Senin, 08 Februari 2010

" Masih beranikah kamu meragukan NYA? "






Dari perjalanan satu ke lainnya, dalam artian an sich, bukanlah sekedar menghabiskan waktu di kendaraan yang kita tumpangi. Tetapi lebih merupakan perjalanan bathiniah melewati ciptaan ciptaan NYA yang mampu mengkerdilkan ego mahluk ciptaanNYA termasuk kita, manusia.

Samodra, gunung, langit, rimba, air terjun dan lain lainnya adalah semisal mega-kanvas yang membuktikan ke Maha Kuasa NYA. Tidak ada ciptaan NYA sekecil kuman pun bahkan, yang tidak dapat menggetarkan nurani. Kesemuanya bak sebuah rantai besar yang saling berkait dan melengkapi, sungguh Maha Suci Ya Allah !!

Sebagaimana dalam surat Al Baqarah ( Sapi betina ) ayat 29:
" Huwal lazi khalaqa lakum ma fil ardi jami'an summastawa ilas sama'i fasawwahunna sab'a samawat (in), wa huwa bikulli syai'in'alim (un)"

( Dia-lah ALLAH, yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikanNYA tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu " )

Juga dalam surat AL HIJR, ayat 19 :
" Wal arda madadnaha wal alqaina fiha rawasiya wa ambatna fiha min kulli syai'im mauzun ( in ) "

( Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran " )

Demikian catatan kecil ini semoga bermanfaat, amien.

( Foto foto diatas saya jepret dalam perjalanan pada tanggal 02.02.10 yl )( TH )

Minggu, 07 Februari 2010

HUJAN, HUJAN





Tidak ada yang aneh dengan kisah hujan. Siraman air dari langit ini memang bisa melahirkan beragam kisah. Bagi petani hujan sangatlah ditunggu terutama setelah kemarau panjang. Bagi penduduk di daerah daerah gersang, hujan juga berarti berkah bagi kelangsungan hidup mereka karena siapakah didunia ini yang mampu bertahan tanpa air dalam jangka lama?

Tetapi ketika air yang jatuh melebihi kebutuhan, bahkan sangat berlebih lebih, biasanya yang timbul justru bencana. Pertanyaannya menjadi : siapakah didunia ini yang mampu bertahan dengan air dalam jumlah berlebihan untuk jangka yang lama?

Demikian manusia dengan segala keterbatasannya. Dan ketika hujan lebat tiba, sayapun senang mengamati betapa curah air dari langit ini indah. Jatuh dan meresap ketanah, dan keesokan harinya rumput dan segala tanaman yang lain tampak semakin melebat dan menghijau.

Sulit membayangkan bagaimana bila hujan tidak pernah turun ber bulan bulan bahkan tahun..
Maka bagaimanapun : marilah bersyukur atas karuniaNYA yang satu ini : hujan.

Sebagaimana tertulis dalam surat AL HJIR, ayat 22 :

" Wa arsalnar riyaha lawaqiha fa anzalna minas sama'i ma'an fa asqainakumuh (u) , wa ma antum lahu bi khazinin (a) "

( Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan ( tumbuh tumbuhan ) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya ) .

( Sebuah renungan sederhana disaat hujan dan foto foto diatas saya jepret diteras rumah juga disaat hujan lebat, Januari 2010 )

" Diantara 5/ lima jam, ada Jennifer "









Tanpa bermaksud menghilangkan catatan pertemuan saya di Cengkareng dengan Jennifer, justru saya ingin menulisnya secara khusus. Wanita berkebangsaan Amerika yang berbalik " nasib " dengan saya ini, suaminya adalah Indonesia asli dan saat ini mereka tinggal di Jakarta, setelah beberapa tahun di Solo dan Bali.

Kacamatanya yang cukup tebal untuk usianya, tidak terlampau mengurangi kecantikannya disamping kesan " kutubuku " nya yang kental. Saya bersyukur berkesempatan mengobrol dengan Jenny , bukan saja untuk mengisi waktu menunggu pesawat, tapi karena content nya yang menarik : GREEN SCHOOL.

Alumnus Harvard jurusan School of Education ini adalah calon doktor dibidang Kebijakan Pendidikan Internasional ( moga moga terjemahan bebas saya ini mendekati benar hehe .. ) dan menunjukkan ketertarikannya dibidang pendidikan Indonesia.

Topik obrolan kami, Green School, yakni konsep sekolah berbasis pelestarian lingkungan ini memang masih belum " merakyat ". Sebagai contoh seperti yang sudah ada di Bali misalnya, justru terkenal mahalnya dan murid muridnyapun masih didominasi anak anak bule yang notabene mampu membayar mahal untuk sederet fasilitas " mendekat ke alam " seperti peralatan untuk rafting, menyelam dll. 

Saya katakan pada Jenny : " Lha supaya konsep Green School ini lebih bisa memasyarakat ke seluruh sekolah sekolah bahkan yang terpencil di Indonesia, mbok ya diusulkan dan dimasukkan sebagai kurikulum nasional gitu lo mbak, tapi disesuaikan dengan sikon masing masing daerah sehingga bisa terjangkau oleh semua lapisan " . Dengan semangat Jenny meng angguk angguk menjawab : " Iya, memang .... ". Jenny tampak senang saya panggil " mbak " , mungkin kebiasaan ini sudah dikenalnya di Solo ber tahun2?

Obrolan berlanjut tentang bagaimana sebenarnya potensi Indonesia untuk konsep GS ini. Bayangkanlah bahwa alam dan bumi Indonesia ini bak sebuah Sekolah Alam bagi anak anak kita dan mengapa alam beserta kekayaan yang dikandungnya ini harus dibayar mahal oleh anak anak kita yang sebenarnya berhak untuk menikmatinya secara gratis demi sebuah ilmu pengetahuan? 

Tidak dapatkah pemerintah memberikan perhatiannya yang lebih serius kepada dunia pendidikan kita agar anak anak kita mampu menjadi Tuan Rumah Sekolah Alam di negaranya sendiri dan bukan menjadi penonton anak anak asing ber rafting ria, diving dll di Indonesia? Indonesia lebih dari mampu untuk menjadi sebuah ikon bagi konsep Green School dunia, sebab segalanya tersedia disini, ya alamnya ya sdm nya, hanya tinggal mengelolanya saja.

Kami berpisah dengan sebuah janji akan bertemu lagi lewat email ataupun langsung satu saat nanti. Saya yakin kita sendiri sebenarnya memiliki Jenny Jenny yang sepemikiran dan seidealisme meski dengan nama dan kemasan berbeda. 

Mudah mudahan pemikiran pemikiran besar tidak hanya berhenti diatas kertas, tetapi satu saat kita akan melihat anak anak diwilayah wilayah terpencil seperti pedalaman Papua misalnya, dapat menikmati fasilitas yang sama dengan rekan rekannya di kota kota besar Indonesia termasuk fasilitas GS ini, semoga!

Sampai jumpa Jen .. ! ( th )

( Photo by  : TH )

Persinggahan I : PEKANBARU.












Pekanbaru, akhirnya sempat juga saya menginjaknya. Dugaan saya tidak terlalu jauh meleset bahwa kota yang satu ini mirip mirip dengan kota kota besar luar Jawa yang pernah saya kunjungi pada umumnya. 

Pertama, jalan rayanya yang ekstra lebar. Kedua, pembangunan fisik kotanya yang masih lebih terpusat di kotanya atau lebih tepat di pusat kotanya. Kemacetan lalin yang belum terlalu dirasakan, bahkan pada malam hari nyaris lengang. Tercatat ada 3 mal terbesar di kota ini, Ciputra Mal, Pekanbaru Mal dan SKA. Ini tahun 2010 lho ..

Yang lucu dan sangat berbeda adalah : SULIT nya mencari pak polisi di jalan jalan raya. Lho pada kemana ya? Padahal di Jawa itu hampir setiap 15 meter dapat kita temukan baik sendiri maupun berkelompok. Juga di tempat tempat yang tersembunyi polisi di Jawa paling senang mengintai dan menunggu " kesalahan/pelanggaran " para pengguna jalan.

