Minggu, 12 Juli 2009

Obrolan di tempat wisata ndheso, WENDIT





Baru menyebut nama tempat wisatanya saja orang sudah berkomentar : " Ndheso..." . Waa .. apakah Wendit memang demikian? Dan apakah yang 
" ndheso " itu jelek? Mungkin sebaiknya sebelum melontarkan pendapat, ada baiknya kita tengok dulu perwajahan Wendit saat ini .. 

Jujur memang  terakhir saya kesana sudah sekitar 20/dua puluh tahun yang lalu!! Harapan saya mudah2an wajah Wendit yang terletak sekitar 12km dari rumah saya tidak banyak berubah. Setidaknya beberapa yang khas misalnya : monyet monyetnya, perahu nya dan penjual kacang godoknya.

Ternyata benar. Renovasi dibeberapa tempat di Wendit tidaklah terlalu mengubah bentuk aslinya. Memang terkesan lebih nyaman karena sudah banyak tempat tempat beristirahat yang lumayan bersih dan teduh 
( duluuuuu orang harus membawa tikar untuk lesehan ). 

Nah yang saya cari2pun  ternyata masih lumayan banyak : monyet monyet ! Hebatnya : mereka tidak pernah mengganggu para penjual kacang walaupun mereka berada dalam jarak yang saling berdekatan. Tetapi yang diganggu adalah para pembeli kacangnya! Jangan coba2 membawa kacang secara terbuka kalau tidak ingin dikeroyok pasukan Hanoman ini..

Saya mencari perahu yang duluuuuuuuu bisa membawa penumpangnya ke kebun kebun kangkung di rawa sebelah belakang Wendit. 

Naaa yang ini memang ternyata sudah tidak ada alias sudah dibatasi oleh tembok, sehingga perahu tidak lagi bisa ke kebun kangkung, sayang sekali! 

Atraksi yang ada di Wendit ini memang betul betul merakyat. Mulai dari berfoto bersama ular phyton, menengok misteri kerajaan kera, komedi kera, boom boom car, dll.


Sambil bernostalgi ke masa kecil yang tidak pernah melewatkan Wendit disaat lebaran, tiba tiba lamunan saya dibubarkan oleh pertanyaan kerabat yang bersama saya ke Wendit:

" Mbak.."
" Opo?"..
" Aku ni lagi sebel..." ( Waduh, lagi asyik menikmati tingkah polah monyet2 ternyata kesebelan hati kerabat saya tidak terobati oleh lucunya monyet monyet disitu, jadi  saya pilih menjadi pendengar yg baik saja ... )

" Kenapa, dirumah apa ditempat kerja?", saya asal tanya.
" Tempat kerja..... ( Tanpa saya tanya lagi langsung nyerocos ceritanya, rupanya sudah lama di simpan, jadi Wendit dianggap tempat yang tepat untuk mengurainya... )

" Gini lo mbak, di kantor itu kok ada saja ya orang2 yang merasa dirinya paling bener, pinter, lurus, dan kerjanya mengurusi orang lain, mengkritik dan mencari kelemahan orang lain. Padahal dirinya sendiri itu parahhhh, tapi tidak disadari dan tiap saat yang dipikirkan itu adalah bagaimana bisa menemukan kekurangan2 orang lain, heran aku...", dia makin cemberut.


Saya masih diamkan. E...dilanjutkan : " Mbak menghadapi orang2 seperti itu gimana ?"
" Diamkan saja...", kata saya.
" Opo mbak?"
" Diamkan saja..."
" Mosok diam aja se mbak?"
" Ya, diamkan saja.."
" Mbak iki gak serius, aku butuh saran nih.."
" Lo lha sudah tak kasi gitu lo, diamkan..."
" Kok gitu?"
" Iya. Percuma. Orang2 seperti itu tidak menyadari apa yg dilakukannya, itu propblemnya. It's a matter of character ... " waduh, saya Inggris2kan supaya terdengar mantap. Tau2 saya di protes: " Ya gak ngaruh mbak, maksudku org2 itu perlu diingatkan gitu ta supaya sadar?"


" Percuma. Orang2 seperti itu memang punya NEED untuk mengurusi orang lain. Punya NEED untuk mencari kelemahan orang lain. Punya NEED untuk bahkan kalau perlu mempermalukan orang lain. Dan mereka itu kasihan, sebetulnya mereka itu BUTUH PERTOLONGAN...!"


Kerabat saya mulai mantuk2. " O... iya ya, mungkin memang sakit ya? ", tidak saya jawab, saya persilahkan dia mengurainya sendiri.


Saya tahu dia tidak puas dengan jawaban saya. Tapi sungguh saya juga tidak tahu harus berbuat apa menghadapi karakter karakter yang dikeluhkannya, karena hampir selalu ada yang seperti itu dalam kehidupan dan keseharian kita. 

Bisa dikalangan keluarga, tetangga, teman kerja, dll. Dugaan saya benar, tiba2: " Mbak, tips lain untuk saya apa ya supaya hati ini tidak kemrungsung dan emosi menghadapi orang2 seperti itu?".

Berhubung saya tidak ingin " terganggu " lebih lama dalam menikmati monyet monyet Wendit yang lucu lucu, maka saya coba bergaya "khotbah" untuk memuaskan hatinya: 

" Dalam doa doamu yang wajib maupun sunnah, doakan mereka itu, mohonkan ampunanNYA karena sesungguhnya mereka tidak tahu atau bahkan tidak menyadari apa yang diperbuatnya, disamping ampunan untuk diri kita sendiri. Mari kita bantu mereka2 itu dengan keiklasan doa, hanya Tuhan yang mampu menggerakkan hati mereka bukan kita..ok? ", dia manggut2 dan tiba2 : " Hueeee mbak, awassssss... !", aduhhhh seekor monyet Wendit mendekat ke tas saya yang " pating slewer " tali kameranya menjulur dari luar tas..aduhhhh, dan demi keselamatan kamera saya terpaksa agak ter birit2 "menyelamatkan diri " ...dan "khotbah" pun berakhir..... O,Wendit, Wendit..... ( th )

Keterangan foto : ( taken by : TH )

01. Monyet monyet dipagar Wendit.
02. Area berperahu yang sayangnya tidak sampai dikebun kangkung.

Rabu, 08 Juli 2009

SMILE, Michael Jackson



 




















Smile.. though your heart is aching..
Smile..even though it's breaking..
When there are clouds in the sky, you'll get by..

If you smile..
With your fear and sorrow..
Smile and may be tomorrow
You'll find that life is still worthwhile
If you just..

Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near

That's the time you must keep on trying..
Smile what's the use of crying..
You'll find that life is still worthwhile if you just..

Smile, though your heart is aching..
Smile, even though it's breaking
When there are clouds in the sky, you'll get by

If you smile through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You'll find that life is still worldwhile
If you just smile...

Sumber gambar :
http://images.fanpop.com/images/image_uploads/Michael-Jackson-michael-jackson-41268_1024_768.jpg

Selasa, 07 Juli 2009

SURAMADU part II:







Tgl. 07 Juli  2009 pagi hari, setelah selesai acara seremonial di Kanwil Dep. Hukum dan HAM Jl. Kayoon Surabaya yang selesai pada sekitar jam 12.00 , rombongan kecil keluarga kami bergerak kearah Suramadu sebagai ' syukuran ' kecil.
Ya, upacara tadi adalah seremonial pelepasan WNA anak anak saya setelah 21 tahun memegang paspor EURO nya. Sayangnya Indonesia tidak mengenal dwi kewargaan negara sehingga harus memilih salah satu, dan tentu saja mereka memilih menjadi WNI ( saja ! ). Salah satu cuplikan upacara tadi adalah kewajiban anak anak saya menghafal Panca Sila serta menyanyikan Indonesia Raya dan Padamu Negeri. Saya pastinya tidak melewatkan upacara sekali seumur hidup ini dalam jepretan, dan mari membahas lagi Suramadu part II ini hehe ...

Perjalanan dari Kayoon ke Suramadu ternyata tidak macet seperti perkiraan semula dan berbeda dengan kunjungan I, kali ini saya melihat penjagaan polisi lebih ketat. Ini melegakan sebab dengan begitu keamanan jembatan juga lebih terjamin dari tangan tangan jahil seperti hilangnya kabel, mur mur jembatan, dll yang vital dan membahayakan keselamatan orang banyak.

Polisi terkesannya ' misterius ' sebab pada kasus kasus pemakaian bahu jalan terkiri yang dilarang, atau berfoto ditengah jembatan dan mobil berhenti ditengah jembatan, seringkali kemunculannya mendadak. Saat itu ada dua kasus pengejaran polisi, sebuah truk yang terlihat melebihi tonase dan satu mobil keluarga yang berfoto ditengah jembatan.

Dibagian Madura nya, terlihat dikiri kanan jalan menuju Bangkalan adalah warung warung yang terkesan kumuh karena atap atap plastik beraneka warna serta warung atau kedai yang tidak beraturan . Ini sangat disayangkan mengingat kemegahan jembatan ini seolah berkurang oleh penampilan yang tidak rapih dari para penjual makanan dan souvenir ini.

Semoga segera mendapat perhatian dari yang berwenang agar kehadiran para penjual ini bisa menambah keindahan Suramadu melalui penataan dari warung warung maupun jasa jasa lainnya yang nantinya akan bermunculan. Sebagaimana "tradisi" PKL biasanya kalau tidak ada ketegasan dari pihak yang berwenang, maka secara perlahan tapi pasti mereka akan mengubah bangunannya menjadi semi permanen dan akhirnya permanen.

Sangat diyakini bahwa sebuah master design sudah dipersiapkan untuk nantinya mengubah perwajahan area di ujung ujung jembatan ini menjadi sebuah kawasan wisata yang tertata rapih dan solid, tetapi siapa dan kapan serta bagaimana, belumlah jelas.

Maka daripada kawasan ini perlahan lahan akan semakin padat dan kumuh, ada baiknya mulai sekarang dipersiapkan sesuatunya, bila perlu diadakan dialog dengan para pedagang makanan, souvenir dan jasa yang mulai memadati kawasan ujung ujung jembatan disisi Madura dan juga Surabaya ,agar ber sama sama dapat membangun sebuah kesadaran akan arti penting sebuah keindahan disamping tujuan bisnisnya.

Suramadu  ... semoga langit diatasmu tetap biru!

( Photo by : Titiek Hariati )

Jumat, 03 Juli 2009

"ROMBENGAN" ala SURAMADU







Judul diatas mohon dibaca dengan betul. Rombeng itu "e" nya harus dibaca dengan cetak miring kekiri diatasnya, seperti ketika orang berucap kata "oleng" ( perahu oleng, miring ). Kalau sudah betul membacanya pasti artinya bisa pas, yaitu kalau diterjemahkan adalah "loakan" atau bursa barang bekas. Nah..menarik bukan bahwa Suramadu yang baru saja diresmikan Juni yang lalu ternyata sudah jadi "loakan"? Wah, masa iya?

Saya berkesempatan mengabadikan jembatan ini ketika tengahnya masih belum 100% tersambung, tetapi jembatan sudah selesai sekitar 90%. Jungkir balik mulai dari atas sampai bawah jembatan, bergeser ke samping kanan kiri seperti supervisor bangunan saja, padahal yang ditenteng cuma kamera. 


Seorang petugas membisikkan informasi menarik :" Wah..kalau pekerja2 dari Tiongkok itu hebat kerjanya.", padahal saya tidak bertanya apa apa. Dilanjutkannya :" Mereka 24 jam bekerjanya dan rajin..". Lho apa pekerja pekerja  Indonesianya tidak rajin? Sang petugas dan temen temannya mesam mesem penuh arti ketika saya ajukan pertanyaan itu ...

Kembali ke masalah loakan tadi, ternyata hanya berselang beberapa hari dan minggu dari saat peresmiannya, jembatan kebanggaan kita ini sudah dikilo disana sini. Baut dan mur murnya rupanya "menggiurkan" untuk di loakkan dan ternyata sudah mulai di protoli tangan tangan yang tidak bertanggung jawab.

Ternyata itu belum seberapa. Belakangan bahkan ada berita yang lebih menyedihkan. Polisi berhasil menangkap sindikat pencurian pipa pipa jembatan yang berdiameter cukup besar serta total bobot pipa yang dicuri adalah : 3/tiga ton...................!!!!! 

Sudah tentu ini bukan maling maling kelas kambing sebab mengumpulkan barang curian seberat itu pasti tidak mudah dan sederhana karena perlu alat serta kendaraan khusus untuk mengangkutnya. Luar biasa kreatifnya bangsa ini!

Pertanyaannya : sampai kapan bangsa Indonesia ini baru akan mampu menjadi bangsa pemelihara aset aset negaranya? Yang jelas saat ini memang : BELUM. Rel KA di potong, kabel telkom dicuri, telpon umum diputus kabelnya bahkan pesawat telponnya dicuri, menara PLN digergaji, peninggalan atau cagar cagar budaya dicorat coret, sungai sungai dibuat TPA, pohon pohon ditepi jalan dipaku untuk pasang iklan terutama dimusim pilkada, dan daftarnya masih panjang lagi.

Seorang teman berkisah bahwa ortunya mengeluh : " Jaman Belanda dulu, wah..semua bersihhhhhhhhhhhh sekali, dan tidak ada yang corat coret atau mencuri curi fasilitas umum seperti sekarang!". Tiba tiba saya dapat inspirasi, mungkin bangsa kita ini "lebih manut" kepada pihak asing daripada ditata oleh bangsanya sendiri? Lha ini juga mengandung bahaya, sebab diera global ini siapa saja bisa menjadi apa saja. 


Artinya, kalau kita kurang pandai mengawal aset aset kita dan satu saat tiba tiba saja orang orang asing duduk sebagai boss boss kita, baik itu di perusahaan perusahaan maupun lembaga lembaga lainnya, tidak mustahil kita akan menjadi "jongos" ( pembantu ) di negeri sendiri. Ini bukan khayalan. Sebab kalau dijaman Belanda saja konon mereka sudah sangat pinter memelihara aset aset kita, apalagi dijaman teknologi canggih ini.

Gorong gorong yang dibuat pemerintah Hindia Belanda itu misalnya, setidaknya yang ada di kota Malang, bertujuan antara lain untuk menjaga keseimbangan air di daratan dan bawah tanah, mencegah banjir dll. Lha kok justru setelah merdeka dari penjajahan Belanda, gorong gorong ini dibuntu dan bahkan diatasnya banyak yang sudah didirikan bangunan bangunan yang akhirnya mengundang luapan air alias banjir rutin.Oalaaaa ... kok " pinterrrr "  ya kita ini ....


Mungkin para wisatawan Belanda yang mengadakan kunjungan wisata nostalgia ke Malang khususnya akan ter bengong bengong dengan " keahlian " bangsa kita melestarikan bekas Paris van Java ini. 


Semrawut, ruwet, mampet, belum lagi spanduk spanduk, baliho, iklan dan kabel kabel mulai listrik, telepon dll yang " pating slewer dan tumpang tindih ". " Ooooo lha jaman dulu orangnya sedikit, mobil jarang, lha sekarang kan lain..." itu alasan yang bisa dicari. Sebenarnya iya. Tetapi tidak berarti tidak bisa ditertibkan.

Maka supaya Suramadu dan fasilitas2 umum lainnya tidak dipreteli, dicoreti, dimalingi, di..di..di...banyak lagi, saya rindu kita bisa meniru the Fine City : SINGAPORE. Kota denda. saking getolnya denda mendenda, sampai (maaf!) kentut didalam lift pun diatur dendanya! Meludah ditempat umum, memberi makan burung ditempat umum, membuang sampah tidak pada tempatnya, mencegat taxi sembarangan dll dll semuanya mengandung denda! 


Mungkin diawalnya orang Singapura mengomel, ada aturan kok kebangeten. Tetapi setelah berjalan beberapa waktu dan sampai kini siapapun yang ke negeri singa ini akan merasakan betapa jauh bedanya Singapura dan negeri kita dalam hal kebersihan dan kedisiplinan. Padahal jarak kita dengan mereka hanya terpisah beberapa menit dari Batam.

Wah..Singapura penduduknya sedikit, gampang mengaturnya, begitu mungkin alasannya. Mungkin. Tetapi kalau selalu ada "excuses" maka rasanya bangsa kita tidak akan sampai sampai ditujuan. Denda perlu, tetapi bukan denda basa basi yang tertera dipapan dan pelaksanaannya nihil. 


Mencuri mur atau baut bahkan lonjoran pipa2 berat di Suramadu akan lebih berat dendanya daripada mur dan baut yang ada di telepon umum misalnya, karena menyangkut keselamatan orang banyak. Yang lebih penting lagi adalah DENDA KURUNGAN bagi petugas pendenda yang ketahuan ber KKN dengan yang didenda.

Sudah berapa ton kah hasil penjualan mur dan baut dan pipa pipa lonjoran Suramadu? Mungkin kita memang perlu menghitung yang masih tersisa untuk bisa memprediksi berapa lama kira kira jembatan ini mampu bertahan disamping keluhan keluhan lainnya seperti aspal yang mulai ber lubang lubang atau paku paku yang entah darimana asalnya banyak tercecer untuk mengundang ban ban kendaraan yang bakal bernasib malang.


Suramadu o..Suramadu ku yang malang karena maling !

( Foto diambil dari : artemaster.5056.wordpress.com )

Kamis, 25 Juni 2009

MIKE , Selamat Jalan

 




Semestinya saya mau menulis lain. Tiba2 dikejutkan breakingnews soal kematian Michael Jackson. Maka saya ubah menulis ini. Bukan saja saya sebagai fans beratnya sejak puluhan tahun tetapi Mike sudah seperti "dongeng" sesuai nama eks kediamannya sebelum dijual ... dunia antaberantah...Sebuah biographi yang kompleks...

Lahir dan dibesarkan dilingkungan kumuh, didikan yang ekstrem keras dari ayahnya, berjuang keras sampai meraih predikat mahabintang dan maha jutawan. Didera persoalan karir dan pribadi yang tidak berkesudahan, dituduh sebagai penderita kelainan seksual penyuka anak anak, didenda pengadilan dalam jumlah yang super denda, belum lagi masalah bongkar pasang wajah dan jati diri ibu kandung anak anaknya.
Sebuah biografi yang bak dongeng dan kaya kontroversi .

