Minggu, 14 Februari 2021





.. " De Kleine , Swiss Sebelah Mana ? " .. 
saya tidak tahu alasan sebenarnya mengapa
 banyak sekali ditanah air , tempat tempat wisata yang
 mengusung tema negeri2 asing sebagai
 konsep wisatanya .
 salah satunya yaitu De Kleine yang ada di 
Oro Oro Ombo Batu . sebetulnya tempat wisata yang
 satu ini sudah berdiri beberapa tahun ,
 tapi saya yang baru sempat kesana 
ustru disaat pandemi . lho ?
 tentu saja dengan pertimbangan matang yaitu 
datang pagi2 , hari biasa bukan hari libur
atau
 weekend , dengan prokes komplit ! mengapa ?
 karena blog ini harus berkelanjutan dan 
butuh informasi2 terutama seputar tempat2 wisata
 yang mampu bertahan disaat pukulan pandemi 
yang berat ini . dugaan tidak meleset ,
 pagi itu saya merupakan pengunjung ke 3 dan
 leluasa untuk memilih tempat cangkruk . 
karena baru buka tentu saja  kesibukan stafnya
 terlihat nyata , sebagian masih sibuk menyapu ,
 sibuk di dapur dan di kasir masih terlihat 
belum siap sama sekali . 
dari tepi jalan raya OOO ( Oro Oro Ombo ) ,
De Kleine ini masuk sekitar 1km tapi sayangnya
 jalannya masih belum diaspal rapih yang
 saya bayangkan dimusim hujan seperti sekarang
 sangat riskan kalau pas deras hujannya ,
 bisa2 selip ... 
sebuah lembah yang disulap menjadi tempat 
cangkruk ,
 dengan beberapa bangunan mirip 
piramid kaca untuk pengunjung yang 
ingin privasinya terjaga .
" dipiramid2 itu ada kamar mandinya sendiri bu ,
 juga tidak tercampur tamu lain dengan 
minimal order 300 ribu " begitu jelas seorang stafnya .
 ( untung saja saya tidak mungkin menghabiskan
 pesanan hingga 300 ribu  kecuali kalau 
membawa rombongan kecil hehehe .. ) .
maka sayapun memilih tempat diluar piramid yang
 menurut saya sudah cukup privasinya .
 ( tokh saya tidak butuh ber rahasia2 hehehe.. ) . 
didekat kasir ada beberapa foto2 dari presiden
 pertama Indonesia , Soekarno yang menurut 
kasirnya memang nuansanya di area itu dibuat 
sedemikian rupa , djadoel dan bersejarah dengan
 foto foto jaman perjuangan kemerdekaan . 
oya , berhubung sudah disitu dan saya lihat daftar 
menu ada nama nama nasgor yang unik maka
 sayapun memilih dua nasgor ikonik mereka 
plus ronde  ...
sambil jeprat jepret ,
 rupanya disitu ada ikon lain yaitu banyaknya
 kucing kucing yang mengelilingi meja saya hehehe .. 
dan kebetulan sebelum saya membuat tulisan ini , 
saya telah banyak berkeliling ke
 tempat2 wisata yang ber lembah2 sebagaimana
 trend yang ada saat ini .
 beberapa diantaranya memang luar biasa cantik
 seperti misal De Potrek di Cangar atau 5758 di
 Mojokerto di Cangar atau Rumah Susu 
di Panderman Hill dll  
sehingga bagi saya De Kleine ini termasuk yang
 " standar standar saja " meskipun untuk pencari 
ketenangan dan udara sejuk , memang tempatnya .
 sayangnya saya tak mendapat informasi tentang
 alasan memberi nama De Kleine .
 saya hanya menduga duga bahwa mungkin
 yang dimaksud adalah " Swiss Kecil " dimana 
dulunya Batu memang menjadi tempat istirahat
 para petinggi Belanda dijaman kolonial
 dan dibeberapa tempat mereka menjulukinya
 sebagai Swiss Kecil karena kemiripannya
 dengan negara negara dikaki Alpen 
meski minus salju hehehe .. 
kalau menurut saya ( kebetulan memang pernah
 ke Swiss  ) dibeberapa bagian yang
 berhutan pinus dan cemara memang lumayan
 mirip meskipun ketika melihat bangunan2nya
 tentu saja sama sekali tidak mirip . 
tetapi apapun , upaya pengelola De Kleine ini patut
 di hargai karena ingin kembali
 " menghidupkan sejarah " Batu
 sebagai tempat peristirahatan para petinggi kolonial
 yang saat ini dapat menjadi tambahan 
pengetahuan bagi generasi milenial yang 
mungkin saja kurang memahaminya ..
untuk rasa menunya , saya beri nilai 6.5 skala 0 - 10 ,
 untuk harga , layanan dan atmosfer nilai 7 .
 kalau tampilan nasgor2nya biarlah saya nilai 7 .
De Kleine adalah seumpama charger buat
 batterei yang sedang lowbat,
sebuah pergantian atmosfer disaat pandemi yang
 kita butuhkan karena udara disekitar
 lingkungan kita saat ini cukup menyesakkan .. 
( bagaimana tidak ketika beberapa warga 
dilingkungan saya ada yang terpapar covid hingga
meninggal , sehingga saya hampir selalu
merindukan udara segar ... ) 

( Writing & Photos : Titiek Hariati , Pebruari 2021 )
keterangan foto :
01 . kucing melompat 
02 . kehijauan De Kleine
03 . becak yang entah apa maknanya
04 . mangga bergelantungan
05 . piramid dengan minimal order
06 . staf / kasir yang ramah
07 . nasgor telur
08 . ronde dikesejukan udara
09 . saya ditemani kucing2
10 . nasgor udang
11. de Kleine atau si Kecil
12 . tempat parkir



.. " Markisah Yang Penuh Kisah " .. 

dengan makin mendominasinya makanan minuman instan , maka generasi milenial nampaknya makin
 dimanjakan oleh menu menu instan 
dan resep resep jaman djadoel tinggal kenangan .
 mamin Korea , Taiwan , Jepang , Eropa , Amerika dll 
lebih dihafal dibanding 
soto , rawon , lodeh dll yang lokal . 
maka saat saya mendapat " hadiah " markisah
tetangga dari
 kebunnya yang luas di Permata Hijau , 
saya tiba tiba saja ingin sesuatu yang natural karena mengingatkan 
betapa ibu ibu kita dulu selalu 
menyiapkan mamin 100% dari tangannya sendiri .
jaman itu belum ada micro wave ataupun kompor gas
 atau listrik , juga peralatan2 canggih lainnya
 didapur . sebut saja wajan , dandhang , ceret ,
 cowek , dll adalah peralatan2 yang turut 
membesarkan generasi saya dari 
dapur kaum ibu kita . 
maka mula2 markisah saya belah dua dan saya 
kerok isinya dalam sebuah wadah anti api .
 kemudian saya beri air sesuai jumlah kerokan tadi plus
 gula yang tidak terlampau manis ,
 sekedar untuk mengimbangi rasa kecut markisah . 
setelahnya saya taruh diatas kompor sambil diaduk ,
 sekitar 30 menit hingga sedikit mengental .
kemudian saya saring semuanya dengan menekan 
nekannya diatas saringan dan saya memperoleh 
sirup markisah yang segar dan kecut kecut manis ! 
 tetapi ups... , sisa saringan tadi tentu saja
 tidak dibuang . saya masih bisa menyedunya dalam
 gelas dan ditambah air hangat .... segarrr !
 kebetulan saat itu sulung saya sedang dirumah
 selama seminggu , dipastikan bahwa 
serantang kecil sirup markisah ini habis oleh
 dia sendiri hehehe ..
 ( " enak ini daripada yang beli disupermarket ! "
 begitu pujinya .. ) kesempatan bagi saya
 untuk berkata : 
" naa .. sesekali mintalah istri kamu untuk
 membuat nya juga dan hindari terlalu sering
 mamin yang instan ... " 
( begitulah ibu , segede atau setua apapun anak nya ,
 tetaplah diperlakukan seperti balita hehehe .. ) .
 gelas gede Markisah hangat siang itu menemaninya
 makan lahap ikan bawal utuh
 yang khusus saya masakkan untuk nya dengan
 pesan yang khusus pula yaitu 
" perbanyak makan ikan ikan dan kurangi 
yang ber santan2 atau lemak kalau tidak ingin
 bermasalah diusia muda dengan kesehatanmu" ..
naa , lengkap sudah " trik " kecil saya
 untuk meyakinkan generasi milenial bahwa
 pada akhirnya yang terbaik adalah yang alami .. 
( Writing & Photos : Titiek Hariati , Januari 2021 )
catatan : 
kecuali 1/satu foto yaitu Markisah Pohon ( hijau )
diambil dari google .

Sabtu, 13 Februari 2021

 
 

 
.. " AMSTIRSDAM ? " ..
saya pernah nulis tentang pasar digital di daerah
 Joyo Agung Malang . kali ini bukan tentang pasarnya ,
 tapi tentang tempat cangkruknya .
memang sejak pandemi sekian banyak tempat
 cangkruk disitu rupanya mengalami kesulitan 
sehingga hanya beberapa yang masih
 mencoba bertahan .
 satu siang , masih diera pandemi, 
saya butuh sesuatu dipasar itu yang kebetulan saya
 lewati pulang dari Batu 
( disitu ada jalan alternatif kearah Batu lewat
 desa Ginting ) . setelahnya , saya melihat dipojok
depan dari teras pasar digital ini ,
 ada sebuah warkop menarik yang tampak bersih .
 namanya AMSTIRSDAM. 
kebetulan sepi dan saya mengambil tempat duduk
 diteras luar . avogatto adalah salah satu  favorit
 saya , disitu hanya 15 ribu !
 tidak perlu diperdebatkan dan dibandingkan dengan
 Java Dancer dll yang harganya bisa 2 sampai
 3 kali lipat tetapi soal rasa saya pun heran ,
 tidak ada bedanya ! 
bedanya : porsinya " mengecil " alias separuh 
porsi JD hehehe .. tetapi juga tidak usah 
dipermasalahkan, itu wajar sebab 
" ono rego ono rupo " bahasa Jermannya . 
 sekaligus saya memesan donat pada baristanya
 yang sore itu nampak sibuk membuatkan
 kopi seorang pengunjung lain diteras sebelah .
 saat pandemi memang perlu kewaspadaan dan
 percayalah saya selalu membawa sendiri 
gelas kertas dan sendok plastik yang sekali 
bisa pakai dibuang .
 dan Avogatto pun saya pindahkan kedalamnya
 hehehe .. sekitar 30 menit menikmati sore hari 
diteras pasar , sayapun pulang  karena
 ada serombongan kecil mahasiswa yang baru datang .
( demi keamanan dari Social Distancing ! )
 ( sebetulnya saya sama sekali tidak asing
 dengan area ini karena dulu beberapa tahun 
saya pernah tinggal didekat Malang TV ,
Perumahan Graha Dewata yang sejuk segar
 sebagai weekend house ) .
tetapi kala itu belum seramai sekarang yang sudah
 dipadati cafe bahkan pasar digital ini ,
 tempat kos2an , guest house , ponpes dll , 
dulu masih 1/2 hutan ! 
maka sesekali saya memang kangen dengan
 atmosfernya dan kebetulan Amstirdam salah satu
tempat yang menyediakan ruang untuk 
mengurangi rasa kangen ini .
 AMSTIRDAM adalah singkatan 
" Ampel Gading , Sumbermanjing , Tirtoyudho , Dampit "
 yang merupakan penghasil kopi terbesar
 di Malang Selatan ! naa .. jangan silau dengan
 kopi kopi ala Amerika atau setarbak yang
 sebetulnya mereka miskin kopi dan impornya
 dari luar Amerika ! 
jadi dengan adanya semacam Amstirdam ini saya
 amat bangga bahwa anak anak muda ingin 
menampilkan kopi kopi lokal bahkan
 ditataran dunia ! 
tentu saya pribadi tidak asing dengan ke 4 daerah 
tersebut , sebab dimasa kecil saya sering 
berkunjung ke pakde budhe , eyang kakung putri 
dan segudang kerabat lain di Sumawe yang
 kebun kopinya tersebar diseantero desa
 dan saya ikut ikut menjemur kopi karena senang
 bermain diatasnya yang bisa menggelincirkan kaki
 seperti di wahana2 hehehe ..
jadi bisa dibilang saya ini " bau kopi " hehehe ..
 saat panen , kami sering mendapat kiriman 
kopi bubuk asli yang harum baunya dan membuat
 ayahanda almarhum kalau sore hari nampak 
nikmat menikmati kopinya plus pisang goreng
 buatan ibunda yang yummyy... ! 
( sayangnya saya tidak pernah tertarik untuk belajar 
budidaya kopi apalagi membuat bisnis perkopian ,
 sebuah contoh yang tidak positif bagi
 generasi saya yang semestinya adalah 
" pewaris2 " ilmu perkopian dari para pinsepuh )
 btw , saya salut dengan baristanya yang saya lihat
 sebagai " solo player " dari mulai 
meracik kopi , membersihkan meja2 , menyiapkan 
donat , sekaligus kasir ! 
 begini inlah  contoh efisiensi disaat pandemi, 
bahwa jika pekerjaan mampu diselesaikan oleh 
satu orang saja , tidaklah perlu 2-3 orang 
yang\mungkin hanya untuk prestise saja ..
saya tinggalkan Pasar Pintar dengan Amstirdamnya ini ,
 dan jaraknya yang hanya 10 menit dari rumah saya
 menjamin bahwa saya 
masih akan kembali lagi diwaktu lain
 yang lebih aman ..
( Writing & Photos : Titiek Hariati , Januari 2021 ) 
keterangan foto :
01 . teras depan Amstirdam
02 . tempat parkir yang hijau
03 . avogatto ala Pasar Pintar sebelum
 saya pindahkan kegelas saya pribadi hehehe ..
04 . donat yang saya potong2
05 . barista yang " solo player "
06 . deretan soto , bakso dll diteras pasar
07 . ampelgading , sumbermanjing ,
 tirtoyudho , dampit

