Selasa, 21 Januari 2014






.. " Mega Mendung Diatas Cirebon " ..

Cirebon, sungguh  saya harus meminta maaf kepadamu sebab  ketidak tahuan saya selama ini tentangmu telah mendangkalkan pendapatku tentang kotamu, yakni " sekedar " sebagai kota Udang dan adanya  makam makam para alim ulama terkemuka, itu saja.




Namun saat saya lebih melonggarkan waktu mengenalmu lebih dalam, ternyata engkau menyimpan begitu banyak kecantikan yang selama ini mungkin belum banyak ter ekspos. 
4/ empat hari menyusuri jalan jalan di kota dan pinggiran kotamu, saya surprise, engkau lebih dari yang saya duga.




Mungkin keberuntungan juga sedang berpihak pada saya. Saya sempat bertemu orang orang  luar biasa yang memberi kemudahan dan akses buat saya untuk memasuki area area yang bahkan konon " sulit tertembus " awam seperti saya. 
Dan inilah mereka mereka yang luar biasa itu dalam catatan Cirebon saya :




01. Ratu Ayu Setiawati, kerabat dekat dan keturunan ke 18 yang sekaligus merupakan cucu Sunan Gunung Jati dan Pangeran Purbaya , yang menemani saya disepanjang taman Istana Kanoman Cirebon bersama kedua malaikat kecilnya yang cantik. 

Terima kasih tak terhingga, 
karena kisah kisah legendarisnya yang bahkan mungkin tidak pernah ada di buku buku sejarah, telah membuka mata saya lebih lebar tentang kehidupan " dibalik tembok " istana. 

Lalu sumur Bandung dan bangunan I yang tertua di Cirebon, juga tembok tempat pengintaian kapal kapal Portugis plus gedung berarsitektur Portugis yang nyaris roboh dsb dsb kesemuanya berlangsung didepan mata dan tersimpan dalam jepretan saya.
 Terima kasih Ratu Ayu, semoga dalam persinggahan Anda berikutnya ke Cirebon, kita masih dapat bertemu kembali bersama dua malaikat cantik itu !



 02. Bapak Harjo di Prabayekso, dari istana yang sama, Kanoman,  banyak mengurai sejarah Kanoman serta kehidupan  spiritual istana sekaligus memberi ijin penjepretan diruang yang sama. Saat itu kebetulan masyarakat sekitar istana Kanoman baru saja merayakan
 Maulid Nabi Muhammad SAW, 
sehingga suasana sekitar istana masih sangat padat oleh tenda tenda para penjual barang dan mamin. Namun kesibukan pak Harjo tidak menghalanginya untuk
 membagi waktunya dengan saya, matur nuwun.




03. Di istana lainnya, yakni Kasepuhan ( sekedar informasi bahwa Cirebon memiliki 2/dua istana, Kasepuhan dan Kanoman ), saya harus berterima kasih pada dua siswi magang SMK yang menemani saya berkeliling istana plus menjelaskan segala sesuatunya. 

Juga kepada bapak Nanang yang secara " mencengangkan " membeberkan sejarah raja raja Cirebon secara rinci dan detil mirip e-book bahkan hingga riwayat lengkap Ken Arok ! 

Kasepuhan adalah istana tertua dan keduanya terletak didalam kota Cirebon meski dibangun diabad yang berbeda. Pada beberapa bagian, hampir mirip Kraton Yogya meski ukirannya lebih sederhana. Kasepuhan memiliki ruang ruang :
Penyimpanan Senjata ( Museum ), Penyimpanan Kereta, Ruang Pertemuan/ Perjamuan, Ruang Pelestarian Budaya/ Tari Menari, Musholla, dan ada beberapa mata air/ sumur yang masing masing diberi nama sesuai fungsinya. 

Yang melegakan adalah bahwa siang itu saya melihat sekelompok remaja yang sedang asyik melatih dirinya menari Topeng sebagai salah satu ciri khas Cirebon.
 Andai saja sebagian besar para remaja tanah air memiliki kepedulian seperti itu pada perbagai warisan seni budaya bangsa yang luhur ini, dapat dipastikan Indonesia akan menjadi salah 1 ikon pusat budaya dunia dengan kekayaan budaya kita yang beragam 
dari ujung ke ujung khatulistiwa.

04. Bapak Abdul Latief di kompleks makam Sunan Gunung Jati, yang telah mengijinkan saya untuk naik dan melihat dari dekat makam Sunan Gunung Jati yang dikenal sangat sulit mendapatkan ijin masuk kesana. 

Segenap pengunjung hanya diijinkan dari luar makam yang siang itu tampak dipenuhi rombongan rombongan pesiarah. Saya yang selama ini kurang tertarik untuk berkunjung ke makam makam seperti ini, siang itu secara tidak sengaja melewati papan penunjuk arah 
" Makam Sunan Gunung Jati " , 
kendaraan saya belokkan kesana dan maksud hati mau menjepret area luarnya yang penuh sesak bus bus pembawa peziarah. 

Tiba tiba saja saya sudah dikerubuti sekian banyak anak anak kecil yang menadahkan tangan meminta uang, saya bingung sebab saya tak bermaksud masuk area makam.
 Seorang penduduk lokal melihat kebingungan saya dan siap mengantar saya masuk bila memang perlu disertai penjelasan bahwa disitu memang sangat banyak peminta minta 
dan sebaiknya saya bersiap uang receh. 

Lha ini yang saya tak siap, maka saya beralasan membeli air mineral supaya mendapat receh. Aduhhh, saya makin bingung karena ternyata disepanjang jalan masuk itu ada puluhan peminta minta yang semuanya berharap recehan. 

Apa boleh buat, sudah kepalang masuk dan akhirnya tiba disebuah tangga naik yang menanjak. Diantar penduduk lokal tadi, saya bertemu dengan Cak Otong atau bapak Abdul Latief yang menanyakan maksud saya datang kesana, dialognya lucu kurang lebih seperti ini :

" dari mana?"
" Malang .. "
" tujuannya apakah akan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati?"
" endak, e.. iya, kalau diijinkan "
" sendirian?"
" ya .. "
" mau motret makam?"
" iya .. "
" itu dilarang"
" ooo ... ya ndakpapa, kalau tidak boleh masuk juga ndakpapa koq pak, sebab saya tadi melihat rombongan2 peziarah lain juga hanya boleh sampai teras luar "
" betul. coba sebentar ... "

(  beliau lalu menilpun seseorang dan saat sudah tersambung hp nya diberikan pada saya yang ngga ngerti maksudnya hehe, katanya supaya saya minta ijin pada si penerima telepon, ooo .. )
 

" maaf pak, saya dari Malang, kalau diijinkan saya ingin melihat makam Sunan "
" berapa orang?"
" satu, sendirian "
" sudah ijin Cak Otong?" ( lho, ini siapa ijin siapa to hehe ... )
" sudah pak, dan sekarang tinggal minta ijin bapak"
" baiklah, silahkan naik "

Maka sayapun naik ke  pintu makam Sunan Gunung Jati dan  disana sudah menunggu seorang bapak yang lain yang usianya sekitar 70 an tahun. Wawancara pendek terjadi dan saya diwanti wanti untuk tidak memotret didalam makam Sunan. 

Saya masuk sendiri disebuah ruangan seluas sekitar 10 x 5 meter yang dipenuhi makam makam bertutup batu bata sederhana. 
Ada makam Sunan Gunung Jati, lalu ada makam ibunda dan ayahandanya dan
juga kerabat terdekat mereka.
Tidak ada hiasan apa apa dan batu batu bata sederhana ini hanya disusun begitu saja, tetapi dari ukurannya terlihat kuno ( sangat lebar dan panjang ) 

Suasana dalam ruangan sangat tenang dan sejuk. Saya tidak berlama lama karena saya memang tidak memiliki niatan apa apa kecuali memotret yang ternyata dilarang. Bagaimanapun saya bersyukur siang itu sudah diberikan kesempatan masuk, terima kasih bapak bapak.

05. Bapak Achmad di komplek Gedung Negara Cirebon, yang telah mengantar berkeliling plus memberikan penjelasan seputar latar belakang gedung berarsitektur Eropa ini yang hingga kini masih dipakai sebagai tempat transit tamu tamu negara yang penting.

 Dihalaman luarnya yang luas, ada beberapa puluh ekor kijang bintik bintik serupa dengan yang ada di Istana Bogor. Saksi bisu dari mesin waktu ini sayangnya dibeberapa bagian terlihat kurang terurus dan mungkin perlu perhatian pemkot agar aset bernilai sejarah ini lebih terjaga. 

Yang masih terawat sesuai aslinya antara lain lampu gantung dan beberapa meja kursi, sisanya konon " raib " entah kemana. Disalah satu ruangan saya masih bisa menjepret tegel asli, selebihnya sudah diganti porselen modern. 

Gedung Negara yang dulu merupakan kantor Karesidenan Cirebon yang cantik ini sungguh adalah sebuah permata sejarah yang perlu dirawat secara seksama. 
Saya sangat bersyukur bahwa Cirebon termasuk salah satu kota ditanah air yang masih peduli pada bangunan bangunan bersejarah yang sudah berusia berabad abad dan tidak berupaya merobohkannya untuk diganti dengan ruko ruko yang " mengerikan " . 
Yang saya lihat antara lain gedung Balai Kota, Bank Indonesia, Stasiun KA Pusat, dll.

06. Bapak Darsono, di Goa Sunyaragi, Cirebon. 
Goa ditengah kota adalah sesuatu yang "aneh" namun saya yakin dulunya goa ini tidak ditengah kota dan perkembangan pembangunan kota Cirebon lah yang agaknya " merubah " letaknya menjadi ditengah kota: Sunyaragi. 

Sunya itu artinya sunyi, senyap, dan ragi itu raga atau tubuh, maka kompletnya adalah Tempat Dimana Jasmani Menemu Kesenyapan alias tempat bersamadi atau merenung atau menyatukan diri kepada Sang Maha Pencipta, kira kira begitu.

Perjalanan saya suatu siang ke goa ini awalnya  hanya membayangkan sebuah goa layaknya goa goa yang perPnah saya lihat, dan " paling paling " berbeda ukuran saja. 
Ternyata saya harus sesali dugaan ini, karena setelah mengitari lekuk likunya hingga kedalamannya yang berair air serta gelap meliuk liuk, saya heran mengapa tempat seunik ini tidak mendapat perhatian yang cukup dari UNESCO? 

Sebuah warisan arsitektur nenek moyang yang mengawinkan alam dengan sentuhan teknologi manusia dijamannya, menghasilkan sebuah karya manusia yang luar biasa, lepas dari fungsinya dimasa lalu sebagai tempat beraktivitas secara spirituil. 

Ada satu hal menonjol yang saya juga ikut terheran heran yaitu dominasi bangunan yang terdiri dari batu batu karang tajam seperti yang banyak ditemukan di pantai pantai selatan pulau Jawa. Pak Darsono yang bisa dikatakan sebagai sesepuh atau kuncen di goa ini mengatakan :

 " Seperti yang kita lihat disini ini yang dominan selain batu bata adalah juga batu batu karang tajam seperti yang banyak terdapat di pantai pantai selatan Jawa. Padahal diutara Jawa ini pantai nya tidak berkarang seperti ini. Saya tidak punya penjelasannya. Ini sampai sekarang masih misteri, karena tidak ada catatan apapun tentang bagaimana
 karang karang ini bisa sampai disini?" . 

Ada berbelas goa goa disini, masing masing diberi nama sesuai fungsinya. 
Ada goa untuk penyimpan makanan, ada goa untuk menyantap makanan, ada ruang prasmanan, ada goa untuk bersamadi, ada goa untuk raja memberikan arahan/ pidatonya, ada goa untuk menyaksikan pemandangan Cirebon dari ketinggian tertentu dst dst. 

Saya sangat berterima kasih kepada bapak Darsono yang meluangkan banyak waktunya untuk berkeliling dengan saya dan masih bersedia naik turun goa yang jalannya 
sempit , gelap dan licin serta beranak tangga tinggi tinggi. 
Paduan batu bata kuno dengan batu batu karang pantai yang runcing runcing menghasilkan sebuah karya masterpiece yang seharusnya mendapat perhatian badan dunia.
 Cirebon boleh bangga dengan Sunyaragi!

07. Pelabuhan Kota Cirebon ( tidak bisa saya tanyakan nama ybs karena saya berada dibawah kapal kayunya yang tinggi dan besar sedang ybs ada diatas geladak kapalnya yang saat itu sedang berlabuh dan diperbaiki, tetapi terima kasih tak terhingga atas perkenannya 
memotret kapalnya, sebuah kapal buatan Banjarmasin yang begitu besar dan perkasa dan 100% terbuat dari kayu asli Kalimantan ) . 

Pelabuhan ini juga ada ditengah kota, dan siang itu saya menyaksikan bongkar muat barang barang antar pulau. Sebagaimana Surabaya atau Jakarta, Cirebon memang juga  menjadi salah satu kota tujuan dalam dunia pelayaran, baik untuk bisnis maupun petualangan laut. 

Gedung gedung peninggalan Belanda bahkan Portugis banyak terdapat disepanjang jalan masuknya, mirip sebuah penghentian mesin waktu.

08. Kampung Batik Cirebon, Plered. Beberapa orang yang saya temui disini juga sangat membantu dengan informasi mereka seputar sejarah batik di Cirebon.

Kampung ini terletak sekitar 4km dari pusat kota Cirebon, namanya Plered. 
Disepanjang kampung, kita akan temui aktivitas membatik mereka yang konon semuanya masih 
" mambu dulur " ( seketurunan ) meskipun saya lihat disitu masih ada kesenjangan sosial. 

Sebagian rumah rumah pembatik atau penjual batik itu masih sangat sederhana, tetapi sebagian lain sudah sangat modern dan mewah, sehingga ada kesan Ketidak Setaraan. 
Tetapi semuanya mengusung pesan yang sama, Batik Cirebon, dan ini sangat membanggakan ! 

Kalau Cirebon disebut sebagai kota Mega Mendung juga sangat tepat sebab motif batik bernuansa awan awan yang mendung menjadi ciri khas batik Cirebon yang disebut dengan Mega Mendung. Motif ini adalah " sebagai akibat " persinggungan Cirebon dimasa lampau dengan budaya pendatang yaitu China yang 
dalam perkembangannya kemudian saling berbaur dan menyatu. 

Banyak yang saya temui di kampung Batik ini, semuanya ramah dan murah senyum, sebuah rasa nyaman bagi pendatang seperti saya berada ditengah tengah kampung batik
 yang semula masih asing bagi saya.

09. Bapak penjual Empal Gentong di dekat istana Kanoman. Ada beberapa kuliner khas Cirebon, antara lain Empal Gentong dan Nasi Jamblang dan nasi Lengko.
Semula saya membayangkan " empal " seperti yang saya kenal selama ini, yakni irisan daging yang diberi bumbu tertentu dan digoreng.
 Ternyata meleset jauh, sebab yang dimaksud empal gentong itu adalah semacam kuah gulai berwarna kekuningan yang ada irisan bermacam bagian dari seekor sapi. 

Ada usus, babat, cingur atau kikil, ada hati, ada daging nya dll, yang disantapnya dengan nasi atau lebih afdol dengan lontong. Dan disebuah warung pkl didepan istana Kanoman, 
saya mencicipi Empal Gentong ini plus
 mendapat bonus kisah kisah seputar Empal Gentong dan istana, matur nuwun pak ! Soal rasa, adalah selera, dan yang jelas ini beda dengan rasa gulai, meski tampilan mirip. 

10. Staf HK Bentani Hotel Cirebon, yang selama beberapa hari banyak membantu 
" tetek bengek " yang saya perlukan bahkan pada jam jam
 " diluar normal ", terima kasih.

Cirebon yang merupakan pembauran sekaligus batas antara budaya Jawa dan Sunda, telah merebut hati saya setelah saya mengenalnya lebih jauh dan 
tidak sekedar berhenti di toko camilan atau oleh olehnya.

