Minggu, 25 November 2018





.. " Imajinasi Liar Identik Dengan Karakter ? " ..
gampang2 susah menggambarkan kehidupan seorang penulis .
 kalau yang penulis ilmiah rasanya lebih
 mudah digambarkan karena umumnya berlatar belakang
 sebagai ilmuwan atau minimal punya pengalaman dibidang
 yang ditulisnya meski pendidikannya mungkin tidak
 setinggi ilmuwan bahkan kadang ada yang " tidak makan sekolah "
 tetapi punya keilmuan dan pengalaman bidang tertentu
 yang handal & mendapat pengakuan masyarakat .
 lha yang " sulit " itu menggambarkan tentang penulis yang
 beraliran bebas alias penulis penulis fiksi .
 tapi ssstt , nanti dulu , tidak berarti penulis fiksi yang jago jago 
" mengkhayal " ini nggak makan sekolahan lho !
 banyak diantara mereka terutama yang asing ,
 bergelar S3 atau profesor . lha ngapain orang2 pinter kok nulis
 yang non-ilmiah ? tentu saja pertanyaan itu harus dikoreksi . 
sebab dalam tulisan2nya yang meskipun itu bersumber pada imajinasi ,
 tetap saja mereka mendasarkannya pada sesuatu yang ilmiah .
 contoh adalah Star Trek yang dimunculkan dilayar lebar
dan serial TV yang sempat menjadi favorit dunia .
 penulisnya yaitu Simon Pegg dan Doug Jung tidak sembarangan
 mengarang tentang petualangan di antara
 miliaran bintang ini . kalau ngawur ,
 sudah pasti diprotes oleh yang makan sekolahan dibidang 
astronomi maupun fisika ataupun para ahli di NASA .
atau JK Rowling dengan imajinasinya lewat buku maupun
 filmnya yang sukses mendulang miliaran dolar 
dimana dalam film terakhirnya Fantastic Beast :
 The Crimes of Grindenwald penonton harus menahan nafas 
dengan dahsyatnya visual effects yang seolah nyata !
 maka , imajinasi memang sebuah anugerahNYA yang harus
 dimanfaatkan untuk kemanusiaan lewat pesan yang
 bisa ditangkap lewat mata atau telinga atau rasa .
 tetapi benarkah tulisan2 yang terkesan " liar , vulgar , kriminal "
 itu penggambaran dari watak si penulis ?
  seorang penulis bisa saja melahirkan tokoh antagonis , 
atau suci bak malaikat , atau penipu , atau pecundang dll 
yang tidak terbatas ! 
penulis itu mirip sutradara film atau drama atau teater ,
dimana dia bisa menuntun dan menuntut tokoh2 kisahnya
 sesuai yang dia inginkan . maka kalau sebuah film
 ternyata gagal menterjemahkan kemauan penulisnya dan
 bukunya lebih sukses dari filmnya ,
mungkin imajinasi penonton yang sudah terlanjur 
" termakan imajinasinya oleh bukunya " , 
 kecewa dengan penggambaran dilayar lebar yang dianggapnya
tidak mampu memvisualkan imajinasi mereka, 
ini salah satu ' resiko ' dari sebuah film yang sudah keduluan
 oleh suksesnya sebuah buku yang bestseller !
  genre tulisan fiksi juga macam2 .
 ada genre roman , kriminal , horor dll . maka menjawab 
pertanyaan diatas tentang karakter penulisnya yang dikaitkan
 dengan genre nya , ada beberapa faktor yang menurut saya 
mempengaruhi karya2 seorang penulis al : 
01 ) latarbelakang keluarga dan pribadi 
02 ) pengalaman yang diserapnya dari lingkungan
 menyangkut pekerjaan , budaya , pergaulan dll 
03 ) tahapan usia . 
Agatha Christie misalnya , yang dikenal dengan genre thriller 
atau detektif nya . pemakaian alat kejahatan dari tokoh2
  kisah fiksinya kebanyakan adalah racun ,
 yang pengetahuan ini diperolehnya saat dia masih bekerja
 sebagai asisten disebuah perusahaan pharmasi .
 juga ketika kehidupan perkawinannya yang pertama hancur ,
 ia sempat " menghilang " beberapa waktu yang
 mengakibatkan publik Inggris menuduh suaminya yang
memiliki WIL sebagai pembunuh Agatha .
 dalam buku2 nya pengalaman pahit ini dimunculkannya lewat
 tokoh2 cerita thriller yang berlatar belakang penyelewengan .
 Agatha lewat tokoh fiksinya ia 
" membunuh suaminya yang tidak setia " meski
 dalam kehidupan nyata ia justru malah
" minggat " dari suaminya ! 
seorang psikolog mungkin menganalisanya sebagai 
" pelepasan tekanan dan kemarahan " atas sebuah pengkhianatan
 orang yang dicintainya, yang karena dituliskan dengan sepenuh
 emosi maka kisah2nya menjadi sangat hidup sampai 
pembaca terhanyut  ! bentuk bentuk pelepasan tekanan ini bisa saja
 macam macam . mulai yang normal yaitu memunculkan
 tokoh sentralnya sebagai wanita pendendam  atau
 menjadi superwoman yang secara misterius ala Batman
yang  menolong wanita2 yang tersakiti pasangannya
 sebagaimana digambarkan dalam film
 The Girl in the Spider's Web yang aslinya ditulis oleh
 David Lagercrant . 
jadi menghakimi seorang penulis yang tampak sangar bahkan
 liar dalam tulisan2nya tidaklah cukup hanya permukaannya saja ,
 tetapi harus diselami lebih dalam tentang
 latar belakang kehidupan si penulis yang mungkin saja
 tulisan2nya itu merupakan " teraphi " bagi tetek bengek 
permasalahan yang tersimpan dibawah sadarnya
 atau bisa saja itu hanya sekedar imajinasinya yang kaya 
dan atau ia mendapatkan inspirasi dari pengalaman
orang lain dan banyak lagi faktornya .
 nah ... siapkah pembaca menjadi hakim atau
menjadi orang yang bijak ? 
itu memang hak pembaca .
 ( Titiek Hariati , Malang , Nopember 2018 )







 

Tidak ada komentar: