Sabtu, 12 September 2009

Terima Kasih


Kepada rekan JS Kamdhi dan Suparjo, terima kasih atas komentarnya pada tulisan " Anggota Dewan Yang " Terhormat " " ?, di kabarindonesia.com, semoga Indonesia secepatnya memiliki suatu sistim perekrutan caleg yang lebih memadai dan menjawab kebutuhan jaman.

( Foto diambil dari : gambargedungDPR-RI )

Kamis, 10 September 2009

" KERE " dan " KAYA " ?









Kemarin siang, karena sudah diuber deadline UNICEF, saya hunting foto dalam waktu yang mepet, tersisa 170 menit sebelum saat hunting ta'jil dan berbuka tiba. Menelusuri jalanan yang terik dan sepi sungguh tidak mudah menemukan obyek yang tepat karena semua orang cenderung berteduh diruangan. Lewat dengan tergesa didaerah Rampal, saya melihat " sesuatu " dikiri jalan. Kendaraan saya parkir disebelah kanan jalan, saya jalan menyeberang.

Satu keluarga, seorang ayah dengan tiga putrinya yang manis manis, sedang berbaring baring santai sambil bersendau gurau. Kedatangan saya mengusik keceriaan mereka, dan saya mem perkenalkan diri sambil membuka obrolan. Akhirnya kami mengobrol di dalam selokan yang kering, dan sesekali kami "cekikik an" karena kelucuan2 jawaban anak anak.

Profesi pemulung sang ayah yang ber "asisten" tiga anaknya ini, nampaknya cukup berat didera beban hidup yang tidak ringan. " Ibu sudah meninggal, jadi kami ya mengikut ayah kemana mana.... " ( Aduh, maaf tiba2 saya teringat mbah Surip, tak gendong kemana mana, sungguh sebuah kiasan yang pas, beban hidup yang digendong kemana mana ... ). Puas mengobrol saya lalu minta ijin memotret mereka yang dengan suka cita ber " action " .

Wajah dan pakaian lusuh mereka tidak mengurangi pancaran hati yang tulus, saya kagum. Diakhir perjumpaan, saya mencoba berjanji akan menemui mereka lagi satu saat nanti yang entah dimana sebab pengembaraan langkah mereka bukanlah seperti alamat rumah bagi kita.

Kami berpisah, saya mencoba menahan hati, karena saya tidak mau terlihat cengeng didepan anak anak itu, dan saya mencoba bergurau tetapi sebetulnya serius: " Nah satu saat adik adik ini yang akan menjadi pengusaha pemulung lo ya supaya bapak kalian tidak jalan jalan lagi ...."

Mereka serentak mengamini. Saya sungguh takut, kata kata saya mungkin melukai, tapi saya hanya ingin menyuntikkan semangat didada putri putri yang manis manis ini. Saya melambai dari seberang jalan dengan galau, saya tahu, diluar sana ada beratus ribu bahkan mungkin juta anak anak yang bernasib sama bahkan lebih buruk. Dada serasa sesak.

Saya selesaikan meng edit foto foto mereka, menyiapkan hard dan softfilenya, ke pos mengirimnya ke Bangkok, dan mendekati 16.30 saya berburu ta'jil... Masalahnya sekarang : bukan kalah dan menang dalam lomba foto ini, tapi ternyata saya justru mendapat pesan lain yang lebih bernilai dari sekedar memenangkan kontes foto.

Saya membayangkan betapa sebenarnya kehidupan penuh ironi. Banyak keluarga berkecukupan tetapi tidak bahagia atau berpura pura bahagia. Dan yang baru saja saya temui tadi, secara materi tidak mencukupi ( bahasa Jawanya " kere " ) tetapi mereka sungguh KAYA dalam arti yang sebenar benar kaya dalam cinta kasih dan ketidak pura pura an.