Sering kita bermimpi mengunjungi negara negara nun jauh diseberang, namun ternyata dinegeri sendiri kita merasa masih asing dan belum cukup mengenalnya. 
Mengapa tidak berkeliling dulu di tanah air sendiri? ( th )

( all photos taken by : th, cirebon january 2014 )

01. rebana asli dari jaman Sunan Kali Jaga
02. gedung negara / karesidenan
03. nasi lengko dan sate kambing
04. kapal modern di pelabuhan cirebon
05. kapal tradisionil dipelabuhan yang sama
06. Bank Indonesia yang cantik
07. empal gentong Cirebon
08. taman Sunyaragi
09. salah satu ruang istana Kanoman
10. juru kunci Sunyaragi
11. J.Co
12. tangga menuju makam Sunan Gunung Jati
13. salah satu tempat hangout di mall Cirebon
14. mempersiapkan empal gentong
15. piring piring antik didinding komplek makam Sunan Gunung Jati
16. batik khas Cirebon, Mega Mendung 
17. bentani




Minggu, 19 Januari 2014






 .." Jumlah Itu Semakin Mengecil " ..

Kemarin, 19 Januari 2014 siang hingga sore hari, berkumpul sekitar 30 orang disebuah resto ditengah kota Malang. Jumlah ini jauh lebih kecil dibanding undangan yang disebarkan. 
Juga jauh lebih kecil dibanding yang hadir pada pertemuan terakhir tahun yang lalu. 
Ada beberapa informasi masuk tentang absennya sekian banyak rekan rekan ini. Beberapa alasan diantaranya adalah :
01. persiapan operasi besar jantung ( bypass )
02. gangguan kesehatan
03. urusan keluarga yang sulit ditinggalkan
04. kesibukan kerja ( beberapa memang masih aktif berwirausaha )
05. jarak yang cukup jauh ke kota Malang
06. hilangnya kontak ( alamat tidak ada )

Maka dengan " jumlah seadanya " , terasa reuni kali ini begitu " sepi " . 
Sebuah perjalanan waktu yang tidak terelakkan bahwa manusia pada akhirnya harus menyerah pada tahapan tahapan kehidupan sejak lahir hingga mati, betapapun keinginan hati yang ada. Doa sudah dipanjatkan diawal acara bagi semua yang tidak dapat hadir, juga yang hadir, 
meski ada bersit kesadaran bahwa satu saat nanti jumlah ini akan mencapai Zero.

Dan senyampang masih diberikan kesempatan bertemu, maka tidak ada salahnya untuk sedikit menikmati kegembiraan bersama, meskipun disana sini mulai " belepotan " tersebab ( lagi lagi ! ) usia yang diranggas waktu, yakni 
 pendeknya nafas untuk mencapai nada nada tinggi tertentu dan 
pikunnya otak untuk game game tertentu yang kesemuanya justru mengundang tertawa, yang sebenarnya adalah tawa kepada diri sendiri yang tergerus waktu.

Demikian pertemuan diawal Januari 2014, yang semoga akan merekatkan tali persaudaraan disisa usia di dunia , dan kelak bila diijinkanNYA, 
yakni pada kehidupan yang lebih abadi, amin.
( th )

( foto foto dijepret : th, yang tidak pernah ada dalam foto foto ! 19 Januari 2014, RJ Malang )

 

 

Senin, 13 Januari 2014





.. " Srigala ( ber ) Mata Elang " ..

namanya suka, memang sulit diurai dengan kata maupun angka. demikian ketika saya bersinggungan  untuk yang  pertama kali dengan budaya suku atau bangsa Indian lewat karya karya Karl May semasa kecil. 

film tentang suku suku Sioux, Apache dll itu bermain dalam imajinasi saya lewat novel novel Karl May hingga akhirnya muncul film film layar lebar tentang mereka yang benar benar memuaskan rasa ingin tahu saya tentang Red Indian dimasa kecil dulu.

gambaran mereka sebagai sebuah bangsa yang tersisih dari tanah tumpah darahnya sendiri sangatlah lekat dimana yang mengaku sebagai " bangsa Amerika " adalah justru bangsa pendatang dan bangsa Amerika  asli adalah Red Indian ini. sebuah tragedi.




kemarin saya menemukan " harta karun" yang indah, sebuah lukisan cantik diatas TShirt yang menggambarkan beberapa karakter khas Indian. 
ada Elang disana, lalu Srigala dan tentu saja Kepala Suku. langsung saya suka. bangsa ini memang dikenal sangat dekat dengan alam dan memakai bahasa alam sebagai bagian penting dari keseharian nafas hidupnya. 

dari sebuah patahan ranting kecil, mereka sudah dapat membaca jenis mahluk apa yang mematahkannya serta sejak berapa lama yang lalu. mendekatkan telinga kepermukaan tanah juga salah satu keahliannya yang alami, guna membaca jejak langkah dikejauhan dari berbagai mahluk lain.

dan bila saat ini keahlian keahlian alami yang dipelajari dari alam ini mulai mengeropos oleh modernisasi kehidupan yang pekat teknologi, mungkin tidak perlu ada yang dipersalahkan karena untuk survive disebuah negara kapitalis selayak Amerika 
agaknya kuda, elang dan srigala semakin sulit menjadi gantungan hidup. 
sebuah pergeseran jaman.

namun nilai nilai yang dapat diwarisi dari sebuah budaya luhur nampaknya masih terselamatkan setidaknya oleh sebagian dari generasi nya yang terkini, dan tampil dalam bermacam bentuk upaya penyelamatan. pameran pameran, penulisan buku buku, seminar seminar, penelitian, perlindungan/ cagar budaya dll.  

 semuanya ini berpusar pada isu isu penyelamatan budaya Red Indian yang agaknya menjadi 
" pelipur hati " bahwa budaya yang satu ini tidaklah demikian saja akan lenyap digerus jaman. ditangan pewaris pewarisnya yang setia, 
kita masih punya harapan untuk dapat mengenalnya lebih dalam.

oya , saya namakan temuan TShirt yang cantik ini dengan " Srigala Bermata Elang " meniru bagaimana bangsa Indian memberi nama nama orang sesuai karakternya serta gejala alam yang menandainya, misal Elang Senja Merah dst. 

