Jumat, 21 Juni 2013



Yang Jadul, Yang Dicari

Berpetualang rasa dengan mencoba menu menu ' modern ',  
tidak selamanya menggembirakan, 
sebab kalau pas meleset dari selera, bisa justru mengecewakan 
dan bukannya menjadi kenyang tapi mules, 
mules di hati alias sebel hehe .. 
Maka , cara aman sebenarnya adalah ' back to nature ' alias kembali ke asal yaitu mencari warung warung jadul 
yang sudah bisa dipastikan 99,99% tidak akan  mengecewakan. Naa .. di Malang cukup banyak yang masih bertahan 
dan tidak tergerus arus kuliner modern. 

Salah satunya adalah Soto Ayam Lamongan " Lonceng " , 
di Jalan Oro Oro Dowo atau nama yang sekarang adalah 
Jalan Brigjen Slamet Riadi. 
Duluuuu, semasa saya masih kecillll, memang ada juga 
Soto Lonceng tetapi daging sapi bukan ayam. 
Dan nama Lonceng itu muncul karena lokasi warungnya yang bersebelahan dengan menara lonceng yang ada disitu, 
kalau tak salah itu didaerah Mergosono.

Tapi apalah arti sebuah nama kata Shakespeare, 
yang penting itu rasa sotonya yang tidak berubah 
dan memang yummyyy ... 
Naaa, bagi yang menyukai hal hal " klasik ", 
ini salah satunya yang layak dicoba ..! ( th )



Keterangan foto ( all taken by : th ) :
01. Soto Ayam Lamongan Lonceng.
02. Papan nama dan no HP untuk pesanan.

Kamis, 20 Juni 2013



Suka Gosong Gosong? Clay Pot tempatnya!

Antara aneh dan " ndheso " bahwa saya yang mengaku beberapa tahun bekerja di betawi, nyatanya belum pernah satu kalipun ke Nasi Clay Pot Menteng yang konon sudah ada sejak 1960. 

Maka ketika di jalan Kawi Atas sejak beberapa waktu yl muncul spanduk besar bertuliskan 
" Nasi CLay Pot Menteng " saya penasaran dan disebuah siang yang saya laparkan perut sebelum kesana, saya sudah duduk memesan Nasi Clay Pot. Clay Pot terjemahan bebasnya bisa keramik, atau sesuatu bahan dari tanah yang bila dibakar pada temperatur tertentu akan mengeras, jadi terserah saja pada pembaca hehe ..Pesanan :Udang dan Ayam. 

Sekitar 10 menit pramusaji membawa nampan dan menghidangkan alas kayu dan mangkuk keramik yang bawahnya gosong gosong.Saya minta waktu sebentar pada pramusaji untuk mengobrol soal menunya. " Iya betul, jadi semuanya sudah mateng, lalu dimasukkan mangkuk ini dan dibakar diatas kompor langsung, makanya mangkuk dan alasnya gosong .. " .... begitu jelasnya.Dalam bahasa awam saya , ini semacam menu matang yang di " nget " atau dihangatkan lagi diatas api secara langsung berikut mangkuknya.

Saya  yang paling suka hal hal baru dan surprising, menghadapi NCP ini memang mengharapkan sebuah surprise lidah dan mata, tetapi saya agaknya harus bicara jujur karena kalau tidak maka blog ini lebih baik saya hapus. 

Naaa .. tapi : harus saya garis bawahi sebelumnya bahwa mengomentari sesuatu menu makanan itu sepenuhnya masalah SELERA. Lha kalau sudah menyangkut selera, maka jauh jauh hari kita harus siap untuk berbeda selera dan menerima perbedaan pendapat dari siapapun. Kalau tidak bersedia menerima perbedaan selera dan perbedaan pendapat dengan orang lain, sebaiknya kita duduk manis dirumah saja agar terhindar dari perbedaan perbedaan diluar rumah hehe ... 

Maka inilah  pendapat saya sejujurnya tentang Nasi Clay Pot : saya ternyata gagal menikmatinya ! Aduhh, padahal sudah saya upayakan agar saya bisa membiasakan lidah saya terutama dibagian kerak keraknya, tapi gagal, maka saya pulang dengan rasa " galau " ... Saya yang kurang bisa menyesuaikan atau bagaimana ya? ( padahal disebuah desa nelayan terpencil diselatan Yunani saya pernah disuguh makanan khas mereka yang sangat aneh dimata dan lidah saya, tetapi ternyata saya masih sangat bisa menikmati bahkan menyukainya ! )

Saya pasti " diserang " oleh para penggemar NCP ini dengan kata kata " ndheso " mungkin, sungguh saya akan terima. Diantara sekian puluh bahkan mungkin  ratus jenis makanan  yang pernah singgah dilidah saya, baru kali ini saya  " menyerah " dan lidah saya tidak mampu menyelesaikan hingga mangkuknya kosong. Jadi pramusaji mungkin heran mengambil kembali mangkuk yang masih 80% penuh. Tidak ada yang salah dengan NCP, dan sekali lagi Selamat Datang di Malang untuk NCP, semoga para pecinta NCP dapat memaafkan ke " ndhesoan " ini ! ( th )



