Kamis, 08 November 2012




 "Paris van Java "

Bicara tentang predikat Paris van Java, ada dua kota di tanah air yang layak mendapatkannya, Bandung dan Malang. namun predikat itu diberikan oleh " penguasa " jaman kolonial karena keduanya memang layak, selain udaranya yang dingin, nyaman, bersih dan view nya yang indah berlembah lembah.

Itu duluuuu ... Bicara Malang saat ini, rasanya predikat itu sudah tidak sesuai.
Malang saat ini lebih pas dengan sebutan kota " baliho, spanduk, ruko, macet, panas, bising, dan polusi tinggi " ... bagaimana dengan Bandung? 

Maka saya yang semasa remaja dulu pernah bergabung disebuah majalah fashion dan musik di Bandung serta beratus kali pp Jakarta - Bandung tetapi kemudian meninggalkan Bandung selama berbelas tahun, dan baru dalam lima tahun terakhir ini mendapat kesempatan menengok Bandung beberapa kali, rasanya Bandung pun mulai berubah . Berubah kearah mana? 

Sempat cemas juga melihat Bandung yang mulai " seperti Malang " yakni penuh dengan baliho, ruko dll. Wow .. dimanakah sebenarnya Paris van Java yang dirindukan banyak orang?

Namun dalam kunjungan ke Bandung kali ini, disisi lain saya masih berlega hati melihat bahwa Bandung ternyata masih mempertahankan cukup banyak gedung gedung maupun bangunan bangunan lama jaman kolonial baik yang bersejarah maupun hunian hunian pribadi. 

Bahkan disebuah jalan yang saya lupa namanya, saya seolah diseret mesin waktu karena 95% disitu masih 
" berwajah tempo doeloe " . Gedung gedung dan rumah rumah pribadi yang berwajah kolonial itu masih terlihat sangat kokoh dengan halamannya yang sangat  luas dan terawat. 

Bahkan saat melewati Gedung bersejarah dimana konferensi Asia Afrika yang melambungkan nama Indonesia dimata internasional, seolah saya masih bisa mendengarkan gegap gempitanya peserta konferensi yang fenomenal itu !

 Saya mencoba hunting foto ke menara Gedung Sate yang konon " serem " tetapi waktu membatasi, sehingga tertunda entah sampai kapan. 
Rasanya dalam hal pemeliharaan dan pelestarian bangunan bangunan bersejarah maupun kuno, 
Malang tampaknya lebih " brutal " karena penghancuran gedung gedung dan hunian hunian pribadi yang jadul dan bersejarah  seolah tidak mempedulikan perlunya kelestarian sejarah 
demi kepentingan anak cucu.

Konyolnya, gedung gedung penggantinya yang " modern " adalah sama sekali tidak memiliki benang merah dengan gedung aslinya sehingga sejarah menjadi terkoyak oleh beton beton gersang yang 
tidak punya nilai apa apa kecuali nilai konsumtif  yang mengajarkan kepada anak cucu 
untuk rajin berbelanja.

Ayooo kembali ke Braga .. 
Jalan jalan saya lanjutkan dengan tujuan ke II setelah hunting foto, yaitu mencari resep resep mamin jadul yang konon masih banyak bertebaran di pusat pusat kuliner Bandung. 
Tuan e.. nyonya rumah membawa saya kesebuah bakery yakni " Rasa Bakery  and  Cafe " yang konon masih menyisakan resep jadul untuk sajian ice cream dan kue kuenya.

Mungkin kalau di Malang bisa dibandingkan dengan toko OEN meskipun cafe ini sudah tertata lebih modern dibagian dalamnya. Terus terang saya kesulitan membedakan rasa jadul dan modern,
 lha " wong " dijaman ini rasa dapat dijadul jadulkan tanpa harus memakai resep asli, tetapi demi menghormati tuan e.. nyonya rumah yang mengundang saya, sayapun memberi compliment pada sajian yang ada didepan saya hehe ...

Hari hari di Bandung saya tidak ke pusat pusat fashion melainkan kuliner, karena tas mini saya juga sudah cukup memenuhi kebutuhan baju dan celana.Seperti biasa, 
yang standar adalah jeans dua lembar, T Shirt dua itupun hitam dan coklat ganti berganti, dua kemeja kotak2 ( pun ini bukan karena Jokowi hehe  ... ) dan dua pasang busana formal.Lho? 
Iya karena agenda saya juga mengharuskan saya menghadiri pernikahan seorang keponakan, maka tidak ada tempat lagi yang tersisa di tas, seperangkat selop dan sepatu sudah memadati sisa ruang yang ada. 

Kamera dan tetek bengek ID cards termasuk paspor tertenteng dibahu. Sepatu atau selop itupun 
" terpaksa " dibawa, karena saya terlanjur " dikontrak " sebagai MC dipernikahan itu, termasuk  " kontrak " lain yang sudah menanti saya yaitu MC ( lagi ) dipernikahan keponakan yang lain 
di Malang akhir Nopember ini.

Lagi laris? Sebenarnya saya sudah menolak keduanya dengan alasan :
" cari yang masih kinyis kinyis wong MC manula itu  tidak menarik " dijawab : " yang muda ngga punya vocal seperti yang manula dan ini masalah jam terbang " , waa bisa aja menggombali saya ..
 ( Yang terjadi kemudian malah " MC Plus " yaitu saya beri bonus kepada mempelai dengan satu nomor jazz Misty, sebagai ganti kado saya hehe ... ) Kalau bukan keponakan2 sendiri saya tidak bakal memberi bonus, 
" sumpah " ! ( sumpah apa nee hehe ... )



Lho ngelantur lagi? Sampai mana tadi? Oya wisata kuliner saya lanjutkan esoknya di Atmosphere Resort Cafe, Lengkong Besar 92. Sebetulnya ini kali ke 3 saya kesana. 
Yang saya suka memang atmosphere nya, sesuai namanya. Bangunan serba kayu  ini ditunjang oleh arsitektur nya yang memang sangat artistik plus live-music nya yang 
80% adalah lagu2 masa kini.

Selama mereka masih berkutat di lagu2 dari Sammy, Glenn, Afgan, Tompi, Pinkan, Agnes dll saya masih nyaman kecuali ketika sudah mulai menyeberang ke Korea, 
saya tiba2 merasa " tua " alias mulai merasa 
" tertinggal " hehe ...Tak banyak yang bisa saya uraikan tentang menunya, 
kecuali dengan satu kata " as usual " , skala 1 -10, ada di 7.5 ...
 Di meja saya ada daging sapi, ikan laut dan ayam plus salad dan lalapan, jadi apa yang bisa saya jelaskan kecuali atmospherenya yang memang layak diacung jempoli? Untuk atmosphere adalah 8.5.

Hummins Bird adalah lokasi kuliner yang berikutnya  dan terletak dikawasan padat kuliner. 
Mencari tempat parkir  adalah salah satu tantangan nya. Tapi demi sebuah pengalaman kuliner , saya rela ber sulit sulit memarkir kendaraan. Terus terang mengemudi di Bandung  membuat saya menjadi lebih 
" jinak " karena kurang memahami medan plus keingin tahuan tentang Bandung membuat 
saya sebenarnya lebih suka menjadi penumpang daripada pengemudi hehe ..

Cafe yang satu ini punya keunikan. Mirip memasuki sarang burung , disebelah luar cafe kita langsung sudah disuguhi bangunan mirip sarang walet. Ruang yang di sebelah dalam dinding2nya terdiri dari puluhan sangkar burung yang tertata unik. Dan burung burungnya adalah kita, para pengunjung hehe ..

Menu ditulis diatas " sabak ", sejenis papan hitam yang biasa dipakai anak anak sekolah jaman dulu, bisa dibilang " iPad Jadul " hehe .. Saya lihat hampir semua sudut dan meja terisi penuh dan 
suasana memang ramai mirip sarang burung dimusim kawin.

Tiga macam menu terhidang, satu ala Thailand, satu Eropa dan satu lokal. Sayangnya tidak satupun berbau aroma burung, mungkin saya ( lagi2 ! ) kurang pandai memilih menu yang khas Hummins ? Mustinya saya memesan sup burung walet atau steak puyuh ..

Wisata kuliner berikutnya adalah jajanan PKL. 
Jangan ditanya, sebab disoal rasa mereka mungkin lebih jawara.  Beberapa hari di Bandung saya diserang dengan sarapan yang khas Bandung secara bergantian : lontong sayur, tahu lontong , batagor dan tentu saja bacang Bandung. Terus terang saya merasa lebih akrab dengan menu menu ini karena selain rasa,
 juga saya bisa santai menikmatinya tanpa melepas pijama tidur saya hehe ...


Diantara hari hari penuh petualangan kuliner itu, saya juga menjalani petualangan " spiritual " melalui musik  yang bak  sebuah obat ajaib 
musik mampu " menyembuhkan " . 

Ya, tiada hari tanpa musik, dan sebagai salah satu anugerahNYA yang terindah kepada peradaban manusia, musik telah sedemikian menyatu dalam denyut nadi saya 
( waaa ...... kok jadi ngelantur lagi? ) .


Didukung mereka mereka yang penuh bakat didekat saya, 
hari hari penuh musik di Bandung itu akan saya kenang sebagai " terapi indah " hehe .. Bagaimana tidak, " wong " bangun pagi sudah ting tong, 
sampai mau tidur malam juga masih ting tong .. 
andai saja dunia dipenuhi suara musik dan bukan suara amunisi dan roket roket ...

Meninggalkan Bandung menuju ibukota melewati Puncak sayangnya  tidak tampak kecantikannya karena ditelan awan gelap sunset . 
Ada sederet nama yang saya ingin sampaikan terima kasih atas kemanjaan yang diberikan kepada saya selama di Bandung, ini : 
mbak Nunik, Irene, Dwiky, mas Bagus, pak Asep, pak Rahman, mbak Mi, dan Anggie berikut lima kucing yang manis manis .. 

" Bila awan gelap masih saja bergantung dan murung , 
semoga selimut malam akan menepisnya di fajar pagi " .. (  th  )

Keterangan foto ( all taken by th ) :

01. Papan nama pusat belanja Paris van Java
02. Salah satu sudut di Paris van Java
03. Shopping area Paris van Java
04. Evita Peroni, terinspirasi nama Evita Peron " Don't Cry For Me 
       Argentina " ?
05. Jembatan di tengah kota
06. Hummins Bird Cafe, salah satu tempat hangout yang asekkk ..
07. Steak ala Hummins Bird
08. Card Menu, dari " sabak " alias " iPad jadul "
09. Studio musik pribadi
10. Du ( you )
11. Rasa Bakery
12. Salah satu minuman khas di Rasa Bakery
13. Pastry di Rasa Bakery
14. Atmosphere Rasa Bakery












Rabu, 07 November 2012





" LELA LELE " di Jungle City

B o g o r   bulan Nopember, tidaklah berlebihan disebut sebagai Kota Hujan karena saya juga sempat mendapat jatahnya dan kebingungan 
ketika pagi2 semua baju dan celana yang sedianya mau dipakai 
ternyata basah kuyup.
" Iya disini suka hujannya malam malam .. " , kata si tuan rumah, waaa .....

Kedua, setelah muter muter di 3/4 kota Bogor, juga tidak berlebihan kalau saya menyebutnya sebagai Jungle City karena Bogor masih punya kehijauan 
yang di kota kota lain mulai punah, setidaknya di pulau Jawa. 

