Kamis, 17 September 2009

" Cicak dan Akhir Dongeng "



" Kisruh KPK, Siapa Cicak, Siapa Buaya ?" dan 
" Tewasnya Noordin Bukan Akhir Sebuah Dongeng" dapat di lihat di kabarindonesia.com ( hal.

 Tak lupa kepada rekan Jusman , HM Sabar dan Adi, terima kasih atas komentar nya. Saya sangat sependapat dengan Anda semua.

( Gambar dari :

Senin, 14 September 2009

Tukang Potrek Dadak an

 

Kalau Fetty membaca ini semoga akan ingat bagaimana terkadang Tuhan mempertemukan teman baru kita melalui suatu cara yang unik. Foto yang terpampang disamping ini adalah teman baru saya, Fetty dengan wajah khasnya dibalut jilbab yang mulia. 

Ceritanya kemarin saya sedang asyik memilih jepretan2 yang akan saya cetak 10RS/salon disuatu toko foto.
Petugas toko dengan telaten membantu saya memilih yang terbaik diantara yang terburuk, maklum, bukan fotografer profesional, jadi sudah bagus kalau dari 25 jepretan ternyata hanya 1-3 yang dianggap layak he he... bahkan kadang tidak ada sama sekali. 

Sedang asyik berdiskusi tiba tiba seorang wanita muda bertubuh subur dengan garis wajah sangat "Arabic" atau "Aceh" ( ? ) masuk ketoko dan terburu buru menyodorkan HP nya pada petugas : " Mas.. aduh, wes embuh, tolong ya dilihat foto saya ini, dan cetak pasphoto 4X6 dua buah untuk lamaran lo mas, butuh cepet.... !". Helm nya dilepas dan saya melihat jilbab birunya membungkus rambutnya yang lebat dan ikal terlihat dari sela sela  jilbab. Penampilannya yang tomboy dengan T Shirt hitam dan jeans agak kontras dengan jilbab ini ...

Saya ma'fum dan mempersilahkannya untuk lebih dulu menyelesaikan "bisnis"nya. Si mas yang dimintai tolong langsung memindahkannya di layar monitor dan sesaat ... klik.... terpampang sebuah wajah tanpa jilbab, rambut terurai mirip rambut Diana Ross, pokoknya lebih mirip gaya berpose seorang model...Hidungnya yang mbangir tampak melengkapi anugerah kecantikan yang dikaruniakan Allah kepada wanita ini, sayangnya tomboy banget, jadi masih belum terpancar ke eksotisannya. Lho? Mau melamar di agensi model ta mbak, tanya si mas petugas.

" Endak, di sebuah dealer otomotif, sudah ditunggu....! ", jawabnya. Si mas mencoba "mengkuliahi" si mbak dengan menyarankan agar pasphoto untuk lamaran sebaiknya memakai foto yang lain saja, sebab dengan pose seperti itu rasanya kurang pas untuk dealer otomotif, kecuali memang diminta oleh dealernya untuk berpose ala model. " Endak, pokok pasphoto, lha saya cuma punya itu tok... aduh gimana ya? ".

Dengan berat hati dan membaca keresahannya, saya yang lebih banyak mendengarkan, akhirnya mencoba angkat bicara : " Maaf ya mbak, nanti kalau sudah diterima bekerja apakah memang tanpa jilbab atau boleh pakai jilbab?". " Ya pakai jilbab.... ". Maka ketika saya melihat mas petugas masih nerocos menguliahi masalah kelayakan pasphoto untuk lamaran, saya membisiki si mbaknya " Cobak se mbak, mumpung saya lagi bawak kamera, mbaknya duduk aja disitu atau berdiri ditembok itu ( saya menunjuk dinding toko yang kosong ) mungkin kalo mbaknya nanti cocok dengan hasil jepretannya ya silahkan di cetak...". Diluar dugaan tawaran saya disambut antusias dan jadilah saya tukang potrek dadak an sekaligus penata busana nya sebab ternyata letak jilbabnya yang terutup helm agak acak2an dan si mbak malah meminta waktu untuk menipiskan minyak2 diwajahnya dengan ujung2 jilbab nya he he...

