Jumat, 03 Januari 2014







.. " Diantara Ombak dan Goyang Kaisar " ..
( catatan tercecer malam tahun baru 13/14 )

hingga jam 10 pagi tanggal 31 desember 2013 saya masih berkutat di dua RS, gara gara kemarinnya tertelan duri ikan dan ditenggorokan terasa " sringggg ... sringggg ... ". jangankan menyanyi, lha buat menelan ludah saja sakitnya alamakkk ... sudah tak terpikir soal New Year, yang penting duri segera tercabut. 



 tapi wow ... ternyata antrian di RSSA mirip antrian karcis Laskar Pelangi dihari I, saya bingung ! kalau menunggu dokter praktek THT baru ada sore hari, maka dengan menahan sakit saya putuskan tidak mengantri sebab bisa2 jam 6 sore baru selesai dan 
pasti akan terjebak macetnya persiapan kerumunan New Year. 



upaya menelan nasi hangat sudah belasan kali, tapi sia sia. antara jengkel dengan duri ikan dan diri sendiri yang kurang hati hati makan ikan disaat giliran PLN kemarin mati ( ! ),
 saya membuat keputusan yang " bukan diri saya " ( ini apa to? ) yaitu : 
ingin menunggu sunrise 2014 ditengah kegaduhan Balekambang ! 

( bayangkan, tahun lalu saya merasa tersesat kesana karena menjumpai suasana Tahun Baru yang serba gaduh, lha kok ini malah saya datangi?  semata saya ingin " melupakan " sejenak duri ditenggorokan yang sring sring dan menjengkelkan ini !  )

 berhenti untuk makan siang di daerah Wajak, disebuah kedai yang lumayan bersih, 
namanya " Warung Jawa bu Likha " . 
dan saya melihat sebuah poster menarik didindingnya : Nasi Bebek Sambal Hijau, 
maka daripada pusing memilih milih menu maka saya tulis NBSH ini saja. ternyata saya tidak salah pilih, bebek gorengnya uempuukkkk dan sambal hijaunya yummyyyy ! dan semula saya berharap duri ikan ditenggorokan akan terdorong bebek, ternyata tidak.

dan dalam perjalanan ke Balekambang, dugaan saya tak jauh meleset bahwa dari desa desa sekitarnya bermunculanlah truk truk bermuatan soudsystem yang suaranya lebih mirip ledakan mercon bumbung  dan hampir 95% lagu lagunya adalah lagu lagu untuk Goyang Caesar/Kaisar! ( tahun lalu Gangnam Style ! ) . 

maka percaya atau tidak ( percaya akan lebih baik ! ) bahwa sisa 30km terakhir saya kearah pantai BK ini dipenuhi oleh " suara suara mercon bumbung " tadi karena persis didepan saya ada 3 truk yang berbeda beda lagunya tapi semuanya sama: musik GK!
   


 jangan tanya gayanya, saya sampai sakit perut menyaksikan ulah mereka yang saya lihat lebih mirip " kesurupan " daripada Goyang Kaisar hehe ... konvoi ratusan mobil kearah pantai ini semakin membuat duri ditenggorokan saya menusuk nusuk, 
tetapi ini sudah saya pilih, jadi supaya sekalian saja jengkelnya :
 ya duri, ya gaduhnya musik, ya padat merayap ya semuanya .....  oiiiiiii ...... 
jalanan sempit naik turun ngarai, licin, ada sebagian yang ber lobang lobang, semuanya komplit membuat kepala nut nut nut .... 
( sebetulnya sumbernya sederhana : duri dikerongkongan hehe .. )



 untunglah jam tiba di BK ternyata cukup cerdas alias belum terlalu padat dan kali ini beruntung mendapat tempat parkir strategis yaitu menghadap laut, dekat WC Umum 
( ini penting ! ) 
dan dekat kedai mamin ( ini juga lebih penting hehe ... ) plus sebelah kanan adalah 
tembok sebuah penginapan sehingga privasi lebih terjaga. 

mandi di WC Umum plus sholat, dan setelahnya saya kaget karena  area parkir didekat saya sudah sangat padat bahkan mulai terjadi perebutan tempat dan kesulitan roda 4 untuk sekedar bergerak satu meter kedepan! 
saya perkirakan ada sekitar 2000 roda 4 lebih saat itu dan entah berapa puluh ribu motor yang sore itu sudah mulai memadati tiap centimeter di BK !



gerimis yang cukup deras membuat saya malas mencari obyek jepretan, maka saya hanya mengisi bahan bakar perut di kedai terdekat. " Nasi goreng plus ceplok saja buuu ... ", saya permudah acara isi bbmnya, kuatir keburu hujan.