 Keterangan foto ( all taken by : th  ) :

01. Alas kayu dari mangkuk yang juga ikut gosong2
02. Atmosfer di kedai NCP Jalan Kawi Atas, saya jepret pada jam 13.00
03. Bagian bawah mangkuk keramik yang terbakar
04. Salah satu menu : udang
05. NCP Ayam
06. Spanduk Luar
07. Papan penunjuk kearah kedai NCP 









Merawat? Itu susah ....!

Siapapun akan senang mendapat atau membeli sesuatu yang gres, anyar, baru, meski mungkin itu second. Lho, baru kok second? Ya semisal beli motor kan tidak harus kinyis kinyis dari dealer, tapi mendapat motor secondpun senang karena itu tetap merupakan sesuatu yang baru bagi seseorang terutama bagi yang belum pernah punya motor ( apalagi kalau dapat yang gressss ...) .

Tetapi seberapa lama dan tahan seseorang memelihara dan merawatnya agar meskipun second , motor itu tampak selalu fresh, terawat dan kinclong? Di awal awal memang masih ruajinnn di lap, dicuci, di periksa oli dan lain lainnya, kalau perlu saat tidurpun diselimuti hehe ..

Dengan berjalannya waktu, mulai muncul penyakit turunan : males.Boro boro diselimuti, ditengok saja tidak pernah dan yang namanya lumpur sudah mengering di body motor dan parahnya lagi beberapa onderdil penting malah sudah dipreteli, contoh : spion dll. 

Kadang ingat kadang lupa mencucinya bahkan untuk isi bensin sekalipun, ingatnya cuma pada saat mogok bahwa motornya butuh minum ! Dan terakhir, nasib sang motor mudah diramalkan, mrotoli, jadi besi tua ...

Demikian pada umumnya yang terjadi bahwa mendapatkan itu jauh lebih mudah dibanding mempertahankan atau memelihara atau merawat nya , termasuk " merawat " hubungan antar manusia, lebih spesifik lagi pasangan anak manusia.

Waktu pdkt, waaa ... ruapihhh dan selalu harum plus kinclong. Begitu sudah menikah, walahhh ... kadang kalau ingat ya mandi, kadang " ote ote " dan dasteran atau sarungan yang ber hari hari tidak pernah diganti, konon " nyantai ajalahhh ... " ... 

Maka  ketika suami/ isteri mulai sebel melihat pemandangan rutin yang awut awutan ini dan mulai melirik yang kinclong, muncul Perang Dunia hehe ... 

Demikian kira kira singkat cerita betapa merawat itu bukan hal mudah. Ia memerlukan kesabaran, ketekunan, ketelatenan, kesungguhan, sehingga dengan berjalannya waktu semuanya tetap kinclong, baik lahir maupun bathin. 

Kinclong bathin? Yaa, itu perlu sebab bila ada hal hal yang menyebalkan dan membuat tanaman yang ada dibathin mulai layu, waa... " ayahab " kata orang Malang ! 

Naa ... sudah siapkah kita menjadi perawat yang baik untuk segala sesuatu yang kita sudah peroleh apalagi kalau memperolehnya dengan susah payah? 

Atau kita memang termasuk tipe yang hanya suka mendapatkan tapi tidak suka merawat ? Kalau masuk tipe yang terakhir  ini, siap siap sajalah untuk " mrotoli " ( baik motor/mobil/pasangannya .. ) hehe .. ( th )

Keterangan foto ( taken by : th )

Motor Honda antik yang masih terawat bagus, saya jepret didepan kampus tehnik UB, Malang, Juni 2013 , terima kasih kepada pemiliknya yang mengijinkan untuk menjepret nya )





Meluruskan Yang Belum Lurus/ MYBL

Kebetulan dan mumpung ngumpul ngumpul  dengan kerabat terutama yang jauh jauh datang dari luar Malang, obrolan " ngalor ngidul " akhirnya  secara tidak sengaja  menyentuh masalah MYBL diatas. 

Apanya yang belum lurus ? Hal yang nampaknya sepintas sederhana, ternyata setelah ditelaah lebih dalam, menimbulkan kerancuan tidak keruan, yaitu masalah SEBUTAN.

Banyak kesalah kaprahan dalam sebutan antar anggota keluarga besar. Misal, siapa yang harusnya dipanggilnya pak de, om, bulik, eyang, adik, mas, mbak, paklik dll yang ternyata dalam sekian dekade terakhir ini banyak terjungkir balik tidak keruan.



