Senin, 24 Desember 2012





Liebe Bibianne,
( terjemahan )

Terima kasih  email dan foto fotonya yang luar biasa tadi pagi. Saat saya menulis ini jam menunjuk angka 11.15 malam, tanggal 24 Desember 2012. Maaf sebesar besarnya cukup lama saya tidak berkabar sejak email terakhir saya beberapa bulan yang lalu. 

Tentu saya masih sangat ingat, bagaimana kesibukan kesibukan menjelang natal dan tahun baru yang engkau maksud. Walaupun saya tidak ikut merayakan, tetapi saya paling senang ke Rathaus untuk melihat bazar natal disana yang diadakan sebulan penuh. 

Ada kue kue jahe untuk di gantung di pohon, ada beragam bentuk coklat dan apel yang dilapis gula, ada pohon pohon asli yang bermacam bentuk dan ukuran untuk dipajang dirumah rumah, juga ada berbagai souvenir yang khas.

Ah .. Bibi, waktu  begitu cepat lewat. Setahun yang lalu tentu saya juga masih mengingatnya dengan jelas ketika kamu kirimkan foto foto cucumu itu. Setahun rasanya masih seperti kemarin. Detil email itu masih segar dalam ingatan saya, tentu. Semoga keluarga besar di Austria semuanya sehat sehat saja terutama Linde, Margaretha, Bruno, Monika, Renate, Gerth dan semuanya! ( tidak mungkin saya tulis satu persatu ).

12 kali melewati musim dingin dan dua kali diantaranya adalah bersamamu di Tirol  kaki Alpen yang indah, adalah sebuah bagian dari buku kehidupan yang tidak mungkin saya bisa hapus dan lupakan. 

Tertawa sendiri kalau saya ingat betapa saya dulu terguling guling ketika untuk pertama kali mencoba papan seluncur es di tempat Margaretha bersama anak anak SOS Kinderdorf disana. Lalu juga masih melekat rasanya dalam lidah saya betapa lezat nya sup bawang masakanmu ditengah cuaca minus di Tirol kaki Alpen yang indah.

Tentu kami  mempunyai rencana untuk menjadwal ulang rencana yang tertunda yl. Saya rindu semuanya di Austria, terutama Bibi sendiri.Salam buat keluarga besar di Deutschgriffen, Klagenfurt, Brixen  dan Wina. Semoga natal dan tahun baru bersama keluargamu akan membawa lebih banyak kebahagiaan dan kesejahteraan serta kesuksesan di tahun 2013 mendatang.

Saya belum tahu malam tahun baru akan dimana atau kemana. Musim hujan sedang deras saat ini. Tapi kemungkinan besar adalah gunung Bromo yang semoga tidak pas hujan deras seperti tahun lalu ditempat yang sama.

Saya membayangkan masakanmu yang luar biasa dimalam tahun baru, lalu kedatangan kerabat Klagenfurt dll pasti akan lebih membahagiakan!

Oya .. saya surprise bahwa wajahmu tidak berubah di fotomu yl, doakan saya akan kembali bisa menikmati sup bawangmu  diruang makanmu yang menghadap langsung ke Alpen yang indah. Seperti sebuah mimpi buat saya ketika itu. Salam buat keluarga besar di sini , Aufwiedersehen !

Rindu saya,
TH 


   

Kamis, 20 Desember 2012






OXYGEN Pantai Selatan ( 05/ 09 )
Wana Wisata dan Pantai Pasir Panjang



Surut ke tahun 1976, Pantai Pasir Panjang yang saya kunjungi Minggu 16 Desember 2012 yang lalu sempat menjadi berita internasional dengan tenggelamnya 8/ delapan anggota Karatedo Kyiukisunkay Indonesia yang tewas dipusaran air yang berada di pantai ini. Tetapi ironisnya, justru sejak itulah para nelayan menyukai pusaran ini ketika akan menambatkan perahunya. 

Pantai ini dapat dicapai hanya sekitar lima menit dari pantai Gunung Kombang ( OXYGEN Pantai Selatan 04/06 ) . Dan sesuai yang tertulis di papan nama yaitu "  Wana Wisata , Pantai Pasir Panjang, Ngliyep " , di lokasi ini memiliki dua tujuan wisata. 

Pertama adalah pantai yang berpasir putih bersih serta membentang sepanjang sekitar dua kilometer dan bentangan ini terlihat dari ujung ke ujung, luar biasa ... ! Sebetulnya pantai ini sudah dikenal sejak sekitar tahun 60 an dengan sebutan Pantai Weden Dowo. Diujung barat dari pantai ini kita dapat menemukan kampung nelayan.

Kampung nelayan ini bahkan menjadi " jujugan " ( persinggahan ) dari nelayan nelayan daerah lain yang cukup jauh letaknya. Misalnya : nelayan dari Banyuwangi, Pulau Raas dan Pulau Sapudi, bahkan dari Popoh Tulungagung dan Sendang Biru yang terdekat.

Juga tersedia area perkemahan, penginapan, kedai dan toko, serta melimpahnya air tawar yang bersih. Sempat saya mengobrol dengan penjaga kamar mandi, seorang wanita berusia sekitar 70 tahun yang berkisah tentang adanya tiga sumber atau mata air disekitar desanya yang menopang seluruh kebutuhan air masyarakat disini. 

" Sendang Kemetiran, Sendang Kamulyan dan Goa Bayi  itu nanti dilewati kalau pulang ... " , jelasnya. " Kok Goa Bayi, apa banyak bayi bayi bu? ", saya penasaran . " O itu sudah lama kejadiannya sekitar tahun 53, ada truk terguling dan menggencet seorang bayi yang ayahnya TNI, lha karena kejadiannya didekat goa maka goanya dinamakan Goa Bayi ... " oooooo ..... 

Selanjutnya dijelaskan bahwa ke tiga mata air tadi banyak dikunjungi orang orang yang " ngalap berkah " dengan berbagai maksud dan tujuan. Apa boleh buat, rupanya sebagian dari masyarakat kita ternyata masih ada yang mempercayai hal hal semacam itu  yang kesemuanya pada akhirnya kembali kepada masing masing ...

Tujuan wisata lainnya adalah Wana Wisata atau wisata merambah belantara liar. Wana Wisata ini berupa hutan alami yang dikelola oleh LMDH Wana Makmur Lestari, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Hutan ini sengaja dibiarkan tumbuh alami agar pengunjung pantai menikmati kesejukan udara disekitar pantai. 

Bagi pecinta wisata hutan, ini juga sebuah alternatif untuk mengenal hutan pantai yang khas. Saya teringat Senggigi ketika melihat butir butir pasir disini yang begitu putih bersih. Tetapi dengan makin banyaknya pengunjung, pertokoan, kedai mamin dll saya berharap semoga ada kesadaran yang tinggi dari pemilik usaha dan pengunjung untuk ber sama sama menjaga menjaga kelestarian lingkungan agar pasir sepanjang pantai ini tetap resik dan nyaman. 

Disini saya  hanya sempat menikmati kelapa muda yang utuh karena ternyata " daging " kelapanya sudah cukup mengenyangkan perut atau karena  sudah " klempok - en " dengan air kelapanya yang kira kira kalau dipindah ke gelas adalah sekitar  3 - 4 gelas ..  ( beruntung badan saya sulit diajak gemuk , jadi tidak khawatir dengan " asupan berlebihan " he he .. )

Banyaknya kendaraan yang di parkir, baik motor, mobil, truk, bis dll menunjukkan bahwa lokasi ini lebih disukai dibanding pantai sebelahnya yang saya kunjungi sebelumnya ( Gunung Kombang ) . Melihat jenis pantainya, Pasir Panjang memang jauh beda dengan GK karena tidak ditemukan karang karang tajam dan ombak yang pecah di pasirnya sudah terlebih dulu 
" dijinakkan " karang karang yang lebih terdepan meski untuk urusan mandi mandi di pantainya tetap harus diwaspadai. Maka yang terlihat disini adalah lebih banyak keluarga dengan putra/i nya, menikmati debur ombak dibawah bangunan payung payunf yang disediakan ataupun menggelar tikar sewaan.

Gulungan ombak hijau biru yang tidak putus putusnya serta suaranya saat mencapai pantai, merupakan nutrisi mata dan hati yang luar biasa ... !

Keadaan ini memang kontras dengan pantai GK yang memiliki kecantikan ombak yang sama tetapi terkesannya lebih " magis " dan  untuk wisata keluarga agaknya memang Pasir Panjang lebih menawarkan keamanan dan kenyamanan.

Puas jeprat jepret yang kurang menantang dibanding GK, saya ingin mengejar waktu karena masih ada 3 pantai di catatan saya. Kondang Merak, Kondang Iwak dan Balekambang meski yang terakhir ini saya tidak terlalu ingin, karena ramai dan ruwetnya. Hanya saya masih berharap menemukan sesuatu yang mugkin tidak saya duga yang saya juga tidak tahu itu apa he he ..

Tapi alamakkk ... gerimis mulai turun, bahkan dijalan makin melebat meski belum lebat sekali. Sampai di persimpangan arah Kondang Merak, saya ragu.. Sekian tahun lewat saya pernah mengemudi kesana memakai jeep, tapi dengan sikon hari ini, saya tak begitu sreg  sebab kalau betul betul hujan lebat turun, bisa bisa saya menginap di hutan .. Maka, saya putuskan ditunda dan tujuan selanjutnya : Balekambang, yang sebenarnya tidak terlalu menarik lagi buat saya sebab sudah membayangkan " ramai dan ruwetnya " . Tetapi saya masih berharap akan menemukan sesuatu yang saya sendiri belum tahu itu apa ....

OXYGEN Pasir Panjang saya temukan di butir butir pasirnya yang resik dan hutannya yang masih belum banyak tersentuh, akan bertahan berapa lama? ..   
( TH ) 

Keterangan foto : ( Photos by : TH )

01. Pasir bersih sepanjang pantai Pasir Panjang, saat itu mendung.
02. Pengunjung menikmati pasir dan ombak.
03. Peringatan Tsunami.
04. Ombak laut lepas Pasir Panjang.
05. Pohon yang " bergendongan " .
06. Pohon " berbaring " di pantai Pasir Panjang.    
07. Anak anak Pasir Panjang bermain dengan akar pohon di pantai. 








Rabu, 19 Desember 2012
















22 desember
yang termulia : ibu ..


kalaupun
tujuh samodra
tujuh benua
tujuh lapis langit dipersembahkan 
tidaklah pernah mampu
menebus tetes darah   tertumpah,
saat garba itu terbelah ..

lalu
tahun tahun penuh  keringat,
sementara..
engkau  samodra kesabaran tanpa dasar
pun,
lorong ampunan tanpa ujung ..

ketika saat itu akhirnya datang, 
kami tinggalkan selimut tuamu, 
pamit tanpa batas kepergian,
senyum iklas  bibir dan wajahmu,
menyembunyikan rindu tak terperi,
hingga kelak tanah menagih janji ..

ibu,
tidaklah pantas apapun yang anakmu beri,
tak juga permata atau janji pelangi,
karena engkau tahu
bukan semua itu

dan
butir butir rindumu
adalah berlian berlian anakmu ..

maafkan kami ..

malang, 20 desember 2012  ( TH )
buat : yang termulia dirumah  


( gambar diambil dari google )


 OXYGEN Pantai Selatan ( 04/ 09 )

 Ngliyep, Gunung Kombang ..






Berbicara pantai yang satu ini, seperti ditarik mesin waktu kemasa balita. Betapa tidak, saat itu pantai yang satu ini merupakan salah satu tempat wisata populer yang meski transpotasi belum semarak sekarang tetapi para ortu meletakkannya sebagai salah satu tujuan wisata keluarga. 

Maklum, tempat tempat wisata belumlah sebanyak sekarang dan umumnya masih berupa wisata wisat` alam.

Terletak sekitar 70km selatan Malang, pantai Ngliyep ada di Sumber Manjing Kulon 
( sekedar pengingat : Pantai Sendang Biru, pulau Sempu, Pantai Bajul Mati, Pantai Goa Cina dll ada di Sumber Manjing Wetan ). Dari Malang kita mengambil arah  Kepanjen terus Donomulyo.

Sebetulnya terdapat beberapa pantai didaerah Donomulyo ini. Tetapi memerlukan transpotasi jenis " offroad " karena musim hujan ini bisa mendadak ada kolam kolam lumpur, maka saya hanya mencari yang aman yaitu ke pantai Ngliyep .

Bersyukur bahwa jalanan kearah pantai lumayan bagus, meski diseling beberapa ratus meter  berjerawat dan   bergelombang. Perbedaan lain dengan jalanan menuju Sendang Biru, disini lebih banyak ditemukan lembah lembah " teletubbies "  yang serba hijau dan pemandangannya  memang lebih wow..  

Juga jalanan tidak terlampau ber SSSSSSS jadi cukup banyak peluang untuk jeprat jepret . Sekian tahun bahkan puluh tahun yang lalu, jalanan masih sederhana dan perjalanan perjalanan kearah pantai selalu " penuh siksaan " he he .. 

Salah satu tujuan wisata lain yang berdekatan dengan pantai Ngliyep adalah Sendang Kamulyan, atau Mata Air Kemuliaan, terjemahan bebas saya. Namun saya urungkan menjenguk karena  sekilas medannya terlihat kurang pas dengan mobil saya disaat hujan hujan seperti ini . 

Lagipula mata air atau sendang Kamulyan ini dipercayai sebagian orang sebagai tempat ritual dengan berbagai niatan, dan saya tidak ingin membuang waktu disitu karena panggilan ombak dengan bau lautnya yang khas sudah sampai dihidung saya ( bukan telinga lho he he .. ) .

Mendekati pantai, belantara hutan semakin melebat dan akhirnya sampai disebuah gerbang yang memisahkan dua jalan. Tertulis disitu :

" Selamat Datang Di Lokasi Wana Wisata Pasir Panjang Ngliyep " dan ternyata masih ada lagi tulisan dibawahnya yaitu:
" Jangan Coba Coba Mandi Dilaut " , sebuah peringatan yang sungguh harus diperhatikan. Maka memang sangatlah benar citra pantai selatan dilokasi ini adalah BUKAN pantai untuk bersantai santai ditepinya seperti halnya di Kuta.


Wana Wisata dan Pantai Pasir Panjang saya tinggalkan dulu, saya mendahulukan ke arah kiri, pantai Gunung Kombang . Tidak sampai lima menit saya sudah memasuki kawasan Gunung Kombang ( GK ) ini. 


Saya seperti mengalami semacam " Deja Vu "  saat memasuki kawasan ini. Tampak saya berlarian dipasir dan ayah ibu berusaha mengejar agar saya tidak terlampau dekat ke tepi laut. Warung berdinding kayu yang dulu menjual ayam kecap, sudah lenyap, berganti wajah dengan deretan rumah rumah dan warung warung penduduk yang minggu pagi itu anehnya hampir 90% tutup. Atau belum saatnya buka?

Seorang wanita tua tampak berjalan dengan bantuan penyangga kaki dan di meja depannya ada beberapa kerajinan kerang berbentuk ayam dll yang sejak masa saya kecil dulu rasanya bentuk ini sama sekali tidak berubah. Saya duduk didekatnya, mbok Sumiati namanya, 87 tahun seingatnya.

" Sendirian buk? " ... " Iya, 
 disini sekarang sepi, banyak yang merantau.. " .. Saya ingin tahu lebih lanjut : " Anak anak dimana bu? Apa ibu tidak ada yang menemani ?" .... " Anak saya lima, semua di Kalimantan, sudah menikah. Saya sendirian saja, ya mudah mudahan ndak sakit, cuma ini kaki memang agak sulit buat jalan .... " .... 

Sesak dada saya. Saya lihat dikawasan ini, pada hari Minggu seperti ini tidak banyak pengunjung atau belum banyak karena masih cukup pagi? Adakah hari ini pengunjung  yang akan membeli ayam ayaman kerangnya?

Bergeser 50 meter dari mbok Sumiati, ada dua warung lain yang juga ditunggui oleh manula yang berjualan air mineral dan sejenisnya. Itu saja yang bisa saya lihat. Mungkin pantai ini memang lebih menawarkan alamnya yang luar biasa " cantik dan buas " ombaknya disamping untuk tujuan tujuan ritual. 

Saya  penasaran seperti apa tempat yang konon dijadikan ritual.Maka saya coba menyeberangi jembatan kayu dari arah pantai kesebuah bukit karang diseberang pantai. 

Setelahnya saya sampai di susunan tangga yang  naik keatas bukit karang. Dipuncaknya ada bangunan yang memiliki pintu dan cendela kayu berukir  dan  bangunan ini seukuran musholla tetapi pagi itu tampak terkunci rapat. 
Didinding luarnya ada papan bertuliskan :

" Dibangun oleh Anothai Kamonwathin/ Mama Airin dan para umat " Nam Hai Kwan Seim Pusa ", Pelabuhan Ratu Sukabumi  Jawa Barat " , Malang 17 April 2008, Anothai Kamonwathin, Ketua Ibadah. 

Menurut salah seorang penduduk yang kebetulan ada didekat bangunan ini, area ini lebih banyak dikunjungi peziarah dengan bermacam maksud. Saya menemukan papan yang terpaku dipohon bertuliskan :
" Dilarang Pacaran di Lokasi, Tempat Ritual, Harap Perhatikan ".