Bukan saja karena " virus " Kebun Raya nya yang menyebar kehijauan, 
tapi memang Bogor nampaknya dibangun untuk tempat peristirahatan para petinggi Belanda dimasa lampau dan didesain diatas kawasan belantara. 
Dan sisa dari sejarah hijau itulah yang masih bisa dinikmati hingga saat ini
di sebagian area.

Bahkan ketika saya membandingkan dengan kota saya, Malang, rasanya Malang sudah berubah menjadi kota spanduk dan baliho disamping ruko dan kehijauannya berganti dengan beton beton. 

Bicara Bogor sebagai tujuan wisata, memang ada beberapa alasan. 
Kebun Raya yang masih terpelihara, Istana Kepresidenan di lokasi yang sama dan juga masih kokoh berdiri dengan ratusan kijang dihalamannya, 
adalah atraksi klasik yang sejak saya kecil hingga manula ini 
tidak pernah membosankan.



Nama presiden I kita, Soekarno, dengan riwayatnya  yang sangat lekat dengan Istana Bogor, adalah bak " mimi lan mintuna " . 
Romantisme sejarah keduanya menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa Indonesia terutama di awal awal menuju dan sesudah kemerdekaan RI.

Nama Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran juga merupakan " trademark " yang sulit terpisahkan dari kota ini. Dan dalam penelusuran sejarah berdirinya Bogor, tercatat bahwa sejak abad XV ternyata kota ini sudah ada. Jadi dapat dikatakan Bogor adalah salah satu kota tertua didunia.

Dalam perkembangan kota kota besar ditanah air dimana Jakarta sebagai etalase republik ini, nampaknya Jakarta sudah mulai " kewalahan " menampung hasrat warganya akan kehijauan dan udara segar yang mulai hilang di ibu kota tercinta ini. 

Maka disetiap akhir pekan, ribuan mobil mobil ber plat B, nampak parkir di cafe cafe ataupun resort yang tertebar diseantero Bogor. 
Sulitnya mencari secuil tempat parkir juga saya alami dan mengharuskan saya berjalan sekitar 150 meter ke tempat makan yang akan dituju. 
Sampai " segitunya " ... ? Iya dan ini masih belum seberapa daripada tidak mendapat tempat sama sekali.

" Sekarang ini Bogor menjadi Bandung ke II karena orang2 Jakarta menjadikan Bogor sebagai tujuan wisata kuliner akhir pekan ... ", jelas si tuan rumah pada saya yang " celingukan " mencari tempat parkir .. 

Lalu kemana orang Bogor nya sendiri diakhir pekan? " Ya banyak juga yang ke Jakarta, kan enak jalanan lancar kesana dan pulangnya juga hihi ... " , masuk diakal .. Demikian nampaknya kehidupan, 
" wira wiri " mirip semut semut yang berjalan kesana sini membangun sejarah .. hehe ..

Untuk membuktikan Bogor sebagai tujuan wisata kuliner, saya ikut ikut an "wira wiri " mencari yang khas Bogor dan yang tidak khas tetapi populer.
Contoh yang khas : Asinan Bogor dan Es Duren. 

Keduanya memang okay dan 
saya beruntung bahwa di Malang pun saat ini saya bisa mendapatkannya. Biasanya ada mobil VW yang parkir dijalan Semeru , Merbabu atau Raya Langsep dan  Soekarno Hatta  menjual asinan Bogor meski pada hari2 tertentu mobil ini pindah ke Simpang Balapan. 
Ck .. ck .. hafal betul saya dengan lokasi2nya sebab si penjualnya juga sudah menghafal saya saking seringnya beli he he ...


Setelah bertemu asinan yang dihitung sebagai " makan pagi " maka perjalanan lanjut kesebuah kedai kecil yang tersohor dengan ikan lelenya. 
Lele Lela. 
Sambil menunggu pesanan tiba di meja, saya baca poster poster didindingnya yang salah satunya adalah penghargaan plus cuplikan artikel koran tahun 2010 yang menyebut Lele Lela masuk sebagai hidangan Istana Kepresidenan.