Dari 5 jepretan, si mbak naksir berat dengan dua jepretan terakhir yang menurutnya sangat mewakili profilenya dan ber tubi tubi menanyakan alamat, telepon, email, facebook dll dari saya.

" Nama saya Fetty , aduh, baru sekarang saya sreg dengan pasphoto saya, terima kasih sekali lo dan saya boleh ya kapan kapan main kerumah mbak?"..... with my pleasure. Si mas petugas dengan segera mencetak pasphoto nya dalam waktu kurang dari lima menit dan sebelum berpamitan Fetty masih ber ulang ulang menyampaikan terima kasihnya. Saya juga dijepret dalam HP nya dan konon dia mau ke warnet untuk mengganti wallpaper HP nya dg foto berjibabnya yang terbaru ini.

Mbak Fetty, semoga kalau Anda membaca ini, Anda sudah bekerja di dealer yang dimaksud dan kelak sukses menjadi Top Salesgirl ! Memang tidak ada yang istimewa dari kisah biasa ini, hanya sesungguhnya setiap kebetulan sudah ada dalam rencanaNYA, termasuk pertemanan baru ini.

Ketulusan Anda mengucapkan terima kasih dapat saya lihat dimata Anda, semoga mbak Fetty masih ingat pesan saya untuk berpenampilan lebih " wanita " pada saat wawancara nanti karena
kecantikannya yang alami masih terbungkus TShirt dan jeans belel serta jaket yang tomboy ..

Semoga.

( Keterangan foto : Pasphoto dari Fetty yang saya jepret dadakan ).

Sabtu, 12 September 2009

Terima Kasih


Kepada rekan JS Kamdhi dan Suparjo, terima kasih atas komentarnya pada tulisan " Anggota Dewan Yang " Terhormat " " ?, di kabarindonesia.com, semoga Indonesia secepatnya memiliki suatu sistim perekrutan caleg yang lebih memadai dan menjawab kebutuhan jaman.

( Foto diambil dari : gambargedungDPR-RI )

Kamis, 10 September 2009

" KERE " dan " KAYA " ?









Kemarin siang, karena sudah diuber deadline UNICEF, saya hunting foto dalam waktu yang mepet, tersisa 170 menit sebelum saat hunting ta'jil dan berbuka tiba. Menelusuri jalanan yang terik dan sepi sungguh tidak mudah menemukan obyek yang tepat karena semua orang cenderung berteduh diruangan. Lewat dengan tergesa didaerah Rampal, saya melihat " sesuatu " dikiri jalan. Kendaraan saya parkir disebelah kanan jalan, saya jalan menyeberang.

Satu keluarga, seorang ayah dengan tiga putrinya yang manis manis, sedang berbaring baring santai sambil bersendau gurau. Kedatangan saya mengusik keceriaan mereka, dan saya mem perkenalkan diri sambil membuka obrolan. Akhirnya kami mengobrol di dalam selokan yang kering, dan sesekali kami "cekikik an" karena kelucuan2 jawaban anak anak.

Profesi pemulung sang ayah yang ber "asisten" tiga anaknya ini, nampaknya cukup berat didera beban hidup yang tidak ringan. " Ibu sudah meninggal, jadi kami ya mengikut ayah kemana mana.... " ( Aduh, maaf tiba2 saya teringat mbah Surip, tak gendong kemana mana, sungguh sebuah kiasan yang pas, beban hidup yang digendong kemana mana ... ). Puas mengobrol saya lalu minta ijin memotret mereka yang dengan suka cita ber " action " .

Wajah dan pakaian lusuh mereka tidak mengurangi pancaran hati yang tulus, saya kagum. Diakhir perjumpaan, saya mencoba berjanji akan menemui mereka lagi satu saat nanti yang entah dimana sebab pengembaraan langkah mereka bukanlah seperti alamat rumah bagi kita.

Kami berpisah, saya mencoba menahan hati, karena saya tidak mau terlihat cengeng didepan anak anak itu, dan saya mencoba bergurau tetapi sebetulnya serius: " Nah satu saat adik adik ini yang akan menjadi pengusaha pemulung lo ya supaya bapak kalian tidak jalan jalan lagi ...."