Sebuah pelajaran hidup, apa yang kita pandang sebagai "kere" ( melarat/ miskin ) dan "kaya" ? Alangkah dangkalnya bila semua hanya bermuara diujung tumpukan materi, sungguh fana. Dimanakah kita, " kere " atau " kaya " ?

( Photo by : th )

Terima Kasih untuk Bumiputera






Kepada Panitia HUT ke 97 Bumiputera, Jakarta, disampaikan terima kasih atas kepercayaan, dukungan dan perhatiannya, semoga Asuransi Bumiputera semakin sukses sebagai " Payung Tertua " di Indonesia !!

( Photo by : th )

Senin, 07 September 2009

YOGYA LAGI?




Gempa kembali mengunjungi Yogyakarta meski "hanya" sebentar.. Trauma gempa hebat sekian tahun lalu dikota yang sama agaknya kembali mengoyak masyarakat Yogya yang mungkin belum sepenuhnya lupa. 

Dibulan suci ini, ujian demi ujian membutuhkan kesabaran kita sekaligus introspeksi yang makin dalam. Hanya masalah waktu bahwa satu saat dapat saja bencana muncul disekitar kita, dirumah kita, di desa kita, dikota kita dsb ...
Masa masa "turun mesin" umat Muslim pada Ramadhan ini, hendaknya dapat kita manfaatkan sebaik baiknya. 24 jam seharipun rasanya belum cukup untuk beribadah dan beramal guna mencuci segala noda dan kerak, apalagi yang tidak mencucinya?

Bersyukurlah kita memiliki Ramadhan sebagai bulan penuh kesempatan dan peluang untuk mendapatkan rahmat dan ampunanNYA, mengapa harus di sia sia kan?

Kekayaan bukanlah seberapa besar tabungan di bank, seberapa banyak rumah dan mobil kita, dll, melainkan seberapa besar dan banyak tabungan kebaikan seseorang. Kekayaan hati akan terpancar lewat perikata dan laku yang santun, tidak menyakiti, dan siap untuk membantu sesama. Sangatlah sederhana. Tetapi mudahkah?

Kemarin seusai tarawih, saya bertemu teman yang berbeda RW, menyapa hangat:
" Lho, mbak, kok tambah muda saja?"
" ( Saya bingung, apanya yang muda? ) ....."
" Wah, mbok ditulari resepnya?" ( Resep awet tua apa muda? ). Saya hanya tertawa dan
" Alhamdullilah.... ya gini ini pensiunan haha ... menikmati hidup saja..."

" Lha itu bagus mbak, saya ini masih terus2an stres wong anak2 masih kecil dan butuhnya banyak..... Sekolah mahal, apa2 mahal, tapi tiap ketemu mbak kok nggak tua2 rasanya..haha "
" Nggak ada rahasianya.. hidup sak madyo saja. Yang penting ( sambil berjalan beriringan kami menuju kearah rumah saya yang pasti harus dia lewati juga ) :
satu, nggak punya hutang meski cuma serupiahpun .
dua, nggak ambisius meski tetap punya misi visi.
tiga, orang2 terdekat yang kita cintai dalam zona aman dan tidak dalam konflik.
empat, mensyukuri sekecil apapun karuniaNYA, misal : masih bisa merasakan manis, pahit, kecut, asin dll sebab kalau sudah berpenyakit macam2 kan harus diet ini itu, repot...
lima, mensyukuri dan ikut bahagia atas keberhasilan orang lain baik itu teman, kerabat, tetangga dll, minimal ucapkan "alhamdullilah".
enam, bagikan apa yang kita miliki kepada yang membutuhkan semampu kita, apakah itu melalui shodaqoh, zakat, dll terutama zakat sebagai hal yang wajib. Shodaqoh akan membantu kita menjadi lebih peduli dan tidak pelit atau kuatir miskin dan berkurang hartanya. Terutama santuni yatim piatu.