Saya penasaran kira kira seperti apa rasa hidangan istana ini? 
Maka ketika pesanan2 tiba, terjawab sudah penasaran saya dan saya hanya tinggal mengiyakan saja bahwa memang Lele Lela layak masuk istana hehe ..

Kudapan kudapan atau cemilan khas Bogor juga sudah penuh di tas, 
dan diputuskan untuk  " menunggu saat makan malam " sambil mengitari kota dari sisi lain yang kurang populer yakni melihat kawasan perumahan perumahan baru.

Saya tiba tiba saja merasa cemas, dibeberapa lokasi perumahan baru yang didatangi ternyata begitu " tandus dan panas " karena ketiadaan 
pepohonan dan kehijauan, kontras dengan suasana rumah rumah kuno peninggalan jaman Belanda di Bogor yang begitu adem ayem, hijau, rimbun dan asri serta nampak sangat menyatu dengan sekitarnya.

Apakah pembangunan kawasan2 baru ini sebuah kemajuan atau sebaliknya?


Jam makan malam akhirnya tiba juga  setelah seharian menelusuri kota hujan ini. Berputar putar mencari yang " terbaik " dari sekian banyak pilihan yang sangat baik adalah tidak mudah sebab masing masing 
memiliki nilai plusnya. 

Akhirnya sebuah bangunan dengan desain etnik , menarik untuk disinggahi dan letaknya yang dipojok menawarkan tempat parkir yang cukup luas.  
Namanya " de Leuit " . 

Bangunan luas bertingkat 3 dan khas Sunda ini diperkirakan mampu menampung sekitar 300 - 400 tamu dan menu menunya ternyata tidak hanya resep lokal tapi juga internasional. 
Meja meja didekat saya bahkan malam itu disesaki oleh tamu tamu bule yang entah turis atau expat. 

Dari skala 1 - 10, rasa dari menu pilihan meja saya malam itu saya nilai 75 . Standar? Tidak juga, tetapi saya memang sempat sebelumnya berharap akan sebuah " surprise ala de Leuit " yang mungkin terlewat tidak 
saya pilih dari daftar menu, sehingga saya harus " menunda " 
memberi nilai lebih hehe meskipun es buaya yang saya pilih terbilang lumayan 
( sedikit koreksi, tertulisnya memang buaya, meski sebetulnya adalah potongan2 tanaman lidah buaya  hehe ... )


Saya tidak tahu berapa lama lagi Bogor akan mampu bertahan terhadap hantaman " modernisasi " dan pendatang2 dari luar Bogor yang berpotensi mengubah Jungle City ini menjadi kota sahara? 

Jumlah kendaraan dan penduduk serta perumahan2 dan ruko2 plus mall mall yang makin bertambah, arus pengunjung diakhir pekan, pengurangan kawasan hijau untuk pembangunan fisik kota, dll yang semuanya mempercepat perubahan Bogor dimasa depan .. 

Semoga saja Jungle City ini masih akan mampu menahannya dan
mempertahankan kehijauannya ! ( th )

Keterangan foto : 

01. Salah satu sudut Kebun Raya Bogor, foto diambil dari Noni dan  Agu 2012, 
       google.
02. Istana Bogor, foto diambil dari Noni dan Agu 2012, google.
03. Pecel Lele ( taken by me )
04. Salah satu menu de Leuit ( taken by me )
05. Sholat di masjid salah satu perumahan ( taken by me )








 








Selasa, 06 November 2012

Negeri Singa yang " Tidak Edan " ....


Berhubung penulis dari Malang, maka ketika menjejak kaki yang kesekian kalinya di negeri Singa, yang terlintas adalah kata Singo Edan meskipun tidak ada hubungan antara keduanya. Patung merlion yang separuh ikan dan separuh singa ini masih tegak berdiri di kawasan Marina Bay Sands dan menjadi ikon sejak berpuluh tahun dimana telah jutaan foto dan kamera mengabadikannya. 