 naaa .... sebuah keajaiban terjadi, begitu sendok terakhir nasigoreng saya suap, lho ... kok durinya sudah hilang? wow ... seketika " dunia serasa cerah cemerlang " hehe, dan pilihan ke BK ini rasanya salah tapi tidak salah, karena mungkin lemak nasi goreng tadi sudah membantu meluncurkan duri dari tenggorokan kebawah hehe ... alhamdulillah !

maka, saya mulai bisa menikmati " kegaduhan " disekeliling saya, tetapi untunglah stage yang ada dipinggir pantai itu berjarak cukup jauh sehingga saat mereka mulai brangbrengbrong pada 23.00 , diarea saya tidak terlampau terganggu. 

waaa .. tapi rupanya orang mulai tidak sabar menahan merconnya hingga 24.00, disaat masih kurang 40 menit ternyata disana sini sudah mulai darderdor dan
 berlanjut hingga 00.30 ...... ! 

dari arah stage akhirnya terdengar hitungan mundur menjelang 00.00, dan .... :
" Happy New Year, Happy New Year .... !! " 
ya sudah, sekali setahun kenal tak kenal saling mengucap selamat !! 

klakson klakson saling bersahutan dan ini lucunya : berhubung padatnya tempat parkir yang hampir tak mungkin bergerak satu sentipun kearah manapun, semuanya tumplek bleg mulai yang jualan, yang main musik, yang bikin api unggun, yang goyang kaisar, yang tidur, yang pacaran, yang makan makan, yang nyanyi nyanyi, maka akibatnya semua kendaraan terutama roda dua hanya bisa meraung raung ditempat dan tidak bisa berkonvoi hehehe ... !!
(  jangankan konvoi, wong diam ditempat saja sudah berdesakan )



 stage berakhir pada jam 01.00, dan bermunculan suara suara gitar , radio, tape dll dari kelompok kelompok tenda yang tersebar di seantero BK, sesekali masih ada darderdor. usai sudah hepinyuyir dan sayapun bersiap siap merebahkan kursi supaya kaki bisa selonjor dan berusaha tidurrrrrrr, besok pagi mau jeprat jepret sunrise 2014 !

--------------------------------------------------------------------------------------

01 Januari 2014




 ups, jam 4.05, semua masih gelap, pantai terlihat hitam dan gerimis, aduhhh ... mendahului mandi ke WC umum sebelum datang antrian mandi yang biasanya sangat panjang dan lama, selanjutnya adalah sholat dan jam 05.30 sudah duduk manis dikedai yang sama, 
untuk sarapan pagi yang I ditahun 2014 ! 

kali ini berganti dengan soto ayam . oya tarif mamin di kedai kedai yang jumlahnya puluhan disepanjang pantai BK ini menurut saya cukup murah, berkisar antara 7 - 10 ribu. 
ada rawon, soto, nasi goreng, nasi campur dan sejenisnya.

jam 06.00 ternyata masih gelap dan mendung plus gerimis. buyar segala harapan tentang sunrise, boro boro sunrise, melihat garis pantai masih gelap dan mendung plus gerimis rasanya sudah tidak mungkin pagi itu meski cuma untuk jalan jalan Mengejar Matahari ! 

maka setelah yakin surya malu, sayapun berkeputusan cabut dari BK mumpung sebagian besar orang masih kelelahan dan tidur, menuju arah pantai Ngliyep !
 dugaan tepat, disepanjang jalan kearah pintu luar pantai BK yang 
dipadati ribuan kendaraan, 
si mini saya masih dengan mudah melewati mereka dan hanya beberapa truk yang pagi itu sudah " bangun " plus mulai berdentam dentam musiknya plus para penumpangnya
 yang sudah " megal megol " ala kaisar hehe ...

sepanjang perjalanan ke Ngliyep belum banyak kendaraan, maklum memang masih pagi, dan view yang ditawarkan memang lumayan cantik meski masih mendung. 
dan ternyata di Ngliyep juga sudah mulai ramai baik yang sejak semalam berkemah maupun pendatang baru seperti saya.

