Jumat, 09 April 2021




 
.. " Numani Yang Tidak Numani " .. 
ada puluhan kedai bakso di Malang Raya
 bahkan mungkin saja seratus lebih ,
 belum lagi yang berkeliling .
 maka ketika saya melewati sebuah 
kedai bakso baru di daerah Karang Ploso , Malang , saya nyaris tidak tertarik
 untuk melihat atau menjajalnya 
karena di Malang Raya kedai bakso 
yang baru itupun " hal yang biasa " .
 tetapi ketika saya melihat sebuah
 pondok pesantren diseberangnya
 dan saya melihat beberapa pengunjungnya
 yang mengenakan sarung ,
 saya menduga kedai ini mungkin
 milik ponpes tersebut dan 
saya penasaran ingin melihatnya
 lebih jauh . dan sungguh tak ada yang terlalu istimewa kecuali bahwa ada hadirnya 
seseorang yang mirip ustazd masuk 
kedalam kedai dan sontak segenap pengunjungnya meminta berfoto bersama
 " sang tokoh " yang datang dari 
arah ponpes diseberang jalan itu .
ya sudah , sekalipun saya tidak sempat 
mengorek keterangan dari pramusajinya ,
 saya hanya ingin mengamati
 atmosfer dan menjajal sedikit baksonya . 
kalau memang kedai ini ternyata
 berhubungan dengan ponpes ,
 maka sebuah tempat mengasah ketrampilan berwirausaha bagi para penghuni ponpes agaknya boleh dicatat sebagai langkah positif . 
 btw , Numani itu kalau dalam bahasa 
Jawa punya arti " bikin ketagihan " , 
meski sayangnya saya tidak menemukan
 rasa itu setelah menjajal bakso 
dan atmosfernya . 
sungguh bakso memang masalah selera , 
jadi tidak perlu dipermasalahkan ..
 justru yang " Numani "menurut saya adalah untuk membaca lagi tulisan menarik digelas minumannya  yaitu : 
" Diluar sana masih banyak orang yang lebih dari kamu : 
Lebih :
01 . Jelek .
02 . Gemuk / Kurus
03 . Miskin
04 . Galau
05 . Susah
06 . Disukai Abang Debt Collector
07 . Bermasalah
08 . Lapar / Haus
09 . Jomblo
Always be grateful " ... 
Sebuah pesan indah yang saya 
akan selalu rindukan .
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 09 . 04 . 21 )
keterangan foto : 
01 . pesan digelas yang luar biasa .. !
02 . rumah biru Numani
03 . bakso ala Numani
04 . bakso bakar ala Numani
05 . gelas Numani
06 . kursi biru
07 . teras belakang
08 . daftar menu

 
 
 
 
 
 