Maka ketika seorang teman bertanya " mau belanja apa mbak di Singapura? ", saya ringan menjawab " tidak cari apa apa, cuma mau ke museum museum ". Jawaban ini sungguh tidak memuaskan, saya tahu, sebab museum umumnya bukan tujuan orang berwisata. Lha mengapa saya pilih? Saat itu, 7 ( tujuh ) museum di negeri mini ini sedang menggelar gawe besar " Singapore Arts Festival 2012 " , Puisi Puisi Yang Hilang ( Our Lost Poems ) dan ditangan saya ada setumpuk agenda padat dari ke 7 museum yang menggelar festival besar tahun 2012 ini. 

Maka tertebak sudah kearah mana tulisan ini dibuat yakni penjelajahan dari satu ke lain museum . Ini bukan perkara mudah untuk menyusunnya dalam satu tulisan menarik karena saya tidak akan bicara soal merk sepatu atau baju terkenal , juga  saya memang bukan ahlinya. 

Seminggu penuh setiap harinya saya punya bekal rutin ditangan, ada : peta, kamera, air mineral, dan sepotong sandwich yang selalu saya beli di kedai " 7.11 " yang tersebar diseantero stasiun MRT bawah tanah, alasannya : murah, bersih, enak, dan saya selalu pilih yang sama : tuna sandwich. 

Oya MRT itu angkotnya Singapur yang melayani transpotasi umum ( Mass Rapid Transit ) untuk warganya dengan kereta bawah tanah . Sistim pemetaannya sangatlah mudah dipahami bahkan untuk yang baru I kali memakainya, dikarenakan pengaturannya yang sedemikian rupa. Tiketnya? Terserah pada agenda anda, apakah kira2 kita berada disana untuk jangka pendek atau semi permanen  bahkan permanen. Sesuaikan saja lama tinggal kita dengan jenis tiketnya.

Misalnya untuk turis yang rata2 hanya tinggal selama 2-3 hari dapat membeli tiket turis berlangganan, dengan harga lebih murah dibanding yang membeli secara harian. Kita tidak harus menemukan loket karcisnya, karena sudah tersedia sejenis atm untuk membelinya dengan memasukkan uang kertas maupun logam dan bersiaplah menerima kembaliannya, mudah bukan?

Apakah anda lupa atau sengaja tidak menandai karcis di gerbang masuk MRT? Sebaiknya tidak coba coba karena negeri mini ini tersohor sebagai Fine City alias negeri denda yang konon menerapkan denda menendanya sangat ketat untuk berpuluh alasan. 

Sebut saja : kentut di lift, memberi makanan burung dijalanan, meludah dijalan, membuang sampah sembarangan, merokok sembarangan dll. Maka daripada puluhan dollar melayang untuk membayar denda lebih baik dipakai untuk oleh oleh yang dirumah hehe ..

Harga mamin sangatlah tergantung pada lokasi yang dipilih. Saya bahkan menemukan Smash Chicken alias ayam penyet yang penjualnya dari jawa tengah dengan harga terjangkau dan kedainya penuh sesak karena  sambalnya yang konon menggoyang lidah. Petualangan kuliner tidaklah harus mahal , banyak tempat tempat nyaman , murah dan enak serta tentu saja " halal " dimana orang harus cukup teliti agar tidak tercampur dengan yang  
" terlarang " .

Bagi yang benar benar ingin " menaklukkan " Singapur dari segala sisinya, baik kuliner, lokasi lokasi wisata baik night and day tour, pusat2 belanja, museum, petualangan2 alam dan artifisialnya, siap siaplah dengan agenda yang padat plus lembaran dollar Singapur yang tebal karena entrance fee yang tak terlalu murah. 

Seperti misal Universal Studio yang menjadi tujuan favorit para turis, pada hari biasa tiketnya adalah 74 SD/dewasa dan weekend 80 SD.Disarankan sebaiknya anda memilih paket tour dua hari untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata sekaligus, ini akan lebih hemat waktu dan biaya serta tenaga kecuali anda ingin tidak terikat jadwal.