( saya sudah pernah menulis tentang BK, Ngliyep dll di blog ini jadi tidak perlu saya ulang. tetapi ini yang memang saya suka dari Ngliyep dibanding BK, yakni relatip masih " liar " karena tidak/ belum sekomersil BK. tetapi kalau kita kepantai sebelahnya, Pasir Panjang, 
sudah terlihat lebih tertata dengan banyaknya jumlah warung, wc umum, penginapan dll. )

saya habiskan waktu cukup lama  di Ngliyep untuk sepuasnya jeprat jepret meskipun tidak terbantu matahari yang juga pagi itu tidak terlampau kemayu di situ. 
ombak yang seolah meng hipnotis ini telah menghabiskan hampir 150 jepretan meskipun namanya ombak itu " ya itu itu saja " baik alun maupun gerakannya, 
tetapi namanya " suka " itu memang silut e .. sulit!

dalam perjalanan pulang, singgah disebuah warung bakso bakar untuk makan siang, yang letaknya dikelilingi persawahan dan hutan. dihalamannya beruntung saya menemukan 
seorang " fotomodel " , seorang embah embah pemikul kayu bakar 
( saya akan tulis tersendiri ya ! )
saya menikmati bakso bakar ditengah area persawahan ini sebagai makan siang I ditahun 2014 sambil mensyukuri lepasnya duri ikan dari kerongkongan hehe ..

dan saat sampai kembali dirumah  si mini saya tampak sangat " memelas " karena tebalnya lumpur di badan terutama roda rodanya, mirip sebuah perjalanan offroad ..

" Happy New Year untuk semua,
 Semoga 2014 memberikan banyak keberuntungan , 
kebahagiaan dan kesuksesan baik dalam hal pribadi maupun bisnis ! " 
amin. ( th )



( keterangan foto, all taken by : th, January 2014 )

01. mercon dalam tangkapan lensa
02. rombongan pengendara motor yang gagal konvoi hehehe .. 
03. bebek sambal hijau
04. poster
05. menikmati pasir diawal 2014 dalam KANVAS photo-editing
06. cadas karang dalam KANVAS photo-editing
07. salah satu sudut karang Ngliyep
08. karang dan ombak Ngliyep !
09. bermain pasir dan ombak diawal 2014
10. kelapa muda
11. pengunjung diawal 2014 ( maaf buat yang " katut " kejepret dalam foto2 saya, bila ada yang keberatan dipersilahkan memberitahu saya, trims ... )
12. nelayan pulang kampung ...
13. area perkemahan di bibir pantai
14. keping panorama
15. balekambang diawal 2014, mendung .. 
16. tenda tenda sepanjang pantai 
17. kedai bakso arah Ngliyep dari BK
18. bakso bakar dan kuah
19. kebun Pete disamping kedai bakso







Minggu, 29 Desember 2013





 .. " Waiting for Godot " di Omah Iwak  ..




bak karya Samuel Beckett " Waiting for Godot " , sebuah penantian panjang terjadi pada saya di sebuah kaferesto dan pemancingan berjuluk " Omah Iwak " di desa Karang Ploso,
 tepatnyadi Jl. Dawuhan, Tegalgondo. 



 maksud hati mencoba masakan di resto yang masih terbilang baru ( sekitar 5 bulanan ini dibukanya ) dan yang terjadi adalah " dobel lapar " karena lamanya menunggu sudah 
" diluar batas yang bisa ditolerir " hehe ... 

bahkan saya sempat melihat beberapa orang yang entah keluar mencari apa, tapi saat kembali ke resto ini mereka terlihat membawa bungkusan makanan, laaa opo tumon?




"maaf, karena masih baru dan tenaga terbatas, jadi sangat lama ya ... " , ini sebuah excuse yang seharusnya tidak perlu terjadi sebab antisipasi masa liburan dengan padatnya pengunjung amatlah penting. saya sampai sempat " leyeh leyeh " di gazebo dan bangun saat terdengar adzan sholat Ashar, lo kaget juga sebab saya masuk resto ini tadi sekitar jam 14.00 ck ck ck ....



 resto ini terletak di jalan raya ( alternatif ) arah Karangploso ke Batu, disebelah kanan jalan. dengan halaman parkir yang lumayan luas dan ruang resto yang juga luas plus beberapa gazebo diluarnya, sebenarnya cukup nyaman meskipun view sekitarnya tidak cantik. 



 sedikit disayangkan yaitu kurangnya kehijauan didalam area resto yang nampak kurang diperhatikan sehingga beberapa gazebo menghadap kearah tembok/ beton kering yangmembosankan.

dan dalam daftar menunya, sesuai nama restonya, Omah Iwak, maka ikan segar memang menjadi andalannya. lele, gurami, ikan emas dll dll akan siap untuk digoreng, dibakar atau lainnya sesuai selera. bagi penghobi memancing, disediakan peralatan pancing yang dapat disewa 15 ribu sepuasnya/ per pancing. hasil memancing seperti lazimnya, akan ditimbang beratnya.