Dari ketinggian bukit karang ini saya menemukan angle luar biasa dimana deburan ombak dari laut lepas kearah pantai bisa dilihat dengan leluasa. Sekedar membayangkan saja sudah ngeri bagaimana andai tiba tiba Tsunami menerjang, pastilah tempat saya berdiri di karang ini sudah terlumat habis.

Meskipun larangan untuk mandi dipantai terdapat di mana mana, saya pribadi menyukainya karena pantai terjaga lebih bersih karena jarang pengunjung . Alampun lebih terjaga dari polusi, kendaraan tidak sebanyak pantai pantai pada umumnya. 

Bagi yang ingin menunggu fajar disini, saya lihat ada penginapan meskipun terlihat kurang terawat. 

Mungkin mendirikan tenda lebih baik seperti yang saya saksikan pagi itu ada sekelompok remaja terlihat membongkar tenda. Lucunya, tenda tidak didirikan dialam bebas melainkan dilantai pendopo yang ada ditepi hutan pantai. Lho?

Dua jam lebih saya habiskan di Gunung Kombang dan karena kuatir card di kamera saya keburu penuh, saya melanjutkan langkah kepantai sebelah, Pantai Pasir Panjang. Ikuti tentang pantai ini dihalaman berikutnya ( Oxygen Pantai Selatan 05/06 ) .

Ngliyep, Gunung Kombang, ada jejak masa kecil terekam disana .... 

( TH ) 
  
    
Keterangan foto ( photos by : TH ) :

01. Ombak pecah dipojok karang.
02. A breath taking view.
03. Pantai yang bersih, jarang pengunjung.
04. Peringatan maut dihutan bakau.
05. Kehijauan dipinggir pantai.
06. Jemuran rumput laut.
07. Jalan sepanjang pantai.
08. Tidak akan pernah bosan.
09. Karang garang.
10. Ciri khas pantai : karang tajam dan ombak ganas.
11. Petunjuk jalan.
12. Peringatan ombak ganas.
13. Salah satu lembah " teletubbies ".
14. Belantara ditepi jalan.
15. Gerbang pantai Ngliyep.
16. mBok Sumiati.
17. Tangga naik kepuncak bukit karang.
18. Bangunan ibadah dan ritual.
19. Sudut lain yang cantik dan tenang tapi bisa mematikan. 

Selasa, 18 Desember 2012




" Special Sambal, SS Waroeng "
menantang lidah ..

Saat ini jam 01.46 lewat tengah malam. Ini adalah " saat terbaik " untuk menulis dimana pada jam jam begini sebagian besar orang sedang bermimpi hehe .. Foto yang belum ter edit menumpuk sejak hari Sabtu dan saya berniat menyelesaikan yang terbaru yang saya jepret hari ini. Kok? 

Alasannya mudah, karena sekian menit sebelum menulis ini, saya harus ( yang kedua kali untuk malam ini ) ke " belakang " dulu  ( maaf .. ) gara gara perut agak mules.Saya tahu penyebabnya : sambal sambal siang tadi.


Sambal memang hal biasa. Yang tidak biasa adalah saya telah melalap 4 ( empat ! ) macam sambal sambalan. 
Catat : sambal ati - ayam, sambal - jamur, sambal - mangga dan sambal - terong dan karodek. Masih ditambah nila goreng. Jadi " mumpung " sensasi ke empatnya masih terasa di perut, saya dahulukan menulis ini, sekaligus membagi nya kepada para pecinta sambal ... hehe ..

Berawal dari jam yang sudah menunjuk saat makan siang yang sudah lewat, saya yang kebetulan sedang berada didaerah sekitar Sengkaling mencari cobek dan sendok sendok kayu,  merasa tertarik dengan sebuah kedai dikiri jalan yang kalau dari arah Batu adalah sesudah Sengkaling dan terlihat penuh parkirannya. Standar saja, biasanya kalau parkiran penuh, makanannya enak atau murah atau ada alasan alasan lain.

Dari judul namanya, Special Sambal SS Waroeng , berarti yang tidak suka sambal apalagi yang pedas sebaiknya tidak kesini. 