Mengapa bisa terjadi? Simpel, bahwa dua generasi terakhir, ternyata lebih suka mengambil ' jalan pintas ' supaya mudah dan tidak ruwet ruwet berpikir yaitu " yang usianya lebih tua disebut saja dengan bude/pakde atau mas/mbak " dan sebaliknya. 



Padahal ketika diurutkan, terjadi kesalahan fatal sebab yang selama ini dipanggilnya " pak atau pakde " ternyata sebenarnya berlevel setingkat dan yang benar adalah " mas " saja. 



Tetapi karena usia keduanya terpaut jauh yaitu 30 dan 75 tahun, maka yang 30 tahun merasa sungkan untuk merubahnya menjadi 
" mas " kepada yang 75 tahun. 

Contoh lain yang lebih lucu, keponakan saya yang masih berusia 8 tahun itu sebenarnya sudah menjadi " eyang putri " dari kerabat yang dalam silsilah levelnya adalah sebagai " cucu " meski usianya sudah 25 tahun . Ini terjadi karena perbedaan usia yang jauh dari embah embahnya yang satu rumpun atau sedarah. 

Nah karena perbedaan usia seperti inilah maka sebutan " eyang " kepada yang usia 8 tahun tadi diganti yang " lebih pas " yaitu " adik " ... lho, apa ngga pusing?

Jadi apabila Pohon Silsilah itu dengan serius dipelajari, maka kerancuan yang terjadi sebenarnya cukup parah hehe .. Apalagi generasi yang sekarang, kecenderungannya tidak mau ruwet ruwet berpikir, pokoknya " yang usianya lebih tua ya disebutnya disesuaikan, yaitu mas/mbak/bude/pakde/eyang saja " meskipun bila ditelusuri lebih detil itu sama sekali salah.

Naaa .. obrolan ini terjadi siang tadi, Kamis 20 Juni 2013 dikediaman kerabat di Batu yang inipun saya pribadi selama ini telah salah menyebut keduanya dengan " mas dan mbak " yang semestinya adalah " dik "  hehe .. 

Jujur saja, saya termasuk yang juga tidak suka ber ruwet ruwet dan hampir pada semua kerabat yang usianya dibawah saya ataupun sedikit diatas saya, saya menyebutnya secara sama rata " mas dan mbak " padahal kalau diluruskan mestinya ada yang " om/ tante/ bude/pakde bahkan eyang " ... 

Kami dalam diskusi yang tidak sengaja siang tadi akhirnya hanya mengakhirinya dengan hahahihi karena sebagai orangtua dari anak anak kami, nyatanya kami juga belum berupaya serius  MYBL ini. 

Mungkin pembaca blog tidak seperti saya, saya wajib memberi selamat , ber arti sayalah yang  harus segera MYBL ! Sampai ketemu lagi pakde/bude/om/tante/paklik/bulik/eyang/adik/mas/mbak ... wow ... ( th )

Keterangan foto ( all taken by : th ) :
kerabat Malang dan luar Malang ( seperti biasanya, saya out of the photos hehe ... )





Tujuh Sekuel Reuni Tanpa Akhir

Menuliskan jalannya reuni yang dimulai tanggal 06 Juni 2013 hingga tanggal 09, adalah butuh waktu. Pertama, meng edit ratusan fotonya. Kedua, meng urut peristiwanya sebab ternyata harus dibagi atas 7/ tujuh sekuel, jadi mirip sinetron kejar tayang karena kalau dijadikan satu akan ruwet. 

Tidak perlu heran mengapa ada reuni hingga berhari hari, sebab dihadiri oleh rekan rekan dari luar kota/propinsi/pulau meski sayang yang di USA ternyata absen dan hanya berteleponan sekedar " tombo kangen " ( Frieda, semoga reuni yad bisa pulang ketanah air ya... ! )

Boleh percaya atau sebaiknya percaya saja bahwa mulai TK hingga PT, hanya teman teman SMA lah yang bisa dibilang paling sering reunian dan paling akrab. Sebab masa masa SMA tampaknya masa yang paling " indah " dan merupakan transisi dari remaja ke arah dewasa meskipun sampai sekarang banyak yang merasa " belum dewasa " hehe , apalagi kalau sudah berkumpul rasanya kembali menjadi anak anak ... lho?

Baik, dari tujuh bagian ini, kita mulai dengan:
                                                                                     
Bagian I :
06 Juni 2013, Hari Kamis Malam .
" Sugeng Rawuh ... "

Dari Juanda, rombongan I datang dari Jakarta dan langsung disambut nawak nawak Ngalam di hall dari sebuah hotel dikawasan kota. Berpelukan mirip teletubies 
adalah sebuah pertanda betapa 
persahabatan tidak berubah oleh uban hehe ..


" Selamat Datang ndik Ngalam yoo, wes ayo iki lho diicipi kopi ambek jajane ... ayo nyanyio lo sing tekok Jakarta iki, sing Malang wes kangen suarane arek arek Jakarta!". 