O ya, mengunjungi 7 museum juga bukan hal mudah karena saya harus menghabiskan waktu seharian hanya untuk  dua museum. Bukan masalah jarak, melainkan " konten " festivalnya yang sarat pesan pesan universal. Semisal di Esplanade, saya masuk di museumnya  yang bicara soal bencana kelangkaan air dunia. Giris. Mengobrol dengan dua seniman disana, saya seolah dibawa ke sungai sungai di Vietnam dan Thailand tempat keduanya menggali inspirasi, dimana bencana mulai terasa mengancam manusia. 

Rasanya tidak ada lagi jarak bangsa, ras dan  keyakinan, karena ancaman ini bersifat global yang dapat terjadi dimana dan kapan saja tanpa memandang perbedaan yang ada. Saya tercenung.

" Cenungan cenungan " inilah yang membuat saya jadi ber lama lama ditiap museum.Di Art Museum dekat hotel saya di Bras Basah Road misalnya, saya melihat karya karya seniman Indonesia antara lain ada sketsa black-white dari Chairil Anwar dan RA Kartini yang ( maaf ) sedang merokok. Lho? Tapi seniman memang bebas ber ekspresi dan pesan yang hendak disampaikanpun harus dipahami agar tidak salah persepsi. 

Sementara itu dipojok lain saya melihat ada kendaraan Bajaj yang di beri mahkota wayang penuh ukiran terbuat dari logam dan karya ini diberinya judul " Bajaj Pasti Berlalu " ( generasi yang tidak mengenal album terkenal tahun 80 an " Badai Pasti Berlalu " Chrisye dan Berlian Hutauruk mungkin sulit memahaminya )

Malam hari ketika badan mulai terasa pegal tapi masih ada keinginan menengok Singapur sebelum dan setelah sunset, saya turun ke stasiun MRT terdekat mencari peta arah Marina Bay Sands sebagai pengganti GPS hehe .. 

MBS ini terkenal sebagai kawasan favorit warga lokal maupun turis yang ingin bersantai bersama keluarga . Lokasi ini termasuk tujuan wisata terbaru yang mampu mengubah wajah Singapura sepenuhnya menjadi lebih cantik jelita. Yang menjadi pusatnya adalah sebuah bangunan berbentuk 3 menara setinggi lebih dari 200 meter yang menyangga sebuah " kapal raksasa " dimana diatasnya terdapat hotel, pusat belanja dan lain lain.

Dari atas " kapal " inilah kita dapat saksikan Singapur hampir 360 derajat dan pengambilan foto sunset dari kamera saya menghasilkan gambar2 yang fantastis bukan karena kepiawaian saya melainkan secara alami sudah sangat luar biasa lighting yang disediakan alam. 



Puas menikmati dari atas, saya turun kelantai terbawah melihat atraksi favorit Water and Light Show atau Wonder Full yang full atraksi laser, searchlights, LEDs, video projectors dan layar air raksasa yang memantulkan efek luar biasa . Tontonan ini gratis , diudara terbuka dan tepat didepan teluk Marina dan gedung gedung pencakar langit . 

Dalam semalam ditampilkan dua kali show. Saya menelusup mencari tempat duduk paling strategis untuk memotret. Teknologi dan Art yang dipadu dalam sebuah karya memukau dengan latar belakang musik Wonderful World dari Louis Amstrong mampu membius penonton untuk sejenak terlempar kedunia lain, Wonderful World. Ah yaa, kalau saja dunia seindah yang digambarkan disitu, tidak ada peperangan dan bencana yang dibuat manusia ...

Masih tersisa waktu hingga 24.00, ada beberapa atraksi menarik lain  di lokasi yang sama. Rain Oculus di Waterfront Prominade karya Ned Kahn. Paduan karya arsitektur gelas kaca dan atraksi air ini sangat indah terutama disaat air yang ber gulung2 meluncur kebawah kearah  restoran yang ada dilantai bawah. 