Tujuh ( saya akhiri dinomor tujuh ) : bersihkan qolbu, hidup kita akan tenteram dan tidak selalu bingung memikirkan bagaimana mengusik sesama. Dan ketujuh tips ini gratis lo, tanpa harus bayar mahal seperti seminar2 itu hehe....." ( Sudah terlanjur nerocos ya sudah, sebab rasanya tidak bisa di rem lagi .. )

"Mbak, kapan2 boleh ngobrol2 lagi ya?"
"Monggo .....saya kan tidak punya jam bicara hehe...". Kami berpisah di depan pos satpam depan rumah saya. Tentu, saya juga berharap gempa tidak akan pernah datang dilingkungan kami.

Tetapi seandainyapun terjadi, saya berharap masih diberikan kesempatan olehNYA untuk membersihkan diri dan hati agar lebih baik lagi dari hari ini, agar saya diijinkanNYA masuk dalam golongan khusnul khatimah sebab saya amat ngeri membayangkan kalau saja saya "dicabut kontrak" dalam keadaan masih berkerak kerak, naudzubillamindzaliq....

( Gambar dari : http://pinkturtle2.wordpress.com/2009/09/03 gambar-gempa-bumi-di-indonesia )


Rabu, 02 September 2009

Akhirnya.... Jakarta!!!






Jam 15.15 wib tadi saya masih berada di sekitar Jl. Veteran mau memilih ta'jil ketika tiba2 hp berbunyi: " Ma, barusan kita semua dievakuasi dari lantai 22, gempa 7.3 Richter.... ini belum tahu apa pulang atau balik kantor lagi, kerjaan belum selesai.... ". Anak bungsu saya menilpon.

Saya langsung pulang saja untuk bisa melihat di TV setelah sempat menasehati agar kalau memang belum jelas sesuatunya terutama adanya kemungkinan gempa2 susulan maka sebaiknya pulang saja. Khas seorang ibu.

Jakarta ...... akhirnya terkena gempa yang cukup besar juga. Pernah ketika Tsunami dulu, sebagai awam sempat terpikir : mengapa Jakarta masih aman aman saja, padahal Jakarta ini termasuk pusat segalanya, ya bisnis, ya pemerintahan, ya maksiatnya dll.... Agaknya "peringatan dini" bencana Tsunami, gempa Yogyakarta, dll yang lalu tidak sempat " menggetarkan " Jakarta dan Jakarta masih asyik asyik saja dengan rutinitas nya....

Maka, setelah pengeboman yang lalu, gempa kali ini merupakan "kado" kedua kali buat Jakarta dalam waktu yang relatif berdekatan dan "ironis"nya kado yang terakhir justru pada saat Ramadhan. Berpusat di selatan Tasikmalaya dengan kerusakan terparah di Tasikmalaya sendiri, agaknya ini bukan "kado sembarangan".

Introspeksi. Marilah justru dalam bulan suci ini, kita berusaha lebih keras untuk lebih mampu lagi membaca tanda tanda alam.. Bukan tidak mustahil, tempat tinggal kita satu saat nanti juga akan terkena gilirannya, mengapa harus menunggu hingga saat itu benar terjadi?

Ramadhan tersisa tinggal beberapa saat lagi. Dengan penuh isak tangis kita akan memohon diujung Ramadhan nanti bahwa kita masih akandiberiNYA kesempatan bertemu lagi dengan Ramadhan berikutnya. Semoga gempa ini terkirim kepada qolbu kita dengan sarat makna, amien.....

Minggu, 30 Agustus 2009

Terima Kasih




Kepada rekan Iyan, Arka dan Andreas Tarigan, terima kasih atas komentarnya pada artikel " Untukmu Indonesia, Aku Bersedia Mati! " dan " For Sale : Indonesian Islands!" di kabarindonesia.com. Semoga semangat2 Anda juga dimiliki terutama oleh generasi muda Indonesia yang masih peduli dengan tanah dan airnya, terima kasih.

( foto bendera diambil dari google )

Sabtu, 29 Agustus 2009

Berteman Teklek Dalam Damai





Sebagai pecinta "teklek atau bakiak" ( sandal terbuat dari kayu ) , sayapun merasa lebih enjoy ber teklek ria terutama bila tarawih. Selain santai, juga sehat sebab saya memang agak alergi dengan segala jenis sandal plastik yang rata rata panas di kulit kaki. 

Tanpa disadari, irama teklek ini ternyata diam diam diamati oleh "pengamat pengamat rahasia" yang hafal dengan tek tok tek tok teklek saya. 

Lagipula dideretan sandal di tangga bawah masjid perumahan kami, teklek saya ternyata satu2nya yang tanpa merek disisi berbagai merek sandal lainnya. " Lha ini tekleknya, orangnya pasti sudah didalam....", begitu celetuk seorang tetangga yang mencari saya karena menjanjikan daftar bacaan Ruqiyyah.

Ada 18 jenis bacaan doa lebih yang diberikan kepada saya oleh ibu yang cantiknya bak fotomodel ini, sudah cantik berjilbab pula dan baik hatinya, jadi sudah sangat lengkap lahir batin kecantikannya. Mulai Al Fatiha, disusul Al Baqarah dan yang lain lain. 

Sungguh saya bersyukur bahwa Ramadhan kali ini banyak mendekatkan saya kepada tetangga2 yang semasa saya masih "berkarir" dulu tidak sempat terawat. Di dalam masjid sebelum tarawih, sempat seorang ibu yang lain membisiki: " Jeng, hadiah lari karungnya masih di saya lho dan tolong Sabtu depan rawuh lagi ya di pengajian. Juga tgl 8 Sept. pagi dirumah saya lo pertemuannya...".

Saya tercenung. Minggu2 yang lalu agenda saya bergulir dari satu reuni ke reuni lain untuk kemudian saat ini dari satu pengajian ke pengajian yang lain. Tuhan memang penuh misteri.

Sepulang tarawih, ternyata angin bertiup lebih kencang dari saat berangkat tadi. Mukenah berkibar kibar, dan tiba2 dibelakang saya seorang ibu tetangga yang lainnya lagi menjawil dari belakang : " Daging... ada daging..... ".

Saya menoleh bingung. Ibu tersebut malah tertawa: " Itu lo bu, yang bawah ber kibar2, jadi kaki ibu terlihat sexy....." . Lho? Ooo.... canda ini terasa sebagai pesanNYA yang amat santun bahwa saya harus lebih menjaga "bawah sampai atas"..... alhamdullilah, matur nuwun.

Rasa damai ini menyusup hingga ke sumsum. Terngiang ceramah pak Ustadz tentang hijrah. Hijrahnya mereka dari gelap menuju terang. Hijrahnya mereka dari kecintaan duniawi kepada akherati. Hijrahnya hati hati yang berdebu kepada qolbu yang bersih. Hijrahnya kedengkian dan kebencian kepada kecintaan. Sayangnya memang belum semuanya mampu ber hijrah, karena masih banyak juga yang bertahan dalam kelalaian. Maka saya inginnnn sekali segera " dihijrahkan dan menghijrahkan diri dari saat kesaat " tersebab sempitnya waktu di dunia fana ini dibanding keabadian dunia yang berikutnya nanti.

Disebutkan, sebagaimana dalam surat An Nahl, ayat 107 sampai 109 : ( tafsirnya sbb ) :
" Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan didunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

Mereka itulah orang orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang orang yang merugi".

Tek tak tek tok saya berakhir di pintu rumah, saya berpisah dengan teklek tercinta saya disana. Sesuatu bayangan mengerikan melintas dibenak saya....qolbu2 yang belum berhijrah.....


Dan .. bagaimana dengan saya dan Anda? ( Semoga kita masih berkesempatan berhijrah, amienx3)

( Photo by : th, 
" Tangga Masjid Vienna, akhir musim dingin dimana dedaunan belum muncul, 1987 " )