Minggu, 14 Maret 2021

 
 

 
 .. " Bitiga ,Yang Memang Suka Segitiga " .. 
letaknya yang dijalan Joyo Agung 
( arah Malang TV ) , memang butuh GPS buat 
yang belum terbiasa dengan daerah ini . 
kebetulan saya beberapa tahun pernah ber
 weekend house di Graha Dewata ,
 sehingga sangat mengenal tanjakan dan turunan yang
 lumayan menantang adrenalin disitu hehehe ..
 cafe tempat cangkruk ini memang termasuk masih
 baru beberapa bulan usianya .
 suasana nya yang terasa lapang adalah karena
 ketinggian atapnya serta teras belakangnya yang terbuka
 dengan panorama kebun dibelakangnya .
 oya .. dihalaman belakang tampak beberapa bangunan
 berbentuk segitiga , satu untuk Mushola dan yang lain 
saya lupa tidak menanyakan .
 daerah ini memang termasuk yang kaya kehijauan , 
apalagi di awal2 saya mengenalnya sekian tahun lewat ,
 betul2 masih belukar dan hutan pinus serta gelap
 dimalam hari mirip film film horor 
kalau saya terkadang harus ke GD setelah sunset . 
apalagi ada makam yang luas disitu .
  oya perlu dicatat bahwa saat ini hutan2 pinus 
disitu sebagian justru dimanfaatkan untuk cafe
 dan perumahan2 . cafe cafe baru sudah bermunculan
 dan memadati areanya sehingga Joyo Agung
 tidak lagi terasa " angker " !
  saya ke Bitiga cuma untuk ngopi dan mencicipi 
singkong kejunya plus atmosfernya karena
 datangnya juga pada jam yang
 tanggung , yaitu hampir jam 15 .
apalagi dimusim pandemi ini saya memang harus
 sangat membatasi kegiatan2 " kulineran " .
 berapa saya harus berikan nilai Bitiga dalam skala
 0 - 10 ? atmosfer , layanan , rasa , harga maupun
 ragam menu saya relakan 6,5 .
  tidak jauh dari Bitiga memang ada beberapa 
pemain lama yang sudah punya nama ,
 tentu ini juga perlu diperhatikan . bahkan tak
lama lagi kelihatannya Mie Setan e .. maaf ,
 Mie Kober bakal menambah seru persaingan
jagad kuliner diarea Joyo Agung ini ! 
 semoga mampu bertahan ya ..
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 14 . 03 .21 ) 
keterangan foto : 
01 . segitiga 
02 . atmosfer
03 . sebelah belakang
04 . pintu masuk
05 . teras belakang
06 . singkong keju
07 . teras belakang
08 . salah satu dindingnya 
09 . lapang

 

 
 
.. " Pupuk Bawang Yang Bukan Sekedar Pelengkap " ..

dalam bahasa Jawa , Pupuk Bawang berarti
 " sekedar pelengkap saja " . 
biasanya istilah ini dipakai dikalangan anak anak
 sekolah dulu , yaitu ketika
 misalnya dalam kegiatan olahraga ada temannya
 yang kurang pandai basket tetapi karena
 kebutuhan tim untuk melengkapi jumlah timnya , 
maka teman tadi diikutkan saja sekedar untuk pelengkap
 atau pupuk bawang . 
 naa .. pupuk bawang kali ini berbicara tentang sebuah
 resto atau cafe yang berlokasi dijalan
 Panglima Sudirman , Batu , Malang . 
berjuluk Pupuk Bawang sudah tentu bukan hanya
 sebagai pelengkap jagad wisata kuliner Batu karena
 resto yang satu ini sebenarnya sudah berdiri 
cukup lama , jadi bisa disebut sebagai pemain lama .
 terakhir mengalami sedikit renovasi dan saya
 berkesempatan menengok " hasil makeupnya " 
beberapa hari yang lalu bersama seorang temen yang
 hampir setahun ini tidak bertemu karena pandemi .
 memang masih sekitar jam 10 ketika sampai disana ,
 jadi masih sepi dan kami adalah pengunjung
 ke 3 pagi itu .
 maka pada jam itu bisa dikatakan
sarapan bukan , makan siang juga bukan . 
ngopi saja ? ternyata juga bukan . 
akhirnya diputuskan mencicipi menu segar gado gadonya .
 tapi ups .. setelah datang di meja , kami sedikit mikir
 " ini gado gado apa pecel ya ? " . 
selain bumbunya , juga yang khas pecel yaitu rempeyek
 ternyata ikut disitu . ya sudah anggap saja
 pecel itu sepupu gado gado hehehe ..
 tentu yang dinikmati disini sebenarnya adalah 
panorama teras belakangnya yang seperti umumnya
 kedai2 atau cafe cafe disepanjang jalan raya Batu
 ataupun disepanjang jalan kearah
 Pujon atau Cangar yang memang cantik itu .
 oya di resto PB ini juga ada pojok etnik mini
 yang menjual asesoris maupun baju baju etnik . 
sejam lebih menikmati oxygen disitu ternyata beberapa
 tamu lain mulai bermunculan . sebuah tanda
 bahwa kami harus segera meninggalkan 
Pupuk Bawang .
  untuk layanan , atmosfer , ragam menu , rasa 
serta harga , dari skala 0 - 10 saya berikan 6 .
 mungkin saya terlalu berharap lebih , 
tetapi memang persaingan jagad kuliner saat ini
 begitu ketat sehingga saya harus jujur
 ketika mendapatkan kompetitor2 PB ini yang bisa
 saya berikan nilai 7 . ambil contoh 
" de Potrek " misalnya , atau " Royal 360* " dll 
yang selevel itu . 
tetapi selera memangtidak perlu diperdebatkan
 dan nama Pupuk Bawang semoga 
bukan sekedar pelengkap .
( Writing & Photos : Titiek Hariati , 14 . 03 . 21 )
keterangan foto : 
01 . gado gado apa pecel ini ? 
02 . teras belakang yang panoramanya cantik
03 . masih kosong ..
04 . reuni kecil .. 
05 . etnik
06 . cantik
07 . sejuk

Selasa, 09 Maret 2021



 .. " Gonjang Ganjing Saat Pandemi " ..
menyedihkan . 
satu kata saja yang ingin saya wakilkan disini atas 
terjadinya gegeran di tubuh Partai Demokrat .
 saya bukan siapa siapa , cuma rakyat jelata yang
 melihat gonjang ganjing ini dengan rasa pilu .
 dua kubu yang berseteru , kubu AHY yang notabene
 juga berarti SBY , dengan kubu KLB Sumut yang
 akhirnya menetapkan Moeldoko sebagai Ketua Umum . 
banyak analis berurun pendapat
 yang saling tumpang tindih 
bahkan ada yang menyerempetkan istana .
 juga ada versi yang mencoba menganalisis adanya 
skenario besar SBY untuk menaikkan pamor AHY lewat
 gonjang ganjing . pusing . 
maka meskipun saya bukan siapa siapa ,
 apalagi bukan politisi ( meskipun sekian tahun lewat 
pernah menjajal nya dan mundur karena 
tawaran tawaran yang ' ajaib ' yang diberi
 nama kontrak politik ) , 
maka saya mencoba melihatnya dari sudut pandang
 saya pribadi saja . pertama , menurut saya ,
 konflik2 perpecahan seperti ini juga sudah " lazim "
 terjadi pada partai2 lain dalam sejarah ditanah air . 
 perbedaan pandang dan kepentingan adalah
 pemicu utama nya . 
jadi bukan barang baru .
 kedua , pada setiap partai , sudah tentu ada 
deretan founder yaitu orang2 pertama yang
 mengawali sebagai cikal bakal terbentuknya partai,
 dan mereka adalah tercatat abadi sebagai pioner2
 yang penuh jasa .
 dalam perkembangannya ,  partai kemudian
 merekrut orang2 baru yang memiliki visi misi sama
 dengan para founder ini . dan setelahnya adalah
perekrutan para anggota partai yang memilih 
partai sebagai sebuah representasi dari
 cita cita pribadi maupun idealismenya .
 dalam perjalanannya , banyak faktor yang bisa
 mengubah " pilihan hatinya " , baik yang menyangkut 
kinerja pengurus2 nya, elektabilitas dan legalitasnya ,
 juga perubahan iklim sebuah
 pemerintahan secara politis , ataupun " pesona "
 dari partai lain yang dianggapnya lebih pas 
dengan idealismenya dan atau yang terparah
 bisa saja terjadi yaitu adanya 
iming iming lembaran merah agar bersedia
 berbelok arah .
 pokoknya : ada kemungkinan yang tak terbatas kalau
 sudah bicara politik , karena dalam berpolitik
 sesungguhnya Tidak Ada Kawan dan Lawan ! 
selama kepentingan masih sama , adalah kawan . 
ketika kepentingan mulai berbeda apalagi 
bertentangan , kawan menjadi lawan .
 demikian bolak balik . 
 maka saya tidak kaget juga dengan apa yang terjadi 
di Partai Demokrat saat ini . yang membuat kaget
 adalah justru muncul dan bersedianya tokoh senior
 Moeldoko menjadi Ketua Umum versi KLB ,
 yang sebelumnya pernah menyatakan 
" tuduhan tidak berdasar dari AHY 
" tentang selentingan " kudeta " nya .
 kalau sekarang kedua kubu sedang bersiap siap memperjuangkan  legalitas masing masing lewat
 jalur hukum ,maka saya hanya bisa mengelus kepala ! 
bagi saya , dua tokoh senior ini , SBY dan Moeldoko 
adalah tokoh tokoh yang selayaknya ada dalam 
deretan Bapak Bapak Bangsa yang penuh kearifan
 dan bijak dimana generasi generasi dibawahnya
 dapat meneladani ketokohannya . 
jam terbang mereka baik dalam pengabdian kepada
 tanah air lewat karir militernya maupun pemerintahan ,
 layak menjadi buku buku wajib yang harus
dibaca oleh para yuniornya !
 tapi apa yang terjadi saat ini ? 
SBY " turun gunung " menjadi perisai 
ananda tercintanya ,
 dan Moeldoko bahkan harus memecah fokusnya 
sebagai KSP dan mengurusi pertikaian 
dengan kubu AHY ...
 wahai , apa sebenarnya dibalik semua ini yang 
menjadi motif ? benarkah ini hanya " sekedar " adu 
AD/RT 2005 dan 2020 atau ada hal hal lain ?
 ketidak puasan dari sebuah kepemimpinan adalah
 dapat terjadi dimana saja bahkan dalam skala terkecil
 adalah rumah tangga .
 tetapi bukankah  partai memiliki aturan2 untuk mengkomunikasikannya 
lewat jalur jalur yang semestinya ? 
ataukah pemecatan pemecatan beberapa founder
 Partai Demokrat itu dinilai sebagai sepihak tanpa 
terlebih dahulu memberikan SP ?
 ataukah .. ataukah .. ataukah .. ada asap , ada api ,
 demikian pepatah , dan sebagai rakyat awam , 
saya hanya bisa menitip harap bahwa 
gonjang ganjing ini Tidak Mengganggu Fokus 
Pemerintah Dalam Mensukseskan Gerakan
 Vaksinasi Bangsa karena hadirnya KSP nya
 dalam kancah konflik ... 
banyak pihak bahkan berharap Jokowi akan menentukan 
sikap terhadap Moeldoko , tetapi kita tak perlu ikut
 ber andai andai karena kita sangat yakin bahwa
 Jokowi yang sudah sangat kenyang dengan 
bermacam " permainan hati " dari sekelilingnya
 pastilah tidak gegabah . 
apapun alasan dan motif yang mendasari dari 
masing masing kubu dan pendukung2nya ,
 semoga masih menyisakan nurani dikedua pihak 
bahwa bangsa ini sungguh membutuhkan
 pemimpin2 yang bersedia menyerahkan jiwa raga ,
 pemikiran dan kerjakerasnya untuk 
kemajuan bangsanya tanpa pamrih serta bijak dalam 
menghadapi sebuah perbedaan pandangan
 bahkan konflik .
 tetapi kemana saat ini kita mencarinya kalau 
selevel SBY dan Moeldoko saja tidak mampu
 memberikan keteladanan ? 
bangsa kita masih dibelit pandemi bahkan telah muncul 
ancaman baru dari variant 117 yang sebetulnya
 sejak Desember yl seharusnya sudah kita antisipasi ,
 apakah tidak ada jalan lain bagi kedua kubu
 untuk menyatukan Visi Misi nya demi kepentingan 
yang lebih besar yaitu :
 suksesnya bangsa Indonesia mengatasi pandemi
 dan pulihnya perekonomian ! 
dimanakah pemimpin2 yang memahami ini ? 
( Titiek Hariati , 09 . 03 . 21 ) 
gambar2 dari google :
01 . Moeldoko jaman masih rukun dg SBY
02 . AHY seusai melepas karir militernya
03 . Moeldoko yang kini Ketum Versi KLB
04 . SBY dan Bu Ani dalam kenangan
05 . Keluarga minus bu Ani
06 . Moeldoko yang masih harus " berjuang " ..
07 . AHY juga sedang " berjuang " ..