 




 " 5758 .. Madjoe Mapan di Mojokerto " 

 sebuah kebetulan terkadang membawa
 sesuatu yang menarik .
 terjadi saat saya ingin kedaerah Trawas
 tepat pada ultah yl , 
hitung2 sebagai " kado " pada diri saya
 sendiri yang sudah lama tidak 
ke luar kota karena pandemi ..
berita tanah longsor dan banjir sudah
 tentu membikin was was , 
tetapi kebetulan saat itu hari lumayan 
cerah dan dengan " bismillah " 
saya menuju arah Batu , Cangar dan
 lanjut arah Trawas yang sudah 
sekian tahun tidak saya kunjungi dimana
 terakhir saya ingat 
saya makan siang lele bakar disana . 
sampai Cangar semuanya lancar2 dan
 kearah Trawas saya mulai lebih 
focus karena jalanan bukan saja
 berkelok dengan triple triple SSS
 tapi juga ada " bekas bekas " 
mirip longsoran ..
 tetapi saya coba menikmati saja 
sebelah kanan kiri yang penuh dengan 
pemandangan hutan berganti dengan
 lembah dan jurang dan 
kebun kebun sayur , buah dll .. 
mendekati Trawas yang tak lagi jauh , 
saya melihat dikanan jalan ada 
sejenis tempat istirahat yang punya
 panorama lembah yang cantik ..
 sebetulnya bukan karena lapar , 
tapi karena belum pernah saya melihatnya
 selama ini ( maklum beberapa tahun 
saya tidak lagi pernah kesini ),
 saya belok kekanan dan bertanya pada 
petugas disitu " buka to mas ? " ..
" iya bu, silahkan memilih tempat duduknya , nanti waiter kami akan
 akan menemui ibu " .. o gitu .. 
" tolah toleh " karena banyaknya pilihan
 untuk duduk disebelah bawah,
 saya melihat ada beberapa gazebo dan 
payung2 serta tempat makan yang 
" normal " disebuah bangunan terbesar
 disitu . apa boleh buat meski sebetulnya
 belum masuk Jam Lapar ,
 tapi karena pemandangan cantik disitu ,
 saya ingin menikmatinya 
beberapa waktu .
 tak ada pengunjung yang memadati 
tempat ini kecuali beberapa ibu ibu 
yang kelihatannya satu komunitas
 dan saya memilih tempat duduk 
" yang normal  karena duduk ala lesehan
 buat saya agak merepotkan lambung "
 hehehe ..
 saya lihat chefnya seorang wanita ,
 ibu muda dari dua putra putrinya
 yang sedang belajar daring dari rumah
 dan duduk tak jauh dari meja saya .
 keduanya terdengar ngobrol dan guyon 
dalam bahasa Inggris , 
jadi mereka pasti anak2 cerdas yang 
sekolah di tempat yang " cerdas " pula !
 sebelum pesanan datang ,
 saya sempatkan jeprat jepret disitu
 sambil menikmati cantiknya panorama
 dan udara sejuk bersih ! 
tidak take away ? rasanya saya disini 
harus " mengalah " sebab saya
 melihat kebersihan lingkungan dan 
dapurnya serta minimnya pengunjung ,
 maka saya tidak berniat takeaway .
 tempat cuci tangan ada beberapa 
disitu dan masker juga dipakai staf2nya .
 nama warung ini unik yaitu 
" 5758 " alias Lima Tujuh Lima Delapan
 atau disingkat MaJuMaPan , 
sebuah nama unik sekaligus positif
 ( saya menduga ini pasti 
ditemukan oleh pendiri2nya yang
jelas bukan generasi milenial ,
sebab kaum milenial saat ini 
lebih suka memberi nama usahanya 
dengan yang aneh aneh dan
 tidak positif seperti : 
Mbelgedhes , Nelongso , dll 
yang " beraura " kurang positif 
meski maksudnya becanda ) . 
pesanan datang dengan tampilan menarik ,
 bebek goreng yang " terjerat " 
semacam jala jala dari tepung 
dan cah kangkung ! 
sebuah makan siang ultah yang harus
 saya syukuri karena dalam kesenyapan
 di daerah Mojokerto ini , 
sambil menikmati pertambahan usia dalam suasana sejuk dengan panorama cantik !
 setahun yl , ditanggal yang sama , 
02.02.20 saya masih berkumpul dengan 
sekitar 50 teman lebih di 
lantai 5 Royal360^  Batu ,
 dan saat ini saya harus berkesendirian
karena pandemi .. betapa kontras !
oya .. dan sebagai penutup makan , 
saya mendapat pisang goreng
" gedhang kepok " yang yummy .. !
mengobrol dengan chef sekaligus ownernya sangat mengasyikkan , 
bagaimana asal mula resto ini berdiri dsb . hampir dua jam saya puaskan menikmati atmosfer " 5758 " ini  dan akhirnya
 saya harus lanjut ke Trawas hingga
 Taman Dayu ..
 sebuah catatan ultah yang tidak saya duga
 tetapi demikian agaknya kehendakNya ..
 layanan , atmosfer , rasa dan harga
 rasanya saya rela memberi nilai 7
 dari skala 0-10 . 
sebagaimana nama resto ini ,
 semoga ultah ini juga membawa saya
 ke 5758 alias kearah 
yang lebih maju dan lebih mapan , hehehe ..
amien ... 
( catatan dari tanggal 02 Pebruari 2021 ) 
( writing & photos : Titiek Hariati )








