Sabtu, 20 Februari 2010

YOGURT CORNER " YOGLEO "




For yogurt lover, the Milk House " YOGLEO " in Oro Oro Dowo market , Jalan Guntur, next to city-lung, Hutan - Malabar, can be the right place to relax after school. Vanilla, melon, strawberry etc are some of their yogurt variety taste. Besides, they also offer you burger and mariam-bread with many kind of topping for small hungry. Prices? Starting with Rp. 5000,- . Suitable for students 
pocket !.
Open daily from 09 - 17.00, Sunday is closed.

 So let's start the day with a glass of yogurt!


( Photos by : TH )

Jumat, 19 Februari 2010

" Hangout" cara sehat?







Pulang sekolah atau kerja, pada cuaca terik ataupun hujan, rasanya tempat mojok yang satu ini boleh dicoba. Buka hanya sampai sekitar jam 17.00 , jadi memang lebih pas buat yang tidak suka keluyuran malam hehehe... Lagipula menunya bisa membuat badan lebih sehat dan pastinya : langsing, karena masam masam segar : Y O G U R T !!

Menyebut dirinya " YOGLEO ", Milk House, merupakan salah satu tempat nongkrong khusus minuman yogurt dengan aneka rasa. Mulai vanilla, melon, strawberry, dan macam macam lainnya. Yang suka ber soda soda bisa menambahkan soda, dan rasanyapun makin yummy....! 

Makanan ringannya lumayan beragam, mulai burger, roti mariam, kentang goreng dan lain lain, pokoknya pas banget sama yogurt. Harga? Terjangkau, setidaknya buat anak anak sekolah, mulai Rp.5000,-

Lokasi? Disebelah kiri belakang dari pasar Oro Oro Dowo, dekat dengan hutan kota Malabar daerah jalan Muria dan Guntur. Jam jam pulang sekolah banyak anak anak berseragam mulai TK sampai SMA nongkrong disini. Yang pulang kuliahpun tidak ketinggalan.

Dulunya tempat ini terkenal dengan susu segar aneka rasanya. Dalam perkembangannya ternyata yogurt cukup banyak diminati masyarakat Malang, maka lahirlah pojok Yogleo ini.

Bila Malang memiliki banyak cafe cafe Yogurt, tidak ada salahnya mencoba yang satu ini. Sambil belanja di pasar OOD, sesekali mampir di Yogleo ( saya sering hampir kepleset mengucapkan kata Yogleo keliru YODLE , yaitu tradisi dikalangan petani petani Eropa biasanya menjelang panen untuk membuat pesta rakyat . Salah satu atraksinya adalah ber YODLE yaitu bernyanyi dengan teknis tertentu yang sangat khas. Kita pernah mengenal lagu Gembala Sapi, nah pada bagian refrainnya : yokulei yokulei yokulei..... yo yo kulei iiii..yo kulei dst...kira kira itulah Yodle !

Hangout cara sehat disiang hari? Cobalah Milk House, Yogle..!
( Sayangnya kalo hari Minggu tutup ) .

( Photos by : TH )

Kamis, 18 Februari 2010

The Peacefuly Perfomance of The Maestro : Karimoen.










Sunday, February 14, 2010, Valentine and Chinese New Year were luckily on the same day ! Cheerfuly faces everywhere.....On the same day at 20.00 pm, in a small village about 20km south of Malang, Kedung Ombo, Pakisaji, villagers were on a deep mourning, every body was crying.. One of the villager, Karimoen, 110 years old mask-artist has died. Karimoen was not only belongs to Kedung Ombo, but also Indonesia.


Karimoen or more populer with " Mbah Moen " was an extra-ordinary and modest personality who dedicated every single drop of his blood to glorify the Malang-mask-art both the mask-dance and the mask-carving including its philosophy.


He spent the whole of his life to introduce and develop mask-dancing and carving in his own style. We can say Kedung Monggo style, Karimoen style. His unbreakable spirit to develop this mask-art was admirable , even when he must stayed in wheel-chair and bed since 1995 after the unexpected accident. His hard-working in mask-art had won a special-award from Indonesian government in 2009 and also MURI.

In fact, Malang actually also has another mask-village, where we can found several great mask-artists like : mbah Rasimun ( alm ), mbah Jakimin, mbah Gimun and Soetrisno. But still, Karimoen remained as an unique artist among them. His charisma in performing Klono Dance for example, was always the outstanding one. Also his magnificence talent in mask-carving and " ngendang " ( a Javanese music instrument to accompany people to dance ) .

Karimoen was buried down by the small river and shady valley in Karangpandan, Pakisaji, Malang, East Java. A very green and peaceful area. His dreams should be maintained and developed by his children, grandchildren, students and everybody who love traditional-art, no matter if you are black or white... His totaly dedication towards the tradition, culture and art should inspired everybody to do the same to keep the world always in its beautiful spirit and peace .
May GOD give mbah Moen the best stage to perform his eternally mask-dance. Amen.


( Photos and Indonesia-version of this article can be seen on the same blog ) :


01. The burial of mbah Moen ( taken from : Foto Antara/Ari BowoSucipto/Koz/mes/10 )
02. Mak Yam, Siti Mariam, Karimoen's second and last wife, whom Karimoen married since 1986, with her longblack hair 
( Photos by : TH )

Rabu, 17 Februari 2010

" Selamat Jalan Mbah Karimoen, Sang Maestro...! "


Rabo, 17 Pebruari 2010, mulai pagi sampai siang hari saya menyediakan waktu khusus ke Kedung Ombo, Pakisaji, sekitar 20 km kearah Malang selatan. 

Terakhir kali saya kesana sekitar hampir setahun yang lalu. Tujuannya hanya satu : ziarah ke makam mbah Karimoen yang wafat hari Minggu tanggal 14 Pebruari 2010 jam 20.00 yang lalu dan silaturahmi ke keluarganya terutama mak Yam. 

Jadi saya memang sudah terlambat tiga hari. Alasannya karena Senin yang lalu saya harus ada di Surabaya untuk sesuatu urusan.

Untuk masyarakat Malang, nama mbah Karimoen sudah menjadi salah satu ikon kota Malang. Populernya : mbah Moen. Seniman tulen yang otodidak ini merupakan pesohor didunia seni topeng khas Malang atau disebutnya topeng malangan. Meski tidak dipungkiri bahwa Malang juga memiliki seniman seniman topeng lain seperti yang ada di Dusun Glagahdowo, Tumpang, sekitar 15 km arah timur dari Malang. 

Disana kita bisa temukan nama nama besar seperti Mbah Rasimoen ( alm ), mbah Gimun, mbah Jalimin ataupun Soetrisno.
Tetapi berbicara tentang mbah Karimoen memang punya sisi unik lain . Konon Tari Klono nya teramat sulit tertandingi karena kegagahannya dalam melakonkannya diatas panggung. 

Dan mbah Moen ini selain mengajar tari serta mengukir topeng, juga ahli memukul kendang mengiringi para penari topengnya. Dimulai dari jaman penjajahan hingga merdeka dan hingga saat wafatnya, memang liku liku hidupnya penuh kepahitan meskipun dilakoninya dengan iklas dan sabar sebagaimana falsafah Majek, Mapek, Megeng dan Mengku nya.

Wafat diusia 110 tahun adalah sebuah " bonus " yang tidak diberikan kepada setiap orang, meskipun 15/ lima belas tahun terakhir lebih banyak dihabiskannya diatas kursi roda dan pembaringan akibat kecelakaan tabrak lari ditahun 1995. Tetapi bukan mbah Moen namanya kalau begitu saja menyerah dengan kondisi yang penuh tekanan itu. Nyatanya dalam sakitnya mbah Moen masih ingin tetap eksis dan berkarya

Bahkan ditahun 2009 ditemani isteri setianya yang populer dengan sebutan mak Yam yang juga seorang seniman, mbah Moen masih berangkat ke Jakarta untuk menerima penghargaan dari pemerintah RI atas pengabdiannya yang luar biasa dibidang seni dan budaya.


Sebelum mengunjungi makamnya, saya lebih dulu ingin menjumpai keluarganya terutama istrinya, mak Yam, dirumah mereka yang terletak di kampung Kedung Ombo. Di Kedung Ombo yang merupakan " kerajaan " mbah Moen inilah seniman topeng ini membangun dunianya.


Rumah sederhana seperti pada umumnya rumah rumah desa ini masih menyisakan aura duka dengan tumpukan kursi diterasnya serta tamu tamu yang masih silih berganti. Disana juga ada sanggar tarinya, Asmoro Bangun, serta panggung tempat pementasannya.

Kesan sederhana mencuat dari sanggar ini, tetapi siapa mengira dibalik kesederhanaannya ternyata nama mbah Moen dan sanggarnya sudah mendunia. 
Di panggung inilah tetes tetes keringat mbah Moen dan para seniman topeng Kedung Monggo ditebarkan yang kemudian menjelma menjadi aroma wangi keseluruh penjuru negeri.


Tampak sebuah baliho besar terpampang didekat sanggar, disitu tertulis antara lain agenda pentas dari sanggar mbah Moen , Asmoro Bangun, yang saat ini lebih banyak di kelola oleh kerabatnya yang sudah berbeda generasi.

Dan hanya berjarak sekitar 15/lima belas meter dari rumah mbah Moen, saya melewati salah satu galeri topeng disitu.
Bangunannya mirip gudang, penuh tumpukan kayu kayu bakal topeng. Seorang pengrajin topeng tampak asyik menatah dan mengukir sebuah topeng. Tidak lama kemudian dari rumah sebelahnya muncul mas Handoyo , yang merupakan salah satu pengelola sanggar. Seorang gadis manis yang ternyata seorang penari topeng , ikut mengobrol bersama kami. Rasanya kampung ini memang ditakdirkan untuk dihuni oleh seniman seniman tari dan ukir topeng.


Setelah itu akhirnya, saya bertemu juga dengan keluarga terdekat mbah Moen, mak Yam, Siti Mariam, isteri terakhir mbah Moen yang dinikahinya tahun 1986. Konon merupakan isteri kedua meski mbah Moen sebenarnya beristeri tujuh, maksudnya bila ditotal semuanya berjumlah 7. Keadaanlah pada saat itu yang menjadikan pernikahannya jatuh bangun. 

Perjumpaan dengan mak Yam lebih merupakan reuni. Saya sudah berusaha untuk tidak menangis tetapi justru mak Yam yang mendahului. Bagaimanapun bagi saya, rumah dan sanggar mbah Moen bukanlah asing. 

Pertemanan kami sempat melahirkan kerjasama dimana kampung dan sanggar mereka secara periodik mendapat kunjungan rombongan tamu tamu asing dari berbagai negara yang saya bawa dalam bentuk rombongan2 kecil disaat pasang purnama atau so called " moonlight-traditional-dance-show " ...

Membawa rombongan bule bule bukan perkara mudah sebab sanggar tari mbah Moen belum 
" ber infra struktur " yang memadai untuk sebuah pagelaran yang mengundang tamu tamu asing. Contoh kecil : kamar kecil yang ber WC duduk, snack yang " higinis " dll. 

Tidak kehilangan akal. Saat itu saya upayakan semuanya sesuai tuntutan tamu , misal saya sediakan pisang godok, kacang godok dan jagung godok dengan pincuk daun pisang karena semuanya masih dibungkus kulit sehingga pasti higinis. 

Nyatanya para tamu memang senang dengan tampilan " jajanan ndheso " yang khas ini. Upaya ini bukan semata " menjual " Kedung Monggo dan mbah Moen, tetapi lebih didasari oleh panggilan hati yang " nelangsa " melihat betapa seniman seniman tanpa pamrih ini harus berjuang hari demi hari untuk tetap bisa eksis.

Menunggu saja hingga orang datang untuk belajar seni topeng tentu bukan solusinya, betapapun para pekerja seni ini memiliki keluarga yang harus tetap dikepulkan asap dapurnya. Maka ketika internet belum dikenal saat itu, upaya upaya memperkenalkan karya karya mbah Moen cs dilakukan secara manual alias door to door. 

Tamu kami jemput satu persatu, fungsi dirangkap rangkap, ya driver ya guide ya EO pokok serabutan, yang penting kekayaan seni budaya Malang ini dapat dikenal luas dari mulut ke mulut terutama oleh para tamu mancanegara....!

Sayang sekali saya ketika itu harus meninggalkan Malang untuk bekerja di Surabaya selama beberapa tahun, sehingga kerjasama ini terputus, padahal paket paket pagelaran topeng kala itu sudah mulai banyak diminati. Saya sungguh merasa bersalah. Apalagi kalau saya ingat betapa melimpah ruahnya penonton yang memadati area sanggar pada setiap pasang purnama, rasanya saya adalah orang yang tidak bertanggung jawab terhadap mbah Moen dan teman temannya.

Tetapi saya masih sempat menularkan kiat kiat berpromosi pada tim mbah Moen antara lain melalui pendistribusian brosur brosur sanggar mbah Moen yang sudah dipersiapkan dalam dua versi, Indonesia dan Inggris dalam bentuk paket paket tur ke Kedung Ombo. Maklum internet saat itu belum dikenal. 

Atraksinya? Menyaksikan pagelaran tari dan seni ukir topeng dari keluarga besar mbah Moen disamping menikmati suasana dan keramahan warga desa Kedung Ombo disaat pasang purnama.