Srigala itu mewakili karakter ulet dan telaten/ sabar dalam mengintai/ menunggu saat yang tepat untuk menerkam mangsanya sekaligus ia adalah srigala yang bermata setajam elang karena kejeliannya melihat segala sesuatu yang bahkan oleh mahluk lain tidak terlihat/ tidak bisa dilihat/ dipahami/ dimengerti. 

TShirt saat ini memang telah berada disebuah tempat  yang paling tepat, sebagaimana bangsa Indian yang senantiasa belajar kepada alam agar kehidupan berlangsung harmonis karena bersahabat dengan alam adalah yang pilihan yang terbaik. 
semoga. ( th )

( photos are taken by : th, january 2014 )
01. dalam black-white
02. dalam photo-editing
03. ada semburat coklat sedikit disana 





Senin, 06 Januari 2014





.. " Tenggelamnya Kapal Van der Wijk " , 
sebuah permata jaman ..

membludaknya penonton film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk/ TKVW yang sepenuhnya digarap para sineas  Indonesia ini sudah tentu mendorong rasa penasaran karena novelnya yang terbit ditahun 1938 dengan judul sama adalah sebuah bacaan sastra wajib saat itu.

sayapun berada dalam antrian panjang untuk memperoleh tiketnya dan setelah tas tas diperiksa dipintu masuk dimana semuanya harus bebas mamin karena softdrink dan brondong jagung pihak bioskop bisa tidak laku , sayapun masuk ke studio yang siang itu ternyata sudah padat penonton meskipun TKVW ini sudah menginjak hari ke 10 an ! 

sulit saya melacak kembali ingatan pada lembar lembar novel abadi karya Hamka ini, meskipun saya dimasa remaja sudah melalapnya habis. 
yang jelas saya masih ingat adalah saya menangis membacanya, tapi tidak mampu lagi mengingat dibagian manakah yang terparah menangisnya hehe .. 

bahasa dalam novel tersebut masih sedemikian puitis, mungkin remaja remaja masa kini akan sulit atau kurang menyukainya, jadi saya khawatir film ini akan " berjarak " dengan generasi yang sekarang, semoga tidak ...

adegan demi adegan mulai terpampang, dan terlihat kekayaan budaya dan bahasa ditanah air dengan munculnya dialog dialog dalam bahasa Bugis dan Minang . 
latar belakang alam Minang nan elok, budaya Minang nan rancak tetapi teguhnya tradisi garis ibu tampak mulai memunculkan konflik konflik budaya Bugis dan Minang,
 sebuah potret khas budaya tanah air yang kaya dengan perbedaan meski rentan masalah bila persinggungan budaya tak menemu jalan keluarnya. 

 konflik telah dimulai, dua hati harus menerima kenyataan : dipisahkan secara paksa karena budaya.  sedih, pasti. saat itulah, masing masing berupaya untuk tetap bisa bertemu lewat bermacam cara dan kesempatan. 




namun muncul prahara berbungkus cinta dan harta. ketulusan pemuda Zainuddin kepada Hayati terkalahkan oleh Azis yang " ke londo londo an " akibat pergaulannya dengan para pemuda2 londo plus hartanya yang melimpah, sehingga Hayati terpluntir dalam 
pelukan Azis sebagai suaminya. 

Zainuddin tidak percaya, karena Hayati pernah bersumpah setia akan tetap bersama Zainuddin dalam dukasuka, namun sepucuk surat Hayati telah meremukkan mimpi Zainuddin hingga keping keping sekecil debu. 

pedang itu merobek jantung Zainuddin karena tajamnya melebihi rambut belah 7 yakni ada barisan kalimat disurat Hayati begini :
" .... Hayati miskin, uda Zainuddin juga melarat, ini tidaklah cukup untuk membangun sebuah rumah tangga, maka lupakanlah Hayati .... dst ..... "

wahai, Zainuddin limbung dan terkapar dalam sakit hingga lelakipun disapanya penuh kasih bak menyapa Hayati, sakit, sakit sekali ! 
kerabat sepakat mendatangkan Hayati yang telah bersuamikan Azis, dan diantar Azis, Hayati menyapa Zainuddin dalam tangis, Zainuddin pun mendadak sembuh dan meratap memegang tangan Hayati yang dikiranya masih seperti dulu. 

namun wahai, apa gerangan diujung ujung kukunya ? ada tanda merah merah yang berarti sudah menjadi istri orang, Zainuddin terpekik dan meraung .... 
Hayatipun  ditarik keluar oleh suaminya untuk pergi dan mengancam agar tidak pernah lagi peduli pada pemuda kampung macam Zainuddin.