Warung atau kedai ini tidak terlalu besar, menampung sekitar 60 an orang kalau penuh. Pramusajinya masih berusia remaja semua, dengan seragam hitam hitam yang mengusung desain Lombok Merah sebagai ikonnya dipunggung dan dada dari TShirt hitamnya. Lumayan " eye catching " .Didaftar menu, sudah pasti puluhan jenis sambal adalah andalannya. Kita tengok sebagian yaa ...

Sambal Belut, Sambal Teri, Sambal Acar, Sambal Tubruk, Sambal Gobal Gabul, Sambal Bawang, Terasi Tomat Segar, Terasi Lombok Ijo, Terasi Segar, Terasi Matang, Sambal Jamur dan aduhhh ... masih banyak lainnya.Dideretan laukpauknya ada Udang, Nila, Lele, Gurami, Tempe dan seabreg lainnya.Pilihan minuman juga lebar, mulai aneka jus sampai kopi tubruk dll.

Harga? Jenis jenis sambal ini rata rata 2000,-/dua ribuan, dan lauk nya antara 5 hingga 10 ribuan tergantung besar kecil nya. Jadi kalau untuk dua orang dengan pesanan menu " standar " , tidaklah lebih dari 25 - 30 ribu. Tetapi siang tadi saya memang sengaja menjawab rasa penasaran, memesan empat macam sambal yang berakibat malam ini mules, maka saran saya sebaiknya tidak " mencampur aduk " sambal he he ..

Ketika saya meminta ijin memotret TShirt yang mereka pakai dan manager menyetujuinya, ternyata para pramusaji ini cukup berbakat sebagai model.
" Nanti kami dikirimi ya foto fotonya ... ", saya diberi nama FB mereka. Dan melihat hasil foto, ternyata cukup photogenic juga.

Layanan cukup ramah dan tidak terlalu lama menunggu ( buat yang sudah kelaparan seperti saya siang tadi, ini sangat menyenangkan he he .. ). Tapi saking ramahnya sampai apa yang tidak saya pesan datang dimeja saya, dan demi sebuah " persaudaraan " tidak saya protes ha ha ..

Hampir 90% meja meja penuh. Saya menyarankan bagi pecinta sambal dengan level paling hot, disinilah jawabannya, mereka menawarkan hingga level yang membuat kita ber kali kali ke toilet ..

Jaman agaknya sudah serba panas dan pedas. Lain kali saya juga ingin menulis tentang " setan setan lombok " ini, saya harus menelpon dulu keponakan yang menjadi owner mie di jalan bromo supaya saya tidak harus meng antre di kedai setannya e .. mie nya he he .. ( maap Dim he he .. ) . Sebuah petualangan lidah yang menantang, mungkin ada yang penasaran mau mencoba ke  " SS Waroeng  " ?  ( TH )


Keterangan foto : ( Photos by : TH )

01. Papan nama SS Waroeng.
02. Salah satu desain punggung di seragam pramusaji.
03. Habis Pedas Terbitlah Nikmat !
04. Desain lain dari TShirt pramusaji bagian punggung.
05. Dua pramusaji yang manis.
06. Atmosfer kedai. 
     

Jumat, 14 Desember 2012






Cikal Bakal Ubud di Malang?
( sebuah mimpi besar yang sedang dimulai di Karangploso, Malang )


Guest House sedang marak di Malang. Kawasan elit seperti Ijen dan sekitarnya juga sudah mulai dijamuri GH. Seorang teman yang bertempat tinggal di Ijen Boulevard bahkan meminta saya menangani ' calon ' GH nya dikawasan elit itu dan menginginkan pangsa Eropa. Perbincangan serius diantara kami terjadi beberapa kali on the spot . Waa .. persaingan GH dengan hotel berbintang agaknya mulai mengetat , masing2 punya plus minusnya. Tapi sampai saya ketik ini, GH itu rupanya masih terganjal ijin, karena letaknya memang strategis dan langsung di boulevard sehingga agak beda dengan yang di kawasan Merbabu, Kawi dll.

Nah ..  info bahwa di wilayah Karangploso juga mulai bertumbuhan GH, maka kedatangan saya disebuah rumah atau tepatnya Guest House di siang yang gerimis didaerah Karangploso itu bukan tanpa alasan. Disambut oleh sekitar 10/ sepuluh ekor anjing dari berbagai ras, tuan rumah yang berkebangsaan Jerman, menikah dengan seorang wanita Indonesia, Hr. Wolfgang Graf , menjamin bahwa anjing anjing itu bersahabat. 