Mereka serentak mengamini. Saya sungguh takut, kata kata saya mungkin melukai, tapi saya hanya ingin menyuntikkan semangat didada putri putri yang manis manis ini. Saya melambai dari seberang jalan dengan galau, saya tahu, diluar sana ada beratus ribu bahkan mungkin juta anak anak yang bernasib sama bahkan lebih buruk. Dada serasa sesak.

Saya selesaikan meng edit foto foto mereka, menyiapkan hard dan softfilenya, ke pos mengirimnya ke Bangkok, dan mendekati 16.30 saya berburu ta'jil... Masalahnya sekarang : bukan kalah dan menang dalam lomba foto ini, tapi ternyata saya justru mendapat pesan lain yang lebih bernilai dari sekedar memenangkan kontes foto.

Saya membayangkan betapa sebenarnya kehidupan penuh ironi. Banyak keluarga berkecukupan tetapi tidak bahagia atau berpura pura bahagia. Dan yang baru saja saya temui tadi, secara materi tidak mencukupi ( bahasa Jawanya " kere " ) tetapi mereka sungguh KAYA dalam arti yang sebenar benar kaya dalam cinta kasih dan ketidak pura pura an.

Sebuah pelajaran hidup, apa yang kita pandang sebagai "kere" ( melarat/ miskin ) dan "kaya" ? Alangkah dangkalnya bila semua hanya bermuara diujung tumpukan materi, sungguh fana. Dimanakah kita, " kere " atau " kaya " ?

( Photo by : th )

Terima Kasih untuk Bumiputera






Kepada Panitia HUT ke 97 Bumiputera, Jakarta, disampaikan terima kasih atas kepercayaan, dukungan dan perhatiannya, semoga Asuransi Bumiputera semakin sukses sebagai " Payung Tertua " di Indonesia !!

( Photo by : th )

Senin, 07 September 2009

YOGYA LAGI?




Gempa kembali mengunjungi Yogyakarta meski "hanya" sebentar.. Trauma gempa hebat sekian tahun lalu dikota yang sama agaknya kembali mengoyak masyarakat Yogya yang mungkin belum sepenuhnya lupa. 

Dibulan suci ini, ujian demi ujian membutuhkan kesabaran kita sekaligus introspeksi yang makin dalam. Hanya masalah waktu bahwa satu saat dapat saja bencana muncul disekitar kita, dirumah kita, di desa kita, dikota kita dsb ...
Masa masa "turun mesin" umat Muslim pada Ramadhan ini, hendaknya dapat kita manfaatkan sebaik baiknya. 24 jam seharipun rasanya belum cukup untuk beribadah dan beramal guna mencuci segala noda dan kerak, apalagi yang tidak mencucinya?

Bersyukurlah kita memiliki Ramadhan sebagai bulan penuh kesempatan dan peluang untuk mendapatkan rahmat dan ampunanNYA, mengapa harus di sia sia kan?

Kekayaan bukanlah seberapa besar tabungan di bank, seberapa banyak rumah dan mobil kita, dll, melainkan seberapa besar dan banyak tabungan kebaikan seseorang. Kekayaan hati akan terpancar lewat perikata dan laku yang santun, tidak menyakiti, dan siap untuk membantu sesama. Sangatlah sederhana. Tetapi mudahkah?

Kemarin seusai tarawih, saya bertemu teman yang berbeda RW, menyapa hangat:
" Lho, mbak, kok tambah muda saja?"
" ( Saya bingung, apanya yang muda? ) ....."
" Wah, mbok ditulari resepnya?" ( Resep awet tua apa muda? ). Saya hanya tertawa dan
" Alhamdullilah.... ya gini ini pensiunan haha ... menikmati hidup saja..."

