Selasa, 06 November 2012

Negeri Singa yang " Tidak Edan " ....


Berhubung penulis dari Malang, maka ketika menjejak kaki yang kesekian kalinya di negeri Singa, yang terlintas adalah kata Singo Edan meskipun tidak ada hubungan antara keduanya. Patung merlion yang separuh ikan dan separuh singa ini masih tegak berdiri di kawasan Marina Bay Sands dan menjadi ikon sejak berpuluh tahun dimana telah jutaan foto dan kamera mengabadikannya. 

Maka ketika seorang teman bertanya " mau belanja apa mbak di Singapura? ", saya ringan menjawab " tidak cari apa apa, cuma mau ke museum museum ". Jawaban ini sungguh tidak memuaskan, saya tahu, sebab museum umumnya bukan tujuan orang berwisata. Lha mengapa saya pilih? Saat itu, 7 ( tujuh ) museum di negeri mini ini sedang menggelar gawe besar " Singapore Arts Festival 2012 " , Puisi Puisi Yang Hilang ( Our Lost Poems ) dan ditangan saya ada setumpuk agenda padat dari ke 7 museum yang menggelar festival besar tahun 2012 ini. 

Maka tertebak sudah kearah mana tulisan ini dibuat yakni penjelajahan dari satu ke lain museum . Ini bukan perkara mudah untuk menyusunnya dalam satu tulisan menarik karena saya tidak akan bicara soal merk sepatu atau baju terkenal , juga  saya memang bukan ahlinya. 

Seminggu penuh setiap harinya saya punya bekal rutin ditangan, ada : peta, kamera, air mineral, dan sepotong sandwich yang selalu saya beli di kedai " 7.11 " yang tersebar diseantero stasiun MRT bawah tanah, alasannya : murah, bersih, enak, dan saya selalu pilih yang sama : tuna sandwich. 

Oya MRT itu angkotnya Singapur yang melayani transpotasi umum ( Mass Rapid Transit ) untuk warganya dengan kereta bawah tanah . Sistim pemetaannya sangatlah mudah dipahami bahkan untuk yang baru I kali memakainya, dikarenakan pengaturannya yang sedemikian rupa. Tiketnya? Terserah pada agenda anda, apakah kira2 kita berada disana untuk jangka pendek atau semi permanen  bahkan permanen. Sesuaikan saja lama tinggal kita dengan jenis tiketnya.

Misalnya untuk turis yang rata2 hanya tinggal selama 2-3 hari dapat membeli tiket turis berlangganan, dengan harga lebih murah dibanding yang membeli secara harian. Kita tidak harus menemukan loket karcisnya, karena sudah tersedia sejenis atm untuk membelinya dengan memasukkan uang kertas maupun logam dan bersiaplah menerima kembaliannya, mudah bukan?

Apakah anda lupa atau sengaja tidak menandai karcis di gerbang masuk MRT? Sebaiknya tidak coba coba karena negeri mini ini tersohor sebagai Fine City alias negeri denda yang konon menerapkan denda menendanya sangat ketat untuk berpuluh alasan. 

Sebut saja : kentut di lift, memberi makanan burung dijalanan, meludah dijalan, membuang sampah sembarangan, merokok sembarangan dll. Maka daripada puluhan dollar melayang untuk membayar denda lebih baik dipakai untuk oleh oleh yang dirumah hehe ..

Harga mamin sangatlah tergantung pada lokasi yang dipilih. Saya bahkan menemukan Smash Chicken alias ayam penyet yang penjualnya dari jawa tengah dengan harga terjangkau dan kedainya penuh sesak karena  sambalnya yang konon menggoyang lidah. Petualangan kuliner tidaklah harus mahal , banyak tempat tempat nyaman , murah dan enak serta tentu saja " halal " dimana orang harus cukup teliti agar tidak tercampur dengan yang  
" terlarang " .

Bagi yang benar benar ingin " menaklukkan " Singapur dari segala sisinya, baik kuliner, lokasi lokasi wisata baik night and day tour, pusat2 belanja, museum, petualangan2 alam dan artifisialnya, siap siaplah dengan agenda yang padat plus lembaran dollar Singapur yang tebal karena entrance fee yang tak terlalu murah. 

Seperti misal Universal Studio yang menjadi tujuan favorit para turis, pada hari biasa tiketnya adalah 74 SD/dewasa dan weekend 80 SD.Disarankan sebaiknya anda memilih paket tour dua hari untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata sekaligus, ini akan lebih hemat waktu dan biaya serta tenaga kecuali anda ingin tidak terikat jadwal.

O ya, mengunjungi 7 museum juga bukan hal mudah karena saya harus menghabiskan waktu seharian hanya untuk  dua museum. Bukan masalah jarak, melainkan " konten " festivalnya yang sarat pesan pesan universal. Semisal di Esplanade, saya masuk di museumnya  yang bicara soal bencana kelangkaan air dunia. Giris. Mengobrol dengan dua seniman disana, saya seolah dibawa ke sungai sungai di Vietnam dan Thailand tempat keduanya menggali inspirasi, dimana bencana mulai terasa mengancam manusia. 

Rasanya tidak ada lagi jarak bangsa, ras dan  keyakinan, karena ancaman ini bersifat global yang dapat terjadi dimana dan kapan saja tanpa memandang perbedaan yang ada. Saya tercenung.

" Cenungan cenungan " inilah yang membuat saya jadi ber lama lama ditiap museum.Di Art Museum dekat hotel saya di Bras Basah Road misalnya, saya melihat karya karya seniman Indonesia antara lain ada sketsa black-white dari Chairil Anwar dan RA Kartini yang ( maaf ) sedang merokok. Lho? Tapi seniman memang bebas ber ekspresi dan pesan yang hendak disampaikanpun harus dipahami agar tidak salah persepsi. 

Sementara itu dipojok lain saya melihat ada kendaraan Bajaj yang di beri mahkota wayang penuh ukiran terbuat dari logam dan karya ini diberinya judul " Bajaj Pasti Berlalu " ( generasi yang tidak mengenal album terkenal tahun 80 an " Badai Pasti Berlalu " Chrisye dan Berlian Hutauruk mungkin sulit memahaminya )

Malam hari ketika badan mulai terasa pegal tapi masih ada keinginan menengok Singapur sebelum dan setelah sunset, saya turun ke stasiun MRT terdekat mencari peta arah Marina Bay Sands sebagai pengganti GPS hehe .. 

MBS ini terkenal sebagai kawasan favorit warga lokal maupun turis yang ingin bersantai bersama keluarga . Lokasi ini termasuk tujuan wisata terbaru yang mampu mengubah wajah Singapura sepenuhnya menjadi lebih cantik jelita. Yang menjadi pusatnya adalah sebuah bangunan berbentuk 3 menara setinggi lebih dari 200 meter yang menyangga sebuah " kapal raksasa " dimana diatasnya terdapat hotel, pusat belanja dan lain lain.

Dari atas " kapal " inilah kita dapat saksikan Singapur hampir 360 derajat dan pengambilan foto sunset dari kamera saya menghasilkan gambar2 yang fantastis bukan karena kepiawaian saya melainkan secara alami sudah sangat luar biasa lighting yang disediakan alam. 



Puas menikmati dari atas, saya turun kelantai terbawah melihat atraksi favorit Water and Light Show atau Wonder Full yang full atraksi laser, searchlights, LEDs, video projectors dan layar air raksasa yang memantulkan efek luar biasa . Tontonan ini gratis , diudara terbuka dan tepat didepan teluk Marina dan gedung gedung pencakar langit . 

Dalam semalam ditampilkan dua kali show. Saya menelusup mencari tempat duduk paling strategis untuk memotret. Teknologi dan Art yang dipadu dalam sebuah karya memukau dengan latar belakang musik Wonderful World dari Louis Amstrong mampu membius penonton untuk sejenak terlempar kedunia lain, Wonderful World. Ah yaa, kalau saja dunia seindah yang digambarkan disitu, tidak ada peperangan dan bencana yang dibuat manusia ...

Masih tersisa waktu hingga 24.00, ada beberapa atraksi menarik lain  di lokasi yang sama. Rain Oculus di Waterfront Prominade karya Ned Kahn. Paduan karya arsitektur gelas kaca dan atraksi air ini sangat indah terutama disaat air yang ber gulung2 meluncur kebawah kearah  restoran yang ada dilantai bawah. 

Dan terakhir, saya habiskan waktu didepan stage dari tampilan kelompok jazz terkemuka Singapura yang malam itu menggelar show nya yang atraktif. Nomor nomor jazz klasik sampai yang modern diolah dalam  aransemen yang dinamik sampai tidak terasa dua jam berlalu cepat.


Tidak ada kekhawatiran berjalan dimalam hari dinegeri Singa ini, saya lihat bahkan masih banyak yang menikmati sisa malam di taman taman bersama teman dan keluarga. Sungguh berbeda dengan kota kota besar ditanah air yang seolah memiliki " jam malam " dengan berdenyutnya jantung lebih keras ketika terpaksa harus mengambil transpotasi umum dimalam hari meski itu taxi sekalipun, apalagi di Jakarta yang  pada akhirnya  paling  aman adalah memilih dirumah saja hehe ..

Hari hari berikutnya disamping museum2 , saya juga menfaatkannya ke tempat2 yang kurang terkenal  karena saya ingin melihat sisi lain Singapura seperti Kampung Arab , masjid masjid besar dll. Bertemu dengan orang orang yang sebelumnya tidak kita kenal dan  menginspirasi  kita dalam cara bagaimana mereka menapaki kesuksesannya, adalah selalu menarik.

" Saya imigran Itali, 20 th disini dan saat ini dipercaya sebagai salah satu direktur di museum ini " atau " Saya memulai bisnis dari berjualan pkl hingga memiliki restaurant sendiri seperti yang anda lihat " atau " Saya insinyur teknologi laser dan asisten manajer di sini " dst dst.. seperti membaca sebuah buku kehidupan yang tanpa akhir.



Menelusuri pasar tradisional semacam Bugis Street juga asyik karena diperlukan kepiawaian menawar dan rasanya orang indonesia termasuk jawaranya. Jadi perkara oleh oleh barangkali disini salah satu habitatnya.

Sebut saja di Singapura ada sekitar 200 an tempat tempat menarik untuk dikunjungi, tentu saya tidak akan membahasnya semua. Pada tulisan berikutnya barangkali bisa kita rampungkan negeri mini ini dalam beberapa 
hari lagi.

Terus terang saya salut dengan cara negeri ini menjual daya tariknya, sebab negeri yang dibangun sebagian diatas pasir yang diimpor ataupun mungkin dicuri dari tanah air kita ini sebenarnya " tidak ada apa apanya " dibanding Indonesia yang maha luas dan kaya dengan SDA ini, tapi kok pinter ya menarik investor dan turis? 

Contoh sederhana adalah New River yang sebetulnya dibanding Indonesia dengan Bengawan Solo atau Kapuas bisa lebih dahsyat membuat atraksi, tapi ternyata Singapura piawai menyulap sebuah sungai kecil menjadi kawasan wisata yang menarik terutama kuliner dan night-lifenya. 

Maka ber jalan2 kenegara tetangga memang bukan sekedar buang buang waktu atau bersantai, tetapi banyak hal yang dapat dipelajari sebagai pembanding dan pe motivasi.


Kangen durian sejenis petruk atau bangkok yang gede gede? Ayo ke Bugis Street atau es Turki yang gemerincing di New River? Negeri mini ini memiliki segalanya meski secuil2 . Mampukah kita meniru kecerdikannya? Benar benar negeri Singa ini memang " waras " alias tidak edan ... ( TH )

Keterangan foto  ( taken by TH ) :

01. Water  and Light Show, Marina Bay Sands.
02. Demo membuat dan memasak mie.
03. Mass Rapid Transit ( MRT ) diambil dari : Fitriya/detik.com
04. Kedai Duren, Bugis Street.
05. Salah satu lapak PKL.
06. Patung patung dipusat belanja Orchad Road.







 



















Senin, 22 Oktober 2012

Akhir Masa Lajang ( catatan kecil buat Dewi )

Dewi yang ayu,

saat Dewi dan kedua saudaramu masih balita,  sebagai tantemu, saya merasa kehilangan masa kecil kalian tersebab puluhan ribu kilometer jarak pemisah kita. Dan ketika jarak itu menyempit tersisa hanya sekitar seribu kilometer saja, itupun masih terampas oleh kesibukan saya sebagai 
( istilah yang sok keren ) " wanita karir " dengan agenda yang menuntut saya memiliki 48 jam sehari dan kaki yang tak pernah menginjak bumi dari satu tempat ketempat lain yang berjarak ratus kilometer. 

Maka tumbuhlah ke 3 gadis kecil yang cantik dan menggemaskan ini menjadi tiga bidadari yang begitu ayu dan anggun ... Sungguh saya menyesal tidak terlampau banyak waktu yang saya dapat gunakan untuk mengamati bagaimana kalian bertiga tumbuh menjadi wanita wanita masa kini yang mandiri namun tidak kehilangan akar budayanya !

Ketika si sulung mengirim undangan pernikahan tahun lalu, saya seperti diingatkan oleh lonceng kehidupan betapa waktu lewat sedemikian tidak terhentikan. Kakakmu menikah. Apakah saya sudah sedemikian tuanya sampai terlewat begitu saja hampir tiga dekade? Dan hari ini , setahun sesudahnya, kembali saya menerima undangan kedua, berwarna coklat tua dan muda, tertulis disana : Akad Nikah dan  Resepsi 28 Oktober 2012 . Namamu tertulis begini:


 
Dewi Mustikasari, S.H, M.Kn
dengan
Dicky Octaviano, S.H, MM

Saya terharu, ini adalah Dewi yang dulu gendut, putih, lucu dan cantik , dan kini tumbuh menjadi seorang calon notaris. Saya punya alasan untuk bangga. Dan di sisa masa lajangmu yang tinggal beberapa hari ini, biarkan saya berbagi sedikit serpihan pengalaman hidup buat Dewi yang saya kasihi. 

Menikah? Itu impian setiap wanita normal. Bersuami kemudian memiliki anak anak yang sehat dan cerdas. Karir? Dapat Dewi rangkap bahkan saat ini wanita dapat menjadi apa saja yang dia suka. Bingung memilih antara anak atau karir? Keduanya dapat engkau miliki terlebih dengan profesi notarismu, Dewi dapat melakukan keduanya dirumah. Indah bukan? Mengapa ? Karena saya sempat tidak memiliki keindahan itu ketika saat saat balita kedua sepupumu, saya justru sibuk ditelan pekerjaan yang tanpa ujung. 

Ibulah pengganti peran saya dan rasa bersalah itu terbawa hingga hari ini, saya tidak dapat mengulanginya lagi. Dewi akan menjadi tempat berlindung dan mata air kasih sayang tanpa pernah kering dari anak anak kalian, tolong hangati hari hari mereka dengan canda dan keceriaan agar masa kecil pendek mereka penuh pelangi.

Mengurus suami? Tentu saja prioritas, sesibuk dan sepenting apapun jabatanmu. Dalam karir engkau adalah pemegang kendali, dan dirumah engkau adalah sahabat, kekasih, teman terpercaya sekaligus tempat suami bersandar disaat galau. Lepaskan semua simbol kebesaran ditempat kerja, mendekatlah sebagai tempat terhangat bagi suamimu.

 Ah Dewi, apa lagi yang bisa dibagi?  Rumah? Bukan dari ukuran dan kemewahan meubel, tetapi kemewahan hati kalian menatap masa depan yang penuh cinta dan harapan. Saya bahkan masih sangat ingat, betapa tempat tinggal kami dulu nyaris kosong diawal pernikahan, yang ada hanyalah sepotong tempat tidur dan pemanas ruangan, karena saat itu menjelang winter yang seringkali belasan derajat dibawah nol, itu saja. Tidak ada sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit, melainkan kita harus meraihnya dengan bersama sama, you are not alone ..

Kekurangan dan kelemahan pasangan? Dewi, tidak ada yang sempurna tak terkecuali kita. Bahkan dimata pasangan kita, mungkin kita jauh dari sempurna namun dia dapat menerimanya. Mengapa kita tidak? Semasa pacaran dulu dia menyenangkan karena selalu tampil rapih, parfum machonya tidak terlupakan aromanya, dan penuh sanjung dan pujian. Sekarang, sering nampak lebih casual bahkan terkesan kucel, tidak rapih apalagi kalau dirumah seenaknya menaruh sepatu, kemeja, celana dan kaos kaki terserak di mana2 dan pujian juga sangat pelit? Huh .. menyebalkan. 

Dimana pria yang dulu kita kenal dan kagumi itu? Mengapa berubah? Dewi, banyak pasangan yang kecewa dengan perubahan seperti ini, terkadang bahkan ekstrem karena perubahannya drastis. Apakah kita juga demikian? Apakah Dewi nanti masih akan terus seperti Dewi sebelum menikah dan disaat pacaran, yang selalu tampil mempesona dihadapannya?

Perubahan masihlah dianggap " wajar " ketika orang merasakan bahwa pernikahannya itu membuatnya sangat nyaman dan ingin lepas dari " aturan membelenggu " seperti saat pacaran. Lho membelenggu? Iya, sebab pacaran itu menuntut kita tampil rapih, tepat waktu, bersikap manis, dll yang " penuh aturan " . Maka ketika " dia sudah menjadi milik kita " alias menikah, orang cenderung ingin LEPAS dari semuanya tadi dan menikmati kebebasan ber ekspresi, misal dengan melempar kaos kaki disana sini, menaruh kaki diatas meja dll yang seolah berkata :
" inilah aku yang sesungguhnya dan terimalah aku apa adanya " .... Siapkah Dewi? 
Mungkin Dewi juga inginkan hal yang sama dengan memakai daster dirumah, atau sedikit berbau minyak jelantah disaat masak dan wajah berminyak, apakah hal ini menyenangkan untuk suami?

Berdandan cantiklah selalu buat suami, dan sejukkan hari hari nya yang berat dengan senyuman dan sentuhan penuh kasih. Tapi kalau suami tidak memberikan hal yang sama disaat Dewi galau, perlukah Dewi marah? Maka bicarakanlah kekecewaan2 ini agar kalian lebih dapat memahami, dan jangan biarkan kekecewaan menumpuk tidak terabaikan karena akan menjadi bom waktu yang berpotensi meledak tanpa kendali ..

Musik? Jadikan itu ritual harian, karena musik itu terapi jiwa dan penyembuh banyak luka. Berbeda selera? Mengapa dipertentangkan? Luangkan sejenak mendengar musik kesukaannya yang brang breng brong meski Dewi kurang dapat menikmati, dan disaat lain ajaklah dia mendengar musik pilihan Dewi yang begitu romantis, semisal El Divo atau Amstrong itu .. Atau siapa tahu akhirnya kalian menemukan pilihan musik yang dapat mempersatukan selera karena Queen memiliki dua sisi " brang breng brong " dan romantis, dengar misalnya Love of My Life, atau Bohemian Rhapsody .. ?

Menikah itu sebuah penjara? Who say that? Kalian akan masih bisa bergaul dengan teman2 masa sekolah atau kuliah atau kolega di tempat kerja, bahkan sesekali pergi tanpa suami/isteri karena tuntutan pekerjaan atau sekedar menikmati saat saat menyenangkan dengan teman teman, kenapa tidak? Berikan dia ruang agar sisi kanak kanaknya terpenuhi dan dia akan pulang kerumah dengan suka cita karena " ibundanya " menunggu kisah petualangannya diluar rumah dengan menyambutnya penuh antusias " ceritakan padaku " .....

Dewi yang ayuuuu .. cukup panjang surat ini , tentu akan aku akhiri dengan sebaris doa buat Dewi, bahwa pernikahan juga sebuah sajadah panjang hingga akhir hayat, dan doa doa terbaik kalian akan mencerahkan hari hari kalian dengan siraman rahmat dan anugerahNYA yang paling indah, amien ..

Bangunkan penuh kasih kalau suamimu masih mendengkur disaat subuh.
Bocah ayuuu, nikmati hari hari akhirmu sebagai seorang lajang, disini kita tidak mengenal sebutan Pesta Lajang tetapi pesta itu ada dalam hatimu, berupa rasa syukur tak terhingga karena seorang Dicky telah dianugerahkan kepadamu untuk melindungi  mu dari berbagai ujian kehidupan .. Berbahagialah !

Cium penuh sayang,
tante titiek.

( Saya jepret tiga bidadari cantik ini di pernikahan anak kedua/bungsu saya, Oktober 2011,
  di Jakarta ) 

 







































Sabtu, 13 Oktober 2012

A Letter To Carolline


dear liebe Carolline,

these days missing you so much .. imagine that we took a walk along Kartnerstrasse and had a cup of Viennesse Coffee and a piece of Saha torte then  listening to the great Strauss and Mozart .. and all those birds were flying and some walking around our table .. your wonderful face was touched by a fur and you tried to keep it on your  handkerchief .. yes Carry, 1988 .. 1989 .. how fast time is running ..

California .. what you have today? Here in Malang, guess, we have   "autumm " .. but not so colourful ,  I see all the leaves are falling  down in my garden, see, only in my garden .. Carry, these days I try hard to stand in the breach and still don't know how to survive and stick something out.. However our conversation last week giving me back a part of my spirit ..

Now, I'd like to take a break for a while .. I wish I could see you somewhere somehow .. You are an angel to me and since I found nobody to talk and trust, still, you are  there and give the light on my darkness .. 

Sometimes I feel like running out of my steam, they cooked me goose and knocked me into a cooked hat .. They let the cat out of the bag and I have to face this all alone, all alone, so unfair ....

dearest Carry,

let me close this letter here and promise me to share an evening with me this month , I need my strenght back, I need a piece of trust and I need to believe that somewhere sometime I will find my wings .. 

on my deepest grief,
me.

( Photo : Goa Cina, South of Malang, taken by me , 2012 )



Minggu, 16 September 2012

BROMO .. BROMO .. pasir berbisik ..




Untuk yang ke 6 ( enam ) kali saya menginjak kembali kawasan gunung Bromo meski kali ini berbeda sebab buat yang pertama kali inilah  saya ditemani yang namanya " menantu menantu " yang belum pernah terjadi sebelumnya. Waktu yang dipilihpun agak nekad, beberapa hari setelah lebaran, jadi mirip " ulo marani gephuk " kami termasuk yang siap terkena lautan macet ..

Apa boleh buat wong liburan para anak dan mantu terbatas dan sayapun iya iya saja ketika ditantang ke Bromo lewat jalur paling bahaya : pananjakan 
( biasanya dengan mobil pribadi lebih memilih jalur aman yaitu Probolinggo ).

