Senin, 23 April 2018








.. " Sarijan Coffee , Sebuah Kebetulan " ..
cukup lama saya tidak ke bingkil langganan saya sejak 
sekian tahun lewat . bingkil ini memang tidak 
" bermerek " tetapi pelanggannya harus antri untuk mendapatkan
 layanannya . jam terbang , itu yang menjadi andalannya
 dan bingkil bingkil bermerek di Malang rasanya boleh belajar 
dari pak Di , begitu nama pemiliknya , 
yang di bingkilnya menangani puluhan merk mobil mulai
 yang bikinan Jepang , Korea , Eropa hingga Amerika .
 tetapi siang itu saya harus mendapat kejutan karena ternyata 
pak Di sejak Nopember 2017 yang lalu sudah meninggal dunia
 dan bingkil dilanjutkan usahanya oleh para anak didiknya
 yang juga sudah memiliki jam terbang tinggi .
 sedih , karena tidak sempat mendengar beritanya lebih awal . 
maka saya hanya bisa mendoakan semoga
 arwah beliau mendapatkan tempat terbaik disisiNYA , amin .
 siang itu saya harus menunggu perbaikan sekitar sejam
 di bingkil tersebut . dan karena disitu tidak ada " ruang tunggu " 
maka saya berniat untuk  mencari masjid terdekat
 supaya tidak terlampau kepanasan meski jam masih 
menunjuk pukul 10 pagi .
 tiba2 saya melihat sesuatu yang baru didepan bingkil ini . 
sekian tahun yang lalu , area itu hanya ada sawah 
yang membentang sepanjang sekitar 300 meter .
 tapi sekarang ada sebuah cafe yang menempati sebagian dari 
area sawah yang makin menyempit .... 
rasa penasaran , saya berniat menghabiskan waktu di cafe ini . 
" Sarijan Coffee " ini memiliki bangunan segede ukuran futsal ,
dan terdiri dari dua lantai . 
konsep apa yang diusung , entahlah , 
yang jelas ada warna alami diinteriornya yang
didominasi kayu serta membiarkan bentuk bentuk 
batang atau rantingnya bertonjolan .
 bermacam kopi ditawarkan disini , juga makanan ringan 
hingga berat . tapi karena waktu saya terbatas , maka saya
 hanya sempat ngopi saja . atmosfernya lumayan , 
meski tidak ada view yang ditawarkan kecuali sepotong sawah 
yang saya yakin tidak lama lagi akan sudah berganti wajah . 

dengan harga menu menunya yang pas untuk anak kos , 
maka kedai kopi yang satu ini bolehlah untuk ' tanggal tua ' bagi
 yang bukan anak kos hehehe ..
 yang penasaran boleh pasang GPS untuk Jalan Simpang 
Gajayana 69 , Merjosari , Malang , dan catat bahwa 
mereka buka 24 jam !
 melihat luasnya bangunan , kedai kopi ini sangat pas untuk
 acara2 reunian yang saya perkirakan bahkan cukup 
untuk 200 orang ( lantai bawah dan atas ) !
 naa ... punya acara dalam waktu dekat ? 
mungkin Sarijan Coffee lebih tepat sebagai 
pilihan lokasi dan harga2 menunya .. !
( Writing & Photos by : Titiek Hariati , March 2018 ) 
01 . lantai bawah
02 . sarijan coffee
03 . luas
04 . terlihat dari lantai dua
05 . menu menu
06 . kopi ( apa ? sudah lupa .. )
07 . tangga ke lantai dua
08 . sepotong sawah dibelakang cafe 
09 . lantai dua











 

Sabtu, 21 April 2018





 .. " Kartini Kartini Pecinta Berkain & Berkebaya " ..
kemarin seperti biasa saya latihan jalan 10X keliling
 hutan Malabar di Jalan Guntur Malang dan setelahnya 
menyeberang ke Pasar Oro2 Dowo mencari camilan dll .
( tradisi pribadi hehehe ... )
 tetapi saya menemu pemandangan tidak biasa .
 sekumpulan ibu ibu berkain kebaya ala ibu ibu jaman ibunda saya ,
 berada didalam pasar . lho ? 
saya penasaran dan mendekat untuk menjepretnya , 
sebab saya pikir ini pemandangan langka dan mereka dengan
 suka cita bersedia dan ee.... ternyata saya malah surprise :
" lho ... mbak , apa kabar ? lha kan saya juga
 datang dirumah mbak dua bulan yl ? " , 
begitu sapa ramah mbak Ida Abdullah . oalaaa .... dasar pikun , 
maka suasana jadi obrolan gayeng dan jeprat jepret ditengah
 pasarpun terjadi hehehe ..
 saya " dipaksa " untuk dijepret bersama mereka,
 tapi alamakk .. lha wong saya pake kostum salah alias 
baju jogging yang tidak pas dengan ibu ibu yang luwes2 ini ,
 maka sayapun keberatan sebab hanya
akan " merusak pemandangan " hehehe ..
 naa .. beliau2 adalah anggota dan pengurus dari 
Komunitas Cinta Berkain Malang Raya / KCBMR yang
 sudah beberapa tahun berdiri dengan puluhan anggota 
dan membawa misi untuk 
melestarikan salah satu warisan budaya luhur bangsa
 Indonesia yaitu : Kain dan Kebaya yang pada masa 
dahulu menjadi ciri khas dari ibu ibu kita yang luwes gandhes ! 
 dengan blusukan ke pasar ini , 
sebagai salah satu bentuk kegiatan sosialnya ,
 mereka berharap para wanita pejuang keluarga alias
 ibu ibu penjual di pasar ini akan kembali mencintai 
" sewek " dan kebaya .
 juga merupakan bentuk penghargaan kepada para wanita
 penjual di pasar pasar yang manapun , 
atas kegigihan mereka sebagai 
pilar penopang kesejahteraan keluarga . 
sebuah kegiatan yang mulia . ternyata saya juga masih
 menemukan beberapa teman lain yang sudah cukup lama
 tidak bertemu , diantara anggota KCBMR ini . 
dan saya merasa beruntung bahwa tepat pada 
21 April 2018 ternyata saya dapat melihat langsung salah satu
 wujud nyata kegiatan " kartinian " yang
 biasanya hanya sebatas seremonial . 
saatnya kita Back To Basic dalam berbusana terutama
 untuk acara2 formal , sebab siapa lagi yg akan melestarikan
 dan membanggakannya kalau bukan kita sendiri
 sebagai pemilik warisan budaya yang anggun ini ? 
dengan kekayaan ragam budayanya , 
Indonesia seperti lautan inspirasi yang tidak bertepi untuk
 berbagai busana tradisionil yang anggun tanpa banding . 
mari kita jaga bersama kekayaan ini ...! 
 Titiek Hariati , 22 April 2018 ) 
( Foto teratas jepretan saya sendiri , 
foto ditengah & terbawah 
dari goodle )
















 

Jumat, 20 April 2018




 
.. " Kartini Kartini Jaman Digital " ..
saat ini , sudah bukan hal baru lagi kalau kita melihat 
 wanita menjadi Presiden , Astronot , Atlit Gulat ,
Atlit Angkat Besi , Pemimpin Proyek2 Besar seperti MRT , 
Pemain Sepak Bola , Jendral dll yang seabad lampau 
masih dalam angan angan . 
juga pekerja pekerja wanita yang tangguh yang semula hanya 
didominasi pria , saat ini sudah terbiasa kita melihat 
Ojek Wanita , Penambal Ban Wanita , 
Pekerja Tambang Wanita , Kuli Bangunan Wanita dll .
melegakan , bahwa para pekerja wanita " diluar rumah " 
saat ini sudah hampir meliputi segala bidang . 
para suami juga " ber revolusi " dengan mengijinkan 
pasangannya untuk bekerja full time diluar rumah , 
sesuatu yang pada abad lampau masih mustahil karena
 Wanita Tradisinya Adalah Ratu Dirumah dan
 bukan Ratu Diluar Rumah . 
kemajuan ini membawa perobahan signifikan pada kesejahteraan
 keluarga yang kini umumnya ditopang oleh suami dan isteri .
bahkan bukan rahasia lagi kalau makin banyak wanita2 yang
 berpenghasilan lebih tinggi dari pria dan atau suaminya .
 kemandirian para wanita jaman now sangatlah menonjol . 
tetapi sebagaimana keping mata uang , 
hal ini juga berdampak pada banyak aspek .
salah satunya adalah anak anak , yang tidak lagi penuh dalam
 asuhan ibunya yang berada diluar rumah seharian , 
dan ibu pengganti yang itu bisa nenek , kakek atau baby sitter , 
menjadi " ibu angkatnya " dengan pola asuh yang 
seringkali berbeda dengan yang diinginkan ibu kandung . 
berbagai masalah muncul dari " ketiadaan ibu " ini ,
misalnya : kenakalan , narkoba , dll . tentu saja tidak semua ,
 yang sukses " tanpa hadirnya ibu kandung " pun banyak . 
tetapi masalah " membagi waktu dan peran " ini memang
 lebih banyak " diderita kaum wanita atau ibu ibu "
 disebabkan oleh tradisi bahwa 
" kalau bapak itu lumrah atau wajar tidak dirumah seharian " , 
beda dengan ibu yang lebih sering " dipersalahkan " ketika 
berada diluar rumah seharian ! 
sungguh  ini sebuah tantangan yang tidak mudah bagi 
kaum wanita modern , yang dengan tingkat pendidikannya
 yang relatif baik atau tinggi , tidak mungkin lagi hanya
 berdiam diri menunggu amplop gaji suami 
( meski ada perkecualian2 dengan alasan2 tertentu ) .
 konflik bathin Kartini Kartini Jaman Now , 
antara perannya sebagai Ibu dan sebagai Wanita Karir
 adalah sebuah tantangan jaman yang tidak mudah . 
lalu bagaimana dengan karir yang dibangun dari rumah untuk
 menjembatani kesenjangan dengan anak anak ? 
banyak juga wanita2 yang sukses dengan " karir rumahan " ini , 
mereka umumnya adalah pelaku2 bisnis . 
sungguh saya yakin bahwa dimasa lalu Kartini tidak pernah
 berharap bahwa kaumnya akan kehilangan jati diri 
sebagai Ibu dan Peneduh bagi anak anaknya .
maka sebenar benar tantangan kaum wanita dijaman
 digital ini menurut saya adalah untuk 
Menemukan Keseimbangan Antara 
Peran Dirumah dan Diluar Rumah ,
 apapun pilihan karir atau bidang usaha nya .
dan semoga kebebasan kaum wanita saat ini tidak
membuatnya " kebablas " dan lalai pada fungsinya
 sebagai Istri dan Ibu bagi suami dan anak2nya .
Selamat Hari Kartini ... !
( Titiek Hariati , 20 April 2018 )
( Foto keluarga Kartini diambil dari google )




  .. " Sindrom Seleb ? " ..
hari ini sebuah pertemuan tanpa rencana terjadi di 
Jalan Guntur . 
cipika cipiki diikuti basa basi kabar mengabarkan ,
 e ... malah kebablas menjadi sebuah ajang curhat hehehe ..
 maklum, cukup lama tidak bertemu , 
tapi saya lihat teman yang satu ini cukup pandai merawat 
fisiknya yang tidak banyak berubah kecuali sekarang 
sudah mantap mengenakan hijab , anggun !
diantara kabar kabar itu , memang ada yang mengejutkan saya .
 setahun yang lalu teman ini berpisah dengan suaminya . 
lho ? apa pasal , sebab yang saya tahu keduanya sebenarnya 
sangat ideal . teman ini lulusan S2 dari jurusan yang 
laris dijagad industri . suaminya seorang yang cukup terkenal
 dan sering menjadi sorotan media . memang perkawinan
 mereka belum beruntung karena anak anak yang 
menjadi dambaan tidak kunjung tiba . saya menduga ,
 mungkin inikah alasannya ? usia teman ini cukup jauh
 dibawah saya sehingga sayapun berharap mereka
masih akan mendapatkan momongan .
ternyata saya mendapat jawaban kurang lebih begini : 
" alasan anak itu juga mungkin . tapi nggak juga , 
sebab banyak pilihan saat ini untuk mendapatkan anak  dan
 kalau kami mau , alternatif itu pasti akan membantu .  
justru bukan itu sebab yang paling berat buat saya  adalah
Seleb Sindromnya " ... waduh , opo ini , batin saya ?
 mungkin mengamati wajah saya yang tampak " tidak mudeng "
 maka teman tersebut menambah dengan : 
" kalau ada pertengkaran tentang apapun ,
selalu saja saya dipojokkan dengan kata kata yang menyakitkan .
yaitu bahwa kesuksesan saya dalam berbagai organisasi ,
 sebenarnya itu tidak lepas dari penghormatan orang pada
 dirinya , jadi bukan karena usaha saya sendiri .
 istilah jadulnya Swarga Nunut Neraka Katut . "
 ... ooo itu , saya mulai mudeng dan geleng2 bahwa 
dijaman now masih ada yang seperti itu . saya lalu menyela : 
" lho kan kalian berbeda bidangnya . bukankah dia juga bisa 
melihat bahwa kesuksesanmu itu bukan karena dia , 
sebab kemampuanmu sudah teruji dalam berbagai organisasi
 yang itu sama sekali berbeda dengan kemampuan dia 
dibidangnya ? kamu mendapat kepercayaan diberbagai 
organisasi itu kan karena kemampuanmu ? 
meskipun mereka tahu kamu adalah isteri dia ,
 tapi kalau kamu tidak mampu kan tidak mungkin mereka
 menunjukmu sebagai pimpinan di organisasi2 itu ?
 itu bukan jabatan hadiah lho , tapi jabatan berdasarkan 
penilaian kemampuan seseorang " . 
teman tersebut ganti geleng2 " iya mbak , itu berlangsung 
ber tahun2 , entah karena kecemburuannya pada kemampuan
 dan popularitas saya di organisasi2 yang dinilai mengancam
 atau menyaingi popularitasnya atau dia tipe suami yang 
inginnya Superior atas istrinya disegala aspek " .. 
saya masih penasaran " tapi itu kan hanya pertengkaran sesekali , 
apakah cukup kuat untuk alasan cerai ? " ..
 teman tersebut menjawab lagi " justru karena selalu diungkit 
dan parahnya kadang mempermalukan saya didepan kerabat
 atau teman2nya yang seolah saya ini kalau saja
 Tanpa Dia pasti saya ini Bukan Siapa2 .. " ... 
weleh weleh , saya mulai paham , tapi masih sulit membayangkan 
kok ya ada orang yang begitu Mabuk Kepayang dengan 
Dirinya Sendiri Yang Dianggapnya Adalah Top of the Top hehehe
  dan pastinya ini menyebalkan !
 masalah bersaing dengan pasangan kita , itu sah2 saja 
dan positif sejauh keduanya Saling Dukung dan Melengkapi .
 misal : suami populer dibidang politik , istri populer 
dibidang pendidikan , bukankah kedua bidang ini bisa 
dikawinkan dan menjadi sebuah sinergi yang dahsyat ?
 tetapi kalau sudah ada bibit bibit Kecurigaan dan
Rasa Lebih Pada Diri Sendiri dan menganggap orang lain
 senantiasa berpamrih kepadanya baik untuk nDompleng
 Popularitas atau nDompeng Sukses maka orang semacam ini
 akan Tidak Pernah Bahagia karena hidupnya
selalu dihantui oleh Prasangka . 
maka setelah sekitar 25 menit ngobrol , kami berpisah 
di perempatan Jalan Guntur dengan sebuah janji akan bertemu
 lagi dalam waktu dekat . " saya sudah lega saat ini , 
beban terangkat dari hidup saya , sebab tidak ada lagi
suami yang selalu menyudutkan saya dengan kalimat2 
menyakitkan yang seolah saya hanya bisa hidup dan sukses karena 
dia . saya akan buktikan bahwa 
Tanpa Dia saya mampu untuk lebih sukses lagi ! " , 
begitu katanya dalam menutup obrolan kami .
 saya antarkan teman tersebut dengan lambaian hingga mobilnya 
hilang dibelokan Jalan Merbabu dan saya pun melanjutkan
 langkah kearah yang berlawanan . 
Sindrom Seleb atau apapun istilahnya menurut teman tadi , 
adalah sebuah predikat semu yang seharusnya tidak 
membuat seseorang arogan dan merasa besar karena 
sesungguhnya tidak ada manusia yang besar dengan sendirinya
 melainkan ia adalah dibesarkan oleh 
pengalaman dan lingkungan yang mendukung dan 
menempanya lewat berbagai tantangan .
 menganggap orang lain sebagai pendompleng2 adalah sebuah
 arogansi yang mengibakan , sebab tipe yang seperti ini idealnya
 ia Hidup Sendiri Saja untuk menyelamatkan Kebesarannya 
menurut versi dia ! bahkan banyak seleb dunia yang mati
 bunuh diri karena keputusasaannya akibat menganggap
 bahwa manusia2 diluar dirinya hanyalah
 manusia2 berpamrih & pendompleng kepadanya , 
sungguh patut dikasihani  ..
  sesungguhnya , sehebat apapun seseorang semasa hidupnya ,
ternyata saat ia diturunkan keliang lahat , 
semua kehebatan itu tidak menemaninya kecuali 
Ibadah , Amalan dan Doa DoanyaYang Tidak Pernah Putus 
Untuk Kedua Orang Tuanya Pada Masa Hidupnya . 
masihkah arogansinya  berlaku ? 
maka kalau memang benar sepenuhnya apa yang
teman saya curhatkan tadi ,
diam diam saya membenarkan keputusannya .... 
( Titiek Hariati , April 2018 ) 
( gambar2 dari google ) 