 daftar minumannya juga lumayan panjang, meskipun tidak ada yang menjadi ciri khasnya. nampaknya resto ini kedepannya mungkin juga akan menjadi semacam area 
Wisata Petik Buah( ? ) 
karena  disana sini terlihat ada berbagai jenis buah buahan, 
mulai pohon mangga, nenas, markisah dll yang kebetulan juga mulai berbuah meski pohonnya masih realtif kecil/ muda.

soal rasa, dari skala 1 - 10 ada di 6.5 karena ternyata " oseng oseng " kangkung dan toge nya membuat saya terkaget kaget asinnya ( waaa ... chef nya mungkin stres ya dengan banyaknya tamu tamu restonya, jadi masaknya buru buru ? .... ) .



 satu satunya  yang agak menghibur saya itu gurami bakarnya, sehingga " berbagai kekecewaan " agak terobati meski usus saya rasanya sudah terlanjur " lengket " 
saking lamanya menunggu hehe ...

semoga kedepannya Omah Iwak akan lebih memperhatikan layanannya dan juga kenyamanan tamu tamunya dengan :
memperpendek " masa tunggu " tamu, 
menambah kehijauan area gazebo, 
memperhatikan tanaman terutama rumput2nya yang nyaris menyemak, 
mengurangi garam pada masakan2nya ( mudah2an garam berlebihan tadi hanya sebuah "kecelakaan " ) plus
 mengurangi gula pada minuman jenis juice nya karena dampak gula berlebihan itu bahkan menutupi rasa buahnya disamping tentunya kurang sehat.

memang, "  Menunggu Godot " dan menunggu gurami bakar adalah dua hal yang sangat berbeda, namun memunculkan rasa yang sama karena sempat tersergap rasa jenuh ...!
 adalah sebuah " lagu wajib " bagi setiap warung/kedai/resto dll untuk mengupayakan agar tamu tamunya Datang dan Datang Lagi 
 dan bukan 
" Datang Untuk Tidak Pernah Kembali Lagi " .... 

oya, resto ini bisa dicapai dari 2/ dua arah :

01. dari arah Hotel Montana II/ Candi Panggung yang lurusssss saja, hingga belakang Unmuh dan dari sana sudah tidak jauh lagi sebelah kanan jalan, 
Jalan Dawuhan, Tegal Gondo.

02. dari arah Bentoel Karang Ploso ke Batu, terussss saja sampai perempatan Arhanud, beloklah ke kiri, tidak sampai 1 km sebelah kiri jalan sudah bertemu resto ini.

Omah Iwak, Omah Iwak, janganlah kamu sampai "  disiwak  " ! 
( tidak ditegur sapa lagi).  semoga !
( th ) 

note :

karena sudah terlanjur menyebut " Waiting for Godot " maka saya secara khusus harus menyampaikan hormat yang dalam kepada bpk. Azwar AN yang pernah menyutradarai pementasan " Menunggu Godot " ini di Yogyakarta,
 dimana saya mendapat kepercayaan untuk mengisi musiknya bersama rekan saya Ira I dan Erik, sebuah catatan manis dari dunia teater Yogyakarta menjelang tahun 80-an.

maka sekali lagi setulusnya saya sampaikan : 
" matur nuwun mas Azwar AN " ,
 ( dari sutradara berbagai drama karya nya sendiri hingga karya terjemahan , masuk menjadi sineas, al : sutradara " Kampus Biru " dll  dan pernah bergabung di Bengkel Rendra meski kemudian lepas lagi dari sana. Azwar AN seorang seniman sejati yang penuh dedikasi pada dunia seni teater dan film khususnya )


 
( keterangan foto, all taken by : th, december 2013 )
01. jalan masuk Omah Iwak/ OI
02. kolam dalam resto
03. pagar tanaman markisah dengan latar belakang sawah dan rumah
04. dinding bambu
05. Omah Iwak, Tegal Gondo
06. atmosfer
07. salah 1 menu 
08. nenas dihalaman OI
09. gurami bakar
10. salah 1 sudut resto
11. area aquarium
12. tulang belulang
13. belulang dalam kanvas , photo editing
14. gurami dalam kanvas, photo editing
15. salah 1 pramusaji yang mestinya ikut audisi sinetron

Kamis, 26 Desember 2013




.. " Satu Lagi Bakso, Bakso Tenes " ..

saya penuhi " janji " saya untuk berkisah tentang virus baksomania di kota Malang akhir akhir ini karena munculnya puluhan bakso bakso baru baik yang 
pikulan, dorongan, pkl, kedai, cafe ataupun resto khusus bakso. 