Rombongan terdiri dari 7/tujuh orang dan delapan dengan pak atau mas sopir yang memang khusus melayani jalur maut ini sebab kalau hanya sekedar bisa nyetir rasanya bakal " bunuh diri ". " Siap jam 12 malam yaaa ... " pesan mas sopir sebelum kami pamitan ditempat rental jeep khusus bromo di kota Malang. Jangan anggap remeh jip jip jadul yang berderet disitu, sebab para landrover dan hardtop serta jip 4x4 ini ditakdir untuk jalur jalur tidak normal.

Jaket tebal, sarung tangan, underwear khusus yang mirip buat winter, topi dan syal, kaos kaki tebal, TShirt berlapis serta sepatu buat pasir, semua tumpleg bleg di teras belakang rumah untuk 7 orang. Jam menunjuk 23.30 malam. 
" Ojok sampek  onok sing ketinggalan lo perlengkapane  soale ndek kono adem temenan ... " entah suara siapa tapi semua mengangguk setuju hehe.. Masing masing sibuk dengan dirinya sampai2 ada peserta cowok yang kelupaan memakai kaos tangan pink saking fokusnya hehe ..

Jam 24 tepat jip kami datang. Semua masuk dan duduk di jip kecuali satu cowok yang tepatnya adalah adik kandung menantu saya yang berniat naik trail sampai puncak Bromo dan menyewa motor trail ditempat yang sama.
" Sik sumuk rekkk ndik njero jip .... " haha, lha memang masih di kota tapi pakaian kami mirip mau manjat Alpen ...

Memasuki desa Tumpang, jalanan mulai meninggalkan jalan raya yang rata dan mulai ada tanda tanda ketidak nyamanan .. Jalanan makin lama makin menyempit dan menanjak dan terus menanjak .. waaaa, tidak ada yang merasa mengantuk sebab pantat mulai melompat lompat ...

Ternyata itu baru permulaan .. Memasuki kawasan hutan nan hitam kelam dan sepi, suasana makin terasa magis sebab kebetulan jip dan motor kami adalah satu satunya pengguna jalanan malam itu . Aduhhh .. suara suara gaduh mulai bermunculan didalam jip gara gara pantat yang makin tidak nyaman. Bagaimana nyaman lha wong batu batu dijalanan yang kami lalui itu ukuran besarnya mirip batu batu  untuk membuat fondasi rumah. Itu masih ditambah dengan view hitam kelam dikanan kiri jip yang ternyata adalah jurang jurang menganga yang siap menelan kami kalau saja sembrono ..

Sempitnya jalanan membuat deg deg bagaimana kalau berpapasan kendaraan lain sementara kanan kiri jurang itu menganga? Mas sopir tampak santai santai saja meski jalanan sering berkelok tajam tripal tripel S ....

Belum hilang adrenalin terpompa, tiba tiba antara motor dam jip kami saling tidak terlihat sebab kami tiba di lautan pasir yang arahnya sama sekali tidak jelas .. Salah satu menantu saya cemas " Waaa .. Eki kemana ya gelappp ... " dan mas sopir juga tidak bisa memberi jawaban tapi sekenanya berkomentar : " mbak, nanti kan ketemu wong ini sudah dilautan pasir kok .. " lho, justru dilautan pasir nan luas ini orang tidak tahu arah mana selatan utara dst ..

Banyak belokan, banyak simpangan, wesss pokoknya entah dimana itu yang namanya kawah Bromo gelap pekat serta debu tebal di mana mana .. Jip ter guncang guncang didera pasir tebal dan batu batu dan rasanya kalau yang punya sakit jantung atau hamil pasti di area ini sudah terjadi UGD ..

Akhirnya motor Eki terlihat lagi ditengah selimut debu pasir tebal .. huhhh .. napas rasanya berat, komentar Eki " waa... sempet bingung ... abis jalanannya ngga jelas ... " lha wong mas sopirnya saja bingung apalagi pendatangnya .. 

Jam 02.30 kami turun dari jip memanaskan isi perut dengan makan Pop Mie yang menjadi menu kebangsaan dikawasan ini berhubung tidak ada lainnya yang praktisnya melebihi Pop Mie. Puluhan warung disitu semuanya seolah kompak menjual Pop Mie jadi percuma pilih pilih warung wong menu sama hehe .. Mas sopir mengingatkan agar kami segera bergegas kearah penanjakan karena jam 04.00 pengunjung sudah akan berebut ditempat terbaiknya untuk mengabadikan sunrise. Yang dimaksud penanjakan itu sebuah area tertinggi disitu dan disediakan tempat tempat duduk untuk menanti sunrise.

Kami pun ikut bergegas setelah ritual Pop Mie, dengan berjalan kaki menyusuri sekian puluh atau mungkin ratus anak anak tangga kearah yang dimaksud mas sopir .. Waaa bisa laper lagi kalau seperti ini kondisi jalannya, menanjak dan terus menanjak .. Akhirnya kami sampai disebuah area yang mirip bangunan joglo jawa dan ada tempat tempat duduk untuk sekitar 300 orang. Tapi alamakkk .. meski jam masih menunjuk pukul 4 kurang ternyata pengunjung sudah berjejal mencari tempat paling strategis untuk mengabadikan sunrise ..

Bak fotografer profesional, sayapun mati matian berebut lokasi memotret sebab kalau mengandalkan tempat duduk rombongan saya, pastilah tidak bisa menangkap sunrise dengan lebih cantik .. Saya beringsut kearah pagar pembatas dan mencoba memanjat pagar besinya supaya tinggi badan saya tertolong pagar hehe .. Anehnya saya tidak mendapat teguran siapa siapa mungkin mereka malah heran ini manula kok masih " menek menek " haha
( bhs. Jawa : menek dibaca "e" nya seperti membaca nenek, adalah memanjat dan kalau dibaca salah yaitu seperti membaca deg .. deg akan punya arti menekan, jadi jangan salah baca hehe .. )

View yang ditunggu tunggu ratusan orang akhirnya muncul. Dimulai dengan sinar kekuningan mirip garis tipis di cakrawala, yang perlahan kemerahan dan garis semakin tebal dan akhirnya ... Sang Betara Surya pun menyembul dengan cantiknya diiringi sorak sorai pengunjung yang merasa bersyukur bahwa Allah SWT pagi itu menganugerahkan sebuah siluet luar biasa dihadapan kami semua .. A breath-taking view of Bromo sunrise !!!! 
 Alhamdulillah ...

Prat pret prat pret .. ribuan kilat cahaya dari berbagai merk kamera saling berkilatan dan sayapun sampai lupa entah berapa jepretan sudah ... Pengunjung juga berebut tempat mengabadikan view dari gugusan Bromo dan Semeru yang luar biasa indahnya dan pagi itu surya seolah melengkapi kebutuhan lighting para fotografer dengan apiknya ...

Puas prat pret, kami turun ke area pasir dan sebagian kearah kawah bromo. Sebagian lagi memuaskan diri dengan horse-riding sementara saya hanya
" tengak tenguk " di jip mencari obyek2 jepretan yang mungkin unik seperti misal gerombolan jip jip, lembah " teletubbies " dll hehe .. Maklum sudah terlalu sering ke kawasan ini jadi waktu saya pergunakan untuk menjadi paparazzi saja hehe ...

Soal debu jangan ditanyakan lagi, sebab alam memang beda dengan mall ..
Ketika rombongan akhirnya kembali ke Malang, dan sekian hari sesudahnya batuk batuk bermunculan, cuma ada satu janji dalam hati :
" Bromo .. I will come again .... !! " ... hehe .... ( TH/Sep. 2012 )

Keterangan foto :
01. Bromo Tengger dilihat dari 
     Pananjakan
02. Eki menikmati lautan pasir
03. After sunrise
04. Sunrise
05. Mama/mertua, anak anak dan menantu menantu, sesama pecinta alam 
06. Sejauh mata memandang, pasir pasir pasir
07. Nuri, horse-lover
08. Anak cowok & menantu

( foto foto oleh saya sendiri hehe )

Selasa, 28 Februari 2012

GUO CINO di SUMAWE
























Mendengar nama Guo Cino mungkin membayangkan sesuatu yang berhubungan dengan Cina, baik bentuk maupun sejarah ataupun segala sesuatunya yang bertalian dengan Cina. Ada beberapa versi mengenai ini : pertama bahwa duluuuu sekali konon ada orang Cina bersamadi digua tersebut. Kedua, gua ini pernah menjadi persinggahan bangsa Cina dijaman duluuuu yang tidak jelas tahunnya. Dan ketiga, bentuknya yang mungkin mengingatkan pada gua gua di Cina yang sungguh saya tidak yakin sebab belum pernah melihatnya ke Cina hehe .. 

Yang terakhir atau tiga plus satu yaitu ke empat, pada waktu2 tertentu ternyata banyak orang orang Tionghoa yang mengunjungi tempat ini untuk melakukan ritual dengan " membuang " uang di amplop2 yang justru banyak ditemukan penduduk lokal hehe .... ( bisa jadi salah satu daya tarik gua bagi yang ingin berpetualang mencari amplop hehehe... ).

Terletak sekitar 4km dari pantai Sendang Biru, Malang Selatan, atau tepatnya di Sumber Manjing Wetan ( SUMAWE ) dan bersebelahan dengan pantai Bajul Mati, maka pantai Guo Cino atau Goa Cina adalah tetangga dari keduanya yang memiliki keunikan tersendiri. 

Pantai ini berpasir putih dan bersih, setidaknya saat ini memang masih bersih, serta berombak cukup lumayan bahkan tinggi . Pada bulan bulan tertentu pasir yang terhampar indah ini akan berubah wajah menjadi bebatuan hitam sejenis kerikil besar. Lho? Ya, ini hanyalah " rutinitas " dari perobahan angin & cuaca yang berpengaruh pada arus yang akhirnya mendorong bebatuan atau pasir pasir putih berkilau secara bergantian ..

Salah satu daya tarik lain dari pantai yang masih perawan ini adalah sebuah goa atau bhs . Jawa nya guo, yang terletak agak diketinggian tebing dan untuk mencapainya perlu sedikit tenaga ekstra terutama bagi yang sudah diatas 50 atau 60 . Bukan saja karena tebingnya yang tajam tajam runcing tapi juga sikon goanya yang panas pengab serta sempit sehingga kita akan sangat mudah dehidrasi. Saran : bawalah bekal minum. Lalu mengapa goa ini perlu dilihat?

Bagi yang ingin uji adrenalin dan hunting foto foto unik silahkan mencoba merangkak kedalam lobang goa yang agak sempit dan pengab untuk sampai di sebuah ruang luas atau semacam hall . Dari sana perjalanan masih bisa dilanjut hingga menembus pantai ... Nah, mungkin ada yang penasaran dan ingin menjelajahi? Sebuah tantangan yang mengasyikkan.

Pantai Goa Cina yang cantik ini sebagian dihiasi batu batu karang yang relatip tajam, sehingga untuk bersantai atau mandi mandi agaknya kurang ideal meskipun dibagian lainnya tidak berbatu karang dan nyaman untuk bersantai. 

Belum dikembangkannya area ini menjadi salah satu tujuan wisata agaknya terkendala beberapa hal antara lain jalan penghubung dari jalan raya kearah pantai sepanjang 2km ternyata masih makadam, dan disarankan parkiran mobil sebaiknya dijalan raya. Dengan ojek atau berjalan kaki kita bisa masuk hingga pantai daripada terguncang guncang didalam mobil.

Sebuah warung sederhana plus tempat parkir motor dan WC umum adalah satu satunya fasilitas yang tersedia dipantai , sehingga ketika saya menikmati segarnya kelapa muda utuh dengan airnya yang nikmat hanya 3000, baca tiga ribu rupiah, maka ada kekhawatiran bahwa kesederhanaan2 ini satu saat akan berubah menjadi kemewahan yang mahal ketika hotel hotel besar merampas kepolosan mereka .......

Puas jeprat jepret ombak yang muncul dan pecah di sela sela karang tajam serta bercucuran keringat saat turun dari goa, sayapun bergegas mencari pendingin kerongkongan... Ombak ganas pantai selatan yang terkenal itu agaknya memang bukan hanya sekedar rumor, di pantai Guwo Cino ini kita bisa saksikan kebesaran Sang Maha Pencipta dalam komposisi lukisanNYA yang dahsyat ... Penasaran?

Ayo kenali tanah air kita sejengkal demi sejengkal.... !
( TH )

Keterangan foto dari atas kebawah : ( foto oleh : TH, kecuali no 08 ) :

01. Papan petunjuk jalan menuju Goa Cina yang berjarak sekitar 2km kearah pantai.
02. Mas Pras, guide menuju Goa Cina.
03. Disalah satu kedalaman Goa Cina.
04. Jalan menuju Goa Cina.
05. Pantai Goa Cina dari salah satu sudutnya.
06. Pantai Goa Cina dilihat dari pintu masuk goa.
07. Mengintip ombak pantai Goa Cina dari tebing goa.
08. Penulis dalam bayang bayang tebing goa dengan latar belakang ombak selatan.
09. Pasir putih pantai Goa Cina.
10. Pantai Goa Cina dari sudut lain.
11. Karang karang tajam Goa Cina.
12. Pantai Goa Cina 1.
13. Pantai Goa Cina 2.
14. Pantai Goa Cina 3.
15. Pantai Goa Cina 4.


Tempo Doeloe di Inggil ..









Sesuai judulnya, tanggal 24 Pebruari yang lalu saya diundang ke RM Inggil untuk rapat sekaligus reunian para alumnus dari sebuah sekolah yang lebih dikenal dengan nama " SMA Tugu " yang sebenarnya terdiri dari 3 sekolah, SMAN 1, SMAN 3 dan SMAN 4 . Tentu saja saya tidak berasal dari tiga tiganya melainkan hanya salah satunya.

Berbeda dengan reuni seangkatan, kali ini pertemuan I pengurus ikatan alumni ini terdiri dari angkatan jaman Majapahit hingga jaman Black Berry. Maka tidak usah heran kalau disana sini ada perbedaan " angel ", " wong " jamannya saja sudah berjarak jarak hehe .. Yang angkatan 2000 keatas atau kebawah ( ? ) terkesan " sungkan " kepada senior seniornya dan yang sepuh sepuh terkesan " mbapak - i ", maklum memang semuanya sudah bapak bapak bahkan yangkung dan yangti hehe ...

Tetapi disinilah memang inti pertemuan, bagaimana mendekatkan jarak tadi menuju kesebuah kesepakatan yang harmonis yang diakhir rapat memang tercapai. Latar belakang yang beragam juga menambah warna pertemuan, ada pengusaha, ada pensiunan brigjen, ada Prof.Dr, ada guru,
ada dosen, ada penulis, ada budayawan, dll pokoknya komplit dengan sambal dan saosnya !

Suasana rapat terasa bak berada dijaman lampau alias tempo doeloe, sebab RM Inggil sebagai lokasi rapat itu di Malang dikenal dengan atmosfer tempo-doeloe nya dikarenakan si pemilik RM , mas YON , yang kebetulan adik kelas saya jauhhhh ....adalah pemerhati sejarah dan budaya tempo-doeloe terutama Malang. Beliau sekaligus adalah pencetus ide brilian agenda tahunan kota Malang yang terkenal : " Malang Tempo Doeloe " . 

Berbagai peninggalan dan foto foto dokumenter bersejarah ada diruang rapat sehingga kami merasa bak hidup di jaman VOC hehe " Wah .. mbak ini awet muda ya? " ( mungkin maksudnya awet tua tapi tidak tega menyampaikannya hehe ... ) saya jawab " terima kasih ya ... " , padahal seingat saya si penanya yang seusia anak anak saya itu diawal rapat sudah sempat menyapa dengan panggilan " bu " hehe .. Demikian keunikan antar generasi, yang harus duduk se meja mencari harmoni.

Setelah ngalor ngidul rapat diakhiri dengan makan malam bersama dan jeprat jepret. Pertemuan bubar dengan satu janji : ketemu lagi dalam tugas yang telah dibagi .. ! Sampai jumpa ... !! ( TH )

Keterangan foto : 

semua foto diambil di RM Inggil ( taken by TH )


Selasa, 14 Februari 2012

Rock Bar, antara pujian dan makian..



























Karena sudah terlanjur di Bali, atau " mumpung " di Bali, maka undangan untuk menengok Rock Bar tentu saja tidak dilewatkan. Mengapa saya tertarik? Antara lain lokasinya yang unik, yaitu berada disekitar 14 meter diatas permukaan laut, diantara tebing tebing curam dengan sajian ombak bergulung gulung dibawahnya dan menjadi bagian dari atraksi hotel Ayana, Jimbaran.

Dalam cuaca kurang bersahabat karena mendung, sore dibulan Januari 2012 itu saya berada dalam antrian ( ! ) menuju inclinator atau semacam kereta luncur yang akan membawa pengunjung turun ke bar dibawah tebing. Kereta ini memuat sekitar 8 orang sekali angkut, naik turun tebing . Biasanya bar dibuka mulai pukul 16.00 sore.

