Sabtu, 12 Oktober 2013




.. teman temin pesbuk, enaknya diapakan? ..


diawal awal FB an duluuu, masih semangat mengumpulkan teman sampai sampai yang ngga kenalpun diterima sebab mendadak dari seluruh penjuru dunia begitu mudah 
mendapat teman dari china, rusia, selandia baru, kanada, india dll dll 
pokoknya hepi hepi ... 

lha seiring perjalanan waktu , akhirnya pengalaman mengajarkan sesuatu tentang pertemanan ala FB ini, maka yang terjadi adalah sebaliknya. 
saya mulai alergi, jangankan menambah teman, yang sudah adapun dirombak total. 
bahkan dengan berat hati terpaksa saya " memutuskan kontrak pertemanan " 
dengan sekian puluh orang yang tidak jelas jluntrungnya 
namun mengganggu. dimana gangguannya?

namanya saja pertemanan yang tidak langsung, jadi banyak hal yang diluar perkiraan terjadi. misal, komentar komentarnya yang vulgar bahkan brutal, 
kemudian latar belakangnya yang aneh aneh sehingga obrolan mereka dengan 
" geng " nya itu menyadarkan kita bahwa mereka adalah sekumpulan peminum atau minimal yang suka minum minum dll, bahkan juga ada yang " gawat " karena tiba tiba saja muncul foto foto mereka yang nyaris nudis lho lho lho ....

maka, bukannya sok sok gimana, tetapi demi menjaga kelangsungan pertemanan dengan kerabat dan teman teman yang memang sudah saling tahu, kenal, dan akrab, terpaksa 
yang " aneh aneh" tadi saya " putus " kan. 

dan dengan semakin maraknya pemalsuan data pribadi, mulai foto diri, identitas dsb maka sayapun mulai malas membuka buka, hanya bila ada pemberitahuan masuknya 
pesan baru ,  saya membukanya . biasanya pas  ada yang ber ultah atau wafat dll dan 
ada yang mengingatkan saya akan itu.

dalam daftar permintaan pertemanan ada sekitar 40 orang yang belum terjawab, 
meski sebagian saya memang tahu dan kenal. tetapi melalui inbox kepada yang sebagian tadi , saya sudah menjelaskan singkat bahwa itu memang tidak saya jawab 
karena beberapa alasan dan  tidak berarti saya abaikan. 
kami tetap berkomunikasi melalui jalur lain. 
maka hampir 2 - 3 tahun ini FB saya 
seolah mampet dan mandeg kecuali perubahan beberapa foto saja.

lucunya lagi, ternyata masih saja ada yang mencoba coba iseng dengan memohon pertemanan memakai foto entah siapa tapi yang jelas sangat keren keren  dengan bonus permohonan pertemanan 50kg kain gombal hehe .. 
saya geli bahwa " modus kuno " seperti ini masih dicoba dipakai dengan harapan wanita 
akan " klepek klepek " melihat foto foto keren.
( lha wong yang ngga pakai foto alias berkenalan langsung didunia nyata saja belum tentu jujur apalagi yang didunia tidak nyata alias maya hehe ... )

bak mata uang yang berwajah ganda, FB pun memiliki dua wajah. 
genuine dan artificial.
akhirnya semuanya berpulang pada kita, mana yang akan dipilih.tokh FB juga punya pengaturan pengaturan privasi dll sesuai selera pemilik akun. tak ada keharusan untuk berteman dengan siapapun bila ada indikasi meragukan/ ketidak jujuran.

tapi kalau " niatan " ber FB memang sekedar konyol2an ya tak masalah, cewek memasang foto status nya dengan wajah cowok dan mengaku dirinya gay  dst dst mungkin bagi sebagian orang ini permainan adrenalin yang menarik.
 naa .. bagaimana dengan pengalaman blog - readers sendiri? ... ( th )

( gambar dari google )

 

Kamis, 10 Oktober 2013




 .. Manggar Gading, 
From Rawon With Love ..

kalau Frank Sinatra punya From Russia With Love disingkat FRWL, maka disebuah desa di Junrejo, Batu, Malang pun saya tak sengaja juga menemukan  FRWL. 
bermula dari macetnya jalan raya Dinoyo gara gara ada syukuran desa  yang membuat macet ngga ketulungan hingga berpuluh puluh kilometer baik di jalan utama maupun kampung kampung, huhhh ...

maka saya putuskan balik jalan alias kembali pulang tapi ternyata juga tak mudah wong sama sulit dan merayapnya. dan saking sudah kadung mangkel dengan yang 
memberi ijin kemacetan ini, 
maka saya sengaja tidak pulang dulu tapi bablas kearah Batu mencari 
makanan pesanan ibunda yang tadinya mau dicari di dekat alun alun Malang ...
apa boleh buat ! 
( terkadang manusia harus flexibel dalam mencapai tujuannya meski jalan yang harus ditempuh berubah petanya, life is a fight hehe .. )

naa .. ditengah " kegalauan " akibat kena macet, panas, sumug , sumpeg dll inilah tiba tiba disebelah kanan jalan raya desa Junrejo saya melihat ada sesuatu yang " berbau Bali " ... 
lho, sejak kapan ini ada ? 

ini menandakan cukup lama nya saya tidak melewati area ini sampai tidak tahu ada perubahan2 disekitar desa ini. saya baca samar samar tulisan 
" Warung Manggar Gading " 
dan melihat jam di HP yang menunjuk sudah lewatnya jam makan, maka rasanya pantas saja
kok saya mulai " temperamen " hehe .. 



 maka saya melangkah masuk dan " tingak tinguk " sebab belum pernah kesitu. 
" silahkannn ... " sapa ramah pramusaji. " makasih mbak, tapi masih lihat lihat  dulu ya enaknya duduk dimana soalnya belum pernah kesini hehe ... " ... 

Warung MG ini areanya kecil, tetapi sengaja " dipadatkan " dengan beberapa 
gazebo, gubug gubug an, dan mejakursi bergaya normal, yang bila dipadatkan mungkin mampu menampung sekitar 50 an orang .. 

sentuhan Bali memang terasa hingga pada interiornya, jadi tak hanya di gerbang masuknya saja. ragu ragu saya bertanya " maaf ya .. menjual masakan Bali to?" ..  
pramusaji tertawa melihat keraguan saya dan 
" endak buu , memang banyak yang tanya gitu, itu cuma gaya saja ke Bali2an ... " ... oooo .. 
saya paham, tetapi saya hampir yakin keraguan seperti saya tadi bisa berdampak lumayan alias membuat MG " diragukan " terutama oleh calon pengunjungnya yang muslim . 

keraguan saya segera terjawab saat melihat daftar menunya yang 1000% halal dan 
" tidak ada unsur meragukan didalamnya " hehe ...
saat menanyakan menu khas saya diarahkan ke rawon kisi sapi , 
waa.. boleh juga sebab perut sudah nge jazz hehe .. oya, meja tempat saya duduk tertata rapih dengan sentuhan batik disana sini dan saat saya berkeliling jeprat jepret saya mendapat kesan warung ini punya sentuhan ala " hotel ". 
ternyata tebakan tak salah, ownernya memang kebetulan seorang hotelier. 

disini sebagian besar menunya adalah  kuliner Jawa . soal harga, memang relatip.
misal rawon kisi sapi ini  ini sekitar 20 an ribu, yang setelah terhidang di meja saya menerima tiga piring terpisah plus satu " wakul " . 

ini rinciannya : 
satu piring dan mangkuk isi rawon, piring lain berisi sambal dan taoge mini plus krupuk udang  , satu tempat nasi dari bambu atau " wakul mini " dan satu piring makan, jadi meja langsung padat sebab juga masih ada es dawet. 
tetapi saya akhirnya memang harus memberi dua jempol untuk rawon ini : yummmyy .. !

dan meskipun tidak ada view yang bisa dinikmati disini, namun suasana cukup nyaman, bersih dan rasa masakannya dari skala 1 - 10 ada di 8 ... ! 

saat saya pulang meninggalkan Manggar Gading, saya berkeinginan untuk kapan kapan kembali lagi .. !
sungguh sebuah FRWL, From Rawon With Love .... ( th )

 ( keterangan foto, all taken by : th ) 
01.gubug ala Manggar Gading
02. tatanan meja yang rapih
03. menu card yang etnik
04. prasmanan juga ada ..
05. yang suka gaya lesehan di MG ada !
06. detil kecil yang cantik ..
07. ala bali ..
08. pramusaji yang manis dan ramah
09. From Rawon With Love ..
10. cantik dan gemericik ..
11. penanda MG ditepi jalan
12. menu menu MG












Rabu, 09 Oktober 2013






.. 74 menit di Padepokan Dhammadipa Arama ..
 ( catatan kecil bersama Devi Sirini )

berbicara tentang kerukunan kehidupan beragama di Malang Raya, kali ini saya ditemani oleh Pannavati dan Devi Sirini untuk mengelilingi Padepokan Dhammadipa Arama, 
di desa Mojorejo, Junrejo, Batu, Malang. 
sebagai salah satu tempat ibadah dan pusat wisata religius bagi umat Budha, Padepokan Dhammadipa Arama ini merupakan salah satu yang terbesar di Jawa Timur.

dimulai dengan sebuah bangunan bambu sederhana , Dhammasala, sebagai tempat tinggal bhikkhu dan juga ruang makan, ditengah lahan seluas 4400m2 ditahun 1971, 
hingga saat ini, 2013, sudah berubah menjadi sebuah kompleks peribadatan plus kampus yakni Sekolah Tinggi Agama Budha Kertarajasa Batu.

dikisahkan pada bulan Waisak 1970, seorang bhikkhu asal Thailand Selatan, 
Phra Kru Atthacariyahrukich ( Bhante Win ) saat mengunjungi Malang, mengimpikan sebuah tempat ibadah yang layak bagi penganut agama Budha di Malang. 

keinginan luhur ini disambut baik oleh umat Budha di Malang dan para donaturpun mulai mengulurkan tangan. tercatat donatur pertama saat itu menyumbang Rp. 202.240,- yang dipergunakan untk mencari tanah yang sesuai dengan tujuan luhur tersebut.



 akhirnya ditemukanlah lokasi di desa Ngandat, Mojorejo, kecamatan Junrejo, Batu, Malang, 
lahan seluas 4400m2 dengan harga Rp. 75,-/m milik bapak Dasuki.

seorang arsitek relawan wanita,
Ibu Ir. Shelly Gunawati Wardojo, MBA,MT,MM menangani keseluruhan desain di padepokan ini dan secara bertahap bangunan demi bangunan selesai hingga padepokan berusia 40 tahun lebih ( 1971 - 2013 ). 
sementara itu para donatur pun makin bertambah dari tahun ketahun, bukan saja lokal tapi juga internasional seperti Singapore, Myanmar, dll.

pengunjung padepokan dapat menyaksikan beberapa bangunan utama yaitu :
Gedung Uposathagara, untuk keperluan wisuda dll.
lalu ada gedung Dhammasala Lumbini dan Veluvana untuk keperluan meditasi, diskusi, dll.

selanjutnya adalah Museum Dhammadasa. 
bangunan lainnya adalah Anekadhippaya Sabha atau Balekambang, yang sesuai namanya bangunan ini terletak diatas air, untuk tempat meeting, diskusi dll. 

yang paling mencolok dan terlihat megah adalah Paturupaka Shwedagon Pagoda, 
yang terlihat dari kejauhan dengan atap atau menaranya yang keemasan. tapi saat itu sedang ada renovasi dan dimana mana terlihat pengecatan ulang, 
sehingga menara difoto foto halaman ini nampak tidak mulus.
pagoda ini memang mirip dengan desain pagoda di Thailand misalnya, 
terutama menara dan ukiran keemasannya.



 lalu juga ada Kuti yang kalau saya terjemahkan kira kira adalah semacam pemondokan baik bagi para bhikkhu maupun peserta pelatihan kerokhanian. 
bangunan ini keseluruhan dibuat dari kayu ulin/ kayu besi yang tahan cuaca dan dapat berusia hingga ratusan tahun ! ada yang bersistim " pintu dorong " sehingga bila diperlukan dapat dibuka lebar dan udara segar masuk leluasa. 

lalu disalah satu sudut taman ada patung Budha raksasa dalam posisi berbaring miring yang disebut " Reclining Budha " yakni salah satu sikap meditasi Budha sebelum parinibhana.

kebetulan saat itu tidak ada pengunjung sehingga saya cukup leluasa menikmati suasana padepokan yang senyap dan sejuk. bahkan saya sempat bertemu dengan 
Pimpinan Padepokan, Bhante Jayamedho, 
beliau sangat ramah dan membagi bermacam informasi tentang 
Padepokan dan Konvensi Umat Budha dan Muslim yang baru diikutinya di Kamboja.

kedua " santriwati " yang saya temui saat itu adalah para mahasiswa dari STAB yang sedang mengikuti perkuliahan tahun ke II dan masih harus tinggal di padepokan dua tahun lagi.
 disini para siswa melakukan banyak tugas tugas rutin selain kuliah yaitu 
untuk merawat padepokan ini. 

"  kami jam makannya dua kali, makan pagi dan jam 11 siang, selebihnya hingga pagi berikutnya adalah cukup minum saja " , kata Devi pada saya 
dalam menjelaskan pelatihan kerokhanian di padepokan ini. 

banyak hal hal menarik yang saya dapatkan dari keduanya dan saya bersyukur bahwa siang itu saya mendapatkan kesempatan yang luas untuk menengok bagian bagian yang detail 
dari semua bangunan yang ada plus mengenal lebih jauh tentang kehidupan 
" santriwan/ santriwati " selama pendidikan di padepokan.

oya bagi yang ingin mengunjunginya, alamat lengkapnya adalah :
jl. Mojorejo 44, Batu, Jawa Timur, tel. 0341 594 781,
email: dhammadipa.arama@yahoo.com

terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Pimpinan Padepokan , Bhante Jayamedho dan juga kepada kedua " santriwati " yang telah menerima kunjungan saya dengan begitu hangat dan ramah. 
semoga Allah SWT membalas kebaikan kebaikan itu, amin.

( keterangan foto, all taken by : th )

01.Patirupaka Shwedagon Pagoda, sedang dalam pembersihan/ pengecatan ulang.
02. Lonceng di depan pagoda
03. Atap dari Dhammasala Lumbini
04. " Reclining Buddha "
05. Pimpinan Padepokan, Bhante Jayamedho
06. Pannavati, " wanita yang berkebijaksanaan ", siswi STAB tahun ke II.
07. Devi Sirini, siswi STAB tahun ke II, tour-guide saya yang ramah.









Senin, 07 Oktober 2013




.. " Aku Lebih Benar " ..

sore tadi ada momen menyedihkan. sedih karena  kali ini saya nampaknya akan " gagal " menyatukan sebuah pasangan yang sudah berbelas tahun menikah. 
minggu minggu ini saya " riwa riwi " antara keduanya, berbicara bergantian dengan keduanya. bahkan saya pernah gembira saat bulan lalu mereka sekeluarga dan saya " berhasil " pergi bersama sama, ramai ramai kesebuah cafe dan 
kami mirip sebuah " keluarga bahagia ", saya harap demikian, luar dan dalamnya. 
anak anak mereka juga nampak gembira menikmati makan semeja dengan ayah ibunya yang sekian lama tak saling menyapa.

tapi ternyata semua harapan saya hampir seluruhnya kandas ketika sore tadi keduanya 
( secara terpisah ) saling curhat kepada saya namun tidak terbaca keinginan 
untuk bersatu kembali. 

dialog dibawah ini tidak langsung, tetapi masing masing mengutarakannya secara TERPISAH kepada saya :

@/ suami :  percuma mbak, sudah berulang kali kok, paling 1-2 hari aja akur, setelahnya sama.

# isteri  : waaa, itu cerita lama, bosan, selalu ditanggapi negatif, capek ..

@ : dia juga mempengaruhi anak anak supaya membenci saya sebagai ayahnya

# : aduh, semuanya diputar balikkan, sudahlah, kalau mau pisah ya saya siap kok..

@ : terserah dia kalau mau berpisah silahkan, sudah sulit memang untuk diperbaiki ..
 ( dst dst yang tidak mungkin saya kutip semuanya )

saya merasa sedih, terutama karena anak anak mereka masih remaja.
untuk duduk bersama, berdua ataupun bertiga dengan saya,  masing masing pihak sudah bersikeras dengan satu komentar :
" percuma, mending ngga usah ... "

bahkan upaya saya untuk menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan bisnis kecil kecilan agar terjadi komunikasi dan syukur syukur bisa mengembalikan keharmonisan keduanya,
 ternyata juga tidak mudah.

bisnis jalan tetapi tidak ada komunikasi . dan melalui sebuah buku catatan yang memuat data transaksi harian itulah keduanya berkomunikasi.  
lalu, dimanakah  kira kira " kemacetan " pernikahan ini? 

menurut pengamatan saya, umumnya kemampetan sebuah pernikahan terletak di aspek KOMUNIKASI.
konflik yang sering terjadi, membuat keduanya semakin malas berkomunikasi dan kalaupun terjadi komunikasi maka biasanya saling menonjolkan " AKU " nya  masing masing.
bila diperas hingga kepada sarinya, ternyata hanya sederhana yaitu:
 " Aku Adalah Lebih Benar dan Kamu Lebih Bersalah "

tidak ada lagi keinginan untuk saling mendengarkan apalagi introspeksi, pokoknya Aku Benar.
alasan apapun yang dikemukakan lawan bicaranya, baginya tidak penting karena 
semuanya harus bersumber pada AKU nya, diluar itu, EGP.

sebuah pernikahan telah mulai kehilangan makna dan fungsinya disaat kemauan untuk saling berubah, mengoreksi diri dan memulai lembaran baru yang lebih baik, 
semuanya itu telah hilang.

mediator tidak berfungsi lagi sebagai jembatan pemersatu melainkan berfungsi sebagai 
Tempat Untuk Saling Menyerang Patner. 

ketidakberpihakan saya kepada salah satu dari keduanya, juga sia sia karena masing masing mencoba " menggiring saya dipihaknya " . 
ber minggu minggu saya mencoba bertahan untuk keduanya karena " biasanya " saya bisa menemukan solusi pada tiap kasus yang ada.

maka saya coba untuk menelpon rekan yang lebih senior , memintakan pendapat/ sarannya, e .. malah jawabannya membuat sumpeg :
" solusi pernikahan itu tidak selalu identik dengan penyatuan kembali dua orang yang sudah tidak mampu lagi menemukan titik temu. 
maka jangan dipaksakan bila memang semua upaya sudah dicoba dan tidak berhasil. 
 solusinya? ya pisah , itu yang terbaik bagi semuanya terutama anak anak supaya konflik orang tuanya tidak mempengaruhi perkembangan kejiwaan mereka. 
tetapi bahwa sebelum berpisah keduanya sudah mencoba untuk bersatu lagi namun gagal, 
itu patut diberi penghargaan. dan yaaaa itu saja solusinya: berpisah ... "

aduhhh, saya makin pusing.sarannya ternyata tidak seperti yang saya harapkan. 
lalu bagaimana sebaiknya? saya tidak akan pernah menyarankan siapapun untuk berpisah melainkan untuk mencoba kembali bersatu dengan dilandasi keinginan 
menuju kearah yang lebih baik !

lha sekarang apa yang harus saya sarankan pada keduanya bila ternyata mereka menjumpai 
" jalan buntu" ? 
alangkah mudahnya saya mengatakan :
" jadilah pendengar yang baik terlebih dahulu bila engkau ingin orang lain mendengarkanmu " yang ternyata itu tidak mudah karena 
manusia dengan Ego nya lebih mengedepankan " DI " daripada " ME ". 
Di dengarkan, Di hargai, Di hormati, Di layani, Di  ... Di .... Di ....

wahai, sedemikian sulitkan kita mendahului ME dari pada DI ? 
MEndengarkan, MElayani,MEnghormati, MEnghargai dst dst dan setelahnya baru " menuntut " untuk DI ... DI .... DI ....? 

mungkinkah kita akan dihargai orang lain ketika kita juga tidak memberikan penghargaan terlebih dahulu kepada orang lain? ME dan DI inilah yang seringkali menjadi 
ganjalan sebuah komunikasi yang sehat diantara pasangan suami isteri yang karena tergerus waktu keduanya seolah sudah " malas dan bosan bicara " . 

merawat sebuah hubungan hingga akhir hayat adalah impian setiap kita. namun terkadang ada hal hal yang membuat sebuah pernikahan  menjadi tidak berfungsi lagi alias mandeg. 

kejutan kejutan kecil, pujian pujian kecil, perhatian perhatian kecil dll yang nampaknya " kecil kecil " namun mampu memberi pupuk pada sebuah hubungan yang " tidak baru lagi " agar aura kasih sayang masih selalu terpelihara dan tidak berkarat termakan masa.

sungguh tidak sulit namun lebih banyak yang tidak memperhatikannya sampai pada satu saat hubungan itu  " mati rasa " dan bahkan " lumpuh total " karena 
rutinitas telah membunuh rasa itu ..... 
pernahkah kita mengalaminya atau semoga tidak ( ? ) .
( th )
( gambar diambil dari google )





 

Minggu, 06 Oktober 2013





 .. " mengapa suka jeprat jepret? " ..

sering, saya kesulitan menjawab pertanyaan " suka jeprat jepret ya?" .. paling paling cuma saya jawab dengan tertawa, meskipun dalam hati saya punya kalimat kalimat panjang untuk itu ...
jaman bergeser, berubah, saat ini anak anak kecilpun sudah jeprat jepret dengan 
HP nya dan " anak anak besar " sudah 
begitu sophisticated dengan kamera kamera canggihnya ..

klub klub fotografi dan sekolah sekolahnya sudah menjamur. saat hunting-hour mereka bertebaran dimana mana, kadang kalau di Malang mereka terlihat di Ijen Boulevard, mall mall,
memoret model diarea tertentu dsb.dan rata rata anggotanya masih remaja.

majalah fotografi lokal pun sudah banyak. salah satu keponakan saya sendiri malah mengagetkan ortunya dengan keputusannya untuk kuliah di jurusan fotografi yang mungkin 
" diluar ekspektasi " ...tetapi ketika dibuktikannya dengan kemandiriannya sebagai 
wedding-photographer, maka semuanya pun menjadi ok ...

 pameran pameran dan galeri serta seminar, workshop dll dibidang yang sama saat ini juga sudah menjamur. begitu jauh bedanya dengan sekian dekade silam dimana di Malang misalnya, hanya ada 3-4 studio foto dan jumlah fotografernya bisa dihitung jari.




era digital telah membawa dunia fotografi ke planet yang " tak terbatas " dalam ide, kreatifitas dan
kemungkinan kemungkinan eksplorasi. sebuah jepretan sederhana, dapat
di edit dan direkayasa
sedemikian rupa sesuai kebutuhan dimana campur tangan teknologi ini adalah salah satu yang dimasa lampau tidak dimiliki dunia fotografi. 
sebuah langkah besar telah dimulai.

maka mengapa saya tertarik? jawaban terpendek adalah :
" foto itu penangkap yang tak tertangkap dengan mata biasa " .
 jawaban panjangnya? banyak.
" memindahkan " obyek sederhana yang kasat mata kedalam sebuah foto dan menjadikan obyek tersebut lebih bermakna dan berbicara banyak, itu juga salah satu alasan lainnya.

contoh :
foto seorang nelayan yang sedang memotong motong ikan tuna di pantai Malang Selatan ( 2012 )
dan darah ikan mengucur kemana mana yang sebagian tersapu lagi oleh ombak.

sekilas ini adalah " adegan " rutin yang tak istimewa. 
namun ketika dipindahkan ke sebuah foto dengan sudut dan momen yang tepat, terlihat dramatis dan bercerita banyak. sepotong ikan goreng yang terhidang dipiring kita, seringkali tidak menimbulkan sentuhan apa apa, ituhal biasa.

namun pernahkah meski sekali saja, kita berpikir betapa ikan itu diperoleh jauh ditengah samodra dengan perjuangan berat para nelayan yang menangkapnya? cukup jauh perjalanan sepotong ikan goreng itu hingga sampai diperut kita. 
dan sebuah foto dapat merangkum kisah tadi menjadi sebuah " pesan dan renungan " . 

bila kita melihat pameran pameran foto internasional, bahkan seringkali kita diajak 
" melompat ke planet lain " melalui suguhan foto foto  yang " gorgeus " ! 
misal suasana perang di wilayah tertentu, menggambarkan tragedi kemanusiaan yang menyentuh. disitu misalnya ada foto yang menunjukkan adegan seorang ibu yang kehilangan dua putranya sekaligus dalam sebuah serangan brutal kedesanya. 

namun ibu ini tidak menangis, melainkan membacakan ayat ayat suci diantara kedua jenasah itu dengan wajah yang ikhlas. ekspresi wajahnya menyimbolkan kekuatan dan keikhlasan luar biasa seorang ibu menghadapi ujianNYA ..

demikian salah satu kekuatan lensa yang dahsyat, yang mampu menerobos pandangan mata biasa hingga jauh kedalam mata yang lain, mata hati. 
maka sebuah foto memang bukan hanya sekedar " jeprat jepret " tetapi ia adalah 
" penyampai pesan " . dan ketika pesan itu mampu tertangkap yang menikmatinya, 
berarti foto itu " berhasil " . 

namun ada juga jeprat jepret yang tidak mengutamakan pesan, karena dibuat hanya sekedar untuk " hepi hepi " meskipun menurut saya inipun tetap menyampaikan pesan, 
namun tidak dalam dan tidak memerlukan renungan. 
bak melihat orang orang lewat dijalanan, kita melihat tapi tidak mengesankan apa apa ..

saya baru pemula yang masih merangkak mencari warna, pun otodidak meski sudah ratus bahkan ribuan foto terjepret sebisa bisanya hehe ..
dua kali coba coba ikut kompetisi yang inipun ternyata keduanya hanya berhasil masuk sebagai salah satu nominasi saja hehe .. 
mungkin saya akhirnya harus mencari " guru " dalam artian sebenarnya, agar lebih membukakan wawasan. tak ada kata terlambat dalam belajar, 
saya percaya bahwa dunia fotografi itu borderless disemua lini termasuk 
usia, pendidikan, latar belakang, budaya dst dst ... 

mungkin dapat dimulai dari hal yang paling sederhana yang ada disekeliling kita yang dapat menjadi luar biasa ditangan anda, para pecinta fotografi , misal :  
pemungut sampah diluar rumah, sandal jepit tua yang putus talinya, kepompong ulat diranting pohon dalam halaman rumah dst dst ...

naaa ... selamat " menangkap " pesan pesan alam !
salam,
th 

( keterangan foto, all taken by : th )
01. hutan dan rawa dekat Bajul Mati Beach, 2013/ th.
 02.buah labu, 2013/th.
03. " penangkap pesan ", 2013/th.





Sabtu, 05 Oktober 2013




.. akhirnya, paket itu tiba ..
( catatan buat Putri yang ayu )

liebe Putri,
pagi tadi ada " tinnn ... tinnnn ... paketttt ", diluar pagar. sempat terpikir Yogya, karena ada teman yang dalam waktu dekat akan mengirim sesuatu dari Pasar Beringharjo." darimana mas?", penasaran. " Jakarta ... " ... ooo siapa? ... ternyata Putri pengirimnya.

saya merasa " plong ", karena tanpa membukanya, saya tahu isinya, bakal kebaya atau kain untuk kebaya .. 100% benar tebakan saya, warnanya khas kesukaanmu, 
abu abu kekuningan atau kuning ke abuabu an, antara itu ..
terima kasih bocah ayuuuu ...

sebagai bungsu dari tiga bersaudara yang semuanya wanita, engkau dalam urutan terakhir untuk melangkah ke pelaminan.pasti mas Kiky mu bahagia dan beruntung mendapatkan 
calon istri sepertimu ! keponakan yang satu ini, Putri ini, 
sangat luar biasa. mandiri, pinter dan tegasnya ampun ampun ( meskipun kita, saya dan kamu, sering diledek dikeluarga besar sebagai 
" foto copy an " dalam soal " ngamuk ngamuk " kalau sedang merasa diperlakukan tak adil haha ... ingat Putri? ) .

Putri,
lihatlah betapa waktu deras berlalu. kalian yang rasanya baru kemarin pada pipis di pampers dan berlarian didalam rumah, berebut mainan dll tahu tahu sudah 
meninggalkan rumah satu persatu untuk meniti kehidupan masing masing.

ah ya, demikianlah kehidupan, dan kami kami, para orangtua ini, hanya tinggal menyaksikan sayap sayap perkasa kalian mengepak jauh keangkasa, karena sayap sayap yang
 kami miliki tidak lagi mampu membelah awan setinggi seperti dulu,
 perjalanan masa seorang anak manusia, dan kalian adalah elang elang muda yang akan membelah cakrawala !

Putri yang ayu,
saya ingat, jalan jalan kita berdua yang terakhir itu di Grand Indonesia, yang kita akhiri dengan nonton bersama disitu ( aduh, lupa nama film nya ), lalu curhat curhat itu, rasanya saat saat seperti itu akan sudah sulit terulang. 

lihat Putri:
hari bahagia kalian sudah diambang. tataplah kedepan dengan rasa optimis dan semangat tinggi. bila pun kelak ada kerikil kerikil yang membuatmu tersandung, percayalah 
 bahwa
itu akan membuat kakimu lebih bertahan dan kuat pada sandungan yang lebih besar.
pun ketika sandungan itu membuat goresan menganga, 
jangan berkecil hati, segera balut dan biarkan hingga mengering, teruslah berjalan.

engkau dan Kiky adalah " menyatunya sebuah takdir " atas kalian berdua, 
Aceh dan Jawa, 
betapa indah perpaduan budayanya ! perbedaan2 itu akan memperkaya keseharian kalian kelak, dan nikmati sebagai anugerahNYA yang terindah ! 
ingat pada cerita ceritaku tentang bentangan benua antara dua budaya yang berbeda, 
yang aku tatap sekian  belas tahun sebagai 
 suratan takdir indah yang mengisi sebagian chapter buku kehidupan yang aku miliki.

mungkin pada chapter lain, kisah itu harus berlanjut dalam siluet yang berbeda  bahkan yang tidak pernah terpikirkan dan terencanakan. 
namun, buku harus diselesaikan hingga chapter penghabisan yang entah itu kapan, 
hanya DIA yang Maha Tahu.

maka Putri,
persiapkanlah baik baik Hari H itu dengan sepenuh bahagia, mungkin akan sangat cantik pada hari itu terdengar Gamelan dan Gending Gending Jawa dipadu dengan
Tarian Saman, Rampak dan Rapai.

Insya Allah, saya akan berdiri di gerbang bersama yang lain sebagai " tim tuan rumah " dan kamu sudah sangat hafal " penyakitku " yang walau dalam balutan kebaya masih 
saja aku menenteng kamera dan bersliweran hehe  
( ingat saat mbak Ratih dan mbak Dewi mu yl? hehe dan saat ramai ramai kita ke Kebun Raya Bogor setelah resepsi itu? ah .. kalau saja waktu bisa di " rewind " .... )

saat temu, lempar daun sirih, membasuh kaki suami, sungkeman dll nanti, pastikan kamu
melakukan  tradisi adat ini dengan sepenuh jiwa dan hati bahwa sejak itulah Kiky adalah tempatmu berlabuh hingga akhir hayat ...!

oya, semoga ukuran kebayaku tidak berubah dari saat mbak Dewi yl ya hehe .. kalau masih cukup waktuku, aku lebih suka berpejalanan dengan kereta, 
bila tidak, aku akan " terpaksa "jalan jalan dulu di Cengkareng hehe ...
( oya btw, ayahmu minggu depan ini ultah ya, wow .. masku yang satu ini enaknya di kado apa ya Putri, ada saran ? ) ..

Peluk cium,
tante.

keterangan foto :
01.Putri in Black.
02. Paket.