Selasa, 13 November 2012

Terima Kasih

kepada redaksi kabarindonesia.com atas pemuatan artikel :
" Blusukan ala Jokowi " 
dan  
" Malaysia, Ganyang Saja ! " , serta " Lapor Melapor Antar Petinggi " , 
mudah mudah mudahan saya dapat memenuhi apa yang menjadi harapan redaksi, 
sekali lagi terima kasih.

Senin, 12 November 2012





Dialog Panjang Mencari Dewa Ruci


Kembali ke Malang, kembali macet, kembali ruwet. Ruwet? 
Ya, dan mencari sebuah tempat untuk mengurai keruwetan  akhirnya pilihan jatuh di rumah seorang pangeran muda, namanya Pangeran Muda Resto, 
dijalan utama Soekarno Hatta. 
Senin siang tadi sepi, jadi pas untuk " mendinginkan temperatur " yang sejak kemarin malam bak " sunday night fever ".

               Saya suka nuansa wayang di resto yang satu ini. 
Didinding sebelah belakang, seluruh tembok dilukis dengan
Kebetulan tokoh ini adalah favorit saya. 
Buat saya, karakternya sangat keren. Bima berbicara hanya bila perlu, tetapi bicaranya sangat lah wise . Juga dalam bersikap, Bima tidak pernah berlebihan, kharismatik tanpa bermaksud tebar pesona, dan berwibawa 
tanpa gila hormat dan atau  popularitas. 

Waktu kecil duluuuu, saya dibesarkan dengan buku buku dan falsafah wayang. Mahabharata yang berjilid 40 saat itu 
misalnya , saya lalap habis saat masih SD. 
Saya terpana terutama pada episod Bharatayudha nya, 
dan Bhagavad Gita adalah bagian yang paling membekas hingga detik ini. 

Kebimbangan seorang Arjuna menghadapi saudara saudara sedarahnya, ada eyang, guru, paman,keponakan, sepupu dll  dimedan perang, telah disadarkan oleh Kresna yang  menjelma menjadi Betara Wisnu agar melihat peperangan  ini tidak secara  an sich melainkan 
sebagai peperangan antara 
Kebenaran melawan Keculasan.

Lamunan saya dari padang Kurusetra terputus ketika pramusaji menanyakan menu pilihan saya. Menu siang hari agaknya yang paling pas adalah ikan dan sambel. 
Bersama saya adalah teman berdialog yang bakal mencoba membantu saya mengurai benang kusut. Besok pagi saya sudah pasti akan " dicecar " dalam reuni yang setengah 
" dipaksakan " dan saya mencoba mengurainya 
sebagian pada siang ini sebelum saya " diadili " teman teman  saya, I know ..   

Maka sepanjang makan siang, dialog yang terurai itu setelah disingkat kurang lebih begini :


( * )     : waa .. kelihatannya berimbas ke fisik ya, kurusan ..

(@)     : ya dan tidak, mungkin banyak jalan jadi lebih langsing hehe..
( * )    : ok, saya paham, tapi kenapa kok masih bertahan atau tepatnya dipertahankan  ?
        (@)     : dua2nya tidak. lebih tepat mungkin " sedang dicari solusi yang terbaik " nya
( * )     : apa begitu sulitnya sampai begitu lamanya belum ketemu ketemu solusinya?
(@)     : kalau ini masalah bisnis, barangkali sudah lama rampung. ini menyangkut     rasa, dan kita tidak dapat  memati hidupkan rasa seperti mesin cuci.
(  * )   : ok, dimana kira2 kendalanya diluar masalah rasa tadi?
(@))   : masalah terberat selama ini adalah komunikasi.
( * )    : lo dijaman seperti ini? 

(@)    : bukan jamannya yang salah tapi sikonnya karena  belum pernah klop atau tepatnya pihak ybs belum pernah beritikad membuka dialog, padahal dialog ini 

dengan segera akan bisa mengurai kekusutan dan seluruh kesalah pahaman akan teratasi. 
juga publik, 
sebab opini yang terbentuk sudah terlampau jauh melompati kenyataan yang sesungguhnya . 
tidak tahu lagi bagaimana karena dialog dan bentuk komunikasi yang ada selama ini mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka  yang di RSJ barangkali.