Mike ..Mike... disisi lain kompetitornya tidak segan2 merontokkan sang maharaja pop ini secara "sistimatis", mulai dari masalah pribadi, karir, hukum dll... Maka kalau sang maharaja akhirnya mati dalam kedukaan dan kesepian yang dalam ( seperti halnya tokoh tokoh selebriti yang juga mati secara tragis ), 
sangatlah bisa dipahami...

Dalam salah satu lirik lagunya Mike berkisah akan kepolosan dan putihnya hati seorang bocah cilik. Mike memang pemuja kepolosan, karenanya tokoh Peterpan juga menjadi favoritnya.. Mike memang tidak pernah ingin menjadi dewasa, karena dia tidak pernah ingin kehilangan putih hatinya. Malangnya tidak semua orang mampu memahami. Alih alih memahami malah orang mengira dia mengidap penyimpangan seksual... tragis.

Tidak akan pernah ada yg sanggup menggantikan tahtanya. Mike bukan maharaja yang sudah menyiapkan pewarisnya karena seorang Mike hanya sekali diciptakanNYA.... Mike, selamat jalan, saya menangisi kepergian ini karena saya mencoba melihatmu dari kacamata yg berbeda.

Nyanyikan Smile dari atas sana, lirik nya dapat menggugah keputusasaan menjadi kobaran semangat, juga lagu lagu yang lainnya seperti I ' ll Be There , Heal The World dll.. Lirik liriknya penuh pesan universal dan bukan kecengengan murahan antara dua jenis mahluk.

Mike, semoga dunia dongeng sudah menantimu disana, termasuk tokoh idolamu Peterpan!

PS :
Khusus mengenang Mike, saya sudah tulis di kabarindonesia.com " Selamat Jalan,Mike!!
( Gambar diambil dari http://yusupman.files.wordpress.co )

Rabu, 20 Mei 2009

Catatan 20 Mei 2009






20 Mei, Kebangkitan Nasional. Lama saya tidak lagi sekolah, sampai tidak tahu kira2 sekolah2 saat ini berbuat apa pada hari ini? Upacara,pembacaan sejarah Kebangkitan Nasional, diskusi atau apa? Entah. Hari ini jugabanyak hal terjadi, tercatat mulai dari :
-jatuhnya Hercules di Magetan, korban 100 lebih.
-pemeriksaan kekayaan capres dan cawapres.
-Sampang guncang soal balita PKL yang tersiram kuah bakso panas karena ulah Satpol yang sok, dll.

Dari mana harus dimulai? Saya cuma miris bahwa saat ini makin banyak saja remaja remaja kita yang bahkan tidak tahu bahwa di Indonesia pernah ada yang bernama Boedi Oetomo, Bung Tomo, Ismail Marzuki ataupun Kartika.

Hal ini mengingatkan saya pada seseorang. Di era tahun 90  sampai 2000 an, saya masih beberapa kali duduk mengobrol dengan mas Leo Kristi baik dikediaman keluarganya maupun di DKS maupun ketika Leo diundang ke perusahaan tempat saya pernah bekerja saat itu di Surabaya.


Sebagai fans berat mas Leo yang identik dengan lagu lagu patriotik dan gitar hitamnya Christy yang terkenal itu, kami sempat berdialog macam macam antara lain ke prihatinan dengan semakin terkikisnya rasa nasionalisme dikalangan remaja . Disisi lain kita juga bangga dengan remaja2 kita yang berprestasi secara luar biasa mewakili nama bangsanya di tataran internasional meski jumlahnya tak sebanding dengan yang 
" lupa " pada nilai nilai patriotisme nasionalisme tadi.

"Salah e sopo yo?", "Salah e bapak ibuk -e!", " Lho kok ngono?", "Iyo, wong bapak ibuk e sibuk nontok sinetron ae, gak tau ngenalno buku buku sing genah gawe anak-e", " Utowo sibuk arisan la bapak e sibuk golek WIL ha ha.."..... begitu kata mas Leo . Juga masih ditambah dengan maraknya lagu2 remaja saat ini yang temanya 99,99% cinta tok, tapi bukan cinta tanah air.


Maka ketika grup Coklat muncul dengan Merah Putihnya, terlihat agak mencolok sampai akhirnya menggelitik pak Menteri untuk menganugerahi Coklat dengan special award. Memang sudah sulit mencari lagu sekaliber ciptaan mas Gombloh yang juga mantan sahabat dekat mas Leo Kristi, yaitu Gebyar Gebyar. Remaja lebih suka me ratap ratap dengan lagu lagu yang mendayu dayu soal cinta .


Lamunan buyar terpotong berita jatuhnya pesawat Hercules di Magetan. Korban yang sudah tidak berbentuk tampak dievakuasi satu persatu.Miris. Di negeri ini cerita pesawat ceblog itu mirip buku harian. Ya pesawat komersil, ya pesawat latih, ya pesawat perusahaan, ya pesawat militer dll. Membayangkan ukuran pesawat Hercules saja sudah luar biasa, apalagi membayangkan jatuhnya. Takdir sekian ratus orang untuk kembali kepangkuanNYA pada saat dan tempat yang sama adalah sungguh rahasia Sang Maha Pencipta.Pada tulisan lain, saya juga pernah menyinggung soal alutsita nya TNI kita yang memang sudah sangat kurang layak, padahal wilayah yang harus dikawal sangat luas baik bahari maupun dirgantaranya, sebuah ironi .


Berita lain adalah balita yang terpanggang kuah bakso karena ibunya yang PKL bakso diuber uber satpol dalam suatu razia PKL sampai terjambak rambutnya yang berakibat anaknya kecemplung kuah panas bakso dan berakhir dengan kematiannya.. Apa tidak hebat satpol satpol kita ini yang kadang dalam menjalankan tugas negara kelewat over acting bahkan hingga menewaskan orang?

Korban seperti balita ini bukan sekali terjadi. Waria dan PSK diuber sampai tewas kecebur sungai. Anak jalanan juga bernasib sama. La apakah tidak ada pembinaan mental sebelum para satpol diturunkan ke jalan? Cara cara penertiban yang lebih manusiawi mungkin sudah lebih dari saatnya di perkenalkan kepada para satpol ini meskipun dalihnya adalah " PKLnya yang membandel" tetapi PKL juga manusia, sama dengan satpolnya.


Trus ada juga berita tentang pemeriksaan kekayaan para capres dan cawapres. Ck ck ck.. saya diam2 bangga bahwa ternyata pejabat pejabat negeri ini sugih sugih ! Bayangkan ada yang sampai triliunan! Hillary Clinton pernah berkata : " Jadilah politikus kalau Anda sudah kaya!", rasanya kok ya betul sebab kalau masih melarat dikuatirkan rawan suap dan korupsi seperti kasus kasus para anggota DPR/D, caleg dll.Tapi e... apa iya yang sudah sugih itu kebal suap dan korup? Apa ndak tambah "embah nya korup"? Hanya waktu yang akan menjawab lha wong diantara capres dan cawapres itu ada yg "belum terbukti kekorupannya ", maksudnya: waktu jua yang akan menjawab semuanya .....

Maka memaknai Kebangkitan Nasional hari ini agaknya adalah lebih kepada memaknai semangat Indonesia Baru yang bebas korupsi, bebas KKN, bebas narkoba, bebas pengangguran dan bebas bebas lainnya yang merugikan rakyat, negara dan bangsa Indonesia, semoga ! ( th )

( Gambar2 diambil dari : khucluk2.wordpress.com/200704/12 )

Kamis, 05 Maret 2009



  


Terima Kasih, XL Award



Jakarta, 05 Maret 2009 


Mario's Place, Jl. Raya Cikini 2-4 ,Menteng,Jakarta, mulai jam 11.00 siang sudah terlihat sibuk. Tuan rumah XL tampak sudah wellprepared terutama mbak Febriari Nadira, Manager PR yang cantik itu terlihat sibuk menyapa rekan rekan dari media masa yang berdatangan dari berbagai media cetak dan elektronik. Sebagai tamu "yang baik" saya berusaha datang ontime, meskipun kemarin sempat khawatir bakal absen di Mario's Place karena sangat mendadaknya pemberitahuan yang datang per sms,telepon dan email dari Panitia XL Award 2009 tentang perlunya saya hadir sebagai salah satu nominator di acara penganugerahan ini.

Kemarin saya bahkan sempat ragu ragu karena Panitia dalam SMS nya sudah langsung mengundang sambil menanyakan nomor rekening bank saya."Lho kok tanya tanya rekening, apakah Anda benar benar dari PanitiaXL Award?". Dijawab :"Ya saya dari Panitia, tetapi kalau ragu ragu nanti saja setelah penganugerahan bisa menyusul nomor rekeningnya!".Saya bingung lha wong dinyatakan sebagai nominator kok sudah harus datang, sebab kalau masih calon saja dan ternyata tidak menang saya hitung hitung biaya Malang Jakarta pp adalah lumayan besar he he ...

