Jumat, 22 November 2013











.. " saat Semar, Petruk, Gareng, Bagong 
masih berkuasa di 
Ria Jenaka "  ..


ini adalah sebuah catatan kecil yang memang Tidak Baru tetapi ditarik dari tumpukan file dan dibumbui foto foto yang mudah mudahan masih bermanfaat terutama bagi pendatang
 dari luar Malang yang memerlukan tempat hangout disaat liburan di Malang.





 sebulan yang lalu, saat mau mengisi bbm di jalan bandung, malang, sekitar jam 13.00, saya lihat " Ria Jenaka "/ RJ yang ada disebelah spbu disitu sedang sepi . pada malam hari sudah tidak memungkinkan untuk jeprat jepret disitu karena RJ selalu ramai, maka siang itu agaknya 
" takdir " saya untuk jeprat jepret ..

 



 sebetulnya saya berharap ada seseorang disitu yang bisa menjelaskan sejarah nama RJ plus segala " asesoris " nya yang sangat mengingatkan pada sebuah acara populerTVRI tahun 83an, dengan nama yang sama, Ria Jenaka , yang biasanya kalau tak salah disiarkan 
setiap minggu pagi.
saat itu, banyak sekali acara acara TVRI yang di pakai sebagai alat sosialisasi program program pemerintah, salah satunya Ria Jenaka ini yang dikemas dalam bentuk lawakan.
   
nama nama Ateng, Iskak, Slamet Harto dan Sampan Hismanto adalah legendaris dari acara RJ ini yang diprakarsai oleh direktur TVRI drs. H. Subrata. bentuk RJ ini dikemas dalam tokoh tokoh punakawan dunia perwayangan yang terkenal yaitu Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. mengapa dipilihnya tokoh punakawan dan bukan tokoh " majikan " mereka?
 punakawan itu identik dengan pembantu, pengawal ataupun penasehat bila perlu. jadi pesannya adalah bahwa RJ itu " mengakar atau merakyat ", kira kira begitukah?



naa .. ketokohan empat punakawan inilah yang juga saya temukan di resto Ria Jenaka di jalan Bandung, Malang, dalam bentuk patung, lukisan dll. apakah sang pemilik atau pengelolanya berkaitan dengan acara tvri ditahun 83 an itu atau bagaimana, sayang sekali saya tidak menemukan jawabannya.

keunikan lain dari resto ini adalah cukup dominannya " pertokohan krupuk " ups .. maksudnya kaleng kaleng krupuk mulai dari seni kontemporer nya yang memanfaatkan eks kaleng kaleng krupuk hingga daftar menu menunya yang didominasi grafis dengan 
gambar dari benda yang sama : kaleng kaleng krupuk. ini pertanyaan saya yang kedua, apa hubungan kaleng kaleng krupuk dengan para punakawan  tadi?

 

pertanyaan ketiga, diseluruh ruangan ruangannya baik yang dilantai bawah, tengah maupun atas, bertebaran koleksi benda benda antik mulai sepeda onthel, kamera, radio, gramafon, kursi meja, dll dll dan hubungannya dengan pertanyaan I dan ke II pastilah sangat menarik.

lalu saat membuka daftar menunya yang mirip buku komik, siap siap saja menahan napas saking banyaknya pilihan. mulai menu menu tradisionil, asia, fast food, blended, cocktail, dessert dll yang masing masing memiliki deretan pilihan " sak abreg abreg " ..

jujur saja saya lebih menikmati atmosfer resto daripada makanan/ minumannya, dan kalau malam hari pasti akan lebih asyik dengan live music nya. saya tidak bisa berbohong bahwa pilihan menu menu yang saya pesan siang itu, 
" lebih cantik penampilan daripada rasanya ". 
tetapi Rasa memang berkaitan dengan Selera, sulit diperdebatkan.
   
dan saya yakin kalau saya kembali dan kembali lagi ke RJ, alasan utama adalah karena atmosfer dan deretan pilihan beveragenya. lokasinya yang strategis, mudah ditemukan dan mudah parkirnya kecuali disaat ramai ( hehe .. ) , keramahan stafnya terutama secara khusus saya sampaikan kepada " mbak Mungil nan manis " ( maaf saya lupa namanya ) . keramahan nya yang tulus, benar benar dari hati dan bukan basa basi, it's a gem .. !

