul buku yang sudah diterbitkan selama ini . Tahun 2010 bahkan seluruh perusahaan telekomunikasi ditanah air , baik yang berbasis GSM maupun CDMA, 
memberikan layanan 
" Kata Cinta ", " Kata Bijak " dan " Puisi Cinta " karya karya Leon. 

Leon banyak mempelajari sastra kuno atau klasik dan modern dari Eropa, Amerika, Timur Tengah, China, Taiwan dll dan terakhir bahkan Leon mendapat kepercayaan dari sebuah lembaga transnasional untuk menafsir ulang karya karya literatur Tiongkok kuno, 
sebuah kehormatan.

Juga berkat upaya dan perjuangannya membina penulis penulis muda, Leon telah 
" mengentaskan " sekitar 100 penulis muda dengan menerbitkan karya karya mereka. 
Sebuah langkah sharing antar generasi yang luar biasa !

Dibawah ini saya mencoba menampilkan dua karyanya yang terdahulu dan yang terakhir, 
dengan se ijin ybs dan Leon yang saat ini tinggal di Singapura bahkan memiliki pose sesuai dengan cover bukunya yang menampilkan " a masquarade" dalam 
Snow Can Dance. 

Sebuah lembaga terkemuka menggelarinya sebagai 
" A Souvenir of 21st Century ", rasanya memang tidak berlebihan.

Sebuah profesi yang dalam benak banyak orang dibayangkan sebagai " orang orang kesepian " karena menulis itu indah dalam kesendirian meski bukan kesepian, agaknya sebuah pilihan yang luar biasa karena kemampuan penanya yang berhasil menembus dimensi jarak dan waktu.

Kedahsyatan pena itu bahkan dibiarkannya dalam bentuk aslinya berupa 
ratusan lembar naskah tulisan tangan yang sampai saat ini masih terpamer dengan rapih 
di museum HB Jassin.

Leon mungkin sendiri saat menulis, tapi tidak sepi, karena senyap disekelilingnya itu dibutuhkannya untuk melahirkan karya karya besarnya. Ini diantaranya :






Snow Can Dance, Leonowens SP

Suaramu telah meruntuhkan aku pada suatu malam,
disaat langit menantang takdirku yang gerimis,
nona, cinta memang demikian adanya
disaat rindu kerap tertuduh oleh takdir manusiawi,
atau ketika hati dihakimi dalam penantian

Tentang cinta, kita hanyalah manusia yang tertinggal karenanya
atau telah usang dikaki sang waktu
Aku hanyalah sebuah doa, nan tertatih disaat purnama memberi segala prakira
akan kerinduan terakhir
Semoga engkau  memahamiku demi memupus luka cintamu

Tiada rindu yang takluk oleh bujuk suatu hujan
Dan, cinta kian mencemburu kota ini karena keagungan hasratnya
Pun aku mengagumi engkau dengan beberapa dosaku yang kerap tersujud 
diwajah para lelampuan 

Nona,cinta tiada mengadili sang usia, walau jaman nian mengetuk kehendak pintu takdir
Sesungguhnya, panggung itu telah melukai takdir dalam tarian terakhir
Ya, topeng ini enggan menerjemah setiap hati yang tergurat oleh hikayatku tentang cinta,

Bersenandunglah perih
dan bersenandunglah demi syair hati nan menyempurna ayat ayat luka ..
Dimanakah cinta akan menghakimi impiannya?
Kita tiada akan mengetahui,
sebelum air mata Tuhan bersimpuh dikaki suatu percintaan!

Nona, aku telah mendamba engkau dengan memenjara takdirku,
Cinta ini demikian larut oleh bisik sang kota, pun waktu kerap memburu agar malam tiada usai  
Mungkin, kita akan menjadi makna dibentang sayap jaman:
sebelum fana kembali menjemput suatu rasa

Kita telah menari untuk kerapuhan hasrat atau keindahan yang terluka,
Panggung tiada memberi keadilan bagi pecinta,
demikian setiap nada enggan memahami arti rindu

Sesekali libreto kian menyaji samarnya beberapa hati diantara cahaya,
Aku menyadari,bahwa setiap cinta akan berakhir dalam salju yang dapat menari
Dan kita  merupakan salju itu

( Sumber : FB Leon, Wikipedia,Tokoh Indonesia , buat mas Leon " Terima Kasih " / th )   



Tidak ada komentar: