Sabtu, 24 Maret 2018




.. " Sambel Uleg , Puluhan Modelnya " ..
setelah Malang Raya dikepung Ayam Geprek ,
 maka ada juga model lain yang bersaing ketat , yaitu 
kedai kedai Sambel Uleg . 
ada Warung Sambel Uleg , ada Spesial Sambel Uleg , ada 
Sambel Uleg Asli dll pokoknya harus mengandung " ULEG " alias 
dihaluskan diatas cobek atau cowek dan bukan di blender !
 maka ketika saya sebuah siang saya singgah di  GIANT Sukun 
saat otw ke Malang Selatan sekaligus mencari 
bahan bakar perut , disebelah dalam dari supermarket ini ,
berdekatan dengan zona penitipan anak anak , 
saya melihat sebuah kedai mungil berjuluk " Sambel Uleg " ! 
seperti yang lain lain yang juga menamai kedainya mengandung
 kata " Sambel Uleg " , sayapun percaya bahwa disini saya
 bakal mendapat Sambel ala Rumahan !
ternyata di kedai mungil ini menawarkan menu menu 
" sak ketapruk " mulai dari
Penyet2an , Sup2an , Cah2an , dan Sambel2an dll .
ada Ayam / Empal / Bakso / Paru / Belut  /  Iga  / 
Otot / Buntut Penyet !! ada Sup Iga / Buntut / Sum2 /  dll .
 ada Sambel Pencit / Korek / Tempe Penyet dll .
ada Cah Kangkung / Taoge / dll . 
juga Sayur Asem , Bayem dll . 
jus nya juga unik2 seperti jus Kedondong , Naga dll . 
pokoknya kedai mungil yang mojok ini tidak kalah panjang 
daftar menunya dengan warung atau kedai kedai yang gede ! 
soal rasa saya tidak keberatan memberi angka 7 , 
sama untuk harga maupun atmosfer yang meski ada diarea 
belanja yang cukup rame tetapi dengan lokasinya
yang " mojok " ternyata cukup nyaman .
 naa .. yang kebetulan ke Giant Sukun di Malang ,
 silahkan mencari kedai mini ini seusai belanja .. yukk ..
( Writing & Photos By : Titiek Hariati , February 2018 ) 
 01 . ayam uleg ?
02 . pojok mini ( 01 )
03 . pojok mini ( 02 )
04 . atmosfer ( 01 )
05 . daftar menu , murah meriah
06 . daftar pahe
07 . lengkap ..
08 . lele ..

Selasa, 20 Maret 2018




.. " JLS , Bagaimana Wajahmu 10 Tahun Lagi ? " ..
biasanya dua atau tiga minggu sekali saya " harus "
 menghirup udara laut karena " sumpeg " dengan gas yang keluar 
dari knalpot2 di kemacetan Malang Raya yang semakin menggila .
 tetapi didera bermacam kesibukan lain , 
saya cukup lama tidak " melaut " . dan ketika kesibukan
 sedikit mereda , ternyata  masih harus saya sabarkan karena
 ada sedikit keretakan ditapak tangan kanan saya akibat 
terpeleset saat gerimis . ya sudah ,
 namanya sedang " apes " ya diikhlaskan saja . 
sebulan lebih saya tidak bisa memutar kunci kontak , 
mungkin syaraf ditelapak tangan belum sepenuhnya pulih . 
pada minggu ke 5 saya mulai " gelisah " dengan keadaan ini
 dan melatih memutar nya dengan bantuan tangan kiri ,
 dan ternyata ... bisa !
maka dengan " kerjasama " tangan kiri 80% dan kanan 20% , 
pada hari minggu tanggal 11 maret 2018 yang lalu , 
saya mengetesnya untuk jarak jauh .
 tentu saja pilihan jatuh pada JLS dengan deretan
pantai pantainya  disepanjang Laut Selatan . 
ternyata sudah banyak perobahan yang terlihat disana . 
di Sendang Biru , bermunculan kedai kedai dan lesehan yang
 nyaman di lokasi yang dahulunya adalah bukit kecil . 
dan disepanjang garis pantai , sudah banyak bangunan bangunan
 baru untuk penginapan dan warung warung yang
 sayangnya mulai menutupi pemandangan cantik dari
 pantai pantai itu sendiri karena dibangunnya
tepat dipinggiran jalan raya . 
 juga sudah berdiri sebuah masjid cantik  bergaya China 
dengan bedug warna merahnya yang khas ! 
dan ketika saya masuk ke beberapa pantai yang ada disitu , 
saya  melihat warung warung dan penginapan disitu kelihatannya
 belum memiliki standar aturan yang baku
 baik mengenai letak , ukuran maupun desainnya , 
meskipun disebagian lain sudah terlihat agak teratur .
maka , saya diam diam merasa cemas bahwa JLS yang cantik ini
 bukan tidak mustahil satu saat menjadi kawasan
 padat warung & penginapan & toko toko yang " semrawut "
 dan menutupi keindahan panoramanya sendiri ... ! 
mengapa senyampang masih belum terlampau semrawut tidak
 segera ditertibkan agar kenyamanan semua pihak terjaga ,
 yaitu pemilik usaha , pengunjung dan mungkin pihak Perhutani ?
 saya tidak tahu siapa yang lebih berwenang memenejnya , 
tetapi titipan harapan yang kecil ini semoga juga 
mewakili banyak harapan2 lainnya yang serupa karena
 JLS adalah kebanggaan kita bersama dan 
sudah semestinya kita ikut memelihara 
kebersihan , kenyamanan , keamanan , kelestarian serta
 kecantikannya agar tercapai keseimbangan antara bisnis dan alam !
 tentu kita masih ingin menikmati keindahan sepanjang
 garis pantainya dan bukan menyaksikan 
" pantat " dari penginapan2 , warung2 dll yang 
menyesakkan mata dan dada ....
menjelang pilkada serentak yad ,
 bukankah ini juga dapat menjadi isu " pendongkrak suara "
 bagi bapak ibu yang mencalonkan diri ataukah 
lebih memilih blusukan ke pasar dll yang sudah menjadi tren ? 
saya awam politik , 
mungkin Anda pembaca blog ini adalah pakarnya ?
JLS ... kira kira bagaimana wajahmu 10 tahun dari sekarang ?
( Writing & Photos by : Titiek Hariati , March  2018 ) 
Foto foto dari beberapa pantai disepanjang JLS dan Masjid
 yang mungkin tidak lama lagi akan sulit dinikmati
 karena tertutup oleh dinding dari 
warung warung , penginapan , dll yang berdiri 
disepanjang JLS tanpa mengindahkan
" hak pengunjung untuk menikmati kecantikan 
disepanjang garis pantai di JLS " .
 menyedihkan .
























Minggu, 18 Maret 2018




.. " The Arbanat Kitchen , Cafe & Lounge , 
Sterilkan Lantai Atas ? " ..
ketika saya menginginkan santai dilantai atas dari 
cafe Arbanat di Jalan terusan Dieng 4-6 ini dan
mendapat jawaban " Sementara Belum Siap Dipakai " , 
saya tidak terlalu kaget juga . mengapa ?
 sebab di Malang Raya ini jawaban seperti itu sudah 
sangat klise di cafe2 atau RM yang punya lantai dua bahkan lebih . 
maka secara becanda saya komentari :
" o .. mungkin pramusajinya yang males naik  naik ya ? " ,
 ybs tersenyum lebar " ooo .. nggak , kalau ada
 pertemuan2 tertentu ya bisa atau kalau 
lantai bawah sudah penuh "
 maka saya pikir :
" lha gawe opo nggawe lantai atas keren keren nek
 gak oleh di lunggoni ? " . tapi lalu saya diijinkan untuk
 jeprat jeprat diatas ditemani pramusaji ybs . 
( saya ingat sekian waktu yl saat di " WAKAKA " 
Jalan Simpang Ijen , dimana saya minta duduk dilantai atas 
yang langsung diantarkan . sebuah perkecualian yang manis , 
juga di " Kedai Kopi " dan beberapa lainnya yang 
tidak banyak jumlahnya yang mempersilahkan kastamernya
 memilih tempat yang dia sukai !
sedang  yang lain lain sama dengan Arbanat ini ,
 hehehe ... )
 cafe yang satu ini memang masih beberapa bulan hadir di
 Malang dengan mengambil nama sebuah jajanan masa kecil 
generasi saya yaitu sejenis Gula Rambut atau
 Gula Manis yang pada jamannya dijajakan secara 
" kampung to kampung " dengan gesekan " biola " nya yang khas ! 
saat ini Arbanat juga masih ada meski sudah lebih modern
 dengan motor , payung dan peralatan yang relatif lebih " canggih " . 
entah apa maksud dari pemilihan nama ini ,
 mungkin karena Arbanat adalah Gula Manis maka
 harapannya adalah bahwa cafe ini bisa menjadi 
sebuah memori manis bagi pengunjungnya ? entahlah . 
disini saya dihadapkan pada pilihan menu " sak ketapruk " 
yang tentu saja membingungkan sebab memiliki
 " perut Jawa " ditengah pilihan menu menu dari 
Mexico , Hawaii , Itali , Korea , Perancis dll tentu sedikit 
" mikir " sambil melihat detil dari bahan atau bumbunya . 
tapi berhubung " buku menu " nya cukup tebal , 
saya permudah saja dengan menanyakan :
" apa yang disini lumayan disukai oleh tamu2nya selama ini ? " . 
upaya saya berhasil dan dengan cepat saya temukan 
dua menu sandwich yang berbeda . mengapa sandwich ? 
 saya datang pada jam yang " diluar pakem " , 
yang kalau di Inggris disebut " tea time " tapi berhubung 
saya orang Jawa maka saya sebut saja " jam nyruput kopi " hehehe .. 
dan pilihan minum jatuh pada minuman hangat yang
 diramu dari bermacam rempah dan Red Velvet .
berdua dengan teman dari Surabaya yang sudah beberapa
 tahun tidak bertemu , kami menghabiskan waktu 
sekitar 3/ tiga jam (!) dengan ngobrol " ngalor ngidul " 
dan sore itu lantai bawah memang terlihat ramai .
 ketika masuk hari masih terang benderang , dan saat pulang
 sudah gelap , maka dihalaman ini jepretan jepretan saya
 menjadi Night & Day hehehe .. 
untuk atmosfer saya nilai 7 ( minus 1 jadi 6 karena 
lantai atas " disterilkan " ) , untuk rasa 6'5 dan
untuk harga itu memang relatif sebab saya tahu dibalik semua
 tampilan dan sajian ini ada sebuah kerjakeras dan
 investasi yang besar . maka Apapun dan Siapapun itu ,
 saya salut pada keberanian manajemennya untuk 
ikut bersaing ketat dijagad kuliner Malang Raya 
yang semakin keren ini . 
banyak diantaranya yang bertumbangan , dalam blog ini saja
tercatat sekitar 30 Cafe , RM atau Kedai yang sudah
 tidak eksis lagi , maka semoga Arbanat makin ramah 
dan mampu bertahan !
 ( Writing & Photos by : Titiek Hariati , March 2018 )
01 . tampak luar , siang hari ( 01 )
02 . tampak luar , malam hari ( 01 ) 
03 . lantai atas yang steril , siang hari ( 01 )
04 . tampak luar , siang hari ( 02 )
05 . lantai atas yang steril , siang hari ( 02 )
06 . " buku " menu
07 . menu 01 )
08 . wedhang rempah
09 . red velvet
10 . menu 02 )
11 . tampak luar , malam hari ( 02 )
12 . menu 02 ) dari sudut lain









Jumat, 16 Maret 2018




.. " Sumber Genthong Yang Terancam " ..
diluar dugaan , GPS yang saya pasang sejak dari rumah ternyata
 mengarah ke sebuah komplek perumahan di kota . 
padahal semula saya ketik
" Sumber Genthong Kabupaten Malang " . 
setengah ragu ragu saya ikuti dan saya masuk di perumahan
 Pondok Blimbing Indah Malang . saya ikuti petunjuknya untuk 
" jablas " hingga kedekat padang golf di PBI dan ketika saya sempat mikir 
" opo GPS iki sing ngawur ? " , ternyata menurut satpam disitu saya sudah
 dekat dengan tujuan yakni tinggal belok kekiri .
 akhirnya saya berhenti disebuah jalan buntu , tidak ada petunjuk
 tentang adanya sumber atau mata air bernama Genthong . 
disitu hanya ada sebuah rumah gede yang berukir dan penuh pahatan
 serta lukisan dari binatang , gunung dan lautan serta 
Ratu Kidul kalau saya tidak salah sebut .
 didepannya ada kedai " Sederhana " yang siang itu juga melompong . 
saya beberapa kali menyerukan salam , tapi sia sia , 
tidak ada yang menyahut dan hanya ada seekor anjing tua terbaring malas .
ya sudah , berhubung tidak ada yang bisa saya mintai keterangan ,
 sayapun berjalan mengikuti sebuah jalan setapak disitu . sekitar 300 an meter
 berjalan , sayapun tiba disebuah area yang agak terbuka dengan
 pemandangan " dua genangan air mirip telaga " . 
siang itu di " telaga " sebelah kiri saya , ada beberapa pria tampak sedang 
mandi dan mencuci . sedang di " telaga " sebelah kanan saya ,
 ada seorang ibu yang juga terlihat asyik mencuci 
baju baju seragam sekolah dll .
 tentu saja aktivitas mandi dan mencuci ini berlangsung tanpa kendala
 meskipun disitu terpasang papan peringatan agar kebersihan sungai terjaga .
 dipapan lain ada petunjuk larangan memakai peralatan 
dan material tertentu 
untuk menangkap ikan ikan disitu . tetapi siang itu saya juga saksikan
 beberapa remaja cowok bersiap siap memancing dengan peralatan tertentu .
 saya mendekat pada ibu yang asyik mencuci didepan saya .
 " maaf buu , apakah menurut ibu sabun dan bubuk cuciannya 
tidak mengotori sumbernya ? " .
 ibu tersebut tersenyum lebar dan menjawab 
" waaa ... disini semua kalau nyuci ya disini kok , sudah biasa ini .... " . 
saya melihat buih buih bekas cucian mengalir kebeberapa arah dan
 saya yakin bila hal semacam ini berlangsung tanpa halangan ,
 sumber Genthong ini satu saat akan menjadi kubangan limbah !
 entah siapa yang lebih bertanggung jawab untuk kelestariannya , 
tetapi bukankah setiap kita adalah juga penjaganya ?
sebuah kebiasaan yang salah tetapi dilakukan oleh banyak orang sehingga
akhirnya  dianggap  sebagai sesuatu yang " wajar dan biasa saja " .
maka bila ini dialami oleh telaga , sumber , air terjun , sungai , laut ,
 gunung , hutan dll yang ada disekitar kita dengan 
Tanpa Rasa Bersalah Merusaknya , 
mari kita bersiap siap untuk menuai bencana yang dapat berwujud
 banjir , longsor , kekurangan air dll yang datangnya kerap tidak terduga ! 
Sumber Genthong memang belum tersentuh makeup untuk sebuah 
tujuan wisata . ia nyaris masih alami .
 tetapi mengapa kita membiarkannya terpolusi
 oleh berbagai larutan kimiawi yang akan sulit dan mahal 
untuk kelak memulihkan kebersihannya ? 
deterjen , sabun , minyak dan bermacam material penangkap ikan adalah
 sebagian dari ancaman yang sedang berlangsung di sumber ini .
 papan2 larangan untuk ini itu hanya sia sia selama tidak ada
 pengawasan dan sanksi . 
mungkin hari ini kita masih bisa melihat kejernihan airnya karena 
akibat dari larutan2 kimia itu masih belum terlihat nyata kerusakan 
yang diakibatkannya . tetapi apakah kita harus
 menunggu hingga 
air sumber ini berubah warna dan berbau serta beracun ? 
Malang Raya kaya dengan SDA nya yang luar biasa , 
tetapi dijadikan obyek wisata saja tidak cukup kalau masyarakat
 disekitarnya tidak memiliki kesadaran akan pentingnya merawat , 
menjaga dan melestarikan lingkungannya . 
tugas siapa terutama yang harus 
menanamkan kesadaran ini sejak dini ? 
disini ada orang tua , ada guru , ada RT RW , ada Lurah , ada Camat , 
ada Kades , ada Walikota , ada Bupati , ada dst dst yang bisa menjadi 
Agent of Change dalam hal 
Merubah Pola Pikir Masyarakat dari
Pengguna Menjadi Penjaga / Pelestari Lingkungan ! 
sumber Genthong hanya salah satu contoh kecil betapa potens
bencana itu dimulai dari " hal hal yang tampak sederhana atau 
sepele seperti ibu yang mencuci baju di sumber tadi " .
krisis air dimasa depan bukan sekedar teori .
 bila pilihan kelak sudah tidak ada lagi , 
mungkin anak cucu kita harus minum air yang
 mengandung deterjen atau minyak ....
( Writing & Photos by : Titiek Hariati , March 2018 ) 
01 . jalan setapak menuju sumber
02 . view sebelah kanan
03 . view sebelah kiri
04 . sejuk dan rindang
05 . rumah satu2nya yang ada didekat sumber
06 . ukiran , pahatan , lukisan
07 . bubuk cucian , deterjen dll yang perlahan tapi pasti 
akan melenyapkan kejernihan dan kebersihan
 Sumber Genthong 
08 . papan peringatan yang sia sia ( 01 )
09 . papan peringatan yang sia sia ( 02 )
10 . satusatunya kedai terdekat dengan sumber 
pada Maret 2018