Jumat, 12 Februari 2021

 
 
 
 
 

  .. " Happy Birthday To You And .. Me " ..
tulisan ini memang sangat terlambat ,
 lha wong kejadiannya sudah berminggu 
lampau , tepatnya 02 . 02 . 21.
 apa boleh buat sebab yang mau ultah
 saat itu seminggu mudik dirumah sampai
 tanggal 31 .01.21 jadi 
aku sampai " nggak kober " untuk 
bloggeran hehehe ..
 tapi untuk tidak membedakan dengan 
si bungsu yang lahir 22.01 , 
saya juga ingin menulis sedikit :
 Anakku ,
02.02. sebetulnya adalah ultahku ..
 tetapi nampaknya takdir menorehkan lain ,
 kamu diberikanNYA kepada kami
 saat itu , tepat saat saya ultah 
kita hanya beda beberapa jam saja
 ( saya sebelum subuh dan 
kamu setelahnya atau terbalik ya .. 
maaf pikun..) ..
" kekhawatiran " akan datangnya tanggal kembar ini sebetulnya sudah saya
 rasakan ketika dokter yang memeriksa 
detik detik saya harus melahirkan itu
 berkata pada tanggal 01 . 02 . : 
" Sieht so aus , als waren Sie bereit, 
morgen fruh und nicht heute zu gebaren "
 ( Kelihatannya anda akan siap 
melahirkan besok pagi dan tidak hari ini ) .
 udara diluar minus dan butiran
 salju menempel dicendela RS yang 
gede gede itu dan saya menikmatinya
 sambil berdoa semoga tidak malam nanti
 supaya betul2 kembar tanggalnya .. 
agaknya doa terkabul dan tangis 
pertamamu adalah hadiah ultah
 terindah buatku ..
Anakku , 
waktu bergulir tak terhenti ..
 tahu tahu kalian semua sudah menikah
 dan tidak pernah terbayang sebelumnya
 bahwa kita semua akan kembali 
ketanah air tercinta .. 
demikian garis takdir , apa yang kamu
 inginkan dengan apa yang kamu butuhkan Tuhan Maha Tahu dan IA memberikan 
yang kita butuhkan , 
bukankah indah meskipun tidak semua
 yang kita inginkan terkabul .. 
bak elang elang perkasa yang mengepak
 sayap dilazuardi , saat ini aku hanya bisa mendoakan agar jalan kedepan kalian 
tetaplah lurus dan tidak
 meninggalkan saat2 wajib bersujud 
dihadapanNYA ..
 bukan harta ataupun jabatan yang 
dapat engkau banggakan tetapi
 berbanggalah ketika kalian masih mampu mengambil air wudhu minimal 
5x sehari dan merebahkan dahi kalian dihadapanNYA,
 hanya itu harta termahal kalian 
dunia wal akherat ..
ultah hanyalah catatan kalender , 
yang lebih penting bukanlah kado2 bertumpuk ataupun kiriman puluhan bahkan 
ratusan ucapan di WA tetapi isilah
 ultah ini dengan makna yang benar 
bahwa engkau selalu berada dijejakNYA
 dalam urusan2 rumah tangga ,
 bisnis maupun pergaulan bermasyarakat sehingga engkau akan selalu selamat
 dalam lindunganNYA dan 
dijauhkan dari segala godaan , 
aamiin.. 
Liebe Grusse ,
 mama  
( terima kasih saat mudik yl kamu
 sudah membagi kegembiraan ditengah
 pandemi yang berat ini ) .