 " Cintai Hutan Sebelum Hutan Tidak Menyukaimu 
( Wisata Edukasi Oro Oro Ombo ,
 Batu  , Malang )
disatu siang yang cerah saya
 berbincang panjang lebar dengan
 ibu Dwi dari KTH Panderman  
( Kelompok Tani Hutan Panderman ) 
Batu , Malang . 
kami duduk disalah satu gazebo yang
 ada di area luas dari
 Kampung Edukasi Amke KTH Panderman .
( Area Model Konservasi Edukasi ) 
singkatnya , di sini pengunjung bisa
 belajar banyak tentang cara cara 
penyelamatan hutan , sekaligus mengenal tanaman2 hutan maupun 
tanaman2 kebun dan rumahan yang 
mulai langka maupun yang
 masih banyak dikenal . 
 ada berbagai jenis buah2an , sayuran dan
 rempah rempah yang bagi pengunjung berombongan 
( anak sekolah , mahasiswa ,
 umum dll ) akan disediakan 
seorang guide untuk mempresentasikan
 tata cara penanaman dan pemeliharaannya .  
 durian , salak , sukun , rambutan dll
 adalah sebagian dari buah2an yang
 ada disitu . juga tersedia area camping
 dan pengenalan pada permainan2
 tradisionil  ( ini penting untuk anak anak
 bahkan generasi milenial agar 
tidak kehilangan ikatan dengan akar budaya meskipun permainan mereka saat ini
 adalah gadget ) . 
beberapa bangunan yang ada disitu seperti Rumah Jamur , Rumah Batik , dll 
adalah tempat2 dimana pengunjung secara langsung dapat melihat dan mempelajari 
cara pemeliharaan jamur dan
 pembuatan batik , tepatnya 
Batik & Eco Print .
menurut bu Dwi ( lihat foto diatas ini ) area 
ini adalah sebuah alternatif wisata yang
 sangat positif karena anak anak dapat 
bermain main sekaligus belajar
 tentang pelestarian hutan &
 alam sekaligus !
 pembangunan masih terus berlanjut hingga nantinya tembus kehutan pinus
 yang ada disebelah belakang dari area ini .
 saya diundang bu Dwi untuk mencicipi
 Wedhang PORANG yang segar plus 
pisang goreng ! Porang ini menjadi ikon disini karena nantinya tanaman yang khas ini akan menjadi proyek utama di KTH Panderman yang akan didampingi oleh para ahli dari ITS . 
dari tanaman ini dapat dibuat bermacam produk dengan nilai ekonomi yang lumayan . di kedai KTH Panderman ini saya dikenalkan dengan Bakso Porang , Kue Porang , dll yang serba Porang .
( " nikmat Tuhan kamu yang manakah
  yang engkau dustakan ? " ) . 
 puas berbincang dengan bu Dwi yang 
kaya ide ini sayapun mencoba berkeliling 
area dan bertemu dengan seorang petani 
yang menjadi salah satu " patner " 
KTH Panderman
 dalam mengelola area ini . 
" kami memang bekerja sama dengan 
petani2 lokal dan penduduk disini bu ,
 sehingga mereka juga bisa 
menikmati hasilnya . bahkan kami 
menolak investor besar sebab hal itu 
bisa mematikan petani2 kecil .
 kami ingin usaha ini dari dan untuk kami2 
saja agar penduduk lokal dapat
 menikmatinya " . 
 konon MenHut saat berkunjung kesini memberikan apresiasinya .
 bencana memang tidak dapat dihindari tetapi dapat di antisipasi serta dikurangi potensi kerusakan yang ditimbulkannya dengan
 cara cara yang tepat dan seksama .
 nah .. masih lebih tertarik jalan jalan di Mall ataukah mulai mau ikut memikirkan 
pelestarian lingkungan terutama hutan 
sebagai paru paru alam dan lingkungan ?
 jika untuk ngopi minimal kita habiskan
 20 - 50 ribu per cangkir , 
maka tolong sisakan 10 ribu untuk 
tiket masuk ke KTH ini dan 
5 ribu untuk anak anak agar kita 
bersama sama sadari bahwa bencana
 setiap saat mengintai ketika kita abai
 terhadap alam lingkungan kita .. 
 
kebakaran hutan , tanah longsor , 
banjir bandang dll adalah beberapa
contoh kecil betapa
 manusia sesungguhnya adalah 
Perusak Alam yang semestinya mereka 
jaga dan dipelihara dengan baik ..
selamat cangkruk ngopi dan HP an 
tanpa peduli kelangsungan hidup dari hutan hutan disekitarkita ,  hingga satu saat 
segenap cafe2 dan tempat cangkruk yang
 indah2 di lembah2 gunung itu 
tergulung habis oleh kemurkaan hutan ... 
( Writing & Photos : Titiek Hariati, 09.04.21 )
keterangan foto :
01 . wedhang Porang yang jadi ikon
02 . salah satu area konservasi
03 . menuju Area Unit Percontohan
04 . arah hutan pinus
05 . Omah Jamur
06 . Batik & EcoPrint
07 . Bu Dwi , pengelola KTH 
Panderman
08 . gazebo untuk cangkruk
09 .salah seorang petani KTH
10 . papan petunjuk
11 . tempat pembelian tiket masuk    

Kamis, 08 April 2021

 
 
 