Panitia pada akhirnya menjawab :" Bila sudah ditanyakan nomor rekening sebetulnya itu kan sudah merupakan sebuah sinyal to?". Saya belum yakin sebab terus terang pada jaman serba canggih termasuk modus modus kejahatan yang juga semakin cerdas ini menanyakan nomor rekening adalah salah satu "sinyal" dari adanya ketidakberesan berdasarkan kasus kasus yang banyak beredar dimasyarakat. Maklum.

Akhirnya atas desakan rekan rekan kerja dikantor saya serta seijin boss , saya berketetapan hati untuk datang ke Jakarta dan saya pikir kalaupun ternyata tidak menang setidaknya saya akan mendapat banyak teman baru di XL plus wartawan wartawan maupun para pakar yang duduk sebagai dewan juri baik foto maupun penulisan karena saya memang mengirim foto dan artikel dalam kompetisi foto dan artikel dari XL ini.

Mencari tiket dalam waktu 30 menit berakhir dengan sukses, penerbangan jam 17.20 dari Juanda. Saya ijin mendadak untuk pulang kantor jam 11.15, karena jam 13.00 sudah dijemput travel menuju Juanda ,Surabaya.Membawa tas kecil berisi 2/dua setel celana dan blus serta sepatu. Sampai di Juanda cuaca cukup cerah. tapi eee ........ternyata pesawat terlambat datang dari Makassar,sampai sekitar jam 18.30 baru takeoff dalam cuaca sangat jelek, hujan lebat dan petir menyambar nyambar. 

Sekitar 3 menit mengudara, pesawat mulai batuk batuk tidak keruan dan segala doa dipanjatkan. Ibu disebelah saya yang datang dari Makassar dengan pesawat yang sama tidak henti hentinya berdzikir dan sayapun melakukan hal yang sama jauh didalam hati.

Seorang teman yang saya temui di bandara dan duduk disamping kiri , yang mengaku paling tersiksa setiap kali naik pesawat , tampak pucat dan menunduk. Retno begitu namanya, seorang mantan karyawati Panin Bank yang segera akan memulai karirnya di BI, bercerita bahwa sebetulnya jalan darat baginya adalah yang ternyaman. 

15 menit mendekati Jakarta barulah pesawat terasa lebih stabil dan mendarat dengan mulus. Retno tidak tahu bahwa sayapun sudah mules perut sejak pesawat batuk batuk, cukup trauma dengan peristiwa tahun 1982 ketika saya pulang ketanah air untuk mudik lebaran ternyata diatas Singapur roda pesawat tidak mau keluar dan bahan bakar pesawat dihabiskan diudara dengan ber putar2 diatas bandara Singapur sebelum akhirnya pesawat mendarat darurat di Singapur dengan perut dalam situasi yang cukup mencekam ...

Di Cengkareng saya langsung mengambil bis Damri jurusan blok M karena penginapan yang disediakan Panitia sebagaimana tertera dalam undangannya di email ("Untuk nominator dari luar kota akan kami sediakan penginapan.Transpotasi ditanggung oleh masing masing nomiini") ternyata belum dapat dimanfaatkan sebagaimana keterangan per telepon yang saya peroleh. 

Tapi berhubung kerabat di Jakarta itu seabreg, saya akhirnya harus tega memilih salah satu saja, sebab kalau yang lain sampai tahu saya bisa diprotes. " Wah .. ambil hadiah ya, bagi bagi dong, besok traktir ya .... " begitu para sepupu pada ribut, maklum semua juga baca di media media bahwa hadiah XL ini dalam bentuk uang tunai dan pulsa yang lumayan.

Pagi tanggal 05 Maret, saya sudah meluncur ke tempat penganugerahan XL Award 2008 di Mario's Place yang ternyata malah masih kepagian karena jam karet tampaknya berlaku disini.
Saya habiskan waktu disebuah cafe dilantai bawah dengan memesan otak otak dan es kelapa 
( ditulis es kelapa, bukan es degan ). Ketika saya naik lagi dan memutuskan untuk menunggu saja disebelah luar ruangan,ternyata sudah ada petugas petugas dan Panitia yang kemudian mempersilahkan saya untuk masuk keruangan pertemuan setelah mengisi buku tamu.

Berkenalan dengan ibu Myra Junor selaku GM Corporate Communications XL,ibu Febriati Nadira PR Manager XL, serta VVIP dari pihak tuan rumah XL yaitu bapak Hasnul Suhaimi selaku Presiden Direktur PT Excelkomindo Pratama Ttk, juga bapak Budiono Darsono selaku Dewan Juri Lomba Penulisan yang merupakan pemimpin redaksi detikcom.Meja kami menjadi heboh dengan berbagai isu mulai dari Ponari Sweat , kenaikan tajam dari jumlah peserta lomba yang kali ini mencapai 300% dll.