Azis besar dilingkungan mewah dan berharta namun sekaligus penjudi, hingga berakhir dalam kemelaratan disaat sudah berada di Surabaya. 
pada saat yang sama, Zainuddin telah lama bangkit dari sakit, berkat dorongan semangat sahabatnya Muluk yang setia, dan Surabaya menjadi  tambang emas dan pijakan suksesnya sebagai penulis novel dan drama. 

berbalik nasib dengan Azis, Zainuddin melambung ke semesta.  ketiganya bertemu kembali dalam sebuah putaran takdir yang sedih, Azis bunuh diri ditikam rasa bersalah dan malu pada Zainuddin, Hayati tertitip pada Zainuddin seolah sebagai pembalas budi.

 namun Zainuddin masih diliput dendam amarah, tertolaklah Hayati dan dipaksakan untuk pulang ke tanah Minang dengan seluruh bekal hidup tertanggung Zainuddin yang tidak mau menerima " barang bekas " seperti istilah yang diucap Zainuddin dalam amarahnya :

" aku adalah yang terusir, aku yang tak bersuku, maka kembalilah ketanah Minang yang beradab, aku akan tanggung seluruh kebutuhan hidupmu, pulanglah kesana, pantang aku menerima barang bekas ... " .

Hayati tak percaya perangai kasar Zainuddin yang tidak lagi menyisakan cintanya. 
Diantar Muluk, Hayati naik ke geladak kapal Van de Wijk dalam balutan duka dan surat nya pada Zainuddin lewat Muluk adalah sebuah kata pamit kepada yang dicintainya, Zainuddin,
 sekaligus adalah orang yang akan segera membuangnya ketanah Minang. 

takdir berbicara, kapal VdW tenggelam dalam perjalanan itu, Hayati pun meski masih terselamatkan namun akhirnya harus meninggalkan Zainuddin selamanya dan  dalam pelukan orang yang paling dicintainya.

 Zainuddin menyesali keputusannya, namun terlambat, Hayati memang tertakdir hanya sampai dipelukannya , tiada akan pernah lebih.

sesak dada melihat adegan adegannya, karena Herjunot Ali sebagai pemeran Zainuddin bermain sedemikian total hingga amarahnyapun membuat saya menggelegak dan merasakan sakit!

 namun disaat lain, rasa kehilangannyapun menulari saya dengan  rasa yang begitu kosong, dan dalam kegelapan lampu bioskop saya berulang kali mencoba menghapus ingus ! lalu ada Pevita Pearce yang charming dan Reza Rahardian yang pas sekali memerankan 
Azis yang arogan namun rapuh,
rasanya telah ikut mengaduk aduk emosi penonton antara kebencian, kecintaan, ketulusan, pengkhianatan, dan kehilangan, silih berganti. 

musik dipercayakan pada Nidji yang mengisi 4 lagu, dimana kerjasamanya dengan sahabat Inggrisnya Jason O Bryan telah melahirkan musik musik di  yang bernuansa 
megah dan kolosal di film ini.

persiapan disertai riset panjang dari para pendukung film ini, mengesankan bahwa garapannya bukanlah asal asalan. sebuah replika kapal bergaya 30 an dipesan dari Belanda sebagai negara pembuat kapal aslinya yang tenggelam, yang namanya memang 
Van der Wijk. 

dan di tangan sutradara Sunil Soraya, novel TKVW ini seolah membangkitkan jamannya, karena tak seorang penonton remajapun yang terdengar memprotes dialog dialog jadul nan elok dalam berpacaran yang terdengar ganjil bak puisi indah.

 penonton remaja ini rela menerima mesin waktu yang membawanya ke era 30 an dimana 
" pacaran " hanya sebatas bertukar kata ( jangan tanya dijaman kini, yang tidak memerlukan kata tetapi bilik bilik tersembunyi untuk mengawali bayi bayi tak berdosa yang dibuang akibat 
tak kuat menanggung malu
 tersebab gaya berpacaran yang ke bablas ! )

 alangkah elok jaman VderW itu !
dan HAMKA memang meninggalkan permatanya yang luar biasa, sebuah nilai yang 
tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan ! 

namun, adakah diantara penonton remaja kita yang tersentuh hatinya oleh gaya pacaran Zainuddin dan Hayati yang tidak terbalut syahwat ? entah. 
bagaimanapun saya ingin bersaran agar film elok ini sempatlah ditonton para remaja kita, 
karena banyak hal yang bisa dipetik disana meski berbalut bahasa dan tradisi serta gaya gaya jadul. janganlah dilihat jamannya, tapi mari kita petik pesan pesan nya nan rancak! 

sebuah karya lain dari anak bangsa yang membanggakan meski tak sespektakuler Titanic dalam penggarapan efek tenggelamnya, namun keberanian memunculkan hikayat hikayat jadul diera modern adalah patut diacungi 4 jempol! 


kuno dan tua bukanlah sebuah dosa, karena siapapun akan mengalaminya, ia menjadi dosa ketika tak mampu mewariskan nilai nilai bagi penerusnya  ...
 selamat menonton ! ( th ) 
( gambar gambar dari google , sumber wikipedia )

01. Reza Rahadian yang ke londo londoan
02.  Poster film TKVW
03. Rumah Zaenuddin setelah sukses
04. Zaenuddin saat membaca surat Hayati
05. Makam salah satu korban VW / 1936









 .." Mau Kemana Edensor ? " ..