 .. " Dua Ruang , Bertetangga Dengan 
Raksasa " ..
 jaman now , nama nama cafe tidaklah
 perlu diperdebatkan . beda dengan
jaman dulu yang nama nama restaurant 
atau warung warung " haruslah "
 taat pada tradisi dan adat ! 
sebut saja nama nama djadoel seperti 
" Rahajoe " , " Soedi Mampir " , 
" Soegeng Rawoeh " , " Soto Soeloeng " dll . 
 maka kalau nama nama jaman now
 berbalik 360* tidaklah perlu heran sebab
 anak anak jaman now diberikan kebebasan penuh untuk berkreasi dan berinovasi !
 sedang pada jaman saya semua hal
 adalah sangat tergantung pada
 Kehendak dan Aturan Ortu !
 naa .. maka muncullah dijaman now 
 cara cara unik bin ajaib didunia kuliner
 baik itu menyangkut nama usahanya , 
produknya , cara pemasarannya dll .
 Bakso Buka Baju , Ayam Nelongso ,
 Mie Setan dll hanyalah sedikit dari 
ratusan nama lain yang aneh2. 
minggu yl saya diundang ngopi seorang
 sohib yang sama2 ber haji 2018 
dengan saya ( meski kami berbeda travel ) 
disebuah cafe dalam perumahan 
Pondok Blimbing Indah , Malang ,
namanya  Dua Ruang . 
" untungnya " nama ini sesuai dengan 
keadaannya yang memang hanya
 ada dua ruang didalamnya . 
tidak banyak yang bisa saya komentari 
karena seperti pada umumnya tempat2
 ngopi seperti itu hanya soal 
" rasa " saja yang membedakannya 
yang konon bergantung pada 
Cara Penyiapan Kopi nya dimana
 satu barista dengan yang lain itu berbeda
 meski secara teori sebetulnya 
( harusnya ) sama .
avogatto misalnya . dicafe A disajikan 
terpisah antara kopi dan ice creamnya . sementara di cafe B langsung
 dicampurkan sehingga kastamer tidak
 dapat menentukan sendiri seberapa
 banyak dia ingin memberikan kopi
 diatas ice creamnya ! 
 sama halnya dengan penyajian 
Vietnam Dripp yang ber beda2 .
 tetapi untuk sekedar ber reuni kecil dan 
bertukar cerita sedikit setelah lama tidak saling bertemu , agaknya Dua Ruang ini sah2 saja 
( sekedar info , tidak jauh dari cafe ini , diperumahan yang sama , ada Starbucks . 
 jadi hanya tinggal masalah selera saja
 ketika kastamer harus memilih
 antara keduanya sebab sebetulnya 
mereka " berkasta " beda )
( yang lebih saya maksudkan adalah
 disegi cara penyajian , rasa dan
 harga serta atmosfer , 
dan bukan terletak pada 
siapa siapa yang datang / kastamernya )  
bagaimanapun saya salut atas 
 " keberanian " Dua Ruang untuk
" bertetangga " dengan raksasa Starbucks , 
karena berkeyakinan bahwa
 " rasa lokal tidaklah kalah
dengan rasa internasional "  ..... !
semoga Dua Ruang tetap bertahan ! 
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 09 . 04. 21 )
keterangan foto :
01 . duo hajjah hehehe ..
02 . sepeda bagian interior atau .. ?
03 . saya suka warnanya saja
04 . selama pandemi selalu saya
 minta penutup gelas meski tak lazim 
05 . barista sedang sibuk
06. entrance , memang cuma dua ruang 
sebelah dalam yang tak besar
 plus sedikit diteras luar tapi panas ..
07 . kasir 
 
 
 
 .. " Rindu Ombak Disaat Pandemi " ..
menahan setahun lebih untuk melihat
 ombak laut sangatlah sulit .
bahkan andaipun saya masih remaja dan
 dalam masa pacaran , mungkin saat ini
 lebih berat kangen saya pada ombak
 dibanding kangen pada pacar ,
 I mean it !
maka ketika cuaca sangat cerah pada
 hari minggu yl , menempuh 190km ( PP ) Malang - Pantai Selatan rasanya 
sangatlah sepadan ! 
 saat itu sebetulnya musimnya liburan 
panjang sebab sejak Kamis ada 
tanggal merah . tetapi entah karena saya kebetulan beruntung , selama 
diperjalanan kok malah berpapasan 
dengan puluh bahkan ratusan mobil
 yang tampak turun dari Malang Selatan ! 
how lucky ! 
 singgah sejenak di beberapa kerabat
di Sumawe saya malah dapat peringatan
 " ramai lho mbak , ini sejak Kamis lalin 
disini padat " . 
tapi dengan berucap 
bismillah saya yakin yang ramai adalah
 justru kepulangan kearah Malangnya 
hehehe .. sungguh sebuah karunia bahwa ternyata dugaan saya tidak meleset yaitu disepanjang JLS yang
  mulus dan lebar itu nyaris sepi dan belasan pantai2 disitu tampak " wajar wajar "
 saja alias tidak tampak keramaian
 apalagi kerumunan !
 melewati 87 km dari Malang hingga
 JLS memang mengasyikkan karena suguhan panoramanya yang cantik , sehingga
 jarak tidak terasa jauhnya . 
saya yang terlanjur fanatik dengan pantai
 Bajul Mati , hanya melewati saja pantai2
 yang ada mulai Gua Cina , Ungapan , 
Teluk Asmara dll . sengaja tidak mampir
 Sendang Biru karena ingin berlama lama
 sedikit di Bajul Mati .
hanya ada 3 mobil di pantai yang jadi
 favorit saya ini , saya langsung menuju
 Warung Kembar kearah dapurnya !