dan sekali lagi saya jangan dipaksa dengan menjawab pertanyaan " yang manakah sebetulnya bakso Malang yang asli? " . jawabannya saya sungguh  tidak tahu sebab saya yakin pasti semua bakso bakso e .. penjual bakso di Malang akan menjawab dengan koor : 
" sayalah yang asliiiiii ..... "

 naaa , untuk apa ber pusing pusing mencari siapa yang asli? buat saya yang arema asli dan besar dengan bakso bakso yang dulu hanya ada di pikulan, semuanya itu asli selama rasanya masih seperti bakso dan bukan bakso rasa strawberry atau rasa rujak cingur !

salah satu penyebar virus baksomania ini adalah Bakso Tenes , jalan Tenes 16, Malang yang letaknya berhadapan dengan stadion Gajayana atau juga berhadapan dengan  dengan halaman parkir kendaraan dari MOG.

sebetulnya mendengar namanya,  rasanya tidak asing sebab dijaman Jalan Tenes masih penuh dengan lapangan tenes yang ber deret deret dan ramainya para penjual mamin 
( bakso, rujak, gado gado dll dll ) dikawasan itu, saya  sering makan bakso Tenes 
disitu yang kala itu masih bergaya pkl-an . 

nama Tenes itu mungkin punya dua arti, pertama mereka memang berjualan di Jalan Tenes dan yang kedua mungkin karena salah satu baksonya berukuran segede bola tenes, 
naa ... terserah yang mana atau bukan keduanya ?

maka kalau saat ini muncul sebuah kedai bakso di jalan Tenes yang sudah berwajah baru dengan munculnya mall dan renovasi stadion plus lapangan tenesnya,
sayapun tidak berusaha mencari benang merah antara keduanya 
( yang pkl dan yang kedai ) yang dikarenakan adanya kesamaan nama.



mungkin kelak bahkan akan ada 100 kedai bakso dengan nama yang sama, ya ndak masalah, apalah arti sebuah nama kata mbah Shakespeare hehe..

 tampilan luar dari kedai bakso Tenes ini saja ( belum melangkah masuk lo ! ) sudah membuat saya ' jatuh hati ' yang dalam istilah kromo inggilnya itu ' cute ' .
 pagar putih, kursi meja putih, taplak kotak kotak merah putih, dan keseluruhan atmosfirnya yang begitu ' homely ' bahkan memlintir ingatan saya pada cafe cafe cantik di sepanjang Danube atau area Alpen, membuat saya tidak sabar untuk segera masuk !
( lha .. ini namanya LAFS, l .. a .. f .. s ... hehe, silahkan diisi sendiri titik2 nya )


seorang Santa yang manis menyambut ramah ( maklum, saat itu persis tanggal 25 Desember ) dan bertanya " ingin pesan apa ? " sambil menyodorkan menu-card. 
jujur saya sulit menjawab sebab belum tahu apa saja yang khas di 
kedai bakso yang cantik ini.

" semua saja ya?" katanya sambil menunjuk deretan nama nama yang ada di menu-card.
 ada : tahu, bakso cumi, bakso udang, bakso sapi, usus goreng, pangsit goreng, bakso goreng, dll. jelasnya, yang kalau komplit maka akan ada 9/ sembilan macam item dimangkok kita ! 
didorong rasa ingin tahu, saya coba komplit tapi minus usus goreng, maklum, wilayah jerohan memang bukan favorit saya hehe .

 diurusan minuman, mereka menyediakan macam macam pilihan, tapi saya " digiring " kearah Sarsaparilla yang menjadi ikonnya, meski saya batal memesan sebab 
konon manisnya agak " menakutkan " . maka beloknya ke Pinky Punch 
( biasanya Blue, lha ini Pink jadi saya penasaran )

sambil menunggu pesanan datang dimeja, saya ijin untuk jeprat jepret .
kedai ini adalah bagian dari sebuah rumah berarsitektur Belanda yang dibangun pada sebelum kemerdekaan RI . kekokohan bangunannya menyiratkan betapa dijaman dulu kejujuran masih terjunjung tinggi 
( tak ada korupsi pada bahan bahan bangunannya, tak ada mark-up dll 
sehingga semuanya sesuai dengan blue-print dan terbukti kwalitas bangunannya yang memang tahan cuaca dan tak tergerus roda waktu .
beda dengan jaman kini yang belum sampai setahun sudah ambruk karena sebagian besar dana pembangunannya masuk kantong kantong pribadi ... ! )

" silahkan, selamat makan ... " , lamunan saya bubar saat pesanan tiba. 
dari skala 1 - 10, soal rasa ada di angka 7.5 . dan meski diawalnya saya sudah mendapat jaminan bahwa semuanya Halal alias tidak terkandung " makanan makanan terlarang " , tokh saya sungguh berharap bahwa nilai 7.5 ini betul betul murni alias tidak karena tercampur unsur unsur subversif e.. non-halal, saya cukup percaya tulisan " halal " pada banner nya itu 100% jujur 
( amin .. ) !