(  * )  : kelihatannya kamu berada ditempat dan waktu yang salah, energimu banyak terbuang untuk ini dan kamu yang sedemikian produktif tiba tiba saja menjadi kontra produktif. berapa lama lagi kamu akan berada disitu? 


lagipula secara fisik kalian sama sekali belum pernah berhadapan, berjabat tangan sekalipun, apalagi bersentuhan. tetapi lihatlah apa  yang publik sudah terlanjur citrakan. 

tolong pikirkan ini, sebab jangan sampai kamu menjadi bulan bulanan sebuah skenario yang tidak kamu ketahui tujuannya.

(@)   : semuanya serba mungkin. tapi kalau ini sebuah keisengan, mengapa bertahan begitu lama dan yang bersangkutan berani " memproklamirkan apa yang  ingin dicitrakannya "secara terbuka di media?


( * )  :  ha .. ha .. ha .. jangan terlalu naif. ( saya merasa tidak enak ditertawakan seperti itu ). semakin lama ybs memanfaatkan medianya untuk men state " relationship " yang dia coba citrakan untuk membentuk opini publik, akan semakin banyak dia mendapatkan simpati terutama dari kaum perempuan dan semakin remuk karaktermu di publik.

           maaf, terdengarnya kasar, tapi saya tak punya kata lain yang bisa menjelaskannya.

(@)   : ...... saya tidak ingin mempercayai itu .. saya tidak melihat alasannya dia melakukan itu apalagi sampai ber bulan2, sebab energi yang dia butuhkan juga tak sedikit ...


( * )   : memang sulit meyakinkan orang yang sudah terlanjur dalam putaran arus . tapi coba kita sederhanakan  masalahmu dan  tolong jawab ini :


" mengapa selama kurun waktu sekian bulan  ini tidak satu kalipun ybs memperlihatkan itikad 
ataupun upaya untuk melakukan dialog langsung meski harus memerlukan mediator mengingat status kalian 
dan 
sepertinya ybs lebih suka memperlihatkan powernya melalui medianya untuk melipat  lipat kamu sesukanya bak karya seni origami ?

sebagai pria, maksud saya pria sejati, harusnya resiko apapun akan berani ditempuhnya asalkan masih sesuai norma yaitu memakai mediator dan ada saksi 
sehingga tidak melahirkan fitnah. 
apa sulitnya sih mengatur sebuah dialog langsung? 
menurutmu bagaimana? "

(@)    : ( saya tidak langsung bisa menjawab ) .. mungkin untuk menjaga agar saya tidak jatuh dalam kesulitan..


( * )    : kesulitan? kamu SUDAH didalamnya sejak lama, kamu sadari atau tidak..


@ : jadi ?
 


( * )    : melihat cara dan bentuk bentuk komunikasi kalian yang selama ini yang sangat
 tidak    normal dan sangat   tidak berimbang serta  semakin memperuncing 
kesalahpahaman  , apa sebenarnya yang masih ditunggu?

(@)       : maksudnya?

( * )    : setiap segala sesuatu yang kita lakukan, haruslah mempunyai sebuah tujuan yang jelas dan ini bukan masalah Gagal atau Berhasil, tapi masalah Keberanian Menghadapi Kenyataan, bahkan yang terpahit sekalipun. 
Datang, Bicara, Selesaikan Masalah, 
soal gagal atau berhasil itu lain. 
Lagipula tidaklah mungkin sebuah relationship dibangun diatas sebuah ketidak jelasan dan ketidak tahuan. 
           
Hanya melalui dialog langsung dan komunikasi yang berimbang dan sehatlah kita akan dapat saling memahami, mengerti  dan mempertimbangkan sesuatunya sebelum 
akhirnya membuat sesuatu keputusan.

Apalagi bila selama proses pertemanan itu sering  terjadi   kekecewaan kekecewaan sepihak,  

pasti ini juga berpengaruh terhadap kelanggengan pertemanan itu sendiri karena tidak adanya kesetaraan kepentingan atau Win Win .