saat penonton masih menunggu sebuah surprise atau ending yang " greng " tiba tiba saja gedung bioskop sudah kembali menyala lampunya dan deretan nama nama pendukung bermunculan dilayar, mengiringi kepergian dua aktor utamanya yang konon akan menjelajah Eropa untuk mengenal budaya budaya dunia sebagaimana 
mimpi mimpi masa kecil mereka di Bilitong .... 

film selesai, penonton " mlonga mlongo " dan keluar ruangan dengan rasa penasaran 
" kok gini ya endingnya? ", ada gerutu gerutu ....
terus terang, sejak Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan sekarang ini Edensor atau Laskar Pelangi 2, saya bahkan sama sekali belum pernah membaca novel novelnya, jadi langsung ke filmnya sehingga sulit membandingkan novel dan filmya. 

tapi saat melihat LP yang ke 1 dulu, saya bahkan sudah kehilangan minat membaca novelnya sebab buat saya filmya sudah bagus! ditangan sutradara Riri Reza saat itu LP1 dan SP memang mendapat banyak pujian. 

lalu Edensor yang disebut sekuel 2 dari LP ini, diganti sutradaranya dengan Benny Setiawan yang tentunya juga sudah melewati proses pertimbangan tertentu. 
musik yang dulunya dipegang Nidji diganti oleh Coboy Junior. 



nama nama pendukung Edensor inipun masih nama nama besar seperti : 
Lukman Sardi, Mathias Muchus, Abimana Aryasatya yang memerankan Arai dewasa sebagai pengganti Ariel Noah yang memerankan Arai pada SP. 

hampir seluruh alur cerita ini berkutat di Paris, diseling flashback ke Bilitong sesekali. lalu juga diselipi pacaran ala Ikal dan Kathia si cewek Jerman yang serba canggung karena perbedaan budaya namun cukup manis.

 selebihnya, ya apa ya, suasana winter sampai autumn di Paris dan kampus Ikal dan Arai, pertemanan dengan teman teman kampus, suka duka sebagai penerima beasiswa yang terbatas dananya, datangnya berita dari Bilitong tentang problema keluarga, dan seputar seputar itu. 

kita memang belum terbiasa disini dengan ending ending yang terasa " mengambang " dan membiarkan imajinasi penonton berjalan sendiri dengan bebas bahkan liar.
 kita masih suka disuguh ending ending yang jelas, yang happy atau tidak happy, pokoknya jelas ! 

jadi saat Edensor berakhir mengambang, orangpun seolah dilanda kecewa, 
" kok gitu ?" ..... 
apalagi kedua sahabat ini, Ikal dan Arai, diakhir cerita atau film ini baru saja  berdamai setelah beberapa waktu sempat bersimpangan jalan, naaa ... " maunya penonton " mungkin keduanya ini diakhir cerita diperlihatkan lebih konkrit tentang kesuksesan studynya yang harusnya 
terus " diapa apakan " supaya hasil studynya itu lebih nampak sebagai 
sebagian mimpi yang sudah teraih, entah itu apa, terserah sutradara, 
tapi bukan lalu pergi berlibur untuk mengelana ala backpacker atau sejenisnya yang 
" seolah mengambang " ...

 memang sebuah " terjemahan " novel kelayar lebar tidaklah selalu mudah karena ia harus mampu memvisualisasikan sebuah imajinasi yang tadinya hanya ada dibenak pembaca novel dan harus diwujudkan dalam benak penonton bioskop dengan " mendekati " imajinasi saat orang masih membacanya, tidak mudah. 

terlebih seorang Riri Reza memang beda dengan Benny S, yang keduanya pasti memiliki pilihan visualisasi yang juga beda meski dari materi novel yang sama.

maka bila Edensor ini dikomentari sebagai " lebih bagus novel dari filmya " maka sayapun tidak bisa berkomentar karena saya memang belum pernah membaca novelnya.
 anehnya, saya juga tiba tiba kehilangan minat untuk mecari novelnya karena 
" sudah mengintip " nya di film dan " mungkin " novelnya taklah jauh isinya dari yang saya lihat di film meski bisa saja saya salah ...

kuatirnya, sekuel berikutnya akan terlanjur membentuk opini tentang " kekurang bagusannya " dan akan bernasib sama yakni sepinya penonton ? mari kita lihat saja ....
 ( th )
( gambar dari google ) 






 .. " Was ist los, Hr. Marwijk? " ..
( catatan kecil Arema Cronos vs Hamburg SV , 06.01.14 )


menyaksikan dilayar kaca petang tadi, sebuah laga persahabatan antara 
Arema Cronos vs Hamburg SV, 
saya yang awam persepakbolaan tidak tahan untuk tidak menulis ini meskipun tidak mengerti teknis sepakbola. lha bagaimana mau tidak menulisnya, menyaksikan gaya gaya sebagian pemain Hamburg SV yang kelas dunia tetapi " norak " ini. 

contoh :main tarik, dorong/ jungkrakan/ jegal / dll termasuk yang " ngamuk ngamuk " kepada para hakim garis diakhir pertandingan, seolah saya menyaksikan sebuah tim tarkam hehe .. sebenarnya catatan HSV sebagai juara 6x Bundesliga dan Liga liga lainnya itu diawal awal membuat saya agak " cemas " bahwa anak asuh Bert van Marwijk ini 
mungkin akan menggulung Arema Cronos/ AC. 

apalagi karakter Jerman yang saya sangat kenal selama 12x winter, agaknya mereka bisa saja datang ke Indonesia dan kota kecil Malang ini dengan sebuah " over PD " , maklum . 
maka sayapun tidak begitu berani " meramal ramal " skor, meskipun diajak teman teman untuk urun tebakan dan saya jawab agak asal asalan yaitu skor 2 -1 tapi untuk Arema. 