" Lha itu bagus mbak, saya ini masih terus2an stres wong anak2 masih kecil dan butuhnya banyak..... Sekolah mahal, apa2 mahal, tapi tiap ketemu mbak kok nggak tua2 rasanya..haha "
" Nggak ada rahasianya.. hidup sak madyo saja. Yang penting ( sambil berjalan beriringan kami menuju kearah rumah saya yang pasti harus dia lewati juga ) :
satu, nggak punya hutang meski cuma serupiahpun .
dua, nggak ambisius meski tetap punya misi visi.
tiga, orang2 terdekat yang kita cintai dalam zona aman dan tidak dalam konflik.
empat, mensyukuri sekecil apapun karuniaNYA, misal : masih bisa merasakan manis, pahit, kecut, asin dll sebab kalau sudah berpenyakit macam2 kan harus diet ini itu, repot...
lima, mensyukuri dan ikut bahagia atas keberhasilan orang lain baik itu teman, kerabat, tetangga dll, minimal ucapkan "alhamdullilah".
enam, bagikan apa yang kita miliki kepada yang membutuhkan semampu kita, apakah itu melalui shodaqoh, zakat, dll terutama zakat sebagai hal yang wajib. Shodaqoh akan membantu kita menjadi lebih peduli dan tidak pelit atau kuatir miskin dan berkurang hartanya. Terutama santuni yatim piatu.

Tujuh ( saya akhiri dinomor tujuh ) : bersihkan qolbu, hidup kita akan tenteram dan tidak selalu bingung memikirkan bagaimana mengusik sesama. Dan ketujuh tips ini gratis lo, tanpa harus bayar mahal seperti seminar2 itu hehe....." ( Sudah terlanjur nerocos ya sudah, sebab rasanya tidak bisa di rem lagi .. )

"Mbak, kapan2 boleh ngobrol2 lagi ya?"
"Monggo .....saya kan tidak punya jam bicara hehe...". Kami berpisah di depan pos satpam depan rumah saya. Tentu, saya juga berharap gempa tidak akan pernah datang dilingkungan kami.

Tetapi seandainyapun terjadi, saya berharap masih diberikan kesempatan olehNYA untuk membersihkan diri dan hati agar lebih baik lagi dari hari ini, agar saya diijinkanNYA masuk dalam golongan khusnul khatimah sebab saya amat ngeri membayangkan kalau saja saya "dicabut kontrak" dalam keadaan masih berkerak kerak, naudzubillamindzaliq....

( Gambar dari : http://pinkturtle2.wordpress.com/2009/09/03 gambar-gempa-bumi-di-indonesia )


Rabu, 02 September 2009

Akhirnya.... Jakarta!!!






Jam 15.15 wib tadi saya masih berada di sekitar Jl. Veteran mau memilih ta'jil ketika tiba2 hp berbunyi: " Ma, barusan kita semua dievakuasi dari lantai 22, gempa 7.3 Richter.... ini belum tahu apa pulang atau balik kantor lagi, kerjaan belum selesai.... ". Anak bungsu saya menilpon.

Saya langsung pulang saja untuk bisa melihat di TV setelah sempat menasehati agar kalau memang belum jelas sesuatunya terutama adanya kemungkinan gempa2 susulan maka sebaiknya pulang saja. Khas seorang ibu.

Jakarta ...... akhirnya terkena gempa yang cukup besar juga. Pernah ketika Tsunami dulu, sebagai awam sempat terpikir : mengapa Jakarta masih aman aman saja, padahal Jakarta ini termasuk pusat segalanya, ya bisnis, ya pemerintahan, ya maksiatnya dll.... Agaknya "peringatan dini" bencana Tsunami, gempa Yogyakarta, dll yang lalu tidak sempat " menggetarkan " Jakarta dan Jakarta masih asyik asyik saja dengan rutinitas nya....

Maka, setelah pengeboman yang lalu, gempa kali ini merupakan "kado" kedua kali buat Jakarta dalam waktu yang relatif berdekatan dan "ironis"nya kado yang terakhir justru pada saat Ramadhan. Berpusat di selatan Tasikmalaya dengan kerusakan terparah di Tasikmalaya sendiri, agaknya ini bukan "kado sembarangan".

Introspeksi. Marilah justru dalam bulan suci ini, kita berusaha lebih keras untuk lebih mampu lagi membaca tanda tanda alam.. Bukan tidak mustahil, tempat tinggal kita satu saat nanti juga akan terkena gilirannya, mengapa harus menunggu hingga saat itu benar terjadi?

Ramadhan tersisa tinggal beberapa saat lagi. Dengan penuh isak tangis kita akan memohon diujung Ramadhan nanti bahwa kita masih akandiberiNYA kesempatan bertemu lagi dengan Ramadhan berikutnya. Semoga gempa ini terkirim kepada qolbu kita dengan sarat makna, amien.....