Perasaan Aman dan Nyaman dalam sebuah pertemanan juga penting. Tekanan atau rasa terancam secara psikis 
yang menimbulkan rasa Tidak Aman dan Nyaman, ini juga berperan , 
karena  pertemanan yang sehat  itu harusnya melahirkan Rasa Aman  dan Nyaman. 

Apa yang sudah kamu lakukan selama ini saya pikir sudah cukup karena seluruh upayamu untuk membuka dialog langsung tidak mendapat tanggapan positip. 


Pemujaan dan hujatan plus terkadang bahkan  pelecehan kesemuanya menimpa kamu tanpa kamu mampu membela diri karena media yang dipakainya merupakan perisainya 
dan  dia tidak bersedia keluar dari perisai itu. 

So, apakah ini yang disebut fair? Kamu menjadi TERTUDUH tetapi disisi lain dialah yang memperoleh simpati publikterutama dari kaum hawa. 
Tidak bisakah kamu melihat ini? 
Saya sudah bicara banyak, now is your turn ..

(@)     : .... ( saya tidak mampu menjawab , saya merasa 

seolah baru pulang dan kembali dari sebuah perjalanan sukma bak Bima yang kembali dari pengembaraan mencari  Sang Dewa Ruci ... 
mungkin saya telah menemukan  Air Keabadian  itu atau belum, 
saya akan menemukan  jawabannya nanti  )

Seusai tulang dan duri duri ikan  menghiasi tepian piring saya dan  minuman saya tersisa tinggal dua cm , saya  tinggalkan kediaman sang Pangeran Muda 

dengan berbagai rasa  .. nano nano ..?

Di pintu keluar saya menengok ukiran kayu dari tokoh

Semar, Petruk, Gareng dan Bagong . 
Semar yang jelmaan dewa ini merupakan Tokoh Besar dipewayangan yang meski figurnya sederhana tetapi sangat dihormati karena WISDOM yang dimilikinya ..
 Andai saja saat ini Semar ada disini ... ( th )
            
Keterangan foto :
01. Dewa Ruci  , diambil dari Google, e-wayang.
  02. Lukisan Semar di Tembok Pangeran Muda , Suhat Malang,  Semar, 
diambil dg BB. , maaf, hasilnya kabur, karena saya tidak siap dengan kamera biasa.



Jumat, 09 November 2012

 
terima kasih

kepada redaksi kabarindonesia.com atas pemuatan artikel :
" Angin Malang segar ditubuh POLRI?" dan juga atas komentar dari rekan rekan Wnd, Ruslan Andy Chandra, Ali dan Yusuf.  
semoga kasus ini bisa menjadi trendsetter  dan POLRI kedepan akan semakin trustworthy !

Kamis, 08 November 2012






THE LOST POEMS

Ada halaman baru yang saya tambahkan di blog ini, yaitu The Lost Poems.
Sebenarnya sudah puluh mungkin ratus puisi yang tertulis, tapi tercecer tidak jelas belantaranya, dan semoga bisa saya temukan lagi. 

Sementara itu, puisi puisi yang baru seringkali " mbrojol " tanpa permisi dan bahkan di tempat tempat yang " kurang layak " seperti yang dibawah ini. 

" Bayang Diatas Bangku " itu lahir saat saya tenguk tenguk menunggu antrian toilet ( maaf .. ) disebuah pusat belanja di Bandung , Nopember 2012, 
meski saya tak sedang shopping. 
Saat itulah saya celingukan mencari sesobek kertas dan ditulis dengan bolpoin pinjaman petugas toilet.  

Dan ketika giliran saya tiba untuk masuk WC, saya malah lewatkan karena sudah sampai di baris baris akhir puisi BDB ini. 
Setelah mengembalikan bolpoin dan memotret bangku tempat saya duduk, 
baru saya dengan rasa lapang memasuki toilet hehe .. 

Tapi " sumpah " pembaca tidak perlu repot mencari cari hubungan puisi ini dengan kehidupan saya, sebab itu tidak selalu harus berhubungan atau di hubung hubungkan agar terlihat menyambung nyambung, 
sebab bisa saja sebuah inspirasi muncul karena melihat 
semut, sandal jepit, penyemir sepatu, daun jatuh, penjual bubur ayam dll. 