naa .. satu lagi pilihan bakso sudah hadir di kota Malang, memang belum seramai yang lain karena masih baru, maka mumpung belum perlu antri untuk menikmatinya, sebaiknya bergegas kesana ... ! juga buat yang lagi ultah atau syukuran, kedai cantik ini bisa dipertimbangkan buat kumpul ramai ramai dengan temen sekelas atau sekampus hehe .. yukkkk ! ( th )



( keterangan foto, all taken by : th ) 

01. Bakso Tenes yang cantik
02.  pilihan bakso
03. halal
04. nyaris komplit minus usus goreng
05. friendly BT girls
06. ucapan selamat





 .. " Malang, Baksomania " ..
( bakar membakarnya Pak Slamet )

kalau orang luar Malang bertanya, yang manakah sebetulnya yang bener bener Bakso Malang? saya yakin hampir semua penjual bakso di Malang akan serentak menjawab 
" sayaaaaaa ..... " ! 

 naa ... silahkan berbingung bingung, 
sebab dalam beberapa tahun terakhir ini Malang terhinggapi virus Baksomania  dengan bermunculannya berpuluh bahkan beratus mungkin, penjual bakso baru, 
baik yang dipikul, didorong, pkl, cafe, resto bakso dll

  soal nama jangan tanya seremnya. 
mulai bakso granat, krikil, kaget, setan, rambutan, gendheng, gendruwo, dll dll yang penting supaya orang penasaran dan mencobanya!


maka meskipun saya arema asli sli, jangan ditanyakan pada saya soal bakso ini sebab sayapun tidak tahu yang asli yang mana lha wong sejak kuecilllll dulu buat saya bakso itu ya seperti itu, bulat dan berkuah panas, sebab jaman itu belum ada bakso yang di bakar bakar hehe ..

naaa ... daripada pusing memikirkan mana yang asli, saya ajak saja kali ini kesebuah kedai bakso yang terbilang cukup " gres " di Malang yakni :
" bakso bakar pak Slamet " di jalan Ade Irma Suryani atau nama kunonya jalan Belakang Loji, atau jalan Pegadaian di Malang pastinya. letaknya nyaris dekat perempatan antara
jalan Ade Irma Suryani dengan Embong Arab. mudah ditemukan kok !



 dengan judul bakso bakar, sudah pasti yang saya pesan ya bakso bakarnya meskipun sempat juga mencicipi yang berkuah. soal tempatnya cukup nyaman meskipun parkir kendaraan tidak selalu bisa didepan kedai, jadi lebih aman diseberang jalan karena padatnya perempatan.

dan dengan desain interior yang semi minimalis dan didominasi warna coklat muda dan tua serta penataan mejakursi yang simpel tapi hangat dan nyaman, 
sebenarnya kedai ini bisa jadi tempat hangout yang lumayan. 
mungkin karena tidak berada di area kuliner ( kanan kirinya adalah toko kaca dll ) maka orang tidak segera tahu bahwa disitu ada kedai mamin ! kesan bersih sangat menonjol. 

dan saya yang terbiasa di kedai kedai bakso yang lain menikmati bumbu bakso bakar yang mengandung kacang ( mirip bumbu sate ), saya cukup surprise ketika akhirnya pesanan bakso bakar tiba dimeja saya dan hanya diolesi kecap .. !

" mbak ( ini satu satunya pegawai yang ada disitu ) , maaf, 
apa bumbunya memang hanya kecap saja?"
" iya bu, kenapa ?"
" o .. ndak, saya kira pakai bumbu kacang "
" lho itu kan sate, disini ya seperti itu ... "

dan ternyata masih ada lagi yang saya ingin tanyakan yaitu cara membakarnya yang mungkinkurang lama sehingga sebelah dalam dari sate bakso ini terasa masih dingin .
 saya tanyakan apakah baru dikeluarkan dari freezer, dijawab " ndak ... " .....

saya tahu soal bumbu ini mungkin masalah selera, juga soal bola bola bakso yang diluarnya terbakar tapi dalamnya masih dingin, naaa ... semoga kedai yang masih gres ini tidak gres dalam pengalaman bakar membakarnya supaya pengunjung 
dapat menikmati Bakso Bakar Lahir Bathin, alias Luar Dalam Sama Panasnya hehe .... 
selamat mencoba! ( th  )

( keterangan gambar, all taken by : th , des.2013 )