Sesuai aturan yang tertulis di papan petunjuk, antara lain pengunjung diwajibkan berpakaian sopan atau tidak terlampau casual. Contoh : celana pendek berbahan parasut dan ber bungabunga atau penuh warna yang biasa dipakai oleh wisatawan di Bali terutama di pantai2, disini ternyata tidak boleh. 

Celana pendek yang diijinkan adalah berbahan kain, polos lebih baik, dan kaos berlengan. Bagi wanitanya juga diminta untuk tidak mengenakan baju terlalu casual bahkan bikini, atau semacam daster yang banyak di jual di pantai2 maupun segala jenis baju yang mengesankan " ngirit kain " ( berhemat kain ) yang biasanya dipakai di pantai pantai.

Sandal jepit? No way. Setidaknya sandalnya yang lebih " layak " meskipun itu relatip. Maka adegan adegan yang saya saksikan dalam antrean cukup seru. Serombongan turis Australia mengeluhkan aturan2 ini yang menurut mereka terkesan " borjuis ". 

Terlebih staf hotel Ayana ( tempat bar ini berada ) menampilkan kesan tidak ramah bahkan ketus ketika menjelaskan aturan main rock-bar kepada kelompok wisman ini. " Anda bisa kembali lagi kemari setelah mengganti celana dan baju anda, atau bila tidak memilikinya anda dapat ke butik hotel kami yang menyediakan celana dan baju sesuai aturan rock-bar. Ini tidak dapat ditawar tawar sebab sudah aturan dan sistimnya ..... " , demikian kata petugas wanita yang menjaga antrean tanpa senyum dan terkesan arogan. Kelompok wisman geleng geleng kepala , entah apa yang mereka pikirkan, tetapi pasti kesan Indonesia sebagai bangsa yang ramah telah sirna ....

Kelompok " wisdom ", wisatawan domestik ( he he he .. ) didepan saya juga protes karena celana pendek yang dipakainya dari bahan kain tetapi ber bunga bunga, ini juga dilarang dan teman wanitanya memakai blus yang amat casual. Setelah berdebat tanpa hasil, mereka meninggalkan antrean dengan mengomel dan saya yakin mereka " bersumpah " untuk tidak lagi menginjak
rock-bar yang arogan ..

Diam diam saya melihat ke celana dan baju saya sendiri, kebetulan saya juga casual, saya memakai kaos berlengan pendek tetapi dapat saya tutup dengan jaket yang kebetulan saya bawa. Celana panjang jeans, semuanya tanpa bunga bunga he he he ..., yang ternyata dianggap cukup layak masuk rock-bar ... 

Kepada petugas keamanannya, sambil mengantre, saya mencoba mengobrol soal aturan ini yaitu agar di pintu masuk paling depan dari hotel petugas2 hotel hendaknya sudah mensosialisasikan aturan2 ini kepada para tamu supaya mereka tidak terlanjur berjalan kearah tebing rock-bar dengan kostum yang " salah " dan merasa ditodong / dipaksa untuk membeli kostum baru di butik hotel . 

" Sudah kok bu, didepan sudah diberitahukan di poster poster, mungkin tamunya yang tidak membacanya ... " ... begitu pembelaannya. Tetapi andai saja petugas di resepsionis atau doorman atau bellboy yang berada di lobby depan bersedia menginformasikannya kepada tamu tamu hotel, dijamin tidak ada yang menggerutu bahkan memaki karena merasa " terjebak " ....

Akhirnya, setelah jepret sana sini dan mulai terasa pengen duduk, sunset saya habiskan di rock-bar, yang sore itu berangin cukup kencang. Kombinasi musik alam yang didominasi suara ombak, dengan musik buatan manusia, ternyata berhasil menepis rasa kesal saya kepada staf staf hotel yang ketus tadi.

Ombak pantai Jimbaran yang sore itu lumayan tinggi membuat penantian sunset semakin penuh magis .. Rockbar ini memang berawal dari sebuah mimpi anak manusia yang menyaksikan tebing tebing curam dipantai ini sambil membayangkan bagaimana seandainya tebing tebing ini disulap menjadi sebuah tempat santai sambil menikmati musik alam dan musik produk manusia ....

Mimpi telah terwujud. Dan bertepatan dengan malam Tahun Baru Imlek, saya bersyukur bahwa rombongan kecil kami sudah berada kembali ke kamar hotel sebelum tiba hujan angin dahsyat pada malam harinya sebagaimana tradisi Imlek yang konon merupakan pertanda baik, wallahu alam..

Tetapi kaki terasa linu pegal, gara gara waktu pulang tidak menunggu antrean inclinator melainkan mencoba cara manual yaitu lewat tangga hotel yang ternyata lumayan capeknya ...

Sulit membayangkan, kalau saja disaat hujan badai kami masih di rock-bar yang berhadapan langsung dengan samodra luas atau bahkan mendadak ada Tsunami, mungkin saya tidak akan pernah bisa mengetik ini ...

Bali, Bali , .... semoga engkau tetap ramah dan rendah hati ....

Keterangan foto dari atas kebawah ( all taken by  TH ) :

01. Pantai Jimbaran, sesaat setelah sunset, dengan obor2nya yang khas.
02. Rock-bar, disaat cuaca cerah.
03. Menantu dan anak cowok saya yang masih terbilang " just married couple " .
04. Rock-bar terlihat dari ketinggian.
05. Atap hotel Ayana.
06. Inclinator dari dan menuju rock-bar.
07. Rock-bar lantai terbawah.
08. Poster rock-bar.
09. Dekor Imlek disalah satu mall, Kuta.
10. Kemana kaki melangkah yang dicari tidak jauh jauh dari pecel, rawon dll, warung kecil
ini ternyata malah ngetop dikalangan wisman dan full bule.
11. Toko souvenir.
12. Salah satu produk khas Bali.
13. Bendera peringatan.
14. Papan penyelamat.
15. Kolam ditepi pantai dekat rock-bar.
16. Rock-bar.

( TH )