Ketika saya tanyakan kok polisi di Pekanbaru tidak terlihat, sopir yang menjemput saya di bandara mengatakan : " Memang bu, jarang jarang ada. tapi keluar Pekanbaru mereka banyak mencegat truk truk besar untuk dipungli..", o iya tooo....rupanya soal pungli sudah merata hehe..

Makanan khas? Ikan sungai, Patin. Juga ada dodol durian atau segala macam bolu. Juga kue kue yang terbuat dari sagu. Tetapi wong dasarnya berasal dari kota bakso, akhirnya sayapun mampirnya ke warung bakso yang penjualnya berasal dari Jawa Tengah ( di warung ini saya mencicipi juga keramahan para karyawannya, dan sempat jeprat jepret koleksi sepeda onthel pemilik warung ) .

Tapi agar afdol, sayapun menyempatkan ber rendang ria disebuah warung yang kelihatannya cukup beken, Kota Buana, dimana rendang khas Pekanbaru ini memang berasa sangat beda dengan rendang2 di warung makan Padang di Malang.

Pastinya yang di Pekanbaru : jelas lebih mak nyusssss......!( Padahal sebenarnya saya bukan termasuk golongan penggemar rendang, tapi berhadapan dengan rendang Pekanbaru ternyata saya sempat klepek klepek.. ) .

Suasana Imlek di mal mal dan toko toko juga mulai terasa meskipun perayaannya masih sebulan lagi. Toko toko dan mal menampilkan dekorasi Imlek, baju baju dan kue kue dan banyak lagi yang khas Imlek. Paginya saya mulai eksplorasi luar Pekanbaru, Dumai dan Minas. Pastinya sambil jepret sana jepret sini.

Ternyata disaat makan malam saya sempat disambut hujan lebat yang ber petir petir. Seorang penduduk lokal mengatakan bahwa salah satu ciri khas Pekanbaru adalah hujan dimalam hari, ooo... begitu. Dalam hati saya sudah berdoa moga2 besok pagi cuaca sudah cerah kembali sebab saya masih harus meneruskan langkah lewat udara lagi.....

Pekanbaru kelembabannya cukup tinggi, mirip Surabaya. Nah.. moga moga gambar yang ada dihalaman ini sedikit mewakili profil Pekanbaru bagi yang belum sempat kesana. Di pusat oleh oleh khas Pekanbaru saya hanya membeli beberapa pak kecil karena ternyata banyak kemiripan dengan yang ada di pusat oleh oleh Malang meskipun merk dan alamatnya berbeda.

Saya lihat misalnya : kripik bayem dan segala kripik kripik yang sering kita temui di Malang kecuali kripik tempe, dodol duren, salak dan lain lain yang juga ada di Malang, kue bolu atau rolltart yang juga banyak di Malang dll. Ya sudah, kebetulan sebab saya juga ingin santai tidak terbebani tas berat.... Apalagi saya masih harus meneruskan langkah.

Nah.. cerita Pekanbaru nya sampai sini dulu ya !

( Photos by : TH )

Sabtu, 06 Februari 2010

" Sebuah 5/lima jam ...... "











Menunggu, itu penyakit paling menyakitkan. Tapi kalau kita tidak mau diperbudak waktu, mari memperbudak waktu. Cengkareng ternyata tempat yang cukup asyik buat " cuci mata " selama lima jam. Bukan ke area shoppingnya, sebab saya tahu di area itu pasti tidak cukup hanya cuci mata.

Maka sebagai penumpang transit-an yang harus patuh jadwal, pertama tama saya celingukan mencari tempat makan yang menyediakan hotspot sekaligus laptopnya.  Dan laptop pun tidak pernah saya tenteng kemana mana kecuali penting sekali, apalagi jadwal saya adalah bersantai, jadi tas bahu pun bagi saya sudah terlalu banyak. Tas punggung? Sudah lama pensiun alias jebol.

Nah.. akhirnya ada tempat mojok yang strategis. Saya pengunjung pertama malahan. Laptop dan ngenet gratis, good. Saya pesan makan siang plus teh botol dingin. Saya juga sempat nulis nulis sampai dua artikel, membalas inbox2 dan wall, dan mengupdate blog serta perjumpaan dengan Jennifer.