01. papan nama, aslinya tidak seperti ini, saya iseng saat photo-editing.
02. salah satu sudut kedai yang nyaman
03. lorong kedai
04. etalase
05. tempat bakar bakar
06. dapur

Rabu, 25 Desember 2013




.. menonton kemurungan seorang Didik ..
( matur nuwun buat mas Hayit, Puspo 1, Malang  )

resah, hanya satu kata ini yang bisa saya " simpulkan " tentang olah imajinasi seorang seniman apapun pilihan ' bahasa ' nya. dan untuk melihat salah satu keresahan yang mereka miliki,
siang kemarin saya meluncur ke Jalan Puspo 1, Malang. 

saya tahu pameran sudah tutup atau lewat, tetapi kalau saya masih punya keberuntungan, 
saya memang lebih suka berkesendirian menikmatinya. 
benar, mas Hayit membagi keberuntungan itu dan saya dibukakan gembok pagarnya, 
matur nuwun ....  

bahkan keberuntungan masih ditambah dengan hadirnya dua seniman lainnya di galeri mungil siang kemarin, maka kami ber 4 tanpa rencana sempat terlibat dalam obrolan kecil 
tentang karya karya Didik Sudarwanto maupun mereka sendiri.
demikian kehidupan sering berjalan tanpa skenario, bahkan sering lebih bermakna daripada yang sudah ditulis berupa rencana dan skrip!


 dalam brosur pamerannya, Didik Sudarwanto menggelar pameran ini selama 22 - 24 Desember 2013, di Jalan Puspo 1, Malang . lokasi yang  bertajuk Minimaniez Art Space ini memang 
bukan sebuah galeri yang luas dan mampu menampung banyak karya. 

namun melihat agendanya, rasanya kota Malang harus memasukkannya kedalam 
Kalender Budaya Tahunan, sebab seperti kata salah satu dari ketiganya bahwa untuk 2014 galeri ini sudah " fully booked " ( bukan hanya hotel bintang 5 saja lho yang sudah dipesan penuh ! )
dan 2014 sudah akan diawali dengan pameran lain nanti pada 03 Januari.

Didik lahir di Mojokerto, 6 Desember 1985, dan sejak 2004 telah menggelar berbelas pameran diberbagai kota. saya yang awam soal aliran aliran didunia persilatan seni lukis, 
konon menurut salah 1 seniman kemarin, karya karya yang dipamerkan kali ini beraliran 
" NAIV " . 

maka dalam imajinasi saya yang dangkal soal soal beginian, saya mencoba memahami bahwa coretan coretannya memang lebih mirip gambar anak anak TK/SD yang " sekenanya" karena sungguh bahwa " mahluk mahluk ciptaannya diatas kanvas " itu 
sulit dicari dialam nyata ( kecuali mungkin dialam ghaib yang wallahualam .... ) .

namun justru karena " tidak nyata " inilah maka pesan pesan yang ingin disampaikan seorang Didik menjadi lebih mudah tertangkap . 
ada " monster berdasi ", ada malaikat bersayap namun berwajah setan, ada tv kepala atau kepala tv ( terserah saja .. ! ) dll dll yang kesemuanya tidak bisa menyembunyikan sebuah Kemurungan ! 

dengan profil kepala kepala monster yang hampir semuanya bertanduk, 
maka tanduk ini memang sangat bisa berkonotasi sebagai 
" mahluk jahat dengan nafsu nafsu keduniawian yang juga jahat " .... klop sudah !

siapa yang dimaksudnya dengan monster? maka ( sekali lagi ) menurut ke tiga seniman yang mengobrol dengan saya, konon kali ini Didik ingin menggambarkan 
" Kritikan Bagi Yang Biasanya Mengkritik " 

( ini saya kutip semirip mungkin dengan kalimat seniman2 kemarin meski saya tahu tidak akan pernah mirip sebab tidak saya rekam, maka maaf bila ternyata jauh dari kemiripan ) :

" biasanya yang digambarkan itu kan kritikan pada penguasa atau tokoh tertentu yang melanggar rasa keadilan. tapi kali ini kritikan justru ditujukan pada si pengkritik itu sendiri. 
sebab dalam kenyataannya seringkali ketika si tukang kritik mendapat peluang yang sama dengan mereka yang pernah dikritiknya, ternyata kelakuannya bahkan lebih bobrok dari orang yang pernah dikritiknya ! " 

 saya mantuk mantuk 1000 % setuju, meski diam diam saya mendadak ketakutan kalau kalau tiba tiba dan mak jleg saya ketiban peluang peluang yang seperti dimiliki oleh yang pernah saya kritik, semoga saya dikuatkan Lahir dan Batin .. !!