Dan yang membuat saya menulis BDB ini adalah bangku yang saya duduki dan disebelah saya kebetulan kosong, sesederhana itu saja, tidak ada yang istimewa   
Selamat menempati bangku kosong disebelah saya !


Bayang Diatas Bangku

Jarak dan waktu 
merampas angan hingga bangkrut tanpa sisa
menjelma bahkan bernama pikun ..

Serupa karat karat paku
yang tertancap lelah dibangkuku ..

Jawab saja ini :
masih adakah yang perlu dipercakapkan lagi?
sementara ..
iblis iblis bahagia menari gembira
mendapat kudapan penyebab diabetes ...

Maka,
remuk saja sesengguk yang masih tersisa
biar puas asa mu yang bengis penuh bara
kepak sayap malaikat penjemput
dengan iringan ratap menuju lahat

Hantarkan saja badai itu,
falseto laut nan sumbang adalah musiknya,
menerobos dinding telinga menghancurkan gendang
sementara karang karang menganga menanti mangsa ..
........

Mari ..
aku masih dibangku yang sama,
dan tak hendak kemana mana,
telah gamblang hasratmu,
jemput saja dengan pasukan setanmu,
lampiaskan kesumat itu,
dan aku memang bukan siapa siapa,
dan cuma ini yang aku punya :
asma M U disetiap butir tasbihku ..

 ( Bandung, Nopember 2012 / th )

Keterangan foto :

bangku kosong itu saya jepret diantrian toilet disebuah pusat belanja, 
Bandung, Nopember 2012. 




 "Paris van Java "

Bicara tentang predikat Paris van Java, ada dua kota di tanah air yang layak mendapatkannya, Bandung dan Malang. namun predikat itu diberikan oleh " penguasa " jaman kolonial karena keduanya memang layak, selain udaranya yang dingin, nyaman, bersih dan view nya yang indah berlembah lembah.

Itu duluuuu ... Bicara Malang saat ini, rasanya predikat itu sudah tidak sesuai.
Malang saat ini lebih pas dengan sebutan kota " baliho, spanduk, ruko, macet, panas, bising, dan polusi tinggi " ... bagaimana dengan Bandung? 

Maka saya yang semasa remaja dulu pernah bergabung disebuah majalah fashion dan musik di Bandung serta beratus kali pp Jakarta - Bandung tetapi kemudian meninggalkan Bandung selama berbelas tahun, dan baru dalam lima tahun terakhir ini mendapat kesempatan menengok Bandung beberapa kali, rasanya Bandung pun mulai berubah . Berubah kearah mana? 

Sempat cemas juga melihat Bandung yang mulai " seperti Malang " yakni penuh dengan baliho, ruko dll. Wow .. dimanakah sebenarnya Paris van Java yang dirindukan banyak orang?

Namun dalam kunjungan ke Bandung kali ini, disisi lain saya masih berlega hati melihat bahwa Bandung ternyata masih mempertahankan cukup banyak gedung gedung maupun bangunan bangunan lama jaman kolonial baik yang bersejarah maupun hunian hunian pribadi. 

Bahkan disebuah jalan yang saya lupa namanya, saya seolah diseret mesin waktu karena 95% disitu masih 
" berwajah tempo doeloe " . Gedung gedung dan rumah rumah pribadi yang berwajah kolonial itu masih terlihat sangat kokoh dengan halamannya yang sangat  luas dan terawat. 

Bahkan saat melewati Gedung bersejarah dimana konferensi Asia Afrika yang melambungkan nama Indonesia dimata internasional, seolah saya masih bisa mendengarkan gegap gempitanya peserta konferensi yang fenomenal itu !

 Saya mencoba hunting foto ke menara Gedung Sate yang konon " serem " tetapi waktu membatasi, sehingga tertunda entah sampai kapan. 
Rasanya dalam hal pemeliharaan dan pelestarian bangunan bangunan bersejarah maupun kuno, 
Malang tampaknya lebih " brutal " karena penghancuran gedung gedung dan hunian hunian pribadi yang jadul dan bersejarah  seolah tidak mempedulikan perlunya kelestarian sejarah 
demi kepentingan anak cucu.