Buat saya yang harus dijaga adalah keyakinan yang mewajibkan saya menghindari moncong moncong itu, agar tidak tersentuh liurnya, selebihnya  saya tahu mereka adalah anjing anjing yang manis meski ukurannya separuh tinggi badan saya yang mini ini. Mereka mengerubung saya tetapi tidak mendekat dalam jarak yang cukup aman, saya tidak keberatan.

Diruang dalam telah ada rekannya yang juga berkebangsaan Jerman, serta ibu pak Graf yang sudah berusia 87 tahun tetapi wajahnya masih sehat dan segar. Kami mengobrol " gayeng " terutama dengan mamanya dan siang itu saya akan diajak berkeliling Guest Housenya yang sedang dalam taraf pembangunan dan sudah sekitar 60% rampung.

Terletak disebuah area agak " terpencil " di Karangploso, pak Graf yang pensiunan dari Dusseldorf di Jerman ini sudah empat tahun menetap di Malang. " Sebelumnya saya dua tahun di Bali tapi tidak krasan, Bali teramat komersiil, jadi saya memilih Malang untuk menetap ". Dari pernikahannya, mereka memiliki puteri berusia 8 tahun yang bersekolah di Malang  juga. Menemukan sebuah aktivitas dimasa pensiun memang gampang gampang susah apalagi aktivitas yang juga menghasilkan uang. Pilihannya jatuh ke Guest House karena beberapa alasan.

Pertama, bisnis Guest House/GH itu tidak perlu meninggalkan rumah. Kedua, dia suka memasak untuk tamu tamu. Ketiga, memperoleh teman teman baru. Keempat, memperoleh penghasilan, itu antara lain alasannya memilih bisnis GH. GHnya terdiri dari tiga lantai dan total jumlah kamarnya adalah 9/ sembilan kamar. Saya diajaknya menengok kelantai atas yang memiliki view cantik dan konon lebih cantik pada malam hari dan full-moon. Ini belum semua. Saya juga diajak melihat rumah keduanya yang terletak hanya sekitar 25 meter dari GH nya. 

Kedua rumah ini dipisah oleh sebuah tanah kosong berukuran sekitar 400m2. " Kok tidak dibeli saja sekalian tanah kosong ini?", dijawab : " Pemiliknya sedang bertikai, saya menunggu hasilnya ha ha ha... " . Rumah keduanya lebih kecil dari GH nya. Konon ini diperuntukkan bagi tamu tamu yang moslem dan tidak ingin terganggu anjing anjing. 

Rumah kedua ini memiliki sejumlah 7/tujuh kamar dan dapat disewa seluruhnya, tidak satu persatu kamar. 
" Saya memberi rate 300/night per kamar tetapi breakfast tidak termasuk, murah kok cuma 10 ribu per orang ", begitu katanya. " Nanti juga ada spa disini " sambil menunjukkan kepada saya beberapa peralatan yang berkaitan dengan rencana spa nya. " Saya akan siapkan sendiri breakfastnya, bila perlu nasi goreng ..."  katanya.

Oya selama saya berkeliling, selalu diikuti oleh  
" pasukan anjing " nya yang banyak dan gede gede dan mereka membuntuti saya bak kepala sukunya atau saya menjadi seperti " dog whisper " hehe ... Rupanya sikap saya yang " membiarkan " anjing anjing ini tanpa elusan atau sentuhan dan saya hanya secara pasif membiarkan mereka mengelilingi dan membuntuti saya dengan setianya, menggelitik rekan pak Graf untuk mengkritik :

" Saya perhatikan di Indonesia anak anak dan orang dewasa umumnya kurang memperhatikan dan merawat binatang ya, bahkan perlakuan terhadap binatang kadang kasar seperti memukul atau menyepak atau membiarkannya terlantar di jalan jalan, apakah sejak kecil memang tidak didekatkan pada binatang binatang terutama binatang peliharaan? "

Pertanyaan tak terduga ini agak mengagetkan, sebab pada kenyataannya memang tidak jauh dari apa yang diamatinya meski saya lihat generasi angkatan anak anak saya dan " cucu " ( yang belum ada he he .. ) mulai menampakkan perubahan dengan makin banyaknya program program " back to nature " di sekolah sekolah yang pada gilirannya adalah lebih peduli pada alam sekitar dan lingkungan beserta isinya , fauna flora  dan tidak sebatas teori saja.
Maka saya menjawabnya begini :

" Ketidakdekatan terutama pada anjing itu di Indonesia erat kaitannya dengan keyakinan kami meski tidak berarti itu tidak mempedulikan. 