Ketika empat jam lewat, dan saya bahkan sudah pesan makanan / minuman penutup : moccacino, ternyata meja meja sudah puenuhhhhh tamu tamu, laptop juga mulai dilirik tiga cewek bule di meja sebelah saya, saya pun keluar dari cafe ( Dibagian lain akan saya kisahkan " apa yang terjadi selama 4 jam " itu )

Sekarang saatnya jeprat jepret. Terus terang arsitektur di zona 4 ini menarik. Futuristik minimalis. Entah apa namanya, itu karangan saya sendiri. Ukiran ala Bali, tampak sedikit menghiasi celah celah kecil bangunan modern minimalis ini, jadinya seperti perpaduan dua aliran yang kontras tapi kalau di lihat lihat ya akhirnya : bolehlah. Wong namanya saja perpaduan, bisa pas, bisa 1/2 pas, bisa 3/4 pas, bisa 100% pas, atau 100% nggak pas at all !!

Ini oleh2 kecil saya dari zona 4 Cengkareng : judulnya " memperbudak waktu " he he......
( Photos by : TH )

Trims..


Buat Mutiara, atas komentarnya, kapan2 ngobrol lagi ya? Btw, foto2 di GD bagus bagus lo, nanti akan saya emailkan.


( Photo by : TH )

Foto disamping ini saya jepret di deket rumah saat itu, Graha Dewata, dan buat Mutiara yang saat ini sedang berkarir di World Bank, semoga tidak lupa saat saat kebersamaan di UMC dan sukses ya !

Senin, 01 Februari 2010

NGENETdi CENGKARENG










Saat ini jam 12.44, 40 menit yang lalu saya mendarat dari Juanda, Surabaya. Lapar. Naik ke zona 4 di Hikaru cafe yang kebetulan ada internetnya, sippp... Sambil makan siang saya ketik ini dan menunggu pesawat berikutnya jam 14.00 setelah jeprat jepret seperlunya. Tidak ada yang istimewa kecuali saya merasa harus segera membalas beberapa SMS, telepon, inbox dll yang mulai jam 24.00 semalam terus menerus masuk bak seleb dengan fansnya hehe....

Ada apa? Pasalnya di kalender hari ini saya ternyata bertambah umur, Masya Allah, saya tidak mau menyebut angka sebab menjadi " sedih " ? Lho ? Lha bertambah umur kok malah dirayakan, padahal itu ber arti semakin mendekati a....l..... ck ck ck.....

Tapi disisi lain ya gembira sebab hari ini anak sulung saya juga sama ber ultahnya. Itulah 25 tahun yl kado terindah saya di tengah badai salju lebat Vienna ditahun 1985. Dan surut sedikit ke tanggal 22 Januari nya, adalah ultah anak kedua atau bungsu saya. Nah .. pas sudah, semuanya : AQUARIUS!!

Sambil membalas sms, telepon, inbox dll saya sempat melamuni tahun tahun yang sudah lewat dan yang mungkin masih ada dimasa mendatang yang entah berapa tahun tersisanya. Demikianlah tercatat dalam kalender saya dan riwayat seorang saya yang sungguh tidak istimewa. 

Nanti malam atau besok pagi saya akan banyak bernostalgi dengan anak sulung saya tentang detik detik kelahirannya yang sangat menegangkan. Salju setebal satu meter saat itu merupakan halangan utama menuju Rumah Sakit yang sebetulnya hanya berjarak dekat tetapi menjadi begitu sulit dijangkau karena minus 11 derajat ........

Kelahiran anak I yang penuh drama karena terpaksa dibopong diatas hujan salju lebat dan sisa salju tebal hari2 sebelumnya serta sangat licin plus kesakitan yang luar biasa menjelang kehadirannya yang baru 11 jam kemudian " nongol " itupun Caesar...

Sedang asyik melamun tiba tiba ya seorang tamu bule menengok nengok laptop cafe ini, maka saya akan sudahi dulu dan foto akan saya sisipkan nanti ..... Btw, happy birthday my sons and .... me he he ....  ( TH ) 

Keterangan foto ( all taken by me ) :

01. Lampu gantung salah satu ruang Cengkareng.
02. Ruang tunggu.