Konyolnya, gedung gedung penggantinya yang " modern " adalah sama sekali tidak memiliki benang merah dengan gedung aslinya sehingga sejarah menjadi terkoyak oleh beton beton gersang yang 
tidak punya nilai apa apa kecuali nilai konsumtif  yang mengajarkan kepada anak cucu 
untuk rajin berbelanja.

Ayooo kembali ke Braga .. 
Jalan jalan saya lanjutkan dengan tujuan ke II setelah hunting foto, yaitu mencari resep resep mamin jadul yang konon masih banyak bertebaran di pusat pusat kuliner Bandung. 
Tuan e.. nyonya rumah membawa saya kesebuah bakery yakni " Rasa Bakery  and  Cafe " yang konon masih menyisakan resep jadul untuk sajian ice cream dan kue kuenya.

Mungkin kalau di Malang bisa dibandingkan dengan toko OEN meskipun cafe ini sudah tertata lebih modern dibagian dalamnya. Terus terang saya kesulitan membedakan rasa jadul dan modern,
 lha " wong " dijaman ini rasa dapat dijadul jadulkan tanpa harus memakai resep asli, tetapi demi menghormati tuan e.. nyonya rumah yang mengundang saya, sayapun memberi compliment pada sajian yang ada didepan saya hehe ...

Hari hari di Bandung saya tidak ke pusat pusat fashion melainkan kuliner, karena tas mini saya juga sudah cukup memenuhi kebutuhan baju dan celana.Seperti biasa, 
yang standar adalah jeans dua lembar, T Shirt dua itupun hitam dan coklat ganti berganti, dua kemeja kotak2 ( pun ini bukan karena Jokowi hehe  ... ) dan dua pasang busana formal.Lho? 
Iya karena agenda saya juga mengharuskan saya menghadiri pernikahan seorang keponakan, maka tidak ada tempat lagi yang tersisa di tas, seperangkat selop dan sepatu sudah memadati sisa ruang yang ada. 

Kamera dan tetek bengek ID cards termasuk paspor tertenteng dibahu. Sepatu atau selop itupun 
" terpaksa " dibawa, karena saya terlanjur " dikontrak " sebagai MC dipernikahan itu, termasuk  " kontrak " lain yang sudah menanti saya yaitu MC ( lagi ) dipernikahan keponakan yang lain 
di Malang akhir Nopember ini.

Lagi laris? Sebenarnya saya sudah menolak keduanya dengan alasan :
" cari yang masih kinyis kinyis wong MC manula itu  tidak menarik " dijawab : " yang muda ngga punya vocal seperti yang manula dan ini masalah jam terbang " , waa bisa aja menggombali saya ..
 ( Yang terjadi kemudian malah " MC Plus " yaitu saya beri bonus kepada mempelai dengan satu nomor jazz Misty, sebagai ganti kado saya hehe ... ) Kalau bukan keponakan2 sendiri saya tidak bakal memberi bonus, 
" sumpah " ! ( sumpah apa nee hehe ... )



Lho ngelantur lagi? Sampai mana tadi? Oya wisata kuliner saya lanjutkan esoknya di Atmosphere Resort Cafe, Lengkong Besar 92. Sebetulnya ini kali ke 3 saya kesana. 
Yang saya suka memang atmosphere nya, sesuai namanya. Bangunan serba kayu  ini ditunjang oleh arsitektur nya yang memang sangat artistik plus live-music nya yang 
80% adalah lagu2 masa kini.

Selama mereka masih berkutat di lagu2 dari Sammy, Glenn, Afgan, Tompi, Pinkan, Agnes dll saya masih nyaman kecuali ketika sudah mulai menyeberang ke Korea, 
saya tiba2 merasa " tua " alias mulai merasa 
" tertinggal " hehe ...Tak banyak yang bisa saya uraikan tentang menunya, 
kecuali dengan satu kata " as usual " , skala 1 -10, ada di 7.5 ...
 Di meja saya ada daging sapi, ikan laut dan ayam plus salad dan lalapan, jadi apa yang bisa saya jelaskan kecuali atmospherenya yang memang layak diacung jempoli? Untuk atmosphere adalah 8.5.