Dan terakhir, saya habiskan waktu didepan stage dari tampilan kelompok jazz terkemuka Singapura yang malam itu menggelar show nya yang atraktif. Nomor nomor jazz klasik sampai yang modern diolah dalam  aransemen yang dinamik sampai tidak terasa dua jam berlalu cepat.


Tidak ada kekhawatiran berjalan dimalam hari dinegeri Singa ini, saya lihat bahkan masih banyak yang menikmati sisa malam di taman taman bersama teman dan keluarga. Sungguh berbeda dengan kota kota besar ditanah air yang seolah memiliki " jam malam " dengan berdenyutnya jantung lebih keras ketika terpaksa harus mengambil transpotasi umum dimalam hari meski itu taxi sekalipun, apalagi di Jakarta yang  pada akhirnya  paling  aman adalah memilih dirumah saja hehe ..

Hari hari berikutnya disamping museum2 , saya juga menfaatkannya ke tempat2 yang kurang terkenal  karena saya ingin melihat sisi lain Singapura seperti Kampung Arab , masjid masjid besar dll. Bertemu dengan orang orang yang sebelumnya tidak kita kenal dan  menginspirasi  kita dalam cara bagaimana mereka menapaki kesuksesannya, adalah selalu menarik.

" Saya imigran Itali, 20 th disini dan saat ini dipercaya sebagai salah satu direktur di museum ini " atau " Saya memulai bisnis dari berjualan pkl hingga memiliki restaurant sendiri seperti yang anda lihat " atau " Saya insinyur teknologi laser dan asisten manajer di sini " dst dst.. seperti membaca sebuah buku kehidupan yang tanpa akhir.



Menelusuri pasar tradisional semacam Bugis Street juga asyik karena diperlukan kepiawaian menawar dan rasanya orang indonesia termasuk jawaranya. Jadi perkara oleh oleh barangkali disini salah satu habitatnya.

Sebut saja di Singapura ada sekitar 200 an tempat tempat menarik untuk dikunjungi, tentu saya tidak akan membahasnya semua. Pada tulisan berikutnya barangkali bisa kita rampungkan negeri mini ini dalam beberapa 
hari lagi.

Terus terang saya salut dengan cara negeri ini menjual daya tariknya, sebab negeri yang dibangun sebagian diatas pasir yang diimpor ataupun mungkin dicuri dari tanah air kita ini sebenarnya " tidak ada apa apanya " dibanding Indonesia yang maha luas dan kaya dengan SDA ini, tapi kok pinter ya menarik investor dan turis? 

Contoh sederhana adalah New River yang sebetulnya dibanding Indonesia dengan Bengawan Solo atau Kapuas bisa lebih dahsyat membuat atraksi, tapi ternyata Singapura piawai menyulap sebuah sungai kecil menjadi kawasan wisata yang menarik terutama kuliner dan night-lifenya. 

Maka ber jalan2 kenegara tetangga memang bukan sekedar buang buang waktu atau bersantai, tetapi banyak hal yang dapat dipelajari sebagai pembanding dan pe motivasi.


Kangen durian sejenis petruk atau bangkok yang gede gede? Ayo ke Bugis Street atau es Turki yang gemerincing di New River? Negeri mini ini memiliki segalanya meski secuil2 . Mampukah kita meniru kecerdikannya? Benar benar negeri Singa ini memang " waras " alias tidak edan ... ( TH )

Keterangan foto  ( taken by TH ) :

01. Water  and Light Show, Marina Bay Sands.
02. Demo membuat dan memasak mie.
03. Mass Rapid Transit ( MRT ) diambil dari : Fitriya/detik.com
04. Kedai Duren, Bugis Street.
05. Salah satu lapak PKL.
06. Patung patung dipusat belanja Orchad Road.