sebuah reuni kecil dengan Ratu Dapur nya .
ibu pemilik warung ini bahkan masih hafal dengan makanan kesukaan saya .
maka saya tunggu datangnya masakannya 
sambil saya habiskan waktu ke pantainya
 yang pagi itu ( masih sekitar jam 11 ) tampak cukup berombak tinggi .
 saya nikmati oxygen disitu sambil
 membayangkan andai saja pandemi
 sudah lewat saya ingin ( sekali lagi ) 
bermalam disitu seperti saat
malam tahun baru sekian tahun lewat
 di pantai yang sama dalam suasana
 senyap dan berganti tahun
 menikmati suara orkestra dari
debur ombak Bajul Mati ! 
 beberapa jam diterpa angin pantai dan
 sementara perut sudah terisi tuna
 dan sambal yang sedap, 
sayapun rela kembali kearah Malang .
 semoga angin laut menbawa pergi 
jauh jauh virus covid dari 
bumi Indonesia tercinta ini dan
 kehidupan kembali bisa normal
 seperti sedia kala ..
( Writing & Photos : Titiek Hariati ,4.04.21 )
keterangan foto :
01 . penyu dalam penangkaran 
di Bajul Mati
02 . Bajul Mati yang cantik ..
03 . saya di jembatan JLS
04 . jembatan JLS 
05 . masjid Muhammad Cheng Hoo
06 . nelayan menjahit jala
07 . Bajul Mati ..
08 . saya menunggu masakan 
09 . menu tuna yang sedappp ..
10 . masjid di pantai Bajul Mati
11 . jalur evakuasi
12 . kelapa yang jatuh dipasirnya
 

 

 

.. " Cafe Mindi , Tutur , Nongkojajar " ..

Disaat sebagian besar orang diakhir minggu pada
 ke Batu saya menghindari keruwetan dengan 
kearah berlawanan yaitu ke arah Surabaya
 tapi cukup sampai setelah  Lawang , berbelok kekanan
 kearah Nongkojajar . 
 Sepi , view cantik , dan kelak keloknya yang sesekali 
tajam membuat adrenalin terpacu , segar !
 Tak banyak warung atau cafe didaerah ini kecuali
 beberapa yang kecil kecil sekedar untuk istirahat ngopi
 sebelum melanjut perjalanan .
 Kontras dengan Batu arah Cangar atau Pujon misalnya 
 yang tidak membiarkan jengkal tanah sia2 dan
 semuanya dipadati warung , kedai ,resto, cafe dll . 
Ada beberapa resto atau cafe gede di Nongkojajar
 atau desa Tutur utamanya ,
 meski hanya terhitung 2-4 biji saja tetapi mereka 
digarap dengan konsep matang yang bagus . 
 Naa .. diblog yang sama saya sudah pernah tulis ada
 Warung Gunung dll di Nongkojajar .
Kali ini kita mampir ke Cafe Mindi di desa Tutur ,
 Nongkojajar yaa ..
 Dengan bambu sebagai bahan utama bangunannya ,
 cafe yang termasuk masih gres ini seolah menyatu 
dengan alam sekitarnya yang cantik . 
Terletak dilembah yang lumayan curam , 
maka suguhan mata sambil cangkruk memang menarik.
 Melihat sikon yang adem ayem serta 
terbuka segar dan pengunjung ke 4 adalah saya ,
 maka saya berani memesan bakso dan nasgor
 untuk meja saya . 
 Mungkin kalau kapan2 saya
 ke Nongkojajar lagi , sudah akan bermunculan
 kedai2 lain seperti Mindi ini yang 
semoga tidak akan sepadat Batu meskipun area ini
 masih terlihat melompong .
 
 Diam diam saya memang
 sempat khawatir bahwa Nongkojajar akan tertular
 keramaian Batu yang mengancam
 kelestarian alamnya .. 
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 08.04.21 )
 keterangan foto : 
01 . kopi dan panorama cantik di Mindi
02 . depan Mindi
03 . patung sapi simbol Nongkojajar sebagai penghasil susu , depan pasar
04 . nasgor ala Mindi
05 . bakso ala Mindi
06 . atmosfer ( 01 )
07 . atmosfer ( 02 )
08 . atmosfer ( 03 ) , 
maaf kejepret ya mbak ..
09 . gerbang Nongkojajar
10 . cantik ..