Hummins Bird adalah lokasi kuliner yang berikutnya  dan terletak dikawasan padat kuliner. 
Mencari tempat parkir  adalah salah satu tantangan nya. Tapi demi sebuah pengalaman kuliner , saya rela ber sulit sulit memarkir kendaraan. Terus terang mengemudi di Bandung  membuat saya menjadi lebih 
" jinak " karena kurang memahami medan plus keingin tahuan tentang Bandung membuat 
saya sebenarnya lebih suka menjadi penumpang daripada pengemudi hehe ..

Cafe yang satu ini punya keunikan. Mirip memasuki sarang burung , disebelah luar cafe kita langsung sudah disuguhi bangunan mirip sarang walet. Ruang yang di sebelah dalam dinding2nya terdiri dari puluhan sangkar burung yang tertata unik. Dan burung burungnya adalah kita, para pengunjung hehe ..

Menu ditulis diatas " sabak ", sejenis papan hitam yang biasa dipakai anak anak sekolah jaman dulu, bisa dibilang " iPad Jadul " hehe .. Saya lihat hampir semua sudut dan meja terisi penuh dan 
suasana memang ramai mirip sarang burung dimusim kawin.

Tiga macam menu terhidang, satu ala Thailand, satu Eropa dan satu lokal. Sayangnya tidak satupun berbau aroma burung, mungkin saya ( lagi2 ! ) kurang pandai memilih menu yang khas Hummins ? Mustinya saya memesan sup burung walet atau steak puyuh ..

Wisata kuliner berikutnya adalah jajanan PKL. 
Jangan ditanya, sebab disoal rasa mereka mungkin lebih jawara.  Beberapa hari di Bandung saya diserang dengan sarapan yang khas Bandung secara bergantian : lontong sayur, tahu lontong , batagor dan tentu saja bacang Bandung. Terus terang saya merasa lebih akrab dengan menu menu ini karena selain rasa,
 juga saya bisa santai menikmatinya tanpa melepas pijama tidur saya hehe ...


Diantara hari hari penuh petualangan kuliner itu, saya juga menjalani petualangan " spiritual " melalui musik  yang bak  sebuah obat ajaib 
musik mampu " menyembuhkan " . 

Ya, tiada hari tanpa musik, dan sebagai salah satu anugerahNYA yang terindah kepada peradaban manusia, musik telah sedemikian menyatu dalam denyut nadi saya 
( waaa ...... kok jadi ngelantur lagi? ) .


Didukung mereka mereka yang penuh bakat didekat saya, 
hari hari penuh musik di Bandung itu akan saya kenang sebagai " terapi indah " hehe .. Bagaimana tidak, " wong " bangun pagi sudah ting tong, 
sampai mau tidur malam juga masih ting tong .. 
andai saja dunia dipenuhi suara musik dan bukan suara amunisi dan roket roket ...

Meninggalkan Bandung menuju ibukota melewati Puncak sayangnya  tidak tampak kecantikannya karena ditelan awan gelap sunset . 
Ada sederet nama yang saya ingin sampaikan terima kasih atas kemanjaan yang diberikan kepada saya selama di Bandung, ini : 
mbak Nunik, Irene, Dwiky, mas Bagus, pak Asep, pak Rahman, mbak Mi, dan Anggie berikut lima kucing yang manis manis .. 

" Bila awan gelap masih saja bergantung dan murung , 
semoga selimut malam akan menepisnya di fajar pagi " .. (  th  )

Keterangan foto ( all taken by th ) :

01. Papan nama pusat belanja Paris van Java
02. Salah satu sudut di Paris van Java
03. Shopping area Paris van Java
04. Evita Peroni, terinspirasi nama Evita Peron " Don't Cry For Me 
       Argentina " ?
05. Jembatan di tengah kota
06. Hummins Bird Cafe, salah satu tempat hangout yang asekkk ..
07. Steak ala Hummins Bird
08. Card Menu, dari " sabak " alias " iPad jadul "
09. Studio musik pribadi
10. Du ( you )
11. Rasa Bakery
12. Salah satu minuman khas di Rasa Bakery
13. Pastry di Rasa Bakery
14. Atmosphere Rasa Bakery












Rabu, 07 November 2012





" LELA LELE " di Jungle City

B o g o r   bulan Nopember, tidaklah berlebihan disebut sebagai Kota Hujan karena saya juga sempat mendapat jatahnya dan kebingungan 
ketika pagi2 semua baju dan celana yang sedianya mau dipakai 
ternyata basah kuyup.
" Iya disini suka hujannya malam malam .. " , kata si tuan rumah, waaa .....