siapa tahu satu saat di RJ ini akan ada weekend-programm " Ria Jenaka ala TVRI tahun 83an " tapi dengan kemasan yang lebih kekinian, jadi sambil menikmati menu menu RJ kita bisa 
" cekikikan " ala RJ masa kini? 

maka bagi pecinta benda benda antik, seni seni kontemporer, seni tradisionil, makanan minuman yang aneh unik dan beda ( meski soal rasanya itu adalah selera ! ),
 plus atmosfer yang hangat dan homely , boleh mencoba Ria Jenaka di jalan Bandung, Malang, bersebelahan dengan spbu, siapa tahu kita bisa bertemu Semar, Petruk, Gareng, Bagong? 
semoga . ( th )


( keterangan foto, all taken by : th, oktober 2013 )

01. atmosfer lantai II yang nyaman
02. sepeda antik
03. salah satu menu andalan
04. ruang "punakawan", ikon RJ
05. kaleng kaleng krupuk menjadi sebuah karya kontemporer
06. bemo, masih ingat?
07. blue is blue
08. botol gelas, gelas botol
09.  desain grafis yang " bernuansa krupuk "
10. blended
11. beverage
12. Mbak Mungil yang manis, ramah dan tulus ... !
13. snack
14. fast food and dessert 






Kamis, 21 November 2013




.. Congratulations dalam Luka Eka Kurniawan ..

ikut senang dan bangga bahwa penerbit Amerika yang cukup ternama, New Directions, pada musim semi 2015 mendatang akan menerbitkan
 Cantik Itu Luka 
( Beauty is a Wound, tr. Annie Tucker ) . 
sebuah karya anak bangsa yang membanggakan.
 selamat rekan Eka, dan saya akan terus penasaran menunggu luka luka yang lain ! ( th )


Selasa, 19 November 2013




.. halo hali hula ..

hampir seminggu tidak menulis disini, kangen juga, tapi sikon memang sedang kurang pas. naa .. kembali ke Malang, rasanya senang meski senep dengan macet macetnya hehe ..
menumpuk cerita dan foto foto tapi butuh waktu ya, sebab meng edit sekitar 800 an foto itu cukup " mblenek " dan pegel linu hehe ..
 naa, jadi sabar ya, yang pasti akan seru sebab 
saya tak akan cerita yang sudah banyak di buku/majalah/koran dll tapi mungkin dari 
"angle " yang tak diperhatikan banyak orang
 ( lha ini susah, sebab kadang ketemu kadang tidak hehe .. ) .. 
" kesabaran akan berbuah sangat manis " bak pepatah bilang begitu, semoga .. 
naa ..sampai jumpa yaa ! ( th )
( gambar dari google )

Minggu, 10 November 2013





.. " monthong itu, tak terelakkan " ..

kearah manapun saya pergi, pada saat berangkat atau pulang, salah satu, sebisa bisa saya akan upayakan lewat didaerah Bendungan Sigura Gura dekat ITN, Malang. jangan keburu berprasangka, tidak ada siapapun yang menarik saya untuk lewat dengan sengaja disana kecuali yang satu ini, si Monthong. ya sudah, dari namanya saja sudah tertebak 1000% bahwa itu adalah jenis durian yang termasyhur karena tebalnya daging serta rasanya yang wow ... !

tetapi untuk dikonsumsi tiap hari, pada usia seperti saya, haruslah mengukur kadar kolesterol yang dikandungnya hehe, maka untuk mensiasati si Monthong yang sulit dilupakan ini, ada 
" wakil " nya yang dapat menekan kolesterol setidaknya 
sepertiga atau seperlimanya hehe itu menurut saya, padahal kalau diukur benar benar mungkin yang satu ini justru lebih gawat!

naaa ... yang dimaksud adalah Es Monthong alias Es Durian Monthong yang penjualnya selalu mangkal di pojok Jalan Bendungan Batu Jahe dan Jalan Bendungan Sigura Gura 
dekat kampus ITN Malang. keberadaan mereka mudah dikenali karena seragam TShirtnya yang berwarna pink itu cukup mencolok dari kejauhan. apa kelebihan ice-cream mereka?

01. rasa, 100000% rasa Monthong, bahkan sering saya mendapati " cuwilan " dagingnya.
02. harga, dengan rp. 7.000,- kita mendapat secangkir besar Es Monthong.
03. konon, tak ada pengawet ( bagaimana mau diawetkan, wong sebentar saja sudah habis terjual, tidak sampai perlu di awet awet kan hehe .. )

jangan kaget mendapati antriannya yang lumayan terutama pada jam jam bubaran kampus, dan catatan " tidak membuka cabang dimanapun " itu juga menjadi daya tarik sebab biasanya kalau sudah ada dimana mana kwalitas menjadi turun.




 buka dipojok jalan biasanya mulai sekitar jam 10 sampai habis tapi tidak sampai lama lama lho, sering saya harus kecewa karena Duo Pinky ini ternyata sudah tak ditempat yang berarti Monthongnya sudah habis ! yang punya hajatan ultah bahkan menikah, jangan lupa memasukkan ini dalam menu hidangan tamu, dijamin tamu tamunya bolak balik lagi  
ke stan dessert hehe ... siap ber Monthong  ria? 
ayooo ke Sigura Gura .... ! ( th )

( keterangan foto, all taken by : th )

01. siapa mampu menolak si Monthong ini?
02. diaduk kemanapun, tetap ketemu si Monthong!
03, dipojok Siguragura dan Batu Jahe
04. Duo Pinky
05. hmmmm ..... 






.. " onthel di Museum Bentoel, 
3 Mercy ditolak " ..


pabrik rokok Bentoel dengan kota Malang adalah bak Mimi lan Mintuno. 
maka sangatlah sulit memisahkan keduanya karena Bentoel adalah bagian dari keping sejarah kota Malang dimasa lalu dan hingga saat ini meskipun sudah 
terjadi merger. 

maka bila kehadiran Museum Bentoel sejak sekian tahun yang lalu di area Pasar Besar Malang mencuatkan tanya, mengapa memilih lokasi ditempat yang semrawut dan hiruk pikuk, mari kita tengok sedikit latar belakangnya.



ini kali ke II saya ke museum ini setelah sekian tahun lewat kesana tetapi belum ada sentuhan teknologinya alias semuanya masih serba manual. 
pada minggu yang lalu setelah peresmiannya beberapa hari sebelumnya, saya melihat banyak perubahan terutama dalam cara penataan dan penyajian informasinya yang sudah terkemas lebih " modern " .  

nama pabrik rokok Bentoel memang tidak hanya tersohor secara nasional, bahkan internasional. dan sekian tahun yang lalu kalau nonton bioskop yang saya tunggu adalah iklan rokoknya yang menampilkan suara Frank Sinatra dengan latar belakang panorama Indonesia dan rajawalinya yang keren! 

meski saya belum pernah merokok sebatangpun seumur umur hidup, tapi saya penggemar iklan ini dan saya bangga penyanyi selevel Sinatra menjadi ikon iklannya. 

museum ini sesungguhnya adalah bagian dari bangunan asli tempat awal usaha founder nya, bapak Ong, dibidang pertembakauan dan rokok ditahun 1936 . 

maka bila saat ini bangunan museum terasa " kurang pas " karena terletak di daerah padat, macet, sesak, kotor dst ini adalah sebuah perjalanan jaman dimana dahulunya daerah museum adalah termasuk yang " strategis " karena berada di jantung pusat bisnis, Pasar Besar Malang yang kala itu sudah tentu belum 
sepadat dan sekotor saat ini.

bangunan museum ini terbagi atas tiga, gedung pameran ( sejarah dan riwayat pabrik rokok Bentoel ), terus ada gedung galeri dan gedung peristirahatan. dimulai dengan 12 karyawan pada tahun 1936, usaha pak Ong secara perlahan tapi pasti melaju pesat hingga wafatnya ditahun 1967. setelahnya, usaha keluarga ini masih secara estafet dilanjutkan oleh generasi muda keluarga dan bahkan pada tahun 1990 Bentoel mencatatkan diri sebagai salah satu 
emiten di lantai bursa Surabaya dan Jakarta. 

( saya ingat, saat  saya masih bergabung di Bursa Efek Surabaya atau BES dan beberapa emiten seperti Bentoel, GG dll yang berdomisili di Jawa Timur, pada akhirnya mencatatkan dirinya di dua lantai bursa dengan pertimbangan bahwa sebagai " milik wong jawa timur "  sudah selayaknya mengutamakan 
BES disamping BEJ. 

dalam kunjungan kebeberapa emiten di jawa timur, seperti GG di Kediri dll tim BES kami bahkan menghimbau sebaiknya perusahaan perusahaan raksasa Jatim 
cukup tercatat di BES saja untuk mengimbangi pemain pemain raksasa 
 di Bursa Efek Jakarta , naaa ... sampai segitunya 
rasa " kedaerahan " sebagai wong Jawa Timur hehe )

maka melihat riwayat kerjakeras dan ketekunan para pelopor dan pendiri Bentoel di museum ini, memang terselip rasa " kehilangan " juga bahwa saat ini Bentoel sudah 
" lepas ", tetapi demikianlah perjalanan sebuah riwayat yang terkadang 
tak sesuai harapan. 

dimulai dengan sebuah usaha sederhana dimana merajang tembakaunya Bentoel masih secara manual hingga berakhir di sebuah  mesin computerized, adalah sebuah
 jejak panjang Bentoel selama sekian dekade. 

lalu juga ada sekitar 176 merek rokok yang 90% terdengar asing dan lucu karena ketidak tahuan saya bahwa sungguh pernah ada merek merek unik dalam sejarah Bentoel. 
ditemani dua staf museum yang super ramah, mbak Rosh Linda dan mas DylenAgustyant, siang itu saya merasa bersyukur bahwa ketiadaan pengunjung yang lain membuat saya sangat leluasa jeprat jepret dan memperoleh informasi banyak dan berharga dari keduanya. 

yang lebih menarik adalah bahwa pengunjung sama sekali tidak dipungut biaya masuk alias gratis, dan bagi yang ingin meng ekspresikan terima kasihnya pada para guide kita, dapatlah kita bawakan oleh oleh atau angpao, terserah anda!

foto foto yang dipamerkan di museum ini sangatlah menarik karena dengan segera kita dapat melacak jaman yang mereka wakili melalui bermacam peristiwa , model rambut, model baju, dekorasi, bangunan, kendaraan dll. 

koleksi koleksi pribadi bapak founder Bentoel juga dipamerkan antara lain dua sepeda antik nan cantik.konon beberapa mobil Mercy terbaru pun tidak mampu menggoyahkan kolektornya untuk menukar sepeda sepeda antik yang mewakili bahasa pada jamannya dan begitu sarat dengan riwayat . 

meski tampilan keduanya terlihat "  letih digerus jaman " namun mereka tetap ada disana untuk penanda dan motivasi bagi generasi mendatang!

mari kenali sejenak riwayat Bentoel karena ribuan atau bahkan puluh ribu " anak anak dan cucu serta cicit Bentoel " lahir dan besar disana dan saat ini mungkin 
telah banyak yang menjadi tokoh tokoh penting di 
berbagai bidang di masyarakat yang berasal dari ibu ibu atau bapak bapak yang mengabdikan dirinya puluhan tahun di Bentoel. 

naaa ... datang saja ya di area Pasar Besar Malang, rasanya tidak ada yang tidak tahu letak dari museum yang satu ini dan selamat menjelajahi jaman di 
ruangan ruangan pamerannya! 
( th )

keterangan foto, all taken by : th 

01. gedung utama tampak samping.
02. onthel bersejarah.
03. penanda.
04. 176 merek
05. patung pendiri Bentoel.
06. toko I milik Bentoel, 1936
07. iklan baliho dijaman itu
08. para guide museum yang ramah




 

 Teras Bumbu yang " lupa " bumbu .. ( ? )

Sebuah pengalaman tidak nyaman saya alami di Teras Bumbu, Jalan Raya Sulfat, Malang. Saat itu hari Minggu siang tanggal 07 Juli 2013, berdua dengan kerabat wanita yang sama sama lagi 
" nyidam " nasi goreng, gara gara di jalan melewati sebuah kedai mahasiswa yang sedang mengantre nasi goreng dengan baunya yang menusuk rasa lapar hehe ..

Maka dalam perjalanan mengantar pulang kerabat ini kerumahnya, kami mampir di 
resto Teras Bumbu Jalan Raya Sulfat . 
Halaman parkir yang luas dan penataan ruang ruangnya yang nyaman sebenarnya membuat resto yang satu ini lumayan untuk ber hangout. 

Pramusaji berusaha mengarahkan kami kepada menu menu andalan mereka seperti Ayam Bakar yang dibakar dalam tabung bambu yang khas  plus menu menu lain yang menjadi andalan TB.

Namun hati sudah kadung  kepingin nasgor maka pesanan dipercepat dengan dua nasgor Jawa dan dua teh botol, maklum perut sudah tralalalala .. Pramusaji tampak kecewa sebab tidak berhasil membuat kami memesan yang mahal " Sudah, cuma ini bu?" ... 

Perkataan " cuma " itu tidak saya pedulikan hingga  akhirnya dua piring nasgor datang di meja dalam tampilan yang " wow " alias porsi ala makanan seorang pengangkut barang di pasar pasar dan nampak tidak tertata sebagaimana harapan saya disebuah resto sekelas Teras Bumbu dan bukan di pkl. ( pkl pun saat ini sudah canggih canggih lo menatanya ! )

Saya berkomentar " wow ... " yang bisa saja diartikan oleh pramusajinya beda, sebab 
" wow .. " juga bisa berarti kagum, suka, surprise .. Tapi " wow .. " saya kali ini saya terjemahkan : kaget, surprise bahwa porsi besar nasgor yang dihidangkan dengan kurang tertata 
dan butir butir nasinya " morat marit " ditepi piring ini mengesankan kurang lebih :
" nihh ... makannn ! " .... 

Kami berpandangan menghadapi sajian ini, dan dengan rasa penasaran mulai mencicipi nya sebab kalau tatanan minus, semoga saja rasanya bisa menutupi minusnya. 
Satu, dua, tiga , empat sendok, masih tidak percaya, saya ambil lagi sendok ke lima, kok sama? Saya campur aduk nasgornya, hasilnya sama : hambar , anyep .... ! 




Lagi, kami berpandangan... Pramusaji yang menghidangkannya saya undang ke meja dan saya memintanya untuk ikut mencicipi dari piring saya. Komentarnya " ... waa ..iya bu, maaf, saya panggilkan yang memasak ?" ... kami setuju. 

Ternyata yang muncul bukan chef, tapi rekan nya yang wanita. " Maaf bu, saya mewakili ... " dan sekali lagi saya persilahkan keduanya mencicipi nasgor yang ada dipiring saya. 
Ekspresinya berubah " Aduh, maaf ya bu, mungkin kelupaan garamnya .... " ... 

Dengan berat hati, saya terpaksa memberi sedikit " kuliah " bahwa kalau 
seorang chef sampai lupa garam, itu sama dengan 
seorang prajurit maju perang tanpa amunisi dan hampir muskil garam dilupakan kecuali 
dengan satu catatan :" sengaja lupa " entah dengan alasan apapun.

Kecewa, kami tinggalkan Teras Bumbu setelah menyelesaikan di kasir, dan supaya sisa nasgor di piring piring yang masih 95% itu tidak lalu di " daur ulang " maka kami berimprovisasi, 
maaf saja, daripada ada pihak lain yang nanti dirugikan.

Apakah karena tadi kami tidak memesan menu mahal yang ditawarkan pramusaji diawal kedatangan dan menu nasgor mengecewakan mereka? Atau adakah alasan lain yang membuat chef dan rekan rekannya " melupakan " bumbunya? Wallahualam. 
Tetapi saya ada tips kecil untuk crew Teras Bumbu yang mungkin dapat dipertimbangkan agar owner dan customer tidak dirugikan dengan hal hal " sepele " seperti diatas :

01. Jangan pernah membedakan layanan kepada pengunjung resto, sekecil atau semurah apapun menu yang dipesan bahkan kalaupun hanya segelas teh ! 
Dari hal hal kecil inilah datangnya hal hal besar dikemudian hari . 
Dan sebagai pramusaji , anda anda tidak ber hak " menghakimi " pengunjung apapun alasannya, sebab kewajiban utama adalah memberikan layanan sebaik baiknya agar pengunjung datang dan datang lagi sehingga rizki anda andapun lancar mengalir.

02. Sesibuk apapun seorang chef, dalam kasus seperti diatas, anda seyogyanya menyediakan sedikit waktu untuk menemui customer dan memberi penjelasan serta secara sportif meminta maaf apabila memang ada kelalaian dipihak anda. 
Chef adalah salah satu pembangun imej tempat anda bekerja, meminta maaf bukan sebuah hal yang memalukan , sebaliknya, akan membuat nilai anda plus. 
Jadi " jangan berlindung " dibelakang rekan rekan anda yang lain.

03. Mengobati kekecewaan customer itu gampang gampang sulit, tergantung. Apalagi kalau kerugian customer itu lebih disisi psikologis daripada materiil. 
Merawat customer agar menjadi loyal-customer itu memerlukan 
kesungguhan hati, ketulusan dan kejujuran ! 
Kelalaian yang tidak disengaja itu bisa terjadi kapanpun, yang penting bagaimana menyikapinya agar customer tidak merasa " kapok ".

04. Makan, itu menyakup dua hal. Kebutuhan perut dan mata. 
Untuk level Teras Bumbu, rasanya anda harus memiliki keduanya karena perut bukan satu satunya alasan orang berselera makan. Sebuah tatanan masakan yang " standar " pun bahkan 
tidak saya temukan di menu nasgor anda, dan bila chef terlampau sibuk untuk menatanya, 
dapat dibantu oleh yang lain sehingga customer tidak merasa 
seperti " kucing " yang menghadapi piring makannya ( foto nasgor disini sudah saya tata ulang sebelum di jepret )
Bila mata sudah lebih dulu jatuh hati, soal rasa dapat dikompromi, 
tapi bila keduanya tidak ada, apa yang harus dinikmati?

Semoga, pengalaman ini hanya terjadi dimeja kami hari itu, 07.07.13 sekitar jam 13.30 siang.
" Teras Bumbu " ... dimana bumbumu ... ?? ( th )

( keterangan foto, all taken by : th )

01. Halaman parkir yang lega.
02. Teras Bumbu, Raya Sulfat, Malang.
03. Kepiting di aquarium.
04. Sebelum dijepret, lebih dulu saya rapihkan tepi tepi nya yang belepot dan tatanan yang semula terkesan " morat marit " , nasgor minus bumbu ... ?

Sabtu, 09 November 2013





.. Siapa Pahlawan Itu ? ..

hari ini, 10 Nopember, di kalender tertera Hari Pahlawan, pas hari libur, hari minggu.
 entah apakah sekolah/ kantor2 tetap melaksanakan upacara atau bersyukur bahwa tak perlu ada upacara karena pas hari minggu? semoga hari ini tidak begitu saja lewat karena kita semuanya tanpa kecuali di Indonesia ini, tidak akan dapat menikmati kekinian ini TANPA adanya pelaku pelaku sejarah perjuangan bangsa menuju dan mempertahankan kemerdekaannya.


secara khusus, 10 Nopember 1945 memang memiliki catatan tersendiri  dengan gugurnya sekitar 16.000 pejuang Indonesia dalam sebuah pertempuran sengit di Surabaya yang berlangsung hampir tiga minggu lamanya dari prediksi Belanda saat itu yang mengira akan dapat diselesaikan hanya dalam waktu 3 hari. kematian Brig. Jend. Mallaby telah memicu kemarahan sekutu dan Surabaya menjadi lautan api karena 
para pejuang kita juga tidak rela kemerdekaan yang sudah diproklamirkan 17 Agustus 1945 terinjak injak martabatnya oleh penjajah.

 para pejuang kita saat itu umumnya masih sangat belia, terdiri dari pelajar, para santri, petani, dan warga biasa serta juga prajurit yang kesemuanya menyatukan semangat dibawah satu panji, Merah Putih. 

adalah bung Tomo sebagai motor penggerak semangat perjuangan ini, yang melalui sebuah pidatonya yang membakar dada para pejuang untuk maju melawan penindas, telah menjadi penyulut perjuangan yang sama diseluruh wilayah tanah air.
semboyan " Merdeka Ataoe Mati ! " hanya
 itu pilihannya.

salah satu lokasi pertempuran dahsyat di Surabaya ini adalah Jembatan Merah yang hingga kini masih dapat disaksikan bentuk aslinya. pertanyaannya  sekarang 
" masih adakah pahlawan saat ini diantara kita, siapakah mereka?"

jawabannya pasti " masih ada ", siapakah ? definisi pahlawan bisa sulit dan gampang, tergantung. mungkin dapat disederhanakan begini :
" pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk kepentingan sesamanya, apapun bidangnya, namun tidak disertai pamrih untuk mencari nama atau kekayaan atau popularitas, dan bahkan  dilakukan tanpa mengharap imbalan materiil apapun " .

sulit bukan? siapa dijaman ini yang mampu seperti itu apalagi ditengah tekanan ekonomi yang semakin mencekik dengan melambungnya harga harga kebutuhan sehari hari, apakah ada yang mau memberikan jasanya secara gratis tanpa pamrih lagi?

di tv kemarin, saya melihat seorang tukang becak dengan empat anak dan kondisi rumah tangga yang sangat pas pasan, menemukan tas tertinggal dibecaknya berisi 9/ sembilan juta rupiah ! dengan penuh keikhlasan diantarkannya tas tersebut kepada si pemiliknya tanpa kurang
 se rupiahpun. Mahluk Langka yang bernama Pak Becak ini, bagi saya juga seorang pahlawan, Pahlawan Kejujuran yang saat ini sudah tersisa hanya legenda !

maka apabila sebuah kata ini dimaknai, yakni " KEJUJURAN " maka ini sebenarnya adalah intisari dari sebuah Sikap Kepahlawanan, apapun bidang dan aktivitasnya. jujur kepada diri sendiri dan orang lain, sebuah kalimat mudah yang sangat sulit dilaksanakan apabila tidak disertai dengan Kemauan dan Keikhlasan.

pak becak yang jujur mengembalikan temuan 9 juta rupiah diatas bangku becaknya. 
sementara para koruptor yang bahkan sudah tertangkap, masih banyak yang ingin menyembunyikan hasil korupsinya dengan bermacam dalih dan modus.

kepada para guru, dokter, bidan, dll yang berada ditempat tempat terpencil, sulit dijangkau serta fasilitas serba terbatas namun penuh pengabdian, mereka mereka juga pahlawan karena rela berkorban untuk kepentingan sesamanya.

agaknya bangsa  kita telah sampai disebuah tikungan jalan yang terbelah dua, mungkin saatnya Indonesia harus memilih. akan kemanakah kita melangkah?

kita tidak memerlukan pahlawan pahlawan yang Gegap Gempita dan Bangga dengan Poplularitas dan Power nya, tetapi kita sangat merindukan Pahlawan Pahlawan Dalam Diam Tetapi Berkarya Nyata Untuk Bangsa, Negara dan Sesamanya betapapun kecil kontribusinya ! pak becak  yang jujur tadi memang bukan siapa siapa, tidak terkenal, bahkan terpinggirkan, namun saat permata yang dimilikinya bersinar karena sikap jujurnya, maka masihkah banyak diantara kita yang mencoba menjadi pahlawan pahlawan namun kesiangan?

semoga 10 Nopember memberi banyak makna dan renungan bahwa sesungguhnya seorang pahlawan itu Tidak Pernah Berharap Tanda Jasa namun dia justru memberikan jasanya pada sesama Tanpa Pamrih. semoga itu adalah Anda ....! ( th )

 ( keterangan foto : keduanya diambil dari google, Bung Tomo dan Pak Guru Naik Onthel, cuplikan adegan film " Laskar Pelangi " )