Pemain keyboard yang juga teman sendiri, sudah siap dengan koleksi lagu2 jadul sampai yang modern, tapi yaaa begitulah, meskipun buku2 teks lagu setumpuk ternyata yang dinyanyikan ya itu itu saja hehe .. 

Ada Yudhi yang jago nyanyi, juga Wawan mantan " anak band " disekolah dulu, dan dari Surabaya ada Totok yang mirip Bob Tutup botol e .. Tutupoli .. termasuk suaranya juga. 

Tukar pengalaman dan cerita mumpung masih ketemu sedikit temen, sebab besok kalau sudah ngumpul semua pasti sulit mau cerita2 yang panjang .. 

Puas nyanyi2, cerita2 dan ngopi, kita sepakat berakhir jam 22 sebab besok pagi pagi rencananya rombongan akan kearah Batu dan jam malam para manula ini agaknya sudah memberi alarm .. hehe ... 

Bagian II : 
Hari Kamis Malam, 06 Juni 2013
" Selamat Jalan Edward Yudhistira "

Belum sampai kami berpisah malam itu, sebuah sms masuk dengan berita bak halilintar : " Inna Lillahi ... " . Salah seorang teman, rekan, kerabat, saudara tercinta kami Edward Yudhistira, telah dipanggil menghadapNYA secara mendadak dan mengejutkan. 

Kami seperti tidak mempercayai nya dan dengan penuh kedukaan, di putuskan malam itu juga, sudah lebih dari jam 23, melayatnya kekediaman almarhum .Salah seorang dari kami bahkan mengatakan " Tiga hari yl saya dan Edu masih ngobrol ngobrol didaerah stadion pada pagi hari dimana kami tidak sengaja bertemu, Edu masih sangat sehat dan tidak ada firasat apapun " .. 

Malam itu dikediaman almarhum, kami semua diberi kesempatan untuk melihat wajah Edu yang terakhir kali. Edu terbaring seperti tidur dengan wajahnya yang khas yang kami kenal selama ini. 

Saya juga pernah sekelas bersama Edu . Dalam kenangan teman teman, Edu termasuk " yang diidolakan " karena sepertinya Edu memiliki darah campuran sehingga wajahnya sedikit ada sentuhan bule.

Tetapi lebih dari itu, kenakalan kenakalan remajanya disekolah masih sangat terjaga etikanya, sehingga bagi para cewek masa itu, Edu tergolong yang " cool " . 

Pertemuan terakhir Edu dengan sebagian besar teman temannya yang seangkatan adalah pada reuni di Batu 11, 12 Mei yang lalu.Sungguh tidak ada yang menduga Edu meninggalkan kami semua secepat dan semendadak ini.

" Selamat Jalan Kawan, Semoga Perjalanan Abadimu Mendapatkan Kelapangan dan Diampuni Semua Kesalahanmu, Serta Segala Amal Ibadahmu Mendapatkan Balasan Yang Berlipat Ganda Dari ALLAH SWT, Amienx3 " ...





Bagian ke III :
Hari Jum'at, 07 Juni 2013 pagi
Batu, Selecta
                                                   
Sesuai rencana, pagi ini rombongan kecil akan menuju Batu atas permintaan teman teman Jakarta yang sudah lama tidak mudik. Pilihan tujuan cukup banyak mengingat perkembangan Batu dalam beberapa tahun terakhir yang pesat dalam berbagai sektor wisatanya terutama. Ada agro-wisata, wisata - kuliner, dll. 

Tetapi sesampai di Batu rupanya cuaca tidak mendukung karena mendung makin menebal dan mendadak hujan lebat. Keputusan diambil cepat. Selecta. Bukan tanpa alasan sebab bagaimanapun sebelum ada yang lain lain misal Jatim Park, BNS dll itu kami semua seolah terikat secara emosi dengan Selecta yang merupakan tujuan wisata utama masa kecil dari generasi kami. Juga Selecta tidak membuat banyak perubahan kecuali sedikit tambahan disana sini yang disesuaikan jaman, tapi 70% masih seperti dulu.  

Kebetulan sponsor acara reuni ini, seorang teman yang ada dalam rombongan Jakarta, adalah juga salah satu pemilik saham Selecta sehingga semuanya akkhirnya " serba gratis" ... !  

Naa ... hujan lebat di Selecta membuat kami semua " terperangkap " disana dan cukup puas ngobrol ngobrol sambil makan siang, foto foto dll. 

Bahkan saya yang tidak boleh melihat air ini akhirnya " jebol pertahanan " alias berkubang di kolam renang Selecta yang duinginnnnn itu sejam lebih. Dan dengan terpaksa "mentas " karena inipun karena di " oprak oprak "  ditunggu makan siang .. Yang lain berkomentar " Gak duwe udel arek iki, uademe koyok ngene kok tambah kum kum ... opo gak rematik " ... hehe ... ( maaf tidak saya terjemahkan ). 



Aduh, maap maap, saya ini kalau melihat air seperti ikan yang diangkat dari air, jadi tidak betah  untuk tidak nyemplungg ... ) . 

Akhirnya masih dalam hujan lebat kami semua meninggalkan Selecta dan mengambil jalur arah Museum dan BNS menuju Malang ..Janji bertemu adalah malam nanti, untuk makan malam bersama.


  
                                                                      Bagian ke IV :
Hari Jum'at, 07 Juni 2013 malam
Teysa's Cafe, Jalan Merbabu, Malang


Saya yang kebetulan tidak ikut mengurusi acara makan malam, langsung saja meluncur ke Cianjur di dekat Jalan Panggung yang konon bakar bakar an ikan itu. 

Ternyata saya datang paling belakang dan mendapatkan bad-news, semua makanan habis, saat itu jam menunjuk pukul 19.40. Ke 20 orang ini heran lho kok bisa? Usut mengusut ternyata teman yang " didapuk " mengurusinya itu tidak melakukan reservasi, jadi ya bukan salah bunda mengandung kalau kehabisan hehe ..

Maka saya minta ijin meluncur ketetangga sebelah di jalan Merbabu, yang lain2 tetap nunggu dihalaman parkiran. Setengah " memaksa " saya minta di Teysa disediakan 20 kursi di teras luar yang malam itu kebetulan ada live music. 

Dan atas kebaikan hati dua pasang remaja yang bersedia mengalah demi para manula ini, akhirnya 20 kursi rotan diteras luar berdekatan dengan stage nya musik bisa di dominasi rombongan kecil kami. 

( Kepada kedua pasang remaja tadi, melalui ini saya sampaikan terima kasih yang tulus, semoga Tuhan membalas kebaikan anda. Padahal tidak ada lo yang meminta anda untuk pindah tempat, tapi mungkin anda2 ingat pada ortunya yang kalau reunian pastinya akan lebih seneng bisa ngumpul disatu area, sekali lagi terima kasih yaa... ) 

SMS langsung saya kirim ke parkiran Cianjur " wes ayoo, iki ono musik e pisan, pojok jalan Ungaran .. " ... Saya pikir ngga sampe dua menit pasti rombongan nyampe, ternyata .. lho kok luama? Oala .. ternyata si penunjuk jalan yang domisilinya di Malang malah salah ingatan, jadinya muter muter aduhhh, dasar manula2 hehe ...

Tapi semuanya akhirnya hepi apalagi temen2 Jakarta gatel untuk nyanyi, naa .. Yudhi, Totok naik stage dan " penyanyi2 cafe dadakan " ini sekaligus menghibur tamu2 lainnya yang tidak kita kenal hehe .. 

Barangkali ini hikmahnya kehabisan ikan bakar tadi, Tuhan Maha Pemurah masih memberikan kesempatan kami semua buat hepi2 dan tidak sekedar makan2 saja .. Berpisah dan foto2 dihalaman Teysa diakhir acara, dan janji besok pagi jangan sampai molor ketemuannya di PADI ... sugeng dalu, sugeng sare ... !!! 


Bagian Ke V :
Hari Sabtu, 08 Juni 2013, PADI Resto, Malang
" O .. Padiiii , ...Byar Pet Byar Pet mu mengusik gembiraku "


Percaya Tidak Percaya, ini adalah kali pertama kami mengadakan reuni dalam sikon Byar Pet yang terjadi ber ulang ulang sehingga begitu banyak waktu terbuang untuk menunggu genset di perbaiki karena pemadaman mendadak PLN. 

Sebenarnya untuk sekelas Padi, hal seperti ini memprihatinkan, yang ternyata menurut penuturan seorang teman dulu juga pernah Byar Pet saat diundang dalam sebuah acara ditempat yang sama. Naa ..? 

Logikanya, genset adalah sebuah penyelamat disaat kita dirundung kegelapan PLN yang seenaknya byar pet. Tapi ternyata genset nya juga sama, byar pet. 

Bisa dibayangkan, mau nyanyi2 tidak bisa, musik mandeg, mau rapat pada mengeluh " gak krunguuuuu ... " maklum ini reuni para manula hehe .. akhirnya beberapa kali pat pet kami hanya tengak tenguk alias ngobrol sendiri2 dan petugas gensetnya PADI terlihat " panik " karena ditegur banyak orang ... Siang itu memang hujan lebat dan petir, tapi cuaca ini tidak baru sekali datang, dan harusnya sudah diantisipasi Padi ! 

Aduhh ... catatan reuni kali ini kok dibuka dengan kejengkelan ya, ya sudahlah, pengalaman itu guru terbaik dan bagi kedua belah pihak ini ada hikmahnya ! Bagaimana Padi ? ..

Ya, reuni angkatan kami kali ini bertemakan " Konsolidasi Angkatan dan Bermaafan Menjelang Ramadhan " . Tidak formil formilan tapi tema memang tetap penting supaya tidak ngalor ngidul hehe ..

Jam 11 acara dibuka, standar saja, sambutan2, dan doa bersama terutama untuk rekan kami yang mendahului, Edward Yudhistira. Suasana haru sebab semestinya Edu ada diantara kami siang ini. 

Selanjutnya masuk di acara santai, juga standar saja, sebab tujuan utamanya hepi hepi bukan tegang tegang meskipun ada acara 1/2 tegang saat " dosa dosa lama " dilebur, yakni " permusuhan jaman SMA harus diakhiri di reuni ini " . 

Naaa .. muncul dua nama, Edi dan Yono, satu Malang satu Jakarta. Konon keduanya dulu bahkan pernah " gelut " di pembuangan sampah dibelakang Balai Kota kala itu hehe .. Dan siang ini keduanya berangkulan diiringi tepuk tangan meriah dan bahkan teriakan " cium, cium .. " haha , " rek, aku sik normal rek!" jawab keduanya haha .. 

Acara dilanjut lomba lomba dan nyanyi buat yang tidak biasa nyanyi, ini yang di tunggu2, sebab yang konyol2 bermunculan. Ada yang dipaksa untuk nyanyi dangdut padahal " sumpah mati " konon bukan genre nya cieee .. dan akhirnya musiknya dangdut tapi nyanyinya ala Iwa K, wes embuh sak karepmu, pokok mau maju itu saja sudah bagus hehe ..

Ada " tamu " diluar angkatan kita tapi juga eks tetangga, yakni Trisulo/SMA 3 yang memang penyanyi, ya sudah wong memang musiknya dari grupnya, maka siang itu Tri mengguncang Padi dengan lagu2 soul jaman kita SMA, yo wes kono, supaya tambah kental atmosfer SMA nya hehe .. 

Oya siang itu kita juga dikejutkan dengan hadirnya si ndhower Jagger dengan sederet lagu lagunya yang nge top dimasa SMA kita, dan applaus buat Thomas dari Surabaya! Wow .. ternyata mantan anak anak band ini masih belum lupa metik gitar dan nyanyi hehe, dan lagu lagu batu bergelundungan siang itu diteriakkan Thomas dengan semangat, applaus .. applaus !

Puas hahahihi dan saling gojlok, dan suara saya sendiri yang mulai pagi sudah cuap cuap dan mulai terasa serak hehe, kami akhiri mendekati jam 17.00 dengan acara inti Saling Bermaafan Menjelang Ramadhan. 

Sebagaimana tradisi, menjelang Ramadhan adalah saat paling afdol untuk meminta maaf kepada teman, kerabat, tetangga, dll agar memasuki Ramadhan itu sudah lebih " bersih " dan tidak " berhutang maaf " kepada siapapun. 

Merasa tidak bersalah? Tidak masalah, kita tidak usah berhitung tentang siapa yang lebih bersalah, bahkan tidak ada masalahpun kita saling bermaafan karena hakekat dari perbuatan mulia ini adalah untuk meraih ridhoNYA. 

Penuh haru dan banyak air mata tergenang diacara ini terutama rekan rekan yang secara fisik sedang dalam ujianNYA " lho sopo ngerti rek mari ngene wes gak ketemu maneh ... " hussss, begitu saya dengar bisik bisik diantara sebagian mereka ...

Rencana berikutnya, Insya Allah, Halal Bihalal sekitar akhir Agustus mendatang di Malang dan awal tahun depan diupayakan reuni di Jawa Tengah agar supaya rekan rekan Jawa Timur dan Jawa Barat mendapat perlakuan " adil " hehe ... 

Selamat berpisah nawak, ojo lali minum obat obat e lo hehe ... ( ini pesan penting terutama untuk yang sudah mulai pikun .... ) ... Sampai Jumpa !



Bagian VI:
Sabtu Malam Minggu 08 Juni 2013
" Toko OEN " , Malang

( Maaf, saya tidak ikut )

Bagian VII :
Minggu Subuh, 09 Juni 2013
" Selamat Jalan Nawak .... ! "


Minggu subuh jam 04.00 saya sudah berada di daerah Bukit Tidar menjemput beberapa teman yang akan berkumpul bersama di hotel daerah Alun Alun Bunder untuk bertolak ke bandara
 bersama sama pada 05.00 dengan travel-bus. 

" Kok wani to awakmu iki peteng2 dewean?" saya tertawa sebab semua keberanian itu sebenarnya berawal dari keterpaksaan hehe .. Sampai di hotel, yang lain sudah rapih dan koper2 sudah terkunci rapat. Foto bersama, keharuan mulai datang. Bus sudah siap mengangkut. Ada saat bertemu, dan sekarang harus kembali berpisah .

Betapa mahal nilai pertemanan. Jarak tidaklah masalah ketika persahabatan itu tulus. Cipika cipiki sebelum naik bus, take care, take care, take care, and take care your heart ! Lambaian rekan rekan di Malang mengantar mereka meninggalkan Malang dipagi buta yang masih dingin.. Sebuah pertanyaan yang sama selalu muncul " Adakah waktu masih mengijinkan kita bertemu lagi?" .. tak ada yang mampu menjawabnya. Selamat Jalan, Sampai jumpa nawak ... !! 
( th )

Keterangan foto ( all taken by : th ) :

01. Bu dokter dan Pak  camat, ojo lali sing ndik omah lo hehe ..
02. Ini bukan pidato di kantor kecamatan lo pak ..
03. Welcome  in Malang .... !
04. Kenangan kepada Edu, masa2 SMA.dan masa itu seragampun mini !
05. Pink buat cowok bukan lagi tabu, apalagi cocok buat udara Selecta
06. Santap malam di Teysa's, jalan Ungaran
07. Duduk menunggu menu di Teysa's ..
08. Diteras luar Teysa's
09. PADI, 08 Juni2013, kapan bisa kumpul2 lagi seperti dan selengkap ini ?
10. Menjelang Ramadhan, saling bermaafan
11. Thomas " Jagger ", lho itu Didik kok .. ?
12. Si jago ngocol, Kemprie ..
13. " Pak Ustadz " kita, ssstt ..ojok rame lo, dengerin petuah temen yang satu ini !
14. Naa .. ini wakil suara Jakarta, Yudhi yang suka nyanyi .. 
15. Women ..
16. Sesaat sebelum ke Batu, mejeng bareng dulu ..

( wes, jangan cari wajah saya yang tidak mungkin ada, nasib tukang potrek ! )

Rabu, 19 Juni 2013



Rabo , 19 Juni 2013, jam 18.15
( Catatan Kecil Perjuangan Para Ortu Maba )

 Dari laptop saya mengalun nomor lawas Eumir Deodato dari album 1972, Also Sprach Zarathustra. Saya pengagum musisi ini. Tapi saya tidak hendak menulis tentang dia melainkan tentang kemarin dimana saya berada diantara ribuan maba dan keluarganya di UB saat daftar ulang untuk jalur khusus. 

Kerabat dari Jakarta yang mendampingi putrinya daftar ulang sekaligus menginginkan tempat kos putrinya tak jauh dari kampus UB. Maka saya mengublek area Watu Gong sementara mereka diarea daftar ulang dengan antrean yang ekstra panjang. 

Jangan tanya soal kemacetan, wong hari biasa saja macet apalagi saat saat seperti itu. Plat mobil bahkan banyak yang dari luar pulau dan saya melihat bermacam adegan mengharukan.

Para ortu setia mendampingi putra/inya daftar ulang atau ada juga yang sedang ujian SMPTN. Dan disetiap tempat kos yang saya datangi, jawaban  di mana mana sama yaitu " penuh " dan seharusnya tak perlu ditanyakan sebab tulisan " penuh " itu sudah ada di pagar pagar. 

Mulai tempat kos yang 200 ribu  hingga yang 1,9 juta per bulan, tanpa kecuali, penuh ! Nampak para ortu berjuang keras mencari kos ini, sebab banyak maba yang menginginkan " tinggal jalan kaki ke kampus " dengan alasan belum menguasai peta. 

Maka terpaksa area diperlebar keluar Watu Gong yang anehnya juga penuh, luar biasa .. Tetapi seorang mahasiswi membisiki saya " Itu biasa bu dimana mana penuh, tapi nanti sekitar Agustus sudah mulai stabil dan banyak yang kosong.. " ... kok? " Iya, sebab para maba sudah mulai pinter mencari kos sendiri yang bagi dia lebih nyaman, mungkin dengan teman yang dia lebih cocok atau tempat kos yang lebih pas buat seleranya. Kalau masih baru baru memang pada menggerumbul di kos kos an dekat kampus .. " .. ooo

Tapi alasan diatas juga tidak sepenuhnya benar menurut saya sebab kemarin rata rata tempat kos itu menuntut pembayaran uang kos untuk setahun  penuh. Jadi biarpun cuma sebulan disitu dan pindah ketempat lain, tetap harus membayar dimuka untuk setahun penuh.

Trend tempat kos mewah rupanya juga mulai menjamur di Malang. Dengan sekitar 2 juta per bulan, fasilitas wifi, indovision ditiap kamar, air panas dikamar mandi dalam kamar, tempat parkir pribadi, dll dll yang mirip hotel. 

Diam diam saya ingat betapa dulu saya juga mengalami " perjuangan " memburu tempat kos buat anak anak saya, pun disaat daftar ulang dengan puluhan ribu ortu yang lain. 

Berjalan dari ujung keujung diterik Surabaya, door to door, semuanya rata rata sudah penuh. Akhirnya beruntung masih menemukan sebuah " kamar " mini yang sebetulnya kurang layak disebut kamar saking kecilnya dan inipun harus berbagi dengan temannya sesama sma di Malang. 

Jangan tanya soal AC, dan debu serta kwalitas air Surabaya yang membuat sumpeg, menambah keprihatinan saya. Tetapi saya ingin anak anak saya tumbuh kuat dan " tahan banting " maka saya masih menambah kesumpeg-an anak saya dengan " kuliah tambahan " hehe .. : 

" My son, mulai saat ini kamu dipersiapkan menjadi pemenang pemenang dalam kerasnya kehidupan. Orang tua tidak dapat memberimu tempat kos yang mewah dan nyaman, tetapi kamu akan mampu meraihnya sendiri satu saat nanti melalui kamar pengab ini. Jangan pernah absen sholat seberapapun sibukmu karena itu adalah sumber kekuatan kamu. 

24 jam saya ada untuk kamu, angkatlah telepon, saya tidak pernah bergeser sesentipun dari sisi kamu meski mulai saat ini kamu akan mengurusi sendiri semuanya, mulai baju bajumu, makananmu, dll dll .. 

Selesaikan tepat waktu study kamu, karena orangtuamu bukan mereka yang berlebihan untuk membiayai  nya, kamu pun tahu setiap hari saya tempuh pp Malang Surabaya 200 km itu semata karena saya ingin melihat kamu meraih   bintang dilangit .. !" 
( mirip sinetron2 ya hehe .. )

Dan kedua anak anak ini pada akhirnya menepati janjinya,selesai tepat waktu dan menghadiahi saya dengan yang terindah, keduanya lulus Cum Laude dari sebuah PTN di Surabaya. Sebuah hadiah yang mampu menghapus segenap darah dan keringat saya. 

Saat saya diminta berpidato mewakili para ortu wisudawan/wati, bibir saya bergetar karena terbayang bahwa kamar kamar kos anak anak yang pengab itulah yang memberi dorongan luar biasa pada mereka untuk menaklukkan keterbatasan yang ada. 

Saya berpikir, andai mereka berada dalam kamar kamar mewah ber AC, mungkin mereka tidak atau kurang memiliki daya juang seperti yang sudah mereka buktikan kepada saya. 

Saya ingat betapa dikamar mandi tempat kosnya  airnya begitu keruh terkadang malah ber cacing kecil kecil dan debu menyerang masuk diantara buku buku mereka ..

Lamunan saya buyar saat kerabat saya bertanya : " Lho mbak, ayo wes cari makan siang aja dulu, besok nyari tempat kos nya dilanjutin ... " ... Sebetulnya saya ingin menyarankan mbok sekarang saja dicari sampai dapat, sebab besok pasti tambah sulit. Tapi sebagai " tuan rumah yang baik " ya saya manut. 

Rombongan kecil kami, 9 orang bergerak kearah Dau, melepas stres, setelah berjam jam macet dijalan dan antri daftar ulang serta kesana sini mencari kamar kos disiang terik.

Seorang kerabat berkomentar " Paling enak sepertinya punya bisnis kamar kamar kos ya.. Lha kalau satu kamar 2 juta, padahal itu tadi ada 60 kamar, sudah berapa per bulannya? Wow .. " .. semua mengangguk setuju, tapi invest nya juga gede, kecuali dengan kesabaran bikin kamarnya dicicil satu satu .. hehe ..

Ketika semua sibuk membicarakan soal kos kos-an, saya melamun lagi sambil memandang gunung Arjuna didepan saya . Waktu lewat begitu cepat dan tidak terhentikan, lamunan saya bahkan surut jauh kebelakang disaat ibu saya berjuang mencarikan tempat kos saya sebagai maba di Yogya kala itu.  

Beruntung kami mendapatkan yang cukup dekat dengan kampus dimana  tiap hari saya memakai sepeda pancal ke kampus.

Bahkan beliau  10 hari setelahnya masih di Yogya menunggui saya selama masa " ploncoan " hingga selesai. Badan saya susut hingga 3kg saking stresnya akibat tekanan fisik mental ploncoan dijaman yang masih " sadis " itu .. 

" Mbak, ayo lo makannya kok sedikit ... " .. lamunan buyarrr lagi .. 
 Naaa .. khusus buat pembaca blog saya yang masih remaja dan memiliki keberuntungan kos ditempat yang super nyaman, saya hanya ingin berpesan sedikit : 
"  syukurilah segala yang ada karena tidak setiap remaja seberuntung kalian,  
namun manfaatkanlah itu untuk meraih yang terbaik dalam hidup serta tebarkan manfaat itu dikelak kemudian hari 
kepada anak anak lain yang kurang beruntung, semoga !" .. ( th )


Keterangan foto ( all taken by : th )
Foto 01) dan 02 ) suasana makan siang di 
Warung Gurami Sadis, Dau 
( seperti biasanya, yang motrek tidak kepotrek hehe .. )