maka, saat menelusuri karya karya Didik siang kemarin, saya tidak mau berpura pura mengerti biar dikira paham seni, tetapi saya banyak bertanya karena memang banyak yang saya kurang pahami, saya tidak malu, daripada pulang masih " plonga plongo " ...

dan meski tidak sempat bertemu Didik, saya sangat syukuri bahwa pertemuan dengan ke 3 seniman itu menambah lebar sedikit horison saya tentang " ke naiv an " seorang Didik. 

mungkin gambaran itu sangat banyak bertebaran dilingkungan yang manapun, dan mencegahnya tidaklah dengan mengirim mereka mereka, para monster monster itu ke lapangan tembak agar dengan satu kali doorrrr perkara akan selesai! 

ketika " sel sel kanker " sudah menyebar hingga lapis paling bawah, maka perisai perisainya tak lain adalah masing masing kita, anda, saya dll ... dan bukan siapa siapa! 
dan daripada sibuk mencari dan menuding tetangga yang koruptor, perampok, pemadat, serta pe .. pe .. pe .. lainnya, tidakkah lebih baik bicara kepada anak sendiri :

" nak, meski hidup itu sebuah pilihan, tolong pilihlah yang teraman, 
aman dari polisi, kpk, jeruji besi dan sejenisnya, ingat bahwa kamu saya lahirkan tidak untuk 
mendapat gelar XN/ eks napi, tetapi cukup sederhana saja :
 untuk memelihara martabat diri !"
 ( ndak usah martabat keluarga, sebab kalau masing masing " diri " sudah bener, 
maka keluarga ostosmastis juga bener )



tiba tiba dalam perjalanan pulang, ingatan saya melayang ke seorang pelukis Yogyakarta, 
mas Edi Hara ( menulis namanya yang betul tidak begitu, maaf mas .. saya kuatir salah )
 yang sampai saat ini masih di Swiss sesuai beritanya di inbox pada saya sekian minggu lewat. 

aliran beliau juga seperti itu, Naiv , Surealis atau entah apa saya sungguh tidak paham. 
saya pernah ketiban sampur mengurusi penyelenggaraan pameran beliau  di sebuah hotel ***** di Yogya. meski berbeda jaman dan berbeda pesan, namun saya melihat ada kesamaan disana, mengkritik yang suka mengkritik.

sungguh  sebuah karya adalah penanda jaman, dan saya yang hanya mampu menikmati tanpa mampu berkarya adalah tak lebih cuma si  
" penangkap ,  penerus serta pemelihara pesan " itu.

maka, saya sangat setuju dengan kemurungan Didik, karena itu juga kemurungan kita semua, meski kita juga tahu bahwa Murung Saja Tidaklah Cukup, siapa tahu pada pameran berikutnya Didik akan mengusung pesan " Anti Murung " ? ( th )

( keterangan gambar, all taken by : th )
01. salah satu kemurungan itu
02. kemurungan lain
03. tiga seniman
04. Didik dalam bingkai bingkai kecil



Senin, 23 Desember 2013





 ... " Seasons Greetings " ...


 my dearest blog - readers,
  
" may your holiday fullfill with happiness and joy with all 
your family and friends !"

my warmest greetings,
th.

Minggu, 22 Desember 2013






  catatan kecil pas Hari Ibu, 22 Desember 2013


tidak ada yang istimewa, kecuali berkumpulnya beberapa ibu muda, manula dan
 eyang eyang  ( eyang itu sama dengan ibu kwadrat hehe ... ) dirumah siang tadi. 
meski tidak secara khusus memperingati HI tapi akhirnya obrolan mengenai HI menjadi seru.

 lha yang merasa " bapak " terasa agak protes sebab ditanah air tidak mengenal Hari Bapak padahal konon " perjuangan bapak bapak tak kalah hebatnya dengan kaum ibu meski perbedaan mencoloknya karena mereka tidak melahirkan anak kedunia " .....

naaa, diskusi seru tentang " ketimpangan " ini, barangkali juga mewakili bapak bapak yang merasa " teraniaya " hehe ... bahkan yang merasa menjadi " single parent " alias menduda dan membesarkan anak seorang diri sebagai ayah merangkap fungsi ibu, 
dapatlah dipahami betapa " menyakitkan " tiadanya Hari Ayah .

maka , ayooo siapa yang bersedia mempelopori perjuangan diadakannya Hari Bapak di Indonesia,  mungkin pembaca? ( th ) 

( gambar atas, dari google )
( foto bawah, taken by : th ) 

ps : terima kasih buat Dc., Sg, Ss, Tn, Agt, Yy,Sy, Dv atas semuanya.