Kamis, 19 April 2018







 
.. " Gulai Kepala Ikan Mas Agus Di Talun Lor " ..
mendengar nama Talun Lor buat kaum muda pasti
 agak membingungkan sebab nama nama jadul dari jalan
 di kota Malang itu mungkin tidak begitu mereka kenal .
 maka kalau saya ganti dengan Jalan Arif Rahman Hakim
 mungkin tidak terlalu asing . naa .. dijalan itulah pada 
sebuah siang , kami ber 4 masuk dihalaman sebuah rumah kuno
 yang sejak saya remaja kalau saya melewatinya
 selalu saja pagarnya tertutup rapat & rumahnya
 tidak tampak dari jalan .
maka kalau saat ini rumah kuno tersebut terbuka lebar hingga
 kehalaman belakangnya , saya merasa beruntung " sempat " 
melihatnya setelah puluhan tahun hehehe ...
 mas Agus rupanya memilih lokasi ini untuk menawarkan 
Gulai Kepala Ikan nya yang memang siang itu terbukti yummyyy .... 
awalnya saya lihat kedainya ada di Jalan 
Aris Munandar dan sebelumnya ada disebelah Es Talun .
 maaf kalau saya tidak mengamati dengan benar , 
mungkin saja kedainya punya beberapa cabang lain . 
 dengan halaman parkir yang luas , 
maka meskipun Jalan Arif Rahman Hakim tergolong 
parah macetnya ,
 tetapi parkir di Mas Agus ini nyaman2 saja . 
untuk 4 orang ini , ada pesanan Gulai Kepala Ikan 
yang di Bumbu Kuning , ada Gulai Kepala Ikan ala Tomyang
 yang kemerahan . lalu masih ditambah cah kangkung dan 
goreng cumi plus ikan dorang hitam .
 tentu saja ada sambal dan lalapan .
menunggu hingga semua terhidang memang butuh waktu ,
 tapi jangan khawatir sebab ada Mushola buat yang memasuki
 saat sholat dan me lihat2 bagian rumah kuno dari kedai yang 
satu ini juga menjadi " petualangan kecil yang menarik " 
bagi saya setelah
 puluhan tahun rumah ini seperti misteri ...
 disini juga  ada yang menarik yaitu besarnya ukuran 
" wajan / kuali " dari gulai gulai kepala ikan ,
 rasanya bahkan cukup untuk " kungkum alias berendam mandi " !
 sesuai namanya , menikmati Gulai Kepala Ikan memang asyik
 sebab di sela2 tengkoraknya itu tersembunyi 
daging & lemaknya yang tercampur bumbunya yang sedap ! 
lalu kemana daging badan ikannya ? 
jangan khawatir , itu dipisah tersendiri dan muncul dalam
 menu menu lain yang spesial daging tok !
  selesai menguliti kepala ikan dan semua yang ada di meja , 
udara siang itu semakin terasa panas karena kami 
semua berkeringat hehehe ... 
untuk teman atau kerabat luar Malang , 
rasanya tempat yang satu ini bisa menjadi jujugan sebagai salah
 satu ikon dunia kuliner Malang Raya  ! 
juga buat penggemar fotografi , 
rumah jadul ini menarik buat dijeprat jepret .
 naa .. penasaran dengan mas Agus dan kepala ikannya ? 
kalau bingung pasang saja GPS ... yukkk ... 
( Writing & Photos by : Titiek Hariati , April 2018 ) 
01 . menu pesanan
02 . rumah jadul
03 . gulai kuning
04 . tom yam
05 . wajan raksasa ( 01 )
06 . wajan raksasa ( 02 )
07 . dorang hitam
08 . dua staf mas Agus