Senin, 08 Maret 2021

 
 
 
 

 
 
  .. " Tomboan Ngawonggo Yang Serba 
" Gratis " ? " ..
mengunjungi tempat wisata yang satu ini butuh
 persiapan khusus . pertama harus booking dulu 
untuk tempat lewat Instagram mereka .
 kedua , kalaupun sudah booking harap diperhatikan
 syarat dan ketentuan yang berlaku disitu .
sebut saja antara lain : berpakaian , berperilaku
dan bertutur kata yang sopan ! intinya adalah :
" Menjadi Tamu Yang Sopan dan Paham Tata Krama " 
 
 " semisal tuan rumah , kewajiban kami
 adalah menjamu tamu , dan sebaliknya tamu juga
 berkewajiban mematuhi tata cara tuan rumah " ,
 begitu jelas mas Soleh , salah satu staf disitu. 

 
 mahasiswa Tehnik Mesin ini selanjutnya membeberkan
 pada saya bagaimana " seharusnya " 
tempat wisata ini berlangsung karena disini
 Tidak Dipungut Bayaran untuk apapun 
alias Gratis Tis mulai dari menikmati suasana ,
 mencicipi suguhan suguhannya dan 
mengunjungi petilasan dari jaman sebelum Ken Arok
 yang berada disebelah belakang dari tempat istirahat ini .
 lho .. pasti ya sungkan to kalau serba gratis
 padahal saya ya ingin mencicipi masakan maupun jajanan khas desa disitu yang tampak sangat alami dan sehat itu .
 bayangin saja , ada nasi jagung , bothok simbuk an ,
 tahu, tempe , bakwan , lodeh dll . 
 belum lagi jajanan pasarnya yang mengingatkan 
pada masa kecil seperti jemblem , gethuk , nogosari, 
ketan bubuk dll ..hmmmm...
 mosok saya makan minum gratisan ?
 maka mas Soleh memberi " solusi " nya :
 " tidak diwajibkan , tapi kalau mau mengisi 
kotak sumbangan sukarela ya silahkan saja ... "
 ... oooooo gitu ... 

 
 maka demi sebuah hasrat mencicipi mamin yang serba
 alami dan sehat itu sayapun menuju kotak sumbangan
 lebih dulu sebelum kesana sini mencicipi ini itu,
 tapi saya ditegur 
" nggak perlu sekarang bu , nanti saja kalau 
sudah selesai " , oalaaa .. nggapapa mas,
 lagian sudah kadung nyemplung duitnya hehehe ... 
 
 inilah perbedaan " mental " kami ,
bahwa dalam lingkungan perkotaan semuanya serba
 melibatkan duit , sementara di desa seperti
 di Tomboan ini rasanya rikuh kalau saya harus menikmati sesuatu secara gratis .. 
 selanjutnya saya nikmati atmosfernya yang ayem adem dan sayapun menyempatkan diri menyusuri sungai kecil
 menuju patilasan yang berupa kolam dan arca arca
 yang sudah banyak rusaknya .. 
nasi jagung dll saya nikmati dengan sepenuh hati ,
 karena di kota mamin seperti ini sulit ditemukan . 
mas Saleh juga menyilahkan saya menjajal
wedhang wedhang yang diramunya ,
 ada wedhang uwuh dll ..
 