Yang lebih populer sebagai binatang rumahan akhirnya  memang jenis jenis kucing, burung, kelinci dll. 

Saat ini sudah terjadi pergeseran dalam pola didik terutama pada PAUD yang mendorong anak anak sejak dini lebih mencintai lingkungannya, termasuk juga satwanya  dan langsung diaplikasikan dalam kesehariannya .
Misal : tiap anak mendapat tugas membuat cerita tertulis mengenai binatang peliharaannya apapun itu, ayam, hamster, kura kura, ikan dst.dan pada waktu tertentu bahkan binatang itu harus dibawa ke sekolah untuk pertukaran informasi antar mereka. 

Juga semakin banyaknya lembaga lembaga penyayang dan penyelamat satwa tertentu, mulai orang-hutan, kura kura dll. Indonesia dengan segala kekayaan SDA nya terutama satwanya yang bahkan menjadi ikon dunia seperti komodo, sepatutnya meningkatkan program program cinta lingkungan dan satwa lebih intensif sebab mereka juga merupakan harta karun dunia, we know it " ..... ( saya ber kobar2 mengucapkan ini dan rekan pak Graf meng angguk2, entah anggukannya bermakna apa ... )

Pak Graf selanjutnya berharap, bahwa akan banyak nantinya tamu tamu bukan saja domestik tapi juga manca yang berlibur di GH nya karena dia ingin " memamerkan " kecantikan Malang pada dunia, terutama saat purnama dan sunset. 

Sekali lagi saya menerima kritikan yang berkaitan dengan kecantikan alam Indonesia ini, katanya " Mengapa orang orang disini kurang menghargai kecantikan alam yang ada, padahal kami kami sangat mengaguminya?" ... aduhhh, saya menjawabnya agak " sekenanya " tapi tetap " membela bangsa saya " he he : 

" Wahh .. inilah kalau orang itu hidup ditempat yang dikelilingi begitu banyak kecantikan alam, sampai sampai orang tidak lagi menyadari betapa kecantikan yang dimiliki lingkungannya itu bagi mereka yang tidak memilikinya itu sesuatu yang luar biasa, sebagaimana orang memiliki isteri cantik yang banyak mengundang kekaguman orang tapi suaminya sendiri sudah merasa biasa biasa saja he he kira kira begitu?" ... pak Graf terbahak ... lho?

Dengan sebuah janji bahwa saya akan mengirim foto foto mereka via email, saya berpamitan dan menitip salam pada nyonya rumah yang siang itu kebetulan tidak ditempat. Saya dilepas dengan " Aufwiedersehen " yang sepanjang obrolan tadi memang memakai bahasa negara asal pak Graf, juga anjing anjing yang memandang saya dari balik pagar. 

Satu gurauan membungkus kritikan saya pada mereka :
 " Wah .... Anda mengungsi dari Bali karena menurut Anda disana sudah kelewat komersil. Tapi disini Anda rupanya memulai menciptakan Ubud yang sama mahalnya, bagaimana ini? Kalau nantinya diarea ini akan padat turis dan hotel serta segala tetek bengeknya yang sangat berbau komersil, bukankah Anda memindahkan Bali kesini? " ... giliran saya mengkritik mereka, dan jawabannya hanya " Ha ... ha ... ha .... " .......?????

Membuat copy Ubud di Malang bukanlah barang mudah, sebab Ubud sudah sangat mendunia dengan infra struktur yang sudah komplit. Mimpi besar memang diperlukan untuk sebuah perubahan, meski butuh keuletan dan perjuangan keras.

Perwajahan Malang dimasa depan, barangkali juga sedikit banyak akan ditentukan oleh perkembangan pariwisatanya. Adakah kita sudah siap bersaing  dengan arus modal asing yang bakal membanjir disekeliling kita termasuk SDM nya? Pak Graf barangkali hanya salah satu diantara sekian banyak warga asing yang sudah memulai fondasi " penanamannya " di Malang, yakinlah bahwa kedepan Malang akan dibanjiri puluh atau ratus bahkan ribuan " graf " yang lainnya ! ( TH )

Keterangan foto : 
( Photos by : TH )

01. Salah satu sudut view GH.
02. Mr. Graf dan rekan.
03. Sudut lain.
04. Mr. Graf and his mother.
05. Persiapan untuk spa.
06. Mr. Graf's mother.
07. In one of the kitchen.