Kenangan inilah yang merekatkan kembali mak Yam dan saya hari ini, dimana kami tenggelam dalam sentimentil ketika teringat saat saat mbah Moen masih ada ditengah kami. Misalnya, kesibukan kesibukan kami menggodok jagung, pisang dan kacang didapur mbah Moen menjelang pagelaran ketika itu, kemudian kesibukan kesibukan saya meng " oprak oprak " para penabuh dan penari agar bisa muncul di panggung tepat waktu ( maklum seniman umumnya paling susah tepat waktu ) 

Juga keramaian keramaian anak anak desa terutama yang balita dipinggir pinggir panggung ya ber kali kali harus saya tenangkan karena tamu tamu bule mulai merasa terganggu tidak bisa fokus menikmati atraksi panggung, dan lain lain seolah kembali berputar didepan mata... Begitu cepatnya waktu berlalu.

Mak Yam atau Siti Mariam yang semula berbusana jilbab ketika saya datang tadi, tiba tiba berdiri dan permisi untuk sebentar berganti baju. Saya kaget ketika tidak sampai 3 menit dia sudah keluar memakai celana jean dan TShirt hitam bergambar Soekarno sebagai idola mbah Moen. " Ayo.. saya di foto ya, saya mau nari.....!, katanya serius.

Sebuah topeng berwajah putih dipasangnya dan sebentar kemudian badannya yang masih langsing diusianya yang sudah 59 ( ! ) itu tampak begitu gagah dalam gerakan gerakan yang artistik. Prat..pret..prat..pret.... saya tangkap momen momen itu. Putri mak Yam sempat membisiki saya :
" Itu gerakan gerakan karangan ibu saya sendiri " . Namun buat saya, setiap karya apapun selalu dimulai dari " karangan karangan", jadi sah sah saja..

Tapi tiba tiba saja mak Yam kembali masuk kamarnya dan keluar membawa " krincingan " ( semacam gelang kaki yang bergemerincing ) serta langsung dikenakannya di pergelangan kaki nya yang sebelah kanan. Kembali gerakan gerakan gesit dan sigap dipertontonkannya dan sayapun kembali prat..pret..prat..pret..

Ternyata mak Yam atau Siti Mariam ini memang sedang mood untuk menari, entah apa yang 
" merasukinya " ketika tiba tiba dia meminta dipasangkan topeng bapang buatan mbah Moen. Topeng belum sempat dipasang diwajahnya ketika tiba tiba saja mak Yam sudah kembali asyik dengan gerakan gerakan topeng bapang yang seolah menyatu dengan tubuh dan sukmanya.

Saya tidak sia siakan, kembali saya prat..pret..prat ..pret... Tetapi kali ini saya harus dikejutkan oleh hasilnya yang tertampak di monitor kamera saya. Seisi rumah juga ikut kaget. Mak Yam tampak berambut serba putih dan wajah jauh lebih tua, bahkan disalah satu fotonya ada semacam bayangan wajah..

Saya mendadak nervus. Mak Yam mencoba menenangkan diri saya : " Memang bapang itu kan rasa nya mbah Moen, apalagi ini masih tiga harinya... " Lho, saya jadi makin nervus dengan kata kata mak Yam ini..

Dalam perjalanan pulang saya singgah di makam mbah Moen yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Disebuah lembah yang dialiri sungai disebelahnya serta sangat teduh karena penuh dengan pohon pohon tua dan besar seperti di kebun raya. Benar benar sebuah peristirahatan yang damai.

Tampak dua karangan bunga masih ada disana. Beberapa kerabat mbah Moen mengajak saya berkeliling area makam sambil menunjukkan lokasi yang nantinya akan dipakai sebagai tempat pentas topeng yang baru. Dengan kontur tanahnya yang ber lembah lembah, rasanya lokasi ini kedepannya akan bisa menjadi sebuah arena pentas topeng malangan yang fenomenal. Saya bayangkan sinar purnama penuh akan jatuh melewati bayang bayang pepohonan raksasa yang ada disitu, auranya pasti magis...

Saya tinggalkan komplek makam dengan sebuah janji dalam hati. Tapi saya tidak ingin mengurainya disini. " Selamat beristirahat mbah Moen, semoga pewaris pewaris semangat mbah Moen dalam berkarya untuk negeri ini akan dapat melestarikan dan mengembangkan cita cita mbah Moen dalam memajukan seni topeng malangan di kancah nasional dan internasional " .