 apapun alasan dibalik konsep ini , saya salut bahwa
 upaya menjaga tradisi dan budaya Jawa yang
 makin luntur rupanya masih dimiliki oleh segelintir
 penggagas termasuk mas Soleh yang
 generasi milenial ini
 
 
 semoga Tomboan Ngawonggo bertahan ditengah 
derasnya arus modernisasi dan komersialisasi
wisata yang serba dberteknologi ini !
penasaran ? 
 
 silahkan booking dulu di IG mereka ya .. !
( Writing & Photos : Titiek Hariati, 08. 03 . 21 ) 
keterangan foto :
01 . bergowes ria juga asek kalau kuat mancal
02 . kentongan , alarm ..
03 . kompor alami
04 . tatatertib
05 . hanacaraka
06 . mas Soleh sibuk didapur
07 . menyiapkan wedhang rempah2
08 . jajan pasar yang ngangeni !
09 . wedhang uwuh 
10 . tamu dibatasi max. 20 orang 
11 . saya bagian jeprat jepret saja 
12 . pagar dari kulit kelapa
13 . lumpang
14 . sejenak dan sesekali dijepret
15 . gerbang masuk
16 . woro woro di IG 
 

Minggu, 07 Maret 2021



 
 
 .. " Joglo Jati Yang Ngangeni " ..
berawal dari ketidak sengajaan mencari sebuah alamat
 di area Sawojajar yang dikenal " ruwet " , 
saya melewati Jalan Anggada .
 saya melihat sebuah kedai berjuluk " Joglo Jati " yang
 sekian bulan lalu rasanya belum ada disitu atau
 saya yang pikun ? penasaran ,
 tapi berhubung pandemi , saya harus berpikir lebih 
hati hati . jam menunjuk masih jam 11 , 
kedai tampak sepi , atau karena belum 
saatnya makan siang ?
  tetapi untuk " tombo ruwet " mencari alamat tadi ,
 saya akhirnya masuk juga dan menjadi 
pengunjung satu2nya pagi atau siang itu .
 " baru ya mas ? " .. " iya bu, masih tiga bulanan " ..
 oo gitu .. dan sesuai nama kedainya , Joglo Jati , 
maka eksterior dan interiornya plus ragam menunya
sangat kental Jawa nya . 
atmosfernya yang " adem ayem " ditopang oleh 
gemricik air dikolam samping mungkin untuk meredam
 suara lalin yang ada .
 pilihan akhirnya saya jatuhkan pada Mie Godhog
 dan kopi susu sebagai sebuah kombinasi Djadoel
 yang saya sukai .
 sambil menunggu datangnya pesanan seperti biasa 
saya jeprat jepret . surprise bahwa akhirnya 
Mie Godhog yang saya nikmati berhasil merampas
 segenap memori saya pada masa2 jadi anak kos 
dan kuliah di Yogya .. !
 waduh , jadi ingat banget bapak penjual
 Mie Godhog pikulan yang sering nongkrong di kos2an
 kami dan diserbu pelapar2 yang duit kosnya pas2 an ..
saya betul2 dilanda kangen luar biasa pada suasana itu .
 saking senengnya ketemu menu lawas yang
 saya sukai , saya menemui " chef " nya didapur
Joglo Jati , seorang ibu paruh baya yang saya
 berikan komplimen secara khusus ! 
maka untuk prokes  , atmosfer , ragam menu , rasa
 dan harga , saya sungguh rela memberi nilai 7 !
 tentu saja ini boleh beda dengan kesan pengunjung lain ,
 tapi selera memang tak guna diperdebatkan .
 saya tinggalkan Joglo Jati dengan satu janji :
 saya pasti akan kembali lagi untuk Mie Godhog itu ..
 maturnuwun bu ..
 
 ( Writing & Photos : Titiek Hariati , 08 . 03. 21 ) 
keterangan foto :
01 . antik ..
02 . pembuka , tahu petis ..
03 . atmosfer
04 . mie godhog ... !
05 . gemericik air ..
06 . " gubug jati " 
07 . nasgor
08 . parkiran yang lumayan lapang