Acara akhirnya dibuka dengan penampilan video dari aktivitas Panitia dan Dewan Juri Lomba Foto maupun Penulisan XL 2008 yang terlihat begitu padat dan sibuk untuk menyeleksi ratusan karya karya baik untuk Katagori Wartawan maupun Umum.

Bpk. Hasnul Suhaimi dan ibu Myra dari XL akhirnya mengumumkan nama nama pemenang untuk kedua katagori tersebut diatas sehingga total semuanya ada 20/dua puluh pemenang, yaitu 5/lima pemenang untuk masing masing katagori. Untuk katagori umum jumlah pesertanya jauh melampui katagori wartawan dan secara kebetulan para pemenang Penulisan Katagori Umum pada XL Award 2008 kali ini semuanya adalah para bloggers.

Saya sungguh tidak menduga bahwa akhirnya dinyatakan sebagai juara III/tiga penulisan katagori umum melihat jumlah pesertanya yang pada XL Award kali ini cukup membeludak. Judul tulisan saya juga sangat simpel "HP Tahu Tempe" yang saya angkat dari pengalaman pribadi dimana sesuai judulnya isinya menurut saya juga hal hal sederhana saja  yang ada dalam keseharian meskipun mungkin  ada  pesan moral disana.

Sertifikat, trophy, pulsa senilai 1.2 juta, plus uang tunai yang belakangan akhirnya saya belikan kamera yang lumayan canggih, semuanya semakin memotivasi saya untuk menjadi blogger yang lebih " serius ". Jujur, saya mengawali blog saya adalah dengan artikel lomba XL ini dan masih sangat pemula sehingga bentuk blog saya juga masih sangat sederhana. Sebelumnya, lomba2 penulisan yang saya ikuti adalah dalam bentuk manual dengan mengirimkan artikelnya via pos.

Ada yang lucu dalam penyerahan penghargaan ini, yaitu banyak yang mengira saya hadir untuk mewakili anak saya yang berhalangan datang ke Jakarta. " Lho ... yang menang ibu sendiri to, waa .. saya kira mewakili putranya ... " ... he he ... Memang umumnya para pemenangnya masih seusia anak anak saya, maklum, manula seperti saya ini biasanya sudah alergi computer he he ..

Setelah selesai penerimaan penghargaan, saya ngobrol ngobrol lagi dengan rekan rekan wartawan yang ada disitu. Wartawan wartawan telekomunikasi ini seperti tidak pernah kehabisan topik obrolan obrolan yang menarik. Saya bertemu antara lain dengan mbak Rizki Caturini dari harian business investment "KONTAN", terus juga mas Chandra Wirawan dari majalah e- Indonesia (  beliau ini salah satu juara penulisan Katagori Wartawan ) , mas Hesti Hening reporter harian "Berita Kota" serta mbak Riana Xaverius dari majalah "Telset" juga mas Andry fotografer majalah "TEMPO" menambah betah saya berlama lama di Mario's Place.

Tetapi karena bawaan " DNA " sebagai orang marketing dan PR maka  saya merasa juga "sedang berjualan" dan  kesempatan mempromosikan lembaga saya juga tidak saya sia siakan hehe...Nama lembaga saya:  Universitas Ma Chung dan saya disitu sebagai Marketing  dan PR Manager  dan melihat kerumunan wartawan adalah bak kucing melihat ikan asin he he .. Tapi agaknya nama Ma Chung masih asing bagi banyak pihak, kecuali satu dua orang yang pernah mendengar tapi belum "ngeh" betul karena mengira itu nun jauh di Tiongkok, padahal ada di Malang he he ...

Saya meninggalkan Mario's Place sudah agak sore dan langsung mencari tiket pulang Sial, ternyata saya terjebak liburan yang samasekali saya lupakan , Senin adalah hari libur nasional . Akhirnya terpaksa mengambil yang tersisa yaitu hari Minggu tanggal 08 Maret. Waduhhh, semoga boss atau Rektor saya tidak marah karena mestinya besok pagi, Jum'at tgl. 06, saya sudah harus  kembali ke kantor......( Jadi besok bisa saya manfaatkan untuk mengurus hadiah saya yang lain he he....)

Terima kasih kepada Panitia XL Award serta kolega kolega saya di Universitas Ma Chung Malang, yang memberi dorongan saya untuk berangkat ke Jakarta, mudah mudahan kita bertemu lagi di XL Award yang berikutnya.

Salam Ketan Duren.

Keterangan foto :
Penghargaan yang saya terima dari XL berupa trophy berbentuk pena ( photo by : TH )