Kedua, setelah muter muter di 3/4 kota Bogor, juga tidak berlebihan kalau saya menyebutnya sebagai Jungle City karena Bogor masih punya kehijauan 
yang di kota kota lain mulai punah, setidaknya di pulau Jawa. 

Bukan saja karena " virus " Kebun Raya nya yang menyebar kehijauan, 
tapi memang Bogor nampaknya dibangun untuk tempat peristirahatan para petinggi Belanda dimasa lampau dan didesain diatas kawasan belantara. 
Dan sisa dari sejarah hijau itulah yang masih bisa dinikmati hingga saat ini
di sebagian area.

Bahkan ketika saya membandingkan dengan kota saya, Malang, rasanya Malang sudah berubah menjadi kota spanduk dan baliho disamping ruko dan kehijauannya berganti dengan beton beton. 

Bicara Bogor sebagai tujuan wisata, memang ada beberapa alasan. 
Kebun Raya yang masih terpelihara, Istana Kepresidenan di lokasi yang sama dan juga masih kokoh berdiri dengan ratusan kijang dihalamannya, 
adalah atraksi klasik yang sejak saya kecil hingga manula ini 
tidak pernah membosankan.



Nama presiden I kita, Soekarno, dengan riwayatnya  yang sangat lekat dengan Istana Bogor, adalah bak " mimi lan mintuna " . 
Romantisme sejarah keduanya menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa Indonesia terutama di awal awal menuju dan sesudah kemerdekaan RI.

Nama Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran juga merupakan " trademark " yang sulit terpisahkan dari kota ini. Dan dalam penelusuran sejarah berdirinya Bogor, tercatat bahwa sejak abad XV ternyata kota ini sudah ada. Jadi dapat dikatakan Bogor adalah salah satu kota tertua didunia.

Dalam perkembangan kota kota besar ditanah air dimana Jakarta sebagai etalase republik ini, nampaknya Jakarta sudah mulai " kewalahan " menampung hasrat warganya akan kehijauan dan udara segar yang mulai hilang di ibu kota tercinta ini. 

Maka disetiap akhir pekan, ribuan mobil mobil ber plat B, nampak parkir di cafe cafe ataupun resort yang tertebar diseantero Bogor. 
Sulitnya mencari secuil tempat parkir juga saya alami dan mengharuskan saya berjalan sekitar 150 meter ke tempat makan yang akan dituju. 
Sampai " segitunya " ... ? Iya dan ini masih belum seberapa daripada tidak mendapat tempat sama sekali.

" Sekarang ini Bogor menjadi Bandung ke II karena orang2 Jakarta menjadikan Bogor sebagai tujuan wisata kuliner akhir pekan ... ", jelas si tuan rumah pada saya yang " celingukan " mencari tempat parkir .. 

Lalu kemana orang Bogor nya sendiri diakhir pekan? " Ya banyak juga yang ke Jakarta, kan enak jalanan lancar kesana dan pulangnya juga hihi ... " , masuk diakal .. Demikian nampaknya kehidupan, 
" wira wiri " mirip semut semut yang berjalan kesana sini membangun sejarah .. hehe ..

Untuk membuktikan Bogor sebagai tujuan wisata kuliner, saya ikut ikut an "wira wiri " mencari yang khas Bogor dan yang tidak khas tetapi populer.
Contoh yang khas : Asinan Bogor dan Es Duren. 

Keduanya memang okay dan 
saya beruntung bahwa di Malang pun saat ini saya bisa mendapatkannya. Biasanya ada mobil VW yang parkir dijalan Semeru , Merbabu atau Raya Langsep dan  Soekarno Hatta  menjual asinan Bogor meski pada hari2 tertentu mobil ini pindah ke Simpang Balapan. 
Ck .. ck .. hafal betul saya dengan lokasi2nya sebab si penjualnya juga sudah menghafal saya saking seringnya beli he he ...


Setelah bertemu asinan yang dihitung sebagai " makan pagi " maka perjalanan lanjut kesebuah kedai kecil yang tersohor dengan ikan lelenya. 
Lele Lela. 
Sambil menunggu pesanan tiba di meja, saya baca poster poster didindingnya yang salah satunya adalah penghargaan plus cuplikan artikel koran tahun 2010 yang menyebut Lele Lela masuk sebagai hidangan Istana Kepresidenan.

Saya penasaran kira kira seperti apa rasa hidangan istana ini? 
Maka ketika pesanan2 tiba, terjawab sudah penasaran saya dan saya hanya tinggal mengiyakan saja bahwa memang Lele Lela layak masuk istana hehe ..

Kudapan kudapan atau cemilan khas Bogor juga sudah penuh di tas, 
dan diputuskan untuk  " menunggu saat makan malam " sambil mengitari kota dari sisi lain yang kurang populer yakni melihat kawasan perumahan perumahan baru.

Saya tiba tiba saja merasa cemas, dibeberapa lokasi perumahan baru yang didatangi ternyata begitu " tandus dan panas " karena ketiadaan 
pepohonan dan kehijauan, kontras dengan suasana rumah rumah kuno peninggalan jaman Belanda di Bogor yang begitu adem ayem, hijau, rimbun dan asri serta nampak sangat menyatu dengan sekitarnya.

Apakah pembangunan kawasan2 baru ini sebuah kemajuan atau sebaliknya?


Jam makan malam akhirnya tiba juga  setelah seharian menelusuri kota hujan ini. Berputar putar mencari yang " terbaik " dari sekian banyak pilihan yang sangat baik adalah tidak mudah sebab masing masing 
memiliki nilai plusnya. 

Akhirnya sebuah bangunan dengan desain etnik , menarik untuk disinggahi dan letaknya yang dipojok menawarkan tempat parkir yang cukup luas.  
Namanya " de Leuit " . 

Bangunan luas bertingkat 3 dan khas Sunda ini diperkirakan mampu menampung sekitar 300 - 400 tamu dan menu menunya ternyata tidak hanya resep lokal tapi juga internasional. 
Meja meja didekat saya bahkan malam itu disesaki oleh tamu tamu bule yang entah turis atau expat. 

Dari skala 1 - 10, rasa dari menu pilihan meja saya malam itu saya nilai 75 . Standar? Tidak juga, tetapi saya memang sempat sebelumnya berharap akan sebuah " surprise ala de Leuit " yang mungkin terlewat tidak 
saya pilih dari daftar menu, sehingga saya harus " menunda " 
memberi nilai lebih hehe meskipun es buaya yang saya pilih terbilang lumayan 
( sedikit koreksi, tertulisnya memang buaya, meski sebetulnya adalah potongan2 tanaman lidah buaya  hehe ... )


Saya tidak tahu berapa lama lagi Bogor akan mampu bertahan terhadap hantaman " modernisasi " dan pendatang2 dari luar Bogor yang berpotensi mengubah Jungle City ini menjadi kota sahara? 

Jumlah kendaraan dan penduduk serta perumahan2 dan ruko2 plus mall mall yang makin bertambah, arus pengunjung diakhir pekan, pengurangan kawasan hijau untuk pembangunan fisik kota, dll yang semuanya mempercepat perubahan Bogor dimasa depan .. 

Semoga saja Jungle City ini masih akan mampu menahannya dan
mempertahankan kehijauannya ! ( th )

Keterangan foto : 

01. Salah satu sudut Kebun Raya Bogor, foto diambil dari Noni dan  Agu 2012, 
       google.
02. Istana Bogor, foto diambil dari Noni dan Agu 2012, google.
03. Pecel Lele ( taken by me )
04. Salah satu menu de Leuit ( taken by me )
05. Sholat di masjid salah satu perumahan ( taken by me )