Juga kepada mak Yam, wanita setia yang penuh dedikasi terhadap suami dan cita cita suaminya mbah Moen ini, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan. Ada sebersit rasa bersalah dalam hati saya, bahwa apa yang sudah pernah saya mulai dulu dengan keluarga besar mbah Karimun ini ternyata tidak saya lanjutkan, semoga masih ada waktu lain untuk menebusnya. Amien. ( TH )


Keterangan foto urut dari atas kebawah : ( all taken by me )


01. Salah satu pohon tua raksasa yang ada di area makam mbah Moen yang
      sayangnya harus dibabat karena konon sudah mati akibat seringnya di
      pakai perburuan tokek.
02. Makam mbah Moen yang masih basah tanahnya dibawah pohon tua
      yang rindang dan dibawahnya mengalir sungai kecil .
03. Jalan setapak menuju makam mbah Moen.
04. Mak Yam sedang memasang krincingan dikakinya.
05. Mak Yam sedang " melayang ".
06. Mak Yam dengan rambut panjangnya yang masih legam tanpa cat.
07. Mak Yam menunjukkan foto2 mbah Moen.
08. Mak Yam dengan salah satu topeng favoritnya.
09. Buku tentang mbah Moen.
10. Mak Yam dengan salah satu topeng karya mbah Moen.
11. Para pengrajin topeng Kedung Monggo yang juga merangkap penari.
12. Seorang pengrajin topeng didampingi seorang remaja penari topeng.
13. Piagam Piagam untuk mbah Moen, dari pemerintah RI dan MURI.
     ( Photos by : Titiek Hariati )















































Sabtu, 13 Februari 2010

" Kado Kado " Valentine..






Ck..ck..ck.. jangan terburu membayangkan hari ini saya mendapat kado atau bingkisan bingkisan Valentine. Apalagi ini budaya impor, yang tidak selalu pas dengan kita, kecuali untuk " lucu lucuan " yang mungkin juga tidak lucu he he...

Tetapi karena jatuhnya pas bareng Imlek, Chinese New Year, maka " terpaksa " kiriman kiriman inbox, telepon maupun sms ya tidak ter elakkan dan sebaliknya, sayapun mengirim kepada beberapa kerabat, teman dan eks kolega. Praktis : satu tembakan dua peluru.

Nah.. yang saya pakai sebagai kartu ucapan di FB saya adalah foto foto masa kecil anak anak saya ( dijepretnya tahun 1987 ) karena buat saya foto foto ini cukup mewakili sukma Valentine yang sungguh saya merayakannya setiap hari bersama mereka ! ( Tidak usah menunggu setiap 14 Pebruari ) .


Dari koleksi ratusan foto yang ada, yang diambil nya pada musim yang ber beda beda, saya pilihkan yang temanya " liebe " sebagai intisari Valentine.

Bagaimanapun, saya berterima kasih kepada yang sudah mengirim ucapan ucapan. Ada juga yang saya ingin kutipkan disini, sebuah sms yang saya terima semalam, jam 23:29, begini :
" Yesterday is a Memory, Today is a Gift, and Tomorrow is Hope, Let's make love flows like water, Happy Valentine Day ! "..................sweet.


Pagi pagi saya lihat di FB rupanya anak anak saya yang sudah pada brewokan ( difoto mereka dihalaman ini masih lucu lucu dan cute .. hehe ) pada nge tag foto foto masa kecil mereka yang saya pasang kemarin.


Yo wes : bagaimanapun saya sudah temukan pesan Valentine yang sebetulnya sangat sederhana tetapi mungkin prakteknya tidak selalu mudah yakni : S H A R I N G, dan itu janganlah menunggu 14 Pebruari, tetapi setiap detik dan saat pintu untuk berbagi dengan sesama harus senantiasa terbuka.

Masalahnya : sudah selalu siapkah kita untuk berbagi , moril materiil ?

( Photos by : TH, Vienna 1987 )

Jumat, 12 Februari 2010

GONG XI FA CHAI


14 Pebruari 2010 bertepatan dengan tradisi impor Valentine, masyarakat Tionghwa utamanya juga merayakan Tahun Baru Imlek yang konon " harus " ditandai dengan hujan lebat dan angin
kencang sebagai pertanda kebaikan. Maka kepada segenap rekan dan teman yang merayakannya disampaikan Selamat Tahun Baru, semoga semakin sukses ditahun harimau ini !!
( Gambar diambil dari : imlekpictures.com )

Kamis, 11 Februari 2010

Terima Kasih







kepada kabarindonesia.com atas pemuatan artikel :
01. Adil, Tidak Adil ?
02. Kursus Facebook Bagi Para Ortu
Sebuah opini atas vonis 18 tahun Antasari dan peristiwa penculikan remaja remaja akibat cinlok FB.

( Gambar diatas diambil dari : iggy1st.wordpress.com/2008/06/02/45 )