mereka tanya, kok saya ngga pegang HSV? saya jawabnya juga asal asalan sebagai orang yang awam bola yaitu:

01. perjalanan melelahkan Jerman - Indonesia akan cukup berpengaruh.
02. pergantian cuaca dari winter ke panas juga berpengaruh.
03. over PD akan membuat mereka sedikit lengah/ sembrono.
04. supporter AC yang akan memadati stadion juga akan berpengaruh.

saya dijawab " wah, ini jawaban orang psikologi, ngga ada bahasa teknisnya babar blas hehe ... " saya iyakan saja wong saya memang ngga ngerti sepakbola ! 

lalu petang tadi dilayar kaca saya lihat di awal awal laga HSV masih seperti " 1/2 hati " meski tetap bermain cermat. tetapi secara perlahan saya merasakan HSV mulai serius bahkan 
duarius sewaktu skor seimbang 1 - 1 . 

keadaan menghangat saat skor berubah 2 -1 buat HSV menjelang akhir babak I dan pelatih HSV terlihat makin sering berdiri didekat lapangan sambil ber teriak2 hehe ... 

di babak ke II saya lihat pak Marwijk makin " senewen " meskipun sudah mengganti beberapa pemainnya dengan pemain pemain yang juga berkelas dunia. 
waa .. sepertinya saya sedang menyaksikan HSV melawan sebuah klub Eropa dan bukan AC sebab seriusnya pelatih dan para pemainnya menghadapi AC ini seolah mereka sedang dalam sebuah laga kelas dunia hehe .. 

diam diam saya makin kagum dengan tim AC yang terlihat chemistry dan team- work nya makin bagus sehingga meski beberapa kali peluang gol itu lepas tapi setidaknya AC sudah menampilkan sebuah gaya sepakbola modern dan berkelas !

entah karena dipengaruhi lelahnya perjalanan, saya lihat emosi pemain HSV rata rata agak 
" tinggi " dan " sewot ", sementara pemain AC lebih " terkendali " yang membuat 
mereka bermain seperti tanpa beban. 

membawa nama klub seperti HSV yang memiliki jam terbang  tinggi di level dunia, pastilah sebuah beban tersendiri bagi mereka. apalagi  dari sebuah negara yang bahkan orang Jerman sering bertanya kepada saya " Indonesia itu letaknya dimana? " .

maka berhadapan dengan tim dari " negara antahberantah " ini pastilah mereka tidak ingin dipermalukan. dan hasil akhir 2 -2 itu, apalagi yang 1 itu hasil penalti HSV, dan bukan hasil sebuah pergulatan seru hehe ... , saya seolah ingin berteriak pada orang orang Jerman 
" ini lo antah berantah yang engkau tanyakan " hehe ...

dari 7 laga melawan tim luar ( apa betul catatan saya ini, harap dikoreksi kalau salah, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Australia, Jerman, Jerman, Philipina ) AC sebenarnya sudah dapat dimasukkan kedalam tim " papan atas Indonesia " yang memang begitu layaknya! 

tentu saya bangga sebagai Arema Asli juga, karena kemenangan demi kemenangan ini pastilah ikut mengharumkan nama bangsa dan AC menjadi kuda hitam dimata tim tim asing yang sudah pernah dan akan mencoba menjajal kekuatan AC.

tapiiii, ada tapinya, janganlah hendaknya ini melenakan, sebab nanti lalu  bisa menjadi bumerang. sebab meskipun yang memasukkan bola ke gawang lawan itu si A/B/Z/X tetap saja itu bisa terjadi karena adanya sebuah kerjasama tim yang baik. sungguh sebuah sukses tidaklah dapat dibangun seorang diri melainkan merupakan sebuah rangkaian kerjasama.

dan sekembalinya ke Jerman nanti, mungkin HSV akan mengenang laga di Malang ini sebagai sebuah " pil pahit " karena nama besar HSV dimasa lampau " terkena batunya " di kota " kecil " Malang yang notabene tidak terkenal di Jerman. 

rasa frustasi pak Marwijk sangat dapat terbaca bukan saja posisi HSV saat ini di Bundesliga, tapi juga bertambah dengan hasil laga pertemanan di Malang ini.

yahhh ... daripada marah ataupun frustasi , mungkin sebagai tuan rumah yang baik tak ada salah kalau mereka diperkenalkan kepada Bakso Bakar atau Rawon Rampal dll sebelum melanjutkan perjalanannya ke negara lain, supaya terhibur kekecewaannya?
 agaknya pak Marwijk memiliki PR yang lumayan serius untuk berbenah kedalam,
 semoga sukses ya pak !



selamat buat AC, sebuah rantai peluang emas untuk saling belajar dari tim tim luar negeri telah ada ditangan, tinggal memanfaatkannya dengan maksimal agar AC semakin memperkokoh citra positip persepakbolaan Indonesia dimata dunia ! 

tentu ini juga tidak lepas dari dukungan para supporternya yang kreatif, fanatik dan disiplin yang membuat kagum tim tim asing !

hari ini kita juga bisa saksikan tampilan iklan elektronik seputar lapangan bola, seperti yang sering kita lihat di laga laga bola dunia, Kanjuruhan makin cantik dan membanggakan! 
buat semuanya : " selamat ! " ( th )

( gambar dari google )