Minggu, 20 September 2015






.. " Kemanusiaan , Kemana Pergimu ? " ..

 kisah para pemohon suaka masih terus berlangsung , 
bahkan dari generasi ke generasi semakin membuat miris dengan berbagai latar belakang budaya , politik dll yang berbeda beda serta berasal dari berbagai belahan dunia . 
sebuah penindasan , baik ideologi , politik , ras , agama , dll dll kesemuanya menyeruak menjadi tragedi kemanusiaan yang pedih . tercabut dari akar kampung halaman dan budaya nya ,
 para pengungsi atau pelarian ini terserak keberbagai penjuru dunia kesebuah tempat yang bahkan antaberantah , tak jarang berakhir dengan 
kematian entah ditengah laut atau sahara yang terik . 
para pakar berdebat di gedung gedung terhormat , mencari solusi yang dapat diterima semua pihak agar nasib para pelarian ini tidak terlunta . 
ironisnya ,
 yang paling keras berteriak kemanusiaan , justru adalah negara yang ternyata paling keras menolak kedatangan para pemohon suaka !
 maka kemanakah wahai selembar badan dan nyawa harus dilarikan agar dapat hidup lebih layak sebagai " seekor " manusia ? hanya segala yang masih bisa menempel di badan yang 
bisa dibawa padahal bocah bocah balita yang ikut dalam pelarian  membutuhkan
 banyak nutrisi , kenyamanan , dll . 
bagaimana kita , para anggota masyarakat biasa atau awam , dapat berbuat sesuatu untuk mereka yang mungkin nun disana di tempat tempat penampungan sementara maupun yang masih dalam perjalanan ditengah laut ataupun hutan atau sahara ? 
dapatkah kita melakukan sesuatu yang kecil namun ketika terkumpul dengan yang lain itu menjadi sesuatu yang penuh arti dan besar yang itu tak selalu identik dengan duit ? 
alasan apapun yang mendorong mereka lari dari penguasanya adalah berinti pada Rasa Tertindas , dan dapatkah kita sedikit berbagi untuk meringankannya ? 
mungkin saja kita sudah membagi Doa ataupun Dana lewat komunitas2 tertentu , cukupkah itu ? andai hal yang sama menimpa kita , 
mungkin saja kita tidak setabah mereka , maka mengapa kita masih berdiam diri ?
( th )
( gambar dari Sergey Ponomare , New York Times / Tribunlampung.co.id )

Tidak ada komentar: